Semua Agama Mengajarkan Melestarikan Alam, Apakah Pengikutnya Bisa Mengamalkannya?

Oleh: Dayu Akraminas

Salah satu doktrin yang diajarkan dari setiap agama adalah berbuat adil. Keadilan menjadi norma keseimbangan yang tidak hanya berlaku sesama manusia, tetapi juga kepada alam. Apakah penganut agama dapat mengamalkannya?

Agama mengajarkan melestarikan alam. Istilah agama berasal dari kata “a” yang berarti tidak, dan “gama” yang berarti kacau. Ada juga kelompok memahami istilah agama, yaitu “a” yang berarti tidak, dan “gam” yang berarti pergi atau berjalan. Kedua istilah ini memiliki orientasi berbeda. Kelompok pertama, agama adalah sejenis regulasi peraturan yang menghindarkan manusia dari kekacauan, serta mengantar manusia menuju keteraturan, ketertiban, dan kebahagiaan. Dan kedua, pengertian agama adalah tidak pergi, tetap di tempat, kekal-eternal, terwariskan secara turun-menurun.

Dalam Islam, kata agama dikenal dengan istilah al-dīn. Menurut Fāris bin Zakariyā, term al-dīn diartikan dengan kepasrahan dan ketundukan misalnya qaum dīn yaitu kelompok manusia yang pasrah dan tunduk. Hans Wer sedikit menyederhanakan, bahwa al-dīn sebagai faith (iman) dan belief (kepercayaan). Secara komprehensif, Ismail al-Faruqi berpandangan bahwa agama merupakan inti hakikat dan esensi dari peradaban, dalam hal ini agama merupakan dasar dari semua keputusan dan tindakan.

Terminologi ini penting dijelaskan untuk melihat posisi agama dalam memandang alam, karena agama memberikan dampak yang luar biasa bagi manusia. Agama menjadi legalitas kesadaran manusia untuk memberikan legitimasi argumen dalam bertindak. Setiap agama memiliki sumber rujukan yang biasa disebut sebagai kitab suci. Pemahaman yang berbasis kepada kitab suci akan mampu mengubah secara fundamental pandangan umat manusia tentang hakikat alam.

Kitab suci menjadi otoritas penting dalam membentuk paradigma masyarakat. Hal ini hanya bisa dibentuk bila masyarakat yang beragama tersebut tunduk terhadap gagasan ide yang lahir dari otoritas kitab suci yang diyakini. Seperti seorang muslim, yang menyakini sepenuhnya otoritas kebenaran isi Al-Quran.

Intinya setiap agama memiliki nilai yang sama, dan ini dimuat dalam kitab suci mereka. Sejatinya semua agama mengajarkan melestarikan alam. Kesamaan yang dimaksud adalah memiliki kesamaan nilai universal. Meskipun ada banyak hal untuk dibedakan, setidaknya ada beberapa kesamaan. Puncak kesamaannya adalah mengajarkan untuk berbuat adil. Keadilan menjadi fondasi etis, sebagai norma dalam tatanan kehidupan. Keadilan membentuk kehidupan yang ideal, dan ini juga berdampak kepada kelestarian alam.

Keadilan membentuk keseimbangan antara Tuhan, manusia dan alam. Ajaran ini ditemukan dalam setiap agama. Baik itu Islam, Kristen, Hindu, Budha, dan lainnya. Dalam ajaran kitab suci mereka termasuk Islam, memandang alam memiliki sakralitas tersendiri, sebagai upaya menjaga eksistensi manusia. Kitab suci dapat memberikan pemahaman secara komprehensif dalam memandang hubungan antara manusia dengan Tuhan dan alam sebagai kesatuan yang tidak terpisahkan.

Dalam ajaran agama-agama tersebut, dapat membuat manusia lebih menghargai eksistensi alam sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan, hal ini akan menciptakan hubungan harmonis antara manusia dan alam, dan pada akhirnya menghasilkan kehidupan yang lebih baik pada ekosistem di bumi ini. Alam yang sehat, pasti memberi dampak positif pada kesehatan manusia, sehingga hidup manusia semakin berkualitas. Sebaliknya alam yang buruk akan mengancam eksistensi hidup dan kehidupan manusia, kesehatan manusia buruk, kualitas hidup manusia menjadi rendah, atau bahkan mungkin saja manusia tidak dapat hidup lagi saat alamnya musnah.

Kitab suci setiap agama memberikan kontribusi khazanah pengetahuan untuk bisa menanggulangi masalah krisis lingkungan. Itu sebabnya, beragama tanpa menerapkan isi kandungan kitab suci akan berdampak kepada pengamalan sehari-hari, dan ini juga bisa berpengaruh kepada alam. Faktor terjadinya krisis lingkungan adalah orang beragama sudah melupakan ajaran keimanan mereka dalam kitab sucinya. Termasuk seorang muslim yang lupa dengan isi kandungan al-Qurannya.

Inilah yang terjadi saat ini khususnya di Indonesia. Selain faktor menipisnya spritualitas manusia modern, tetapi juga menipisnya pengamalan berbasis kitab suci bahkan sudah mulai dilupakan, sehingga menyebabkan mereka kehilangan kontak dengan sakralitas segala sesuatu. Termasuk memandang alam yang sudah hilang dari sakralitasnya.

Pada akhirnya, manusia tersebut beranggapan bahwa alam hanyalah sebatas benda mati yang perlu dieksploitasi secara bebas. Sementara itu, persoalan spiritual adalahbagian inti dari setiap ajaran agama. Karena itu, mengenali aspek spiritualitas dalamsetiap agama menjadi penting, sebagai upaya menumbuhkan kembali koneksi antara manusia dengan sakralitas segala sesuatu yang sempat hilang oleh arus modernisasi.

Itulah mengapa, banyak tudingan yang menyebut bahwa agama telah menjadi inspirator dibalik krisis lingkungan. Agama, dengan segala ajarannya, dianggap telah menginspirasi dan melegetimiasi para pengikut agama untuk melakukan eksploitasi terhadap alam.

Tudingan ini dilakukan secara ilmiah, hasil dari penelitian Lynn White dalam karya tulisnya berjudul “Historical Roots of Our Ecological Crisis. Dalam tulisan ini, White menuduh Yahudi dan Kristen sebagai pelaku yang ia maksud. Meskipun tudingan itu fokus kepada Yahudi dan Kristen, secara tidak langsung, hipotesa White ini berdampak kepada pengikut agama lainnya.

Ini bisa dijadikan inspirasi dan argumentasi bagi siapa pun untuk mempertanyakan sikap yang dimiliki oleh pengikut agama-agama lain, termasuk Islam tentangbagaimana doktrin agama mereka memposisikan alam.

Perlu dijelaskan, bahwa kesalahan ini bukan pada agamanya, tetapi pada umat beragama. Tuduhan Lynn White itu lebih tepat kepada pengikut agamanya. Umat beragama saat ini sudah mulai meninggalakan ajaran pokoknya, dan ini berdampak kepada alam. Solusinya adalah kembali kepada ajaran kitab suci. Menerapkan ajaran kitab suci secara komprehensif.

Sejatinya agama mengajarkan melestarikan alam. Salah satu doktrin yang diajarkan dari setiap agama adalah berbuat adil. Keadilan menjadi norma keseimbangan yang tidak hanya berlaku sesama manusia, tetapi juga kepada alam. Berbuat adil kepada alam bisa menumbuhkan jalinan harmonis antara manusia dengan alam. Tinggal bagaimana pengikutnya bisa mengamalkan ajaran tersebut dalam kehidupan sehari-harinya. Oleh karenanya, jangan lupakan ajaran agama.

Ustadz Dayu Aqraminas, M.Ag, M.H, Peserta Pengaderan Kiai Muda Sensitif HAM dan Gender asal Provinsi Jambi, Rumah Kita Bersama dan The Oslo Coalition University of Oslo – Norwegia, 2021

Memelihara Agama atau Jual Beli Agama?

Oleh : Dinda Shabrina

Saya masih terngiang-ngiang dengan kata-kata Kiai Moqsith dalam workshop penguatan kapasitas tokoh agama 23 Juni 2021 lalu yang diselenggarakan oleh Rumah KitaB. Saat itu ada yang bertanya pada beliau mana yang harus didahulukan dalam dharuriyat al-khams, hifdzud diin atau hifdzun nafs? Memelihara agama atau memelihara kemanusiaan? Beliau menjawab “memelihara kemanusiaan lebih didahulukan ketimbang memelihara agama”.

Tidak bisa orang melaksanakan maslahat ukhrawi jika maslahat duniawinya belum dikerjakan. Selama ini saya berpikir agama itu di atas segala-galanya. Tetapi setelah mendapatkan penjelasan dari Kiai Moqsith lewat beberapa contoh yang menurut saya sangat masuk akal, cara berpikir saya berubah. Seperti misalnya contoh, “kita tidak bisa membayar zakat jika kita miskin”, jika orang beribadah saja tanpa bekerja, seluruh orang Islam hanya menerima zakat saja, tidak bisa memberi zakat. Lalu contoh berikutnya “kita tidak bisa melakukan shalat ketika perut kita lapar”, ini sangat jelas dengan apa yang diajarkan nabi. Kita tidak akan mungkin bisa khusyuk mendirikan shalat ketika perut kita sedang lapar.

Rasulullah berkata:

إِذَا قُدِّمَ الْعَشَاءُ فَابْدَءُوا بِهِ قَبْلَ أَنْ تُصَلُّوا صَلاَةَ الْمَغْرِبِ ، وَلاَ تَعْجَلُوا عَنْ عَشَائِكُمْ

“Apabila makan malam sudah tersaji, maka dahulukanlah makan malam tersebut dari shalat maghrib. Dan janganlah kalian tergesa-gesa dari makan kalian .” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan terakhir contoh dari Kiai Moqsith tentang memelihara kemanusiaan lebih didahulukan ketimbang memilihara agama yang sangat menggugah hati saya betapa Islam sangat rahmatan lil’alamin “kamu hendak berwudhu untuk menunaikan shalat, lalu ada anjing kehausan, sementara air yang tersedia hanya cukup untuk berwudhu satu kali, maka berikan air itu untuk anjing kehausan, dan kamu tayamum”. Sungguh saya sangat kagum dan tersentuh sekali dengan ajaran Islam. Narasi atau ajaran keagamaan seperti ini sangat sedikit sekali bisa ditemukan di era ini. Etika kita dalam Islam kepada anjing saja seperti itu, apalagi etika kepada sesama manusia.

Sebuah cara pandang baru bagi saya ternyata untuk menegakkan agama kita tidak perlu atribut-atribut keagamaan. Dan untuk menjadi muslim yang kaffah, kita hanya perlu melakukan tugas kemanusiaan kita, memberi maslahat bagi diri sendiri, memberi maslahat bagi orang lain. Jika itu semua sudah dilakukan maka otomatis agama pun terpelihara.

Namun yang terjadi sekarang, orang-orang diarahkan untuk menegakkan agama dengan cara membalut diri mereka dengan pakaian serba syar’i. Semakin syar’i pakaian orang itu, maka dianggap semakin alim, semakin kaffah pula lah Islamnya. Dari dulu sebetulnya saya terganggu dengan fenomena ini. Semakin banyak orang berpakaian syar’i tetapi semakin banyak pula pertikaian terjadi baik sesama umat Islam maupun dengan yang berbeda keyakinan. Dan ini bisa dibuktikan tingginya kasus diskriminasi dan radikalisme dari tahun-tahun terakhir.

Fenomena serba syar’i ini pula yang dimanfaatkan kapitalisme untuk menjual segala hal dengan memanfaatkan “agama” atau “kesalehan” yang dikonstruksi sedemikan rupa. Sekarang bukan hanya pakaian yang syar’i. Benda-benda yang tidak ada hubungannya dengan peribadatan pun berlabel syar’i atau halal. Kulkas halal, komestik halal, sabun cuci piring halal, sepatu halal, kaos kakipun berlabel halal.

Tidak ada yang salah dengan berpakaian syar’i atau membeli semua barang berlabel halal tadi. Menjadi masalah ketika telah berpakaian syar’i lalu mencap orang yang tidak berpakaian seperti dirinya sebagai orang yang penuh dosa. Menjadi masalah ketika merasa berhak menceramahi orang lain di postingan foto sosial medianya dan membuat orang itu malu. Alih-alih menegakkan “hifdzud diin”, orang ini justru memunculkan keretakan antar sesama umat. Orang yang belum berpakaian syar’i akan kesal dan perlahan menaruh rasa kebencian pada orang-orang yang berpakaian syar’i. Keduanya menaruh prasangka yang berujung bertikaian.

Rupanya jualan agama ini bukan hanya berbentuk produk atau barang. Tetapi juga berkedok layanan jasa dan “pendidikan”. Sekarang banyak ditemui kelas-kelas pra nikah syar’i. Atau biro jodoh untuk menemukan pasangan hidup yang saleh/salehah. Bahkan yang paling parah dan paling mengejutkan saya adalah “workshop poligami” yang dipasangi tarif cukup tinggi, 4 juta per orang. Saya betul-betul menyaksikan hari ini agama betul-betul diperjualbelikan. Semua dilabeli “syar’i”, “sunnah” dan “halal” hanya untuk meraup keuntungan.

Dan yang paling mengerikan dari fenomena ini semua adalah ternyata perempuan dijadikan objek utama dari jual beli “agama” ini. Pakaian syar’i paling gencar dipromosikan untuk perempuan. Jilbab, gamis, mukena, sendal, khimar, dll. Produk kecantikan untuk merawat tubuh agar terlihat cantik di mata suami juga untuk perempuan. Kelas pra nikah syar’i juga lebih banyak menekankan agar perempuan tunduk dan patuh pada suami. Dan yang terakhir workshop poligami “berburu madu” yang dibalut dengan label sunnah atau syar’i itu hanya kedok agar menjadikan perempuan sebagai objek kenikmatan seksual laki-laki menjadi halal di dalam Islam.

Dari semua fakta yang kita lihat sekarang ini, fenomena serba halal dan syar’i, apakah pertanyaan kita masih “mana yang didahulukan, memelihara agama atau memelihara kemanusiaan?” Atau sudah berubah menjadi, “apakah kita benar-benar memelihara agama?”. []

Reportase Sosialisasi Modul PAUD Bagi Guru-guru Wilayah Cianjur

Rumah Kita Bersama (Rumah KitaB) atas dukungan University of Oslo, Norway menyelenggarakan sosialisasi bagi guru-guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) wilayah Cianjur.

Kegiatan tersebut diselenggarakan secara online selama dua hari, 8-9 Juli 2021 menggunakan platform Zoom Meeting. Menghadirkan 30 peserta yang berasal dari Cianjur. Metode daring ini digunakan untuk mengurangi penularan covid-19 yang sedang melonjak.

Sosialisasi ini menghadirkan narasumber ahli yang juga merupakan tim penulis buku modul, Regha Rugayah. Selain itu juga mengundang Acintya Tustacitta sebagai narasumber kegiatan sosialisasi ini. Faurul Fitri, Fadilla Putri, dan Jamaluddin Muhammad, selaku tim penulis buku modul juga menyampaikan materi pada kegiatan ini.

Kegiatan ini dibagi menjadi dua hari dengan agenda hari pertama yaitu sosialisasi Bab 1 mengenai Prinsip-prinsip dalam Pendidikan Karakter dan Bab 2 mengenai Manajemen dan Pengorganisasian dalam Pendidikan Karakter, kemudian hari kedua membahas Bab 3 mengenai Metode Mengajarkan Pendidikan Karakter dan Bab 4 mengenai Alat Ukur Keberhasilan Pendidikan Karakter berbasis Partisipasi Anak.

Faurul Fitri sebagai narasumber pertama menyampaikan secara umum keseluruhan isi modul “Mendampingi Anak Didik Belajar dengan Gembira dan Berakhlakul Karimah Aktif” yang telah disusun oleh Yayasan Rumah Kita Bersama. Penyampaian isi keseluruhan ini menjadi gambaran singkat dan jembatan untuk penyampaian dua materi khusus yang ada pada Bab 1 yaitu materi mengenai toleransi dan cinta tanah air.

Fadilla Putri menyampaikan mengapa materi toleransi penting untuk diajarkan, hal ini dikarenakan ditemukannya beberapa kasus praktik-praktik intoleransi yang justru diajarkan di Sekolah misalnya di awal tahun 2020 lalu salah satu Sekolah Negeri yang semestinya muridnya beragam kemudian Pembina Pramukanya mengajarkan tepuk pramuka dengan kalimat “Islam Yes Kafir No”. Hal tersebut merupakan salah satu cara didik yang tidak bijak karena berpotensi mengajarkan kebencian.

Hal tersebut didukung oleh penyampaian Jamaluddin Muhammad. Ia menyampaikan bahwa cinta tanah air adalah materi yang saling berkaitan. Menumbuhkan perasaan cinta tanah air akan mengajarkan anak untuk mengenal, menghargai dan menghormati keberagaman karena kita hidup di sebuah negara yang multikultural. Negara yang memiliki banyak bahasa, etnis, agama, kebudayaan dan lain-lain artinya sebuah negara yang masyrakatanya plural juga multikultural sehingga penting dalam konteks menjaga nilai dan menanamkan nilai cinta tanah air ini mengenalkan dan menghargai keberagaman tersebut.

Pengajaran materi-materi khusus tersebut secara rinci dijabarkan oleh Regha Rugayah pada Bab 2 mengenai Manajemen dan Pengorganisasian dalam Pendidikan Karakter. Didalam Bab tersebut dijelaskan mengenai Sasaran Pengguna Pendidikan Karakter Anak Usia Dini dan hal-hal yang harus diperhatikan oleh pengguna Pendidikan Karakter.

Hari kedua sosialisasi dimulai dengan review oleh Achmat Hilmi kemudian dilanjutkan membahas Bab 3 Metode Mengajarkan Pendidikan Karakter oleh Regha Rugayah dan Bab 4 mengenai Alat Ukur Keberhasilan Pendidikan Karakter berbasis Partisipasi Anak oleh Acintya Tustacitta.

Kegiatan sosialisasi modul Pendidikan Karakter Mendampingi Anak Didik Belajar dengan Gembira dan Berakhlakul Karimah Aktif ditutup dengan kuis dan foto bersama.[]

Pentingnya Perspektif Spiritual Agar Kita Tak Gampang Merusak Alam

Oleh: Dayu Akraminas

Meskipun manusia diberi kebebasan untuk mengolah dan memanfaatkan lingkungan, namun tetap harus memperhatikan kelestarian alam.

Perlu pengakuan dari kita, bahwa alam semesta adalah ciptaan Tuhan. Tentunya hanya Dia yang berkuasa penuh, dan mengendalikan (taskhīr) alam ini. Terlepas dari perbedaan orientasi penafsiran tentang bagaimana proses penciptaan alam, atau bagaimana Allah menjalankan kuasa-Nya atas alam, tetapi ada titik kesamaan bahwa hanya Allah sebagai Pencipta dan Penguasa alam.

Pandangan ini perlu ditegaskan karena hal tersebut yang membedakan pandangan dunia Islam dengan paham sekuler yang sebagian dari mereka beranggapan bahwa alam semesta ini bukan dari ciptaan Tuhan dan bukan di bawah kekuasaan Tuhan. Doktrin seperti ini hanya membuat manusia lebih bias dan leluasa untuk mengeksploitasi terahadap alam, karena tidak ada pengakuan tentang kepemilikan segala sesuatu di alam, sehingga manusia dengan bebasnya memperlakukan alam.

Untuk itu perlu dijelaskan bahwa alam merupakan anugerah dari Allah. Kita tidak mempunyai hak kepemilikan sedikitpun atas alam. Kita hanya sebagai konsumen, memanfaatkan alam bagi kebutuhan hidup. Alam memiliki kedudukan yang sama dengan makhluk lainnya. Ia memiliki kesakralan dan kesucian, sebab alam dan manusia merupakan makhluk yang diciptakan berdasarkan pantulan cermin Allah (tajallī: manifestasi).

Allah menciptakan alam dan seisinya tidak dengan sia-sia. Islam sangat menekankan keyakinan terhadap kebaikan alam. Dan Islam juga menekankan, bahwa manusia juga bertangung jawab untuk melindungi, merawat dan melestarikan alam. Menurut Mulyadi Kartanegara, bahwa manusia diberi kelebihan oleh Allah atas makhluk lainnya sehingga diberi amanah untuk menjaga, mengelola alam semesta, bertanggung jawab pada semua aspek keberlangsungan dan keteraturan alam semesta ini.

Begitu juga dalam pandangan Ibn ‘Arabī, bahwa alam yang yang suci ini bukan semata-mata untuk dijadikan tempat bernaung semua makhluk, tetapi dia harus dilestarikan. Sebab, alam merupakan media Tuhan dalam menampakkan dirinya (tajalli).

Alam menyimpan informasi-informasi ilahiah yang memerlukan penelusuran secara mendalam. Alam bukan lagi dipandang relitas yang kosong, tidak memberi makna bagi manusia, melainkan alam memiliki keistimewaan yang menjadi media untuk mengenal Allah. Selain itu juga alam merupakan kreativitas Tuhan yang perlu dihormati, yang pada akhirnya dapat membantu manusia mencapai kebahagian lahir dan batin.

Melihat Alam dengan Perspektif Spritual

Dimensi spiritual memungkinkan manusia untuk hidup secara rohani dalam menghayati totalitas eksistensinya dalam alam. Dimensi ini bisa dibentuk dengan cara mengubah paradigma memandang alam bukan lagi instrumen yang harus dieksploitasi, tetapi alam juga bisa dijadikan sarana spritual untuk mengenal Allah.

Mengutip pendapat Henryk Skolimowski, Ia memberikan tawaran yang menarik untuk memandang alam semesta ini secara spiritual. Dia mendefinisikan spiritulitas sebagai esensi yang diperoleh dari kondisi manusia yang berinteraksi dengan alam.

Kemungkinan pengalaman manusia dalam berinteraksi dengan alam berbeda-beda dari satu budaya dengan budaya yang lainnya, atau dari satu kondisi dengan kondisi yang lainnya. Meski berbeda, spiritualitas tidak bersifat aksidental, melainkan esensial.

Menurutnya, spiritualitaslah yang membuat jati diri manusia itu lebih dikenal, bahkan sebagai sarana untuk kesadaran diri. Aspek-aspek kesadaran diri manusia ini menurut Skolimowski harus diukur dari aspek spiritualitas. Aspek ini dimulai dari menganggap alam yang mempuanyai kesakralan tersendiri.  Ketika alam ini dilihat sebagai makhluk yang mempunyan kesakralannya, maka peran manusia dalam melihat kesakralan ini dengan menjaga dan melindunginya.

Artinya, paradigma berpikir dan tindakan manusia harus diubah dari yang materialistik dan instrumental menjadi spiritual. Dimensi spiritual ini harus ada dalam pikiran manusia.  Bila pikiran manusia berisi aspek spiritual, maka tindakan manusia terhadap alam juga cenderung spiritual.

Setelah terbentuknya dimensi spritual pada manusia, maka dengan sendirinya manusia bersikap baik dan adil terhadap alam. Sikap adil itu menujukkan kebijaksanaan seseorang, ketika alam memperlakukan manusia dengan baik dan lembut, semestinya perlakuan manusiapun juga demikian. Bukan justru berbuat kerusakan.

Dengan begitu, kehidupan yang baik tidak mungkin dilepas dari relasi harmonis antara manusia dan alam. Menjalin keharmonisan antara manusia dan alam merupakan visi ekologi spiritual. Dimensi spiritual seperti ini seharusnya membuat manusia peka dan sadar diri untuk memperbaiki kualitas hubungan spiritual dengan ciptaan-Nya yang lain, entah itu hubungan manusia dengan manusia, maupun hubungan manusia dengan alam.

Saat ini, tren bencana akibat kejahatan manusia terhadap alam perlu diperbaiki kembali. Membentuk kualitas harmonis dengan alam, menjaga dan melestarikan alam, sebab kebaikan seperti itu merupakan bentuk spritual kita kepada Maha Pencipta. Merawat alam juga bagian dari merawat iman.

Optimal Memanfaatkan Alam, Bukan Berarti Bebas Merusak

Meskipun manusia diberi kebebasan untuk mengolah dan memanfaatkan lingkungan, namun tetap harus memperhatikan kelestarian alam. Inilah yang kemudian melahirkan konsep bahwa kemashlahatan pribadi tidak boleh mengabaikan kemaslahatan umum atau untuk orang banyak.

Dalam tradisi ushul fiqih, realitas ini sejalan dengan kaidah “al-mashlahah al-‘āmmah muqaddam ‘ala al-mashlahah al-fardhiyyah” (kemaslahatan umum/kolektif harus didahulukan dari pada kepentingan individu/khusus).

Kaidah ini berorientasi kepada pemanfaatan alam secara etis. Artinya berlebih-lebihan merupakan tindakan yang tidak dibenarkan. Fondasi ini bagian dari dimensi etis-spritual. Dengan begitu perintah untuk memelihara lingkungan, hendaknya dipahami sebagai kewajiban kita sebagai Khalifah fi Ard.

Alam merupakam anugerah Allah yang harus dinikmati seluruh manusia, bahkan makhluk hidup lainnya. Semua kebelangsungan hidup makhluk bergantung kepada alam. Jahat sekali, bila ada kepentingan individu untuk mengeksploitasi alam dengan tujuan memenuhi hawa nafsu sendiri. Memanfaatkan alam harus sejalan dengan prinsip kemaslahatan ummat bukan individu

Al-Qur’an memberikan standarisasi untuk memanfaatkan alam secara optimal. Kita diberikan kebebasan untuk mengelola alam, dan meikmati hasilnya. Standarisasi yang dimaksud adalah etis tanggungjawab dan berkeadilan. Kedua sikap ini mencermikan spritualiatas yang dibangun atas amanah yang diberikan oleh Allah kepada manusia.

Itu sebabnya manusia ditunjuk menjadi wakil Tuhan. Karena memiliki potensi untuk berbuat adil. Keadilan merupakan prinsip dasar untuk menjadi wakil Tuhan, tetapi manusia juga memiliki potensi membuat kerusakan terhadap alam. Prinsip kerusakan ini berdasarkan hawa nafsu. Prinsip ini dimiliki setiap manusia, ia hanya bisa dikalahkan dengan keadilan. Mementingkan kemaslahatan ummat membuktikan kebijaksaan seseorang dan menjalankan amanahnya sebagai wakil Tuhan.

Memelihara alam juga merupakan bentuk perwujudan keadilan yang universal bagi seluruh makhluknya. Kepedulian terhadap alam tidak hanya untuk kemaslahatan alam itu sendiri, tetapi untuk kemaslahatan ummat sebagai jaminan keberlangsungan hidup manusia.

Memelihara alam juga memiliki nilai yang baik, tidak hanya pahala yang didapat, imanpun akan bertambah. Begitu juga dalam spritual, memelihara alam merupakan tindakan yang sejalan dengan sifat-sifat Allah, karena alam merupakan manifestasi-Nya.

Kiai Dayu Aqraminas, M.Ag, M.H, Peserta Pengaderan Kiai Muda Sensitif HAM dan Gender asal Provinsi Jambi, Rumah Kita Bersama dan The Oslo Coalition University of Oslo – Norwegia, 2021.

Tak Shalat Jumat Karena Takut Corona, Menyoal Sikap Tokoh Agama yang Menolak PPKM Darurat

Oleh: Achmat Hilmi

Melihat ancaman yang tinggi dari penyebaran virus corona varian delta ini, dapat dilihat dari bukti data-data di atas, maka sudah selayaknya dan kewajiban bagi tokoh agama menyerukan kepada umatnya untuk mengikuti peraturan pemerintah.

Pemerintah memberlakukan PPKM Darurat Jawa Bali. Setelah angka kenaikan Covid-19 pada bulan Juli 2021 yang makin meningkat drastis, khususnya di Jakarta dan beberapa provinsi di Indonesia, lima di antaranya, DKI Jakarta  (482.264, atau 23,9 persen), Jawa Barat (350.719, atau 17,4 persen), Jawa Tengah (232.839, atau (11,5 persen), Jawa Timur (165.013 atau 8,2 persen), Kalimantan Timur (74.069 atau 3,7 persen).

Kenaikan drastis itu dapat dilihat dari jumlah kenaikan kasus hariannya, seperti yang terjadi pada 7 Juli 2021, tembus di angka 34.379. Berdasarkan angka ini, kasus harian Covid-19 di Indonesia merupakan yang tertinggi di dunia. Jadi benar keterangan pengurus IDI (Ikatan Dokter Indonesia), masuknya covid-19 varian delta ini membuat keadaan di Indonesia tidak sedang baik-baik saja, bahkan sangat mengkhawatirkan. Masuknya virus corona varian delta membuat penyebaran covid sangat cepat, bahkan hanya dengan membuka masker 5 detik virus itu langsung berpindah dengan cepat.

Cara kita memakai masker pun harus berubah, yang sebelumnya menggunakan satu lapis masker, dan kini harus dua masker. Banyak dari mereka yang meninggal diakibatkan karena belum divaksin. Di sisi lain kesadaran masyarakat sangat lemah, proses edukasi yang lambat pada akhirnya tidak membuahkan hasil.

Pemerintah telah memberlakukan PPKM Darurat untuk wilayah Pulau Jawa dan Bali terhitung sejak 3-20 Juli 2021. Semua sektor esensial diperbolehkan WFO seratus persen, sementara sektor non esensial diwajibkan WFH, termasuk penutupan sementara Rumah Ibadah.

Problemnya adalah masih terdapat ragam protes di kalangan masyarakat, terutama dari sebagian kecil tokoh agama menolak penutupan masjid di masa pandemi, yang berkonsekuensi pada peniadaan kegiatan ibadah rutin seperti shalat berjamaah dan shalat Jumat.

Shalat Jumat ditiadakan, bagaimana menurut agama?

Melihat ancaman yang tinggi dari penyebaran virus corona varian delta ini, dapat dilihat dari bukti data-data di atas, maka sudah selayaknya dan kewajiban bagi tokoh agama menyerukan kepada umatnya untuk mengikuti peraturan pemerintah, karena pemerintah telah melakukan berbagai kajian dan telah mendengarkan berbagai ahli kesehatan, dan telah melihat masifnya penyebaran virus corona ini di beberapa provinsi.

Tentu saja rumusan agama tertulis, dan telah ribuan tahun menjadi acuan bagi para pakar hukum Islam, yaitu

درء المفاسد مقدم على جلب المصالح

“Menolak berbagai mafsadah lebih didahulukan ketimbang membela berbagai kemaslahatan”

Didasari oleh hadits kanjeng Nabi,

عن أبي سعيد سعد بن سنان الخدري رضي الله عنه : أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ) لا ضرر ولا ضرار ( ، حديث حسن رواه ابن ماجة والدارقطني وغيرهما مسندا

Dari Abi Said bin Sinan Al-Khudri (Semoga Allah meridhainya), sesungguhnya Rasulullah Saw telah bersabda, ”Jangan berbuat kemadharatan dan Jangan menempatkan diri dalam bahaya”. (HR. Ibnu Majah dan Ad-Daruquthniy, dan lainnya. Hadits Hasan).

Pada prinsipnya, Syariat Islam memerintahkan meninggalkan kemadharatan. Dalam situasi pandemi Corona varian delta yang tersebar dengan sangat cepat dan dahsyat, dalam beberapa hari saja sudah terlihat angka kenaikan kasus Covid-19 yang masif, angka hariannya naik berkali-kali lipat dibandingkan masa awal pandemi di tahun 2020, maka wajib bagi setiap manusia menghindari Covid-19.

Menghindari Covid-19 merupakan salah satu prinsip dari pemeliharaan kehidupan dalam ”hifdzu al-nafs”. Allah Swt telah memuliakan semua hidup dan kehidupan manusia, tugas manusia hanyalah berikhtiar agar hidupnya menjadi lebih baik, dan pandai menjauhi kemadharatan.

Pertanyaannya bagaimana bila menghindari kemadharatan itu berbenturan dengan perintah beribadah? Sebenarnya tidak ada yang berbenturan, karena keduanya yaitu menghindari madharat dengan perintah ibadah sama-sama perintah syariat. Tujuan keduanya pun juga mendekatkan diri kepada Allah Swt. Seorang yang dalam posisi terancam tertular Covid-19 di tempat tinggalnya, dan kemudian sekuat tenaga menjaga prokes seperti menghindari kerumunan di berbagai tempat termasuk menghindari kerumunan di tempat ibadah, juga merupakan bagian dari pelaksanaan syariat Islam.

Syariat Islam memberikan perintah pelaksanaan ibadah, termasuk kewajiban pelaksanaan shalat Jumat dengan kriteria dan persyaratan tertentu. Pelaksanaan ibadah dilakukan setelah terpenuhi kewajiban perlindungan hidup dan kehidupan (hifdzu al-nafs). Pelaksanaan ibadah dalam Islam juga harus dilakukan di tempat yang mendukung keamanan muslim dan mendukung kekhusyukan ibadah. Dua hal ini harus dipenuhi terlebih dahulu, baru kemudian memenuhi kewajiban ibadah atau menggantinya dengan kewajiban ibadah yang lain.

Dasar argumentasi pelaksanaan shalat jumat, tidak perlu diragukan lagi, hukumnya fardhu ain bagi laki-laki,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا نُوْدِيَ لِلصَّلٰوةِ مِنْ يَّوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا اِلٰى ذِكْرِ اللّٰهِ وَذَرُوا الْبَيْعَۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ – ٩

Artinya : Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS. Al-Jumuah : 62:9)

Namun pemberlakuan hukum ini berdasarkan kriteria dan ketentuan yang telah digariskan oleh Syariat Islam, di antaranya adalah tidak bertentangan dengan pelaksanaan perintah melindungi hidup, dan menjauhi marabahaya yang mengancam tubuh, nyawa, dan hidup. Karena meninggalkan kemafsadatan adalah prioritas (dar’u al-mafâsid muqaddamun) di atas  semua bentuk klaim kemaslahatan (mashalih).

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“…dan janganlah kalian menjatuhkan diri kalian sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”(Q.S. Al-Baqarah: 2/195)

ولا تجب الجمعة على من في طريقه إليها مطر يبل الثياب, أو حل يشق المشي إليها فيه. إنتهى

“Dan tidak wajib shalat Jum’at bagi orang yang di jalannya terdapat hujan lebat yang membuat pakaian basah kuyup, atau (terdapat) lumpur yang sangat menyulitkan pejalan kaki”. (Al-Mugni, III/218)

Dalam kondisi saat ini, ancaman pandemi di wilayah Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur/Madura, sangat mengkhawatirkan, penyebarannya yang cepat, sangat membahayakan bagi jamaah, dan tentunya bagi keluarga jamaah, seperti isterinya, ibunya, ayahnya, atau anak-anaknya. Satu orang jamaah bisa menyebarkan Covid-19 varian delta ke seluruh anggota keluarga.

Pelaksanaan ibadah dalam Islam tidak kaku/rigid, banyak alternatifnya, pelaksanaan shalat Jumat dapat diganti dengan shalat zuhur di dalam rumah.

يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

”Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu”(QS. Al-Baqarah: 2/185)

Bahkan dengan melaksanaan shalat zuhur di dalam rumah pahalanya jauh lebih besar ketimbang pelaksanaan shalat Jumat di tengah pagebluk Covid-19, ada banyak orang yang diselamatkan seperti perempuan, lansia, anak-anak.

Sementara pelaksanaan shalat Jumat yang dipaksakan justru berpotensi besar mendatangkan dosa, bila ternyata dengan pelaksanaan shalat Jumat itu, jamaah membawa Covid-19 ke dalam rumah dan menyebabkan perempuan, lansia, dan anak-anak terancam nyawanya, apalagi bila kemudian Covid-19 itu menyebabkan kematian salah satu anggota keluarga. Dalam Fikih disebut pembunuhan tidak disengaja. (al-qatlu bi ghayri ’amdin), diyatnya mahal, termasuk tindakan kriminal (jinayah) dan dosanya sangat besar. Karena itu, PPKM Darurat sudah sesuai dengan ajaran agama. []

Asma Afsaruddin dan Pudarnya Perempuan dalam Lintasan sejarah

Asma Afsaruddin dan Pudarnya Perempuan dalam Lintasan Sejarah

Oleh: Nurhayati Aida

Jika selama ini isu perempuan dikaji dan didekati melalui disiplin ilmu, seperti fikih, tafsir, atau hadis. Asma Afsaruddin—seorang Profesor di Departemen Bahasa dan Budaya Timur di Indiana University—melihat isu perempuan melalui disiplin ilmu sejarah. Sesuatu yang tidak banyak dijamah oleh aktivis atau intelektual yang feminis untuk melihat kedudupan perempuan dalam islam.

Melalui kajian thabaqat—kitab yang berisi tentang biografi para tokoh dan ulama—, Asma menelusuri hilangnya peran perempuan dalam lintasan sejarah.

Dalam kajiannya ini, Asma menggunakan tiga thabaqat dari dua zaman yang berbeda. Pertama, adalah Thabaqat Kubra karya Abū ‘Abd Allāh Muḥammad ibn Sa’d ibn Manī’ al-Baṣrī al-Hāshimī atau yang biasa dikenal dengan Ibn Saʿ’d Ibn Sa’ad. Ulama yang hidup pada masa imperium Abbasiyah.

Kedua, Thabaqat yang ditulis oleh Ibn ‘Abd al-Barr berjudul al-Isti‘ab fi ma‘rifat al-ashabi. Sama dengan Ibn Saʿ’d, Ibn ‘Abd al-Barr juga hidup pada masa imperium Abbasiyah. Ibn ‘Abd al-Barr hidup di Andalusia—sebuah kota yang sekarang menjadi bagian dari Spanyol.

Thabaqat ketiga yang digunakan oleh Asma adalah Al-Iṣābah fī Tamyīz al-Ṣahābah yang ditulis oleh Ibn Hajar Al Asqalani. Berbeda dengan Ibn Saʿ’d dan Ibn ‘Abd al-Barr, Ibn Hajar Al Asqalani hidup pada Era Mamluk. Beberapa ulama di Era Mamluk ini di antaranya adalah Ibn Qayyim Al-Jauziyyah dan Ibn Jauzi—keduanya merupakan teolog yang condong ke mazhab Hanbali.

Melalui tiga thabaqat tersebut, Asma melihat adanya pergeseran paradigma mengenai aktivitas dan peran perempuan di ruang publik. Meskipun ketiga thabaqat itu menulis entri nama sahabat perempuan yang sama, seperti Umm Aiman, Umm Kulsum Bint Uqba, Umayya Bint Qais, Umm Sinan al-Aslamiyya, Ku‘ayba Bint . Sa‘d al-Aslamiyya, Umm Kabsha, Umm Habiba bt. Nabati al-Asadi, Nusayba Bint Ka‘b, Umm Waraqa Bint ‘Abd Allah Bin al-Harith. Akan tetapi, penulisan muatan entri cenderung memiliki muatan yang berbeda.

Dalam dua thabaqat yang ditulis oleh Ibn Sa’d dan Ibn ‘Abd al-Barr, menulis entri sahabat perempuan dengan jelas dan detail mengenai keterlibatan mereka dalam awal mula Islam, beriman dan berbaiat kepada Nabi Muhammad, ikut dalam prosesi hijrah, terlibat dalam beberapa jihad qital, dan memainkan peran yang penting dalam kehidupan keagamaan, seperti menjadi Imam, seperti Umm waraqah. Pun di dalam thabaqat keduanya, meski isi entrinya singkat dan padat tentang sahabat perempuan, tetapi muatannya terlihat adanya eksistensi dan kemandirian.

Sementara thabaqat yang ditulis oleh Ibn Hajar Al Asqalani cenderung melipat peran-peran perempuan di wilayah publik yang disebut dalam thabaqat Ibn Sa’d dan Ibn ‘Abd al-Barr. Kecenderungan Ibn Hajar Al-Asqalani tersebut, menurut Asma, terjadi karena di Era Mamluk dan Era Saljuk, para teolog mulai Menyusun semacam panduan tentang perilaku feminin yang benar. Pada era itu juga, mucul kitab seperti Ahkam al-Nisa’ yang ditulis oleh Ibn al-Jawzi. Pada dua bab awal di buku tersebut bahkan meminta perempuan untuk tinggal di rumah dan meminta perempuan untuk tidak keluar rumah. Kedua pembahasan itu berada di bab tahdhir al-nisa’ min al-khuruj dan fi dzikir fadl al-bayt li-‘lmar’a. Selain itu, Ibn Qayyim al-Jauziyya juga menulis buku Akhbar al-Nisa’.

Dengan melihat fakta ini, Asma menyebut bahwa perbedaan masa penulisan thabaqat dan paradigma moral memiliki andil dalam pudarnya peran aktif perempuan di ruang-ruang publik. Bahkan, Ibn Hanbal—yang menjadi rujukan Ibn al-Jawzi dan Ibn Qayyim al-Jauziyya, lebih longgar pandangannya dari kedua ulama tersebut.

Metode Andragogi dalam Modul Pelatihan: Upaya Membangun Kesadaran Berkeadilan Gender

 

Judul               : Modul Penguatan Kapasitas Membangun Narasi Pemenuhan Hak Perempuan Bekerja untuk Tokoh Agama

Tim Penyusun : Achmad Hilmi, Fadilla D.Putri, Lies Marcoes, Nur Hayati Aida, Nurasiah Jamil

Penerbit           : Yayasan Rumah KitaB atas dukungan DFAT-Investing in Women–2021

Tebal               : 126 halaman

 

Berdasarkan pantauan Rumah Kita Bersama (Rumah KitaB) sejak tahun 2013, pandangan yang membatasi perempuan bekerja semakin menyebar sebagai wacana dalam berbagai sendi kehidupan masyarakat Indonesia. Pandangan konservatif, mengenai ‘perumahan’ perempuan, ini terutama dipengaruhi oleh dakwah yang dilakukan para tokoh agama atau publik figur. Mereka menyuarakan pembatasan peran perempuan di sektor publik, termasuk pelarangan perempuan bekerja. Padahal, fenomena perempuan bekerja bukanlah hal tabu di negeri ini. Namun, ketika para agamawan berbicara dengan dalil agama, maka mayoritas masyarakat akan menerimanya, tanpa menelaahnya lebih mendalam.

Atas dasar itulah, Rumah KitaB berpandangan perlu adanya narasi tanding atas pembatasan perempuan bekerja. Lembaga ini bekerja sama dengan pemerintah Australia dalam program Inventing in Women menginisiasi pelatihan bagi tokoh agama atau penceramah. Adapun upaya awal untuk perubahan norma gender dalam masyarakat Indonesia ialah dengan membuat modul yang efektif dalam rangka penguatan kapasitas mereka sebagai peserta pelatihan. Modul tersebut didesain guna mencapai tujuan pelatihan, yaitu untuk membangun narasi pemenuhan hak-hak bekerja bagi perempuan dalam sudut pandang Islam.

Rumah KitaB sebagai lembaga riset berbasis kebijakan, untuk memperjuangkan hak-hak kaum termarjinalkan, menyadari bahwa tokoh agama atau penceramah merupakan subjek utama dalam konteks ini. Mereka berperan dalam memproduksi narasi berbasis teks keagamaan mengenai ‘perumahan’ perempuan. Pandangan ini berdampak pada diskriminasi terhadap perempuan yang memilih untuk bekerja atau terdesak memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Sedangkan, masyarakat akan memberikan stereotipe negatif terhadap mereka yang tidak mengindahkan seruan para penceramah; berarti tidak beragama secara kaffah.

Ditambah lagi peliknya problematika lainnya yang harus dihadapi perempuan bekerja. Mereka harus menghadapi beban ganda, serta minimnya ketersediaan infrastruktur penunjang seperti day care, ruang laktasi, cuti hamil, dan akses kesehatan reproduksi. Perempuan pun harus berjuang keras dalam konstestasi kerja yang acap kali memandang sebelah mata perempuan yang memiliki karir cemerlang. Faktanya, perkembangan global di era kontemporer ini membuka peluang bagi perempuan untuk berpartisipasi dalam berbagai sektor. Tantangan inilah yang disoroti Rumah KitaB untuk diselesaikan akar persoalannya. Dengan adanya pelatihan bagi penceramah di empat wilayah urban, yaitu Jakarta, Depok, Bekasi, dan Bandung diharapkan bisa mempengaruhi atmosfer narasi sosial-keagamaan yang tidak bias gender terkait “perempuan bekerja”.

Modul Sistematis, Modal Keberhasilan Pelatihan  

Modul ini disusun oleh Tim Rumah KitaB sebagai rujukan bagi fasilitator yang akan mendampingi peserta pelatihan yang notabene tokoh agama, penceramah, atau pemilik otoritas keagamaan. Sebagai panduan pembelajaran berkelanjutan, modul ini didesain untuk mengembangkan pandangan keagamaan yang progresif, serta terbuka pada gagasan Islam tentang hak perempuan bekerja. Adapun fasilitator ialah tim internal Rumah KitaB yang telah berpengalaman, serta memiliki pemahaman komprehensif terhadap modul.

Adapun dua tujuan utama yang hendak dicapai melalui modul ini: Pertama, memberi kemampuan kepada peserta pelatihan untuk memahami problem perempuan bekerja akibat pandangan keagamaan yang membatasi atau melarang perempuan bekerja. Kedua, peserta terampil menggunakan argumentasi keagamaan dalam mendukung atau melakukan pendampingan komunitas atau masyarakat di mana mereka beraktivitas berlandaskan pada narasi keagamaan tentang perempuan bekerja.

Setiap modul disusun dengan struktur yang sistematis untuk mendapatkan gambaran yang utuh tentang bagaimana pengertian, tujuan, dan cara-cara yang diterapkan dalam pelatihan. Adapun struktur materi sebagai berikut: Judul Materi; Deskripsi Materi; Tujuan; Pokok Bahasan; Waktu; Metode; Alat dan Bahan; Langkah-Langkah Kegiatan. Selain itu, modul ini dilengkapi dengan lembar-lembar petunjuk bagi fasilitator, seperti Pedoman Fasilitator (PF), Alat Bantu Belajar (ABB), Lembar Kerja (LK), Bahan Bacaan (BB), dan Bahan Tayang (BT).

Modul ini terbagi menjadi enam materi pembelajaran: 1) Perkenalan dan Pengantar; 2) Pandangan Masyarakat terhadap Perempuan Bekerja; 3) Gender dan Konstruksi Pemahaman tentang Perempuan Bekerja; 4) Metodologi Reinterpretasi Teks Keagamaan; 5) Strategi Mendukung Perempuan Bekerja dan Mengaktualisasikan Diri; 6) Rencana Tindak Lanjut dan Evaluasi. Merujuk pada urutan materinya, maka tampak alur berpikir yang logis. Selain itu, tim Rumah KitaB menyusun petunjuk praktis bagi fasilitator, sehingga modul dapat digunakan dalam pelatihan tatap muka (offline) maupun virtual (online).

Dalam pelatihan ini, gender dipakai sebagai perspektif dan alat analisis atas kesenjangan perempuan dalam mendapatkan haknya untuk bekerja dan menyusun advokasi untuk mengatasi problem tersebut. Adapun cakupan materi terfokus pada isu perempuan bekerja dengan tujuan memberikan narasi dan logika; bagaimana Islam memiliki argumentasi yang kokoh bahwa bekerja adalah hak setiap manusia. Diharapkan setelah pelatihan ini para tokoh agama dalam perannya memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran dengan memaksimalkan kemampuan berargumentasi tentang hak perempuan bekerja dalam pandangan Islam. Dengan demikian, peserta tidak akan diajari bagaimana cara berceramah melainkan konten apa yang harus disampaikan ke umat atau masyarakat.

Andragogi, Memanusiakan Orang Dewasa

Dalam mengoperasikan modul ini, Tim Rumah KitaB mendesain alur pembelajaran dengan kerangka Pendidikan Orang Dewasa; dikenal dengan metode pendidikan andragogy. Secara etimologis, andragogi berasal dari Bahasa Latin, yaitu andros yang berarti ‘orang dewasa’ dan agogos yang berarti memimpin atau melayani. Istilah “andragogi” sebagai suatu teori dalam filsafat pendidikan pertama kali dugunakan oleh Alexander Kapp asal Jerman pada tahun 1833. Kemudian, pada tahun 1921 istilah tersebut dimunculkan kembali oleh Eugene Rosentock, seorang sejarawan dan filsuf asal Jerman. Sejak era 1970-an metode andragogi menyebar masif di berbagai belahan dunia.

Melalui pendekatan ini, fasilitator berupaya mendorong peserta pelatihan untuk aktif dalam proses belajar. Fasilitator memastikan setiap peserta pelatihan terlibat dalam proses belajar secara sistematis dan terstruktur dengan melakukan/mengalami, mengungkapkan, mengolah/menganalisis, menyimpulkan, menerapkan, melakukan kembali, dan kemudian merefleksikan pengalamannya. Proses pembelajaran ini berangkat dari kesadaran tentang filsafat pendidikan untuk pemberdayaan.

Selain dilengkapi dengan bahan bacaan yang terkait dengan tema, modul ini memang dirancang untuk mewujudkan peningkatan kapasitas dan kepekaan, serta membangun komitmen dan kolektivitas peserta pelatihan. Modul ini berlandaskan pada sejumlah pendekatan yang akan mengawali pelatihan di setiap sesi, yaitu: Tutur perempuan; Partisipatif; Penumbuhan komitmen; Kolektifitas; dan Keberlanjutan.

Proses pembelajaran dalam pelatihan ini nantinya dikelola dalam alur yang terstruktur; mengikuti alur pendidikan orang dewasa berdasarkan prinsip partisipasi. Oleh karena itu, metode ini kerap disebut sebagai daur proses pelatihan partisipatif dengan basis pengalamanan yang terstruktur. Modul ini tampak detail menyampaikan langkah-langkah yang harus dilakukan fasilitator melalui pendekatan andragogi, sehingga pelatihan dapat berlangsung  komunikatif dan efektif.

Terlebih lagi, peserta pelatihan ini merupakan para agamawan yang notabene memiliki pengetahuan dasar mengenai agama dan pengalaman berhadapan dengan umat. Melalui pendekatan pedagogi dalam modul ini, diharapkan peserta pelatihan dapat membangun kesadaran berkeadilan. Dalam membangun narasi pemenuhan hak perempuan bekerja, maka sangat diperlukan adanya “perspektif berkeadilan” yang tidak bias gender. Semoga upaya yang dilakukan Rumah KitaB ini bisa mewujudkan penguatan kapasitas tokoh agama dalam memproduksi narasi keagamaan yang mendukung kiprah perempuan bekerja. []

Ulama Harusnya Mendukung Upaya Pemerintah Di Masa-Masa Darurat Covid 19, Bukan Justru Bikin Gaduh!

Oleh: Dayu Akraminas

Masa darurat Covid 19 sudah dijalankan. PPKM diperketat sampai tanggal 20 Juli. Tapi masih ada saja tokoh masyarakat yang mengajak untuk melawan kebijakan ini. Bukan justru mendukung, ulama kok bikin gaduh.

Indonesia saat ini masih belum siap hidup normal seperti biasanya. Nyatanya covid-19 di Indonesia berkembang dengan sangat cepat di Juni dan Juli 2021, karena ada varian baru Covid-19 yang lebih berbahaya dari sebelumnya. Sebagai langkah darurat Covid 19, akhirnya pemerintah pun langsung bergerak cepat membuat kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat darurat (PPKM Darurat) di lokasi tertentu di Jawa-Bali, berlaku pada 3-20 Juli 2021.

Kebijakan ini belum bisa dipastikan efektif, karena masih dalam proses percobaan. Dalam kajian kebijakan itu sendiri banyak hal yang harus dipertimbangkan. Toh juga kebijakan ini dibuat karena kebijakan sebelumnya masih belum efektif. Sedikit berbeda dengan kebijakan sebelumnya. PPKM darurat ini sedikit lebih ketat dan pemerintah cukup berani mengambil langkah ini. Tinggal bagaimana pemerintah bisa mengkomunikasikan dan mensosialisasikan kepada masyarakat agar bisa dipatuhi.

Ini penting, banyak dari kalangan masyarakat tidak terima dengan kehadiran kebijakan ini. Apalagi sebagian kalangan umat muslim beranggapan, PPKM ini sangat mendiskriminasi mereka. terbukti banyak pemuka agama yang mengorasikan untuk tidak tunduk kepada kebijakan ini.

Ini berbahaya sekali. Pemerintah harus bisa mengatasi hal seperti ini. Harus memberikan edukasi kepada masyarakat melalui tokoh-tokoh agama. Bagaimana mekanisme dan dinamika PPKM ini. Langkah yang harus dilakukan pemerintah adalah mengajak kolaborasi. Pemuka agama harus diberikan panggung untuk menyuarakan kebijakan ini dengan perspektif mereka. Dengan kolaborasi antara pemerintah dan tokoh agama, kebijakan seperti ini bisa mudah diterima bagi masyarakat.

Misalnya menyuarakan tentang pelarangan shalat berjamaah di masjid, yang untuk saat ini kegiatan itu dipindahkan ke rumah masing-masing. Kasus seperti ini akan ditanyakan kembali, terkait status kewajiban shalat Jumat, apakah mengabaikan keputusan pemerintah dengan tetap melakukan Jumatan seperti biasanya atau justru mengikuti keputusan pemerintah dengan meninggalkan Jumatan?

Pertanyaan ini sudah direspon oleh para ulama pada masa awal covid tahun 2020. Satu sisi tetap mewajibkan shalat jumat seperti biasa dengan regulasi yang ketat, di sisi yang lain status kewajiban shalat jumat dihilangkan (ta’til al-jum’ah). Perbedaan ini terjadi, bagaimana mengaktualisasikan teks nash pada realita (تخريج المناط / takhrij al-manat).

Konsiderasi para ulama dalam memberikan pendapat sangat beragam, salah satunya keputusan LBM (Lembaga Bahtsul Masail) PBNU tahun 2020, bahwa shalat Jumat di zona merah covid-19 dilarang, sebagai gantinya, umat Islam wajib shalat zuhur di rumahnya masing-masing. Sementara masyarakat muslim tinggal di zona kuning, dianjurkan untuk mengambil rukhshoh-tidak shalat Jumat. Pandangan ini sejalan dengan prinsip maqâshid al-syarî’ah, bahwa menjaga jiwa manusia (hifdz al-nafs) lebih didahulukan dari menjaga agama (hifdz al-din; shalat Jumat). Kewajiban bisa gugur dengan adanya udzur syar’i.

Belum lagi menyangkut nyawa. Pemuka agama harus menyuarakan bahayanya virus ini. Bagaimana dampaknya bagi keluarga. Dalam Islam diajarkan, bahwa kemaslahatan publik itu harus didahulukan daripada kemaslahatan individu (al-maslahah al-‘âm muqaddamun alâ al-maslahah al-fard). Kita juga harus memikirkan nasib keluarga di mana di dalamnya terdapat perempuan dan anak-anak, sebagai pihak yang paling rentan dan paling beresiko terdampak Covid-19. Jangan sampai kehadiran kita membawa bencana bagi mereka. Saat ini hampir 50 persen penularan covid berimbas kepada anak-anak, di mana separuhnya yang meninggal itu adalah balita. Ini sangat mengkhawatirkan.

Membawa virus dari luar, kita tahu itu berbahaya dan berdampak kepada istri dan anak, itu sama saja kita membunuh mereka tidak sengaja. Dalam legal formal (fiqih) ini tergolong kriminal dan mendapatkan diyat. Dan virus ini juga bisa berdampak kepada nyawa sendiri, bila kita tahu itu berbahaya dan kita mengabaikannya maka itu sama saja kita bunuh diri. Al-Quran sangat mengutuk tindakan bunuh diri sebagaimana dijelaskan QS. al-Nisa [4]: 29.

Alhasil, tokoh agama jangan suka membuat gaduh umat di masa darurat covid-19. Tokoh agama harus hadir memberikan semangat, dukungan, dan edukasi kepada umat agar tetap tenang dan waspada. Mengutarakan perbedaan pandangan itu sah-sah saja. Karena itu hanya bersifat ijtihadi, bila benar maka mendapatkan dua pahala.

Sebaliknya, bila salah maka mendapatkan satu pahala. Bila mengikuti perintah ulil amri-presiden-dan benar ijtihadnya maka mendapatkan tiga pahala. Tapi jangan memprovokasi umat untuk menolak kebijakan pemerintah, karena membuat kegaduhan, dan akibat pandangannya menyebabkan orang berkerumun kemudian tertular covid-19 itu sama saja berdosa.

Selagi kebijakan itu sesuai dengan fondasi kemaslahatan, harus didukung, sebagaimana perkataan Imam As-Suyuthi dalam kitab al-Asybâh wa al-Nazhâir fî al-furû’ dan Abi Al-Hasan Al-Mawardi dalam kitab al-Ahkâm al-Sulthâniyyah: tasharrufu al-imâm ‘alâ al-ra’iyyah manûthun bi al-maslahah (kebijakan pemerintah pada rakyatnya dibebankan pada kemaslahatan).

Para Perempuan Masa Nabi yang Menjadi Dokter dan Perawat (Bag. 1)

Oleh Nurul Iffatiz Zahroh (Islami.co)

Profesi dokter dan perawat pada masa Nabi berada di tangan perempuan. Jika dalam sejarah Eropa perawat pertama adalah Florance Nighthingale (1820-1910), maka dalam sejarah Islam perawat telah ada sejak tahun 620 M dan juga dipelopori oleh seorang perempuan.

Tercatat lebih dari sepuluh orang sahabat perempuan yang menggeluti bidang kesehatan, di antaranya adalah:

  • Rufaidah al-Aslamiyah

Rufaidah terkenal sebagai dokter dan perawat pertama dalam Islam. Nama lengkapnya adalah Rufaidah binti Sa’ad al-Aslamiyah. Ia adalah keturunan dari bani Aslam. Rufaidah lahir di Madinah dan termasuk kaum Anshar yang membaiat dan memeluk Islam setelah Rasulullah SAW hijrah ke Madinah.

Rufaidah adalah seorang perempuan terkemuka, ia terkenal karena kepiawaiannya dalam dunia kedokteran maupun keperawatan. Ayah Rufaidah merupakan seorang dokter pada masa jahiliyah dan Rufaidah menekuni bidang ini sejak sebelum masuk Islam.

Berkat keahliannya dalam bidang Kesehatan, Rasulullah SAW mengizinkan Rufaidah untuk mendirikan tenda (klinik) di masjid Madinah. Klinik ini merupakan klinik pertama dalam Islam dan pada saat perang badar klinik ini menjadi rujukan pertama yang menangani kaum muslim yang terluka.

Keluarga Rufaidah juga termasuk keluarga yang terpandang, Rufaidah menggunakan harta dan kekayaannya untuk mengobati kaum muslim di Madinah dan kaum muslim yang terluka dalam medan perang secara gratis.

Klinik Rufaidah juga terkenal dengan sebutan klinik keliling. Pasalnya Rufaidah membawa peralatan medis dengan menggunakan unta dan mendirikan klinik (tenda) di beberapa tempat peperangan.

Selain ahli, kaya raya dan dermawan, Rufaidah juga mengajarkan para perempuan lain yang ikut sebagai relawan perang. Salah satu yang diajari oleh Rufaidah tentang dunia medis adalah istri Rasulullah SAW, Aisyah binti Abu Bakar dan beberapa perempuan lain.

Pada saat perang Khandaq, Sa’ad bin Muadz terkena panah, Rasulullah SAW merekomendasikan dan mempercayai klinik Rufaidah untuk menangani pengobatan Sa’ad, dan di klinik itulah Sa’ad bin Muadz meninggal dunia.

Pada saat perang Khaibar, Rufaidah bersama beberapa perempuan bekerjasama  menjadi relawan yang menangani pengobatan kaum muslimin yang terluka akibat perang. Dan para perempuan itu juga mendapat bagian sebagaimana bagian laki-laki yang berjihad di Medan perang.

  • Ku’aibah binti Sa’ad

Nama lengkapnya adalah Ku’aibah binti Sa’ad al-Aslamiyah. Ku’aibah merupakan seorang perawat yang membantu Rufaidah menangani para tantara muslim yang terluka karena perang. Ku’aibah juga tercatat sebagai orang yang juga menangani Sa’ad bin Muadz. Tugasnya adalah sebagai perawat, sedangkan yang memandu jalannya pengobatan adalah Rufaidah.

  • Ummu Athiyah

Sahabat yang satu ini pasti tidak asing namanya. Seorang sahabat terkenal yang juga banyak meriwayatkan hadis dari Nabi. Nama aslinya adalah Nusaibah binti Harits dan terkenal dengan nama laqobnya, yaitu Ummu Athiyah.

Dalam salah satu riwayat yang diceritakan olehnya, Ummu Athiyah menyampaikan “Aku ikut berperang bersama Rasulullah SAW sebanyak tujuh kali perang dan aku selalu berada di belakang rombongan Nabi, akulah yang menyiapkan makanan untuk mereka, mengobati kaum muslim yang terluka dan merawat mereka bila ada yang sakit”.

  • Ummu Sulaim

Seperti Ummu Athiyah, Ummu Sulaim juga merupakan sahabat yang sering disebut namanya, karena kedekatannya dengan Rasulullah SAW. Ibu dari si kecil yang menjadi khadim Nabi -Anas bin Malik- juga banyak meriwayatkan hadis.

Dalam beberapa riwayat baik yang diriwayatkan oleh putranya Anas maupun diceritakan sendiri olehnya sering bercerita bahwa Ummu Sulaim ikut perang bersama Nabi. Di sana ia bergabung dengan perempuan lain, merawat para tantara yang terluka maupun memberi minum untuk mereka.

  • Rubayyi’ binti Muawwidz

Nama lengkapnya adalah Rubayyi’ binti Mu’awwidz bin ‘Afra’ bin Hazm bin Jundab al-Anshariyah al-Najjariyah. Rubayyi’ merupakan keturunan dari bani ‘Addi bin Najjar. Ia adalah seorang perempuan Madinah yang membaiat Nabi pada baiat Ridwan.

Rubayyi’ merupakan seorang perawi hadis, di samping itu ia juga aktif mengikuti peprang sebagai seorang perawat. Dalam sebuah hadis sahih Rubayyi’ bercerita “Kami ikut perang bersama Nabi, tugas kami adalah memberi minum dan melayani pasukan, serta mengirim kaum muslim yang gugur dan terluka ke Madinah”. Hadis ini diriwayatkan oleh imam Muslim, sedangkan dalam riwayat imam Bukhari berbunyi “Tugas kami adalah memberi minum dan merawat tentara yang terluka”.

Demikianlah sahabat perempuan pada masa Nabi, mereka aktif dan tidak hanya berdiam diri di rumah. Mereka memaksimalkan bakatnya, menjadi seorang dokter maupun perawat.

Artikel ini kerjasama Islamidotco dan Rumah KitaB

Aisyah, Mufti Perempuan Era Sahabat Nabi

Oleh Fera Rahmatun Nazilah (Islami.co)

Sepeninggalan Nabi Saw, Aisyah menjadi salah satu rujukan kaum muslimin tatkala mereka menghadapi permasalahan keagamaan. Dalam al-Ijābah li Īrādi Mastadrakathu Āisyah ‘alas Shahābah  dituliskan, Abu Musa al-Asy’ari Ra pernah berkata, “Setiap kali kami, para sahabat menghadapi kesulitan dalam memahami suatu hadis, kami sering bertanya kepada Aisyah. Ia pun selalu mampu menjawabnya.”

Aisyah sudah mulai berfatwa sejak masa khilafah Abu Bakr RA, Umar RA, Utsman RA dan seterusnya hingga ia menutup usia. Maka tak heran bila putri Ummu Rumman ini dinobatkan sebagai salah satu sahabat yang paling banyak berfatwa.

Perlu diketahui, di masa Umar, tak sembarang orang boleh berfatwa, hanya orang-orang terpilihlah yang diperbolehkan berfatwa, salah satunya adalah Ummul Mukminin Aisyah RA. Ini menunjukkan bahwa Umar RA pun mengakui kedalaman ilmu istri Rasulullah Saw ini.

Di masa itu, ada 130 orang lebih sahabat yang berfatwa, namun di antara mereka hanya tujuh yang fatwanya paling banyak, yaitu Umar bin Khattab Ra, Ali bin Abi Thalib Ra, Abdullah bin Umar Ra, Aisyah Ummul Mukminin Ra, Zaid bin Tsabit Ra, Abdullah bin Umar Ra, dan Abdullah bin Abbas Ra.

Tak hanya banyak berfatwa, Aisyah juga merupakan sahabat perempuan yang paling banyak meriwayatkan hadis. Bahkan putri as-Shiddiq ini menempati posisi keempat di antara para sahabat lain yang paling banyak meriwayatkan hadis. Terhitung sebanyak 2.210 pernah diriwayatkan Aisyah -Perawi hadis terbanyak pertama adalah Abu Hurairah, kedua Abdullah bin Umar, ketiga Anas bin Malik dan keempat Aisyah binti Abu Bakr.

Murid-murid Aisyah

Ada puluhan sahabat yang meriwayatkan hadis dari Aisyah, beberapa di antaranya, Ayahandanya, Abu Bakr, Umar bin Khattab, Abdullah bin Umar, Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Abu Musa al-Asy’ari, Saib bin Yazid, dan Shafiyyah binti Syaibah.  Sedangkan murid Aisyah dari kalangan tabiin ada sekitar 150 orang. Beberapa di antaranya Said bin al-Musayyab, Amr bin Maimun, Alqamah bin Qais, Masruq, dan al-Aswad bin Yazid.

Bayangkan, usia Aisyah masih begitu muda, bahkan kala itu bangsa Arab masih begitu kental terhadap budaya patriarkhi, mereka sering kali tidak memperhitungkan pendapat dan pengetahuan yang dimiliki perempuan. Namun Aisyah mampu membuktikan bahwa keilmuan perempuan bisa menjadi rujukan, perempuan boleh berfatwa dan boleh pula mengajar. (AN)

Wallahu a’lam bisshawab

*Artikel ini kerjasama Islamidotco dengan Rumah KitaB