Pos

Dakwah Penenang vs Penentang Rezim

Beberapa waktu belakangan, saya melihat banyak konten pendakwah yang mencoba menenangkan masyarakat di tengah situasi yang kian carut-marut. Mereka mengajak umat untuk tenang dan menerima kondisi yang terjadi ini sebagai ketetapan Tuhan.

Sebagian dari muhibbin ustaz yang berkelakar di media sosial itu melakukan pembelaan, seorang tokoh agama seharusnya memang demikian: menenangkan dan menghindari perdebatan. Apalagi bersikap kritis dan konfrontatif terhadap pemerintah. Ulama seharusnya mendoakan umara. Kalaupun ada kritik, disampaikan secara langsung, bukan diumbar di media.

Namun, kalau kita tilik, salah satu metode Al-Quran berdakwah justru dengan menggunakan jadal (debat argumentatif). Ayat Al-Quran banyak berisi kritik pedas terhadap akidah dan pemahaman keliru dengan dalil-dalil rasional. Salah satunya ketika Al-Quran mengkritik para penyembah berhala dengan mengatakan, apakah sesembahan orang musyrik itu bisa menciptakan seekor lalat yang sering dianggap hina? Jawabannya tentu saja tidak.

 يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوْا لَهٗ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ تَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ لَنْ يَّخْلُقُوْا ذُبَابًا وَّلَوِ اجْتَمَعُوْا لَهٗ ۗوَاِنْ يَّسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْـًٔا لَّا يَسْتَنْقِذُوْهُ مِنْهُۗ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوْبُ ٧٣

Wahai manusia, suatu perumpamaan telah dibuat. Maka, simaklah! Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, mereka pun tidak akan dapat merebutnya kembali dari lalat itu. (Sama-sama) lemah yang menyembah dan yang disembah.

Ayat tersebut jelas mengkritik orang kafir dengan pernyataan yang tegas. Karenanya, menjadi lemah argumentasi yang mengatakan kita tidak boleh konfrontatif dan menghindari perdebatan. Padahal, jadal adalah salah satu gaya retorik yang digunakan Al-Quran. Dengan “berdebat”, argumentasi makin kuat. Tentu debat ada ilmunya, tidak semua hal bisa dan perlu didebatkan.

Al-Quran, melalui kisah para nabi, banyak mengkritik cara hidup yang keliru, pemimpin yang zalim, individu yang merusak, dsb. Jadi, agak aneh kalau ada pendakwah yang justru alergi dan tidak mau mengoreksi kehidupan bernegara yang salah hari ini. Imam As-Sa’di dalam kitab al-Qawa’id al-Hisan li Tafsir al-Qur`an menegaskan:

وهذا الأصل في القرآن كثير، فإنه يفيد الدعوة للحق وردّ كل باطل ينافيه. ويجادلهم بوجوب تنزيل الأمور منازلها، وأنه لا يليق أن يجعل للمخلوق العبد الفقير العاجز من كل وجه شيئًا من حقوق الربّ الخالق الغني، الكامل من جميع الوجوه .

Al-Quran menegaskan pentingnya menaruh sesuatu pada tempatnya. Itulah keadilan. Jangan menuhankan sesuatu pada yang bukan Tuhan. Dulu, penuhanan itu berupa sesembahan berhala. Kini, berhala itu bisa jadi berupa harta, pangkat, pasangan, kekayaan alam: yang dicintai setengah mati. Intinya, segala sesuatu yang berada tidak pada tempatnya adalah kezaliman dan perlu dilawan. Sayangnya, di tengah semangat jadal membela kebenaran yang digaungkan Al-Quran, banyak pendakwah hari ini yang cenderung menghindari kritik, diam atau bahkan jadi pembenaran terhadap tindakan pemerintah.

“Allah yang menjamin rezekimu saat dolar 6000, Allah juga yang menjamin rezekimu saat dolar 18000. Yakinlah, rezekimu tak akan pernah diambil orang atau salah alamat ya ikhwah”.

“Sangka Baik. BBM naik, mungkin memang inilah jalan terbaik menyelamatkan bangsa dan negara tercinta. BBM mahal, tapi Allah Maha Kaya dan Maha Melindungi. Jadi rakyat memang kadang di posisi tak ada pilihan”.

Konten semacam itu banyak bertebaran di media sosial. Saya pun berseloroh, kok tiba-tiba seperti paham jabariyah yang pasrah dengan keadaan tanpa usaha. Padahal sejatinya kita punya pilihan, hanya negara yang tidak menghadirkan pilihan itu. Malah menampilkan kebobrokan komunikasi para pejabat yang nir-empati di tengah jeritan masyarakat.

Masalah sebagai Warga Negara Indonesia dengan kebijakan pemerintah sudah banyak, ditambah lagi banyak tokoh agama yang justru melanggengkan kezaliman berkedok semua ini adalah takdir Tuhan. Padahal, di dalam Al-Quran, Allah sudah memberikan kisi-kisi bahwa kalau ada kebaikan itu datangnya dari Allah, sedangkan segala keburukan datangnya dari pribadi manusia.

Jadi, keburukan, kezaliman, dan ketidakadilan itu adalah sebab dari pilihan sikap kita. Jangan buru-buru mengatakan semua itu takdir Tuhan. Hal tersebut membuat kita tidak bermuhasabah. Meminjam istilah Buya Syafii, mentalitas ini juga yang membuat umat Islam sekarang berada dalam buritan peradaban. Sejak dulu, cara memahami takdir bisa membuat orang menjadi malas, menjadi pekerja keras tanpa batas, atau menjadi pekerja cerdas yang tahu kapasitas. Di mana posisi kita? Jangan sampai pemahaman agama yang keliru membutakan kita dari realitas.

Konsep kebaikan dan keburukan ini sudah dijelaskan dalam Al-Quran Surat An-Nisa ayat 79:

 مَآ اَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ ۖ وَمَآ اَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَّفْسِكَ ۗ وَاَرْسَلْنٰكَ لِلنَّاسِ رَسُوْلًا ۗ وَكَفٰى بِاللّٰهِ شَهِيْدًا ٧٩

Kebaikan (nikmat) apa pun yang kamu peroleh (berasal) dari Allah, sedangkan keburukan (bencana) apa pun yang menimpamu itu disebabkan oleh (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutus engkau (Nabi Muhammad) menjadi Rasul kepada (seluruh) manusia. Cukuplah Allah sebagai saksi.

Dalam ayat ini, Allah mengabarkan bahwa kebaikan apa saja yang menimpa seorang hamba maka itu dari Allah, dan keburukan apa saja yang menimpanya maka itu dari dirinya sendiri. Tujuannya adalah agar para hamba-Nya mengetahui bahwa kebaikan, kebajikan, dan hal-hal yang dicintai itu terjadi murni karena karunia dan kemurahan-Nya, meskipun ia bergulir melalui sebagian sebab yang dilakukan oleh hamba. Karena sesungguhnya Dialah Pencipta segala sebab (Musabbibal Asbab) yang memberikan nikmat tersebut dan Dialah yang memudahkannya.

Sedangkan keburukan—yaitu musibah-musibah yang menimpa hamba—sebab-sebabnya berasal dari diri hamba itu sendiri, karena kelalaiannya dalam menunaikan hak-hak Tuhannya dan pelanggarannya terhadap batas-batas-Nya. Maka Allah, meskipun Dialah yang menakdirkannya, sesungguhnya Dia memberlakukannya kepada hamba tersebut disebabkan oleh apa yang diperbuat oleh kedua tangannya sendiri.

Sebagai orang beriman tentu kita percaya sepenuhnya bahwa apa pun yang terjadi di dunia ini adalah atas takdir-Nya. Namun, mengapa di ayat tersebut Allah menegaskan bahwa kebaikan dari Tuhan, sedangkan keburukan dari manusia? Jawabannya dijelaskan oleh Imam As-Sa’di dalam kitab al-Qawa’id al-Hisan li Tafsir al-Qur`an:

وقد يخبر أن ما أصاب العبد من حسنة فمن الله وما أصابه من سيئة فمن نفسه ؛ ليعرّف عباده أن الخير والحسنات والمحاب تقع بمحض فضله وجوده وإن جرت ببعض الأسباب الواقعة من العباد، فإن سبب الأسباب هو الذي أنعم بها وهو الذي يسرها وإن السيئات – وهي المصائب التي تصيب العبد – أسبابها من نفس العبد وبتقصيره في حقوق ربه وتعديه لحدوده، فالله وإن كان هو المقدر لها فإنه أجراها على العبد بما كسبت يداه، ولهذا أمثلة يطول عدها .

Pembedaan antara kebaikan dan keburukan dalam ayat tersebut adalah agar seorang hamba mengetahui bahwa kebaikan itu bukan semata-mata karena usahanya, tetapi di balik prosesnya, ada kasih karunia Allah yang membuatnya berhasil. Sedangkan keburukan, meskipun terjadi atas izin Allah, sebab-sebabnya itu berasal dari diri manusia itu sendiri yang lalai dan melanggar batas yang ditetapkan Tuhan. Karenanya, meski Allahlah yang menakdirkannya, Allah memberlakukan kepada hamba tersebut apa yang diperbuat oleh kedua tangannya sendiri.

Jadi, rumusnya adalah: kalau ada kebaikan, segera kembalikan pada yang memberikannya, yaitu Allah. Sementara kalau ada keburukan, kembalikan pada kealpaan dan keterbatasan manusia. Di sinilah akan lahir koreksi diri.

Sayangnya, yang terjadi sering kali adalah sebaliknya: kalau mendapat kebaikan kita jumawa mengatakan ini adalah pencapaian diri, sementara ketika ditimpa keburukan, kita melemparkan tanggung jawab itu pada kalimat: “semua sudah diatur oleh Tuhan”. Kita selalu berlindung pada narasi takdir Ilahi untuk menutupi kebobrokan diri ini.

Tragedi al-Khoziny

Robohnya musala Pondok Pesantren al-Khoziny mengundang kesedihan dan keperihatinan kita bersama. Laporan terakhir setelah Tim Basarnas melakukan evakuasi selama 9 hari, keseluruhan korban berjumlah 171 orang, sebanyak 67 orang dinyatakan meninggal dunia tertimbun beton dan reruntuhan bangunan, termasuk 8 potongan tubuh (body part).

Berita duka ini begitu cepat menyebar ke pelbagai kanal informasi, baik media mainstream maupun media sosial. Tidak hanya kalangan dan yang berlatar belakang pesantren, orang yang tak pernah mencicipi bahkan tak mengenal dunia pesantren pun ikut menyoroti tragedi memilukan ini, sehingga tak aneh ketika memunculkan respon, reaksi bahkan komentar beragam, baik positif maupun negatif. Tak berselang lama setelah kejadian tersebut, mata semua orang tertuju pada pengasuh pesantren al-Khaziny KH R Abdus Salam Mujib.

“(kejadian) Ini takdir. Semua harus bersabar. Semoga Allah memberikan ganti yang terbaik”, ujar Kiai Abdus Salam di depan banyak wartawan.

Di jagat media sosial, statemen ini memancing sejumlah tanggapan dan polemik. Melalui statemennya ini, sebagai pemilik dan pengasuh pesantren, Kiai Abdus Salam dianggap tak bertanggung jawab dan malah berlindung di belakang takdir. Jika ditelisik lebih mendalam, sebetulnya tak ada yang salah dengan statemen tersebut, apalagi muncul dari seorang kiai tradisional.

Menurut alam pikir masyarakat santri yang masih berpegang teguh akidah Asyariyyah-Maturidiyyah (ASWAJA), seluruh peristiwa yang dialami oleh manusia di dunia ini sudah diatur dan ditentukan oleh takdir (qadha dan qadar). Manusia tidak bisa menciptakan takdirnya sendiri sebagaimana pendapat Muktazilah, atau pasif di hadapan takdir seperti Jabariyah.

Dalam pandangan ASWAJA, takdir (qadha dan qadar) merupakan bagiaan dari rukun iman. Dalam konteks ini statemen Kiai Abdus Salam Mujib bisa dipahami. Ia mengatakan berdasarkan keyakinan dan kepercayaannya.

Namun, bagi sebagian orang yang tak begitu memahami alam pikir santri menuduh Kiai Abdus Salam berusaha menutup-nutupi kesalahan dan kelalaian pihak pesantren dengan berlindung di belakang takdir. Takdir dijadikan kambing hitam untuk menutupi kesalahan dan kelalaian pesantren yang tak bisa memberikan rasa aman kepada santri-santrinya. Robohnya bangunan musala menurut banyak pakar dan insinyur teknik bangunan akibat kesalahan konstruksi bangunan. Jika dibangun dengan standar dan aturan teknik yang benar, kejadian ini tak mungkin terjadi.

Dalam kitab Husunul Hamidiyyah dijelaskan bahwa takdir merupakan ketentuan dan ketetapan yang dibuat Allah sejak zaman azali (sebelum diciptakannya waktu dan permulaan penciptaan). Menurut keterangan dalam kitab yang ditulis Sayyid Husein Affandi ini,bahwa  takdir erat kaitannya dengan pengetahuan (ilm) dan kekuasaan (kudrat) Allah.

Meskipun takdir sudah ditentukan dan merupakan kepastian dari Allah, akan tetapi manusia tak bisa berhujjah dengan alasan takdir. Misalnya, orang akan atau telah melakukan perbuatan dosa mengatakan bahwa perbuatannya tersebut merupakan takdir Allah. Ia tak dapat mengatakan demikian karena ia tak mengetahui takdir Allah. Satu-satunya petunjuk bahwa ia merupakan takdir karena ia sudah terjadi.

Secara teologis, meskipun semua perbuatan manusia sudah ditentukan sebelumnya oleh takdir, tetapi manusia tak bisa mengkambinghitamkan takdir, seolah-olah tak memiliki “peran” dan “campur tangan” dalam merealisasikan takdir tersebut. Inilah yang oleh Asyariyyah disebut dengan “kasb”.

Kasb secara bahasa adalah usaha atau perolehan. Berdasarkan konsep kasb inilah manusia memiliki andil dalam perbuatan yang diciptakan Allah SWT. Bahwa semua perbuatan manusia (baik maupun buruk) diciptakan oleh Allah SWT. Namun manusia memiliki kemampuan (qudrah) dan kehendak (iradah) untuk “mengakuisisi” perbuatan tersebut. Jadi, kegagalan konstruksi juga merupakan bagian dari takdir.

Saya tetap husnuzan (positif thinking) terhadap pernyataan Kiai Abdus Salam. Ia tidak sedang menyalahkan dan mengkambinghitamkan takdir. Buktinya, setelah menyebut kejadian tersebut sebagai takdir ia menambahkan bahwa ambruknya bangunan kemungkinan disebabkan oleh tiang penyangga yang tak mampu menahan beban bangunan. Pernyataan Kiai Abdus Salam tentang takdir hanya untuk menenangkan dan mengajak keluarga korban untuk tetap tenang, tegar, dan tidak panik.

Bagaimana pun tragedi ini merupakan “ibrah” (pelajaran penting) bagi pesantren secara umum. Pesantren harus terbuka terhadap kritik dari banyak pihak manapun demi untuk kebaikan pesantren sendiri. Dalam hal pembangunan infrastruktur pesantren, pesantren harus melibatkan ahli-ahli bangunan, mulai dari perencanaan sampai pelaksanaan. Bukankah dalam QS al-Anbiya:07 diperintahkan untuk menanyakan segala sesuatu kepada ahlinya. Dalam hal konstruksi bangunan tentu ahlinya adalah insinyur teknik sipil, arsitek, atau orang yang memiliki pengetahuan dan pengalaman. Wallahu alam bi sawab.