Pesantren bukan Tempat Cuci Tangan Orang Tua
Bagi masyarakat yang tumbuh dalam kultur lingkungan santri, kata pesantren selalu berhasil memantik romantisasi dan kedamian tersendiri. Memori kolektif kita akan langsung bernostalgia pada riuh rendah suara santri yang mendaras Al-Quran antara waktu maghrib dan isya, hingga aroma khas lembaran kitab kuning yang klasik itu.
Bagi saya kehidupan di pesantren senantiasa dikenang sebagai oase intelektual sekaligus spiritual. Pesantren bukan sekadar kompleks bangunan sekolah yang di kelilingi pagar tembok tinggi, melainkan tempat dimana jiwa-jiwa muda ditempa agar tidak hanya matang secara kogntif, tetapu juga memiliki akhlak dan kedalaman batin yang kokoh.
Pesantren sebagai ruang penempaan karakter ini menjadi sangat vital karena selaras dengan khitah kesejarahannya. Sejak ratusan tahun lalu, pesantren didirikan dengan tujuan utama melaksanakan proses tarbiyah, yaitu sebuah konsep pendidikan komprehensif yang mengasah akal sekaligus budi pekerti
Di dalam bilik sederhana dan aula besarnya, para santri digembleng untuk bertransformasi menjadi individu yang saleh, berwawasan luas, dan berakhlak mulia. Proses belajar di sini tidak mandek pada penghafalan teks semata. Lebih dari itu, para santri menyerap sanad keilmuan yang valid serta meneladani lelaku hidup para kiai dan asatidz, demi membentuk cara beragama yang moderat dan meneduhkan.
Pesantren bukan tempat penitipan segalanya
Mungkin beberapa orang tua berpikir “sudah bayar, sudah percaya. Tugas pesantren mengatur semua”. Padahal, pendidikan anak itu tanggung jawab bersama, bukan estafet lepas tangan. Pesantren membantu mendidik, bukan sebagai pengganti tugas mendidik orang tua bagi anaknya.
Beberapa santri juga datang dengan luka dari rumah. Tanpa diketahui oleh pihak pesantren karena tidak adanya komunikasi saat pendaftaran santri dan tidak semua pendidikan pesantren dibekali ilmu untuk membantu menyembuhkan. Jadi mereka harus memadamkan api tiap hari, tanpa tahu asal apinya dari mana.
Ketika santri punya masalah sebagian orang tua juga ada yang malah menyalahkan lembaga. Bahkan mungkin, jarang yang melakukan refleksi apakah selama ini saya cukup hadir untuk anakku sendiri.
Kalau menginginkan pesantren menjadi rumah yang aman untuk tumbuh, maka kerja sama antar orang tua dan pesantren harus seimbang. Bukan hanya menitipkan anak, tetapi perlu membangun koneksi dan komunikasi. Bukan hanya memberikan uang dan kebutuhan bulanan anak, tetapi juga memastikan anak tetap terhubung dengan orang tua.
Sinergi Tiga Pilar Pendidikan
Untuk mengobati kekeliruan cara pandang orang tua terhadap pesantren, kita perlu merefleksikan kembali khazanah klasik Islam. Dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim karya Syaikh Az-Zarnuji, telah menggarisbawahi bahwa keberhasilan proses belajar ilmu tidak pernah ditentukan oleh faktor tunggal. Keberhasilan seorang santri adalah buah dari sinergi, harmoni dan kolaborasi tiga pilar utama yang saling mengikat.
Pilar pertama santri harus memiliki kesungguhan tekad, ketekunan dalam belajar, serta kesabaran tanpa batas dalam menghadapi beratnya ujian menuntut ilmu di pesantren. Pilar kedua para pendidik harus memiliki ketulusan dalam mengajar, menyampaikan ilmu dengan ikhlas, serta menyajikan keteladanan akhlak (uswah hasanah) dalam kehidupan sehari-hari.
Pilar ketiga Keterlibatan orang tua tidak boleh berhenti pada sokongan materi atau penyediaan dana yang halal semata. Pengawalan yang bersifat non-materi seperti untaian doa yang konsisten, menjaga kedekatan batin, serta mengondisikan lingkungan rumah agar tetap ramah santri saat liburan jauh lebih krusial.
Keberhasilan pendidikan di pesantren adalah hasil dari ritual “tirakat” kolektif. Jika salah satu dari tiga pilar ini rapuh, terutama akibat ketidakhadiran peran orang tua yang memilih lepas tangan, maka keberkahan dan kebermanfaatan ilmu atau himmah yang dicita-citakan akan mustahil dapat diraih secara optimal.
Menghentikan normalisasi salah kaprah
Melihat dampak psikologis yang ditimbulkan, sudah saatnya kita menghentikan normalisasi terhadap fenomena pola asuh lepas tangan ini. Edukasi yang masif harus diberikan kepada para orang tua untuk menegaskan bahwa memasukkan anak ke pesantren bukan berarti menyerahkan kedaulatan pendidikan seutuhnya. Pesantren pada hakikatnya adalah mitra strategis orang tua dalam mendidik, bukan lembaga pengganti posisi orang tua dalam mengasuh.
Tanggung jawab utama untuk mencurahkan kasih sayang dan membentuk fondasi emosional tetap berada di pundak ayah dan ibu. Anak-anak yang dikirim ke pesantren dengan perasaan “dibuang” tanpa bekal pemahaman yang utuh justru rentan mengalami luka batin yang dalam. Di bawah pengawasan ketat asatidz mereka mungkin akan terlihat patuh, namun mereka berisiko kehilangan arah saat dinding pembatas pesantren tidak lagi “mengurung” mereka.
Jika cara pandang yang cacat moral ini dibiarkan meluas, pesantren akan mengalami kelelahan karena harus menangani santri yang mengalami krisis motivasi akibat hampa dukungan dari rumah sendiri . Waktu produktif yang seharusnya digunakan untuk transfer ilmu akan habis demi menyembuhkan konflik batin anak yang merasa tidak diinginkan oleh keluarganya sendiri.
Memesantrenkan anak itu seyogyanya diniatkan karena ingin mereka mendapatkan kedalaman ilmu agama yang tidak mampu kita berikan secara mandiri di rumah, bukan sebagai sarana melarikan diri dari kewajiban. Maka, teruntuk para orang tua, mulai sekarang mari tempatkan pesantren sebagai mitra mulia, dan rawatlah anak-anak dengan cinta sebagai amanah Tuhan yang paling berharga. Wallahu a’lam.




Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!