Pos

Semua Agama Mengajarkan Melestarikan Alam, Apakah Pengikutnya Bisa Mengamalkannya?

Oleh: Dayu Akraminas

Salah satu doktrin yang diajarkan dari setiap agama adalah berbuat adil. Keadilan menjadi norma keseimbangan yang tidak hanya berlaku sesama manusia, tetapi juga kepada alam. Apakah penganut agama dapat mengamalkannya?

Agama mengajarkan melestarikan alam. Istilah agama berasal dari kata “a” yang berarti tidak, dan “gama” yang berarti kacau. Ada juga kelompok memahami istilah agama, yaitu “a” yang berarti tidak, dan “gam” yang berarti pergi atau berjalan. Kedua istilah ini memiliki orientasi berbeda. Kelompok pertama, agama adalah sejenis regulasi peraturan yang menghindarkan manusia dari kekacauan, serta mengantar manusia menuju keteraturan, ketertiban, dan kebahagiaan. Dan kedua, pengertian agama adalah tidak pergi, tetap di tempat, kekal-eternal, terwariskan secara turun-menurun.

Dalam Islam, kata agama dikenal dengan istilah al-dīn. Menurut Fāris bin Zakariyā, term al-dīn diartikan dengan kepasrahan dan ketundukan misalnya qaum dīn yaitu kelompok manusia yang pasrah dan tunduk. Hans Wer sedikit menyederhanakan, bahwa al-dīn sebagai faith (iman) dan belief (kepercayaan). Secara komprehensif, Ismail al-Faruqi berpandangan bahwa agama merupakan inti hakikat dan esensi dari peradaban, dalam hal ini agama merupakan dasar dari semua keputusan dan tindakan.

Terminologi ini penting dijelaskan untuk melihat posisi agama dalam memandang alam, karena agama memberikan dampak yang luar biasa bagi manusia. Agama menjadi legalitas kesadaran manusia untuk memberikan legitimasi argumen dalam bertindak. Setiap agama memiliki sumber rujukan yang biasa disebut sebagai kitab suci. Pemahaman yang berbasis kepada kitab suci akan mampu mengubah secara fundamental pandangan umat manusia tentang hakikat alam.

Kitab suci menjadi otoritas penting dalam membentuk paradigma masyarakat. Hal ini hanya bisa dibentuk bila masyarakat yang beragama tersebut tunduk terhadap gagasan ide yang lahir dari otoritas kitab suci yang diyakini. Seperti seorang muslim, yang menyakini sepenuhnya otoritas kebenaran isi Al-Quran.

Intinya setiap agama memiliki nilai yang sama, dan ini dimuat dalam kitab suci mereka. Sejatinya semua agama mengajarkan melestarikan alam. Kesamaan yang dimaksud adalah memiliki kesamaan nilai universal. Meskipun ada banyak hal untuk dibedakan, setidaknya ada beberapa kesamaan. Puncak kesamaannya adalah mengajarkan untuk berbuat adil. Keadilan menjadi fondasi etis, sebagai norma dalam tatanan kehidupan. Keadilan membentuk kehidupan yang ideal, dan ini juga berdampak kepada kelestarian alam.

Keadilan membentuk keseimbangan antara Tuhan, manusia dan alam. Ajaran ini ditemukan dalam setiap agama. Baik itu Islam, Kristen, Hindu, Budha, dan lainnya. Dalam ajaran kitab suci mereka termasuk Islam, memandang alam memiliki sakralitas tersendiri, sebagai upaya menjaga eksistensi manusia. Kitab suci dapat memberikan pemahaman secara komprehensif dalam memandang hubungan antara manusia dengan Tuhan dan alam sebagai kesatuan yang tidak terpisahkan.

Dalam ajaran agama-agama tersebut, dapat membuat manusia lebih menghargai eksistensi alam sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan, hal ini akan menciptakan hubungan harmonis antara manusia dan alam, dan pada akhirnya menghasilkan kehidupan yang lebih baik pada ekosistem di bumi ini. Alam yang sehat, pasti memberi dampak positif pada kesehatan manusia, sehingga hidup manusia semakin berkualitas. Sebaliknya alam yang buruk akan mengancam eksistensi hidup dan kehidupan manusia, kesehatan manusia buruk, kualitas hidup manusia menjadi rendah, atau bahkan mungkin saja manusia tidak dapat hidup lagi saat alamnya musnah.

Kitab suci setiap agama memberikan kontribusi khazanah pengetahuan untuk bisa menanggulangi masalah krisis lingkungan. Itu sebabnya, beragama tanpa menerapkan isi kandungan kitab suci akan berdampak kepada pengamalan sehari-hari, dan ini juga bisa berpengaruh kepada alam. Faktor terjadinya krisis lingkungan adalah orang beragama sudah melupakan ajaran keimanan mereka dalam kitab sucinya. Termasuk seorang muslim yang lupa dengan isi kandungan al-Qurannya.

Inilah yang terjadi saat ini khususnya di Indonesia. Selain faktor menipisnya spritualitas manusia modern, tetapi juga menipisnya pengamalan berbasis kitab suci bahkan sudah mulai dilupakan, sehingga menyebabkan mereka kehilangan kontak dengan sakralitas segala sesuatu. Termasuk memandang alam yang sudah hilang dari sakralitasnya.

Pada akhirnya, manusia tersebut beranggapan bahwa alam hanyalah sebatas benda mati yang perlu dieksploitasi secara bebas. Sementara itu, persoalan spiritual adalahbagian inti dari setiap ajaran agama. Karena itu, mengenali aspek spiritualitas dalamsetiap agama menjadi penting, sebagai upaya menumbuhkan kembali koneksi antara manusia dengan sakralitas segala sesuatu yang sempat hilang oleh arus modernisasi.

Itulah mengapa, banyak tudingan yang menyebut bahwa agama telah menjadi inspirator dibalik krisis lingkungan. Agama, dengan segala ajarannya, dianggap telah menginspirasi dan melegetimiasi para pengikut agama untuk melakukan eksploitasi terhadap alam.

Tudingan ini dilakukan secara ilmiah, hasil dari penelitian Lynn White dalam karya tulisnya berjudul “Historical Roots of Our Ecological Crisis. Dalam tulisan ini, White menuduh Yahudi dan Kristen sebagai pelaku yang ia maksud. Meskipun tudingan itu fokus kepada Yahudi dan Kristen, secara tidak langsung, hipotesa White ini berdampak kepada pengikut agama lainnya.

Ini bisa dijadikan inspirasi dan argumentasi bagi siapa pun untuk mempertanyakan sikap yang dimiliki oleh pengikut agama-agama lain, termasuk Islam tentangbagaimana doktrin agama mereka memposisikan alam.

Perlu dijelaskan, bahwa kesalahan ini bukan pada agamanya, tetapi pada umat beragama. Tuduhan Lynn White itu lebih tepat kepada pengikut agamanya. Umat beragama saat ini sudah mulai meninggalakan ajaran pokoknya, dan ini berdampak kepada alam. Solusinya adalah kembali kepada ajaran kitab suci. Menerapkan ajaran kitab suci secara komprehensif.

Sejatinya agama mengajarkan melestarikan alam. Salah satu doktrin yang diajarkan dari setiap agama adalah berbuat adil. Keadilan menjadi norma keseimbangan yang tidak hanya berlaku sesama manusia, tetapi juga kepada alam. Berbuat adil kepada alam bisa menumbuhkan jalinan harmonis antara manusia dengan alam. Tinggal bagaimana pengikutnya bisa mengamalkan ajaran tersebut dalam kehidupan sehari-harinya. Oleh karenanya, jangan lupakan ajaran agama.

Ustadz Dayu Aqraminas, M.Ag, M.H, Peserta Pengaderan Kiai Muda Sensitif HAM dan Gender asal Provinsi Jambi, Rumah Kita Bersama dan The Oslo Coalition University of Oslo – Norwegia, 2021

Pentingnya Perspektif Spiritual Agar Kita Tak Gampang Merusak Alam

Oleh: Dayu Akraminas

Meskipun manusia diberi kebebasan untuk mengolah dan memanfaatkan lingkungan, namun tetap harus memperhatikan kelestarian alam.

Perlu pengakuan dari kita, bahwa alam semesta adalah ciptaan Tuhan. Tentunya hanya Dia yang berkuasa penuh, dan mengendalikan (taskhīr) alam ini. Terlepas dari perbedaan orientasi penafsiran tentang bagaimana proses penciptaan alam, atau bagaimana Allah menjalankan kuasa-Nya atas alam, tetapi ada titik kesamaan bahwa hanya Allah sebagai Pencipta dan Penguasa alam.

Pandangan ini perlu ditegaskan karena hal tersebut yang membedakan pandangan dunia Islam dengan paham sekuler yang sebagian dari mereka beranggapan bahwa alam semesta ini bukan dari ciptaan Tuhan dan bukan di bawah kekuasaan Tuhan. Doktrin seperti ini hanya membuat manusia lebih bias dan leluasa untuk mengeksploitasi terahadap alam, karena tidak ada pengakuan tentang kepemilikan segala sesuatu di alam, sehingga manusia dengan bebasnya memperlakukan alam.

Untuk itu perlu dijelaskan bahwa alam merupakan anugerah dari Allah. Kita tidak mempunyai hak kepemilikan sedikitpun atas alam. Kita hanya sebagai konsumen, memanfaatkan alam bagi kebutuhan hidup. Alam memiliki kedudukan yang sama dengan makhluk lainnya. Ia memiliki kesakralan dan kesucian, sebab alam dan manusia merupakan makhluk yang diciptakan berdasarkan pantulan cermin Allah (tajallī: manifestasi).

Allah menciptakan alam dan seisinya tidak dengan sia-sia. Islam sangat menekankan keyakinan terhadap kebaikan alam. Dan Islam juga menekankan, bahwa manusia juga bertangung jawab untuk melindungi, merawat dan melestarikan alam. Menurut Mulyadi Kartanegara, bahwa manusia diberi kelebihan oleh Allah atas makhluk lainnya sehingga diberi amanah untuk menjaga, mengelola alam semesta, bertanggung jawab pada semua aspek keberlangsungan dan keteraturan alam semesta ini.

Begitu juga dalam pandangan Ibn ‘Arabī, bahwa alam yang yang suci ini bukan semata-mata untuk dijadikan tempat bernaung semua makhluk, tetapi dia harus dilestarikan. Sebab, alam merupakan media Tuhan dalam menampakkan dirinya (tajalli).

Alam menyimpan informasi-informasi ilahiah yang memerlukan penelusuran secara mendalam. Alam bukan lagi dipandang relitas yang kosong, tidak memberi makna bagi manusia, melainkan alam memiliki keistimewaan yang menjadi media untuk mengenal Allah. Selain itu juga alam merupakan kreativitas Tuhan yang perlu dihormati, yang pada akhirnya dapat membantu manusia mencapai kebahagian lahir dan batin.

Melihat Alam dengan Perspektif Spritual

Dimensi spiritual memungkinkan manusia untuk hidup secara rohani dalam menghayati totalitas eksistensinya dalam alam. Dimensi ini bisa dibentuk dengan cara mengubah paradigma memandang alam bukan lagi instrumen yang harus dieksploitasi, tetapi alam juga bisa dijadikan sarana spritual untuk mengenal Allah.

Mengutip pendapat Henryk Skolimowski, Ia memberikan tawaran yang menarik untuk memandang alam semesta ini secara spiritual. Dia mendefinisikan spiritulitas sebagai esensi yang diperoleh dari kondisi manusia yang berinteraksi dengan alam.

Kemungkinan pengalaman manusia dalam berinteraksi dengan alam berbeda-beda dari satu budaya dengan budaya yang lainnya, atau dari satu kondisi dengan kondisi yang lainnya. Meski berbeda, spiritualitas tidak bersifat aksidental, melainkan esensial.

Menurutnya, spiritualitaslah yang membuat jati diri manusia itu lebih dikenal, bahkan sebagai sarana untuk kesadaran diri. Aspek-aspek kesadaran diri manusia ini menurut Skolimowski harus diukur dari aspek spiritualitas. Aspek ini dimulai dari menganggap alam yang mempuanyai kesakralan tersendiri.  Ketika alam ini dilihat sebagai makhluk yang mempunyan kesakralannya, maka peran manusia dalam melihat kesakralan ini dengan menjaga dan melindunginya.

Artinya, paradigma berpikir dan tindakan manusia harus diubah dari yang materialistik dan instrumental menjadi spiritual. Dimensi spiritual ini harus ada dalam pikiran manusia.  Bila pikiran manusia berisi aspek spiritual, maka tindakan manusia terhadap alam juga cenderung spiritual.

Setelah terbentuknya dimensi spritual pada manusia, maka dengan sendirinya manusia bersikap baik dan adil terhadap alam. Sikap adil itu menujukkan kebijaksanaan seseorang, ketika alam memperlakukan manusia dengan baik dan lembut, semestinya perlakuan manusiapun juga demikian. Bukan justru berbuat kerusakan.

Dengan begitu, kehidupan yang baik tidak mungkin dilepas dari relasi harmonis antara manusia dan alam. Menjalin keharmonisan antara manusia dan alam merupakan visi ekologi spiritual. Dimensi spiritual seperti ini seharusnya membuat manusia peka dan sadar diri untuk memperbaiki kualitas hubungan spiritual dengan ciptaan-Nya yang lain, entah itu hubungan manusia dengan manusia, maupun hubungan manusia dengan alam.

Saat ini, tren bencana akibat kejahatan manusia terhadap alam perlu diperbaiki kembali. Membentuk kualitas harmonis dengan alam, menjaga dan melestarikan alam, sebab kebaikan seperti itu merupakan bentuk spritual kita kepada Maha Pencipta. Merawat alam juga bagian dari merawat iman.

Optimal Memanfaatkan Alam, Bukan Berarti Bebas Merusak

Meskipun manusia diberi kebebasan untuk mengolah dan memanfaatkan lingkungan, namun tetap harus memperhatikan kelestarian alam. Inilah yang kemudian melahirkan konsep bahwa kemashlahatan pribadi tidak boleh mengabaikan kemaslahatan umum atau untuk orang banyak.

Dalam tradisi ushul fiqih, realitas ini sejalan dengan kaidah “al-mashlahah al-‘āmmah muqaddam ‘ala al-mashlahah al-fardhiyyah” (kemaslahatan umum/kolektif harus didahulukan dari pada kepentingan individu/khusus).

Kaidah ini berorientasi kepada pemanfaatan alam secara etis. Artinya berlebih-lebihan merupakan tindakan yang tidak dibenarkan. Fondasi ini bagian dari dimensi etis-spritual. Dengan begitu perintah untuk memelihara lingkungan, hendaknya dipahami sebagai kewajiban kita sebagai Khalifah fi Ard.

Alam merupakam anugerah Allah yang harus dinikmati seluruh manusia, bahkan makhluk hidup lainnya. Semua kebelangsungan hidup makhluk bergantung kepada alam. Jahat sekali, bila ada kepentingan individu untuk mengeksploitasi alam dengan tujuan memenuhi hawa nafsu sendiri. Memanfaatkan alam harus sejalan dengan prinsip kemaslahatan ummat bukan individu

Al-Qur’an memberikan standarisasi untuk memanfaatkan alam secara optimal. Kita diberikan kebebasan untuk mengelola alam, dan meikmati hasilnya. Standarisasi yang dimaksud adalah etis tanggungjawab dan berkeadilan. Kedua sikap ini mencermikan spritualiatas yang dibangun atas amanah yang diberikan oleh Allah kepada manusia.

Itu sebabnya manusia ditunjuk menjadi wakil Tuhan. Karena memiliki potensi untuk berbuat adil. Keadilan merupakan prinsip dasar untuk menjadi wakil Tuhan, tetapi manusia juga memiliki potensi membuat kerusakan terhadap alam. Prinsip kerusakan ini berdasarkan hawa nafsu. Prinsip ini dimiliki setiap manusia, ia hanya bisa dikalahkan dengan keadilan. Mementingkan kemaslahatan ummat membuktikan kebijaksaan seseorang dan menjalankan amanahnya sebagai wakil Tuhan.

Memelihara alam juga merupakan bentuk perwujudan keadilan yang universal bagi seluruh makhluknya. Kepedulian terhadap alam tidak hanya untuk kemaslahatan alam itu sendiri, tetapi untuk kemaslahatan ummat sebagai jaminan keberlangsungan hidup manusia.

Memelihara alam juga memiliki nilai yang baik, tidak hanya pahala yang didapat, imanpun akan bertambah. Begitu juga dalam spritual, memelihara alam merupakan tindakan yang sejalan dengan sifat-sifat Allah, karena alam merupakan manifestasi-Nya.

Kiai Dayu Aqraminas, M.Ag, M.H, Peserta Pengaderan Kiai Muda Sensitif HAM dan Gender asal Provinsi Jambi, Rumah Kita Bersama dan The Oslo Coalition University of Oslo – Norwegia, 2021.