Reportase Sosialisasi Modul PAUD Bagi Guru-guru Wilayah Cianjur

Rumah Kita Bersama (Rumah KitaB) atas dukungan University of Oslo, Norway menyelenggarakan sosialisasi bagi guru-guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) wilayah Cianjur.

Kegiatan tersebut diselenggarakan secara online selama dua hari, 8-9 Juli 2021 menggunakan platform Zoom Meeting. Menghadirkan 30 peserta yang berasal dari Cianjur. Metode daring ini digunakan untuk mengurangi penularan covid-19 yang sedang melonjak.

Sosialisasi ini menghadirkan narasumber ahli yang juga merupakan tim penulis buku modul, Regha Rugayah. Selain itu juga mengundang Acintya Tustacitta sebagai narasumber kegiatan sosialisasi ini. Faurul Fitri, Fadilla Putri, dan Jamaluddin Muhammad, selaku tim penulis buku modul juga menyampaikan materi pada kegiatan ini.

Kegiatan ini dibagi menjadi dua hari dengan agenda hari pertama yaitu sosialisasi Bab 1 mengenai Prinsip-prinsip dalam Pendidikan Karakter dan Bab 2 mengenai Manajemen dan Pengorganisasian dalam Pendidikan Karakter, kemudian hari kedua membahas Bab 3 mengenai Metode Mengajarkan Pendidikan Karakter dan Bab 4 mengenai Alat Ukur Keberhasilan Pendidikan Karakter berbasis Partisipasi Anak.

Faurul Fitri sebagai narasumber pertama menyampaikan secara umum keseluruhan isi modul “Mendampingi Anak Didik Belajar dengan Gembira dan Berakhlakul Karimah Aktif” yang telah disusun oleh Yayasan Rumah Kita Bersama. Penyampaian isi keseluruhan ini menjadi gambaran singkat dan jembatan untuk penyampaian dua materi khusus yang ada pada Bab 1 yaitu materi mengenai toleransi dan cinta tanah air.

Fadilla Putri menyampaikan mengapa materi toleransi penting untuk diajarkan, hal ini dikarenakan ditemukannya beberapa kasus praktik-praktik intoleransi yang justru diajarkan di Sekolah misalnya di awal tahun 2020 lalu salah satu Sekolah Negeri yang semestinya muridnya beragam kemudian Pembina Pramukanya mengajarkan tepuk pramuka dengan kalimat “Islam Yes Kafir No”. Hal tersebut merupakan salah satu cara didik yang tidak bijak karena berpotensi mengajarkan kebencian.

Hal tersebut didukung oleh penyampaian Jamaluddin Muhammad. Ia menyampaikan bahwa cinta tanah air adalah materi yang saling berkaitan. Menumbuhkan perasaan cinta tanah air akan mengajarkan anak untuk mengenal, menghargai dan menghormati keberagaman karena kita hidup di sebuah negara yang multikultural. Negara yang memiliki banyak bahasa, etnis, agama, kebudayaan dan lain-lain artinya sebuah negara yang masyrakatanya plural juga multikultural sehingga penting dalam konteks menjaga nilai dan menanamkan nilai cinta tanah air ini mengenalkan dan menghargai keberagaman tersebut.

Pengajaran materi-materi khusus tersebut secara rinci dijabarkan oleh Regha Rugayah pada Bab 2 mengenai Manajemen dan Pengorganisasian dalam Pendidikan Karakter. Didalam Bab tersebut dijelaskan mengenai Sasaran Pengguna Pendidikan Karakter Anak Usia Dini dan hal-hal yang harus diperhatikan oleh pengguna Pendidikan Karakter.

Hari kedua sosialisasi dimulai dengan review oleh Achmat Hilmi kemudian dilanjutkan membahas Bab 3 Metode Mengajarkan Pendidikan Karakter oleh Regha Rugayah dan Bab 4 mengenai Alat Ukur Keberhasilan Pendidikan Karakter berbasis Partisipasi Anak oleh Acintya Tustacitta.

Kegiatan sosialisasi modul Pendidikan Karakter Mendampingi Anak Didik Belajar dengan Gembira dan Berakhlakul Karimah Aktif ditutup dengan kuis dan foto bersama.[]

Reportase Pelatihan Tokoh dan Penceramah Agama di Kota Depok

Rumah Kita Bersama (Rumah KitaB) atas dukungan Investing in Women menyelenggarakan pelatihan untuk penguatan kapasitas tokoh agama dan para penceramah untuk membangun narasi hak perempuan bekerja di Kota Depok.

Kegiatan tersebut diselenggarakan secara hybrid (menggabungkan online dan offline) selama tiga hari, 22-24 Juni 2021 di The Margo Hotel, Depok. Menghadirkan 33 peserta terdiri dari 19 perempuan dan 14 laki-laki. 23 peserta hadir secara offline dan 10 lainnya melalui zoom meeting. Metode ini digunakan sebagai pertimbangan dalam pencegahan penularan covid-19 yang sedang melonjak.

Lima fasilitator dari Rumah KitaB hadir secara offline. Narasumber terdiri dari Nani Zulminarni (Pendiri PEKKA), Kiai Ulil Abshar Abdalla (board member Rumah KitaB/Kiai Senior), Dr. Abdul Moqsith Ghozali (MUI Pusat/ Dosen UIN Jakarta), dan Pandu Padmanegara (Communicaption). Lies Marcoes (Direktur Eksekutif)  mendampingisecara online untuk memonitor perkembangan pelatihan.

Seperti tema pelatihan, bahwa peserta merupakan para tokoh agama dan penceramah yang memiliki keaktifan dalam menggerakan masyarakat melalui organisasi keagamaan, pesantren, dan majelis taklim di wilayah Depok. Di antara peserta ada yang merangkap sebagai guru, dosen, penyuluh agama, dan perwakilan kaum muda yang memiliki pengaruh dengan basis keagamaan. Usianya berkisar dari 25-60 tahun.

Pelatihan ini menggunakan pendekatan partisipatif. Kegiatan dibuka dengan identifikasi pemahaman tentang bekerja, dan pekerjaan laki-laki dan perempuan dalam persepsi peserta. Identifikasi tersebut menghasilkan konsep bekerja yang terklasifikasi menjadi tiga yaitu, kerja produktif, kerja reproduktif, dan kerja sosial atau komunitas. Kemudian dilanjut dengan peserta memetakan hambatan dalam perempuan bekerja.

Narasumber pertama adalah Kiai Ulil yang membahas tentang kontradiksi antar teks ajaran dan realitas. “bagaimana kita sebagai umat Islam membawa tradisi kemudian bertemu realitas yang berbeda. Kita dipaksa untuk berpikir ulang. Tentu saja semua yang kita jumpai di zaman sekarang disahkan semua, tentu tidak begitu. Kita pasti akan memakai standar moral yang sudah diajarkan dalam keagamaan kita. Tetapi kita berpikir ulang bagaimana melaksanakan ajaran tradisi kita di zaman yang berubah seperti ini”Ungkap Kiai Ulil. Sesi tersebut menjadi jembatan bagi pembahasan metodologi maqashid syariah dengan perspektif gender yang ditawarkan oleh Rumah KitaB untuk memperkuat narasi perempuan bekerja.

Melihat teks ajaran dan realitas, yang tidak berjalan beriringan, direfleksikan dalam pandangan dan pengalaman peserta terkait perempuan bekerja dan hambatannya. Terkonfirmasi melalui sesi panel yang diisi oleh Nani Zulminarni dan Fadilla Putri. Nani membukanya dengan fakta-fakta lapangan terkait perempuan dan pekerjaan sebagaimana temuan organisasi Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA). Disambung oleh Fadilla yang menyampaikan hasil studi Rumah KitaB mengenai situasi analisis perempuan bekerja. Diskusi tersebut menggarisbawahi bahwa sistem pendukung terkadang luput untuk dapat melindungi perempuan dari lingkungan terkecil sampai negara.

Lies Marcoes dan Nurhayati Aida menyampaikan instrumen-instrumen pendukung perempuan bekerja, dari dunia internasional hingga nasional, seperti Konvensi Penghapusan Diskriminasi kepada Perempuan (CEDAW) dan regulasi tingkat nasional tentang ketenagakerjaan. Sesi ini menjadi penutup di hari pertama.

Hari kedua dimulai dengan review jenis pekerjaan, kerja produktif, reproduktif, dan kerja sosial. Identifikasi tersebut digunakan untuk menjelaskan konsep gender yang salah satu elemennya dikonstruksi oleh ajaran agama dan pemahaman manusia, diperdalam bersama Lies Marcoes.

Dilanjut oleh Dr. Moqsith Ghazali, membahas maqashid syariah sebagai metode pembacaan teks dalam mendukung perempuan bekerja dan mengaktualisasikan diri. Ada hal menarik yang disampaikannya “Fatwa itu hakikatnya tidak bisa dipukul rata. Mungkin fatwa yang dikeluarkan Bin Baz relevan untuk konteks politik di Arab Saudi saat itu. Tetapi ketika diterapkan di Indonesia terlihat aneh. Karena perempuan di Indonesia biasa berangkat bekerja, mencari nafkah sebagai hakim, sebagai advokat, guru, ustazah. Kalau kita melihat channel televisi di Arab Saudi, kita tidak akan melihat perempuan. Tetapi di sini ustazah ditonton oleh jemaah dan disiarkan televisi di seluruh Indonesia. Fatwa itu harus kontekstual.”Ujar Dr. Moqsith.

Untuk memperdalam lagi peserta diajak untuk mendiskusikan terkait lima hak dasar manusia yang dibaca dengan perspektif gender. Mereka dibagi menjadi lima kelompok dan diminta untuk membaca buku Fikih Perempuan Bekerja(buku yang diproduksi dan diterbitkan oleh Rumah KitaB pada tahun 2021) pada bagian yang membahas lima hak dasar manusia. Diantaranya, hak mempertahankan hidup (hifdzu al-nafs), hak atas nafkah dan hak aksesibilitas terhadap sumber-sumber ekonomi (hifdzu al-mâl), hak mengakses pengetahuan dan pendidikan (hifdzu al-‘aql), hak memelihara keturunan berkualitas (hifdzu al-nasl), dan hak memiliki pandangan keagamaan yang terbuka, toleran, dan berprinsip pada keadilan (hifdzu al-din). Hari kedua ditutup dengan kesimpulan yang disampaikan Achmat Hilmi terkait lima hak dasar manusia (dharuriyat al khams).

Hari terakhir, review dilakukan oleh Jamaluddin Muhammad, lalu Achmat Hilmi  memperdalam kembali terkait maqashid syariah. Pada materi terakhir peserta dikenalkan dengan teknik mengelola media. Sesi ini diisi oleh Pandu Padmanegara dari Commcap. Peserta mendapatkan tips dalam mengembangkan media untuk berdakwah. Selain itu mereka juga diajak untuk berpartisipasi dalam kampanye Muslimah Bekerja yang diusung oleh Rumah KitaB.

Bagian terakhir dari pelatihan ini menjadi hal penting dalam keberlanjutan atau keluaran dari pelatihan ini, yaitu Rencana Tindak Lanjut (RTL). Pada sesi penutup panitia meminta perwakilan peserta untuk menyampaikan testimoninyayang diwakili oleh Cutra Sari (Penyuluh Kemenag). Testimoni lainnya disampaikan Ahmad Solechan (Ketua PCNU) bahwa realitanya masih banyak fakta yang memperlihatkan hambatan perempuan bekerja karena pandangan keagamaan. Dari cerita pengalaman pribadi tersebut dan proses pelatihan selama tiga hari semakin memperkuat bahwa peran para tokoh agama dan pendidik masyarakat yang berperspektif keadilan gender diperlukan untuk terus mendukung narasi perempuan bekerja. []

Laporan Kegiatan Diskusi Virtual ”GERAKAN SANTRI CINTA BUMI”

GERAKAN SANTRI CINTA BUMI

Zoom Meeting Online, Rabu 30 Juni 2021

Rumah Kita Bersama atas dukungan “The Oslo Coalition on Freedom of Religion or Belief (OC) University of Oslo Norwegia”, menyelenggarakan kegiatan Diskusi Virtual bertema ”Darurat Pencemaaran Sampah di Indonesia dalam Perspektif HAM dan Gender”.

Kegiatan ini diselenggarakan melalui aplikasi “zoom meeting”,Rabu, 30 Juni 2021 jam 13.30 – 16.00. Kegiatan ini merupakan bagian rangkaian pendampingan para peserta pengaderan Kiai Muda Sensitif HAM dan Gender, yang diselenggarakan selama bulan April sampai dengan Agustus, 2021.

Di angkatnya isu bencana pencemaran sampah ini karena dua hal, yaitu pencemaran sampah di Indonesia telah menjadi bencana  yang mengancam eksistensi manusia melanggar hifd nafs. Kedua, isu pencemaran sampah merupakan isu yang paling mudah dikenali dan kehadirannya sangat dekat dengan tempat tinggal dan tempat beraktivitas para kiai muda sensitif HAM dan Gender, seperti pesantren, madrasah, masjid, perguruan tinggi Islam. Sehingga dalam konteks advokasi lebih mudah dijangkau dan diimplementasikan.

Peserta terdiri dari alumni  pelatihan  HAM dan Gender, alumni pelatihan lain yang diselenggarakan RK, termasuk para pecinta lingkungan, akademisi, para kiai dan ibu nyai para pemimpin majelis taklim dan pondok pesantren. Mereka berasal dari berbagai provinsi di Indonesia, seperti DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur/Madura, Lampung, Sumatera Barat, Jambi, Riau, Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara.

Acara diikuti 64 orang, di antaranya 34 perempuan dan 28 laki-laki. Jumlah peserta yang menyimak di channel youtube Rumah KitaB sebanyak 46 peserta. Total jumlah peserta yang aktif mengikuti kegiatan ini sebanyak 110 peserta.

Narasumber yang hadir adalah para aktivis lingkungan sekaligus praktisi perubahan lingkungan dengan basis pesantren dan pengorganisasian masyarakat. Mereka adalah  Nyai Nissa Wargadipura (Pengasuh Pondok Pesantren Ekologi Ath-Thariq, Garut-Jawa Barat), Gus Roy Murtadla (Pengasuh Pondok Pesantren Ekologi Misykatul Anwar, Depok-Jawa Barat), dan Noer Fauzi Rachman, PhD., (Pengajar psikologi lingkungan di Universitas Padjadjaran, Bandung-Jawa Barat dan pengurs Yayasan Sajogyo Institute).

Dalam presentasinya, Nyai Nissa Wargadipura, menyampaikan pengalamannya mengelola pondok pesantren ekologi Ath-Thariq-Garut. Pondok pesantren ini telah berhasil menyediakan berbagai kebutuhan pokok para santri dan masyarakat sekitar yang  dihasilkan dari kebun pangan mereka. Faktor utama keberhasilannya ini, di antaranya penerapan agroekologi dalam sistem pembelajaran ekologi di pesantrennya. Menurut Nyai Nissa, Agroekologi yang dipraktikkannya yaitu sistem agraris nusantara, yang mengurus hulu-hilir, dengan tata kelola dan tata produksi berbasis kearifan lokal setempat melalui budaya landskap urang sunda bernama, “Buruan Bumi – Kebun Talun ( halaman Rumah dan Kebun di tepi hutan)”.

Narasumber kedua, Gus Roy Murtadla menyampaikan beberapa hal, pertama, problem teoritis, yang melatar belakangi terjadinya pencemaran sampah yang masif. Menurut Gus Roy, “Sampah itu tidak turun dari langi, ada satu sistem yang memproduksinya hingga sampai pada kita”. Pola tindakan, model konsumsi dan produksi manusia  mempengaruhi terjadinya pencemaran sampah terus menerus dalam jumlah besar. Tindakan manusia membuang sampah sudah terjadi sejak manusia ada. Namun perbedaannya, sampah yang dibuang oleh manusia saat ini adalah sampah yang tidak bisa diurai seperti sampah plastik yang membutuhkan seribu tahun lebih untuk bisa diurai. Kedua, persoalan kebijakan. Saat ini belum ada aksi-aksi politik yang mampu mempengaruhi kebijakan penghentian pencemaran lingkungan oleh sampah  manusia di Indonesia. Belum ada juga gerakan besar dari masyarakat terkait perubahan gaya hidup dan cara pandang terkait sampah. Ketiga, perlunya agenda-agenda politik yang bisa disuarakan oleh para kiai kepada para pembuat kebijakan agar lebih sensitif dengan isu pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh sampah plastik. Selain itu, gerakan dakwah para kiai yang sensitif lingkungan kepada masyarakat sebagai upaya membangkitkan kesadaran di level komunitas.

Sementara itu Dr. Noer Fauzi Rachman menyampaikan, pertama  problematika sampah yang mencemari laut dan daratan di level nasional, dan global, dan ancamannya bagi lingkungan, hewan, dan manusia sebagaimana disajikan melalui narasi beberapa video hasil penelitian para peneliti lingkungan di dunia. Kedua, problem utama dari krisis lingkungan yang diakibatkan oleh sampah itu adala rendahnya kesadaran manusia, baik di level individu, masyarakat, dunia usaha, maupun pembuat kebijakan tentang dampak kumulatif dari sampah. Mengingat problemnya cukup luas dan bertingkat-tingkat, maka hal yang bisa dilakukan adalah membangkitkan kesadaran manusia, setidaknya di tingkat individu  agar bisa menyampaikan bahaya kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh sampah. Langkah sederhana itu bila dilakukan secara konsisten, maka akan memberi pengaruh yang besar di lingkungan terdekat.

Dalam Islam, prinsip hifdzu al-biah (memelihara lingkungan) masuk kategori hifdzu al-nafs (memelihara hidup manusia); kedua prinsip ini tidak bisa dilihat secara terpisah, dan menjadi satu kesatuan prinsip HAM dalam Islam.

Para peserta mengapresiasi terselenggaranya kegiatan ini, karena kegiatan ini berhasil membuka mata mereka terkait bencana pencemaran sampah yang terdapat disekitar tempat tinggal para peserta. Kesadaran ini harus diapresiasi, setidaknya akan ada perubahan-perubahan kecil yang bisa diimplementasikan secara langsung, khususnya di level komunitas, di lingkungan tempat tinggal para peserta seperti pesantren dan madrasah [].

Peluncuran Buku Modul “Mendampingi Anak Didik Belajar dengan Gembira dan Berakhlakul Karimah Aktif”

“Saya ucapkan selamat kepada Rumah KitaB dan Oslo Coalition atas terbitnya buku ini. Ini merupakan Buku Pengayaan yang penting bagi para guru TK/RA PAUD untuk megajarkan tentang prinsip pendidikan karakter. Meskipun isinya menyangkut tema yang berat namun penyajiannya sangat mudah dipahami, sehingga saya pun dapat menggunakannya untuk anak-anak di rumah”. Demikian Ibu Eny Retno Yaqut, Penasehat Dharma Wanita Pusat Kementerian Agama dalam sambutan peluncuran buku panduan guru TK/ RA/ PAUD ini.

Jumat 11 Juni 2021, bertempat di Aula Menteri Agama RI Lt 2 Kantor Kemenag Pusat, Rumah Kita Bersama (Rumah KitaB) bekerjasama dengan Kementerian Agama RI melalui dukungan Oslo Coalition, Universitas Oslo Norwegia meluncurkan buku modul pendidikan karakter “Mendampingi Anak Didik Belajar dengan Gembira dan Berakhlakul Karimah Aktif”. Acara ini dihadiri perwakilan guru-guru dari wilayah Cianjur dan Jakarta Utara serta wakil pengurus IMPAUDI Jakarta Utara. Selain Eny Retno Yaqut (Penasehat DWP Kemenag RI), Prof. H. M Ali Ramdhani (Direktur Jendral Pendidikan Islam Kemenag RI), Dr. Lena Larsen (Direktur Oslo Coalition, Universitas Oslo, Norwegia), dan Lies Marcoes, M.A (Direktur Eksekutif Rumah KitaB). Peluncuran buku modul ini diselenggarakan baik daring maupun luring. Kegiatan daring dengan mengikuti protokol kesehatan yang sangat ketat.

Sambil mengapreasiasi para penulis buku ini yaitu Fadilla D.P,  Regha Rugayah, dan Nunung Sulastri, Lies Marcoes pada pembukaannya menyampaikan bahwa buku modul ini merupakan kelanjutan dari usaha-usaha Rumah KitaB melalui riset-riset untuk peningkatan kapasitas guru dalam hal ini guru TK/PAUD/RA di wilayah pilot. Rumah KitaB sebelumnya telah meluncurkan buku Pendidikan Karakter untuk Para Pengasuh Pondok Pesantren disejumlah pondok pesantren. Menurut sambutannya Ibu Lies sangat berharap buku ini diadopsi oleh Dirjen Pendidikan Dasar Islam sebagai buku pegangan para guru utamanya untuk sekolah-sekolah yang belum terjangkau pelatihan bagi guru-gurunya.

Dr. Lena Larsen mewakili Oslo Coalition menyatakan apresiasi yang tinggi atas kerjasama dengan Rumah Kitab yang senanatiasa memuaskan. Ia menambahkan bahwa pendidikan karakter merupakan long term investment yang dapat dilihat 10 atau 20 tahun yang akan datang. Ia juga berharap buku ini dapat dicetak lebih banyak oleh Kementerian mengingat investasi pada pendidikan karakter yang berbasis nilai- nilai ajaran agama sangatlah penting.

Hal senada disampaikan Dirjen Pendidikan Islam Kemenag RI, M. Ali Ramdhani. Ia  menyampaikan bahwa Kemenag ingin menghadirkan para alumni-alumni dari PAUD maupun RA, yang memiliki potret-potret anak yang ramah tidak marah, mereka yang mengajak bukan mengejek, menjauhkan perilaku bully dari kehidupannya. Mereka yang mengajar bukan menghajar, mereka yang membina tidak menghina sehingga setiap kata-kata yang dikeluarkan oleh anak-anak RA adalah mutiara-mutiara. Lebih lanjut ia menegaskan “Saya telah mengecek dengan sangat hati-hati isi buku ini, dan saya melihat perumusan-perumusan yang ditulis di dalam buku ini sudah mengarah ke arah itu dan diajarkan secara menyenangkan, termasuk bagaimana menukil lagu-lagu yang diksinya adalah diksi-diksi yang terpilih”.

Sementara itu, Ibu Eny Retno Yaqut menyampaikan bahwa Pendidikan agama Islam atau PAI di lembaga Pendidikan biasanya masih dilakukan dengan pendekatan yang dogmatis pasif, tema-temanya disajikan secara deduktif, parsial dan belum terintegrasi. Hadirnya buku ini sebagai buku pengayaan guru diharapkan dapat disesuaikan dan dikaitkan dengan tema-tema yang ada pada saat ini sehingga pokok bahasan PAI menjadi lebih aktual, up to date dan relevan untuk pembejalaran para guru daam membimbing anak didiknya di TK/ RK dan PAUD.

Acara peluncuran buku ini ditandai dengan penyerahan buku dari Rumah Kitab kepada Kemenetrian Agama yang disamapikan Ibu Lies Marcoes kepada Ibu Eny Retno Yaqut dan Prof. Ali Ramdhani. (FZ/LM)  []

Reportase Kegiatan: PENGUATAN KAPASITAS TOKOH AGAMA DAN PENCERAMAH UNTUK MEMBANGUN NARASI HAK PEREMPUAN BEKERJA DI PROVINSI DKI JAKARTA

Rumah Kita Bersama atas dukungan Investing in Women telah mengadakan kegiatan pelatihan bagi para tokoh agama di Provinsi DKI Jakarta. Kegiatan pelatihan ini merupakan upaya penguatan kapasitas para tokoh agama dan para penceramah agama untuk membangun dan memperkuat narasi perempuan bekerja dalam pandangan keagamaan inklusif, terbuka, dan memiliki keberpihakan.

Kegiatan ini dilaksanakan secara offline dan online selama tiga hari, yaitu pada tanggal 8-10 Juni 2021. penyelenggaraan kegiatan secara offline di Hotel Morrissey, Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, sementara penyelenggaraan kegiatan online difasilitasi melalui aplikasi ”zoom meeting”. Keterlibatan narasumber dan peserta sebagian besar dilakukan  offline, hanya dua peserta dan tiga nara sumber yang mengunakan fasilitas online. Mereka yang hadir pun mengikuti protokol kesehatan secara ketat.

Sebanyak 20 peserta, terdiri dari 9 perempuan dan 11 lelaki ini,  merupakan tokoh agama yang berasal dari Provinsi DKI Jakarta seperti Jakarta Utara, Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Pusat dan bahkan ulama dari Kepulauan Seribu. Sebagaian besar dari mereka adalah anggota organisasi keagamaan sepertu NU, Muhammadiyah dan Majelis Ulama Indonesia. Terdapat peserta yang merangkap sebagai guru dan dosen agama di Jakarta. Usia mereka berkisar antara 26 tahun hingga usia 55 tahun.

Seluruh fasilitator menghadiri kegiatan secara offline di hotel Morrisey Jakarta, yaitu Lies Marcoes, Fadilla Dwianti Putri, Dwianti Nur Oceani, Nurasiah Jamil, Achmat Hilmi, dan Jamaluddin Mohammad. Sementara tiga narasumber yang hadir langsung adalah Nani Zulminarni (Pendiri Serikat Pekka), kiai Ulil Abshar Abdalla, dan Pandu Padmanegara (Communicaption), dan tiga orang narasumber yang menghadiri kegiatan secara online yaitu Buya Dr. (Hc.) KH. Husein Mohammad (Pengasuh Pesantren Dar Al-Fikr Cirebon), Dr. Abdul Moqsith Ghozali (MUI Pusat), dan Nurhady Sirimorok (peneliti ahli-Makassar).

Training dikelola dengan partisipatif dimulai dari identifikasi pemahaman peserta tentang bekerja, pekerjaan lelaki perempuan dalam persepsi peserta, hambatan kultural dan stuktural yang dihadapi perempuan bekerja. Dari pemahaman peserta fasilitator menyimpulkan tentang tiga jenis pekerjaan perempuan berdasarkan gendernya yaitu kerja-kerja produktif, reproduktif dan kerja sosial. Khusus pada kerja sosial kemasyarakatan peserta dapat mengidentifikasi pekerjaan-pekerjaan yang berat yang dilakukan oleh perempuan terutama dalam merawat komunitas di lingkungan masing-masing. Pandangan dan pengalaman peserta itu kemudian dikonformasi oleh hasil studi Rumah Kitab tentang situasi analisis perempuan bekerja dan fakta -fakta lapangan sebagaimana ditemukan selama puluhan tahun oleh organisasi Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA).

Berangkat dari situasi lapangan itu peserta diajak untuk melihat bagaimana peran gender dikonstruksikan oleh pandangan agama sebagaimana diuraikan dengan sangat menarik oleh kiai Ulil Abshar Abdalla yang memperlihatkan kontradiksi-kontradiksi antara teks ajaran dan realitas. Ia menjelaskan bagaimana keluarga-keluarga pesantren tetap membaca teks yang melarang atau membatasi perempuan keluar rumah, namun pada kenyataan sehari-hari mereka mengizinkan anak perempuan dan keluarganya beraktivitas bahkan sekolah ke luar kota bahkan sampai keluar negeri. Dari sana para peserta kemudian diajak untuk memahami metodologi cara pembacaan teks yang dapat digunakan untuk mendukung perempuan bekerja.

Di antara yang menonjol dari pelatihan ini adalah pendalaman metodologi pandangan keagamaan yang sensitif gender dan HAM yang mampu memperkuat narasi perempuan bekerja. Metodologi ini bernama Maqasid Syariah.

Metode maqasid syariah yang didalami peserta dalam pelatihan ini untuk memampukan mereka merekonstruksi norma-norma gender yang berkembang dalam tradisi keagamaan di masyarakat yang menghambat perempuan bekerja seperti fitrah/kodrat perempuan di rumah. Metode ini mengajak peserta untuk membaca kembali beberapa ayat yang sering digunakan untuk membenarkan larangan perempuan bekerja seperti surah Al-Azhab ayat 33 diposisikan sebagai dalil larangan perempuan keluar rumah; dan surah AN-Nisa ayat 34 yang menjadi dalil kepemimpinan mutlak laki-laki. Metode maqasid syariah membantu peserta dalam memahami Al-Quran tidak lagi secara eklektis dan diskriminatif, melainkan menafsir Al-Quran secara metodologis yang memiliki keberpihakan terhadap perempuan bekerja.

Untuk pendalaman peserta kemudian bekerja kelompok dengan membaca buku Fikih Perempuan Bekerja khusus membahas lima hak-hak dasar manusia yang dibaca dengan perspektif gender.  Kelima tema itu adalah hak mempertahankan hidup (hifzu al-nafs), hak atas nafkah dan hak aksesabilitas terhadap sumber-sumber ekonomi (hifzdu al-mâl), hak mengakses pengetahuan dan pendidikan (hifdzu al-‘aql), hak memelihara Kesehatan reproduksi dan hak memiliki keturunan berkualitas (hifdzu al-nasl), dan hak memiliki pandangan keagamaan yang terbuka, toleran, dan berprinsip pada keadilan (hifdzu al-din). Nara sumber mengajak peserta untuk mencoba menggunakan metode maqashid syariah dengan membedah ayat-ayat yang semula dianggap mensubordinasikan perempuan untuk dibaca sebagai ayat yang memberdayakan. Dengan cara itu peserta dapat melihat cara baca teks secara konsisten dan berdaya.

Dalam rencana tindak lanjutnya (RTL) paska pelatihan, fasilitator meminta mereka membuat rencana kegiatan yang realistis untuk kegiatan mandiri selama tiga dan enam bulan. Sebagian para peserta berencana menyebarluaskan dakwah Islam yang ramah perempuan bekerja di dalam berbagai forum keagamaan baik offline maupun online, terutama dalam majelis-majelis taklim yang mereka asuh. Sebagian lain merencanakan  untuk mendakwahkannya di media sosial, ruang kuliah, ruang guru, dan dalam organisasi-organisasi keagamaan yang mereka terlibat di dalamnya seperti NU, Muhammadiyah, dan Majelis Ulama Indonesia di Provinsi DKI Jakarta.

Dalam evaluasi para peserta umumnya sangat puas dan sebagian menyatakan bahwa training serupa ini baru pertama kali mereka ikuti dan berharap mendapatkan modul teknik memfasilitasi serta tersedia buku materi ajar yang dapat mereka gunakan untuk bahan ajar atau ceramah mereka.

[Achmat HIlmi]

 

Peluncuran Buku Modul Oleh Eny Retno Yaqut

Assalamu’alaikum..
Selamat pagi, teman2..

Sore kemarin simbok emban memenuhi undangan Ibu Lies Marcoes, MA -Direktur Rumah Kita Bersama (Rumah KitaB) dalam launching Buku Mendampingi Anak Didik Belajar dengan Gembira & Berakhlakul Karimah Aktif, bersama Dirjen Pendis Kemenag RI -Bpk. Prof. Dr. Ali Ramdhani & Mrs. Lena Larsen dari University of Oslo Norwey.

Buku yang dimaksudkan sebagai pengayaan bagi para pendidik di tingkat TK/RA/PAUD ini disusun berdasarkan riset mendalam mengingat masih banyaknya tenaga didik yang dirasa perlu bekal lebih untuk mendidik anak-anak kita agar menjadi anak-anak yang berakhlakul karimah dengan jiwa religiusitas yang tinggi yang juga punya semangat cinta tanah air, menghargai & mencintai sesama.

Buku ini membimbing kita bagaimana mengajak anak-anak mengenali & mencintai Tuhan tanpa diiringi dengan menabur kebencian & ketidaksukaan kepada mereka yang berbeda keyakinan; mengajarkan tentang toleransi yang -sayangnya- banyak disepelekan oleh sebagian sekolah di tingkat TK/RA/PAUD.

Bahasanya mudah dimengerti, and since there’s no manual handbook for being parents- buku ini bisa juga dikonsumsi para moms yang punya anak seusia TK/RA/PAUD.

Semoga membawa kebaikan..
Salam sayang dari simbok emban yang akhirnya bisa ketemu langsung dengan Bu Lies Marcoes yang kondhang pinternya itu🥰🥰
Have a nice weekend, teman2..🙏❤️

PUISI: MUNGKIN AYAHKU LUPA

Karya: Roro Alit

Ayahku berkisah
Kakek moyangnya orang pelaut
Mereka mengarungi samudra
Berlayar dari Makassar hingga Madagaskar

Tapi aku teringat Oana
Perempuan pintar, teguh, pemberani dari Lautan Teduh.
Mungkin Ayah lupa cerita tentang Nenek
Nenek moyangku juga pelaut

Ayahku berkisah
Kakek moyangku petani sawah
Mereka mengolah ladang, membuka hutan dan tegalan
Ditangannya
benih berubah menjadi bulir padi

Tapi aku teringat kisah Dewi Sri
Tangannya kasap mengolah sawah sehari-hari
Mungkin Ayah lupa cerita tentang nenek
Nenekku juga seorang petani

Ayahku berkisah
Kakek moyangku seorang pedagang
Mereka berniaga merambah Jalan Sutera
Dibawanya rempah dan harum cendana

Tapi aku ingkat Khadijah
Perempuan kaya dari Semenanjung Arabia
Mungkin Ayah lupa cerita tentang nenek
Nenekku juga seorang pedagang

Ayahku berkisah
Kakek moyangku pekerja keras
Mereka menjadi pamong, guru desa
bahkan presiden

Tapi aku teringat emakku dan para Inak
Mereka bekerja lebih keras
Mencari nafkah dan mengurus Ayah
Mungkin Ayahku lupa
Ibuku seorang pekerja keras

Lalu ayah bertanya,
apa ceritamu Nak?
Di mataku tergambar jelas
Nenekku, ibuku, embokku, dan para inak
Di pelupuk mataku mereka menari-nari
Ada Ibu guru, Ibu bidan, Ibu Lurah, Ibu dokter, dan penyair
Juga Inak yang jadi pelaut, nelayan, petani, pegawai hingga saudagar
Dimanakah Ayah menyimpan kisahnya ?
Padahal bagiku
Merekalah teladanku!

Bogor 170221

Seri 9 Webinar Muslimah Bekerja: Tantangan dan Peluang Perempuan Pengusaha di Indonesia

 

Closing Statement: Rinawati Prihatiningsih (Entrepeneur IWAPI dan Komite Anggota Kadin)

Ketika kita berbicara tentang hak, maka kita juga berbicara tentang kewajiban. Hak dan kewajiban adalah dua sisi yang saling berkaitan. Ketika kita berbicara tentang Muslimah Bekerja, maka kita kembali pada pertanyaan yang hakiki: Apakah hakikat manusia itu sendiri? Tantangan kita adalah, apakah pasrah dengan kodrat. Ternyata, kodrat tidak harus tinggal di rumah, tetapi kodrat yang berkaitan dengan hakiki kita sebagai manusia. Dalam Al-Qur’an, manusia adalah basyar (biologis), khalifah, dan bisa bermanfaat bagi sesama.

Tantangan-tantangan kita adalah persoalan sosial, struktural, keterbatasan akses, dan pandemi. Kita harus mengalahkan diri sendiri. Apakah kita memiliki kemauan dan komitmen. Saya bersyukur Rumah KitaB meluncurkan kampanye Muslimah Bekerja. Ini mengingatkan kita tentang keresahan, perdebatan konstruktif, ketertinggalan, dan pencapaian perempuan, serta seruan untuk aksi bersama untuk kesetaraan gender. Masalah gender juga datang dari laki-laki, karena itu laki-laki juga harus dilibatkan untuk menjawab persoalan ini.

Apa yang disampaikan Allaster tentang pentingnya dukungan lingkungan, baik infrastruktur maupun wacana, maka kita perlu mendukung adanya wacana dan aksi Muslimah Bekerja. Ketika dukungan tersedia perempuan bekerja, maka apa yang disampaikan Bu Sinta tentang memilih peluang memanfaatkan kesempatan bisa tercapai. Sebagaimana disampaikan Bu Menteri, perempuan bekerja bisa memberikan kontribusi bagi bangsa dan negara.

Aksi-aksi saya selalu berangkat dari masalah personal. Saya melihat relasi ibu dan ayah saya di rumah. Ibu saya memiliki akses penuh terhadap keuangan dan memilih bekerja di rumah—karena memiliki anak enam. Dia menerima katering dan jahitan. Ketika perempuan memiliki akses ekonomi, maka perempuan memiliki rasa untuk bisa maju dan setara, serta mampu melihat kodrat hakiki sebagai manusia. Kodrat adalah hak yang diberikan kepada kita sebagai manusia untuk menjalankan hak dan kewajiban, serta bermanfaat bagi sesama.

Peluang-peluang ada di dalam rumah, tempat kerja, komunitas, dan pasar. Ketika kita mengetahui memiliki hak untuk bermanfaat untuk diri sendiri, keluarga, dan masyarakat, maka kita bisa melihat peluang-peluang yang ada. Kita tidak bisa keluar menembus pasar kalau kita tidak didukung di dalam rumah kita. Jadi, perlu ada kerja sama antar setiap anggota keluarga di rumah—karena semua berasal dari rumah.  Dengan adanya e-commerce, kita juga bisa mendapatkan peluang untuk berusaha dari dalam rumah.

Sebelum berusaha, kita harus melihat peta kekuatan dan kelemahan usaha kita: siapa mitra-mitra kita—apakah suami dan keluarga mendukung; apa kegiatan yang akan dilakukan; bagaimana dengan sumber daya; proposisi nilai konsumen; hubungan customer; segmentasi pasar; channel (komunikasi distribusi, dan penjualan); biaya yang muncul; dan pendapatan.

Untuk sukses, kita harus sehat dan memulai; usaha, komitmen; semangat; efektif dan efisien; serta sabar dan syukur. Modal yang paling besar adalah diri kita sendiri. Selain itu, jaringan juga menjadi sangat penting. Kami memiliki program herventure, sebuah aplikasi pembelajaran  mobile untuk pengusaha perempuan.

Sebagai perwakilan delegasi pemerintah Indonesia, mewakili Empower G20, saya mendorong kepemimpinan perempuan di sektor swasta. Kekuatan kita adalah bekerja sama. Usaha yang saya bangun bukan semata-mata untuk mencari keuntungan perusahaan, namun bagaimana kita bisa menyejahterakan masyarakat dan lingkungan untuk keberlanjutan hidup dan kehidupan.

Khadijah binti Khuwailid telah membuat terobosan dan mendobrak konstruksi sosial yang ada. Itu terjadi 1400 tahun yang lalu, dan kenapa saat ini kita masih saja membicarakan perempuan tidak boleh keluar rumah dan tidak boleh bekerja. Khadijah mengikuti tiga hakikat manusia, yaitu makhluk biologis (basyar), makhluk pemikul amanah (insan), dan makhluk sosial (nas). Ketika kita memiliki independensi ekonomi, maka kita memiliki penghargaan atas diri kita dan tidak bergantung pada orang lain sehingga kekerasan terhadap perempuan bisa dieliminasi.

Kesimpulan: Lies Marcoes

Saya mencatat enam kesimpulan dari hasil seminar hari ini. Pertama, masyarakat Muslim Indonesia, sebagaimana warga Indonesia pada umumnya, merupakan masyarakat yang terbuka pada gagasan dan praktik perempuan bekerja. Pemerintah Indonesia terus mengupayakan tersedianya regulasi yang dapat menjamin aksesabilitas dan akseptabilitas perempuan bekerja dalam bidang-bidang yang beragam atas nama pemenuhan hak asasi manusia dan hak asasi perempuan.

Kedua, dalam praktik sehari-hari terdapat upaya yang lebih terbuka bagi perempuan untuk mengembangkan diri, mengembangkan kepemimpinan serta adaptasi terhadap perubahan-perubahan zaman. Terdapat peluang juga tantangan yang salah satunya adalah pandangan keagamaan. Dibutuhkan cara pandang dan metodologi yang mengakomodasi perubahan-perubahan peran perempuan tanpa mengubah hal-hal yang prinsip dalam membangun keluarga, terkait hak dan kewajiban lelaki dan perempuan.

Ketiga, perubahan sosial ekonomi secara global dan cepat memunculkan ekses guncangan, baik menyangkut ajaran maupun praktik relasi gender sehari-hari. Perubahan-perubahan itu memunculkan respons arus balik yang berusaha menarik kembali perempuan ke ruang domestik mereka dengan asumsi sebagai ruang yang paling aman. Namun proses arus balik itu telah memunculkan praktik diskriminasi baik terbuka maupun tersamar yang disebabkan oleh ketidakmampuan dalam merespons dan mengantisipasi perubahan yang dapat menjamin perempuan untuk bekerja di ruang publik secara aman, nyaman, maslahah, dan sesuai dengan status dan peran-peran mereka.

Keempat, karenanya dibutuhkan inovasi dan kreativitas dalam bidang media sosial untuk membuka peluang yang lebih beragam dan inklusif dengan memperlihatkan dukungan infrastruktur dan layanan yang responsif kepada keragaman latar sosial, ekonomi, umur, minat perempuan, khususnya kelompok milenial. Dengan begitu, mereka siap menghadapi perubahan sosial yang berefek besar seperti pada pandemi Covid-19 dan kebutuhan akan teknologi yang menuntut perubahan dan pembaharuan.

Kelima, perempuan sendiri membutuhkan kemampuan untuk membaca tantangan internal dan kemampuan untuk melawan hal-hal negatif berbasis mitos dan stereotip serta norma-norma gender yang membatasi hak-haknya sebagai manusia.

Keenam, dibutuhkan kreativitas dan inovasi dari tokoh-tokoh agama untuk menyediakan metodologi yang terbuka pada perubahan-perubahan sosial ekonomi dan keragaman kiprah perempuan sehingga perubahan-perubahan itu tidak menimbulkan efek negatif, melainkan melahirkan kebaikan dan maslahat, baik bagi kaum perempuan sendiri maupun bagi perkembangan sosial ekonomi Indonesia.

 

Seri 8 Webinar Muslimah Bekerja: Merayakan Keragaman Perempuan Bekerja

Seri 8 Webinar Muslimah Bekerja

 

Mutiara Anissa (Ilmuwan Biomedikal, Inisiator Pandemic Talks):

Pada awal 2020, dunia mengalami pandemi Covid-19. Saya dan dua teman saya menginisiasi Pandemic Talks—sebuah akun Instagram yang mengkompilasi dan menyajikan data-data resmi soal pandemi virus corona, memberikan informasi saintifik dan sosial secara terang dan blak-blakan. Kami merupakan relawan yang mengisi gap informasi terkait pandemi di Indonesia. Kita berharap bisa meringankan beban teman-teman di saat pandemi ini.

Saya adalah satu-satunya perempuan di Pandemic Talks. Pada Desember kemarin, Pandemic Talks berbicara dengan Menteri Budi Gunadi Sadikin dan Wamen Dante. Saya sedang hamil tujuh bulan saat itu. Selain melakukan edukasi saintifik di Pandemic Talks, saya juga seorang saintis biomedikal. Saintis adalah peneliti biologi molekuler. Mayoritas teman-teman saya di biomedikal adalah perempuan, terlebih atasan saya juga seorang perempuan. Menurut saya, penting juga representasi perempuan di dunia sains sehingga banyak perempuan lainnya yang ingin bergabung dan belajar. Tidak ada lagi stigma sains itu maskulin dan susah.

Selain peneliti, saya juga seorang dosen di Indonesia International Institute for Life Science. Kenapa saya menjadi saintis yang dianggap susah dan ribet? Ketika SMA, saya ingin berkarir di bidang yang sangat berguna bagi masyarakat. Karena suka biologi, saya merasa sains biomedikal unik sekali, jarang dipelajari, dan jarang dipahami. Kesempatan memilih bidang biomedikal ini tidak akan terjadi, tanpa support system saya. Setelah lulus SMA, orang tua percaya dan mendukung pilihan saya ini meski mereka bekerja di bidang sosial—papa kerja di bank, mama konsultan independen dan spesialis gender.

Berada di dunia sains bukanlah sesuatu yang mudah. Selain didukung keluarga, saya juga didukung suami dan keluarganya ketika sudah menikah. Saya bersyukur, kami di rumah bisa bekerja sebagai sebuah tim. Saya dan suami adalah generasi milenial dan sangat mengenal teknologi. Dengan itu, kami menjadi lebih terbuka dengan isu kesetaraan. Saya dan suami sadar dengan isu tersebut. Dengan itu, kami bisa berbagi tanggung jawab dan saya bisa terus berkarir dan berkarya. Setelah menikah, saya mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi S2 di Inggris. Saat itu, suami saya menemani saya tinggal di London.

Memang, dunia sains, teknologi, engineering, dan matematika didominasi laki-laki. Namun kantor saya tidak demikian, karena 50 persen lebih adalah perempuan dan atasannya juga perempuan. Tidak semua lab memiliki hal itu. Perempuan membutuhkan usaha dan kerja keras di atas laki-laki untuk mencapai posisi decision making. Tantangan perempuan di dunia sains—pengalaman pribadi dan orang lain- adalah, memiliki work-life balance ketika perempuan saintis menjadi ibu.

Banyak perempuan memang tidak sadar dengan potensinya. Hal penting yang harus dimiliki perempuan adalah kepercayaan diri yang tinggi. Kita juga harus memiliki dedikasi dan kerja keras. Lebih dari itu, lingkungan kerja  dan rumah yang mendukung juga sangat penting. Kita harus terus berjuang untuk mendapatkan hak-hak tersebut. Di antara solusinya—dari tempat kerja- adalah jam kerja yang fleksibel, kebijakan manajemen yang ramah perempuan, penilaian yang adil, dan bimbingan (mentorship).

Saya sadar, tidak banyak orang yang seberuntung saya. Bagaimana orang lain melihat bahwa perempuan bisa bekerja, berkarya, dan memberikan hal baik bagi masyarakat. Saya ingin menekankan bahwa representasi perempuan itu penting sekali. Representasi pemimpin perempuan di pandemi sangat penting. Di Hari Internasional Perempuan, Pandemic Talks mengunggah tema women leaders dan pandemi. Soal komunikasi publik saat pandemi, pemimpin perempuan jauh lebih baik.

Menurut penelitian profesor ekonomi Inggris 2020, negara yang memiliki pemimpin perempuan lebih sukses menangani pandemi—tingkat kematian dan utangnya lebih rendah- dari pada negara dengan pemimpin laki-laki. Ini berdasarkan tindakan proaktif yang diambil pemimpin perempuan, bukan karena keberuntungan atau kebetulan. Misalnya, Presiden Taiwan Tsai Ing-Wen. Dia sangat baik memimpin negaranya melewati pandemi karena dia belajar dari epidemi SARS—pada 2006 lalu. Taiwan merupakan salah satu negara yang menutup perbatasannya setelah China pada saat awal pandemi. Dia juga melakukan screening dengan cepat dan menaikkan produksi masker. Karena kebijakan-kebijakannya itu, total kasus positif Covid-19 di Taiwan hingga hari ini hanya seribu kasus.

Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, juga banyak dikagumi banyak orang ketika pandemi. Pada awal pandemi, dia melakukan lockdown ketat dan melarang warga asing masuk ke negaranya di saat baru ada enam kasus. Dengan kebijakan lockdown, dia bisa menekan kasus Covid-19 dan kehidupan di sana sudah berlangsung normal. Pada awal pandemi, Ardern berkomunikasi dengan rakyatnya dengan Facebook Live setiap harinya dan menjawab pertanyaan dari warganya. Hal ini membuat tingkat kepercayaan rakyat kepada pemimpinnya meningkat.

Perdana Menteri Norwegia, Erna Solberg, juga menggunakan strategi komunikasi yang unik. Dia melakukan jumpa pers dengan mengundang anak-anak. Dia menjawab pertanyaan dari anak-anak dan menjelaskannya dengan sangat simpel dan jelas. Kemudian Kanselir Jerman, Angela Merkel, sejak awal menyampaikan bahwa virus corona adalah virus yang berbahaya. Karena itu, ini harus dihadapi dengan serius. Jerman tidak memiliki fase denial seperti banyak negara lainnya. Uniknya, Merkel bisa menjelaskan konsep-konsep saintifik yang sangat rumit dengan jelas dan sederhana. Sebelum menjadi Kanselir, Merkel adalah seorang saintis. Ini menunjukkan bahwa perempuan bisa terus berkarir sesuai dengan kemauannya. Tidak berhenti di satu karir misalnya.

Saya tidak ingin menyampaikan bahwa, semua pemimpin perempuan adalah pemimpin yang baik di saat krisis dan laki-laki adalah pemimpin yang buruk. Namun, penelitian itu menunjukkan bahwa perempuan memiliki kesamaan ciri khas yang sangat baik.

Beberapa soft skill yang dimiliki perempuan adalah cara komunikasi yang empati dan peduli, mendengarkan banyak orang, berkolaborasi dengan cara yang unik, dan keterlibatan yang tinggi dengan orang lain. Dulu, ini dianggap sebagai sebuah kelemahan bagi perempuan pemimpin. Namun pandemi menunjukkan bahwa soft skill itu menjadi sangat penting yang harus dimiliki seorang pemimpin untuk menghadapi krisis.

Sebagai perempuan, kita harus berani menjadi diri sendiri, serta mengikuti naluri dan insting. Jangan menutupi sifat-sifat yang dirasa terlalu feminin atau menjadi sosok pemimpin. Perempuan telah membuktikan berkali-kali bahwa perempuan bisa unggul jika diberikan kesempatan, sebagaimana para pemimpin perempuan tersebut. Kita membutuhkan lebih banyak pemimpin perempuan dan pekerja perempuan. Meski contohnya peran perempuan di masa pandemi, namun konteksnya bisa dilihat dalam hal-hal lebih kecil. Kita juga menghadapi krisis setiap harinya, dalam pekerjaan, keluarga, dan lingkungan.

 

Seri 7 Webinar Muslimah Bekerja: Peluang Kampanye “Muslimah Bekerja”

Diar Zukhrufah DA (Penulis di Commcap): Peluang Kampanye ‘Muslimah Bekerja’

Terkait peluang kampanye ‘Muslimah Bekerja’, kita bisa melihat seberapa besar penggunaan media sosial oleh perempuan. Saya akan membicarakan tentang Facebook dan Instagram karena kedua platform ini yang paling banyak digunakan masyarakat Indonesia. Pertama, Facebook. Pengguna Facebook di Indonesia adalah 173 juta (45,1 persennya perempuan). Meski jumlahnya lebih sedikit dari laki-laki, namun Facebook menyoroti perempuan sebagai segmen utamanya. Ada empat segmen yang disoroti Facebook, yaitu profesional muda, pengantin baru, ibu muda, dan ibu berpengalaman.

Menurut saya, kita bisa memanfaatkan segmen profesional muda untuk menyebarkan narasi atau kampanye Muslimah Bekerja. Terlebih, 34 persennya mereka membagikan informasi terkait karier dan kesempatan kerja. Artinya, Muslimah Bekerja sudah ‘memegang’ 34 persen profesional muda di Facebook untuk mempromosikan perempuan bekerja. Rata-rata pengantin baru mencari informasi terkait pernikahan atau rumah tangga. Muslimah Bekerja juga memiliki peluang untuk masuk ke segmen ini—apakah perempuan yang sudah menikah boleh bekerja atau tidak. Itu bisa menjadi bagian dari segmentasi Muslimah Bekerja untuk mempromosikan hak-hak perempuan dalam bekerja.

Ibu muda dan ibu berpengalaman juga bisa menjadi peluang Muslimah Bekerja. Masih banyak perempuan Indonesia yang menempatkan dirinya untuk bekerja di rumah dan itu dianggap sebagai sebuah kewajiban. Muslimah Bekerja bisa menawarkan hak-hak perempuan dalam bekerja di segmen ini. Perempuan bisa mengurus rumah tangga dan sekaligus juga bisa bekerja. Dan itu adalah pilihan, bukan keterpaksaan. Muslimah Bekerja mempromosikan bagaimana perempuan memilih untuk bekerja, bekerja di rumah, atau lainnya.

Kedua, Instagram. Pengguna Instagram adalah 82 juta dan mayoritas penggunanya adalah perempuan (52,6 persen). Terlebih, 63 persen perempuan cenderung aktif di Instagram. Penggunaan media sosial yang aktif ini bisa menjadi pintu masuk Muslimah Bekerja untuk menyuarakan hak-hak perempuan dalam bekerja.

Berdasarkan survei Commcap dan Rumah KitaB, 76 persen aktif mengikuti media sosial keagamaan, 84 persen aktif mencari informasi terkait perempuan di Instagram, 78 persen mendapatkan dua informasi tersebut dari Instagram.

Profil perempuan di ruang publik. Media sosial adalah bagian dari ruang publik. Pertama, Indonesia menduduki rangking kedua sebagai negara paling berbahaya bagi perempuan di Asia Pasifik, setelah India. Kaum patriarki menjadikan ini sebagai alasan untuk mengatakan bahwa perempuan tidak boleh bekerja. Situasi dan kondisi di ruang publik tidak aman bagi perempuan untuk bekerja atau keluar rumah. Yang salah tidak perempuan, namun perempuan selalu disalahkan. Ini menjadi tantangan yang harus dijawab. Untuk menjawab itu, Muslimah Bekerja bisa menyuarakan bahwa ada hal-hal yang harus diselesaikan secara sosial-kultural, dan bahkan berhubungan dengan kebijakan. Ketika negara sudah berpihak pada perempuan, maka perempuan tidak akan merasa tidak aman lagi berada di ruang publik.

Kedua, 53,13 persen tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) perempuan di Indonesia. Jumlah ini lebih rendah dari TPAK laki-laki. Kalau TPAK perempuan naik, maka itu bisa meningkatkan PDB nasional. Partisipasi perempuan tidak hanya berimbas pada aktualisasi perempuan, tetapi juga pada negara. Ketiga, 10,6 persen partisipasi aktif perempuan dalam dunia politik (pilkada). Jumlah ini masih sangat rendah. Keempat, 299.911 kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia sepanjang 2000 ke atas. Patriarki dianggap sebagai salah satu penyebab perempuan merasa tidak aman berada di ruang publik.

Ada beberapa cuplikan pembicaraan di media sosial terkait perempuan, karir, dan rumah tangga. Rata-rata mengatakan, perempuan bekerja tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan finansial tetapi lebih pada aktualisasi diri. Artinya, sudah cukup banyak perempuan yang sadar akan kemampuannya bahwa dia bisa atau harus bekerja. Kata Nawal El-Sadawi, perempuan bekerja bersama tidak hanya menguntungkan perempuan saja, tetapi juga menguntungkan laki-laki-laki. Ini bisa mengubah konsep suatu negara atau peradaban.

Profil Muslimah Bekerja di Indonesia. 93 persen masyarakat Indonesia masih percaya pada agama dan melihat agama sebagai aspek penting dalam kehidupan. Di satu sisi, ini menjadi salah satu tantangan Muslimah Bekerja untuk menyampaikan narasi agama. Namun di sisi lain harus bisa mengakomodasi kebutuhan perempuan untuk bekerja. Kita tidak menggunakan agama sebagai ‘tunggangan’, tetapi menyelaraskannya sebagai media yang informatif yang memberikan pandangan bagi perempuan—bahkan menurut agama perempuan boleh bekerja. Perempuan membutuhkan penguatan itu. Banyak perempuan Indonesia sadar dengan kemampuannya dan hak untuk bekerja, namun mereka memiliki rasa takut ketika berkelindan dengan tafsir-tafsir agama yang menyebutkan perempuan tidak boleh bekerja.

Tingkat pencarian Muslimah Bekerja atau perempuan bekerja di Google cukup tinggi (14,3 juta). Budaya patriarki dan konservatisme agama menghalangi perempuan untuk memenuhi hak mereka, termasuk dalam bekerja.

Ada tiga kampanye gerakan perempuan di dunia yang booming dalam beberapa tahun terakhir. Pertama, #ChallengeAccepted dan #WomenSupportingWomen. Dia mampu menjangkau 4 juta posting di Instagram. Saya melihat, kekuatan #WomenSupportingWomen adalah solidaritas persaudaraan antar sesama perempuan. Perempuan akan bergerak bersama jika mendengar perempuan lainnya mengalami kekerasan. Mereka tidak saling mengenal, tetapi bisa bergerak bersama. Ketika Muslimah Bekerja mampu menyuarakan isu Muslimah atau perempuan yang ingin bekerja dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat, maka kita akan bisa menjangkau lebih banyak masyarakat—tidak hanya Muslimah saja tetapi seluruh perempuan. Kalau unggahan Muslimah Bekerja mewakili perempuan non-Muslim, maka mereka juga bisa menerima dan membagikannya.

Kedua, #HeForShe. Ada 1,2 miliar orang yang terlibat dalam kampanye ini. Yang menarik dari kampanye ini adalah, keterlibatan laki-laki dalam kampanye gerakan perempuan (kesetaraan gender bagi perempuan). Mereka memperlihatkan, tidak ada salahnya laki-laki menjadi feminis dan memperjuangkan hak-hak perempuan. Saat Muslimah Bekerja mempromosikan hak bekerja bagi perempuan, maka kita tidak hanya mengajak kaum perempuan tetapi juga bapaknya, kakak, adik, atau pemimpin perusahaan tertentu.

Ketiga, #AutoCompleteTruth dan WomenShould. Ada 755 juta tampilan di majalah dan situs populer. Yang menarik dari gerakan ini adalah, dia melihat perempuan dari hal-hal terkecil perempuan. Misalnya, seberapa patriarki—kalimat atau artikelnya- kalau kita melakukan pencarian di Google. Kita bis mengadopsi ini. Di Indonesia, patriarki masih ada dalam KBBI. Kalau kita mengetik kata ‘perempuan’ di KBBI, maka contoh-contohnya adalah perempuan binal, perempuan nakal, dan lainnya.

Peluang kampanye Muslimah bekerja. Pertama, tingginya tingkat penggunaan media sosial dan pencarian terkait perempuan bekerja. Ini bisa menjadi potensi yang besar bagi Muslimah Bekerja untuk menjadi ruang yang secara ekspresif dan informatif memberikan kesadaran terhadap kaum perempuan dan laki-laki, bahwa perempuan dan laki-laki memiliki hak yang sama untuk mengakses pekerjaan.

Kedua, tren gerakan perempuan dan feminisme di media sosial cukup tinggi saat ini. Kekuatan solidaritas perempuan ini bisa saling mendukung. Namun demikian, ketika ada beberapa akun feminisme yang terkesan eksklusif maka itu menjadi tantangan bagi Muslimah Bekerja. Kita harus bisa mengantisipasi akun-akun yang anti terlebih dahulu ketika mendengar feminisme, padahal mereka belum mengetahui nilai-nilai feminisme. Kita harus mengangkat nilai-nilai feminisme dengan cara yang moderat yang bisa diterima masyarakat.

Ketiga, kampanye tentang perempuan bekerja sudah cukup banyak namun belum ada yang menggunakan pendekatan intertekstual Islam modern. Ini menjadi peluang yang besar bagi Muslimah Bekerja untuk menjelaskan bagaimana Islam menilai perempuan bekerja dan kemudian mengorelasikannya dengan kehidupan sehari-hari.

Keempat, kampanye Muslimah Bekerja sejalan dengan pembangunan berkelanjutan. Ketika perekonomiannya inklusif, maka itu akan meningkatkan produk domestik bruto (PDB). Saat ini, kesenjangan gender merugikan sebesar 15 persen PDB. Kita bisa meningkatkan PDB kalau kita bisa menghapuskan kesenjangan itu. Muslimah Bekerja tidak hanya berkontribusi pada pergerakan perempuan, tetapi juga perekonomian negara.

Perempuan bekerja di Commcap. 50 persen pegawai Commcap adalah perempuan. Itu merupakan komitmen Commcap dalam mendukung kesetaraan gender. Commcap mendukung cuti haid dan melahirkan bagi pegawai perempuan, dan juga mendukung hak cuti ayah—selama 30 hari. Commcap mendukung work-life balance sehingga seluruh pegawai dapat tetap dapat melakukan aktivitas bapak-ibu-anak rumah tangga atau aktivitas lain sambil bekerja. Penggunaan teknologi dalam bekerja turut membantu pegawai Commcap untuk bekerja jarak jauh secara optimal. Ini bisa menjadi kontribusi bagi Muslimah Bekerja, di mana teknologi bisa diangkat sebagai isu yang bisa membantu perempuan bekerja.