Entries by Rahmat Al-Barawi

Algoritma Kedangkalan: Membumikan Fikih Akal Imitasi

Mataku buta sejak lahir, tapi aku membaca relief-relief di dinding rahim, serta huruf-huruf yang menjerit di ujung badik, bahwa darah adalah senyum bunga semesta. … Di luar itu badik harus tetap meniru tangkainya yang bungkuk dalam rukuk dan sujud. badik harus berjalan menyiratkan kearifan. Mataku buta tapi inilah atmosfer itu, angin yang direstui angkasa dan […]

Pesantren dan Literasi (2): Diskursus Kesehatan Mental di Pesantren

Dari segi historis, pesantren tidak hanya identik dengan makna keislaman, tetapi juga mengandung makna keaslian Indonesia (indigenous), demikian tutur Cak Nur. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pesantren bukanlah kebudayaan dari luar; ia lahir dari rahim lokalitas. Meskipun pada saat yang sama, lokalitas juga tidak mengisyaratkan ketertutupan pada dunia luar. Ada yang mengatakan kata pesantren berasal dari […]

Pesantren dan Literasi (1): Perjuangan Sastra Pesantren

Selama ini ada anggapan bahwa pesantren sering dianaktirikan di republik ini. Padahal ia mempunyai peranan penting dalam membentuk kepribadian bangsa. Bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka, pada tahun 1930-an, terjadi polemik kebudayaan. Banyak tokoh yang berbagi gagasan terkait kebudayaan apa yang cocok bagi negara yang akan merdeka ini. Salah satu pemikiran yang menarik lahir dari Dr. […]

Keadilan dan Qana’ah

“Ada dua hal yang selalu menghantui orang miskin di Indonesia: kemiskinan dan kematian”, Bram dalam Laut Bercerita.   Apa yang disampaikan oleh salah satu tokoh penting dalam novel Laut Bercerita itu benar adanya. Teramat sulit, bagi orang miskin untuk mengubah nasibnya. Seolah kemiskinan menjadi stempel yang membuatnya sulit bergerak. Sebab ke mana pun melangkah, ia […]

Menjadi Pembelajar seperti Ibn Abbas

Ketika membahas seputar tafsir di era sahabat, salah satu nama yang tidak bisa dilepaskan adalah Abdullah ibn Abbas. Dalam sejarah, beliau dikenal dengan sebutan Tarjuman al-Quran. Pertanyaannya adalah, mengapa Ibn Abbas bisa mendapatkan predikat tersebut? Imam Husain az-Zahabi dalam kitabnya, at-Tafsir wa al-Mufassirun, menerangkan alasan Ibn Abbas menjadi orang yang spesial dalam memahami Al-Quran. Spiritualitas, […]

Cerita Lain dari Desa

Desa sering kali dibayangkan sebagai ruang yang tenang: hamparan hijau yang membentang, udara pagi yang segar, dan warga yang hidup rukun saling membantu. Namun, jika mau melihat lebih dekat, gambaran itu sebenarnya sudah lama berubah. Ada cerita lain dari desa hari ini. Kriminalitas, pembunuhan, perampokan, dan kejahatan lainnya tak lagi menjadi potret khas orang kota. […]

Dekadensi Intelektual

Beberapa waktu lalu, saya bersama para mahasiswa membaca kitab yang ditulis satu abad silam oleh Syakib Arslan, Limadza Ta’akkhara al-Muslimun wa Taqaddama Ghayruhum, Mengapa Umat Islam Terbelakang dan Yang Lain Maju? Meski telah berusia ratusan tahun, pesan di dalamnya tetap bergema, menghantam kenyataan hari ini. Menarik mengulas latar belakang penulisan kitab tersebut sebelum mengulik isinya. […]

Membaca “Orang-orang Proyek” Ahmad Tohari

Belakangan ini, ruang-ruang diskusi dan obrolan saya kerap diisi oleh kecemasan kawan-kawan sebaya yang gagap beradaptasi di lingkungan kerja. Di satu sisi, mereka datang membawa gairah dan idealisme yang menyala. Namun di sisi lain, tatanan realitas pekerjaan menyambut mereka dengan kebiasaan potong kompas, patronase “orang dalam”, dan tekanan struktur yang menuntut kompromi etis secara masif. […]

Menakar Tawaran Epistemic Partnership

“Saking pintarnya, saking pintarnya jadi g*blok.” Demikian pernyataan Presiden Prabowo beberapa waktu lalu yang viral di media sosial. Ia menyoroti kejujuran intelektual yang seharusnya dijunjung tinggi oleh seorang pakar. Dengan narasi yang lebih “sopan” sedikit, Buya Syafii belasan tahun silam menulis artikel berjudul “Pengkhianatan Kaum Intelektual Indonesia: Perspektif Kebudayaan.” Iya, Buya Syafii melabeli pengkhianat pada […]

Membedah Mitos “Islam ala Rezim”

Dalam tiap panggung sejarah, relasi antara agama dan kekuasaan politik tidak pernah sepi dari perbincangan. Salah satu cara paling kasat mata untuk merekam perjumpaan ini adalah melalui kehadiran literatur yang “memotret” sekaligus mengagungkan keislaman seorang pemegang kekuasaan. Jejak ini bisa kita telusuri dari bagaimana Sukarno mengkritik cara beragama yang kaku dalam Islam Sontoloyo, pergeseran politis […]