Tragedi al-Khoziny

Robohnya musala Pondok Pesantren al-Khoziny mengundang kesedihan dan keperihatinan kita bersama. Laporan terakhir setelah Tim Basarnas melakukan evakuasi selama 9 hari, keseluruhan korban berjumlah 171 orang, sebanyak 67 orang dinyatakan meninggal dunia tertimbun beton dan reruntuhan bangunan, termasuk 8 potongan tubuh (body part).

Berita duka ini begitu cepat menyebar ke pelbagai kanal informasi, baik media mainstream maupun media sosial. Tidak hanya kalangan dan yang berlatar belakang pesantren, orang yang tak pernah mencicipi bahkan tak mengenal dunia pesantren pun ikut menyoroti tragedi memilukan ini, sehingga tak aneh ketika memunculkan respon, reaksi bahkan komentar beragam, baik positif maupun negatif. Tak berselang lama setelah kejadian tersebut, mata semua orang tertuju pada pengasuh pesantren al-Khaziny KH R Abdus Salam Mujib.

“(kejadian) Ini takdir. Semua harus bersabar. Semoga Allah memberikan ganti yang terbaik”, ujar Kiai Abdus Salam di depan banyak wartawan.

Di jagat media sosial, statemen ini memancing sejumlah tanggapan dan polemik. Melalui statemennya ini, sebagai pemilik dan pengasuh pesantren, Kiai Abdus Salam dianggap tak bertanggung jawab dan malah berlindung di belakang takdir. Jika ditelisik lebih mendalam, sebetulnya tak ada yang salah dengan statemen tersebut, apalagi muncul dari seorang kiai tradisional.

Menurut alam pikir masyarakat santri yang masih berpegang teguh akidah Asyariyyah-Maturidiyyah (ASWAJA), seluruh peristiwa yang dialami oleh manusia di dunia ini sudah diatur dan ditentukan oleh takdir (qadha dan qadar). Manusia tidak bisa menciptakan takdirnya sendiri sebagaimana pendapat Muktazilah, atau pasif di hadapan takdir seperti Jabariyah.

Dalam pandangan ASWAJA, takdir (qadha dan qadar) merupakan bagiaan dari rukun iman. Dalam konteks ini statemen Kiai Abdus Salam Mujib bisa dipahami. Ia mengatakan berdasarkan keyakinan dan kepercayaannya.

Namun, bagi sebagian orang yang tak begitu memahami alam pikir santri menuduh Kiai Abdus Salam berusaha menutup-nutupi kesalahan dan kelalaian pihak pesantren dengan berlindung di belakang takdir. Takdir dijadikan kambing hitam untuk menutupi kesalahan dan kelalaian pesantren yang tak bisa memberikan rasa aman kepada santri-santrinya. Robohnya bangunan musala menurut banyak pakar dan insinyur teknik bangunan akibat kesalahan konstruksi bangunan. Jika dibangun dengan standar dan aturan teknik yang benar, kejadian ini tak mungkin terjadi.

Dalam kitab Husunul Hamidiyyah dijelaskan bahwa takdir merupakan ketentuan dan ketetapan yang dibuat Allah sejak zaman azali (sebelum diciptakannya waktu dan permulaan penciptaan). Menurut keterangan dalam kitab yang ditulis Sayyid Husein Affandi ini,bahwa  takdir erat kaitannya dengan pengetahuan (ilm) dan kekuasaan (kudrat) Allah.

Meskipun takdir sudah ditentukan dan merupakan kepastian dari Allah, akan tetapi manusia tak bisa berhujjah dengan alasan takdir. Misalnya, orang akan atau telah melakukan perbuatan dosa mengatakan bahwa perbuatannya tersebut merupakan takdir Allah. Ia tak dapat mengatakan demikian karena ia tak mengetahui takdir Allah. Satu-satunya petunjuk bahwa ia merupakan takdir karena ia sudah terjadi.

Secara teologis, meskipun semua perbuatan manusia sudah ditentukan sebelumnya oleh takdir, tetapi manusia tak bisa mengkambinghitamkan takdir, seolah-olah tak memiliki “peran” dan “campur tangan” dalam merealisasikan takdir tersebut. Inilah yang oleh Asyariyyah disebut dengan “kasb”.

Kasb secara bahasa adalah usaha atau perolehan. Berdasarkan konsep kasb inilah manusia memiliki andil dalam perbuatan yang diciptakan Allah SWT. Bahwa semua perbuatan manusia (baik maupun buruk) diciptakan oleh Allah SWT. Namun manusia memiliki kemampuan (qudrah) dan kehendak (iradah) untuk “mengakuisisi” perbuatan tersebut. Jadi, kegagalan konstruksi juga merupakan bagian dari takdir.

Saya tetap husnuzan (positif thinking) terhadap pernyataan Kiai Abdus Salam. Ia tidak sedang menyalahkan dan mengkambinghitamkan takdir. Buktinya, setelah menyebut kejadian tersebut sebagai takdir ia menambahkan bahwa ambruknya bangunan kemungkinan disebabkan oleh tiang penyangga yang tak mampu menahan beban bangunan. Pernyataan Kiai Abdus Salam tentang takdir hanya untuk menenangkan dan mengajak keluarga korban untuk tetap tenang, tegar, dan tidak panik.

Bagaimana pun tragedi ini merupakan “ibrah” (pelajaran penting) bagi pesantren secara umum. Pesantren harus terbuka terhadap kritik dari banyak pihak manapun demi untuk kebaikan pesantren sendiri. Dalam hal pembangunan infrastruktur pesantren, pesantren harus melibatkan ahli-ahli bangunan, mulai dari perencanaan sampai pelaksanaan. Bukankah dalam QS al-Anbiya:07 diperintahkan untuk menanyakan segala sesuatu kepada ahlinya. Dalam hal konstruksi bangunan tentu ahlinya adalah insinyur teknik sipil, arsitek, atau orang yang memiliki pengetahuan dan pengalaman. Wallahu alam bi sawab.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses