rumah kitab

Merebut Tafsir: Setuju Seruan Alissa

Merebut Tafsir: Setuju Seruan Alissa

Alissa Wahid mengajak kita untuk jujur mengakui, terror bom di Makassar terkait dengan agama (Islam). Dengan pernyataan ini sekaligus ia menyanggah atau mengoreksi pendapat Presiden yang menegaskan terror tak ada hubungannya dengan agama. Presiden bicara di tatar normatif, sementara Alissa di ranah fakta- realtitas.

Pernyataan Alissa sangat fundamental. Sebab dengan pengakuan itu, meski pahit, kita bisa introspeksi kolektif ada apa dengan keberagamaan kita.

Ini bukan soal Islam (semata). Pernyataan ini bagi saya merupakan ajakan untuk membaca dari cakrawala yang lebih luas. Pernyataan Alissa, menurut saya, bukan hanya bicara soal ajaran semata tetapi pada problem yang dihadapi oleh agama dalam tanggung jawab moralnya mengatasi problem kehidupan manusia.

Ibarat manusia renta, punggung agama ( Islam), bagaimanapun sangat berat menanggung begitu banyak beban tanggung jawab!: beban moral, beban kehidupan manusia, beban umat, beban kemiskinan, hubungan- hubungan sosial sejak hubungan di tingkat keluarga, komunitas, antar warga, antar umat hingga hubungan di dunia global yang di mana-mana menunjukkan relasi kuasa yang timpang dengan dampak-dampak buruk yang ditimbulkannya. Ketidak adilan!

Ketidak adilan ekonomi yang tak selalu jelas anasir dan kait kelindannya di mata awam namun terasa nyata dampaknya sampai ke tingkat dapur masing-masing keluarga.

Ketidakadilan akses, partisipasi menikmati hasil pembangunan global yang begitu senjang, tergambar nyata di mana-mana berkat teknologi sosial media.

Ketidakadilan akses pendidikan yang menyebabkan salah satu pihak dapat mencapai menara langit sementara yang lain berkutat di kubangan lumpur kebodohan, begitu nyata di depan mata.

Ketidakadilan sistem hukum, yang bagi Islam sebagai agama rahmat bagi sekalian alam membuat beban di punggung agama begitu berat tak tertangguhkan.

Seusia agama itu, manusia telah mencari jalan keluar dengan pengetahuan dan pemikian serta pembacaan atas wahyu Tuhan. Di Barat, dari aspek relasi hubungan negara dan agama mereka berusaha memisahkan urusan itu: urusan agama dengan urusan negara, urusan akhirat dengan urusan dunia. Namun hasrat untuk tetap menarik-narik surga ke dunia terus terjadi di belahan dunia sana yang menganggap diri telah berhasil melakukan upaya sekularisasi.

Namun ketidakadilan semesta yang menyeruak dalam kehidupan sehari-hari dengan cepat mengangkat telunjuk orang untuk mencari sebab masalah tanpa mendalami akar masalahnya. Jawaban sering begitu gampangan seperti menunjuk pada warna kulit, ras, etnisitas, gender perempuan, dan agama dan pihak ” orang luar” sebagai akar masalah. Lalu hidup dengan sekat, dengan pembatas fisik atau imagener mereka lihat sebagai solusi. Seolah-olah dengan cara itu otomatis kesejahteraan akan mereka raih.

Sementara itu, umat Islam di dunia yang berbeda berkutat dengan problem kolektif dan luka bawaan yang ditancapkan ketidakadilan dari kolonialisme. Kolonailsime tak hanya menguras harta tanah jajahan tetapi proses berpikir waras dengan mengambil inti sari sumber ajaran.

Betapapun sulitnya pun, umat Islam di berbagai negara terus menggali dengan upaya dan cara untuk mengambil inti sari ajaran sebagai pedoman. Mereka menawarkan kalan keluar kesejahteraan di dunai dan akhirat. Namun kesenjangan yang begitu dalam, hilangnya pemikiran kritis, malah menghasilkan serpih-serpihan ajaran daripada inti sarinya. Ini tak beda dari cara sesat warga Barat melihat etnis, ras, warna kulit sebagai akar penyebab dan menghilangkannya sebagai solusi masalah.

Pernyataan Alissa, tidak bisa lain, bagi saya adalah sebuah kesediaan untuk mengangguk , memang ada masalah dalam agama kita. Tapi ini juga sekaligus untuk menegakkan kepala kita akan terus mencari bagaimana menyelesaikan persoalan kehidupan yang tidak adil, yang membuat setiap orang yang melihat dan merasakkanya merasa punya magma untuk berjihad, bukan jihad di jalan yang sesat dan bukan pula jihad yang jahat bagi kemanusiaan. #Lies Marcoes, 30 Maret 2021

Seri 2 Webinar Muslimah Bekerja: Memilih Peluang Memanfaatkan Kesempatan

Ringkasan Pidato Kunci
Memilih Peluang Memanfaatkan Kesempatan

DR. (H.C.) Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, M.Hum.

Pertama-tama saya ingin menyampaikan SELAMAT HARI PEREMPUAN INTERNSIONAL yang ke 64 – jika dihitung sejak peresmiannya oleh PBB tahun 1975. Atau yang ke 111 jika kita hitung dari awal gerakan kaum permpuan yang mempelopori lahirnya Hari Perempuan Internasional di berbagai belahan dunia. Memakai tahun yang manapun, bagi saya, 8 Maret sangatlah istimewa. Karena bertepatan juga dengan hari ulang tahun saya. Jadi tanpa ada pesta pun, seluruh dunia selalu merayakannya. Dalam kesempatan ini, saya akan menyampaikan pokok-pokok pikiran saya mengenai topik : Memilih Peluang Memanfaatkan Kesempatan.

Dalam suasana pandemi seperti sekarang ini, peran perempuan menjadi sangat penting, karena dalam situasi yang tidak normal, perempuan justru menjadi tumpuan bagi setiap keluarga. Saat para lelaki bingung dan mengalami depresi karena kehilangan pekerjaan, perempuan menjadi penentu keutuhan keluarga. Perempuan menjadi tumpuan kegalauan suami menghadapi tekanan- tekanan hidup. Kalau pemerintah tidak responsif pada perubahan-perubahan ini, dan kalau perempuan tidak kuat, maka keutuhan keluarga bisa terancam. Tapi jika pemerintah responsif gender, memperhatikan perubahan-perubahan relasi yang terjadi yang disebabkan oleh pandemi ini maka perempuan akan tangguh dan kuat, bisa membangkitkan dirinya sendiri dan atau membangkitkan semangat suami (lelaki), membantu menyelesaikan tekanan hidup secara bersama-sama. Perempuan tidak hanya dituntut berperan ganda, tetapi harus menjalankan multi peran; sebagai ibu, istri, pendidik, sekaligus juga tulang punggung keluarga demi kelangsungan hidup rumah tangga dan keluarganya. Dan untuk itu dukungan pemerintah, sistem di dalam masyarakat, sektor usaha serta pandangan sosial keagamaan harus ikut mendukung.

Data Biro Pusat Statistik menunjukkan, jenis pekerjaan perempuan telah menyebar di berbagai profesi, mulai dari sektor jasa sampai sektor kepemimpinan. Survey tahun 2018 dan 2019 menunjukkan gambaran luasnya kesempatan kerja bagi perempuan ( Lihat Gambar 1)

Sebagaimana terlihat dalam diagram di atas, sektor jasa merupakan profesi yang paling banyak menyerap tenaga kerja perempuan, sebesar 58,91%, disusul tenaga profesional, tehnisi dan tenaga usaha penjualan (marketing), sekitar 55%, pejabat pelaksana, tenaga tata usaha dan sebagainya, sekitar 50%, tenaga usaha pertanian, perburuhan dan sebagainya 49%, tenaga produksi, operator alat angkutan dan sebagainya 24%, tenaga kepemimpinan dan ketatalaksanaan 21,66%, lain-lain 8%.

Data ini menunjukkan, pertama terbukanya berbagai jenis lapangan pekerjaan bagi kaum perempuan. Saat ini hampir tidak ada lagi jenis pekerjaan yang tabu dilaksanakan oleh kaum perempuan, demikian sebaliknya; kedua meningkatnya profesionalitas sebagai ukuran dalam pekerjaan. Artinya penerimaan tenaga tidak lagi mempertimbangkan faktor gender (jenis kelaminnya) tetapi pada profesionalitas seseorang. Ketiga, meningkatnya profesionalitas kaum perempuan dalam berbagai bidang pekerjaan sehingga bisa berkompetisi dengan kaum laki-laki.

Data-data penyebaran tenaga kerja perempuan di berbagai bidang profesi menunjukkan bahwa saat ini taraf pendidikan dan penguasaan soft skill perempuan sudah meningkat secara signifikan sehingga mampu berkompetisi secara profesional dengan kaum lelaki.
Masuknya perempuan dalam berbagai ragam pekerjaan itu merupakan sesuatu yang membahagiakana dan patut dirayakan, namun bukan berarti hal tersebut menunjukkan hilangnya masalah atau tantangan bagi kaum perempuan.

Paling tidak ada tiga hal pokok yang menjadi tantangan atau masalah bagi tenaga kerja perempuan. Pertama, soal kesetaraan upah antara kaum lelaki dan perempuan terutama disektor pekerjaan informal. Data statistik menunjukkan sejak tahun 1990 hingga 2013 upah/gaji yang dterima oleh pekerja perempuan selalu lebih rendah jika dibandingkan dengan pekerja lelaki. Kesenjangan upah/gaji rata-rata antara pekerja lelaki dengan perempuan sekitar 30% setiap dekade. (Abdullah, 1995). Kondisi ini mengindikasikan masih adanya konstruksi sosial yang masih menempatkan perempuan secara subordinat dalam berbagai kegiatan ekonomi.

Kedua, soal etos kompetisi dan peningkatan kualitas bagi kaum perempuan. Dalam suasana kompetisi yang sudah terbuka seperti sekarang ini, d imana persoalan seharusnya gender bukan menjadi penghalang untuk memperoleh pekerjaan, maka yang dibutuhkan adalah peningkatan skill dan profesionalitas bagi kaum perempuan agar memiliki kualifikasi yang tinggi sehingga memenangkan kompetisi. Ini merupakan kesempatan sekaligus tantangan bagi kaum perempuan. Artinya, meski kesempatan sudah terbuka, berbagai lapangan pekerjaan terbuka, tetapi jika kaum perempuan tidak mampu memanfaatkan dengan meningkatkan kualitas diri serta tidak ada daya dukung sosial di keluarga untuk bersama-sama mengatasi beban rumah tangga maka dengan sendirinya perempuan akan tersingkir dan kalah dalam kompetisi. Sehingga pintu yang telah terbuka akan tertutup kembali. Bukan kerena persoalan dia pekerja perempuan tetapi karena tenaga kerja perempuan tersebut tidak memiliki kualifikasi yang memadai, baik akibat beratnya beban karena menghadapi beban ganda maupun kuatnya hal-hal yang menghalanginya untuk berani bersaing. Tantangan ini hanya bisa dijawab dengan meningkatkan kualitas diri naik secara ketrampilan (skill) maupun intelektual serta perubahan di tingkat keluarga yang mendukung mereka.

Ketiga, soal pemahaman keagamaan yang sempit dan dangkal. Ini persoalan serius terkait dengan memilih dan memanfaatkan kesempatan bekerja yang telah terbuka bagi kaum perempuan. Pemahaman agama yang sempit dan dangkal bisa menjadi belenggu bagi kaum perempuan untuk memperoleh kesempatan kerja yang telah terbuka. Saat ini ada sejumlah perempuan berhenti menjadi karyawan dan tenaga profesional setelah mengikuti gerakan hijrah. Ada di antara mereka yang sudah sampai menduduki jabatan manager di suatu bank, menjabat di posisi strategis di suatu perusahaan dan lembaga bergengsi. Tapi mereka keluar dengan alasan perintah agama dan ingin mencari rejeki yang halal. Cara pandang seperti ini telah menutup kesempatan dan pintu bagi kaum perempuan untuk berkarya mengembangkan profesinya yang sebenarnya juga merupakan perintah agama. Fenomena ini menunjukkan bahwa pemahaman agama yang sempit bisa menutup pintu pekerjaan kaum perempuan yang sudah terbuka.

Tiga tantangan utama inilah yang harus dijawab dan diselesaikan oleh kita bersama terkait dengan upaya memilih peluang dan memanfaatkan kesempatan untuk memperoleh pekerjaan bagi kaum perempuan. Jika ketiga tantangan tersebut tidak bisa diselesaikan, maka terbukanya pintu dan kesempatan yang sudah terjadi seperti sekarang ini bukan tidak mungkin akan tertutup lagi. Sebaliknya jika kita semua bisa menjawab dan menyelesaikan tiga persoalan dasar di atas, maka kaum perempuan tidak saja bisa mempertahankan kesempatan dan peluang tetapi justru akan menjadi pemenang dalam setiap kesempatan dan peluang. Dengan demikian perempuan bisa benar-benar merayakan ragam perkerjaan yang telah diperolehnya melalui kompetisi yang sehat dan profesional serta kebijakan yang responsif dan sensitif kepada keadaan perempuan dengan peran-perannya yang multi fungsi tadi [].

Seri 1 Webinar Muslimah Bekerja: Melintasi Batas-Batas Keterbatasan

Merayakan Keragaman Perempuan Bekerja: Melintasi Batas-Batas Keterbatasan

Apakah masih relevan membicaran isu tentang perempuan bekerja di era digital seperti ini?

Pertanyaan pemantik itu dilontarkan oleh Inaya Wahid dalam acara Webinar #ChooseToChallange: Merayakan Keragaman Perempuan Bekerja yang diselenggarakan Rumah KitaB pada tanggal 24 Maret 2021. Acara ini hadiri oleh Allaster Cox (Charge d’Affaires of the Australian Embassy Jakarta), Sinta Nuriyah Wahid, Bintang Puspayoga (Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak), Lies Marcoes (Direktur Eksekutif Rumah KitaB), Nani Zulminarni (Regional Director of Ashoka Southeast Asia), Rinawati Prihatiningsih (Entrepreneur, IWAPI & Kadin Member Committee), Savic Ali (Founder Islami.co), Zukhrufah DA (Writer, Commcap), dan Mutiara Anissa (Biomedical Scientist, Inisiator Pandemic Talks).

Tentu bukan tanpa alasan mengapa Inaya Wahid—yang berperan sebagai moderator— melontarkan pertanyaan itu. Sebab, sejak dalam rangkaian seremonial webinar, sudah muncul banyak data mengapa harus mendukung perempuan bekerja.

Pembukaan yang disampaikan oleh Kedutaan Australia—yang diwakili oleh Allaster Cox— menyampaikan bahwa peran perempuan dalam dunia ekonomi, apalagi di masa pandemi sangat siginifikan. Bagi Cox, melibatkan perempuan dalam dunia kerja dapat menolong Negara keluar dari krisis ekonomi.

Sayangnya, kata Sinta Nuriyah Wahid, perempuan bekerja menghadapi tantangan serius, salah satunya adalah pandangan dan pemahaman agama yang dangkal—yang menganggap perempuan hanya cocok dan pantas di ruang domestik. Tidak sedikit, kata Sinta Nuriyah Wahid, perempuan yang memilih mundur dari dunia kerja setelah mengikuti pengajian dari kelompok ultrakonservatif.

Hal senada juga disampaikan oleh Menteri PPPA, Bintang Puspoyoga, yang menyesalkan anggapan perempuan baik adalah perempuan yang berada di dalam rumah. Dan menganggap dunia luar (kerja) bukanlah tempat perempuan. Anggapan ini, menurut Bintang Puspoyoga, mengecilkan peran perempuan dalam dunia ekonomi, dan mengukuhkan area domestik sebagai ruang perempuan. Padahal dengan memberikan peluang yang sama dalam dunia kerja kepada perempuan, akan muncul kreativitas dan inisiatif yang tak kalah keren.

Lies Marcoes, Direktur Eksekutif Rumah KitaB, menyebut bahwa Webinar ini muncul tidak dalam ruang kosong. Sebab, dalam studi yang dilakukan Rumah KitaB, narasi agama merumahkan dan melemahkan perempuan bekerja kian masif, sehingga perlu adanya narasi tanding yang lebih ramah terhadap perempuan. Oleh karenanya, Rumah KitaB mengusung kampanye #MuslimahKantoran.

Dari rangkaian sambutan dalam resemonial itu, pertanyaan Inaya Wahid menemukan relevansinya. Sebab, meskipun dalam sejarahnya perempuan bekerja di Indonesia adalah sesuatu yang biasa, tetapi sejarah bukanlah benda statis. Ia merupakan ruang terbuka yang bisa diisi dengan berbagai narasi. Kuat dan lemahnya sejarah perempuan bekerja di masa depan bergantung bagaimana peran dan narasi perempuan didengungkan.

Dengan keadaan seperti ini, Nani Zulminarni dengan mengutip laporan Global Gender Gap pada 2020 menyebut bahwa dibutuhkan setidaknya 257 tahun untuk mencapai kesetaraan partisipasi dan kesempatan ekonomi perempuan dengan laki-laki. Sebab, perempuan usia 25-34 tahun, 25% lebih berpeluang untuk hidup dalam kemiskinan ekstrem, dan Kesenjangan gender partisipasi dalam ketenaga kerjaan.

Savic Ali menyoroti menguatnya narasi tentang tempat terbaik perempuan berada di rumah tidak tidak bisa dilepaskan dari banyak kelompok ultrakonservatif di dunia maya. Menurutnya, meski kelompok ultrakonservatif ini tidak mempromosikan kekerasan, tetapi memiliki pandangan yang lebih puritan tentang perempuan dan secara aktif menyuarakan gagasannya via portal media atau website, medis sosial, dan youtube. Oleh karenya, menurut Savic Ali, perlu secara aktif untuk mengkampanyekan kembali ruang aman di berbagai platform media digital.
Menyambung apa yang telah dipaparkan oleh Savic Ali, Zukhrufah DA mengatakan, setidaknya pernah ada tiga kampanye global yang digagas oleh dan dari perempuan yang terbukti berhasil, dan dilakukan via online, di antaranya adalah #ChallengeAccepted, #WomenSupportingWomen, #HeForShe, #AutoCompleteTruth, dan #WomenShould. Sehingga kampanye #MuslimahBekerja bisa dimaksimalkan melalui platform media.

Sementara itu, Mutiara Anissa, seorang Biomedical Scientist, menyebut bahwa support system menjadi pondasi penting dalam mendukung perempuan bekerja. Potensi perempuan, Mutiara Anissa, tidak kalah dari laki-laki apabila diberi kesempatan. Dengan menunjukkan kepemimpinan perempuan dalam mengatasi dan mengendalikan pandemi, Mutiara Anissa membalikkan asumsi negatif terhadap kemampuan perempuan.

Kegiatan webinar yang dilakukan secara daring ini telah menjaring 259 pendaftar dan diikuti oleh 173 peserta dari beragam latar belakang. NA[]

Seri 12 IWD 2021: Memetakan Tantangan Perempuan

Seri 12 IWD 2021 / Rumah KitaB / Muslimah Bekerja

Oleh: Lies Marcoes

Tema International Women’s Day atau Hari Perempuan Internasional tahun ini adalah ”Choose to Challenge”. Secara bebas ini bisa diartikan ”berani menantang”.

Ibarat pit stop untuk pelari maraton, bagi perempuan ini adalah momentum untuk sejenak berhenti dan memetakan kekuatannya dalam menghadapi tantangan masa depan.

Secara konsisten, setidaknya ada tiga masalah yang terus muncul sebagai tantangan belakangan ini: peluang bonus demografi, dampak perubahan sosial ekonomi pada relasi jender, serta menguatnya konservativisme budaya dan agama. Ketiga isu ini sangat relevan dilihat dalam konteks penanganan pandemi Covid-19 saat ini.

Perempuan dan bonus demografi

Bonus demografi bagi perempuan bisa menjadi peluang. Badan Kependudukan Dunia dan Bappenas telah menghitung bahwa dalam 10 tahun ke depan dan dalam jangka 10 tahun itu (2030-2040) Indonesia akan kelimpahan panen secara demografi. Ini karena jumlah penduduk usia produktif akan mencapai 64 persen dari total jumlah penduduk yang separuhnya perempuan. Namun, panen ini hanya bisa dipetik jika kualitas SDM naik.

Covid-19 yang selama satu tahun menghantam dunia, berdampak besar pada proses-proses peningkatan SDM, tak terkecuali di Indonesia. Di lapangan, kita berhadapan dengan soal-soal mendasar untuk capaian pembangunan: angka kematian ibu, angka kematian bayi, angka partisipasi pendidikan anak perempuan dan partisipasi ekonomi. Ada kemajuan dalam bidang-bidang itu, tetapi cenderung stagnan. Apalagi setelah dihantam Covid-19.

Demikian juga dalam upaya penurunan angka kawin anak. Padahal, kawin anak punya implikasi lanjutan pada angka putus sekolah dan akhirnya berdampak terhadap kualitas SDM. Data Badan PBB untuk Anak-anak (Unicef) menunjukkan, satu dari delapan anak perempuan masuk ke perangkap kawin anak. Upaya politik menaikkan usia kawin melalui perubahan Undang-Undang Perkawinan Nomor 16 Tahun 19, untuk sementara, malah menaikkan angka dispensasi nikah.

Walhasil, bonus demografi secara nyata berhadapan dengan kesenjangan yang tajam antarwilayah. Pengaruhnya tidak hanya pada kesenjangan capaian Indeks Pembangunan Manusia, tetapi juga pada peluang bonus demografi itu.

Ini contoh kesenjangan dimaksud. Mutiara Anissa MSc adalah perempuan milenial Indonesia ahli biologi molekuler lulusan universitas ternama di London. Dengan memanfaatkan teknologi canggih di bidang komunikasi dan kemampuan bahasa Inggris yang prima, ia fasih menyuarakan secara akademis isu pandemi dan kanker, bidang yang ditekuninya. Ia mengelola pandemic talks melalui ragam platform media sosial sehingga awam pun bisa paham.

Ia kerap menjadi satu-satunya perempuan pembicara paling muda dalam forum ”bapak-bapak” yang ahli dalam isu Covid-19 ini. Bersama sejumlah perempuan seusianya yang menekui bidang sains, ia menjadi aset penting bagi masa depan bio-medical scientist untuk menyongsong bonus demografi dalam 10 tahun mendatang.

Dalam konteks bonus demografi, sosok Mutiara benar-benar menjadi mutiara untuk peluang demografi di negeri ini. Ia berani menerima tantangan dunia sebagai ahli dalam ilmu yang masih langka ini. Ia mendapat pendidikan terbaik sesuai pilihan dan minatnya melalui jalur beasiswa yang disediakan pemerintah. Ia segera mendapat pekerjaan yang sesuai dengan minat dan kebutuhan di dalam negeri tatkala Covid-19 menghantam dunia kesehatan.
Selain itu, tersedia juga lapangan pekerjaan yang diciptakan pihak swasta dan universitas yang peduli dan paham perlunya teknologi kedokteran di masa depan. Dan tak kalah penting, secara kultural ia tumbuh dalam keluarga yang tak membatasi pilihan-pilihan berdasarkan prasangka jendernya sebagai perempuan.

Namun, di sudut negeri ini, penelitian Rumah Kitab melaporkan kisah Nisa yang lain yang ditemui di Lombok Utara atau Madura. Kisah serupa juga dikonfirmasi oleh Misiyah, peneliti KAPAL Perempuan di Lombok Timur. Nisa, seperti banyak dialami perempuan muda dari kampungnya, ditinggal merantau oleh ibunya sebagai tenaga kerja wanita (TKW). Ayahnya, atau lelaki seperti ayah Nisa, memilih kawin lagi karena secara kultural lelaki perlu ada yang mengurus.

Sementara adat budaya tak dapat mencegah praktik kawin lari atau kawin siri. Padahal, orang dewasa paham, begitu anak perempuan yang belum lagi khatam sekolah itu dikawinkan, maka bagi bonus demografi mereka bukan lagi sebagai penyumbang, melainkan penghambat peluang demografi. Daya saing seperti apa yang dapat diandalkan dari SDM yang tak mendapatkan capaian pendidikan optimal?

Jurang sosial, politik, dan ekonomi di antara dua kelompok perempuan muda di berbagai wilayah di negeri ini begitu curam. Dan saya tak percaya ini adalah takdirnya. Dari potensi sumber daya ekonomi, NTB merupakan penghasil padi sekaligus potensi wisata yang menjanjikan.

Ini tak beda dengan Papua, Kalimantan, dan Provinsi Aceh yang menjadi penyumbang ekonomi paling penting bagi pundi-pundi negeri ini. Namun, perbedaan akses dan kerumitan-kerumitan sosial politik yang menyertainya tak dengan segera dapat mengatasi kesenjangan antarperempuan di berbagai wilayah di negeri ini.

Gerakan perempuan dan relasi jender

Problem yang dihadapi Nisa dari NTB adalah hilangnya peluang pendidikan dan ekonomi karena dihadang kemiskinan dan kebudayaan yang mengunci nilai-nilai relasi jender di ruang sosial budaya yang semakin konservatif dan regresif.

Relasi jender dalam masyarakat dibiarkan dan bahkan dikukuhkan menjadi relasi yang semakin jenjang, genjang, dan timpang. Banyak lelaki terus berpegang kepada nilai-nilai kolot demi mempertahankan dominasi atas perempuan.

Jika perlu, dilakukan atas nama nilai-nilai agama yang pantang berubah. Ketika perempuan menerima tantangan untuk masuk ke pasar tenaga kerja yang telah terbuka lebar berkat globalisasi ekonomi, di dalam rumah, lelaki dan budaya patriarki tak kunjung siap berubah.

Akibatnya, perempuan dan anak perempuan harus menanggung beban lebih besar atas perubahan-perubahan sosial ekonomi yang telah menciptakan peluang ekonomi yang besar itu.
Ternyata terbukanya peluang tidak dengan sendirinya melahirkan akselerasi kebudayaan yang dapat menopang perubahan akses dan partisipasi perempuan dalam meraih manfaat seoptimal mungkin dari bonus demografi ini.

Jika menengok sejarah gerakan perempuan di mana pun di dunia, sesungguhnya perubahan-perubahan besar ke arah kehidupan yang lebih adil dan demokratis kerap dipicu oleh perubahan relasi jender di ruang publik.
Perubahan itu biasanya digagas perempuan dengan menantang hambatan yang mereka hadapi. Kartini, misalnya, ia menantang kaum feodal patriark sekaligus kebijakan kolonial dengan menuntut agar anak perempuan mendapatkan pendidikan yang setinggi-tingginya.

Sejarah Hari Perempuan Internasional atau IWD sendiri tak lepas dari keberanian perempuan menantang praktik-praktik penindasan perempuan di ruang publik. Mereka menuntut persamaan hak pekerja, upah, dan hak mendapatkan wakil mereka di parlemen, tempat nasib kaum pekerja, termasuk mereka, diperbincangkan.
Tentu saja manfaat dari keberanian mereka tak dinikmati sendiri. Anak-anak milenial yang lahir dari ibu yang merdeka cenderung menjadi lebih mandiri dan tak takut tantangan.

Di era kekinian, misalnya, kita menyaksikan keberanian Malala menantang kaum pemuja kekuasaan atas nama Tuhan. Atau keberanian Greta Thunberg yang menuntut tanggung jawab dan kesadaran para pebisnis untuk menghentikan pemanasan global lewat usaha-usaha sadar lingkungan. Begitu juga dengan Amanda Gorman, pegiat seni, yang dengan puisinya mengajak rakyat Amerika kembali kepada esensi demokrasi: Amerika untuk semua.
Namun, dalam waktu yang sama, sejarah menyaksikan arus balik bagi keberanian perempuan melawan kebekuan dan kebuntuan itu. Kebudayaan patriarki secara tekun dan mengendap-endap menciptakan gerak yang sebaliknya.
Ketika para patriark gugup dan gagap menyaksikan globalisasi yang memberi peluang dan kemerdekaan kepada perempuan untuk maju, mereka meminjam kekuatan agama untuk menghentikannya melalui kontrol atas tubuh dan eksistensi perempuan. Padahal, bagi banyak perempuan, penggunaan mantra agama dalam mengukuhkan dominasi konservativisme, cukup ampuh melumpuhkan kesadaran kritis mereka.

Sebagai titik pemberhentian sementara dalam memanfaatkan peluang demografi di negeri ini, Hari Perempuan Internasional semestinya menjadi momentum penting untuk membaca ulang dan menjawab persoalan yang dihadapi perempuan di masa depan. Kita harus berani menerima tantangan mereka untuk berubah demi sejarah peradaban yang lebih pantas untuk diingat dan dirayakan!

Naskah yang sama telah diterbitkan dalam Harian Kompas, 8 Maret 2021, hal 6.

rumah kitab

Merebut Tafsir: Nawal dan Perempuan di Titik Nol!

Innalillahi wa inna ilaihi Raajiun. Selamat Jalan Nawal El Saadawi. Rest in Love dear Nawaal.
Nawal El Saadawi adalah orang pertama yang menggedor kesadaran feminis saya.

Melalui novelnya “Perempuan di Titik Nol” , yang saya terima sebagai hadiah dari suami saya, Ismed Natsir, saya baca lumat, dan berulang ulang. Sering saya merasa, saya ingin terselip dalam kisah itu menjadi bagian dari perjuangan hidup Firdausi.

Nawal mengisahkan tentang gambaran derita semesta perempuan Muslim dalam tradisi Islam di Mesir melalui sosok Firdausi: ini tentang cinta, hasrat yang alami ketika Firdausi remaja bertemu seorang pemuda Mohammedin di kebun dan berlompatan bebas di atas menara kincir air. Ia mulai merasakan hasrat keperempuanannya yang indah di sana. Tapi ia tak tahu dari mana kegembiraan itu membuncah karena tak satupun perempuan di dunia remajanya mengisahkan rasa itu. Ia begitu bahagia.

Lalu Ibunya mulai memingitnya, ia tak lagi boleh bertemu lelaki di kebun ketika ia telah menstruasi. Kebebasan remajanya dirampas seketika, dan kehidupannya perlahan dihancurkan oleh tafsir patriarki yang berusaha terus ia lawan.

Ini tentang gambaran cara lelaki memaknai tentang seksualitas, ketundukan, kepatuhan, serta ragam wujud penindasan dan perlawanan yang rumit dari kisah Firdausi sejak remaja hingga di penjara karena membunuh germonya. Ia dijual oleh perempuan yang semula disangkanya akan melindunginya di tepian Sungai Nil.

Dari kisah Firdausi saya merasakan perihnya sesetan pisau dalam praktek sunat perempuan, perkawinan paksa dengan sang Syeikh tua bangka yang hanya menggenggam tasbih dan tongkat untuk menggebuk Firdausi untuk apapun yang membuat Sang Seikh tak berkenan. Ia lari setelah mukanya berdarah-darah, tapi masuk ke dunia pelacuran.

Ia sebetulnya pernah punya harapan. Sang paman yang pernah membawanya ke Kairo dia angankan dapat memberi kebebasan melalui pendidikan. Tapi kaum perempuan disekitarnya- ibunya, bibinya, majikannya, germo (pertamanya) tak sudi melepaskan Firdausi menjadi jenis perempuan lain yang beda dari nasib mereka- memanggul adat dan tradisi serta tafsir patriarki.

Gelagak perlawanan Firdausi telah terlunaskan ketika pisau ia tancapkan di dada lelaki germo yang akan memperkosanya. Dan, di penjara tiap pagi ia lundahi surat kabar yang memuat berita para pejabat atau tokoh-tokoh yang disanjung masyarakat. Orang menyebutnya ia gila, tapi semua tahu bara perlawanan Firdausi adalah kemenangannya !
Selamat Jalan Nawal Jan.

# Lies Marcoes, 22 Maret 2021.

Seri 11 IWD 2021: Menengok Kembali Perempuan Kampungku Bekerja

Seri 11 IWD 2021 / Rumah KitaB / Muslimah Bekerja

Menengok Kembali Perempuan Kampungku Bekerja

Oleh: Mustika Al Adawiyah  

Menjelang Hari Perempuan Internasional, di Rumah Kitab kami membahas isu yang akan diangkat sebagai tema. Choose to Challenge sebagai tema umum HPI ini kemudian kami  fokuskan membahas tentang “Merayakan Ragam Pekerjaan Perempuan”. Untuk itu semua staf diminta berbagi cerita tentang “pekerjaan” perempuan yang kita amati di lingkungan kita sendiri. Buat saya rasanya aneh, sebab perempuan di kampung saya, perempuan di sekitar saya, memang perempuan yang bekerja. Terlepas dari ada atau tidak ada pendidikan, perempuan di kampung saya adalah pekerja, bahkan dapat dikatakan pekerja keras. Tapi saya baru menyadari betapa ragamnya pekerjaan-pekerjaan kaum perempuan di  kampung asal saya di Garut Selatan.

Saya lahir dari sebuah keluarga Sunda di wilayah Selatan Garut.  Bagi “urang Sunda”, perempuan itu memang harus bekerja!. Ada nyanyian sewaktu kecil yang mengajarkan bahwa bekerja itu memang kewajiban bagi perempuan. “Kawajiban awewe, kudu daek digawe” yang artinya kira-kira “ Kewajiban perempuan harus mau bekerja”. Tidak ada penjelasan dalam lagu itu pekerjaan apa yang dimaksud, namun dalam pemahaman saya, itu menunjuk kepada pekerjaan mengurus rumah tangga yang dianggap sebagai pekerjaan utama/ kewajiban utama  perempuan.

Namun di kampung saya, perempuan itu bekerja untuk mencari nafkah selain mengurus rumah tangganya. Secara geografis wilayah tempat saya tinggal  merupakan perpaduan antara pesisir di mana pendudukan kebanyakan menjadi nelayan atau buruh nelayan, sementara di sebelah utara merupakan wilayah pegunungan dan dataran tinggi, kebanyaakan penduduknya bekerja di sektor pertanian dan perkebunan.

Wilayah Garut, sebagaimana umumnya wilayah Priangan Timur, di kenal sebagai wilayah yang sangat subur. Mungkin karena dikepung gunung-gunung yang aktif dan beberapa kali dalam sejarahnya pernah meletus, tanah di wilayah Garut dikenal sangat subur. Beberapa buah-buahan seperti Jeruk Garut dan buah arben yang daunnya digunakan untuk ulat sutra pernah menjadi buah primadona sebelum diserbu buah-buahan dari luar.

Meskipun subur di banyak wilayah, seperti di kampung saya itu (Kabupaten Garut Selatan),  kebanyakan penduduknya tergolong menengah ke bawah.  Pekerjaan utama para warganya bertani dan melaut. Hanya sebagian kecil yang  menjadi pegawai, atau merantau ke kota dengan berbagai keahliannya. Di kota  kota besar di Indonesia, lelaki dari Garut dikenal keahliannya sebagai tukang pangkas rambut, Asgar- Asli Garut.

Karakter orang Sunda sering disebut someah, atau ramah. Tapi  karakter dari wilayah Selatan sering dianggap keras, ini terlihat dari cara bicaranya yang tidak sehalus orang Ciajuran  di wilayah  Barat  Jawa Barat yang dianggap lebih halus. Hal yang pasti watak keras itu dapat dilihat dari cara mereka gigih dalam bekerja, lelaki maupun  perempuan.

Sektor pertanian sebagai petani atau buruh tani tampaknya tidak lagi  menjadi pilihan anak muda dari wilayah Garut Selatan. Pekerjaan itu biasanya dilakukan oleh mereka yang telah selesai merantau dan kembali ke kampung halaman. Setelah tamat SMP atau SMA, umumnya perempuan-perempuan dari  kampung saya  merantau ke kota  menjadi “dongsih”.  Saya tidak tahu apa arti sebenarnya, konon itu singkatan dari “kadongdong beresih” buah kedondong yang bersih.  Tapi ada juga yang mengartikan “ngendong bersih”. Hal itu menunjuk kepada pembayaran upah bersih di mana pekerja (biasanya pekerjaan Asisten Rumah Tangga atau buruh) tidak lagi mengeluarkan biaya untuk penginapan/ ngontrak atau makan, karena mereka telah mendapatkan tempat tinggal untuk menginapnya (ngendong) dan untuk biaya makannya, sehingga upah yang diterima bersifat netto alias “bersih”.

Namun saat ini dongsih juga diartikan sebagai sebutan untuk para perempuan muda yang bekerja ke kota Garut, Bandung dan Jakarta sebagai buruh pabrik atau menjadi ART (Asisten Rumah Tangga). Sementara itu jenis pekerjaan pabrikan yang banyak diminati adalah pabrik makanan seperti dodol Garut, pabrik garmen, dan pabrik bulu mata palsu dan wig untuk ekspor ke Korea. Hanya sedikit yang mendapatkan kesempatan melanjutkan kuliah dan bekerja berdasarkan keahliannya. Namun sejak lama juga banyak perempuan yang bekerja menjadi tenaga kerja wanita (TKW) terutama ke negara-negara Arab.

Degan demikian, sejak kecil saya tidak pernah mendengar larangan terhadap perempuan untuk bekerja di luar rumah.  Sebaliknya saya sering mendengar Mama Ajengan (sebuatan untuk kyai dalam kebiasaan orang Sunda) mendorong untuk bekerja di mana saja yang penting halal dan tetap menjalankan kewajiban agama. Dengan bekerja, demikian sering saya dengar, kita jadi punya kesempatan bersedekah. Kalau Lebaran tiba, dan para perantau pulang, banyak sekali kegiatan-kegiatan untuk bersedekah seperti membangun madrasah, mesjid atau untuk membangun rumah untuk orang tua yang tetap tinggal di kampung. Jadi kalau sekarang ada ujaran-ujaran yang meminta perempuan sebaiknya tinggal tidak bekerja dan di rumah, buat saya itu seperti melawan kewajibannya yang selalu kita dengar sebagai nasihat dari orang tua.

Namun begitu saya juga melihat yang menjadi masalah adalah cara orang menghargai tenaga kerja perempuan dan lelaki yang dibeda-bedakan. Upah yang didapatkan buruh lelaki dan perempuan terutama dalam dunia pertanian dan melaut itu berbeda. Baik di pertanian maupun di laut upah perempuan selalu lebih rendah. Upah perempuan lebih kecil upahnya dengan alasan bahwa beban kerja laki-laki lebih berat daripada perempuan. Selisih upahnya lumayan jauh sekitar Rp15.000 sampai Rp20.000 untuk waktu kerja 6 – 7 jam kerja, Perempuan dibayar Rp 35.000,- laki-laki Rp 50.000,-. Sampai Rp60.000,- selain itu ada anggapan perempuan selalu mendapatkan nafkah dari suaminya sehingga status mereka dalam bekerja dianggap sebagai pencari nafkah tambahan. Padahal banyak perempuan  apapun status perkawinanya merupakan pencari nafkah utama. Dalam beberapa kasus, mereka merupakan kepala keluarga.

Persoalan lain, terutama bagi keluarga yang istrinya merantau jauh seperti menjadi TKW, tidak ada pendidikan bagi suami di kampung bagaimana menjadi suami dan bapak yang baik, setia dan menunjang perjuangan istrinya di rantau. Hal yang sering menjadi cerita umum adalah suaminya nyandung (poligami), uang dari istri dihambur-hamburkan  untuk membeli barang-barang kosnumtif dan tidak ada budaya menabung dan cara pengelolaan uang hasil kerja di rantau.

Namun ada juga yang berhasil dipakai untuk menyekolahkan anak, membangun rumah dan membeli sawah/ kebun untuk bekal perempuan sendiri di masa tuanya. Ketika mereka kembali ke kampung mereka tetap bekerja baik mengurus rumah tangganya, mengurus keluarganya sambil tetap mencari nafkah.  Sementara anak-anaknya melanjutkan kariernya di kota dan kembali sesekali ke kampungnya untuk menikmati jerih payahnya mereka dan orang tuanya bekerja.  Perempuan di kampung saya memang perempuan pekerja!

 

Seri 10 IWD 2021: Kerja Kaum Perempuan di Kampung-Kampung di Nusa Tenggara Timur

Seri 10 IWD 2021 / Rumah KitaB / Muslimah Bekerja

Kerja Kaum Perempuan di Kampung-Kampung di Nusa Tenggara Timur

Oleh: Fransiska Filomena Weki Bheri

Sebagai seorang perempuan yang berasal dari Nusa Tenggara Timur, saya sudah terbiasa melihat perempuan-perempuan di sekitar saya bekerja. Saya tidak heran melihat perempuan bekerja macam-macam pekerjaan. Ada yang dibayar, namun lebih banyak yang tidak dibayar. Tapi semuanya butuh waktu, tenaga dan biaya.

Di Desa Nggela, Kecamatan Wolojita, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, yang merupakan kampung halaman saya, para perempuan bekerja mencari nafkah seperti bertani di kebun dan menenun. Ada juga yang bekerja formal seperti guru, bidan atau aparat desa. Tapi perempuan umumnya mengerjakan banyak hal. Tetangga saya, Ibu Klara Badhe salah satunya.

Mama Klara demikian biasanya dia dipanggil. Umurnya mungkin 56 tahun karena anaknya yang sulung, laki-aki sudah tamat SMP beberapa tahun lalu dan pergi merantau entah kemana. Sehari-hari Mama Klara mencari nafkah dengan menenun. Kadang ia menerima upah menenun atau menenun dengan modal benang yang ia beli sendiri. Setiap hari ia menenun hampir 12 jam diselingi memasak, mengambil air atau mencari kayu bakar.  Selain menenun ia juga mengurus rumah tangga sambil merawat ibunya yang sudah tua yang tinggal bersamanya. Mama Klara bekerja untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya. Sejak beberapa tahun lalu dia menjadi orang tua tunggal setelah suaminya meninggal. Dialah tulang punggung keluarga untuk anak-anaknya dan ibunya.

Sebagaimana perempuan-perempuan lain di kampung kami, Mama Klara juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan kegiatan rohani. Di kampung kami yang mayorias beragama Katolik hampir sepanjang tahun ada kegiatan keagamaan baik kegiatan harian, mingguan atau yang bersifat rutin tahunan. Puncak kesibukan warga kampung saya, seperti warga di kampung lain di NTT adalah Perayaan Natal, Paskah dan Perayaan Bulan Maria.

Perayaan Bulan Maria menurut saya meupakan perayaan yang unik. Tidak semua wilayah yang beragama Katolik seperti di Jawa mengadakan upacara adat seperti ini. Bulan Maria biasanya berlangsung pada bulan Mei atau Oktober sesuai ketentuan Gereja di NTT.  Secara adat pada bulan itu orang mengadakan upacara Devosi. Devosi adalah sebuah upacara penghormatan kepada Bunda Maria dengan cara mengarak patung Bunda Maria dipindahkan dari satu kampung ke kampung lain. Dulu upacara itu dihubungkan dengan saat setelah musim panen. Semua warga akan ikut terlibat dengan kegiatan itu. Meriah sekali di sepanjang jalan di kampung-kampung yang dilalui arak-arakan patung itu. Mereka akan memakai kain tenun yang bagus berjalan menuju desa tetangga sambil mengarak patung. Keiatan itu bisa berlangsung sesorean hingga malam dan selama berhari-hari. Dan jika sedang perayaan Bulan Maria pekerjaan  menenun bisa ditunda atau berhenti sama sekali.

Di luar hari-hari keagamaan dengan komunitas seperti itu, Mama Klara punya banyak kegiatan di komunitas. Ikut kerja membantu tetangga yang akan punya pesta baik perkawinan, kematian atau yang berkaitan dengan kegiatan keagamaan seperti upacara Sambut Baru. Sambut Baru adalah upacara penerimaan sakramen maha kudus atau biasa juga disebut penerimaan Komuni. Masyarakat Desa Nggela masih sangat lekat dengan tradisi dan kegiatan adat serta agama. Semuanya diikuti dengan patuh oleh warga.

Dengan begitu selain mencari nafkah Mama Klara juga sibuk  dengan kegiatan lainnya. Kegiatan-kegiatan itu memang tidak berbayar, tapi jika Mama Klara punya hajat dia dan keluarganya juga akan mendapat bantuan dari tetangganya. Di bulan tertentu beliau terlibat dalam  kegiatan adat bersama  warga masyarakat lainnya sesuai ayunan musim dan siklus adat/ gereja.  Selain itu Mama Klara  juga aktif di kegiatan gereja seperti mengikuti perayaan Ekaristi, membersihkan gereja, mengikuti ziarah rohani, doa rosario, dan mengikuti latihan koor. Semua kegiatan tersebut dilakukan secara rutin.

Di Desa Nggela mayoritas pekerjaan perempuan sering hanya didata sebagai ibu rumah tangga atau menenun. Para perempuan di desa tersebut sama halnya dengan Mama Klara ternyata sangat sibuk sekali. Selain bekerja sesuai profesi mereka juga mengadakan dan melaksanakan kegiatan lainnya yang ada di kampung. Misalkan  musim tanam dan panen mereka membantu para suami atau tetangganya di kebun. Ada kegiatan adat, gereja, sosial dan pemerintah para perempuan juga ikut andil dalam kegiatan tersebut. Tujuan mereka menjalankan semua kegiatan dan profesi tersebut adalah memenuhi kebutuhan sehari-hari, bersosialisasi, dan menjaga kekerabatan untuk saling membantu mengatasi beban di komunitas. Walaupun berbeda profesi tapi para perempuan di desa selalu mempunyai cara untuk tetap berkumpul seperti mengadakan arisan dan kegiatan upacara-upacara dari kelahiran sampai kematian. Ibu Klara selalu sibuk, hampir tidak ada waktu tersisa yang bisa ia gunakan untuk dirinya sendiri.

Dari cerita Mama Klara, selain menjadi penenun untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, ia juga bekerja 100% di ruang domestik, mengurus rumah, ibunya  dan anak-anaknya. Ia juga bekerja di komunitas, melakukan pelayanan secara adat dan agama, yang kesemuanya tidak dibayar. Melalui kisah Mama Klara, di momen Bulan Perempuan Internasional ini, sudah semestinya kita mengenali kerja-kerja rangkap yang perempuan lakukan. Mencari nafkah, mengurus anak dan keluarga, ikut dalam kegiatan komunitas atau mengerjakan ketiganya secara bersamaan.Tanpa perannya, mungkin upacara adat, keagamaan, dan mengurus komunitas akan terhenti, karena perempuan-lah yang menjadi penggerak dari segala urusan tersebut. Tanpa adanya rekognisi, takkan ada upaya untuk menanggapinya, dan perempuanakan terus menanggung beban rangkapnya [].

Seri 9 IWD 2021: Ketika Bekerja Bukan Sekadar Pilihan

Seri 9 IWD 2021 / Rumah KitaB / Muslimah Bekerja

Oleh: Dinda Shabrina

Narasi keagamaan yang mendorong perempuan untuk tinggal di rumah  sebagai  “kodrat”nya sepertinya tak memahami realitas perempuan dengan status yang ragam. Sebagai anak, sebagai istri dengan suami menganggur atau sebagai ibu tunggal akibat perceraian atau bahkan sebagai lajang. Narasi-narasi yang menyatakan surga perempuan adalah rumah dan bidadari rumah adalah perempuan jelas tak bisa berlaku bagi semua perempuan. Itu hanyalah sebuah mimpi bagi sebagian perempuan meskipun mereka meyakini  dan bahkan menginginkannya.

Sebab  bagi sebagian perempuan, hal itu seperti sebuah kemewahan. Tidak semua perempuan memiliki situasi kehidupan yang bisa menggantungkan hidupnya pada orang lain entah itu ayahnya atau suaminya. Tidak semua perempuan bisa dengan hanya melakukan pekerjaan domestik, lalu kebutuhan perutnya terpenuhi.

Narasi-narasi agama yang mendorong perempuan kembali ke rumah luput membaca kenyataan hidup perempuan-perempuan yang kurang beruntung dan terpaksa bekerja di luar rumah demi memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan anak-anaknya. Belum lagi jika perempuan sendiri menghendaki bekerja di luar rumah sebagai aktualisasi diri dan atau menghendaki sebagai ibadah amaliyahnya.

Seorang perempuan remaja yang saya temui di depan Mall Bekasi yang jualan kopi pakai sepeda keliling ketika penelitian kualitatif untuk mengonfirmasi tentang indeks penerimaan perempuan bekerja (Rumah Kitab 2021) menyadarkan saya soal ini. Ikhiari, sebut saja namanya begitu. Ia bercerita apa artinya bekerja bagi dirinya juga orang tuanya.

“Kita terlahir dari keluarga dengan kondisi ekonomi berbeda-beda. Apakah seorang perempuan, anak pedagang kaki lima seperti saya bisa seterusnya menadahkan tangan untuk menerima uang dari orangtua? Apakah ayah saya akan selamanya hidup dan mampu membiayai kebutuhan saya dan Ibu?

Sebagai pencari nafkah ayah saya tak selamanya sehat dan hidup di dunia. Ia masih punya tanggungan Ibu, saya dan adik. Orang yang berdagang seperti ayah saya di halaman Mall ini juga banyak. Kami sama-sama mengadu nasib. Dagangan ayah kadang juga tidak laku. Ibu saya yang dulu membantu ayah mencari tambahan dengan menjadi tukang cuci untuk kakak-kakak yang kerja di pabrik.  Sekarang tidak bisa lagi. Selain pada punya mesin cuci atau nyuci kiloan, kondisi fisiknya juga lemah. Saya, sebagai anak pertama yang mampu secara fisik tentu tidak bisa tinggal diam. Saya tidak mungkin membiarkan ayah saya mencari sendiri untuk menutupi kebutuhan keluarga. Sementara kebutuhan hidup harus terus dipenuhi, bayar token listrik, biaya sekolah adik, biaya pengobatan ibu, dan lainnya. Kalau ngikutin ceramah-ceramah yang bilang surga istri itu di rumah ya siapa juga yang nggak mau? Tapi Ibu saya bagaimana?

Bagaimana dengan  nasib perempuan janda, baik ditinggal mati suaminya atau cerai hidup, apakah mungkin bisa terus bergantung pada harta kekayaan suaminya? Itu pun kalau suaminya meninggalkan harta warisan. Kalau tidak?

Seperti kisah hidup Meli, seorang perempuan janda yang saya temui saat melakukan penelitian pertengahan tahun 2020 lalu. Sedari kecil Meli menerima narasi bahwa perempuan “salihah” sebaiknya ada di rumah. Karena memang “kodrat” perempuan yang ia pahami dalam Islam ada di dalam rumah. Mengerjakan pekerjaan domestik, memasak, menyuci, mengurus anak, dll. Ia menerima narasi semacam itu dari lingkungan keluarga, tetangga dan ceramah-ceramah yang pernah ia dengar. Saat remaja pun ia mengimpikan untuk menjadi perempuan sebagaimana yang dinarasikan tadi. Tetapi ternyata beranjak dewasa, kenyataan tak pernah memberinya kesempatan untuk dapat menjadi perempuan “salihah”.

Tamat sekolah, Meli harus menerima kenyataan untuk membantu ayahnya mencari nafkah. Karena adik-adiknya yang harus meneruskan sekolah dan kuliah butuh biaya yang banyak. Ia berpikir mungkin selama menjadi gadis, ia belum bisa menjalani kehidupan sebagai perempuan yang “salihah” dan sesuai “kodrat”nya. Baginya bekerja saat itu semata-mata sebagai bentuk baktinya dengan orangtua. Ia pernah bercerita pada saya bahwa kelak, setelah berumah tangga, ia akan menjadi perempuan salihah yang berdiam di dalam rumah dan mengabdikan diri untuk suaminya.

Namun kenyataan berkehendak lain. Cita-citanya untuk menjadi perempuan salihah setelah menikah pun tidak kesampaian. Ia menikah dengan seorang lelaki bermasalah dan tak setia. Selama menikah yang menjadi pencari nafkah utama adalah Meli. Selama setahun pernikahan, yang Meli tahu, ia dan suaminya hidup berkecukupan. Mereka sama-sama masih bekerja.

Merasa kondisi ekonominya selalu stabil, Meli sempat berencana untuk resigned dari kantornya agar cita-citanya menjadi perempuan salihah itu dapat terwujud. Apalagi saat itu Meli sudah memiliki anak, ia merasa bahwa perannya sebagai seorang ibu, madrasah pertama bagi anak-anaknya dibutuhkan. Tetapi belum sempat Meli mewujudkan niatnya untuk berhenti dari pekerjaan, Meli mengetahui bahwa suaminya berselingkuh dan selama ini tidak memiliki pekerjaan yang jelas. Selama ini justru suaminya malah menimbun hutang dimana-mana demi menutupi kebutuhan hidup agar terlihat memiliki pekerjaan tetap. Kenyataan pahit itu harus diterima dan dijalani Meli.

Sebagai seorang perempuan janda dengan dua orang anak, Meli harus menata kembali hidupnya. Ia harus bisa menyulap dirinya untuk menjalani berbagai peran. Menjadi seorang ibu sekaligus bapak, menjadi pekerja, pengurus rumah tangga. Tentu saja itu semua tidak mudah. Lalu apakah Meli lantas menjadi perempuan yang tidak salihah? Dengan rentetan kenyataan hidup yang harus ia jalani, apakah Meli tak pantas masuk surga hanya karena ia masih bekerja di luar rumah demi menghidupi dirinya dan keluarganya?

Akibat dari narasi keagamaan yang Meli terima bahwa perempuan salihah adalah perempuan yang ada di rumah, Meli menjadi khawatir apakah yang ia jalani saat ini diridhoi oleh Allah? Padahal melihat kondisi di rumah tangganya, suami tidak selalu memberi nafkah, tidak punya pekerjaan yang jelas, dan parahnya malah berselingkuh. Apakah Meli lantas diam saja? Sementara kedua anaknya yang butuh makan dan susu.

Perlahan Meli menerima itu semua dan mengubah pandangannya bahwa apa yang dilakukannya kini, perempuan janda yang bekerja di luar rumah, bukanlah sesuatu yang buruk. Sejak Meli bertekad untuk berdiri kembali setelah bercerai, Meli tak sedikitpun meratapi dirinya sebagai janda. Ia justru selalu mendorong dirinya untuk tidak pernah menyerah berjuang melanjutkan hidup. Ia menganggap apa yang dilakukannya saat ini sebagai ladang pahala. Meli tidak lagi merisaukan apakah ada surga untuk dirinya yang bekerja di luar rumah. Ia fokus menciptakan surga seperti yang ia pahami bersama anak-anaknya dirumahnya [].

rumah kitab

Merebut Tafsir: Cara Perempuan Memaknai Isra’ dan Mi’raj

Bagi banyak orang Isra’ Mi’raj adalah kisah mistis. Al- Qur’an mencatatnya dalam  surat Al Isra’ (surat ke 17) ayat 1, yang dalam Tafsirnya diartikan tentang perjalanan hambaNya (Nabi Muhmmad) dari Masjidil Haram ke Masjdil Aqsa, lalu naik ke Sidratul Muntaha. Umat Islam memperingatinya sebagai sejarah turunnya perintah shalat.

 

Nyatanya di seluruh dunia Isra’ Mi’raj dirayakan dengan rupa-rupa cara dan upacara. Di Jawa, misalnya, ini diperingati dengan ritus “selametan”. Di Keraton Yogyakarta ada kirab Rajeban, menggotong Paksi Buraq (burung Buraq) keluar dari keraton. Di  Jawa Barat ada pawai obor atau hajatan Mapag Rajab (menjemput Rajab). Di Temanggung ada tradisi Kataman Kitab Arya karya KH Ahmad Rifai Al Jawi yang didalamnya terdapat kisah Isra’ Mi’raj dalam versi keyakinan Islam Jawa.

 

Di luar Jawa terutama di Sumatera seperti Aceh, Melayu Riau ada “Kenduri Apam”. Kaum perempuan memasak dan membawa kue apam di mesjid atau ke balai rakyat. Sejenis kenduri kue juga dilakukan warga pesisir Pariaman Sumatera Barat yang menyebutnya Mendoa Sambareh. Di Takalar Sulawesi Selatan, upacara bulan Rajab disebut  Sangkobala untuk tolak bala.  Puncak perayaan  Isra Mi’raj  di Indonesia biasanya diisi dengan ceramah agama di mesjid-mesjid kaum/ besar. Di Istana Negara, peringatan Isra Mi’raj telah berlangsung sejak tahun 1951  sebagai upacara keagamaan resmi yang masuk ke dalam kalender Istana. Di masa Soekarno, pidato Isra’ Mi’raj presiden termasuk yang ditunggu-tunggu oleh umat Islam Indonesia.

 

Jelaslah, peringatan Isra Mi’raj adalah tafsir. Isra’ Mi’raj diperingati sebagai peristiwa sosial keagamaan yang penting.  Lalu, apa artinya bagi kita sekarang? Menanyakan hal itu penting, sebab dalam Isra’ Mi’raj terkandung ajaran yang sangat fundamental tentang nilai-nilai monoteisme Islam.  Dalam Isra’ Mi’raj terdapat  “historical background” tentang perjanjian pembebasan manusia dari tuhan-tuhan lain selain Allah.  Ini adalah ikrar  totalitas ketundukkan manusia yang mungkin melampaui deklarasi hak asasi manusia karena hanya kepada  Allah-lah  manusia bergantung dan berserah diri!

 

Pada malam Sabtu  12 Maret 2021 lalu, saya mengajukan pertanyaan ini sebagai pemantik diskusi  Kajian Gender dan Islam (KGI) yang diasuh Nyai Dr. Nur Rofiah, dosen PTIQ dan salah seorang penggagas Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI).  Dalam tafsiran saya,  Isra’ Mi’raj  menggambarkan dua “etape” perjalanan yang patut diteladani. Pertama, etape horizontal,  menggambarkan perjumpaan-perjumpaan manusia dengan manusia lain; dan etape kedua, perjalanan vertikal untuk mengangkat kemulian manusia melalui pembebasannya dari penghambaan kepada manusia lain.

 

Melalui Nabi Muhammad, Umat Islam  telah menerima ikrar tauhid itu. Demikian pentingnya perjanjian itu, hingga umat Islam melafalkannya  berulang kali dalam ritual shalat : “ Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah semata, Tuhan Semesta Alam yang tidak ada sekutu bagi-Nya.      

 

Dalam renungan feminis saya, peristiwa Isra’ Mi’raj ini menuntun kita untuk mengevaluasi diri seberapa jauh ketundukkan total manusia hanya kepada Allah. Seberapa jauh ketundukan perempuan untuk tidak menyekutukan yang lain dan hanya tunduk kepada Allah. Ini karena  dalam kehidupan sehari-hari  manusia berhadapan dengan relasi-relasi kuasa yang potensial menindas yang menjadikan manusia kehilangan kesanggupannya untuk hanya menyembah  dan bergantung kepada Allah.

 

Dalam perjalanan horizontal manusia, terjadi perjumpaan-perjumpaan yang melahirkan sistem dan struktur sosial yang seharusnya linier – horizonal berubah menjadi bertingkat/  berkelas/ berstruktur. Disanalah muncul kemungkinan  terjadinya hubungan-hubungan sosial yang tidak setara dan bahkan menindas. Terutama karena sistem sosial itu telah menciptakan kesenjangan yang genjang dan membentuk hirarki: kaya-miskin, kuat-lemah, maksulin (dominan)-feminin (subrdinat), mayoritas – minoritas, dan seterusnya. Tanpa kesadaran kritis tentang adanya relasi dan ketergantungan yang dapat merampas kebebasan manusia, orang akan menerima sesenjangan itu sebagai  hal yang alamiah dan wajar.

 

Pada kenyataannya sejarah manusia telah memperlihatkan bagaimana kesenjangan itu  menjadi basis penindasan berdasarkan ras , suku, kelas sosial, umur, agama, gender, keadaan fisik dan pembeda-pembeda lain yang dikonstruksikan manusia demi kepentingan kekuasaannya.

 

Dalam struktur sosial yang timpang serupa itu, perempuan, sebagaimana anak-anak, kaum miskin, orang dengan disabilitas,  kelompok minoritas berada di satu posisi, berhadap-hadapan dengan kelompok lain yang berpotensi menjadi penguasa dan penindasnya:  lelaki/ patriarki, orang dewasa, orang dengan sumber daya lebih, kaum non- disabilitas, dan mayoritas.

 

Dalam struktur yang timpang serupa itu perempuan menjadi lebih rentan. Antara lain karena dalam ragam identitas itu terdapat irisan interseksional. Sudahlah  perempuan, miskin, minoritas, powerless lagi.  Kenyataannya, begitu banyak hal yang membuat perempuan menjadi tergantung atau mengikatkan diri dan takut kehilangan  ikatan-ikatan itu: perkawinannya, status perkawinannya, anak dan suaminya, sumber ekonominya, jabatan suaminya dan seterusnya. Dalam kadar tertentu  hal itu  sedemikian rupa membuatnya begitu tergantung dan menganggapnya sebagai  tuhan-tuhan kecil mereka tempat mereka bergantung dan berlindung, bahkan untuk perkawinan yang memunculkan penderitaan seperti perkawinan poligami dan perkawinan dengan kekerasan.

 

Situasi itu dapat menjebak mereka masuk ke dalam penghambaan-penghambaan sosial baru yang sistemik. Apalagi jika penghambaan itu dilegitimasi oleh pandangan keagamaan yang patriark imaskulin. Selesai sudah!

 

Hal yang lebih mengerikan adalah  karena yang terjebak ke dalam sistem penghambaan itu bukan hanya mereka yang  kehilangan kebebasannya sebagai manusia, melainkan juga mereka yang memperhambakan  manusia lain dalam relasi-relasi timpang  yang terus dibangun dan  diglorifikasikan. Mereka menjadi tuhan-tuhan baru dalam kehidupan manusia terutama bagi  mereka yang dilemahkan dalam stuktur sosial seperti perempuan, anak-anak dan kaum miskin. Tak sedikit perempuan diajari tentang kewajiban menyembah, patuh, tunduk dan pasrah kepada suaminya laksana menyembah Tuhannya.  Dalam relasi itu sang suami juga  menikmati konstruk budaya, agama, dan politik, yang memposisikannya sebagai  pelindung (untuk tidak dikatakan penguasa) atas istri dan anak-anaknya.

 

Tanpa ada kesadaran kritis, kedua pihak masuk ke dalam  sistem pengahambaan di mana manusia yang satu  menciptakan ketergantungan  eksploitatif kepada manusia lain.  Dalam relasi serupa itu  kedua  pihak telah membangun dan mempercayai berhala-berhala baru  tempat manusia memuja dan dipuja, bergantung dan berlindung. Dengan demikian, kedua pihak– baik korban eksploitasi maupun pelakunya, telah terjebak dalam cengkeraman relasi hamba dan tuan yang sekaligus menghapus  esensi dari  deklarasi manusia untuk mengakhiri sistem penghambaan sebagaimana diikrarkan Nabi Muhammad melalu perjalanan spiritual Isra’dan Mi’raj.

 

Di titik ini renungan Isra’ Mi’raj dengan memperbaharui deklarasi untuk membebaskan diri dari penghambaan  manusia atas manusia lain, perempuan kepada lelaki, buruh kepada majikan, minoritas kepada mayoritas, adalah cara untuk memperingati hakekat Isra’ dan Mi’raj. # Lies Marcoes, 15 Maret 2021

 

Seri 8 IWD 2021: Memilih Batas Tepi Antara Angan dan Realitas Kehidupan

Seri 8 IWD 2021 / Rumah KitaB / Muslimah Bekerja

Memilih Batas Tepi Antara Angan dan Realitas Kehidupan

(Cerita  perempuan  tanpa suami yang tinggal di lingkungan Salafi)

 

Oleh: Dwinda Nur Oceani

 

Ummu Putri (36) adalah ibu tunggal untuk Putri, berumur 9 tahun. Kesehariannya mengurus anaknya dan berdagang jajanan seperti onde-onde dan telur asin yang ia produksi sendiri. Untuk memenuhi kebutuhannya ia harus berjualan setiap hari karena kue-kue yang dijual tak bisa disimpan. Selain itu ia juga menjual makanan ringan dititipkan di mana ia hanya mengambil untung kecil dari selisihnya. Keahlian lainnya adalah pijat dan bekam. Keahilan itu ia peroleh dari sesama jemaah yang dimanfaatkan untuk mencari nafkah. Ia tidak menyia-nyiakan keahliannya dengan menjual jasa tersebut sebagai tambahan.

 

Sejak tiga tahun lalu Ummu Putri memilih bercerai karena suaminya sering melakukan tindakan kekerasan. Ummu mengurus sendiri perceraiannya karena suaminya tidak mau menceraikan. Menjadi seorang janda dan ibu tunggal bagi seorang anak perempuan ternyata bukanlah  perkara mudah untuk ia jalani di lingkungan yang menormalisasi ajaran Salafi. Sebutan perempuan mandiri dan independen jelas tidak berlaku di lingkungan ini. Berbagai “aturan” yang diterapkan di lingkungan tempat ia tinggal membatasi ruang gerak dan pikirannya. Namun, ia masih menganggap bahwa batasan-batasan itu merupakan amalan yang sudah seharusnya dijalani oleh perempuan, apalagi seorang janda.  Ummu Putri telah memeluk keyakinan yang tumbuh dari pemahaman Salafi melalui proses yang tidak sebentar. Mulai mempelajari ketika semasa ia duduk di bangku SMP/MTs (Madrasah Tsanawiyah), mendapatkan pembelajaran dari teman sekelasnya juga dari melalui majalah Salaf. Setelah dewasa, ia kemudian mencari tempat dan lingkungan yang memegang ajaran Salafi ini. Hal tersebut bagaikan mimpi menjadi kenyataan baginya, setelah mendambakan untuk tinggal di lingkungan yang dikelilingi oleh teman-teman satu komunitas/kelompok yang memiliki pemahaman sama dengannya terkait ajaran agama. Ia pun memilih untuk melanjutkan kehidupannya di lingkungan tersebut.

 

Perempuan bekerja merupakan hal yang tidak lazim bagi perempuan-perempuan di kelompok Salafi. Tentu saja sedapat mungkin mereka berikhtiar, namun dijalankan dari rumah. Karenanya memiliki keterampilan seperti memijat dan bekam dengan membuka praktek di rumah itu penting. Tapi keahlian itu juga dimiliki perempuan-perempuan lain yang pernah ikut kursus bekam. Dengan anggapan bahwa sebaik-baik perempuan adalah  yang tinggal di rumah dan mengurus keluarga, perempuan-perempuan yang ada di dalam komunitas itu umumnya tidak bekerja di luar rumah. Paling jauh mereka jadi guru di dalam lingkungannya.

Dalam keyakinan mereka, tinggal di rumah adalah hal yang diharuskan. Alasan paling umum adalah untuk menjaga kehormatan perempuan dan suaminya yang berkewajiban melindunginya. Keharusan untuk tinggal di rumah juga karena mereka meyakini secara kodrati perempuan adalah sumber fitnah yang dapat menimbulkan kegoncangan di dalam masyarakat. Untuk menghindarinya, perempuan  secara fitrah  seharusnya tinggal di rumah, mengurus keluarga, mengerjakan hal-hal domestik, dan fokus beribadah saja. Adapun pekerjaan yang diperbolehkan dalam lingkungan atau kelompok Ummu Putri, seperti menjadi pengajar/guru untuk kalangannya dan berdagang namun harus didampingi oleh mahram. Hal tersebut ditujukan salah satunya untuk menghindari ikhtilath (bercampur/interaksi dengan yang bukan mahram) antara perempuan dan laki-laki. Sudah menjadi hukum paten.

 

Ummu Putri memang memiliki keyakinan yang tumbuh dari ajaran Salafi. Namun realita kehidupannya tidak dapat memenuhi  harapan atas pemahaman tersebut. Hal itu membuatnya seakan berada di tengah garis antara harus menjalani yang ia yakini mengenai fitrah perempuan namun mengenyampingkan realita kehidupannya, atau ia menjalani realita hidupnya dengan bekerja sebagai pedagang dan menjual jasanya namun stigma negatif akan terus datang padanya.

 

Resah yang ia simpan direspon oleh salah satu jemaah yang tinggal di lingkungan yang sama. Awalnya ia merasa bahwa rekannya berada di sisinya untuk mendukung dan memberikan solusi namun nyatanya menjadi buntu. Ia justru diminta untuk introspeksi diri, dianggap sebagai perempuan yang melanggar aturan agama dan menyalahi fitrahnya sebagai perempuan, karena ia berdagang seorang diri tanpa ditemani mahram, dan menjajakan apa yang bisa ia jual dengan usahanya sendiri. Ia justru diceramahi untuk banyak berdoa agar dipermudah mendapatkan suami yang dapat menanggung beban kehidupannya, agar ia dapat kembali ke rumah dan hanya mengurus keluarga sebagai bentuk amalan kehidupan. Ummu Putri merasa bahwa rekannya tidak memiliki rasa empati, padahal ia tahu bagaimana keadaan Ummu Putri.

 

“Dia tau gimana keadaan aku, kenapa aku kerja keras dan tidak diam saja di rumah. Aku juga tau apa yang aku lakuin bukan sunnahnya perempuan. Tapi ya aku balik lihat keadaanku untuk memenuhi kebutuhan ya harus mencari nafkah. Kalau aku nurutin kata orang dari mana aku dapat penghasilan. Sedih kalo cuma dengerin kata orang, karena orang yang ngomong ke aku secara finansial sudah mapan, makanya mudah saja bilang seperti itu.” Ungkap Ummu Putri. Namun, tekanan tersebut membuat Ummu Putri menjadi resisten dan berpikir bodo amat karena  siapa lagi yang akan menolong dirinya kalau bukan dirinya sendiri. Lantaran ia butuh. Angan-angan menjadi istri soleha yang bertugas di ranah domestik dan berkewajiban mengurus suami dan mendidik anak ia kesampingkan dengan perasaan yang berat pastinya. Kembali pada realita kehidupannya menjadi prioritas. Jika hanya mendengarkan orang-orang yang sebenarnya tidak betul-betul peduli dan tidak mengakui kehadirannya sebagai perempuan mandiri hanya akan membuang waktu dan menggerus perasaannya.

 

Sudah terlalu lelah mendengar dan menanggapi apa yang orang katakan. Ia memilih untuk tidak mendengarkan walau ada perasaan sedih yang tidak diungkap pada orang-orang yang menceramahinya. Dengan memilih untuk terus bekerja, berjuang untuk menghidupi dirinya dan anak perempuan satu-satunya merupakan bukti bahwa ia tidak menyerah dengan keadaan dan pada aturan yang membelenggu ruang gerak dan pikirannya. Ia mencoba menciptakan ruang tak bersekat bagi dirinya untuk dapat bertahan di jalan ridha Allah sesuai yang ia pahami dan ia jalani. [DNO]

 

Sumber gambar: https://www.google.com/amp/s/m.republika.co.id/amp/qeydtg320