Workshop Operasionalisasi Indikator Perguruan Tinggi Responsif Gender

Rumah Kita Bersama bersama 8 Pusat Studi Gender dan Anak dari 8 perguruan tinggi (UIN Walisongo Semarang, UIN Raden Mas Said Surakarta, UIN Syarif Kasim Riau, UIN Sultan Aji Muhammad Idris, IAIN Pekalongan, IAIN Ponorogo, IAIN Metro, dan UNISNU Jepara) mengadakan pertemuan untuk membahas operasionalisasi indikator Perguruan Tinggi Responsif Gender (PTRG). Acara yang dilakukan pada tanggal 9-12 Februari 2022 ini dilaksanakan di Semarang dengan tuan rumah PSGA UIN Walisongo. Ada 16 peserta (2 laki-laki dan 14 perempuan) yang berproses bersama-sama didampingi oleh Desti Murdijana dari JASS sebagai fasilitator. Acara ini merupakan lanjutan acara yang sama yang dihelat di Surakarta pada bulan Januari 2022 dengan tuan Rumah PSGA UIN Raden Mas Said.

Indikator PTRG merupakan indikator yang disusun oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPA) pada tahun 2019. Ada 9 indikator PTRG tersebut, meliputi keberadaan PSGA, profil gender, SK tentang pengarusutamaan, pengabdian, penelitian, pengajaran, tata kelola kelembagaan, monitoring dan evaluasi, dan nirkekerasan terhadap perempuan dan laki-laki. Sayangnya, indikator yang disusun oleh KPPA tersebut masih dalam bentuk global yang sulit untuk diimplementasikan di perguruan tinggi. Bukan hanya karena belum adanya panduan lengkap, tetapi juga terkait keberadaan indikator gender yang tidak masuk dalam indikator penilaian akredikasi perguruan tinggi. Sehingg, keberadaannya seringkali diabaikan dan dianggap tidak penting.

Pertemuan kedua ini fokus pada indikator Tridharma Perguruan Tinggi (pengabdian, penelitian, dan pengajaran/pendidikan) serta indikator nirkekerasan terhadap perempuan dan laki-laki. Setelah sebelumnya, pertemuan pertama fokus pada indikator kelembagaan yang meliputi: posisi PSGA, profil gender, dan pengarusutamaan gender. Dua indikator yang tersisa, tata kelola dan monitoring/evaluasi rencananya akan dilanjutkan pada bulan Maret di Lampung.

Pada pertemuan kedua ini, Dr. Suwendi, M.Ag (Analis Kebijakan Ahli Madya pada Subdirektorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama) hadir secara virtual dalam acara. Beliau menyambut baik inisiastif Jaringan PSGA yang telah bekerja dalam upaya operasionalisasi indikator PTRG supaya lebih implementatif. Dr. Suwendi juga siap bekerja sama supaya indikator PTRG memiliki kekuatan untuk diimplementasikan di setiap PTKIN ataupun PTKIS di bawah Kemenag.

Di samping itu, Direktur Rumah KitaB Lies Marcoes mengatakan dalam sambutannya bahwa watak PTRG (perguruan tinggi) mirip seperti lembaga Rumah KitaB yang fokus pada produksi pengetahuan. Lies berharap bahwa pertemuan ini dapat menghasilkan setidaknya dua dokumen: dokumen operasionalisasi PTRG dan dokumen perjalanan. Menurut Lies, satu hal yang rawan hilang dalam kerja-kerja intelektual maupun kerja-kerja sosial adalah pendokumentasian dalam bentuk tulisan. (NA)

1 reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.