Salahkah Nabi Punya Sifat Feminin?

Oleh Dinda Shabrina

“Apakah ada yang salah ketika nabi memiliki sifat feminin?”

Pertanyaan di atas adalah pertanyaan besar saya setelah mendengar seorang peserta laki-laki dalam forum diskusi tentang gender yang seolah ingin menekankan bahwa nabi tidak hanya memiliki sifat feminin tetapi juga punya sifat maskulin. Dari nada dan cara menjelaskannya, peserta tersebut seolah-olah keberatan ketika pemateri mengatakan seorang nabi punya sifat feminin dan ingin menunjukkan kepada seluruh peserta diskusi yang lain tentang dikotomi feminin dan maskulin. Di mana kedua sifat ini memiliki kelas, yang satu superior dan yang satu lagi inferior. Maskulin power dan feminin subordinat.

Masyarakat patriarkal begitu meyakini bahwa kedua sifat ini tidak dapat melebur di dalam diri seorang manusia. Padahal bisa saja seorang laki-laki memiliki sifat feminin dan perempuan memiliki sifat maskulin. Bisa saja perempuan memiliki sifat lembut sekaligus pemberani. Bisa saja laki-laki “macho” atau “jantan” sekaligus lemah lembut dan penyayang.

Peserta diskusi tadi seharusnya tidak perlu bersusah payah menjelaskan lagi. Karena kedua sifat itu niscaya dimiliki oleh seorang nabi, oleh manusia. Sebab Tuhan yang menciptakan manusia dan alam semesta ini juga memiliki kedua sifat itu. Feminin dan maskulin melebur dalam Diri Tuhan.

Di antara sekian banyak nama-nama dan sifat Allah dalam Asma’ Al Husna, Allah tidak menunjukkan sifat dominannya sebagai Tuhan yang hanya maskulin saja, atau seperti istilah yang dikatakan Nasaruddin Umar dalam Republika.co.id “The Father God”, Tuhan yang menampilkan sifat Tuhan Maha Besar (al-Kabir), Maha Perkasa (al-‘Aziz), dan Maha Pembalas (al-Muntaqim). Tetapi Tuhan juga punya sifat-sifat feminin yang ternyata justru lebih dominan. Tuhan Maha Mengasihi (al-Waduud), Maha Lembut (al-Lathif), Maha Memelihara (al-Hafizh), Maha Pengasuh (ar-Rauuf), Maha Penyayang (al-Rahim), Maha Pemaaf (al-‘Afuw) dan masih banyak lagi.

Perilaku yang dicontohkan oleh rasulullah pun menunjukkan kedua sifat itu. Ia bisa begitu tegas dan kuat saat perang. Tetapi ia bisa begitu lemah lembut dan penyayang ketika berhadapan dengan istri-istrinya. Rasulullah juga mau membantu pekerjaan rumah tangga dan mengasuh anak-anaknya dengan kasih sayang yang seringkali pekerjaan ini identik dengan sifat feminin. Tidak pernah sekalipun rasulullah menunjukkan sikap kasar dan menggunakan kekerasan dalam relasi baik di rumah tangga maupun bermasyarakat.

Namun sayang sekali, dalam masyarakat patriarki berabad-abad lamanya kontruksi tentang dikotomi feminin dan maskulin ini sudah tertanam sangat kokoh. Sehingga sampai saat ini masyarakat masih banyak yang menganggap sifat feminin itu adalah perempuan, derajatnya dianggap lebih rendah, inferior, lemah dan tak berdaya. Sehingga ketika mendengar nabi, seorang laki-laki mempunyai sifat feminin agak sedikit membuat mereka yang masih punya konsep dikotomi tadi mengernyitkan dahi. Itu juga mungkin sebabnya laki-laki dalam masyarakat patriarki lebih memilih untuk menyembunyikan sifat femininnya karena sifat itu dianggap aib yang memalukan. Karenanya laki-laki tidak mau menampakkan perasaan sedihnya, tidak mau menampakkan diri ketika sedang menangis. Laki-laki dalam budaya patriarki harus selalu terlihat kuat, “jantan” dan perkasa. Sementara ketika perempuan menunjukkan sifat maskulinnya, seperti mandiri, kuat, tegas, selalu mendapatkan komentar negatif dan dianggap menyalahi “kodrat” alamiahnya yang feminin. Perempuan hanya dianggap pantas dilekatkan dengan sifat-sifat memelihara, tunduk, patuh, dan bergantung.

Untuk menjalankan fungsi kehidupan, manusia butuh kedua sifat itu (maskulin dan feminin). Manusia butuh maskulin untuk menjalani misinya sebagai khalifah di muka bumi. Dan manusia juga butuh feminin untuk menjalani kodratnya sebagai ‘abid (hamba) dari Tuhan Maha Pencipta. Jika dikotomi feminin dan maskulin terus dilanggengkan maka kemungkinan kerusakan di muka bumi ini akan terus terjadi.

Manusia yang menjalankan misi kekhalifahannya dengan hanya menekankan kualitas maskulin saja akan menyebabkan kerusakan alam besar-besaran dan membawa kerusakan di lingkungan sosial. Sebab manusia menganggap bahwa dirinya berkuasa atas bumi ini. Begitu pula jika manusia hanya menjalankan misi kehambaannya dengan menekankan kualitas feminin saja, kemungkinan besar yang terjadi adalah fatalisme keagamaan. Manusia hanya bisa meratapi nasib tanpa tahu harus berbuat apa karena sepenuhnya bergantung pada Tuhan. Sehingga manusia tidak bisa membawa dampak pada kehidupan sosialnya.

Itu sebabnya manusia harus menghancurkan dikotomi feminin dan maskulin yang telah terkonstruksi begitu mapan oleh budaya patriarki. Dan memaknai sifat-sifat Allah dalam Asma’ Al Husna serta meniru perilaku nabi sebagai acuan manusia menjalani kehidupan di dunia. []

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.