Algoritma Kedangkalan: Membumikan Fikih Akal Imitasi
Mataku buta sejak lahir, tapi aku membaca relief-relief di dinding rahim, serta huruf-huruf yang menjerit di ujung badik, bahwa darah adalah senyum bunga semesta. … Di luar itu badik harus tetap meniru tangkainya yang bungkuk dalam rukuk dan sujud. badik harus berjalan menyiratkan kearifan. Mataku buta tapi inilah atmosfer itu, angin yang direstui angkasa dan […]
