“Sayang Gelarnya”, Sebuah Catatan Kecil tentang Stigma Ibu Rumah Tangga dan Kerja Digital

Keputusan untuk kembali ke kampung halaman selepas Idul Fitri awal tahun 2025 lalu membawa saya pada sebuah realitas sosial yang kerap mengundang senyum sekaligus helaan napas panjang. Sebagai seorang pekerja media dan spesialis media sosial yang mengandalkan koneksi internet, batas antara ‘bekerja’ dan ‘di rumah saja’ menjadi sangat tipis. Di hadapan para tetangga dan warga sekitar, menjelaskan istilah social media specialist atau publicist sering kali terasa jauh lebih melelahkan daripada merancang kampanye digital itu sendiri.

Akibatnya, jalan paling praktis yang kerap saya ambil adalah menjawab singkat: “Hanya di rumah saja,” atau sekadar bilang “kerja online.” Bagi sebagian orang, jawaban itu langsung diterjemahkan secara bebas sebagai pengangguran, paling banter, mereka menangkap saya ini ibu rumah tangga (semata).

Menariknya, menjadi seorang ibu rumah tangga di mata masyarakat kerap disamakan dengan tidak bekerja, sebuah asumsi keliru yang menempatkan kerja domestik di luar radar produktivitas ekonomi.

Namun, di balik label pengangguran itu, obrolan-obrolan yang kerap saya dapati saat membahas kondisi saya yang “hanya di rumah” sering kali bergeser ke arah yang lebih personal: penyesuaian atas gelar sarjana yang saya miliki. Bagaimana bisa begitu?

Paradoks Gelar dan Mitos “Kesesuaian” Pendidikan

Bagi masyarakat di daerah (seperti saya yang lahir dan besar di Sumatera), merantau dan berkuliah di luar pulau, terutama di Jawa dengan segala keistimewaannya, dipandang sebagai sebuah investasi sosial yang besar. Ketika saya memilih pulang ke Sumatera dan bekerja di balik layar gawai tanpa terikat instansi formal atau institusi pendidikan tertentu, selentingan sayang pun bermunculan. “Buat apa kuliah jauh-jauh kalau akhirnya di rumah saja?”

Ada sebuah asumsi linier yang mengakar kuat di masyarakat, bahwa perempuan berpendidikan tinggi harus masuk ke sektor publik formal, mengenakan seragam kerja kantoran, atau berdiri di depan kelas untuk mengajar. Ketika realitasnya tidak demikian, muncullah rasa kasihan yang tidak diminta.

Jujur, pada awalnya situasi ini terasa menggelikan. Namun, di balik rasa geli itu, ada rasa getir yang menyelinap. Ada pandangan kolektif bahwa kerja-kerja domestik dan pengasuhan adalah ranah tanpa nilai yang tidak menghasilkan apa-apa. Ketika sebuah peran tidak membawa slip gaji dari institusi konvensional, kontribusinya dianggap tidak ada.

Inkonsistensi Penghargaan Sosial: Antara “Ibu Teladan” dan “Tanpa Kontribusi”

Refleksi ini sejalan dengan apa yang pernah diulas oleh Sinta Febriana di portal Rumah KitaB, yang menyoroti adanya inkonsistensi penghargaan sosial-ekonomi terhadap perempuan yang memilih jalur domestik.

Kita sering terjebak dalam sebuah paradoks yang masif. Di satu sisi, ibu rumah tangga diagungkan setinggi langit sebagai pilar utama moral keluarga dan kunci keberhasilan peradaban. Narasi romantis seperti ‘surga di telapak kaki ibu’ atau ‘ibu adalah madrasah pertama’ kerap diulang-ulang di berbagai ruang publik dan mimbar ceramah.

Namun, di sisi lain, romantisme ini berubah menjadi jebakan ketika peran tersebut sama sekali tidak direkognisi secara konkrit dalam kerangka pembangunan ekonomi maupun kebijakan sosial. Kerja-kerja perawatan (care economy), pengasuhan anak, manajemen rumah tangga, hingga kerja digital jarak jauh yang fleksibel sering kali diletakkan di ruang buta statistik ketenagakerjaan.

Kesenjangan pola pikir ini melahirkan sebuah premis keliru: perempuan berpendidikan tinggi ada semata-mata untuk bekerja secara konvensional. Ketika perempuan bergelar sarjana memilih mendedikasikan waktunya di rumah, baik mengurus keluarga sambil tetap produktif secara digital, masyarakat seolah merasa ada modal sosial yang terbuang sia-sia, sebagaimana yang saya lakukan beberapa tahun belakangan ini.

Padahal, pendidikan tinggi bukanlah tiket wajib untuk masuk ke bilik birokrasi atau korporasi semata; ia adalah perangkat berpikir untuk membaca realitas, merawat nalar kritis, dan memberdayakan ruang di mana pun kita berada.

Mendefinisikan Ulang Makna Produktivitas

Seiring dengan mudahnya akses terhadap banyak informasi, sudah saatnya kita membongkar cara pandang yang mereduksi nilai perempuan hanya pada angka-angka di atas kertas slip gaji atau formalitas institusi tempat ia absen setiap pukul tujuh pagi.

Pekerjaan media dan komunikasi yang saya jalani hari ini tidak lantas kehilangan substansinya hanya karena ia dikerjakan dari ruang keluarga di kampung halaman. Begitu pula dengan peran domestik yang dijalankan jutaan perempuan di luar sana; ia adalah fondasi ekonomi bayangan (shadow economy) yang menopang keberlangsungan masyarakat tanpa pernah menagih pengakuan finansial yang layak.

Pendidikan tinggi yang saya tempuh di tanah rantau bukanlah investasi yang sia-sia, dan keputusan untuk pulang serta merawat ruang hidup di daerah bukanlah sebuah kemunduran. Justru melalui nalar kritis yang ditempa di bangku kuliah, kita bisa melihat bahwa kerja-kerja sosial, domestik, dan digital memiliki bobot emansipatorisnya sendiri.

Perempuan berhak memilih jalurnya tanpa harus dihakimi oleh standar kesuksesan yang sempit. Sebab kontribusi pada kemajuan peradaban tidak selalu harus diukur dari seberapa formal instansi tempat kita bekerja, melainkan dari seberapa besar kesadaran kritis yang kita rawat di ruang-ruang sunyi yang kerap diabaikan dunia. Bukankah begitu?

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses