Pos

Perempuan, Islam, dan Lingkungan: Kisah Astri Saraswati dalam Membangun Kesadaran Ekologis di Perbukitan Menoreh

Di tengah isu pembangunan berkelanjutan, peran perempuan yang mampu menginisiasi pertanian berbasis organik menjadi sangat menarik. Salah satu sosok inspiratif adalah Astri Saraswati. Astri, seorang alumnus Indonesia Mengajar, kini aktif mengajak ibu rumah tangga di Lereng Perbukitan Menoreh, Kulon Progo, untuk membudidayakan tanaman empon-empon secara organik. Kisah perjuangannya mengajarkan bahwa nilai-nilai Islam dan ekologi yang diterapkan oleh perempuan mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat pedesaan.

Sebelum terjun ke pengembangan budidaya empon-empon secara organik bersama ibu-ibu di Dusun Pringtali, Astri adalah relawan Indonesia Mengajar. Tertarik dengan ide yang digagas oleh Anies Baswedan, Astri, lulusan Universitas Teknologi Malaysia, ditempatkan di wilayah terpencil di Jambi. Selama bertugas, ia menyadari potensi sumber daya alam Indonesia untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan.

Setelah purna tugas, Astri bersama suaminya, Andika Mahardika, menetap di Dusun Kedung Perahu, Sleman, pada 2013. Mereka mendirikan CV. Agradaya, yang memproduksi empon-empon kualitas premium untuk pasar Eropa. CV. Agradaya bertujuan memberdayakan ibu rumah tangga guna meningkatkan pendapatan dengan memanfaatkan lahan sekitar rumah untuk budidaya empon-empon secara organik. Tanaman yang dibudidayakan meliputi jahe, kunyit, dan temulawak. Pada 2016, hanya 150 orang dengan lahan 1500 m² yang terlibat. Kini, anggota mencapai 1500 orang dengan lahan lebih dari 1 hektar.

Perjalanan mengajak masyarakat tidak mudah. Berulang kali uji coba produksi jamu internasional menghadapi tantangan besar. Namun, Astri tetap sabar membina ibu-ibu yang mayoritas berusia di atas 50 tahun dan terbiasa menggunakan pupuk kimia. Untuk memotivasi mereka, Astri menawarkan harga panen lebih tinggi, yaitu Rp 25.000 – Rp 40.000/kg, dibanding harga pasar Rp 5.000 – Rp 20.000/kg. Syaratnya, proses budidaya hingga pasca panen harus memenuhi standar organik. Astri juga mengajak LSM membangun rumah pengeringan empon-empon untuk mendukung pengolahan.

Sejak ibu rumah tangga memanfaatkan pekarangan secara optimal melalui sistem tumpang sari, pendapatan meningkat. Jika sebelumnya hanya mengandalkan pisang, kelapa, dan kayu, kini hasil panen lebih cepat dan menguntungkan. Kesejahteraan Desa Pringtali pun membaik, terlihat dari perbaikan rumah, pembelian kendaraan, pelunasan hutang, dan biaya pendidikan anak hingga perguruan tinggi.

Dalam ajaran Islam, mencari rezeki sambil menjaga lingkungan adalah bagian dari ibadah. Al-Quran dan Hadis menekankan pentingnya menjaga kelestarian alam. Kisah Astri membuktikan bahwa membumikan ajaran Islam untuk membangun kesadaran ekologis di kalangan ibu rumah tangga mampu menciptakan dampak positif. Dengan memahami bahwa melestarikan alam adalah tanggung jawab bersama, upaya ini menjadi virus kebaikan yang menyebar luas.

Kesuksesan Astri memberdayakan ibu rumah tangga di pedesaan terpencil menunjukkan bahwa setiap usaha menghadapi ujian. Hanya mereka yang pantang menyerah yang meraih kesuksesan. Islam mengajarkan bahwa orang sukses bukan yang tidak diuji, melainkan yang sabar dalam menghadapi tantangan.

Kisah Astri juga mengajarkan bahwa membantu orang lain akan mendatangkan balasan baik dari Allah. CV. Agradaya berhasil membangun citra sebagai unit usaha yang peduli pada pemberdayaan perempuan marginal dan mendukung kelestarian lingkungan hidup.

Terobosan Astri adalah ide brilian. Ibu rumah tangga yang sebelumnya tidak produktif kini mampu meningkatkan pendapatan tanpa meninggalkan tugas utama sebagai madrasah pertama bagi anak-anak. Hal ini sejalan dengan syariat Islam yang menempatkan perempuan sebagai penjaga rumah dan lingkungan.

Pemilihan budidaya bahan baku jamu juga melestarikan warisan luhur bangsa Indonesia. Jamu telah diakui dunia sebagai kekayaan budaya dengan nilai filosofis tinggi. Mengembangkan jamu di pasar internasional adalah bagian dari menjaga sejarah bangsa.

Dengan demikian, kisah Astri dan komunitas pembudidaya empon-empon membuktikan peran perempuan dalam mengimplementasikan ajaran Islam terkait kelestarian lingkungan untuk pembangunan berkelanjutan.

Pengampunan Tuhan Bergantung pada Bagaimana Kita Membenahi Alam

Baru-baru ini, saya menemukan sebuah gagasan menarik dari akun Instagram @rumahkitab yang mengkritik pendekatan kita dalam mempelajari Al-Quran. Sering kali, pemahaman kita hanya berfokus pada aspek simbolis hubungan dengan Tuhan, sementara isu-isu yang lebih nyata, seperti kerusakan alam, sering kali terabaikan dalam ceramah-ceramah agama. Postingan ini menggugah pemikiran saya, terutama saat dihubungkan dengan konsep istighfar dalam Islam.

Tak lama setelah membaca postingan tersebut, saya menghadiri ceramah Jumat yang mengambil rujukan dari ayat-ayat Surat Nuh:
“Maka aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu, dan mengadakan sungai-sungai untukmu.'” (QS Nuh: 10–12).

Ceramah ini memberikan perspektif yang berbeda dari biasanya. Alih-alih hanya menekankan seruan bertaubat kepada Tuhan, khatib mengaitkan ayat ini dengan tanggung jawab manusia untuk menjaga keseimbangan alam. Gagasan ini membuka cara baru dalam memahami hubungan antara iman, pengampunan, dan aksi nyata terhadap lingkungan.

Istighfar secara umum dimaknai sebagai permohonan ampun kepada Tuhan. Namun, dalam ceramah tersebut, khatib menyoroti relevansi kata Rabb dan Ghafara dalam ayat ini. Rabb menggambarkan sifat Tuhan sebagai pemelihara, yang berarti manusia juga memiliki tanggung jawab serupa: menjaga dan merawat ciptaan-Nya. Dengan demikian, istaghfiru tidak sekadar diartikan sebagai ucapan permohonan ampun, tetapi juga tindakan nyata untuk memperbaiki kerusakan, termasuk kerusakan alam.

Pendekatan ini mengingatkan kita bahwa permohonan ampun yang sejati tidak hanya berhenti pada lisan, tetapi harus diwujudkan melalui perilaku. Kerusakan alam yang terjadi akibat eksploitasi, deforestasi, dan pencemaran adalah bentuk ketidakteraturan yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Oleh karena itu, merawat alam adalah bagian dari pengamalan iman dan permohonan ampun kepada-Nya.

Jika kita memahami istighfar dalam konteks pemeliharaan alam, ayat-ayat berikutnya dalam Surat Nuh menjadi lebih bermakna:

Ayat 11: “Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu.”
Ayat ini dapat dimaknai bahwa jika manusia menjaga keseimbangan alam—misalnya melalui reboisasi, pengelolaan limbah, dan pengurangan emisi karbon—siklus alam akan kembali teratur. Hujan, sebagai simbol harmoni ekosistem, akan turun dengan stabil.

Ayat 12: “Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.”
Kebun yang subur dan sungai yang mengalir adalah hasil dari keseimbangan ekosistem. Dengan merawat alam, manusia menciptakan kondisi yang memungkinkan tanah menjadi subur, sumber daya air terjaga, dan kehidupan berkelanjutan bagi generasi mendatang.

Ceramah semacam ini mengajarkan kita untuk melihat teks-teks keagamaan secara lebih kritis dan holistik. Dakwah tidak seharusnya hanya fokus pada aspek ritual atau simbolis, tetapi juga harus relevan dengan tantangan nyata yang dihadapi umat manusia, salah satunya adalah isu kerusakan lingkungan.

Melalui pendekatan ini, pesan agama menjadi lebih universal dan aplikatif. Kita diajak untuk memahami bahwa merawat alam adalah bentuk nyata dari berketuhanan. Istighfar bukan hanya tentang pengakuan dosa secara verbal, tetapi juga komitmen untuk memperbaiki diri dan dunia sekitar.

Kerusakan alam bukan sekadar persoalan ekologi, tetapi juga dosa kosmik yang harus diatasi melalui tindakan nyata. Sebagaimana dikatakan dalam ceramah tersebut, “Istighfar” adalah panggilan untuk beraksi—menanam pohon, mengurangi limbah, dan menjaga ekosistem.

Dengan memahami istaghfiru dalam konteks ini, kita tidak hanya melaksanakan perintah Tuhan, tetapi juga mengambil bagian dalam upaya global untuk menyelamatkan bumi. Mari kita jadikan setiap langkah kecil, seperti mengurangi plastik atau menanam pohon, sebagai bentuk ibadah dan permohonan ampun kepada Tuhan.

Musim Hujan, Alarm Krisis Lingkungan di Jakarta Kembali Berdering

Denting musim hujan baru saja dimulai, tetapi alarm was-was seketika terasa bagi warga Jakarta. Betapa tidak? Hujan sehari tanpa henti sudah lebih dari cukup meluluhlantakkan sendi lalu lintas di kota ini. Ruas jalan protokol langsung menjadi topik hangat warganet yang mengeluhkan parkir berjamaah akibat banjir, seperti di Jalan TB Simatupang pada pertengahan November 2024.

Kondisi warga yang tinggal di dekat Teluk Jakarta lebih parah lagi. Sebagaimana dilaporkan oleh Tempo pada 18 November 2024, banjir rob telah terjadi di lima wilayah Rukun Tetangga (RT) di Jakarta Utara. Menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, Isnawa Adji, banjir rob melanda tiga RT di Kelurahan Pluit dan dua RT di Kelurahan Penjaringan. Banjir rob terjadi pada 16 November 2024 dengan ketinggian air 20 hingga 60 cm.

Prediksi Musim Hujan Indonesia oleh BMKG

Dua contoh di atas baru sebagian dari fenomena yang muncul, sementara hujan masih dalam fase awalnya. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim hujan 2024/2025 akan mencapai puncaknya pada bulan November dan Desember 2024 di Indonesia bagian barat, sedangkan Indonesia bagian timur akan mengalami puncak musim hujan antara Januari dan Februari 2025.

BMKG, melalui situs resminya, memprediksi potensi fenomena La Niña akibat kemungkinan El Niño-Southern Oscillation (ENSO) pada akhir 2024. ENSO sendiri adalah anomali pada suhu permukaan laut di Samudera Pasifik di pantai barat Ekuador dan Peru yang lebih tinggi dari rata-rata suhu normal. Dampak ENSO meluas hingga sebagian besar daerah tropis dan subtropis.

La Niña secara umum menyebabkan curah hujan lebih tinggi dengan variasi level yang berbeda di setiap wilayah. Prediksi lainnya adalah musim hujan 2024/2025 kemungkinan akan lebih panjang daripada biasanya di seluruh Indonesia.

Rumitnya Mengurai Masalah Banjir di Jakarta

Hujan yang terus-menerus akan mendatangkan masalah dan kerugian lebih kompleks bagi Jakarta, tanpa bermaksud mengesampingkan dampak hujan berkepanjangan untuk kawasan lain di Indonesia. Meski status ibu kota sudah berpindah, Jakarta masih menjadi pusat bisnis dan investasi nasional. Dampak seperti pada paragraf pertama akan menimbulkan efek domino pada berbagai aspek.

Pada Maret 2024, Isnawa Adji menyebutkan bahwa kerugian akibat banjir di Jakarta mencapai Rp2,1 triliun per tahun. Karenanya, berbagai upaya memitigasi dampak banjir terus dilakukan sepanjang tahun. Contohnya adalah normalisasi sungai hingga gerakan biopori, dari level rumah tangga hingga tingkat kotamadya.

Sayangnya, upaya tersebut tidak sebanding dengan pesatnya pembangunan fisik di kota ini. Contoh terkini adalah gedung Autograph Tower yang rampung pada 2022. Banyaknya proyek infrastruktur menimbulkan dua sisi mata uang. Di satu sisi, pembangunan gedung seperti Autograph membuka banyak lapangan kerja baru dan mendorong aktivitas ekonomi. Di sisi lain, pembangunan infrastruktur menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan.

Penyebabnya adalah tidak semua proyek infrastruktur memberikan ruang hijau yang cukup, yaitu sebesar 30 persen. Hal yang lebih mengkhawatirkan adalah semakin bertambahnya beton dan besi yang membuat “jalan air” semakin mengecil. Ruang resapan setiap gedung belum tentu memadai. Tidak mengherankan jika hujan lebat sedikit saja sudah membuat banyak jalan terendam air.

Dampak jangka panjang paling buruk adalah turunnya permukaan tanah. Sebagaimana dilaporkan oleh Sistem Data Informasi Geologi dan Air Tanah, permukaan tanah di Jakarta terus menurun. Hal ini disampaikan oleh Kepala Bidang Pengendalian Rob dan Pengembangan Pesisir Pantai Dinas Sumber Daya Air Provinsi DKI Jakarta, Ciko Tricanescoro, pada 10 Januari 2024.

Pengamatan sepanjang 2023 pada 255 titik di Jakarta menunjukkan bahwa air muka tanah turun hingga 10 cm dengan rata-rata penurunan 3,9 cm per tahun. Penurunan tanah disebabkan oleh pengambilan air tanah yang terus berlangsung, sebagaimana dipublikasikan oleh Balai Konservasi Air Tanah pada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Selain itu, faktor penyebab lainnya adalah beban tanah yang terus bertambah dan kondisi tanah yang terus bergerak.

Alarm Pembangun Segala Pihak

Semua pihak harus bertanggung jawab atas polemik banjir di Jakarta. Bahkan, persoalan ini merupakan klimaks dari kesenjangan ekonomi antara Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia. Magnet ekonomi di Jakarta masih terbukti tinggi bagi para pemudik hingga banyak yang ingin bekerja di kota ini. Karenanya, pembangunan infrastruktur tidak semestinya disetop sama sekali.

Ada hal yang perlu diperhatikan secara serius, yaitu pemenuhan ruang resapan dan ruang terbuka hijau. Standar lingkungan harus dipenuhi oleh setiap pengembang atau perusahaan. Jika melanggar, pemerintah provinsi wajib menindak tegas. Secara paralel, provinsi lain harus giat menciptakan lapangan kerja sehingga mengurangi warganya yang berpindah ke ibu kota. Dengan demikian, beban tanah Jakarta bisa mulai berkurang.

Tentunya, setiap penghuni Jakarta harus sadar diri berkontribusi, misalnya dengan membuang sampah pada tempatnya hingga menguranginya, terutama sampah plastik. Memilih kendaraan umum dapat mengurangi polusi dan kemacetan, khususnya saat musim hujan. Dan pastinya, sejengkal ruang yang dimiliki bisa dimanfaatkan sebagai lahan hijau untuk menyegarkan keluarga dan lingkungan sekitar.

Keadilan Ekologis: Jalan Manusia dan Alam Menuju Rahmatan Lil ‘Alamin

 

Dalam perspektif Islam, alam semesta diciptakan dengan keteraturan yang pasti. Semua kehidupan di dalamnya berjalan dengan prinsip keharmonisan, keselarasan, dan keberlanjutan. Alam semesta memiliki pengaturan yang serasi serta perhitungan yang tepat, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Ar-Rahman ayat 5-7:

“Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan. Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pepohonan, kedua-duanya tunduk kepadanya. Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan).”

Ayat ini menjelaskan bahwa meskipun terdapat unsur-unsur berbeda seperti pohon, air, matahari, udara, tanaman, hewan, dan manusia, setiap unsur tersebut saling bergantung satu sama lain.

Namun, kondisi saat ini justru menunjukkan kontradiksi. Pemanasan global yang terjadi adalah bukti bahwa keseimbangan alam terganggu akibat ulah manusia.

Keadilan Ekologis

Keseimbangan alam dikenal sebagai keadilan ekologis. Menurut laman jss.org.au (Jesuit Social Service), keadilan ekologis berarti keadilan sosial dan lingkungan. Prinsipnya adalah “semuanya saling terkait,” sehingga tindakan etis terhadap lingkungan merupakan bagian dari keadilan sosial.

Dengan kata lain, keadilan ekologis menggabungkan keadilan sosial dan kesadaran lingkungan. Perlindungan dan pemanfaatan lingkungan harus dilakukan secara adil, menghormati dan melindungi hak-hak semua makhluk hidup, termasuk manusia dan ekosistem lainnya.

Prinsip ini sesuai dengan Surah Al-Ahqaf ayat 3:

“Kami tiada menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. Dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka.”

Ayat ini menegaskan bahwa alam diciptakan dengan tujuan yang jelas, bukan tanpa arti. Sayangnya, perilaku manusia yang tidak bijak menyebabkan ketidakseimbangan dan kerusakan lingkungan.

Ketidakseimbangan Alam dalam Perspektif Imam Safet A. Catovic

Imam Safet A. Catovic, pemuka agama Islam di Universitas Drew dan penasihat Muslim Senior di GreenFaith, menuliskan dalam kata pengantar buku 40 Hadits Lingkungan:

“Krisis iklim global saat ini disebabkan oleh ‘perbuatan tangan manusia’ (Al-Qur’an 30:41): aktivitas yang berpusat pada kepentingan manusia, didorong oleh arogansi konsumsi dan keserakahan korporat. Pembakaran bahan bakar fosil yang hanya menuhankan profit juga berperan besar. Darurat iklim ini mengancam semua kehidupan di planet kita, terutama masyarakat miskin dan paling rentan.”

Krisis iklim berdampak buruk pada mereka yang sebenarnya berkontribusi paling sedikit terhadap pemanasan global, seperti perempuan, anak-anak, dan penyandang disabilitas.

Menciptakan Alam yang Rahmatan Lil ‘Alamin

Merenungkan penciptaan alam sebagai tanda kekuasaan Allah akan membentuk kesucian jiwa sebagai seorang Muslim. Hal ini tertuang dalam Surah Ali-Imran ayat 189-190:

“Dan milik Allahlah kerajaan langit dan bumi; dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal.”

Jika alam rusak, maka kualitas keimanan seorang Muslim belum sempurna. Kerusakan alam tidak hanya membahayakan seluruh isinya, tetapi juga keberlangsungan hidup manusia di masa depan.

Imam Safet A. Catovic juga menuliskan:

“Menyoroti eco-teaching dalam Islam, terutama melalui ajaran dan teladan hidup Nabi Muhammad Saw., sangat bermanfaat bagi umat Muslim dan umat agama lain. Kita harus bekerja sama untuk mengatasi perubahan iklim dan menjaga lingkungan yang adil, layak, dan lestari di masa depan.”

Menjaga Keadilan Ekologis

Dengan menerapkan keadilan ekologis, manusia bisa menciptakan harmoni yang menjaga hubungan antara manusia dan alam, sesuai dengan ajaran Islam. Keadilan ekologis menekankan perlindungan lingkungan secara adil dan seimbang, sejalan dengan Al-Qur’an yang mengajarkan pentingnya keteraturan alam.

Ketika keadilan sosial dan lingkungan terjaga, manusia tidak hanya melindungi alam, tetapi juga menjaga masa depan generasi mendatang dan semua makhluk hidup lainnya. Ketidakadilan terhadap alam akan menyebabkan ketidakseimbangan yang merugikan semua pihak, terutama yang paling rentan.

Bisakah Agama Menjadi Juru Selamat bagi Bumi yang Sekarat?

Suhu bumi makin tinggi. Lima tahun terakhir adalah suhu terpanas dalam sejarah sejak 1850. Tak tanggung-tanggung, di beberapa negara kenaikan suhunya mencapai 5 derajat. Gletser mulai mencair dan merobohkan gunungan es. Namun, di belahan dunia yang lain, bencana kekeringan menyebabkan gagal panen, kelaparan, hingga kematian. Sementara itu, manusia adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas hal ini. Data ini disampaikan oleh Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC). Laporan ini merupakan studi yang diluncurkan oleh para ilmuwan sebelum pertemuan iklim penting di Glasgow, Skotlandia, the 26th UN Climate Change Conference of the Parties (COP26).

Fenomena semacam ini sebenarnya sudah diperingatkan oleh para cendekia. Pada tahun 1985, Jill Jäger, seorang ilmuwan lingkungan, menghadiri pertemuan di sebuah kota kecil di Pegunungan Alpen Austria. Pertemuan yang dipimpin oleh ahli meteorologi bernama Bert Bolin ini merupakan pertemuan kecil para ilmuwan iklim yang bertujuan membahas hasil salah satu penilaian internasional pertama mengenai potensi perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia.

Manusia harus lebih bijak dalam menghuni bumi. Tapi, bukankah manusia memang selalu bebal? Selalu tak pernah percaya dengan peringatan-peringatan, baik dari sesama manusia maupun dari Langit (Tuhan). Manusia pada abad sebelum Masehi pernah berkata bahwa bumi adalah ibu. Sebuah penggambaran bahwa bumi adalah ibu kosmik manusia. Jagalah bumi, karena sesungguhnya ia adalah ibumu. Sesungguhnya, tidak ada satu pun yang memperlakukannya (bumi) dengan baik atau buruk kecuali dia (bumi) melaporkannya kepada Allah Swt. (al-Mu’jam al-Kabîr li َath-Thabrani, no. 4595).

Pun, dalam pondasi Islam yang terbangun dalam kalimat tauhid, dijelaskan secara terang benderang bahwa tiada tuhan selain Allah—yang artinya bahwa selain Allah adalah ciptaan. Tak peduli apakah itu alam, hewan, atau manusia sekalipun. Itu artinya manusia sama derajatnya dengan gunung, hutan, dan sungai. Demikian pula, manusia setara dengan kambing, gajah, ayam, dan babi sekalipun. Alam, hewan, dan manusia sama di hadapan Khaliq (Pencipta) sebagai makhluk (ciptaan). Ketiganya adalah saudara. Manusia, yang dibekali dengan akal, merasa lebih unggul dari saudaranya yang lain, sehingga memperlakukan alam semesta sebagai sapi perah melebihi dari kebutuhan mereka sendiri, hingga sampai pada tahap keserakahan. Tanpa ampun.

Keserakahan dan ketamakan manusia ini mengantarkannya pada bencana. Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari, menyebutkan bahwa sebanyak 1.862 bencana yang terjadi di Indonesia sepanjang Januari-Juli 2023 disebabkan oleh faktor perbuatan manusia.

Siapa lagi yang paling terdampak kalau bukan kelompok perempuan dan anak-anak? Perempuan, dalam tradisi masyarakat patriarki, dibebankan tanggung jawab untuk mengurus persoalan domestik dan memastikan seluruh kebutuhan rumah tangga terpenuhi. Di Lombok Utara, misalnya, kelangkaan air karena kekeringan menyebabkan perempuan berada dalam kondisi yang putus asa, karena kelangkaan air membuat emosi mereka naik turun. Dalam kondisi ini, laki-laki menuntut agar semua kebutuhan domestik terpenuhi tanpa mau tahu bagaimana prosesnya. Keadaan semacam ini pada akhirnya menyebabkan hubungan keluarga tak lagi harmonis. Selain itu, kelangkaan air menyebabkan anak-anak usia sekolah merasa minder untuk berangkat ke sekolah. Mereka merasa tidak pantas pergi ke sekolah karena kondisi tubuh yang kumal dan bau. Tak heran jika angka putus sekolah menjadi tinggi. Belum lagi masalah kesehatan reproduksi; kelangkaan air membuat perempuan terancam kesehatannya.

Sebegitu besar krisis ekologi yang melanda ruang hidup kita, agama seolah dianggap tak memiliki peran apapun. Padahal, agama memiliki fungsi strategis dalam perawatan lingkungan hidup. Oleh karena itu, agama seharusnya mengambil perannya dan lebih menggerakkan elemen agama untuk menjaga alam. Absennya narasi agama dalam isu krisis dan kerusakan lingkungan di antaranya terjadi karena masih minimnya kajian yang menelusuri khazanah pemikiran Islam dan menawarkan pembaruan dalam interpretasi teks-teks keagamaan terkait perawatan lingkungan.

Di Indonesia, pengajaran agama Islam ditransmisikan melalui berbagai macam cara. Paling umum ditemui di kalangan masyarakat adalah majelis taklim dan pesantren. Ini adalah ruang belajar kolosal yang terpusat pada satu figur tokoh agama atau pengasuh yang membahas persoalan-persoalan keseharian terkait agama. Dengan jumlah penganut agama Islam sebanyak 244,41 juta, tak mengherankan jika data yang dihimpun oleh Dirjen Bimas Islam mencatat jumlah majelis taklim mencapai 994.000 dan 39.167 pesantren. Data ini kemungkinan besar akan terus bertambah karena masih banyak yang belum terdaftar.

Ruang agama, seperti majelis taklim dan pesantren, memiliki peran yang sangat vital, bukan hanya dalam transmisi pemahaman keagamaan tetapi juga membumikan kebijakan strategis pemerintah. Pada saat pandemi, misalnya, tokoh agama dan ulama, khususnya yang memiliki majelis taklim dan pesantren, mempunyai peran signifikan dalam mensosialisasikan pentingnya jaga jarak sosial untuk menghalangi penyebaran virus COVID yang lebih masif, hingga pentingnya vaksin—dan menekankan bahwa vaksin COVID adalah halal bagi masyarakat dan jemaah. Dengan potensi ini, agama dapat berperan—melalui tokoh agamanya—sebagai juru bicara paling efektif dalam perawatan dan pemulihan lingkungan yang telah rusak karena keserakahan manusia.

Mengurai Benang Visi Kekhalifahan dan Misi Pelestarian Lingkungan

Indonesia adalah negara dengan populasi umat Muslim terbesar kedua di dunia, setelah Pakistan. Terdapat lebih dari 230 juta penduduk Muslim di Indonesia, yang setara dengan 87,2% dari keseluruhan populasi. Namun, di saat yang sama, Indonesia menempati peringkat kelima sebagai negara penghasil sampah terbesar di dunia, ketiga sebagai penyumbang sampah plastik terbesar di laut, dan kesepuluh sebagai negara paling berpolusi di dunia. Pertanyaannya, mengapa hal ini bisa terjadi?

Islam dikenal sebagai agama yang bersih, yang menekankan nilai-nilai menjaga lingkungan serta menolak segala praktik yang merusak alam. Mengapa permasalahan lingkungan justru muncul dari negara yang hampir 88% populasinya beragama Islam? Ini jelas bertolak belakang dan “tidak masuk akal.” Seharusnya, Indonesia menjadi salah satu negara paling bersih, ramah lingkungan, dan bebas polusi.

Visi Kekhalifahan

Terdapat satu visi utama mengenai tujuan diciptakannya manusia. Hal ini telah disebutkan dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 30 yang berbunyi:

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata, ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan mensucikan-Mu?’ Tuhan berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.'” (QS. Al-Baqarah: 30)

Ayat ini dengan jelas menyebutkan bahwa manusia diciptakan sebagai khalifah atau pemimpin di muka bumi. “Khalifah fi al-Ardh” merujuk pada makna sebagai wakil Tuhan di bumi. Sebagai wakil Tuhan, manusia diharapkan untuk berperilaku dengan cara yang mencerminkan nilai-nilai kebaikan Tuhan, yang menciptakan, merawat, memelihara, dan melestarikan alam serta segala isinya.

Ayat ini juga mengandung amanat bahwa manusia bertanggung jawab untuk memimpin dan menjaga segala sesuatu yang telah Allah titipkan, termasuk alam. Allah menciptakan alam dan seisinya untuk kemaslahatan manusia. Sebagai manusia, kita memiliki kewajiban untuk menjaga dan merawat apa yang telah Allah berikan demi kelangsungan hidup. Tuntutan menjadi pemimpin yang bijaksana dan memegang amanah harus dipegang teguh, bukan malah menjadi pemimpin yang serakah, rakus, dan sombong.

Pelestarian Lingkungan

Konsep menjaga alam dan lingkungan sejatinya sesuai dengan cara bermuamalah yang diajarkan oleh Rasulullah. Dalam Islam, terdapat tiga ajaran utama dalam bermuamalah, yaitu hablumminallah (hubungan manusia dengan Tuhan), hablumminannaas (hubungan manusia dengan manusia), dan hablumminalalam (hubungan manusia dengan alam). Sayangnya, masyarakat kita cenderung hanya fokus pada poin pertama dan kedua, sementara poin ketiga seringkali terabaikan.

Kesenjangan ini menyebabkan adanya ketidakselarasan antara ajaran agama dan praktik kehidupan sehari-hari. Ketika umat Muslim di Indonesia tidak menjalankan tanggung jawab lingkungan seperti yang diperintahkan dalam Al-Qur’an, maka ajaran mengenai hablumminalalam tidak diterapkan dengan baik. Ini menunjukkan bahwa kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan sebagai bagian dari iman dan ibadah masih kurang.

Dengan pemahaman bahwa menjaga lingkungan adalah bentuk ibadah dan tanggung jawab khalifah, seharusnya Indonesia bisa menjadi contoh dalam pelestarian alam. Tantangan terbesar adalah bagaimana mengintegrasikan ajaran agama yang kaya akan nilai-nilai keberlanjutan lingkungan ke dalam kesadaran dan perilaku sehari-hari masyarakat.

Tanpa kesadaran ini, nilai-nilai lingkungan dalam Islam hanya akan menjadi retorika tanpa aksi nyata. Oleh karena itu, diperlukan upaya yang lebih serius untuk mendidik masyarakat tentang pentingnya menjaga alam, baik melalui pendekatan agama, kebijakan pemerintah, maupun gerakan sosial yang lebih luas.

Semua Agama Mengajarkan Melestarikan Alam, Apakah Pengikutnya Bisa Mengamalkannya?

Oleh: Dayu Akraminas

Salah satu doktrin yang diajarkan dari setiap agama adalah berbuat adil. Keadilan menjadi norma keseimbangan yang tidak hanya berlaku sesama manusia, tetapi juga kepada alam. Apakah penganut agama dapat mengamalkannya?

Agama mengajarkan melestarikan alam. Istilah agama berasal dari kata “a” yang berarti tidak, dan “gama” yang berarti kacau. Ada juga kelompok memahami istilah agama, yaitu “a” yang berarti tidak, dan “gam” yang berarti pergi atau berjalan. Kedua istilah ini memiliki orientasi berbeda. Kelompok pertama, agama adalah sejenis regulasi peraturan yang menghindarkan manusia dari kekacauan, serta mengantar manusia menuju keteraturan, ketertiban, dan kebahagiaan. Dan kedua, pengertian agama adalah tidak pergi, tetap di tempat, kekal-eternal, terwariskan secara turun-menurun.

Dalam Islam, kata agama dikenal dengan istilah al-dīn. Menurut Fāris bin Zakariyā, term al-dīn diartikan dengan kepasrahan dan ketundukan misalnya qaum dīn yaitu kelompok manusia yang pasrah dan tunduk. Hans Wer sedikit menyederhanakan, bahwa al-dīn sebagai faith (iman) dan belief (kepercayaan). Secara komprehensif, Ismail al-Faruqi berpandangan bahwa agama merupakan inti hakikat dan esensi dari peradaban, dalam hal ini agama merupakan dasar dari semua keputusan dan tindakan.

Terminologi ini penting dijelaskan untuk melihat posisi agama dalam memandang alam, karena agama memberikan dampak yang luar biasa bagi manusia. Agama menjadi legalitas kesadaran manusia untuk memberikan legitimasi argumen dalam bertindak. Setiap agama memiliki sumber rujukan yang biasa disebut sebagai kitab suci. Pemahaman yang berbasis kepada kitab suci akan mampu mengubah secara fundamental pandangan umat manusia tentang hakikat alam.

Kitab suci menjadi otoritas penting dalam membentuk paradigma masyarakat. Hal ini hanya bisa dibentuk bila masyarakat yang beragama tersebut tunduk terhadap gagasan ide yang lahir dari otoritas kitab suci yang diyakini. Seperti seorang muslim, yang menyakini sepenuhnya otoritas kebenaran isi Al-Quran.

Intinya setiap agama memiliki nilai yang sama, dan ini dimuat dalam kitab suci mereka. Sejatinya semua agama mengajarkan melestarikan alam. Kesamaan yang dimaksud adalah memiliki kesamaan nilai universal. Meskipun ada banyak hal untuk dibedakan, setidaknya ada beberapa kesamaan. Puncak kesamaannya adalah mengajarkan untuk berbuat adil. Keadilan menjadi fondasi etis, sebagai norma dalam tatanan kehidupan. Keadilan membentuk kehidupan yang ideal, dan ini juga berdampak kepada kelestarian alam.

Keadilan membentuk keseimbangan antara Tuhan, manusia dan alam. Ajaran ini ditemukan dalam setiap agama. Baik itu Islam, Kristen, Hindu, Budha, dan lainnya. Dalam ajaran kitab suci mereka termasuk Islam, memandang alam memiliki sakralitas tersendiri, sebagai upaya menjaga eksistensi manusia. Kitab suci dapat memberikan pemahaman secara komprehensif dalam memandang hubungan antara manusia dengan Tuhan dan alam sebagai kesatuan yang tidak terpisahkan.

Dalam ajaran agama-agama tersebut, dapat membuat manusia lebih menghargai eksistensi alam sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan, hal ini akan menciptakan hubungan harmonis antara manusia dan alam, dan pada akhirnya menghasilkan kehidupan yang lebih baik pada ekosistem di bumi ini. Alam yang sehat, pasti memberi dampak positif pada kesehatan manusia, sehingga hidup manusia semakin berkualitas. Sebaliknya alam yang buruk akan mengancam eksistensi hidup dan kehidupan manusia, kesehatan manusia buruk, kualitas hidup manusia menjadi rendah, atau bahkan mungkin saja manusia tidak dapat hidup lagi saat alamnya musnah.

Kitab suci setiap agama memberikan kontribusi khazanah pengetahuan untuk bisa menanggulangi masalah krisis lingkungan. Itu sebabnya, beragama tanpa menerapkan isi kandungan kitab suci akan berdampak kepada pengamalan sehari-hari, dan ini juga bisa berpengaruh kepada alam. Faktor terjadinya krisis lingkungan adalah orang beragama sudah melupakan ajaran keimanan mereka dalam kitab sucinya. Termasuk seorang muslim yang lupa dengan isi kandungan al-Qurannya.

Inilah yang terjadi saat ini khususnya di Indonesia. Selain faktor menipisnya spritualitas manusia modern, tetapi juga menipisnya pengamalan berbasis kitab suci bahkan sudah mulai dilupakan, sehingga menyebabkan mereka kehilangan kontak dengan sakralitas segala sesuatu. Termasuk memandang alam yang sudah hilang dari sakralitasnya.

Pada akhirnya, manusia tersebut beranggapan bahwa alam hanyalah sebatas benda mati yang perlu dieksploitasi secara bebas. Sementara itu, persoalan spiritual adalahbagian inti dari setiap ajaran agama. Karena itu, mengenali aspek spiritualitas dalamsetiap agama menjadi penting, sebagai upaya menumbuhkan kembali koneksi antara manusia dengan sakralitas segala sesuatu yang sempat hilang oleh arus modernisasi.

Itulah mengapa, banyak tudingan yang menyebut bahwa agama telah menjadi inspirator dibalik krisis lingkungan. Agama, dengan segala ajarannya, dianggap telah menginspirasi dan melegetimiasi para pengikut agama untuk melakukan eksploitasi terhadap alam.

Tudingan ini dilakukan secara ilmiah, hasil dari penelitian Lynn White dalam karya tulisnya berjudul “Historical Roots of Our Ecological Crisis. Dalam tulisan ini, White menuduh Yahudi dan Kristen sebagai pelaku yang ia maksud. Meskipun tudingan itu fokus kepada Yahudi dan Kristen, secara tidak langsung, hipotesa White ini berdampak kepada pengikut agama lainnya.

Ini bisa dijadikan inspirasi dan argumentasi bagi siapa pun untuk mempertanyakan sikap yang dimiliki oleh pengikut agama-agama lain, termasuk Islam tentangbagaimana doktrin agama mereka memposisikan alam.

Perlu dijelaskan, bahwa kesalahan ini bukan pada agamanya, tetapi pada umat beragama. Tuduhan Lynn White itu lebih tepat kepada pengikut agamanya. Umat beragama saat ini sudah mulai meninggalakan ajaran pokoknya, dan ini berdampak kepada alam. Solusinya adalah kembali kepada ajaran kitab suci. Menerapkan ajaran kitab suci secara komprehensif.

Sejatinya agama mengajarkan melestarikan alam. Salah satu doktrin yang diajarkan dari setiap agama adalah berbuat adil. Keadilan menjadi norma keseimbangan yang tidak hanya berlaku sesama manusia, tetapi juga kepada alam. Berbuat adil kepada alam bisa menumbuhkan jalinan harmonis antara manusia dengan alam. Tinggal bagaimana pengikutnya bisa mengamalkan ajaran tersebut dalam kehidupan sehari-harinya. Oleh karenanya, jangan lupakan ajaran agama.

Ustadz Dayu Aqraminas, M.Ag, M.H, Peserta Pengaderan Kiai Muda Sensitif HAM dan Gender asal Provinsi Jambi, Rumah Kita Bersama dan The Oslo Coalition University of Oslo – Norwegia, 2021

Pentingnya Perspektif Spiritual Agar Kita Tak Gampang Merusak Alam

Oleh: Dayu Akraminas

Meskipun manusia diberi kebebasan untuk mengolah dan memanfaatkan lingkungan, namun tetap harus memperhatikan kelestarian alam.

Perlu pengakuan dari kita, bahwa alam semesta adalah ciptaan Tuhan. Tentunya hanya Dia yang berkuasa penuh, dan mengendalikan (taskhīr) alam ini. Terlepas dari perbedaan orientasi penafsiran tentang bagaimana proses penciptaan alam, atau bagaimana Allah menjalankan kuasa-Nya atas alam, tetapi ada titik kesamaan bahwa hanya Allah sebagai Pencipta dan Penguasa alam.

Pandangan ini perlu ditegaskan karena hal tersebut yang membedakan pandangan dunia Islam dengan paham sekuler yang sebagian dari mereka beranggapan bahwa alam semesta ini bukan dari ciptaan Tuhan dan bukan di bawah kekuasaan Tuhan. Doktrin seperti ini hanya membuat manusia lebih bias dan leluasa untuk mengeksploitasi terahadap alam, karena tidak ada pengakuan tentang kepemilikan segala sesuatu di alam, sehingga manusia dengan bebasnya memperlakukan alam.

Untuk itu perlu dijelaskan bahwa alam merupakan anugerah dari Allah. Kita tidak mempunyai hak kepemilikan sedikitpun atas alam. Kita hanya sebagai konsumen, memanfaatkan alam bagi kebutuhan hidup. Alam memiliki kedudukan yang sama dengan makhluk lainnya. Ia memiliki kesakralan dan kesucian, sebab alam dan manusia merupakan makhluk yang diciptakan berdasarkan pantulan cermin Allah (tajallī: manifestasi).

Allah menciptakan alam dan seisinya tidak dengan sia-sia. Islam sangat menekankan keyakinan terhadap kebaikan alam. Dan Islam juga menekankan, bahwa manusia juga bertangung jawab untuk melindungi, merawat dan melestarikan alam. Menurut Mulyadi Kartanegara, bahwa manusia diberi kelebihan oleh Allah atas makhluk lainnya sehingga diberi amanah untuk menjaga, mengelola alam semesta, bertanggung jawab pada semua aspek keberlangsungan dan keteraturan alam semesta ini.

Begitu juga dalam pandangan Ibn ‘Arabī, bahwa alam yang yang suci ini bukan semata-mata untuk dijadikan tempat bernaung semua makhluk, tetapi dia harus dilestarikan. Sebab, alam merupakan media Tuhan dalam menampakkan dirinya (tajalli).

Alam menyimpan informasi-informasi ilahiah yang memerlukan penelusuran secara mendalam. Alam bukan lagi dipandang relitas yang kosong, tidak memberi makna bagi manusia, melainkan alam memiliki keistimewaan yang menjadi media untuk mengenal Allah. Selain itu juga alam merupakan kreativitas Tuhan yang perlu dihormati, yang pada akhirnya dapat membantu manusia mencapai kebahagian lahir dan batin.

Melihat Alam dengan Perspektif Spritual

Dimensi spiritual memungkinkan manusia untuk hidup secara rohani dalam menghayati totalitas eksistensinya dalam alam. Dimensi ini bisa dibentuk dengan cara mengubah paradigma memandang alam bukan lagi instrumen yang harus dieksploitasi, tetapi alam juga bisa dijadikan sarana spritual untuk mengenal Allah.

Mengutip pendapat Henryk Skolimowski, Ia memberikan tawaran yang menarik untuk memandang alam semesta ini secara spiritual. Dia mendefinisikan spiritulitas sebagai esensi yang diperoleh dari kondisi manusia yang berinteraksi dengan alam.

Kemungkinan pengalaman manusia dalam berinteraksi dengan alam berbeda-beda dari satu budaya dengan budaya yang lainnya, atau dari satu kondisi dengan kondisi yang lainnya. Meski berbeda, spiritualitas tidak bersifat aksidental, melainkan esensial.

Menurutnya, spiritualitaslah yang membuat jati diri manusia itu lebih dikenal, bahkan sebagai sarana untuk kesadaran diri. Aspek-aspek kesadaran diri manusia ini menurut Skolimowski harus diukur dari aspek spiritualitas. Aspek ini dimulai dari menganggap alam yang mempuanyai kesakralan tersendiri.  Ketika alam ini dilihat sebagai makhluk yang mempunyan kesakralannya, maka peran manusia dalam melihat kesakralan ini dengan menjaga dan melindunginya.

Artinya, paradigma berpikir dan tindakan manusia harus diubah dari yang materialistik dan instrumental menjadi spiritual. Dimensi spiritual ini harus ada dalam pikiran manusia.  Bila pikiran manusia berisi aspek spiritual, maka tindakan manusia terhadap alam juga cenderung spiritual.

Setelah terbentuknya dimensi spritual pada manusia, maka dengan sendirinya manusia bersikap baik dan adil terhadap alam. Sikap adil itu menujukkan kebijaksanaan seseorang, ketika alam memperlakukan manusia dengan baik dan lembut, semestinya perlakuan manusiapun juga demikian. Bukan justru berbuat kerusakan.

Dengan begitu, kehidupan yang baik tidak mungkin dilepas dari relasi harmonis antara manusia dan alam. Menjalin keharmonisan antara manusia dan alam merupakan visi ekologi spiritual. Dimensi spiritual seperti ini seharusnya membuat manusia peka dan sadar diri untuk memperbaiki kualitas hubungan spiritual dengan ciptaan-Nya yang lain, entah itu hubungan manusia dengan manusia, maupun hubungan manusia dengan alam.

Saat ini, tren bencana akibat kejahatan manusia terhadap alam perlu diperbaiki kembali. Membentuk kualitas harmonis dengan alam, menjaga dan melestarikan alam, sebab kebaikan seperti itu merupakan bentuk spritual kita kepada Maha Pencipta. Merawat alam juga bagian dari merawat iman.

Optimal Memanfaatkan Alam, Bukan Berarti Bebas Merusak

Meskipun manusia diberi kebebasan untuk mengolah dan memanfaatkan lingkungan, namun tetap harus memperhatikan kelestarian alam. Inilah yang kemudian melahirkan konsep bahwa kemashlahatan pribadi tidak boleh mengabaikan kemaslahatan umum atau untuk orang banyak.

Dalam tradisi ushul fiqih, realitas ini sejalan dengan kaidah “al-mashlahah al-‘āmmah muqaddam ‘ala al-mashlahah al-fardhiyyah” (kemaslahatan umum/kolektif harus didahulukan dari pada kepentingan individu/khusus).

Kaidah ini berorientasi kepada pemanfaatan alam secara etis. Artinya berlebih-lebihan merupakan tindakan yang tidak dibenarkan. Fondasi ini bagian dari dimensi etis-spritual. Dengan begitu perintah untuk memelihara lingkungan, hendaknya dipahami sebagai kewajiban kita sebagai Khalifah fi Ard.

Alam merupakam anugerah Allah yang harus dinikmati seluruh manusia, bahkan makhluk hidup lainnya. Semua kebelangsungan hidup makhluk bergantung kepada alam. Jahat sekali, bila ada kepentingan individu untuk mengeksploitasi alam dengan tujuan memenuhi hawa nafsu sendiri. Memanfaatkan alam harus sejalan dengan prinsip kemaslahatan ummat bukan individu

Al-Qur’an memberikan standarisasi untuk memanfaatkan alam secara optimal. Kita diberikan kebebasan untuk mengelola alam, dan meikmati hasilnya. Standarisasi yang dimaksud adalah etis tanggungjawab dan berkeadilan. Kedua sikap ini mencermikan spritualiatas yang dibangun atas amanah yang diberikan oleh Allah kepada manusia.

Itu sebabnya manusia ditunjuk menjadi wakil Tuhan. Karena memiliki potensi untuk berbuat adil. Keadilan merupakan prinsip dasar untuk menjadi wakil Tuhan, tetapi manusia juga memiliki potensi membuat kerusakan terhadap alam. Prinsip kerusakan ini berdasarkan hawa nafsu. Prinsip ini dimiliki setiap manusia, ia hanya bisa dikalahkan dengan keadilan. Mementingkan kemaslahatan ummat membuktikan kebijaksaan seseorang dan menjalankan amanahnya sebagai wakil Tuhan.

Memelihara alam juga merupakan bentuk perwujudan keadilan yang universal bagi seluruh makhluknya. Kepedulian terhadap alam tidak hanya untuk kemaslahatan alam itu sendiri, tetapi untuk kemaslahatan ummat sebagai jaminan keberlangsungan hidup manusia.

Memelihara alam juga memiliki nilai yang baik, tidak hanya pahala yang didapat, imanpun akan bertambah. Begitu juga dalam spritual, memelihara alam merupakan tindakan yang sejalan dengan sifat-sifat Allah, karena alam merupakan manifestasi-Nya.

Kiai Dayu Aqraminas, M.Ag, M.H, Peserta Pengaderan Kiai Muda Sensitif HAM dan Gender asal Provinsi Jambi, Rumah Kita Bersama dan The Oslo Coalition University of Oslo – Norwegia, 2021.