Jika Tuhan Maha-Kuasa, Lantas Kenapa Manusia Menderita?

MOJOK.CO – Kalau iman sudah kokohkita seharusnya berani menghadapi pertanyaan soal Tuhan semacam ini tanpa gentar dan tanpa perasaan marah.

Seorang teman mengirim pesan pribadi via Whatsapp saat pandemi korona ini meruyak:

Jika Tuhan Maha Kasih dan Kuasa, kenapa Dia menimbulkan kesengsaraan pada manusia melalui pandemi korona? Jika sungguh-sungguh berkuasa, kenapa Dia tak segera melenyapkan penderitaan ini agar manusia hidup normal kembali?

Pertanyaan “skeptis” semacam ini sangatlah wajar, manusiawi. Tuhan tak akan marah karena  pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Saya kurang setuju manakala seseorang mengajukan pertanyaan yang berbau “protes” itu, lalu dihadapi dengan “hardikan”.

Sebagaimana pernah saya katakan, iman yang kuat dan kokoh tak takut pada keraguan, pertanyaan dan skeptisisme. Kita, sebagai seorang beriman, harus berani menghadapi pertanyaan semacam ini tanpa gentar.

Dalam bagian yang lalu saya mengulas mengenai dua sifat penting, yaitu Tuhan yang Hidup (Hayyun) dan karena itu Berkuasa (Qadirun) secara mutlak. Wujud Tuhan adalah wujud pada puncak hierarki atau “maratib al-wujud”, dan karena itu, kekuasaan-Nya juga merupakan kekuasaan yang sempurna; al-qudrah al-kamilah.

Jika demikian halnya, kenapa Tuhan menciptakan dunia dalam bentuk yang penuh dengan kekurangan, penderitaan? Tidak mungkinkah Tuhan mencipta dunia yang sempurna, semacam “utopia” yang tanpa cacat sedikit pun?

Inilah pertanyaan yang dalam tradisi pemikiran ketuhanan, teologi, disebut “teodisi”. Pertanyaan ini sudah menjadi pembahasan para teolog, filosof, pemikir, dan ulama sejak dahulu. Ini adalah pertanyaan perennial, abadi.

Saya tambahkan: selain pertanyaan abadi, pertanyaan ini tak akan tuntas dijawab hingga kapan pun. Inilah bagian dari “Big Question”, pertanyaan besar dalam hidup yang akan muncul pada segala zaman.

Usaha untuk menjawabnya juga tak akan pernah berkesudahan. Ini adalah bagian dari misteri hidup yang harus kita terima; bagian dari asarru-l-asrar, yang rahasia dari segala yang rahasia. Sementara itu, hidup tanpa misteri tampaknya akan sama sekali tak menarik. Datar!

Ini tak berarti bahwa tidak ada “titik terang,” tak ada usaha mencari jawaban untuk pertanyaan musykil itu. Salah satu sarjana besar Islam yang mencoba menjawab pertanyaan ini adalah al-Ghazali dalam karya agungnya, Ihya’ ‘Ulum al-Din.

Di sana, al-Ghazaki menulis bab khusus berjudul “Kitab al-Tauhid wa al-Tawakkul”. Dalam bab inilah kita menjumpai pembahasan yang mendalam perihal teodisi ini.

Al-Ghazali melontarkan sebuah ungkapan yang kemudian menimbulkan debat panjang dan kontroversi di kalangan ulama. Ungkapan itu berbunyi: laisa fi-l-imkan abda‘u mimma kan—tak ada dunia yang lebih sempurna ketimbang dunia yang sudah ada sekarang ini.

Pernyataan ini sederhana, tetapi menimbulkan kemusykilan: Jika dunia yang ada sekarang ini sudah paling baik, artinya Tuhan “tak mampu” mencipta dunia yang lebih baik lagi; maknanya, Tuhan tidak sempurna kekuasaannya.

Imam al-Suyuti (w. 1505), seorang ulama polymath besar dari Mesir, menulis kitab berjudul “Tasyyid al-Arkan” untuk membela al-Ghazali dari serangan-serangan ulama lain gara-gara pernyataan itu.

Inti penjelasan al-Ghazali adalah sebagai berikut: Memang ada kejahatan, penderitaan, penyakit, dan kesakitan di dunia, dari dulu, hingga kapan pun. Tetapi apa yang sudah ada saat ini adalah bentuk dunia yang paling mungkin dan sempurna. Mengutip Abu Thalib al-Makki (w. 998) dalam Qut al-Qulub, al-Ghazali mengutarakan pengandaian berikut:

Andai saja Tuhan menciptakan seluruh manusia di bumi ini dalam keadaan yang paling sempurna, menjadikan mereka sebagai orang-orang dengan kecerdasan maksimal, lalu memberi tahu mereka tentang rahasia segala hal, dan kemudian meminta mereka untuk mencipta-ulang dunia ini, maka yang akan muncul kurang lebih sama dengan dunia yang sekarang ini ada. Tak kurang, tak lebih.

Dengan kata lain: tak mungkin ada dunia yang lebih sempurna dari dunia yang ada sekarang, dengan segala kekurangannya. Apa yang dalam skala kecil kita kira penderitaan, dalam “the grand scheme of things”, skala besar, bisa jadi merupakan berkah.

Pandemi korona yang sedang melanda seluruh dunia sekarang, dilihat dari satu segi adalah penderitaan yang besar bagai jutaan manusia.

Ribuan buruh kehilangan pekerjaan karena perusahaan tak mampu lagi membayar gaji mereka gara-gara ekonomi dunia mengalami pelambatan drastis. Puluhan ribu nyawa hilang, menyisakan kedukaan yang mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan. Tetapi, tak seluruh kisah pandemi korona adalah kisah kesedihan.

Di segi yang lain, ada banyak hal baik yang tiba-tiba muncul ke permukaan. Salah satunya adalah munculnya model komunikasi baru secara online melalui platform baru seperti Zoom. Semua universitas dipaksa mengembangkan pola pembelajaran baru secara jarak jauh. Banyak orang baik muncul dengan rela menyumbangkan hartanya untuk sesama. Dan masih banyak hal baik lain.

Seorang yang beriman selalu menaruh husnuzzann, kepercayaan bahwa di balik segala penderitaan dalam skala kecil, ada hikmah besar dalam skala besar yang mungkin baru diketahui belakangan. Dengan sikap hidup semacam ini, ia tak akan putus harapan, dalam keadaan apa pun. Dia akan selalu melihat terang di ujung lorong!


Sepanjang Ramadan, MOJOK.CO akan menampilkan kolom khusus “Wisata Akidah Bersama al-Ghazali” yang diampu oleh Ulil Abshar Abdalla. Tayang setiap pukul 16.00 WIB.

 

Sumber: https://mojok.co/uaa/kolom/jika-tuhan-maha-kuasa-lantas-kenapa-manusia-menderita/?fbclid=IwAR0fG_QM5lzH9jfRgXG1kuim4P0Tga9-88OlLt8KbvRBcL0qsXjksSzuVDI

PUASA DAN MENYUSUI

Oleh Zainul Maarif

Dosen Falsafah dan Agama Universitas Paramadina

 

Puasa Ramadan itu wajib sebagaimana tersurat dalam perintah Allah “fa man syahida minkum al-syahr falyashumhu” (barangsiapa menyaksikan bulan [Ramadan], maka berpuasalah!). (QS. Al-Baqarah/2: 185). Allah menyediakan karunia berlipat ganda bagi pelaksana instruksi itu. Di satu sisi, pemberian itu berbentuk abstrak. Di sisi lain, hadiah itu berbentuk kongkret.

Dampak abstrak dari puasa adalah pengampunan dan anugerah sekehendak Tuhan. Rasulullah saw. bersabda: “man shâma ramadlâna îmânan wahtisâban ghufira lahu mâ taqaddama min dzanbihi” (orang yang berpuasa Ramadan dengan keimanan dan pengharapan anugerah Tuhan niscaya diampuni dosanya yang lampau). (Muttafaqun Alaihi) Allah swt. berfirman di hadis qudsi, “al-shaum lî wa anâ ajzî bih” (puasa itu milik-Ku dan Aku mengganjarinya [semau-Ku]). (HR. Bukhari-Muslim) Tuhan maha mengetahui kondisi hamba-Nya, maka ganjaran sekehendak-Nya berarti ganjaran yang terbaik bagi hamba-Nya.

Adapun efek kongkret dari puasa adalah kesehatan. Rasulullah saw. bersabda “shûmû tashihhû” (berpuasalah, maka kalian akan sehat). Secara medis, puasa bermanfaat positif bagi psikis dan fisik pelakunya. Endorfin dalam darah orang yang berpuasa mengalami peningkatan, sehingga perasaannya nyaman dan mentalnya sehat. Resistensi insulin dan pembelahan sel di dalam tubuh orang puasa juga berkurang, sehingga risiko diabetes dan kanker juga berkurang. Puasa pun membakar lemak, sehingga berat badan terjaga dengan baik. (Lih., https://www.alodokter.com/manfaat-puasa-bagi-kesehatan)

Namun catatan di atas berlaku dalam kondisi normal. Tak semua manusia dalam kondisi sama. Oleh karena itu, terdapat pengecualian dalam hal puasa. Orang sakit dan musafir diperkenankan tidak berpuasa, karena Tuhan tidak menyariatkan puasa untuk mempersulit manusia, melainkan untuk mempermudahnya, seperti termaktub di ayat “fa man kâna marîdlan aw `ala safarin fa `iddatun min ayyâmin ukhar yurîdu allâh bikum al-yusr wa lâ yuîrdu bikum al-`usr ” (orang yang sakit atau sedang dalam perjalanan, gantilah (puasa itu) di hari lain. Tuhan ingin kalian mudah bukan ingin kalian susah). (QS. Al-Baqarah/2: 185).

Ibu hamil dan menyusui juga mendapatkan keringanan berpuasa seperti yang diterima orang sakit dan musafir. Susah payah ibu hamil dan menyusui diperhatikan oleh Al-Quran, “hamalathu ummuhu wahnan `alâ wahnin wa fishâluhu fî `âmaini” (manusia dikandung oleh ibunya dalam kondisi lemah di atas lemah dan penyapihannya dalam [umur] dua tahun). (QS. Luqman/31: 14). Oleh karena itu, Rasulullah saw. bersabda, “inna allâh wadha`an al-musafir syathr al-shalât wa `an `an al-hâmil wa al-murdli` al-shaum” (Sesungguhnya Allah meringankan bagi musafir dengan separuh shalat, dan bagi perempuan hamil dan menyusui, [keringanan] puasa). (HR. Tirmidzi)

Meski demikian, sebagian ibu menyusui dipaksa atau memaksakan diri berpuasa. Alasannya antara lain faktor religiusitas, merasa sayang untuk ditinggalkan. Puasa Ramadan dianggap sebagai kewajiban yang berganjaran besar setahun sekali yang sayang untuk ditinggalkan. Pertanyananya, apakah dipaksa atau memaksakan diri berpuasa saat menyusui itu tepat?

Bila dalihnya karena peruntah agama, maka perlu disadari kewajiban lain yang berkelindan pada ibu menyusui berikut pasangannya. Ibu dan ayah itu bertanggung jawab terhadap anaknya, seperti di firman-Nya, “yûshîkum allâh fî awladikum” (Allah mewasiatkan kalian dalam anak-anak kalian). (QS. Al-Nisâ’/4: 11) Orang tua diperingatkan untuk tidak membiarkan anaknya menjadi generasi lemah: “walyakhsa al-ladzîna law tarakû min khalfihim dzurriyah dhi`âfan” (dan takutlah bila meninggalkan generasi lemah). (QS. Al-Nisâ/4: 9)

Apapaun kondisinya, orang tua wajib memenuhi kebutuhan anak, terutama bayi yang tak berdaya dan bergantung. Kebutuhan pokok bayi adalah nutrisi  Air Susu Ibu (ASI).

Secara medis, ASI adalah makanan berkomposisi lengkap sesuai kebutuhan bayi. ASI mudah dicerna, suhu yang tepat, tidak menyebabkan alergi, mencegah kerusakan gigi (maloklusi) dan mengoptimalkan perkembangan bayi. Di dalam ASI, ada ragam zat-zat penangkal penyakit. Berbagai kemungkinan penyakit kronis di masa mendatang juga dapat dicegah oleh ASI, semisal penyakit tulang, gigi, diabetes miletus dan  jantung.

Bila tradisi Islam yang dijadikan acuan, maka tak ada anjuran untuk memberi selain ASI kepada bayi. Di zaman Nabi, susu sapi dan kambing dikonsumsi orang dewasa bukan  bayi. Makanan bayi hanya ASI, baik yang berasal dari ibu kandung atau  ibu susuan.

Allah mengharuskan ibu kandung menyusui anaknya: “wa awhainâ ilâ ummi mûsâ an ardhi`îhi” (Kami mewahyukan kepada ibu Musa: ‘Susuilah dia!’”). (QS. Al-Qashash/28: 7). Intruksi itu diiringi anjuran untuk menyusui bayi selama dua tahun: “wa al-wâlidâtu yurdhi`na awlâdahunna haulaini kâmilaini liman arâda an yutimma al-radhâ`ah” (Ibu-ibu menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh jika ingin menyempurnakan penyususuan). (QS. Al-Baqarah/2: 233)

Jika sang ibu tidak mampu menyusui karena sakit atau air susu surut, maka dia diperbolehkan mencari perempuan lain untuk menyusui bayinya: “wa in aradtum an tastardhi`û falâ junâha `alaikum” (jika kalian hendak menyusukan anakmu [pada perempuan lain], maka diperbolehkan bagi kalian” (QS. Al-Baqarah/2: 233) dan ayat “wa in ta`âsartum fasaturdhi`u lahû ukhrâ” (jika kalian kesulitan, maka anak itu akan disusui oleh perempuan lain). (QS. A-Thalaq/65: 6)

Sang ayah wajib menafkahi sang ibu dan anaknya itu, termasuk membayar  ibu susuan: “wa `ala al-maulûd lahû rizquhunna wa kiswatuhunna bi al-ma`rûf” (dan sang ayah wajib memberi rezeki dan pakaian kepada istrinya/ibu anaknya dengan baik) (QS. Al-Baqarah/2: 233) dan ayat “fa in ardha`nakum fa’tû hunna ujûrahunna” (jika perempuan lain menyusui anakmu, maka berilah ia upahnya). (QS. Al-Thalaq/65: 6)

Catatan di atas menunjukkan bahwa orang tua berkewajiban memenuhi kebutuhan gizi anaknya terutama bayi. Namun ketika bulan puasa datang muncul kewajiban lain yaitu menjalankan puasa.  Khusus pada ibu yang menyusui tampak ada dua kewajiban yang berbenturan: puasa dan menyusui. Dalam situasi itu  mana yang diutamakan?

Kesehatan bayi menghajatkan kesehatan ibu yang menyusuinya. Kesehatan ibu menyusui bergantung antara lain pada asupan gizi yang cukup. Ketika berpuasa, ibu menyusui bisa devisit kebutuhan gizinya yang mempengaruhi kualitas gisi ASI dan kesehatannya sendiri.  Sakit yang dialami ibu menyusui yang berpuasa itu tidak hanya merugikan sang ibu, tapi juga sang anak. Dari sisi itu jelas kewajiban utama si ibu adalah menyusui.

Bukti bahwa si ibu diminta untuk mengutamakan penyusuannya dapat dilihat dari keringanan berpuasa karena berbagai alasan. Pertama, ibu menyusui sama dengan orang sakit yang mengalami kesulitan ketika berpuasa, sementara Islam tidak menyariatkan sesuatu untuk menyulitkan manusia. Kedua, syariat puasa untuk manusia yang sanggup. Ketiga, inti puasa adalah mengendalikan diri dan berempati kepada orang lain. Ketika ibu menyusui dipaksa atau memaksakan diri berpuasa, dia bisa membahayakan dirinya dan bayinya, padahal Allah melarang  membahayakan bayinya (QS. Al-Baqarah/2: 233). Jadi, inti kewajiban puasa tidak berlaku padanya.

Ibu menyusui memang hanya diberi keringanan untuk tidak berpuasa. Dengan kata lain, dia masih boleh berpuasa dalam kondisi yang memungkinkan baginya berpuasa. Saat memungkinkannya berpuasa, ibu menyusui harus makan makanan bergizi cukup, serta tidak mengalami tekanan atau kerja yang berlipat ganda.

Jika ibu menyusui tidak berpuasa, maka ada dua ketentuan baginya: qadha’ dan/atau fidyah. Qadha’ adalah mengganti puasa yang ditinggalkan di bulan Ramadan dengan puasa di selain bulan Ramadan. Fidyah, di pihak lain, adalah mengganti puasa yang ditinggalkan di bulan Ramadan dengan memberi makanan kepada orang fakir/miskin. Jumlah fidyah atau qadha’ itu disesuai dengan jumlah puasa yang ditinggalkan. Jika satu hari puasa yang ditinggalkan, maka qadha’nya satu hari puasa pasca Ramadan, sementara fidyahnya memberi makanan kepada satu orang miskin sehari. Hal itu berlaku kelipatannya.

Mazhab Syafi`i dan Hanbali menyatakan bahwa ibu menyusui yang tidak berpuasa karena menghawatirkan kondisi dirinya sendiri saja diwajibkan mengqadha’ puasanya. Namun jika dia menghawatirkan kondisi dirinya dan bayinya, maka kewajibannya adalah qadha’ dan fidyah. (Musnad Syafi`i, h. 982).

Ketentuan dua aliran hukum Islam tersebut bersifat baku. Padahal, kondisi riil kerap tidak terpikirkan oleh keputusan legal. Sebagian perempuan sakit-sakitan, sehingga sulit baginya mengqadha’ puasa, namun memungkinkan baginya membayar fidyah, maka fidyahlah solusi baginya. Sebagian perempuan tergolong fakir miskin, sehingga sulit baginya membayar fidyah, namun memungkinkan baginya mengqadha’ puasa, maka qadha’ puasa adalah jalan keluar baginya. Sebagian perempuan tergolong fakir-miskin dan sakit-sakitan n, sehingga sulit baginya mengqadha’ puasa atau membayar fidyah, maka dua hal tersebut tidak bisa dibebankan kepadanya. Keturunan/kerabatnya yang mampulah yang kelak mewakilinya dalam mengqadha’ atau membayar fidyah.

Di ranah itu, syariat Islam tampak sungguh-sungguh tidak mempersusah manusia, justru mempermudahnya. Syariat Islam memang untuk manusia, bukan untuk Tuhan. Tuhan maha kaya dan tidak membutuhkan apa pun dari manusia. Karena manusia mempunyai banyak keterbatasan dan syariat Islam senantiasa memberi keringanan, maka manusia seharusnya tahu diri dan tidak usah mempersulit diri. []

25 April 2020

 

Sumber gambar: https://www.jembermu.com/2016/06/puasa-bagi-ibu-hamil-dan-menyusui.html

 

 

MENGAJI FIQH AGRARIA

Oleh Mohamad Shohibuddin

Secara bertahap, saya akan mengaji fiqh agraria dengan membaca dan mengartikan buku al-Ahkam as-Sulthaniyyah yang merupakan magnum opus Imam al-Mawardi (w. 450 H/sekitar 1072 M).
Ada tiga bab dalam buku ini yang secara khusus membahas persoalan agraria, yaitu Bab 15 tentang mengidupkan lahan menganggur; Bab 16 tentang areal lindung dan tanah milik bersama; dan Bab 17 tentang pemberian/distribusi dan konsesi lahan oleh pemerintah.
Buku al-Ahkam as-Sulthaniyyah ini bisa diunduh melalui tautan berikut ini: https://bit.ly/2Y2zLP1

 

Hari kedua

Masih melanjutkan Bab 15 kitab al-Ahkam as-Sulthaniyyah mengenai ihya’ul mawat (menghidupkan lahan mati atau menganggur). Kali ini pembahasan mengenai tiga syarat yang harus dipenuhi agar aktivitas pembukaan lahan dapat berimplikasi pada hak milik atas tanah.

 

Pokok bahasan pada hari ketiga mengaji kitab al-Ahkam as-Sulthaniyyah ini adalah mengenai dua kategori tanah, yaitu tanah ‘usyr dan tanah kharaj, serta perbedaan pendapat di antara para ulama mengenai sejauh mana sumber pasokan air menjadi faktor penentu dalam mengklasifikasikan apakah suatu tanah termasuk ke dalam kategori ‘usyr ataukah kharaj.

 

Hari ke-1

https://web.facebook.com/iib.shohib/videos/10221786118340333/

 

Hari ke-2

https://web.facebook.com/iib.shohib/videos/10221790952861193/?t=0

 

Hari ke-3

https://web.facebook.com/iib.shohib/videos/10221805074174217/?t=0

MEMAHAMI METAFISIKA LINTANG KEMUKUS

oleh Suwardi Endraswara

Alam pikiran metafisis Jawa telah lama menjangkau lintang kemukus. Saat lintang kemukus muncul menjelang pagi, orang tua yang menyaksikan kejadian itu selalu berpesan agar waspada, mungkin akan ada malapetaka.

Ingatan kembali ke masa lalu, ketika di media sosial heboh dengan kemunculan lintang kemukus pada 20 April 2020, setelah pukul satu dini hari. Di wilayah Yogyakarta, komet atau bintang berekor itu terlihat tepat di atas Kali Code, sungai besar yang membelah kota Yogyakarta. Yang menjadi teka-teki, apakah kemunculannya berkaitan dengan wabah korona (Covid-19) yang telah meluluhlantakkan peradaban ini.

*Zaman jungkir balik*

Dalam kosmologi Jawa, lintang kemukus adalah tetenger atau penanda akan datangnya zaman jungkir balik (wolak-walik), yaitu munculnya pageblug. Maka, ketika banyak orang menyaksikan kehadirannya, mereka lalu mengaitkan dengan upaya karantina di beberapa kampung. Hampir setiap kampung memasang tanda larangan masuk. Bahkan ada yang berbunyi: ”Lockdown sementara, nekat masuk, bungkus!”

Kata lockdown berubah dalam lidah lokal. Ada lauk daun, yang kalau diotak-atik jadi hidup herbal, badan jadi sehat. Ada juga daun mujarab menampar korona, yaitu daun pisang kepok. Dalam pikiran botani budaya, ini agar virus kapok sehingga tidak menular. Orang Jawa menanam pisang maraseba di depan rumah, artinya ingat bahwa manusia akan mati (seba), maka pasrah itu perlu.

Lintang kemukus berasal dari bahasa Jawa, kukus, artinya asap. Kalau ada yang meninggal, masih ada budaya membakar dupa berasap. Kukus juga berarti tanda-tanda, akan kembali ke asalnya. Mati. Orang Jawa menghayati
ngelmu titen, artinya ilmu yang berbasis pengalaman empiris. Pengalaman fenomenologis yang telah berulang itu sering menjadi sandaran memahami lintang kemukus sebagai tanda hadirnya zaman tidak karuan.

Saat ini, ketika dunia dilanda pageblug korona, manusia harus social distancing, menjaga jarak. Padahal, budaya manusia itu berkumpul dan berkelompok. Untunglah, di zaman jungkir balik ini ada konsep 3N yang bisa dipegang, yaitu (1) nglilir, artinya bangkit, sadar kosmis,(2) nglulur, berarti bersih diri, memperbaiki diri, dan (3) nglolor, artinya rela berbagi rezeki untuk yang menderita.

Secara budaya, orang memaknai lintang kemukus secara hermeneutika (tafsir). Martin Heidegger dalam bukunya Being and Time (2001) menyatakan, pemaknaan teks terkait konteks sejarah dan mitos.

Bahkan, sejak Aristoteles (384-322 SM), tradisi membaca tetenger alam semesta sudah ada. Kemunculan lintang kemukus di langit Athena, 373 SM, dikaitkan dengan gempa bumi yang sangat besar.

Entah kebetulan atau tidak, film berjudul The Happening yang dirilis 2018 telah menceritakan wabah virus misterius yang tersebar di udara. Wabah hanya menyerang orang-orang yang bergerombol dan banyak orang bunuh diri.

Di Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta, masyarakat masih percaya dengan mitos pulung gantung, yang ditandai dengan hadirnya lintang clorot. Bentuknya sama dengan lintang kemukus dan dipercaya sebagai tanda kematian, kebanyakan dengan cara gantung diri.

Setuju atau tidak, pemikiran mistis itu merupakan sebuah nalar orisinal yang sulit diabaikan. Mitos adalah teks yang kaya tafsir. Maka, tanda zaman munculnya lintang kemukus ini pun mengundang interpretasi.

Madison dalam bukunya, The Hermeneutics of Postmodernity (1990: 158), mengatakan, manusia boleh melakukan tafsir (hermeneutika) sampai ke tingkat metafisika teks. Maka, interpretasi lintang kemukus, harus sampai ruh (metafisika) agar tak memunculkan salah paham. Tafsir yang mewarnai makna lintang kemukus adalah fenomena zaman jungkir balik. Pujangga Ranggawarsita berpesan agar eling (ingat) dan waspada.

*Zaman emas*

Memang tidak selamanya lintang kemukus menjadi pertanda akan datang musibah. Dalam ramalan jangka Jaya Baya justru bisa sebaliknya, lintang kemukus menjadi sinyal hadirnya zaman emas. Zaman yang membuat orang-orang bahagia. Bunyi jangka Jaya Baya itu adalah: ”Sadurunge ana tetenger lintang kemukus, saka arah kidul wetan, lawase pitung wengi, parak esuk bener ilange, bethara Surya jumedhul bebarengan zaman sengsara am-mungkur prihatine, iku tandhane Bathara Indra tumurun mbebantu titah”. Artinya, sebelumnya ada tanda-tanda gaib berupa lintang kemukus dari arah tenggara, selama tujuh malam, hilang pagi hari ketika sang surya datang, maka kesengsaraan manusia akan berakhir pada waktu Batara Indra datang membantu.

Orang Jawa memiliki kearifan lokal ihwal menolak bencana, ditandai kehadiran lintang kemukus yang dalam astronomi disebut komet. Komet berasal dari bahasa Latin cometa atau cometes, artinya ’berambut panjang’. Untuk mengatasi gejolak komet, orang Jawa memakai senjata sayur lodeh tujuh rupa, yakni kluwih (luwihana), artinya lebihkanlah meski diam di rumah; kacang gleyor (cancangen), ikatlah keinginanmu, tak usah pergi kemana-mana; terong ungu, artinya bangkit atau wungu (sadar) bahaya virus; waluh (uwalana rasa mengeluh); daun so (ngaso, artinya banyak istirahat); tempe (dhedhepe) selalu mohon kepada Tuhan, agar menjadi melinjo (onjo), artinya orang yang menang melawan korona.

Ketujuh unsur lodeh itu merupakan aplikasi ngelmu Semar dan Petruk, yang pernah di-gagas Romo Sindhunata. Semar, berarti sengsem (mesem) di kamar. Artinya, harus tersenyum, tidak menggerutu selama di rumah. Orang Jawa menggenapkan Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong dalam ungkapan Samir khairan fatruk mabagha. Artinya, sadar, senyum, dan bergegaslah melaksanakan kebaikan, kebersihan, kejujuran. Tinggalkan hal yang menyimpang.

Untuk meraih zaman cemerlang (enlightenment), orang Jawa juga mengacu tumbuhan lokal bernama kemukus. Tumbuhan ini, jika bijinya telah diambil, bentuknya memanjang seperti lintang kemukus. Kemukus justru simbol hidup karena ia tumbuh, maka merambatlah seperti kemukus untuk meraih zaman emas.

Metafisika Jawa lain ketika berhadapan dengan pageblug juga cerdas. Kearifan itu terangkum dalam konsep 4R. Saya sebut Catur Wedhabrata, artinya empat ilmu menjalankan laku hidup, yaitu (1) Rumahan, artinya berdiam diri di rumah, (2) Rumangsan, artinya merasa (mawas diri) bahwa manusia itu lemah, bisa merasakan penderitaan orang lain, (3) Rumaketan, artinya kembali mempererat hubungan keluarga, dan (4) Resikan, artinya menjaga kebersihan, cuci tangan, kaki, dan pikiran kotor.

Jauh sebelum saya membaca novel Ahmad Tohari, Lintang Kemukus Dini Hari, yang merupakan bagian dari trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, saya sudah mendengar cerita penampakan lintang kemukus pada September 1965. Novel itu diterbitkan Penerbit Gramedia, Jakarta, 1985, 211 halaman.

Sebelumnya novel dimuat di harian Kompas (23 September-27 Oktober 1984) sebagai cerita bersambung. Novel itu seolah menjadi memori sastra yang amat berharga.

Mengatasi pertanda lintang kemukus yang berbuntut pageblug korona, ada ilmu keselamatan (ngelmu slamet) Jawa, yaitu ora ilok, artinya tidak pantas. Ada tiga macam ora ilok yang, apabila dilanggar, tentu pageblug sulit dibendung.

Pertama, ora ilok ngeyel, artinya tidak baik membangkang, jika dilarang mudik harus taat.
Kedua, ngayal, jangan mengkhayal yang buruk-buruk apabila terkena korona, lalu kurang jujur, dan ketiga ngluyur, artinya dilarang bepergian.

Semua pegangan itu memuat didaktika budaya saat melawan pageblug, untuk menciptakan hidup harmoni. Wabah korona telah meneteskan hikmah agar hidup seimbang antara di rumah-jemaah, keluarga-negara, kaya-miskin, rakyat-pejabat, dan si sehat-sakit. Akhirnya, hidup manusia secara metafisika akan mampu mencapai memayu hayuning bawana.

#Kompas27042020

 

Sumber gambar: https://fnn.co.id/2019/02/11/kosmologi-jawa-lintang-kemukus-di-atas-kita-solo/

Wisata Akidah Bersama al-Ghazali: Kenapa Akidah Penting?

MOJOK.CO – Saya akan ajak para pembaca Mojok selama bulan puasa ini untuk melakukan “wisata akidah” melalui jalan pemikiran al-Ghazali.

Dalam tulisan serial ini, saya akan merumuskan pandangan saya tentang sebuah tema yang saya pandang penting: bagaimana menjadi muslim pada era yang sudah “hyper-modern” sekarang.

Istilah “zaman digital” di sini saya pakai sebagai semacam “penanda waktu” untuk sebuah era yang sudah mengalami perubahan yang drastis di segala bidang. Perubahan-perubahan ini jelas akan mempengaruhi cara kita beragama—bahkan cara kita hidup secara lebih luas.

Sebuah kebetulan bahwa serial ini saya kerjakan di tengah-tengah keharusan untuk swa-isolasi karena pandemi corona. Meskipun “kebetulan” di sini kurang tepat dalam cara pandang seorang beriman (karena dalam pandangan “imaniah”, tak ada hal yang bersifat “random,” acak, kebetulan; semuanya ada karena suatu “tujuan”!), tetapi istilah ini tetap saya pakai dalam pengertiannya yang lazim: yaitu koinsidensi—yakni, sesuatu terjadi bersamaan dengan sesuatu yang lain.

Pandemi corona saat ini “memaksakan” kepada semua orang, termasuk orang-orang beragama, untuk melakukan “re-kalibrasi”, mengatur ulang cara hidup mereka secara drastis.

Dalam kehidupan keagamaan, hal ini sangat terlihat: kita dipaksa oleh keadaan untuk mengubah cara-cara lama dalam beragama. Semula, kita beragama dengan cara menjalani “sosialitas”, berkumpul dengan orang-orang lain dalam sebuah jamaah; dan sekarang tiba-tiba kita harus beribadah secara individual, di rumah masing-masing. Pandemi corona telah “mengganggu” ritme penting dalam beragama: dari jamaah ke infirad, dari sosialitas ke individualitas.

Konteks modern di mana kita hidup sekarang juga “memaksakan” keadaan tertentu yang membuat kita harus meninjau-ulang sejumlah pemahaman keagamaan. Tanpa kemampuan meninjau-ulang, saya khawatir agama Islam akan kehilangan daya tarik bagi generasi sekarang. Apa yang saya lakukan dalam serial tulisan ini adalah usaha saya untuk memahami ulang “teologi Islam” dalam terang perubahan-perubahan yang sedang berlangsung.

Saya memang sengaja membatasi diri pada tema kecil tetapi penting ini: yaitu teologi. Apa yang saya maksud dengan teologi di sini adalah cara kita memahami dan berhubungan dengan Tuhan.

Saya berpandangan bahwa cara kita berhubungan dengan Tuhan, sangat mempengaruhi bagaimana kita berhubungan dengan manusia lain, alam sekitar, dan bagaimana kita mengelola kehidupan secara umum. Dalam tradisi Islam, teologi biasa disebut “aqidah”.

Dalam bahasa Jawa, “aqidah” secara harafiah bermakna “bundelan”: sesuatu yang diikat dengan kiat, rapi, sehingga tak mudah cerai-berai. Dalam pandangan seorang beriman, kehidupan yang sehat harus didasarkan pada “bundelan” semacam ini, pada ikatan yang kuat, agar kita tidak “disorientasi”. Dalam filosofi Jawa, seseorang harus memiliki pandangan yang jelas tentang “sangkan-paran”, dari mana kita datang, dan ke mana kita hendak pergi – where we come from, and where to go.

Tanpa pandangan yang jelas perihal perkara yang amat penting ini, kita akan berjalan seperti “drifter”—orang bingung. Itulah kenapa aqidahbundelan, amat penting.

Dalam serial ini, saya akan “membaca-kembali” aqidah Islam sebagaimana dirumuskan oleh Imam al-Ghazali (w. 1111), mujaddid/pembaharu yang mengubah “dunia Sunni” itu, dalam kitab Ihya’ ‘Ulum al-Din. Pada juz pertama kitab Ihya’, al-Ghazali menulis sebuah bab yang panjang dengan judul, “Kitab Qawa‘id al-‘Aqa’id”. Dalam bab ini, al-Ghazali mencoba merumuskan akidah Islam sesuai dengan doktrin Asy’ariyyah—doktrin yang, selain Maturidiyyah, paling banyak diikuti oleh umat Islam di seluruh dunia saat ini.

Saya akan mengajak para pembaca Mojok selama bulan puasa ini untuk melakukan “wisata akidah” dengan mengikuti pembahasan al-Ghazali dalam bab tersebut. Tentu saja, saya tidak mengikuti secara “letterlijk,” harafiah, apa yang ditulis oleh al-Ghazali. Saya akan mencoba melakukan “kontekstualisasi” semampu saya atas ajaran-ajaran teologis yang ditulis oleh al-Ghazali.

Panduan utama saya dalam menuliskan gagasan-gagasan ini adalah hal berikut: seradikal apapun zaman berubah, pastilah ada yang tetap sama dan tidak berubah kapan pun. Tidak mungkin segala hal berubah secara total: pasti ada yang sama dari zaman dulu hingga sekarang. Apa yang “tetap” itu, dan apa yang “berubah,” akan tampak dalam tulisan-tulisan berikut. Hidup yang sehat tercapai jika kita bisa menentukan titik keseimbangan antara yang “tetap” dan “berubah”. Mencong sedikit, pasti akan terjadi kekacauan, kegalauan.

Selamat menjalankan ibadah puasa, dan selamat melakukan “wisata akidah” bersama Imam Ghazali!


Sepanjang Ramadan, MOJOK.CO akan menampilkan kolom khusus “Wisata Akidah Bersama al-Ghazali” yang diampu oleh Ulil Abshar Abdalla. Tayang setiap pukul 16.00 WIB.

 

Sumber: https://mojok.co/uaa/kolom/kenapa-akidah-penting/

rumah kitab

Merebut Tafsir: Ikhtiar setelah Isolasi Mandiri 14 hari

Menjelang sahur hari kedua, sebaris pesan dari asisten program officer (APO) program pencegahan kawin anak di daerah X masuk. “Bu, Pak A positif kena covid 19″. Tentu berita itu mengagetkan. Pak A punya posisi penting dalam advokasi kami. Ia memiliki jabatan strategis, berpendidikan bagus, pintar dan terbuka, dan punya kehendak untuk perubahan di wilayahnya. Dengan posisi yang dimilikinya niscaya dia cukup mendapatkan informasi bagaimana cegah tangkal covid 19.

Berita WA itu berlanjut setelah saya menyatakan keterkejutan. ” Padahal beliau sudah menjalani isolasi mandiri 14 hari” balas sang APO. “Lalu? ” tanya saya. ” Iya Bu setelah itu beliau ngantor seperti biasa, kondangan karena mau puasa banyak yang hajatan, Jumatan, dan pertemuan-pertemuan lain seperti biasa”. “Lha ini”…seru saya.

Saya kira, warga banyak yang patuh mengikuti anjuran pemerintah untuk isolasi mandiri 14 hari, namun banyak yang tak paham artinya “isolasi mandiri 14 hari”. Disangkanya seperti habis puasa menahan diri 14 hari setelah itu Lebaran, bebas makan/keluar semaunya.

Saya menulis pesan panjang soal inti kegunaan isolasi mandiri 14 hari kepada sang APO untuk disampaikan ke jaringan pencegahan perkawinan anak di daerahnya.

Setelah 14 hari melakukan isolasi mandiri, dan ternyata TAK TAMPAK GEJALA, maka artinya orang yang menjalani isolasi itu KEMUNGKINAN sehat dari covid 19. Perjuangan selanjutnya justru itu yang paling penting. IKHTIAR UNTUK TETAP DALAM STATUS SEHAT setelah 14 hari isolasi.

Jangka waktu 14 hari seharusnya dipahami sebagai cara sederhana mengecek sendiri apakah ada gejala infeksi atau tidak: batuk, demam, sakit tenggorokan, sesak dan seterusnya.

Jika ternyata tak ada gejala, maka berikutnya adalah IKHTIAR untuk tetap menjaga untuk tetap SEHAT. Caranya telah berulang kali dijelaskan oleh pemerintah dan banyak pihak : jaga jarak dari orang/tidak bersentuhan atau disentuh seperti salaman,cipika cipiki, selalu cuci tangan pakai sabun di bawah air yang mengalir minimal selama 20 detik, selalu memastikan barang yang telah/bekas dipegang orang lain (kunci, pulpen, berkas surat, dokumen, kantong plasik, bungkusan, apapun) senantiasa diseka dengan lap/tisu disinfektan sebelum dipegang, atau sebaliknya segera cuci tangan setelah memegang benda-benda yang disentuh orang lain. Istiqomah pakai masker setiap waktu jika terpaksa harus bertemu orang atau datang ke kerumunan, banyak minum dengan ketentuan tempat minumnya tak berbagi (ibu/bapak dengan anak atau sebaliknya), tidak menyentuh muka, mata, mulut, hidung langsung dengan tangan, jika perlu gunakan alat (garpu steril/yang sering dilap alkohol/disinfektan).

Setelah 14 hari isolasi, disitulah sebetulnya jihad kita. Seperti orang habis puasa, menahan diri yang paling penting justru setelah lebaran. Setelah 14 hari isolasi itu perjuangan keras melawan covid 19 bagi setiap orang harus berlangsung. Terus waspada untuk tak memindahkan virus itu melalui media perantara baik langsung (bersin batuk,meludah, buang ingus dll) yang cairannya menerpa ke muka. Atau melalui perantara benda yang sudah dihinggapi covid 19.

Perjuangan atau jihad ini yang harus dilakukan TERUS MENERUS sepanjang waktu sampai pemerintah sebagai lembaga yang memiliki seperangkat instrumen untuk membuktikan virus telah hilang, kita baru Lebaran bebas covid 19, bebas dari puasa isolasi lanjutan.

Jadi jihad melawan covid 19 yang lebih berat dan karenanya harus sabar dan waspada adalah justru SETELAH ISOLASI MANDIRI 14 HARI lulus.

 

Lies Marcoes, 25 April 2020.

rumah kitab

Merebut Tafsir : Pijar itu Arief Budiman

Oleh Lies Marcoes

Tahun 1985, gagasan tentang gender mulai mengemuka di negeri ini. Namun referensi berbahasa Indonesia belum banyak dan tak memadai. Pemahaman tentang konsep gender (tanpa mau mengakui hubungannya yang erat dengan filsafat dan pemikiran feminisme ketika itu ) saya kumpulkan melalui serpihan-serpihan referensi atau dari diskusi-diskusi parsial.

Adalah buku Arief Budiman “Pembagian Kerja Secara Seksual: Sebuah Pembahasan Sosiologis tentang Peran Wanita di dalam Masyarakat” yang pertama kali memberi pijar petunjuk jalan bagi saya untuk memahami secara lebih komprehensif mengapa gender diperlukan sebagai paradigma untuk membaca realitas manusia- lelaki dan perempuan. Dalam buku itu Arief memperkenalkan konsep nurture dan culture sebagai dua aspek yang mengkonstruksikan secara sosial untuk “menjadi” lelaki dan perempuan. Ternyata bukan hanya aspek biologis dan asuhan (nurture) yang menjadikan seseorang itu disebut lelaki atau perempuan, tetapi juga culture.

Dalam perkembangannya kita tahu yang dimaksud oleh Pak Arief adalah pembagian kerja secara gender. Kata “seksual” dimaksud adalah identitas kelamin kultural atau gender yang dibangun oleh sejarah manusia dan dibedakan dari seks (biologis).

Dalam keyakinan Islam, terputus amal seseorang setelah wafat kecuali, – antara lain- ilmu yang bermanfaat. Pak Arief Budiman telah meninggalkan puluhan buku yang niscaya menjadi pijar penunjuk bagi banyak orang untuk tetap lempang dan kritis. Dan salah satunya ia mewariskan buku yang saya yakin berpengaruh sangat besar atas lahirnya paradigma feminisme dan alat analisis gender yang berguna untuk mengkritisi pembangunan yang kerap abai kepada kebutuhan kaum perempuan, baik karena buta atau bias. buku-buku yang kemudian menjadi pijar penunjuk jalan bagi banyak orang di dunia, dan ini adalah amalan yang langgeng yang mengalir deras bagi Pak Aref Budiman Insya Allah. Innalillahi wainna ilaihi raajiun. Selamat jalan Pak Arief. Salam buat Soe Hok Gie dan Ismed Natsir ya Pak.

Lies Marcoes, 24 April 2020.

Kabar dari Lombok

Oleh Nursyda Syam

Kain batik motif parang ini dikirimkan oleh Rumah KitaB dan sedianya akan saya pakai pada saat mengisi seminar nasional pencegahan kawin anak di Jakarta, tanggal 17 April 2020. Rumah KitaB memberi kami penghargaan luar biasa besar, meminta saya berbicara di forum nasional, bercerita tentang praktik baik yang digagas anak-anak Kanca dalam upaya saling menjaga agar tak jatuh pada pernikahan usia belia. Tapi entah mengapa saya selalu lupa untuk berangkat membawa kain ini ke penjahit, padahal desainnya sudah saya pikirkan sejak awal. Anak-anak pun sedang kami persiapkan, karena beberapa diantara anak Kanca juga akan terbang bersama saya. Mereka akan pentas dan membawa pesan cegah kawin anak di kancah nasional, di Ibukota Jakarta.

 

Berbagai tahapan persiapan sudah kami lalui, tapi takdir berkata lain, virus corona menginfeksi sebagian warga ibukota dan pada akhirnya seminar nasional dibatalkan demi kebaikan banyak orang. Kepada Bunda Lies Marcoes saya meminta izin untuk menjahit batik ini menjadi masker yang akan dijahit bersama kain yang dibeli oleh adik kece badai Dee Yan dan kain yang rencananya kami jadikan seragam sekaha gamelan, pun juga kain lain yang kami beli. Rumah Kitab mengirimkan dana untuk menjahit sebesar 1,5 juta yang kami serahkan sepenuhnya pada @Hudri dan Mala Dita.

 

Alhamdulillah total masker yang diproduksi untuk tahap ke-2 dengan bantuan Rumah KitaB sebanyak 326 yang sebagian sudah kami sebar ke Batu Lilir, dikirim untuk kebutuhan guru disebuah sekolah yang dikirimkan melalui adik Dian. Insya allah esok akan mengirim kembali ke Batu Lilir mengingat disana masih banyak permintaan dan warga sangat membutuhkan mengingat sudah ada warga yang positif covid-19 disana.

Sebagian juga akan dikirim kembali untuk pedagang di pasar, tukang ojek, tukang dan semua yang harus bekerja diluar.

Terima kasih tak terhingga kepada Rumah KitaB, dan semua yang membantu. Tuhan beserta kita selalu. Amin.

 

NASIB PEREMPUAN DI TENGAH WABAH COVID-19

Oleh Tuti Oktaviani

Hari-hari ini, perhatian umat manusia di seluruh dunia tertuju pada virus corona yang mewabah di banyak negara sejak ditemukannya kasus wabah Corona di Tiongkok pada sekitar bulan Nopember – Desember 2019. Lembaga WHO (World Health Organization), sebagai Badan Kesehatan Dunia, menyatakan bahwa virus Corona atau COVID-19 (Coronavirus Desease 2019) merupakan pandemi yang telah merenggut nyawa ribuan orang.

 

Hingga tulisan ini dibuat tercatat jumlah pasien virus corona COVID-19 hingga 15 April 2020, yaitu kasus positif bertambah 282 total 4.839, pasien sembuh bertambah 46 total 426, dan pasien meninggal 60 total 459. Ini gambaran bahwa penularan di tengah masyarakat masih terjadi. Angka penularan yang begitu besar ini tidak hanya disebabkan oleh tingkat penularan virus yang begitu tinggi, tetapi juga diakibatkan minimnya pengetahuan serta pemahaman masyarakat kita terhadap penularan virus corona (Covid – 19) ini.

 

Sejumlah kalangan memberikan respon terhadap fenomena munculnya virus Corona ini, mulai dari kalangan pemerintah, ilmuwan dan agamawan. Pemerintah, misalnya, telah menetapkan beberapa kebijakan di antaranya adalah “merumahkan” para pelajar dan mahasiswa untuk belajar di rumah, menunda kegiatan – kegiatan yang melibatkan banyak orang, serta hal-hal lain yang sifatnya mengundang kerumunan massa. Bukan hanya di Indonesia, kebijakan lockdown dan karantina mandiri tengah diterapkan di sejumlah negara demi memerangi pandemi.

 

Namun demikian, meski kebijakan ini bertujuan baik, tak bisa dimungkiri ia bisa membawa petaka bagi sebagian orang—khususnya kaum perempuan yang menjadi sorotan dalam tulisan ini.

 

Sejumlah data—seperti dikutip Time—menunjukkan bahwa kekerasan domestik di berbagai negara tercatat meningkat drastis. Para korban–yang tak jarang merupakan perempuan–akan jadi lebih sulit untuk keluar rumah maupun meminta pertolongan ke tempat kerja, keluarga, maupun pusat-pusat dukungan lainnya. Bahkan, Badan PBB mencatat, 1 dari 3 perempuan pernah menjadi korban kekerasan fisik maupun seksual, yang biasanya dilakukan oleh pasangannya. Probabilitas ini bisa meningkat saat krisis terjadi, termasuk ketika perang maupun pandemi.

 

Di Indonesia sendiri, posisi perempuan dalam keluarga dan masyarakat, terutama dari keluarga berpendapatan rendah dan perempuan kepala keluarga, tidak hanya akan mendapatkan akibat langsung dari kebijakan pemerintah dalam menangani pandemik corona tetapi juga akan menghadapi beban dan tekanan ganda yang membuatnya lebih rentan terhadap infeksi.

 

Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), mengatakan, bahwa petugas medis yang berada di garda depan merisikokan diri terpapar pada COVID-19, terutama dalam kondisi keterbatasan Alat Pelindung Diri (APD). Termasuk di dalamnya adalah perawat, di mana dari 359.339 perawat, 71% atau 259.326 orang adalah perempuan (PPNI, 2017).

 

Pekerja yang berada di lapis pelayanan langsung, misalnya kasir, resepsionis, layanan pelanggan (customer service), dan pemasaran (marketing) atau penjual di pasar memang didominasi oleh perempuan. Berbekal perlindungan seadanya, seperti masker, tidak semua dapat menerapkan jarak minimum dengan klien atau pembeli. Kondisi kehidupan perempuan miskin juga menyebabkannya lebih gampang terpapar, baik karena asupan gizi maupun kualitas kesehatan di lingkungan tempat tinggal.

 

Jika kita baca angka-angka, ada kurang lebih 25 juta penduduk miskin, tingkat kemiskinan perempuan relatif lebih tinggi di seluruh lapisan usia dan di semua provinsi (Bappenas, 2019). Sekitar 10% hidup di bawah garis kemiskinan dan hidup pengangguran atau tanpa tempat tinggal (gelandangan). Kondisi kemiskinan perempuan perlu dicermati pula dalam konteks perempuan disabilitas dan lansia. Jumlah perempuan penyandang disabilitas dalam rentang usia 18-59 tahun lebih besar daripada laki-laki, dengan kecenderungan pendidikan rendah dan tidak bekerja (Kemenkes, 2018). Proporsi perempuan usia lanjut juga lebih besar, dengan rata-rata angka harapan hidup empat tahun lebih panjang daripada laki-laki. Diperkirakan lebih 9,3 juta perempuan berusia di atas 65 tahun pada 2019  (Sussenas, 2015) dengan jaminan sosial yang minim.

 

Dengan melihat sejumlah kasus di atas, maka saya mencermati secara serius apa yang telah dilakukan oleh Pemerintah dalam mencegah dampak Covid ini, terutama pada perempuan dan anak-anak. Setelah membuka sejumlah informasi, agaknya pencarian saya terhenti pada suatu berita tentang Kementerian Pemberdayaan Peremuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) berkomitmen memberikan perlindungan terhadap perempuan, anak dan kelompok rentan dengan kebijakan dan perubahan prioritas anggaran untuk menangani penyebaran virus Corona yang berdampak pada perempuan dan anak.

 

Anggaran Kementerian juga akan difokuskan untuk pendampingan dan perlindungan khusus anak korban Covid 19 serta kerjasama dengan pemangku kepentingan terkait perlindungan sosial dan pemberdayaan ekonomi perempuan. Juga, Komisi VIII DPR mendorong KPPPA meningkatkan kordinasi dan sinergi untuk membuat pusat krisis perlindungan ibu dan anak.

 

Dan, yang tak kalah menggembirakan adalah Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) pada 26 Maret 2020 di Jakarta menyerukan integrasi perspektif Hak Asasi Manusia (HAM) yang inklusif dan interseksional, dengan perhatian khusus pada perempuan dalam penanganan pandemi COVID-19. Perhatian khusus ini dibutuhkan karena perempuan mengalami kerentanan terpapar virus ini, serta menanggung dampak yang khas dari kebijakan penanganan COVID-19 terkait peran sosialnya di dalam keluarga dan masyarakat. Dengan pendekatan yang mengintegrasikan HAM dan perhatian khusus ini diharapkan perempuan dapat lebih terlindungi, termasuk dari persoalan kesehatan, pemiskinan, eksploitasi dan kekerasan.

 

Bertolak dari kondisi-kondisi kerentanan perempuan tersebut di atas, Komnas Perempuan merekomendasikan kepada Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 untuk membangun pendekatan afirmasi dalam hal pencegahan dan penanganan COVID-19 yang menyikapi kerentanan perempuan, terutama dukungan bagi perempuan petugas medis, perempuan lansia, perempuan disabilitas dan  memastikan akses informasi ramah perempuan, disabilitas dan lansia terkait penanggulangan COVID-19.

 

Akhirnya, perlu saya tekankan di akhir tulisan ini bahwa peran perempuan sangat diperlukan dalam membangun solidaritas, maju bergerak bersama dan menjadi agen perubahan di lingkungannya masing-masing di tengah situasi wabah Corona ini. Sudah saatnya, perempuan bersama-sama mengatur stategi menghadapi kemungkinan terberat sekalipun. Mari ikatan sosial perlu terus diperkuat dan upaya mencegah penyebaran virus ini dengan lebih cepat.

rumah kitab

Merebut Tafsir: Karena Angka Tak Bicara Realitas

Oleh Lies Marcoes

Angka adalah angka. Itu benar. Tapi Ilmu pengetahuan sosial membaca beda dengan ilmu tentang angka-angka. Sebab angka tak bicara kenyataan. Ketika seekor nyamuk menggigit seseorang dan orang itu tewas karena ternyata itu nyamuk DBD, statistik akan mencatat, satu orang tewas terkena DBD. Namun ilmu-ilmu sosial antropologi akan bertanya , 1 orang tewas akibat DBD itu berapa yang terdampak dari kematian itu?

Lalu ilmu sosial antropologi yang menggunakan perspektif feminis akan bertanya lebih jauh, ketika yang mati akibat DBD itu perempuan, mengapa perempuan lebih rentan terhadap DBD? Apakah ia mengalami kurang gizi, apakah karena sakit demam pada perempuan dianggap biasa? Lalu setelah terjadi kematian, ilmu sosial antropologi itu akan bertanya apa implikasinya bagi keluarga yang ditinggalkan ketika seorang perempuan/ibu wafat?

Sudah lama, ilmu pengetahuan menyoal angka nominal yang disajikan sebagai data dalam pembangunan. Sebab angka tak bicara realitas. Satu perempuan yang wafat akibat kekerasan di rumah tangganya, maka sesungguhnya satu entitas perempuan di seluruh dunia apapun suku, agama, ras, keadaan ekonomi dan umurnya sedang terancam kematian akibat kekerasan dalam rumah tangga.

Ragam metodologi dan metode penelitian bolak balik membuktikan, angka tak bicara fakta. Satu orang perempuan mengalami kekurangan gizi akibat stunting, maka satu generasi di bawahnya akan menjadi beban bagi pembangunan. Dari satu orang yang mengalami stunting kita dapat bertanya ia mendapat asupan apa saja ketika ibunya hamil dan selama ia balita? Hal yang pasti ia dan anak yang kelak akan dilahirkan niscaya akan mengalami defisit ketahanan tubuhnya serta kemampuan otaknya. Demikian juga satu orang anak yang dikawinkan dini, maka satu generasi keturunannya akan menjadi beban pembangunan akibat efek domino yang disebakan oleh perkawinan itu. Satu orang dokter, atau satu orang perawat kesehatan di satu kampung tewas karena DBD maka bukan hanya keluarganya yang terdampak, melainkan satu kampung terancam. Ketika satu orang kepala keluarga lelaki kena PHK, minimal ada 4 orang yang akan terdampak. Ini berlaku hampir sama bagi perempuan terlepas dari apapun status perkawinanya: lajang, menikah, bersuami tapi menganggur, bersuami tapi minggat, atau tanpa janda.

Penelitian (dengan persektif) feminis mengoreksi secara sangat tajam seluruh pendekatan pembangunan yang hanya menggunakan angka sebagai pembuktian. Sebab dalam pengalaman perempuan angka itu penuh dusta. Ia tak bicara fakta yang sebenarnya sebagaimana mereka alami. Ini bukan hanya soal ketidakpantasan bicara orang yang tewas akibat DBD dan gigitan seekor nyamuk, namun meng”angka”kan korban sesungguhnya mereduksi keluasan fakta dan realitas itu sendiri.

Bayangkan jika teori angka itu digunakan untuk menghitung kekerasan yang dialami rakyat Aceh dan Papua, lalu keluar statemen berbasis angka: hanya sejumlah xxx yang tewas akibat konflik (serangan oknum tentara?? ), penduduk Indonesia masih ratusan juta. Bayangkan jika teori angka digunakan untuk menghitung pemusnahan kelompok agama minoritas, lalu keluar statemen: hanya xxx yang punah, penduduk Indonesia masih ratusan juta. Bayangkan jika sejumlah orang dengan disabilitas tewas akibat salah urus, lalu keluar statemen penduduk Indonesia yang normal masih ratusan juta. Di depan mata kita segera menyaksikan bayang-bayang kekejaman dan kejahatan Adolf Hitler!

Angka memang angka, tapi ia hanya fenomena. Angka tak bisa dibiarkan tergeletak sendirian tanpa pemaknaan. Pemaknaan sosial kemanusiaan, pemaknaan yang dipetik dari pengalaman manusia, pengalaman suatu kelompok, pengalaman perempuan, pengalaman keluarga ketika berhadapan dengan kehilangan seorang anggota keluarganya akibat kematian- apapun penyebabnya, bisa DBD atau virus corona, penting untuk dinilai kematiannya tak sekadar dianggap angka. Sebab kematian dalam tragedi sesungguhnya memberi penanda dunia telah kehilangan sebuah noktah peradaban!.

 

Lies Marcoes, 17 April 2020.