Pertobatan Ekologis di Jantung Nusantara
“Ekosistem itu luar biasa rumit, dan jika Anda mengganggunya, itu akan membahayakan diri Anda”
Tom Philips, Humans: Sejarah Singkat tentang Kedunguan Kita
Ada satu paradoks yang diyakini oleh umat manusia: menjadi makhluk sempurna dan ‘penguasa’ semesta. Pandangan tersebut diharapkan dapat menuntun manusia mengelola bumi secara bijak. Sayangnya, dalam sejarah manusia, sebagaimana cerita Tom Philips dalam bukunya, manusia punya kecenderungan besar untuk merusak.
Lebih mengkhawatirkan lagi, manusia nyaris tidak pernah belajar dari sejarah. Kita, hanya mengganti jenis kerusakan dan menumpuknya dalam skala yang lebih besar. Itu dirasakan hari ini, dengan krisis iklim yang tak dapat ditolak lagi.
Saya bersyukur, dalam pembelajaran itu, dipertemukan dengan teman-teman dari Yayasan Pakis Baja. Bersama Peace Planters dari Amerika Serikat, mahasiswa UIN Sultan Adji Muhammad Idris Samarinda, Universitas Guna Darma Penajam Paser Utara, dan Sekolah Tinggi Teologi Tenggarong, saya belajar secara langsung menanam benih kebaikan.
Antara Kritik Pembangunan dan Kegelisahan Bumi Etam
Uniknya lagi, proses penanaman ini dilakukan di Ibu Kota Nusantara. Mengapa saya katakan unik? Sebab sejak awal diinisiasi, megaproyek ini mendatangkan kritik dari berbagai kalangan. Terutama bagi masyarakat adat dan warga sekitar yang tanahnya disulap menjadi kota modern. Meski pada saat yang sama, kita bisa berdalih: itu adalah harga dan pengorbanan untuk membangun ‘kemajuan’.
Jaringan Advokasi Anti Tambang (JATAM) Kalimantan Timur bekerja sama dengan berbagai pihak, pada tahun 2023 menerbitkan buku laporan “Nyapu: Bagaimana Perempuan dan Laki-laki Suku Balik Mengalami Kehilangan, Derita dan Kerusakan Berlapis Akibat Megaproyek Ibu Kota Baru Indonesia”, menyoroti dampak destruktif pembangunan IKN terhadap masyarakat adat dan lingkungan.
Tentu kita juga bisa mengkritisi temuan JATAM. Kita pun boleh tidak sepakat dengan datanya. Namun, berdasarkan putusan Mahkamah Konstitusi terbaru, hingga detik ini, Ibu Kota Negara Indonesia masih di Jakarta.
Lantas, di mana sisi uniknya? Saya termasuk orang yang sejak awal menolak dan mengkritisi IKN. Terlebih, saya juga tinggal di provinsi ini. Ada kegelisahan untuk menjaga bumi dari kerakusan manusia. Bayangkan, dengan pembangunan IKN itu, ada berapa ratus jenis flora dan fauna yang tergusur?
Dengan kemuakan itu, saya nyaris tidak pernah menginjakkan kaki di IKN. Kegiatan ini adalah kedua kalinya saya masuk ke sana. Setelah sebelumnya saya berkunjung ke sana di tahun 2024 hanya untuk menemani keluarga yang penasaran dengan arsitektur IKN.
Selama dua hari melakukan kegiatan di IKN ini, saya semakin sadar arti penting menjaga alam, menanam kehidupan. Satu aktivitas yang begitu berkesan adalah penanaman 100 pohon di IKN yang kami lakukan. Tentu banyak orang yang tidak sepakat dan menganggap hal itu sebatas seremonial belaka.
Bagi saya, kegiatan itu adalah pengalaman yang berharga. Sejak menetap di benua Etam 2024, saya memang punya ketertarikan pada topik lingkungan. Lebih tepatnya, meminjam istilah Paus Fransiskus, saya melakukan pertobatan ekologis. Betapa selama ini, saya termasuk dalam kelompok yang suka merusak alam, dengan menambah sampah plastik, membuang makanan, dan yang paling penting: diam melihat bumi Kalimantan sudah dikeruk habis-habisan dengan tambang dan sawit.
Sayangnya, meski sudah mencoba mengurangi plastik dan belajar tentang ekologi dengan memperkaya bacaan, apa yang saya lakukan masih kurang. Bahkan saya nyaris tidak pernah menanam pohon seumur hidup. Saya ingat, menanam pohon terakhir dilakukan ketika perpisahan di bangku SMP. Lagi-lagi, lebih bersifat seremonial. Tapi, itu lebih baik daripada tidak sama sekali.
Menanam sebagai Kerja Keibuan dan Kesabaran
Mengapa kita perlu menanam? Jawabannya bisa banyak. Saya menemukan beberapa refleksi dari kegiatan penanaman kemarin. Pertama, menanam adalah kerja kesabaran. Sampai saat ini, belum ada teknologi industri pangan yang bisa menanam pohon dan tumbuh dalam waktu singkat. Apa yang kita tanam hari ini, baru berbuah mungkin 5-10 tahun setelahnya. Tanpa kesabaran, orang tidak bisa menanam.
Berkaitan dengan kesabaran, menanam juga adalah kerja perawatan. Aktivitas menanam dan merawat adalah kerja keibuan. Kita belajar sabar menikmati proses, bukan hanya menuntut hasil. Modernitas yang terlalu mengunggulkan maskulinitas, kekuatan, kepercayaan diri, pembangunan, sering kali melewatkan kerja perawatan. Kita diajak untuk segera menikmati hasil.
Karenanya pula, muncul beragam teknologi untuk mengeruk kekayaan alam secara instan, hingga lupa, itu semua justru merusak keseimbangan. Vandana Shiva dalam buku “Kodrat Alam” mengutip data dari Living Planet Report 2018 oleh WWF, sejak 1970 ketika pertanian industri dan bahan kimia mulai menyebar, kita telah memusnahkan 60 persen binatang di planet bumi ini.
Industrialisasi kita sebut kemajuan. Sejatinya, justru itu semua adalah kemunduran. Kita perlu kembali belajar, bagaimana nenek moyang hidup dengan memaknai arti kata cukup. Dan itu dapat dilakukan dengan menanam pohon secara langsung: dengan hati, tangan dan tenaga kita, bukan dengan mesin.
Investasi Spiritual untuk Generasi Masa Depan
Satu hal yang juga menjadi poin penting dari penanaman pohon yang saya ikuti adalah bahwa menanam berkaitan erat dengan kerja spiritual. Kita merawat alam bukan semata demi bumi, tetapi juga karena perintah Ilahi. Dalam hal ini, ajaran Alkitab, Al-Quran—dan semua kitab suci, punya narasi yang sama: menjaga alam dan jangan merusak.
Marshall Sahlins dalam buku “The New Science of the Enchanted Universe” menegaskan satu karakter masyarakat adat yang sama di seluruh dunia, yaitu keyakinan bahwa manusia itu terbatas (human finitude). Ajaran ini melahirkan kerendahhatian masyarakat adat dalam mengelola alam. Mereka hanya mengambil secukupnya.
Dengan menyadari keterbatasan, kita lebih hati-hati dalam berinteraksi dengan alam. Sebab tenaga manusia terbatas, perut kita juga terbatas. Untuk apa mengeruk bumi sampai ke dasar.
Selain itu, saya pun belajar bahwa menanam adalah proyeksi masa depan. Ada satu hadis Nabi Muhammad yang saya suka. Kata beliau: “Jika besok kiamat dan di tanganmu ada bibit pohon, maka tanamlah semampumu”. Hadis ini mempunyai pesan yang amat mendalam, bahwa gerak merawat alam itu upaya menjaga masa depan.
Boleh jadi kita tidak merasakan, tetapi ada generasi yang memanen hasilnya. Inilah yang penting. Dalam kehidupan sehari-hari, egoisme kita muncul dalam rupa: apa yang saya lakukan, harus saya nikmati hasilnya. Namun, dalam aktivitas penanaman, apa yang kita tanam, mungkin tidak langsung kita rasakan, tetapi akan berdampak bagi generasi berikutnya.
Dengan logika yang serupa, aktivitas perusakan alam yang dilakukan masif hari ini, mungkin memberi dampak ekonomi besar bagi kita, tetapi dampak kehancurannya akan diwariskan pada generasi mendatang.
Karenanya, menanam adalah investasi kebaikan dan itu harus dimulai dari diri sendiri dan menjadi gerakan bersama. Persis seperti apa yang kami lakukan melalui Plant the Peace. Inisiatif dan kolektif adalah dua kata kunci yang perlu dilakukan untuk menata alam ini.
Inisiatif dan Kerja Kolektif Merawat Alam
Bayangkan, ketika tidak satu pun individu yang membuang sampah—meski secuil atau menebang pohon—walau sebatang merasa bertanggung jawab atas masalah tersebut, hingga semuanya sudah terlambat: sampah menumpuk, hutan habis ditebang, pada titik itu, semua manusia bertanggung jawab. Bahkan yang sudah tahu kekeliruan tetapi tidak mengambil langkah nyata atau yang memilih diam pun bertanggung jawab atas kerusakan itu.
Tentu kita tidak berharap kerusakan itu terjadi kian masif. Di sinilah manusia perlu berbenah. Kita harus belajar dari sejarah. Ketika dahulu Tuhan menciptakan Adam, malaikat melayangkan protes: “mengapa engkau menciptakan makhluk yang akan merusak bumi lagi?”, lantas Tuhan jawab: “Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.
Di tengah kerusakan, selalu ada manusia yang menyeru perbaikan. Kita punya hati nurani yang menuntun pada arah kebaikan. Dan karenanya, sebobrok apa pun kondisi dunia hari ini, kita masih punya secercah harapan, dan itu tumbuh dari IKN.




Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!