Menyelamatkan Demokrasi

Oleh: K.H. Jamaluddin Mohammad, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Kamaliyah Babakan, Ciwaringin, Cirebon

 

APAKAH demokrasi kita sedang baik-baik saja? Jawaban dari pertanyaan ini ada pada film dokumenter Dirty Vote. Film yang disutradarai Dhandy Laksono ini mengejutkan kita karena menghadirkan beragam rentetan fakta dan data kecurangan Pemilu. Rentetan fakta tersebut sebetulnya sudah banyak bersliweran di pelbagai media dan sudah menjadi rahasia umum.

Kotak pandora kecurangan Pemilu pecah pertama kali di Mahkamah Konstitusi (MK). Lembaga ”pengawal konstitusi” itu meloloskan salah satu pasal ”kontroversial” demi memuluskan anak presiden mengikuti kontestasi pilpres. Rupanya, di penghujung usia kekuasaannya, Jokowi masih mau menikmati kekuasaanya lebih lama lagi. Melalui orang-orang dekatnya ia pernah mewacanakan ”tiga periode”. Namun tak disambut baik oleh publik. Karena itu ia harus merancang dan mempersiapkan banyak hal untuk memperpanjang kekuasaannya. Harapannya, stelah lengser nanti, ia masih bisa mengendalikan kekuasaan dari balik bayangannya. Segala sumber daya kekuasaan dikerahkan untuk memenangkan anaknya itu. Segala cara ia lakukan meskipun harus menabrak aturan. Ia telah dibutakan oleh kekuasaan.

Semakin hari manuver politiknya semakin vulgar (bagi-bagi bansos, makan bersama calon yang didukungnya, mengadakan pertemuan dengan anaknya [Kaesang/Gibran], dll). Ia sudah lupa bahwa ia pernah berjanji akan bersikap netral. Ia tak malu menjilat ludah sendiri. Orang tak perlu berpikir lagi untuk menyebut bapak tiga orang anak ini betul-betul sedang kesetanan kekuasaan dan sedang mempertaruhkan demokrasi di negeri ini.

Yang pasti publik semakin dibuat tidak nyaman dengan manuver politik Jokowi yang semakin vulgar itu (kampanye untuk anaknya), Banyak orang mulai menyadari bahwa demokrasi kita tidak sedang baik-baik saja. Riak-riak protes mulai bermunculan di sana sini. Para guru besar perguruan tinggi berpengaruh di Indonesia mulai beramai-ramai membunyikan alarm darurat demokrasi di negeri ini. Mereka sedang mengingatkan kita bahwa demokrasi sedang dibajak oleh oligarki kekuasaan untuk memenuhi ambisi sekelompok orang yang sedang kesetanan kekuasaan.

Di sinilah signifikansi dari film ini. Film yang dibintangi oleh tiga ahli hukum ini (Zainal Arifin Mochtar, Bivitri Susanti, dan Feri Amsari) menguraikan detail-detail persoalan besar yang menggerogoti demokrasi kita. Ia menggambarkan pada kita bahwa demokrasi kita tidak sedang baik-baik saja. Tangan-tangan kekuasaan sedang berusaha merusaknya. Ia membeberkan kebenaran yang terkadang tak bisa ditangkap orang biasa. Fakta-fakta dalam film ini harus dibunyikan agar didengar orang.

Problemnya, di era post-truth politics seperti sekarang ini, sebagian orang tak butuh lagi kebenaran. Daya tarik emosi dan keyakinannya lebih dikedepankan dibanding untuk melihat dan mendapat kebenaran. Fakta-fakta objektif tak lagi berpengaruh dalam membentuk opini publik. Kebenaran telah sirna dan tak lagi relevan (Budi Hardiman, 2021). Para pendukung capres/cawapres sudah terkotak-kotak dalam keranjang. Mereka terpenjara di dalam gua sebagaimana diceritakan dalam mitos gua Plato.

Sasaran film ini bukan untuk orang-orang yang tak lagi mampu melihat kebenaran, sebagaimana diceritakan Q.S. al-Baqarah:18, melainkan untuk mereka yang masih berpikir jernih dan mau membuka mata hatinya untuk menerima cahaya kebenaran.[JM]

_______________

Pendapat yang diungkapkan dalam tulisan ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan sikap Rumah KitaB secara kelembagaan.

Serial Kajian “Islam Ramah Perempuan” – Perempuan Berdaulat atas Tubuh dan Dirinya Sendiri

SEJAK kecil mungkin banyak pertanyaan yang bergulir di benak perempuan saat ia menyaksikan cara keluarganya memperlakukan tubuhnya dibandingkan dengan tubuh laki-laki yang sebaya dengannya di dalam keluarganya. Perasaan panik dan takut muncul di hati para anggota keluarganya begitu ia menginjak usia dewasa (baligh) seiring dengan tampaknya tanda-tanda keperempuanan di tubuhnya. Ia mulai dilarang bermain di jalan bersama teman-temannya, dan ia mulai dituntun untuk mengubah caranya dalam bergaul, berpakaian, berbicara, berjalan, dan duduk di tengah-tengah orang banyak.

Tetapi lihatlah, perlakukan keluarganya terhadap laki-laki di keluarganya sama sekali tidak berubah. Laki-laki di dalam keluarganya terus tumbuh dan berkembang seperti dirinya dengan kebebasan yang semakin bertambah dan luas. Sementara ruang kebebasan untuk perempuan di dalam keluarganya semakin diperkecil dan dipersempit.

Ia mungkin tidak akan meminta penjelasan mengenai hal itu kepada siapapun, sebab penjelasan itu sudah tersedia di dalam dirinya seperti nafas yang ia hembuskan setiap saat. Ia tumbuh menjadi perempuan dewasa dengan membawa tubuh yang dilingkupi berbagai larangan, bahkan dilarang untuk para anggota keluarganya. Ia tidak mungkin duduk dengan santai, kedua betisnya harus dirapatkan satu sama lain, bahkan saat ia tidur.

Ia tidak boleh terlalu lama berdiri di balkon atau teras rumah, tidak boleh lebih dari waktu menjemur cucian, atau menyiram tanaman di taman, atau membersihkan dirinya sendiri di kamar mandi. Keluar rumah harus dengan pengawasan, sehingga ia tidak mungkin keluar rumah setiap hari untuk bertemu dan bermain bersama teman-temannya. Ia harus segera kembali ke rumahnya, tidak boleh lebih dari pukul delapan malam. Segala sesuatu untuknya diawasi dan diatur sedemikian ketat: menit, detik, senti meter, dan bahkan mili meter.

Kenapa begitu banyak pagar yang membatasi tubuh perempuan? Kenapa keluarga begitu takut dan peduli terhadap tubuh perempuan dibandingkan kepada diri perempuan itu sendiri? Apakah tubuh perempuan itu milik dirinya sendiri atau milik ayahnya, ibunya, dan seluruh anggota keluarganya?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu bisa saja muncul di benak perempuan. Ia takut melihat tubuhnya sendiri bahkan saat ia mandi. Ia begitu takut kehilangan sesuatu yang ada di antara kedua pangkal pahanya yang disebut “selaput darah keperawanan”. Ibu dan ayahnya sangat takut ia kehilangan sesuatu itu dibandingkan jika ia kehilangan kedua matanya, akalnya, atau bahkan nyawanya sendiri.

Siapakah pemilik tubuh perempuan? Apakah tubuh perempuan itu milik dirinya sendiri atau milik keluarganya? Apakah milik negara? Kenapa para pemuka agama tidak berbicara selain soal tubuh perempuan dan menganggapnya sebagai kehormatan dan kemuliaan  (syaraf)? Kenapa hanya tubuh perempuan yang dibelenggu dengan banyak pagar?

Kenapa semua orang kemudian mengabaikannya setelah perempuan menikah kecuali suaminya yang menganggap dirinya sebagai pengampu atau pelaksana wasiat yang telah mendapatkan ‘surat wasiat’ dalam selembar kertas yang ditulis seorang tokoh agama untuk memiliki tubuh istrinya?

Kalau kita mendaku sebagai umat Muslim, mengikuti firman Allah di dalam al-Qur`an, dan mendaku bahwa adat dan tradisi kita diambil dari Islam, sesungguhnya Allah tidak membeda-bedakan di dalam syariat-Nya antara tubuh perempuan dan tubuh laki-laki, sebagaimana juga tidak memberikan wasiat kepada siapapun untuk memiliki tubuh orang lain, dan sebagaimana kita melihat tubuh perempuan sama dengan tubuh laki-laki yang mengalami fase-fase pertumbuhan secara alamiah: bayi, anak kecil, pemuda/i, kemudian tua.

 

Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan [kamu] sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan [kamu] sesudah kuat itu lemah [kembali] dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah yang Maha mengetahui lagi Mahakuasa,” [Q.S. al-Rum: 54].

 

Bahkan dari al-Qur`an kita mengetahui bahwa derajat tubuh perempuan setingkat lebih tinggi dibandingkan tubuh laki-laki, karena ia adalah ‘tangan’ Allah di muka bumi yang bertugas menyempurnakan ciptaan-Nya. Makanya Allah memerintahkan manusia untuk berbakti kepada kedua orang tua, dan ibu menjadi fokus utama dalam keberbaktian itu.

 

Dan Kami perintahkan kepada manusia [berbuat baik] kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun,” [Q.S. Luqman: 14].

 

Dan kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah [pula]. Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan,” [Q.S. al-Ahqaf: 15].

 

Bolehkah kita berpikir lebih jauh dan mengatakan bahwa tradisi yang mengharuskan laki-laki menguasai tubuh perempuan lebih dikarenakan rasa iri laki-laki yang begitu mendalam terhadap perempuan, karena derajat tubuh perempuan setingkat lebih tinggi daripada tubuh laki-laki dan Allah menjadikannya sebagai sarana ketuhanan untuk mewujudkan keberlanjutan kehidupan manusia?

Masyarakat kita yang sangat patriarkis, yang terpenjara di dalam hukum-hukum patriarkal, mengklaim perlindungan terhadap tubuh perempuan sehingga meniadakan kemungkinan perempuan untuk diperkosa oleh laki-laki haus seks yang terus-menerus berusaha memburunya seperti hewan buruan yang lemah! Karenanya tubuh perempuan harus selalu dijaga, dilindungi, dan diatur dengan sangat ketat.

Tetapi Allah Swt. di dalam kitab-Nya justru menegaskan bahwa tidak ada wasiat dan penugasan bagi manusia manapun untuk menguasai manusia lainnya di hadapan-Nya, dan bahwa setiap manusia—baik perempuan maupun laki-laki—bertanggungjawab atas dirinya sendiri di hari perhitungan kelak di akhirat, sebagaimana tergambar di dalam ayat-ayat berikut:

 

Dan Allah membuat istri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata, ‘Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu di dalam surga Firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim,” [Q.S. al-Tahrim: 11].

 

Allah membuat istri Nuh dan istri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada suaminya [masing-masing]. Maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari [siksa] Allah; dan dikatakan [kepada keduanya], ‘Masuklah ke dalam Jahannam bersama orang-orang yang masuk [jahannam],” [Q.S. al-Tahrim: 10].

 

Di dalam ayat-ayat tersebut Allah menjadikan perempuan—baik yang kafir maupun yang beriman—sebagai perumpamaan, bahwa mereka akan dihisab di hari perhitungan atas dasar perbuatan mereka sendiri, bukan atas dasar perbuatan suami-suami mereka. Ini menunjukkan bahwa perempuan adalah makhluk berakal dan punya kemampuan yang bisa mengurus dan mengatur urusan-urusannya sendiri. Allah memberikan kebebasan kepadanya untuk memilih menjadi kafir atau beriman, di mana masing-masing akan mendapatkan balasannya kelak di akhirat.

Dalam konteks ‘mendekati zina’, misalnya, kita lihat dalam melarangnya Allah tidak membedakan antara perempuan dan laki-laki. Allah memerintahkan larangan ‘mendekati zina’ kepada manusia secara umum.

 

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk,” [Q.S. al-Isra`: 32].

 

Ketika Allah menetapkan hukuman (hadd) bagi zina, kita lihat hukumannya hanya satu yang dijatuhkan secara adil kepada laki-laki dan perempuan, tidak membeda-bedakan, dan tidak melipatgandakannya bagi suatu jenis di atas jenis yang lain.

 

Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk [menjalankan] agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah [pelaksanaan] hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman,” [Q.S. al-Nur: 2].

 

Tampak di dalam ayat tersebut Allah memperlakukan manusia yang berzina secara seimbang dan setara antara jenis laki-laki dan perempuan. Sebagaimana ketika memerintahkan untuk menjaga kemaluan (farj), Allah menjanjikan surga bagi orang yang menjaganya, baik laki-laki maupun perempuan. Karena kemaluan tidak hanya identik dengan perempuan, tetapi laki-laki dan perempuan. Menjaganya bukan hanya kewajiban perempuan, tetapi kewajiban laki-laki dan perempuan. Allah juga tidak menugaskan laki-laki untuk menjaga kemaluan perempuan.

 

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat,” [Q.S. al-Nur: 30].

 

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut [nama] Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar,” [Q.S. al-Ahzab: 35].

 

Dari sekian banyak ayat al-Qur`an yang menjadi pedoman bagi umat manusia di muka bumi, kita memahami bahwa perempuan bertanggungjawab sepenuhnya terhadap seluruh tindakan yang dilakukannya, termasuk tindakan-tindakan spesifik yang terkait dengan tubuhnya. Sehingga tidak akan ada seorang ayah yang akan dihisab karena putrinya berzina, selama ia mendidik atau menjalankan perannya sebagai ayah terhadap putrinya itu.

Tidak akan ada saudara laki-laki atau siapapun laki-laki di dalam keluarga yang dihisab atas dasar dosa yang dilakukan perempuan di dalam keluarga tersebut: perempuan akan berdiri di hadapan Tuhannya di hari perhitungan dengan dirinya sendiri membawa dosa-dosa yang dilakukannya, dan ia punya hak untuk diampuni maupun disanksi oleh Tuhannya.

Jadi, dari mana datangnya pandangan-pandangan yang terkristalisasi di dalam bingkai konsep ‘kehormatan keluarga’ yang seluruhnya mengurung tubuh perempuan? Kenapa bukan laki-laki saja yang menjadi ‘kehormatan’ bagi keluarga? Apakah karena laki-laki tidak mempunyai ‘selaput darah keperawanan’ maka ia boleh melakukan tindakan apapun terhadap tubuhnya semaunya sendiri?

Sebaliknya, apakah karena perempuan mempunyai ‘selaput darah keperawanan’ lalu menjadikannya terbelenggu dengan ikatan-ikatan kehormatan? Lantas bagaimana dengan 30% perempuan yang lahir tanpa ‘selaput darah keperawanan’? Bagaimana dengan hilangnya ‘selaput darah keperawanan’ akibat hubungan-hubungan rahasia atau akibat kecelakaan yang tak ada kaitannya dengan hubungan seksual?

Dan bagaimana pula dengan perempuan yang sesudah menikah lalu kehilangan ‘selaput darah keperawanannya’, apakah ini menunjukkan bahwa ia bebas melakukan aktivitas seksual tanpa ikatan pasca ia menikah?

Jadi, apakah sesungguhnya yang disebut kehormatan?!!

Di dalam al-Qur`an, di bagian manapun, tidak ada kata “menjaga kehormatan dengan mengatur tubuh perempuan”. Lalu, dari manakah datangnya wasiat yang mengharuskan laki-laki berkuasa mengatur tubuh perempuan? Atas dasar hak apakah mereka boleh mengatur tubuh perempuan dengan dalih menjaga kehormatannya yang merupakan kehormatan keluarga? Apakah seluruh problem kehormatan di masyarakat bisa diselesaikan dengan mengatur tubuh perempuan?

Masyarakat patriarkis tidak benar-benar terdorong menjaga kehormatan profesi, atau kehormatan negara, atau kehormatan tanah airnya dibandingkan dengan keterdorongan mereka untuk menjaga kehormatan mereka sendiri dengan mengatur dan membatasi tubuh perempuan.

Islam merupakan agama yang memulai ajarannya dengan membebaskan perempuan dan hamba sahaya, serta mewujudkan kesetaraan paripurna di antara manusia. Tetapi karena kepentingan sekelompok orang yang tidak mau kehilangan kekuasaannya sehingga mereka kemudian menggunakan dalil-dalil agama untuk melindungi kepentingan mereka sendiri yang menuntut adanya penghambaan (perbudakan) dari perempuan agar menjaga urusan-urusan di dalam rumah tangga tanpa imbalan apapun.

Dalam hal ini mereka lalu membagi perempuan menjadi dua kelompok: pertama, kelompok istri/ibu yang terpenjara di dalam rumah untuk mendidik anak dan melayani suami. Kedua, kelompok pelacur yang menjadi pemuas nafsu seks kaum laki-laki secara bebas.

Kita lihat bahwa keberpegangan masyarakat patriarkis terhadap aturan-aturan patriarkal tidak akan membuat mereka terhormat, karena semua itu tidak bisa membantu kepentingan mereka di mata masyarakat dunia. Sementara memperlakukan perempuan sebagai makhluk yang setara justru akan membantu mereka menuju masa depan yang bebas dan terhormat, serta membersihkan mereka dari keyakinan-keyakinan sesat berupa penjajahan dan kebodohan yang mengungkung mereka selama berabad-abad.

Sudikah masyarakat kita saat ini bergerak mencapai kehormatan mereka yang hakiki dengan memberikan kebebasan kepada perempuan untuk menentukan sikapnya atas tubuhnya, dengan keyakinan bahwa ada Tuhan yang akan menghisab setiap amal perbuatan kita kelak di hari akhir?[]

Serial Kajian

Serial Kajian “Islam Ramah Perempuan” – Perempuan dan Kepemimpinan

Perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak hanya dilakukan oleh pejuang laki-laki saja, tetapi juga kaum perempuan. Beberapa tokoh perempuan yang ikut terlibat dalam pertempuran dalam melawan penjajah, misalnya seperti Cut Nyak Dien, Martha Christina Tiahahu, dan masih banyak lainnya. Selain terjun di medan pertempuran, mereka mendirikan banyak organisasi perempuan sejak awal abad ke-20. Mereka meraih kemerdekaan Indonesia dengan cara memajukan status perempuan pribumi di bidang sosial, politik, dan pendidikan.

Namun, perempuan, yang berpartisipasi secara luas dalam kemerdekaan dan menanggung akibat yang besar dalam pengungsian, pelecehan, kehilangan, penangkapan, menjadi janda dan martir, saat ini, setelah puluhan tahun kemerdekaan terus-menerus berkorban, berada dalam posisi bergantung pada janji-janji politik yang terkait dengan partai-partai “hitam”, sambil terus menunggu sinyal-sinyal revolusi dan perubahan, mempersiapkan landasan bersama pihak-pihak yang memiliki pengalaman luar biasa dalam sejarah modern, serta bekerjasama dengan para aktivis untuk mengaktifkan gerakan revolusioner besar-besaran yang bergerak melalui pesan-pesan di media sosial yang melintasi batas-batas negara.

Meskipun terdapat titik balik yang sulit dalam situasi Indonesia saat ini terkait keamanan dan kemanusiaan, dan meskipun terdapat puluhan juta laki-laki dan perempuan yang hidup miskin, sebagian besar dari mereka adalah perempuan karena perempuan biasanya merupakan pihak paling lemah yang menanggung akibat paling besar dalam setiap krisis. Terlebih saat ini kita lebih banyak “diperintah oleh harapan” untuk menempuh jalan yang amat sangat sulit menuju Indonesia yang bebas dan merdeka dalam hal manusia, tanah, dan politik.

Revolusi tidak akan selesai kecuali jika disertai dengan program-program yang tegas untuk memberikan kebebasan kepada umat manusia di Indonesia, terutama perempuan, di semua tingkat sosial, serta kesetaraan konstitusional dan hukum dengan laki-laki dalam hal hak dan kewajiban.

Oleh karena itu, konstitusi masa depan di Indonesia, dan serangkaian undang-undang yang akan muncul darinya, harus menekankan kebebasan perempuan dan menghormati privasi, tubuh, pikiran, dan perasaan mereka, serta memasukkan semua itu ke dalam seluruh undang-undang dan perundang-undangan, yang memungkinkan penegakan hukum dengan mengaktifkan perangkat-perangkat dan institusi-institusi secara paralel, dan menetapkan pencegahan hukum dan sanksi bagi siapa pun yang terus melanggar hak-hak ini dengan alasan apa pun.

Konstitusi yang diusulkan juga harus menekankan hak perempuan untuk mengambil tindakan politik, dan untuk berpartisipasi dalam posisi utama pengambilan keputusan dengan mencalonkan diri dan memegang posisi apa pun di pemerintahan, termasuk presiden, menteri, dan pejabat-pejabat di bawahnya, juga parlemen, serta posisi yudisial di peradilan sipil dan peradilan konstitusi.

Sejarah Islam memperlihatkan peran besar perempuan dalam pemerintahan dan politik. Betapa besar ketidaktahuan masyarakat terhadap fakta-fakta dalam sejarah, bahkan di masa kini, yang merupakan sebuah kejutan di modernitas, dan banyak ditentang oleh kaum konservatif saat ini di dunia Islam. Diperkuat oleh pandangan-pandangan dari luar yang tidak memadai mengenai iklim sosial dan politik sehingga menghasilkan tren ekstremisme dan fanatisme yang terus menggerus moderasi dan toleransi.

Islam tidak melarang perempuan menjadi pemimpin. Literatur Islam sarat dengan nama-nama ratu dan pionir yang meninggalkan jejak mereka di dalam sejarah, seperti Ratu Arwa binti Ahmad al-Shulaihi, Fathimah al-Zahra, Khadijah binti Khuwailid, Putri al-Mustakfi Billah, Maryam, putri Imran, Syajarat al-Durr, Shah Jahan, dan tokoh-tokoh perempuan terkemuka lainnya dalam sains, bisnis, politik, dan pemikiran.

Sementara sejarah modern di benteng demokrasi, Amerika Serikat, menunjukkan bahwa perempuan Amerika baru memperoleh hak pilih pada tahun 1920, tidak ada perempuan yang menduduki jabatan tinggi politik hingga awal tahun 1930-an, dan hingga saat ini mereka masih menderita diskriminasi jika mereka menunjukkan persaingan dengan laki-laki di bidang yang dianggap sebagai bidang profesional. Rata-rata gaji direktur eksekutif perempuan di Amerika 40% lebih rendah dibandingkan gaji direktur eksekutif laki-laki, padahal perempuan mempunyai pengalaman profesi yang sama dengan laki-laki.

Karena perubahan sosial dan politik hanya dapat terjadi melalui kerja-kerja intelektual, ilmiah, dan pendidikan untuk memulihkan dan mengubah asumsi dan gagasan yang stagnan, maka dalam konteks ini perlu ditekankan konstanta politik, moral, dan hukum yang menjadi inti dari perubahan sosial dan politik untuk memberikan penghargaan kepada perempuan Indonesia atas gerakan mereka melawan tirani, subordinasi dan fanatisme. Di sini akan disebutkan beberapa di antaranya:

  • Memastikan partisipasi efektif perempuan dalam kerja-kerja politik dengan menjamin 50% partisipasi perempuan dalam pemerintahan di seluruh lembaga negara.
  • Memberdayakan dan mendukung perempuan dalam kerja-kerja politik dengan membekali mereka dengan keterampilan dan kualifikasi kepemimpinan yang diperlukan.
  • Memastikan partisipasi perempuan sebesar 50% dalam pertemuan internasional, dan dalam komite negosiasi, rekonsiliasi dan perdamaian sipil, serta dalam komite penetapan konstitusi.
  • Melindungi perempuan secara sosial dan hukum dari pemaksaan ideologis (agama atau politik), menerapkan UU TPKS untuk mencegah kekerasan dalam rumah tangga dan pelanggaran seksual, memberlakukan sistem sosial untuk melindungi mereka dari kerugian ekonomi akibat hilangnya pencari nafkah, mengkriminalisasi perkawinan anak di bawah umur, serta menyebarkan kampanye kesadaran yang membantu memastikan bahwa pelecehan dan pemerkosaan merupakan kejahatan yang pelakunya harus dimintai pertanggungjawaban di hadapan hukum dengan sanksi yang maksimal.

Terakhir, revolusi politik harus disertai dengan revolusi kebudayaan untuk melawan stagnasi otoriter dengan aksi-aksi reaksioner. Revolusi kebudayaan yang merupakan bantuan dan anak sungai bagi revolusi politik untuk melawan bentuk-bentuk tirani, dan pembebasan politik yang diinginkan hanya dapat dicapai secara paralel dengan tren perubahan masyarakat yang melawan semua penghambat gerakan revolusi, terutama di bidang politik, yaitu penafian partisipasi perempuan yang merupakan separuh aktif masyarakat.[]

Kiai Syakur

[Tulisan ini untuk memperingati 7 hari wafatnya Kiai Syakur]

Oleh: Jamaluddin Mohammad

 

KIAI Syakur Yasin (1948-2024) bukanlah kiai sembarangan. Bukan pula kiai yang diasuh dan dibesarkan media sosial. Kekiaian Kiai Syakur melalui proses panjang, bukan produk instan.

Rihlan intelektual Kiai Syakur dimulai dari Pesantren Jagasatru, Kota Cirebon, asuhan Habib Syaikh. Ayahanda Kiai Syakur, Kiai Yasin, merupakan orang kepercayaan Habib Syaikh. Setelah Habib Syaikh meninggal pada 1964, ayahnya menitipkan kepada Kiai Sanusi di Pesantren Babakan Ciwaringin, Cirebon. Di sini kecerdasan serta kealiman Kiai Syakur mulai tampak menonjol sehingga mencuri perhatian salah satu gurunya, Kiai Amrin Hannan, untuk dinikahkan dengan putrinya bernama Masriyah Amva.

Meski sudah menikah, gairah intelektualnya tetap menyala. Tahun 1971, atas rekomendasi Kiai Idham Kholid dan Subhan ZE, Kiai Syakur melanjutkan studi ke Irak. Di Irak ia bertemu Gus Dur, Kiai Muzamil Basyuni dan Kiai Masyhuri. Namun, baru sekitar satu tahun, ia pindah ke Syiria sampai tahun 1974. Kemudian pindah ke Libya meneruskan S2 sampai 1978. Studi doktoralnya ia selesaikan di Tunisia pada 1991. Pada 1985 ia menempuh pendidikan postdoktoral di Oxford University di London.

Atas permintaan ibunya, Ny. Zaenab, Kiai Syakur kembali ke tanah airnya. Sebelum pulang ke tanah kelahirannya dan mendirikan pesantren di Indramayu, Kiai Syakur sempat tinggal di Jakarta. Meskipun secara intelektual semakin matang dan mewah, namun kurang beruntung secara ekonomi. Inilah salah satu penyebab rumah tangganya berantakan. Ia bercerai dan memilih pulang ke kampung kelahirannya.

Kiai Syakur ”banting stir” mendalami hikmah, membuka majelis dzikir dan uzlah. Inilah pertama kali saya mengenal Kiai Syakur. Ia merupakan kiai pesantren yang menjalani laku spiritual dan seorang ahli hikmah. Setiap hari, di majelisnya yang sederhana, ia menerima banyak tamu. Tamu dari segala kalangan, kebanyakan berasal dari lapisan masyakat paling bawah. Satu persatu menghadap Kiai Syakur, membawa persoalan dan kepentingan masing-masing. Di akhir obrolan, biasanya Kiai Syakur akan menuliskan sesuatu pada secarik kertas bertuliskan Arab dengan tinta merah, kemudian digulung dan dimasukkan ke dalam botol air mineral yang di bawa oleh tamu.

Selain kegiatan menerima dan menampung keluh kesah dan curhatan tamu, Kiai Syakur memiliki majelis zikir dan uzlah di hutan dan tepi pantai. Setiap minggu majelis ini kselalu penuh dipadati masyarakat. Mereka mengikuti ”tarekat” Kiai Syakur. Namun, Kiai Syakur sendiri menolak dirinya disebut mursyid dan kegiatannya disebut tarekat. Konsepnya mirip tarekat Akmaliyahnya Siti Jenar. Tarekat tanpa mursyid, karena setiap orang adalah mursyid bagi dirinya sendiri.

Selain memenuhi undangan ceramah di masyarakat, Kiai Syakur membuka pengajian rutinan di pesantrennya. Pengajian mingguan ini diikuti santri dan masyarakt umum. Ia membuka pengajian tafsir ”Fî Zhilâl al-Qur`ân” karya Sayid Qutb, kitab tasawuf ”al-Hikam” karya Ibnu Athaillah al-Sakandari dan ”Raaitullah” Mouthofa Mahmoud. Pengajian Kiai Syakur ini bisa dinikmati masyarakat Cirebon dan sekitarnya melalui radio Risalah FM.

Dari sini pikiran-pikiran ”nakal” dan berani Kiai Syakur mulai dikenal masyarakat luas. Sampai-sampai kiai-kiai di kampung yang selama ini menjaga ”keseimbangan berpikir umat” mulai banyak mengkritik dan antipati terhadap pemikiran-pemikiran Kiai Syakur  yang non-mainstream dan mengusik kemapanan pemikiran ulama tradisional, salafu as-salih.

Pikiran-pikiran Kiai Syakur mulai tersebar seantero jagat berkat orang-orang dekat Kiai Syakur yang membuatkan channel Youtube dan membentuk tim media khusus untuk menyiarkan ceramah dan kegiatan Kiai Syakur. Kiai Syakur semakin digemari, memiliki banyak pengikut dan popularitasnya meroket. Juga tidak sedikit hatters yang ingin menjatuhkannya. Pikiran-pikiran Kiai Syakur dianggap kontroversial. Bukan hanya oleh masyarakat awam, bahkan oleh orang yang selama ini kita kenal sebagai kiai.

Padahal, sependek pengetahuan saya, Kiai Syakur tak pernah mengada-ada. Pembicaraannya selalu berbasis data dan keilmuan. Salah satunya yang kemudian viral dan mengundang caci maki adalah ceramahnya di Mabes Polri tentang moderasi beragama. Kiai Syakur mengatakan bahwa di zaman Nabi Saw. relasi dengan umat Nasrani terjalin cukup dekat dan harmonis. Terbukti di dalam kakbah sendiri dulunya terdapat lukisan Maryam dan Yesus (Nabi Isa as.). Cerita ini, kata Kiai Syakur, terdapat di kitab ”Akhbâr Makkah” yang ditulis al-Azraq (Kiai Syakur menyebut al-Wahidi).

Setelah saya telusuri kebenaran klaim Kiai Syakur ini, saya mendapati ada di Bab ”Mâ Jâ`a fî Dzikri Binâ`i Quraysy al-Ka’bah fî al-Jâhilîyyah”. Di situ dituturkan bahwa pada saat pembebasan kota Makkah (Fathu Makkah), Nabi menghancurkan ratusan berhala (patung). Sampai-sampai Nabi Saw. sendiri enggan memasuki Ka’bah karena di dalamnya dipenuhi gambar/lukisan: lukisan malaikat, lukisan Ibrahim, lukisan pohon, juga lukisan Maryam dan Yesus. Nabi Saw. meletakkan kedua telapak tangannya di atas gambar Maryam dan Yesus, kemudian berkata: ”Hapus semua lukisan di tembok Ka’bah kecuali lukisan ini.”

Tak hanya lukisan Maryam dan Yesus, sebagaimana diriwayatkan al-Azraq dari Ibnu Juraih, bahwa sebelum Ka’bah direnovasi pada zaman Ibnu Zubair akibat banjir, tepatnya di samping pilar dekat pintu Kakbah, terdapat patung Maryam sedang memangku Yesus.

Cerita ini juga dikutip al-Dzahabi dalam ”Târîkh al-Islâm”. Meskipun di akhir penjelasan al-Dzahabi meragukan otentistas riwayat ini karena ada perawi yang diragukan. Juga, sekelas sejarawan Ibnu Hisyam sendiri di ”Sîrah Nabawîyyah” tak meriwayatkan kisah ini.  

Terlepas dari kebenaran cerita tersebut, menunjukkan bahwa Kiai Syakur tidak asal bicara, mencari sensasi, apalagi mengada-ada. Wawasan serta pengetahuan Kiai Syakurlah yang menyebabkan ia dituduh kontroversial, Mereka yang miskin literasilah yang seringkali mendapat panggung di media sosial. [bersambung]

Merayakan Natal

DI saat umat Kristiani bersiap merayakan kelahiran Yesus Kristus, Nabi Isa al-Masih as., banyak di antara kita yang bertanya-tanya: apa kewajiban umat Muslim terhadap Nabi Allah, Isa al-Masih as.? Barangkali tujuan penjelasan al-Qur`an mengenai Isa al-Masih as. dan ibunya, Maryam, adalah untuk menunjukkan kedudukan yang layak mereka terima berupa penghargaan dan perayaan. Al-Qur`an tidak menghormati Isa al-Masih as. terlebih dahulu kecuali setelah menghormati ibunya yang melahirkannya,

 

يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفَاكِ عَلَىٰ نِسَاءِ الْعَالَمِينَ

Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilihmu, mensucikanmu dan melebihkanmu atas segala perempuan di dunia [yang semasa denganmu],” [Q.S. Ali Imran: 42].

 

Allah tidak menghormati Maryam kecuali setelah menghormati ibunya yang telah melahirkannya (Q.S. Ali Imran: 35); Allah tidak menghormati ibunya Maryam kecuali setelah menghormati suami ibunya itu dan keluarganya; Allah tidak menghormati keluarganya, “keluarga Imran”, kecuali setelah menghormati keluarga Ya’qub (Q.S. Maryam: 5 – 6); dan Allah tidak memuliakan keluarga Ya’qub kecuali setelah memuliakan Ibrahim dan keturunannya (Q.S. Ali Imran: 34). Buah tidak akan baik kecuali jika akarnya baik (Q.S. Ibrahim: 24).

Al-Qur`an merayakan kelahiran Isa al-Masih as., putra Maryam, karena ia membawa mukjizat di dalam dirinya. Adapun Maryam, Allah menghormatinya dengan perhormatan yang khusus hanya untuk dirinya (Q.S. Ali Imran: 42). Adalah hak kita, umat Muslim, dan merupakan kewajiban kita—karena iman—untuk mencintai dan menghormati semua nabi dan rasul dan tidak membeda-bedakan mereka; membeda-bedakan para nabi adalah kemaksiatan, dan tidak menghormati mereka bisa membawa kepada dosa yang lebih besar. Kelahiran Isa al-Masih as. hendaknya menjadi kebahagiaan bagi seluruh umat Muslim dengan mengagungkan Allah Swt. dan merenungkan kekuasaan dan seluruh mukjizat-Nya.

Merayakan Natal (sebutan bagi kelahiran Isa al-Masih as.) adalah untuk meneladani akhlak Nabi Isa al-Masih as.. Ia berpesan kepada kita untuk selalu rendah hati serta mencintai kaum fakir-miskin, orang-orang saleh dan orang-orang yang berdosa. Sehingga cinta ini memberi mereka energi untuk bertaubat. Karena itu, merayakan Natal artinya adalah merayakan kotak perhiasan di mana kita sangat terpesona dengan permata-permata yang ada di dalamnya sehingga kita tidak bisa memilih satu dari yang lain.

Allah menunjukkan kedudukan Maryam di beberapa tempat di dalam al-Qur`an dan menunjukkan kekuatan imannya kepada-Nya dan ketergantungannya kepada-Nya. Ketika seorang utusan Allah datang kepada Maryam dan menyampaikan kabar baik bahwa ia akan hamil dan melahirkan, ia berkata, “Sesungguhnya aku berlindung darimu kepada Tuhan Yang Maha pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa,” [Q.S. Maryam: 18]. Artinya, Maryam tidak mengenal siapapun kecuali Allah Swt. dan tidak bergantung kecuali hanya kepada-Nya. Inilah hikmah keimanan agung yang harus kita teladani. Maryam tidak hanya dikenal karena kesuciannya, tetapi ia juga dikenal karena kekuatan akidah dan imannya kepada Allah Swt.

Kelahiran Isa al-Masih as. merupakan mukjizat dan tanda kebesaran Allah Swt. yang mengharuskan umat Muslim untuk senantiasa merenungkannya. Kapan pun datang hari di mana kelahiran Isa al-Masih as. dirayakan, umat Muslim harus juga merayakannya. Sebab Isa al-Masih as. sendiri mendorong kita untuk merayakannya ketika ia berkata:

 

وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا

Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali,” [Q.S. Maryam: 33].

 

Umat Muslim beriman kepada Isa al-Masih as. sebagaimana mereka beriman kepada Nabi Muhammad Saw.. Oleh karena itu, di dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Nabi Saw. bersabda,

 

أَنَا أَوْلَى النَّاسِ بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

Aku adalah orang yang paling berhak kepada Isa putra Maryam di dunia dan akhirat,” [H.R. Abu Hurairah].

 

Karena Isa al-Masih as. telah diberitahu oleh Allah mengenai kerasulan Nabi Muhammad Saw. dan Nabi sendiri bersabda, “Aku adalah orang yang paling berhak kepada Isa ibnu Maryam di dunia dan akhirat,” maka umat Muslim adalah orang-orang yang paling berhak merayakan Natal untuk menyambut kelahiran Isa al-Masih as.

Tidak sah keislaman seorang Muslim dan tidak sah pula keimanannya kecuali bila ia beriman kepada Isa al-Masih as. sama seperti keimanannya kepada Nabi Muhammad Saw., sebagaimana disebutkan di dalam firman Allah Swt.,

 

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ ۚ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا

Rasul telah beriman kepada al-Qur`an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. [Mereka mengatakan]: ‘Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun [dengan yang lain] dari rasul-rasul-Nya,’ dan mereka mengatakan, ‘Kami dengar dan kami taat,” [Q.S. al-Baqarah: 285].

 

Maryam, ibu Isa al-Masih as., adalah satu-satunya perempuan hebat yang namanya diabadikan sebagai nama satu surah di dalam al-Qur`an, Surah Maryam, yang terdiri dari 98 ayat. Allah Swt. menghormati keluarga dan kerabatnya, terutama ayahnya, Imran, yang namanya juga diabadikan sebagai nama satu surah di dalam al-Qur`an, Surah Ali Imran, yang terdiri dari 200 ayat. Surah Ali Imran merupakan surah kedua dalam urutan surah al-Qur`an. Sendirian atau bersama putranya, Maryam dan Isa al-Masih as., disebutkan di 34 tempat lainnya di dalam al-Qur`an. Betapa hangat sambutan dan betapa besar perayaan al-Qur`an untuk keduanya. Dan salah satu wujud keagungan ini adalah bahwa banyak dari umat Muslim di seluruh dunia yang menyandang dua nama mulia ini, Isa dan Maryam.

Isa al-Masih as. adalah teladan kebenaran dan kesalehan. Ketika Maryam melahirkannya dan keluarganya berteriak-teriak menuduhnya melakukan apa yang dituduhkan kepada seorang perempuan yang tidak bersuami dan melahirkan anak, maka Isa al-Masih as. berkata kepada mereka untuk membersihkan nama ibunya,

 

إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا، وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا، وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا. وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا

Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku [mendirikan] shalat dan [menunaikan] zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali,” [Q.S. Maryam: 30 – 33].

 

Ketika membaca al-Qur`an, kita tidak menemukan di dalamnya disebutkan tentang kelahiran nabi mana pun kecuali dua nabi besar: Musa as. dan Isa al-Masih as., di mana masing-masing dari keduanya menciptakan isyarat agung di alam semesta pada saat kelahirannya. Dan Allah Swt. telah memerintahkan kita untuk bersikap baik kepada Ahli Kitab, khususnya saudara-saudara kita umat Kristiani, dengan berfirman,

 

وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُم مَّوَدَّةً لِّلَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَى ذلك بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيسِينَ وَرُهْبَانًا وَأَنَّهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ

Pasti akan engkau dapati pula orang yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang berkata, ‘Sesungguhnya kami adalah orang Nasrani.’ Hal itu karena di antara mereka terdapat para pendeta dan rahib, juga karena mereka tidak menyombongkan diri,” [Q.S. al-Ma`idah: 82].

 

Allah Swt. menghendaki cinta dan kasih sayang menyertai kita dan saudara-saudara kita umat Kristiani, maka Dia berfirman,

 

وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَّكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَّهُمْ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ

Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi al-Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal [pula] bagi mereka. [Dan dihalalkan mangawini] perempuan yang menjaga kehormatan di antara perempuan-perempuan yang beriman dan perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi al-Kitab sebelum kamu,” [Q.S. al-Ma`idah: 5].

 

Selain itu, Allah Swt. melarang kita untuk memusuhi dan memerangi saudara-saudara kita umat Kristiani yang cinta damai dan memerintahkan kita untuk memiliki kasih sayang antara kita dan mereka. Dia berfirman,

 

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِى الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak [pula] mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil,” [Q.S. al-Mumtahanah: 8].

 

Rasulullah Saw. memperingatkan bahwa orang-orang yang menyerang umat Kristiani yang cinta damai dan rukun tidak akan pernah mencium aroma surga. Sebagai Muslim kita diperintahkan oleh agama untuk menyebarkan perdamaian di dunia, dan memandang mereka yang berbeda agama dengan kita sebagai saudara dalam kemanusiaan atau saudara di tanah air. Tidak ada yang namanya mayoritas dan minoritas, yang ada adalah bangsa, dan bangsa ini didirikan oleh para pemuda Muslim dan Kristiani.[]

Kiai Abdul Chalim

SATU lagi kiai pendiri NU mendapat anugerah Pahlawan Nasional: Kiai Abdul Chalim Leuimunding. Leuimunding adalah nama sebuah desa di kawasan Majalengka bagian Timur, berbatasan langsung dengan Kabupaten Cirebon.

Majalengka memiliki dua Abdul Halim yang sama-sama memperoleh gelar Pahlawan Nasional. Yang pertama Kiai Abdul Halim pendiri PUI (Persatuan Umat Islam), satunya lagi Abdul Chalim pendiri NU (Nahdlatul Ulama). Biasanya, dalam penulisan nama untuk membedakan kedua tokoh besar ini, Halim pertama diawali dengan “H”, sementara yang kedua ditulis dengan hurup “C”, atau disematkan nama desa kelahiran setelah namanya. Keduanya memiliki peran dan kiprah yang besar untuk bangsa ini, sehingga pemerintah menganugerahi gelar pahlawan.

Tulisan ini akan mengulas secara singkat ketokohan serta peran kunci Kiai Abdul Chalim dalam mendirikan dan membesarkan NU. Juga jasanya bagi bangsa ini. Kiai kelahiran Majalengka, 2 Juni 1898 ini terlahir dari pasangan Kedungwangsagama dan Satimah. Jenjang pendidikannya dimulai dari HIS (Hollandsch Inlandsche School). Sebelum melanjutkan studi ke Makkah, Kiai Abdul Chalim tercatat pernah nyantri di sejumlah pesantren tidak jauh dari tanah kelahirannya, seperti Pondok Pesantren Banada, Pondok Pesantren al-Fattah Trajaya, dan Pondok Pesantren Nurul Huda al-Maarif Pajajar.

Di Makkah ia berguru langsung kepada Syaikh Abdul Mu’ti dan Syaikh Nawawi al-Bantani. Di sana ia bertemu Hadhratusy Syaikh Kiai Hasyim Asyari dan Kiai Wahab Chasbullah. Sepulang dari tanah suci Makkah, Kiai Abdul Chalim mengikuti jejak Kiai Wahab mendirikan lembaga pendidikan yang kemudian menjadi cikal bakal NU: Syubbanul Wathan dan Nahdlatul Wathan. Juga sama-sama aktif di Syarekat Islam (SI).

Bersama Kiai Wahab juga Kiai Abdul Halim menginisiasi lahirnya Komite Hijaz, sebuah perkumpulan embrio NU. Selain untuk merespon situasi global saat itu (hegemoni wahabisme di Arab Saudi), Komite Hijaz bercita-cita memerdekakan Hindia Belanda dari kungkungan Belanda.

Kiai Abdul Chalim merupakan komunikator, konsolidator sekaligus tokoh kunci kelahiran NU. Ketika Kiai Abdul Wahab Chasbullah ingin mendirikan NU, ia terlebih dulu meminta restu dari Hadhratusy Syaikh Hasyim Asyari, guru sekaligus ulama karismatik tanah Jawa waktu itu. Namun, selama sepuluh tahun dalam penantian, Kiai Hasyim tak kunjung memberikan restu. Kiai Wahab merasa segan untuk bertanya langsung, apalagi sampai mendirikan organisasi tanpa restu dari gurunya itu. Bahkan, sangking lamanya menanti jawaban dari Kiai Hasyim, Kiai Wahab hampir putus harapan.

“Sudah sepuluh tahun saya belum mendapat izin. Kalau saya tak mendapat izin, saya akan kembali masuk organisasi atau memimpin pesantren,” curhatan Kiai Wahab kepada Kiai Abdul Chalim. Di sinilah Kiai Chalim mulai mengambil peran. Ia memediasi sekaligus mengkomunikasikan kepada Kiai Hasyim Asyari. Berkat komunikasi Kiai Abdul Chalim, Kiai Hasyim segera memberikan respon dan jawaban. Jawaban Kiai Hasyim ia catat dalam buku biografi Kiai Wahab yang ditulis dalam bentuk syair.

 

 

Saya terima kata darilah paduka
Pak Ki Hasyim yang mulia malah berkata
Mas Dul Halim sebelum NU berdiri
Ialah saya kasihan pada kiai
Abdul Wahab yang ditendang sana sini
Mau bantu tak dapat jalan izin
Tiga tahun itulah saya memikirkan
Barulah sekarang terdapatnya jalan

 

 

Dari jawaban Kiai Hasyim terlihat bahwa beliau sebetulnya sudah memikirkan dan mempertimbangkan keinginan Kiai Wabab mendirikan Jam’iyyah NU. Beliau tidak hanya menunggu momentum yang tepat, namun juga dipikirkan matang-matang (istikharah) sebelum memberikan keputuasan. Panggilan “mas” dari Kiai Hasyim menunjukkan kedekatan dan keakraban Kiai Abdul Chalim dengan muassis NU itu.

Setelah organisasi NU terbentuk, murid sekaligus sahabat Kiai Abdul Wahab Chasbullah ini, sambil berdagang sarung ia berkeliling dari satu rumah ke rumah yang lain, singgah dari kampung ke kampung, bertemu dan bersilaturahim dengan banyak orang untuk mensosialisasikan NU yang kala itu masih berumur jagung. Jangan dibayangkan NU seperti saat ini, dengan ratusan ribu jamaahnya.

Organisasi NU waktu itu masih terbatas hanya di kalangan elit kiai Jawa Timur dan belum tersebar ke seluruh Nusantara. Dalam kepengurusan NU pertama kali didirikan, Kiai Abdul Chalim menjabat sebagai Katib Tsani (Sekretaris II) menemani Kiai Wahab sebagai Katib Awal (Sekretaris I). Ia bersama Kiai Wahab turun langsung mensosialisasikan dan mengkomunikasikan organisasi NU kepada kiai-kiai kampung di pelosok-pelosok daerah, mendirikan cabang organisasi, hingga mengonsolidasikan kiai-kiai (ulama) untuk berorganisasi di bawah naungan NU. Inilah alasan kenapa Kiai Wahab dan Kiai Abdul Chalim disebut “penggerak” (organisator/konsolidator) NU. Sulit membayangkan NU tanpa dua orang ini. [JM]

Serial Kajian “Islam Ramah Perempuan” – Perempuan Kurang Akal dan Agama?

ISLAM adalah agama yang penuh belas kasih terhadap seluruh ciptaan Tuhan; pandangannya terhadap perempuan sangat lurus, dan kita tidak perlu menjelaskan status perempuan dalam Islam sejak awal hingga saat ini. Cukuplah kita mengingatkan bahwa al-Qur’an memuat satu surat lengkap yang khusus membahas perempuan dengan segenap ketentuannya. Cukuplah kehormatan bagi perempuan bahwa Nabi Saw. memerintahkan untuk memperlakukan mereka dengan baik.

Di tengah misinformasi sistematis dan upaya memalsukan agama dengan harapan mendistorsi citra cemerlangnya, para perusak agama selalu mengklaim bahwa Islam adalah musuh pertama perempuan, penjara yang membatasi kebebasannya, dan batu sandungan yang menghalangi jalan hidup dan harapannya. Mereka mengeksploitasi teks-teks agama yang terpisah-pisah dan disalahpahami sebagai bukti dan pembuktian keabsahan klaim mereka. Di antara teks yang paling terkenal adalah hadits yang menggambarkan perempuan “kurang akal dan agama”. Benarkah demikian?

Nabi Muhammad Saw. bersabda,

 

ما رأيت من ناقصات عقل ودين أذهب للب الرجل الحازم من إحداكن

“Aku tidak pernah melihat orang yang akal dan agamanya lebih sedikit bisa mengalahkan akal seorang laki-laki yang kuat melebihi kalian para perempuan,” [H.R. al-Bukhari].

 

Kita sepakat bahwa hadits ini benar-benar shahih tanpa ada kerancuan dalam rantai transmisi atau teksnya, sebagaimana dijelaskan dalam kitab-kitab hadits shahih seperti al-Bukhari dan Muslim, dan diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-Khudri ra. dari Nabi Saw.. Perbedaan pendapat terkait hadits ini terletak pada kandungannya yang terkesan tidak adil terhadap perempuan, karena mengurangi nilai perempuan dan melekatkan pada mereka sifat yang tidak sesuai dengan hikmah agung yang dibawa Islam dalam menghormati perempuan.

Masalah pertama adalah “kurangnya akal perempuan”, yang dapat diartikan bahwa perempuan bercirikan kebodohan atau lebih rendah tingkat kecerdasannya dibandingkan laki-laki. Ini merupakan ketidakadilan yang besar bagi perempuan, dan ketidakadilan yang lebih besar lagi karena menuduh Islam merendahkan perempuan. Faktanya, hadits ini, sebenarnya lebih merupakan ungkapan mengenai realitas perempuan saat itu. Di mana akses kepada pengetahuan, ekonomi, politik, dan aktivitas publik ditutup secara sosial bagi perempuan dan mereka dipaksa untuk selalu tinggal di rumah.

Budaya yang menempatkan perempuan di dalam rumah dan menjauhkan mereka dari pengetahuan, membuat perempuan lebih banyak mengandalkan emosi dan perasaannya. Makanya masyarakat Muslim di masa Nabi Saw. menjadikan kesaksian dua orang perempuan sama dengan kesaksian satu orang laki-laki.

Di masa lalu, semakin seorang perempuan jauh dari pengetahuan dan semakin ia tunduk pada emosi dan perasaannya, semakin terpujilah ia. Ia akan lebih fokus menjalankan perannya sebagai ibu, istri, atau saudara perempuan. Bagi masyarakat kuno, siapa pun perempuan, jika akalnya menang atas emosinya, ia tidak akan bisa mengasuh bayi yang baru lahir dan membesarkannya.

Artinya, pernyataan Nabi Saw. bahwa perempuan “kurang akal” sebetulnya merupakan kritik terhadap realitas sosial yang merendahkan nilai dan arti perempuan saat itu. Harusnya, perempuan, yang akan menjadi ibu yang bertanggungjawab mengasuh dan membesarkan anak, diberi pengetahuan sehingga mereka tidak hanya mampu mengasuh dan membesarkan anak, tetapi juga mampu mendidiknya menjadi pribadi-pribadi yang hebat. Inilah yang kemudian melahirkan pernyataan “al-ummu hiya al-madrasah al-ula” (Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya).

Dalam bahasa lain, Hafidz Ibrahim (1932 M) yang terkenal sebagai penyair sungai Nil berkata:

 

الأم مدرسة إذا أعددتها أعددت شعبا طيب الأعراقِ
الأم مدرسة الأساتذة الألى شغلت مآثرهم مدى الآفاقِ

Ibu adalah sekolah. Jika engkau persiapkannya dengan baik, maka engkau tengah mempersiapkan satu bangsa yang unggul.

Ibu adalah sekolah pertama bagi para guru yang memiliki pengaruh luas di sepanjang ufuk.

 

Memang, dari sudut pandang ilmiah, dikatakan bahwa otak perempuan 10% lebih kecil dibandingkan otak laki-laki. Meski demikian, banyak penelitian ilmiah yang membuktikan bahwa hal tersebut tidak mempengaruhi tingkat kecerdasan dan pemahaman perempuan. Sebuah penelitian yang dilakukan di University of California melaporkan bahwa otak perempuan dapat bekerja lebih cepat; koneksi antar sel otak pada perempuan lebih baik dibandingkan pada laki-laki!

Sejarah menyebutkan sejumlah perempuan jenius yang membuka jalan bagi penemuan dan pencapaian berpengaruh dalam kehidupan manusia, salah satunya, misalnya, adalah Margaret Hamilton, yang bertanggungjawab memprogram pesawat ruang angkasa Apollo, yang memungkinkan manusia mengambil langkah pertamanya di permukaan bulan.

Mari kita turun sedikit ke permukaan bumi dan mengingat ilmuwan terkenal Marie Curie, yang merupakan perempuan pertama peraih hadiah Nobel, dan bahkan memenangkannya dua kali dalam bidang fisika dan kimia. Sebagian besar pencapaiannya berkisar pada radioaktivitas atom, dan ia mengawasi penelitian pertama untuk mengobati tumor menggunakan radioisotop. Oleh karena itu, laki-laki, dalam kondisi apapun, tidak boleh meremehkan perempuan dan menyombongkan diri bahwa merekalah yang paling cerdas dan canggih. Hal ini tidak ditegaskan oleh ilmu pengetahuan, dan tidak pula dinyatakan dalam Islam.

Adapun masalah kedua adalah “kurangnya agama perempuan”. Sekilas teks ini dapat diartikan bahwa perempuan kurang beragama dan tidak bertakwa. Padahal maksudnya adalah bahwa perempuan menghabiskan banyak waktu tanpa melakukan ibadah wajib, seperti shalat dan puasa karena alasan syar’i. Dengan demikian, ia tidak menghabiskan waktu sebanyak laki-laki dalam beribadah.

Kesimpulannya, “akal dan agama” akan tetap kurang dan tidak sempurna tanpa kehadiran, peran, dan partisipasi aktif perempuan dalam kehidupan ini.  Perempuan tidak kekurangan apapun, dan kehadiran mereka bukan aib bagi siapapun. Perempuan adalah sungai anugerah yang tidak pernah kering, benih yang menghasilkan kesuksesan dan prestasi, dan resep rahasia yang menciptakan orang-orang hebat dan pahlawan. Status perempuan mulia, dan kemampuan mereka hebat. Keseimbangan kosmiklah yang mengharuskan umat manusia menjadi laki-laki dan perempuan. Dan tidak ada keraguan bahwa perempuan adalah bagian kehidupan yang paling indah![]

 

Hak Anak dalam Islam

Oleh: K.H. Jamaluddin Mohammad, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Kamaliyah Babakan, Ciwaringin, Cirebon

 

Pasca perang dunia pertama, kesadaran masyarakat dunia mulai terbuka akan pentingnya hak dan perlindungan terhadap anak. Perang tidak hanya membawa kerusakan dan kehancuran tempat tinggal dan bangunan, melainkan mengancam masa depan dan tatanan umat manusia akibat banyak anak dan perempuan terlantar.

Pada 1923, salah seorang aktivis perempuan pendiri Save the Children Eglantyne Jeb, membuat 10 butir hak anak sebagai rancangan Deklarasi Hak Anak (Declaration of the Rights of the Child). Isi deklarasi ini pada 1924 diadopsi secara internasional oleh Liga bangsa-bangsa untuk pertama kalinya mendeklarasikan Hak Anak. Tahun 1959 Majelis Umum PBB mendeklarasikan Hak Anak utuk kedua kalinya.

Baru pada tahun 1979, ketika akan dicanangkan Tahun Anak Internasioanl, pemerintah Polandia mengusulkan rumusan dokumen standar internasional sebagai pengakuan terhadap hak anak dan mengikat secara politis dan yuridis. Dokumen inilah kelak menjadi cikal bakal kovensi hak anak internasional, yang pada 1989 disahkan oleh PBB dan diratifikasi setiap negara anggota kecuali Somalia dan Amerika Serikat.

Satu tahun berikutnya, tepatnya pada 25 Agustus 1990, Indonesia meratifikasi konvensi hak anak PBB melalui Keputusan Presiden No. 36/1990. Sebagai bentuk komitmen dan penguatan terhadap konvensi, Indonesia menerbitkan Undang Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang kemudian diubah dengan Undang Undang No. 35 Tahun 2014.

Hak anak merupakan hak asasi manusia untuk anak. Dalam konvensi hak ana terdapat lima klaster hak anak: 1). Hak sipil dan kebebasan; 2). Lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif; 3). Kesehatan dasar dan kesejahteraan; 4). Pendidikan, waktu luang, budaya dan rekreasi; 5). Perlindungan khusus. Kelima klaster ini berdiri di atas empat prinsip hak anak: 1). Non-diskriminasi; 2). Kepentingan terbaik; 3). Kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang; 4). Penghargaan terhadap pandangan anak.

 

Islam Memandang Hak Anak

Perlindungan terhadap hak-hak anak, selain bersumber dari norma-norma hukum yang disediakan hukum internasional (Konvensi Hak Anak) maupun nasional (UU Perlindungan Anak), juga bisa bersumber dari agama (Islam). Sumber norma yang dimaksud berasal dari maqâshid al-syarî’ah. Maqâshid al-syarî’ah atau tujuan-tujuan syariat, menurut al-Juwaini dan al-Ghazali, adalah kebutuhan/hak-hak dasar (al-dharûrîyyât) yang dimiliki setiap muslim, yaitu: hak hidup (hifzh al-nafs), hak berpikir (hifzh al-‘aql), hak berketurunan (hifzh al-nasl), hak ekonomi (hifzh al-mâl), hak atas harga diri dan kehormatan (hifzh al-‘irdh), hak berkeyakinan (hifzh al-dîn). Kelima/keenam perlindungan ini disebut al-dharûrîyyât al-khams/al-sitt.

Tentu saja kelima/enam hak dasar tersebut masih bersifat global. Pemaknaan atas kelima/keenam hak dasar itu terus berkembang sepanjang perkembangan peradaban manusia. Bayangan al-Juwaini atau al-Ghazali ketika merumuskan al-dharûrîyyât al-khams/al-sitt tentu tidak sekompleks masa sekarang. Ruang lingkup dan cakupannya pun berbeda. Namun, kedua ulama besar Islam tersebut telah meletakkan prinsip-prinsip dasar sebagai pijakan ulama setelahnya.

Dalam konteks modern, terutama untuk merumuskan hak anak dalam Islam, kelima/keenam hak dasar tersebut bisa dijadikan sebagai klaster hak anak. Klaster hak berpikir (hifzh al-‘aql), misalnya, mencakup hak pendidikan, tujuan pendidikan, kegiatan liburan, rekreasi, seni dan budaya, kebebasan berpendapat, kebebasan berserikat dan berkumpul secara damai, kebebasan privasi dll. Hak berketurunan (hifzh al-nasl) meliputi hak atas identitas, bimbingan orang tua, tanggung jawab orang tua, pengangkatan anak dll. Ini bukan “islamisasi” hak anak. Namun, selama hak-hak anak tersebut sejalan dengan nilai-nilai Islam apa salahnya apabila dipertegas (dilegitimasi) dan diafirmasi oleh Islam. Apalagi konvensi hak anak ini sudah mengikat baik secara politik maupun yuridis.[]

Pelecehan Seksual

Oleh: K.H. Jamaluddin Mohammad, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Kamaliyah Babakan, Ciwaringin, Cirebon

 

SEWAKTU masih di pesantren ada banyak kebiasaan yang, setiap kali ada tamu perempuan, apalagi masih muda, memasuki komplek laki-laki, hampir seluruh santri keluar kamar, menyambut dengan teriakan menggoda, bersiul, bahkan kata-kata cabul. Bagi kebanyakan santri, termasuk saya waktu itu, tindakan atau prilaku seperti itu dianggap wajar-wajar saja, sama sekali tak merasa bersalah apalagi berdosa. Bahkan, saya memiliki anggapan khas cara pandang patriarki bahwa menggoda perempuan termasuk idhkâl al-surûr (membahagiakan) kepada perempuan.

Belakangan, setelah saya bergaul dengan banyak aktivis perempuan, saya baru menyadari bahwa anggapan saya keliru dan bisa masuk dalam kategori pelecehan seksual. Fenomena seperti itu disebut “catcalling”. Catcalling diartikan sebagai siulan, panggilan, atau komentar yang bersifat seksual. Catcalling tidak hanya membuat korbannya sakit hati melainkan bisa menyebabkan gangguan psikologis.[1]

Catcalling memiliki berbagai bentuk dan kategori, baik dalam bentuk ekspresi verbal maupun non verbal, seperti siulan, suara kecupan, ciuman, atau berupa komentar terhadap anggota tubuh perempuan. Juga berupa isyarat mata/tatapan mata berlebihan yang dapat mengganggu kenyamanan seorang perempuan.[2] Catcalling seringkali terjadi di ruang publik.

Catcalling termasuk dalam kategori pelecehan seksual. Sebagaimana disebutkan dalam buku “Labiri UU PKS”, pelecehan seksual merupakan tindakan seksual lewat sentuhan fisik maupun non fisik dengan sasaran organ seksual atau seksualitas korban. Ia termasuk menggunakan siulan, main mata, ucapan bernuansa seksual, mempertunjukkan materi pornografi dan keinginan seksual colekan atau sentuhan di bagian tubuh, gerakan atau isyarat yang bersifat seksual sehingga merasakan rasa tidak nyaman, tersinggung, merasa direndahkan martabatnya, dan mungkin sampai menyebabkan masalah kesehatan dan keselamatan.

Menurut penelitian yang dilakukan Soffana Zahra dkk., catcalling memilik dampak buruk dan berpengaruh terhadap psikologi perempuan, seperti trauma, ketakutan, sedih, risih, hingga parnoia. Catcalling membuat perempuan menderita dan merupakan salah satu bentuk kekerasan terhadap perempuan. Pelakunya bisa dipidana dan penjara.

Pelecehan seksual bisa terjadi di manapun, dalam ruang publik maupun ruang privat. Pelakunya bisa laki-laki maupun perempuan. Karena itu dibutuhkan pengetahuan dan edukasi di masyarakat. Jangan akibat ketidaktahuan dan menganggap catcalling sebagai sesuatu yang wajar sehingga marak terjadi di masyarakat, terlebih di dalam institusi pendidikan yang selama ini mengaku sebagai lembaga yang menjunjung tinggi nilai-nilai dan moralitas keagamaan.

Catcalling merupakan produk budaya patriarki. Dalam ruang publik yang masih didominasi budaya patriarki, relasi kuasa yang timpang membuat perempuan ditempatkan dalam posisi subordinan. Catcalling berangkat dari cara pandang laki-laki yang mereduksi kemanusiaan perempuan hanya sebagai makhluk dan objek seksual.  

 

Bagaimana Islam Memandang Catcalling?

Islam memandang manusia, tanpa membedakan jenis kelaminnya, sebagai makhluk paling mulia (al-karâmah al-insânîyyah) dan sempurna (Q.S. al-Isra`: 70 dan Q.S. al-Tin: 04). Bahkan secara eksplisit al-Qur`an menyebut ketakwaan sebagai parameter utama dalam menilai manusia di hadapan Allah Swt. (Q.S. al-Hujurat: 13). Karena itu, prasangka gender dan seksualitas yang memosisikan laki-laki lebih mulia/lebih utama dibanding perempuan bertentangan dengan deklarasi al-Qur`an tentang kesetaraan laki-laki dan perempuan.

Al-Qur`an sendiri menyuruh laki-laki untuk memperlakukan perempuan dengan baik (al-mu’âsyarah bi al-ma’rûf), sebagaimana disebut dalam Q.S. al-Nisa`: 19. Secara eksplisit Nabi Muhammad Saw. juga memerintahkan kepada setiap muslim untuk menebarkan keselamatan, kedamaian, dan keamanan (afsyû al-salâm). Salam di sini tidak hanya dimaknai secara basa-basi untuk mengucapkan salam (al-salâmu alaykum) ketika bertemu dengan orang lain. Makna di balik itu sebetulnya tidak hanya berhenti di mulut (sekadar ucapan basa-basi), melainkan harus diaktualisasikan ke dalam prilaku dan tindakan.

Dalam hadits lain riwayat al-Bukhari-Muslim, Nabi Saw. mewanti-wanti bahwa seorang muslim yang baik adalah muslim yang menjaga mulut dan tangannya untuk tidak menyakiti orang lain. Inilah aktualisasi dari perintah mengabarkan, menyebarluaskan, menyosialisasikan, menebarkan “keselamatan” kepada setiap orang. Inilah esensi Islam sebagai agama perdamaian dan keselamatan (dîn al-salâm). Dengan demikian, catcalling bukan hanya merusak melainkan juga melanggar prinsip dasar dan esensi Islam sebagai agama keselamatan dan perdamaian. Wallâhu a’lam bi al-shawâb [JM]

 

Referensi

  • Saffana Zahro, dkk., Catcalling sebagai Bentuk Pelecehan Seksual Traumatis, Jurnal Cantrik, V 1, No. 2, 2021
  • Angeline Hidayat dan Yugih Setyanto, Fenomena Catcalling sebagai Bentuk Pelecehan Seksual secara Verbal terhadap Perempuan di Jakarta, Jurnal Koneksi, Vol. 1, No. 2, 2019

Serial Kajian “Islam Ramah Perempuan” – Perempuan Diciptakan dari Tulang Rusuk?

Kontroversi dan perdebatan mengenai kisah awal penciptaan manusia terus bergulir di kalangan kaum beriman hingga melahirkan banyak pandangan sampai kini: bagaimana Tuhan menciptakan manusia pertama Adam as., bagaimana sebenarnya kisah penciptaan dan penciptaan Adam di dalam al-Qur’an dan apa yang disampaikan oleh Nabi Saw.. Salah satu persoalan yang paling kontroversial mengenai hakikat atau kebenaran penciptaan adalah tentang penciptaan Hawa dari tulang rusuk Adam as., bahwa ia diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Klaim ini digunakan dalam konteks untuk merendahkan nilai Hawa dan status gender perempuan secara umum. Apakah klaim ini benar?! Apa argumennya?!

Al-Qur’an adalah sumber terbaik yang menceritakan kepada kita tentang kisah Hawa. Allah Swt. berfirman kepada Adam: “Tinggallah kamu dan pasanganmu di surga,” yang berarti bahwa Adam mengetahui bahwa makhluk perempuan ini, Hawa, adalah pasangannya. Sebab tidak ada perempuan lain di surga. Di surga ada malaikat, tetapi mereka tidak digambarkan sebagai laki-laki atau perempuan. Di surga juga ada iblis/setan, yang merupakan salah satu dari jin.

Di dalam ayat tersebut, Allah Swt. memasukkan Hawa dalam sapaan-Nya kepada Adam, dan ia diberi nama Hawa karena ia adalah ibu dari seluruh bangsa manusia. Allah Swt. menjelaskan kepada kita bahwa setiap ciptaan-Nya diciptakan berpasangan.

 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari satu diri, dan dari padanya Allah menciptakan pasangannya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan [mempergunakan] nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan [peliharalah] hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu,” [Q.S. al-Nisa: 1].

 

Seandainya Hawa adalah tulang rusuk Adam, maka Allah akan berfirman “وجعل منها زوجها” (Dan dari padanya Allah menjadikan pasangannya). Kata “جعل” (menjadikan) artinya mengambil sebagian dari suatu materi dan menjadikannya apa saja yang dikehendaki-Nya. Firman Allah “وخلق منها زوجها” (Dan dari padanya Allah menciptakan pasangannya) adalah ungkapan tentang penciptaan yang baru dan mandiri. Seakan-akan Allah Swt. hendak berfirman: “Dia menciptakan Hawa sebagaimana Dia menciptakan Adam,” dan sebagaimana Allah menjelaskan bahwa Dia menciptakan Adam dari tanah, maka Dia juga menciptakan Hawa dari tanah.

Sebagian ulama berpendapat bahwa Hawa diciptakan dari diri Adam, dan mereka bersandar pada makna zhahir firman Allah: “وخلق منها زوجها”, yang berarti bahwa Hawa diciptakan dari bagian tubuh Adam. Karena “من” (dari) menunjukkan pemisahan bagian, yaitu tulang rusuk Adam. Tetapi Q.S. al-Nisa`: 1 sebenarnya tidak menunjukkan hal ini; ayat ini berbicara tentang Allah Swt. yang memuliakan semua laki-laki dan perempuan, dan Dia memberitahu kita bahwa Dia menciptakan manusia dari “satu diri” (نفس واحدة), dan dari “satu diri” inilah Dia menciptakan pasangan. Di sini yang dimaksud dengan “satu diri” adalah diri kemanusiaan yang merepresentasikan sifat manusia. “Diri” ini terdiri dari materi dan ruh, beserta seluruh organ dan sistemnya, yang membentuk tubuh fisiknya, termasuk emosi, perasaan, sifat, naluri, keinginan, harapan, dan cita-cita, serta hati, jiwa, persepsi, pemikiran, dan imaninasi. Wujud manusia ini adalah “diri” yang diciptakan oleh Tuhan.

Allah menciptakan dari “satu diri” itu laki-laki, dan Dia juga menciptakan dari “satu diri” itu perempuan. Model praktis pertama dari “satu diri” itu adalah Adam, bapak umat manusia, dengan segala karakteristik dan ciri fisiknya. Model kedua adalah Hawa, yang diciptakan Tuhan dan menjadikannya pasangan bagi Adam, dan diwakilkan jiwa yang tunggal itu dengan segala karakteristik dan ciri fisiknya. Oleh Allah keduanya diberikan perbedaan-perbedaan individual—secara biologis, secara emosional—, sehingga masing-masing dapat memainkan peranannya dalam kehidupan. Artinya, laki-laki adalah manusia yang mempunyai jasad, jiwa dan kepribadiannya sendiri. Demikian juga perempuan adalah manusia yang mempunyai jasad, jiwa dan kepribadiannya sendiri, sama kuat dan terhormatnya dengan laki-laki, serta tidak lebih rendah status dan kedudukannya dari laki-laki.

Yang dimaksud “satu diri” dalam Q.S. al-Nisa`: 1 bukanlah Adam, sehingga tidak bisa dikatakan bahwa Allah menciptakan dari Adam pasangannya, Hawa; melainkan Allah menciptakan “diri kemanusiaan” yang darinya Dia menciptakan Adam dan darinya pula Dia selanjutnya menciptakan Hawa. Kemudian dari keduanya lahir banyak laki-laki dan perempuan.

Menariknya, pembicaraan tentang “satu diri” yang darinya Allah menciptakan laki-laki dan perempuan ada di awal surah al-Nisa` yang banyak membahas tentang perempuan dan hukum-hukumnya. Hal ini menunjukkan bahwa al-Qur’an—dan Islam—sangat menghormati perempuan dan memandangnya sebagai wujud yang mulia dan luhur yang diciptakan dari “satu jiwa” yang darinya juga laki-laki diciptakan.

Di banyak literatur lama yang menyebutkan bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk kiri Adam, yang sebenarnya bertentangan dengan al-Qur`an dan sunnah. Allah dengan tegas mengatakan, “Dia menciptakan kamu dari satu diri, dan dari padanya Allah menciptakan pasangannya.” Seperti yang terlihat, ayat ini sama sekali tidak menyebut tulang rusuk. Nabi Saw. bersabda: “إن المرأة خلقت من ضلع” (Sesungguhnya perempuan diciptakan dari tulang rusuk). Hadits ini hanya menyebut tulang rusuk, dan tidak menyebut tulang rusuk Adam. Artinya, hadits ini sebenarnya hendak menunjukkan sifat, fitrah, ruh dan perasaan perempuan, seperti dalam firman Allah: “خلق الإنسان من عجل” (Manusia diciptakan dari ketergesa-gesaan) [Q.S. al-Anbiya`: 37]. Allah berfirman demikian dikarenakan manusia itu bertabiat tergesa-gesa di dalam semua tindakannya, sehingga seolah-olah ia diciptakan darinya. Oleh sebab itu, dalam lanjutan haditsnya Nabi bersabda: “وإن ذهبتَ تقيمها كسرتها، وكسرها طلاقها” (Jika engkau memaksa untuk meluruskannya, engkau akan memecahkannya. Dan pecahnya adalah talaknya). Dan disebutkan bahwa Allah berfirman: “خلقت خلقا من طين كآدم” (Aku menciptakan ciptaan yang mandiri dari tanah seperti Adam).

Sejumlah ulama berupaya memberikan tafsir terhadap hadits Nabi di atas, berdasarkan makna literalnya, bahwa Hawa memang diciptakan dari tulang rusuk Adam, tetapi bukan untuk merendahkan status dan kedudukan perempuan; sebab Hawa diciptakan dari makhluk hidup yang berasal dari tanah, yaitu tulang lunak pada lambung Adam. Ibnu Abbas berkata: “Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam yang lebih pendek di sisi kiri ketika ia sedang tidur.” Maksudnya, Adam tertidur pada hari Hawa diciptakan darinya, seolah-olah itu adalah proses kloning. Dan dikatakan juga bahwa Hawa diciptakan dari sumsum tulang rusuk, karena setiap tulang rusuk memiliki sumsum; perempuan dikeluarkan dari laki-laki setelah sebelumnya ia berada di dalam diri laki-laki. Di sini seolah-olah terjadi proses pemisahan antara kelaki-lakian dan keperempuanan sehingga kemudian masing-masing menjadi wujud yang mandiri.

Tetapi yang pasti, sebagaimana dijelaskan sebelumnya, hadits Nabi tidak menyebutkan “ضلع آدم” (tulang rusuk Adam), melainkan hanya “ضلع” (tulang rusuk). “ضلع” di antara maknanya adalah “مشقة” (kesulitan), “تعب” (kelelahan), “اعوجاج” (kebengkokan), seperti dijelaskan di dalam kamus-kamus.

 

استوصوا بالنساء خيراً فإن المرأة خُلقت من ضِلْعٍ، وإنَّ أعوجَ ما في الضِّلْعِ أعلاه، فإن ذهبتَ تقيمُهُ كسرتَهُ، وإن تركتَهُ لم يزل أعوجَ، فاستوصوا بالنساء خيراً

Berwasiat baiklah kalian kepada kaum perempuan, karena sesungguhnya perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk dan sesungguhnya selengkung-lengkungnya tulang rusuk ialah bagian yang teratas. Maka jika engkau mencoba meluruskannya, maka engkau akan mematahkannya dan jika engkau biarkan saja, maka ia akan tetap lengkung selama-lamanya. Oleh sebab itu, maka berwasiat baiklah kepada kaum perempuan.”

 

Hadits ini tidak secara lugas menyatakan bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam, dan hadits ini juga tidak secara spesifik berbicara tentang Hawa, melainkan berbicara tentang perempuan pada umumnya. Nabi menggunakan “tulang rusuk” sebagai metafora, bukan hakikat, untuk memberikan penekanan pada perintah berwasiat dan bersikap baik terhadap perempuan, karena secara fisik perempuan lebih lemah dari laki-laki, sehingga harus diperlakukan dengan baik, lembut dan penuh kasih sayang; karena di masa Nabi perempuan diperlakukan sewenang-wenang, bahkan sampai dikubur hidup-hidup dan tidak mendapat warisan, dan yang lebih parah lagi perempuan itu sendiri yang diwariskan. Di sini sabda Nabi hadir dalam konteks memberikan perintah untuk memperlakukan perempuan dengan baik.

Hadits-hadits yang menyebutkan kata “tulang rusuk” itu hanya sebagai kiasan, yang menggambarkan sifat perempuan pada umumnya. Apakah perempuan diciptakan dari kaca yang digunakan untuk membuat botol? Tentu saja tidak. Jika Nabi menggunakan kata ini, maka itu hanya metafora, bukan kenyataan, seperti sabda beliau berikut:

 

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ أَتَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى بَعْضِ نِسَائِهِ وَمَعَهُنَّ أُمُّ سُلَيْمٍ فَقَالَ وَيْحَكَ يَا أَنْجَشَةُ رُوَيْدَكَ سَوْقًا بِالْقَوَارِيرِ

Dari Anas bin Malik ra., ia berkata, Nabi Saw. menemui sebagian istrinya, sementara Ummu Sulaim bersama mereka, maka beliau bersabda: ‘Hati-hati wahai Anjasyah, pelan-pelanlah jika mengawal sesuatu yang diibaratkan dengan botol (barang yang mudah pecah; maksudnya para perempuan).”[]