Membaca “Orang-orang Proyek” Ahmad Tohari

Belakangan ini, ruang-ruang diskusi dan obrolan saya kerap diisi oleh kecemasan kawan-kawan sebaya yang gagap beradaptasi di lingkungan kerja. Di satu sisi, mereka datang membawa gairah dan idealisme yang menyala. Namun di sisi lain, tatanan realitas pekerjaan menyambut mereka dengan kebiasaan potong kompas, patronase “orang dalam”, dan tekanan struktur yang menuntut kompromi etis secara masif.

Gelisah tersebut menyeret ingatan saya pada sosok Kabul dalam novel Orang-orang Proyek karya Ahmad Tohari. Bagi Tohari, “orang-orang proyek” bukan sekadar mereka yang bergelut dengan semen dan besi, melainkan sebuah metafora atas wujud manusia yang terperangkap dalam watak primitif: keserakahan.

Namun perlu ditekankan, kritik Tohari ditujukan spesifik kepada para pemegang proyek, bos, dan mandor yang memimpin. Bagi para buruh kasar, tak ada ruang untuk keserakahan sebab upah yang diterima pun sekadar pas-pasan. Di sinilah ketimpangan sosial terpampang nyata; mereka yang memeras tenaga fisik paling besar justru mendapat imbalan paling sedikit dibanding mereka yang duduk manis di balik meja.

Menyoal Proyek Kegiatan

Novel ini membawa kita melihat kenyataan bahwa di negara ini, kita sering kali berlindung di balik kata “program” kerja yang sebenarnya tak lebih dari proyek bancakan. Kata “proyek” membawa konotasi yang khas: sebuah kegiatan resmi yang sengaja direkayasa agar menciptakan celah bagi jalan pintas menuju kekayaan akumulatif pribadi.

Jika dalam novel itu yang disoroti adalah proyek membangun jembatan, maka saat ini kita pun dihadapkan dengan proyek Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Baik proyek jembatan maupun MBG dan KDMP, semua hakikatnya hanya untuk memperkaya kelompok tertentu saja. Itu baru proyek yang besar.

Dari pusat hingga daerah, tak terhitung proyek-proyek yang dilakukan untuk memperkaya diri sendiri. Semua berkedok demi kemaslahatan umat. Memperbaiki jalan, membangun rumah ibadah, membuka sekolah, dan sebagainya, sering kali diselewengkan menjadi proyek keuntungan semata.

Idealisme vs Pragmatisme

Di tengah lingkungan kerja yang berorientasi proyek semacam ini, orang-orang idealis kerap dipandang sebagai makhluk aneh, lucu, bahkan bloon. Pragmatisme telah mengakar, hingga siapa pun yang mencoba bersuara jujur dianggap asing.

Logika ini terwakili lewat celotehan Dalkijo dalam novel tersebut: “Jadi, Dik Kabul, bagi saya hanya sikap pragmatis yang bisa menghentikan sejarah panjang kemiskinan saya.” Pernyataan ini menjadi tameng pembenaran mayoritas orang untuk melegitimasi ketakutan akan kemelaratan. Seolah-olah, satu-satunya cara keluar dari penderitaan finansial adalah dengan melebur ke dalam arus keserakahan kolektif.

Namun, keserakahan yang dibungkus nama pragmatisme tersebut sejatinya tidak pernah memiliki titik henti alami. Tohari menggambarkan kerakusan manusia melalui perumpamaan rayap: rayap baru akan berhenti menggerogoti kayu bila kayunya sudah habis, atau bila mereka disiram racun antiserangga. Memilih ikut edan demi mengusir kemelaratan hanya akan menjebak kita pada lingkaran setan yang tak berakhir.

Menghadapi arus utama itu, falsafah hidup Kabul menjadi sangat relevan. Baginya, kemiskinan memang musuh yang harus dihancurkan, tetapi tidak boleh didasari oleh dendam pribadi yang berujung pada kompromi egoistis. Kemiskinan berkaitan erat dengan problem struktural dan kultural. Mengentasnya membutuhkan solidaritas, semangat setia kawan yang tinggi, serta rasa tanggung jawab sosial, bukan sikap melompati etika demi menyelamatkan diri sendiri.

Lantas, apakah kejujuran yang sering dituntut untuk dibuktikan melalui kesahajaan sama dengan mempertahankan kemelaratan? Mengasumsikan bahwa orang jujur pasti hancur dan bahwa untuk sukses seseorang harus pintar menjilat, bermuka dua, serta berbohong, adalah kerangka berpikir yang keliru.

Kesederhanaan adalah kekayaan luar biasa yang sering kali bersanding dengan kejujuran. Mereka yang memilih jalan bersahaja amat kaya akan “rasa kaya”. Sebuah kondisi batin yang bebas dari cemas, kemelekatan benda, dan kebangkrutan moral.

Narasi Tohari kemudian menyodorkan benteng pertahanan terakhir yang bersumber dari akar nilai paling mendasar: kesederhanaan yang profetik. Ada petuah menyentuh tentang bagaimana sosok ibu (biyung) membesarkan anaknya:

“Kamu harus bangga punya biyung perempuan sejati dan perkasa. Biyungmu memasukkan ke perutmu makanan surgawi, meskipun ujudnya gembus dan oyek. Surgawi, karena makanan itu adalah hasil keringat biyung sendiri. Dengan makanan yang sebaik itu jiwa dan hatimu bisa tetap cablaka: jujur, sederhana, apa adanya.”

Integritas di tempat kerja tidak dibentuk oleh besarnya insentif atau posisi dalam struktur, melainkan dari keberanian menjaga kemurnian prinsip. Makanan dan rezeki yang didapat dari kejujuran, meski sederhana, itulah yang menjaga jiwa tetap cablaka: jujur, independen, dan tidak mudah tunduk pada hegemoni kompromi.

Menjaga Nilai di Pusaran Kekuasaan

Fenomena hari ini justru memperlihatkan ironi yang lebih merisaukan: betapa banyaknya mantan aktivis—yang dulu berteriak lantang membela rakyat—kini justru dengan mudah menggadaikan idealismenya ketika masuk ke dalam pusaran kekuasaan dan birokrasi.

Alih-alih mewarnai sistem, mereka malah diwarnai dan meluruh ke dalam cara kerja lama yang bobrok. Syahwat kekuasaan dan kenyamanan fasilitas perlahan mengikis keberanian moral yang pernah mereka banggakan dalam teriakan orasi yang dikumandangkan.

Padahal, seorang idealis tidak harus mengisolasi diri dari realitas. Kita tetap perlu bekerja, mengisi jabatan profesional, dan mengambil ruang-ruang politik strategis. Kekuasaan dan instrumen pekerjaan adalah alat yang sah untuk melakukan perubahan berdampak luas. Namun, kuncinya terletak pada komitmen untuk tetap menjaga semangat dan nilai yang dijunjung tinggi.

Caranya adalah dengan melatih diri untuk tetap hidup sederhana. Kesederhanaan hidup adalah jangkar utama agar seseorang tidak mudah disogok, tidak gampang diancam, dan tidak bergantung pada kemewahan jabatan. Ketika standar hidup kita tidak digantungkan pada fasilitas kekuasaan, kita tidak akan takut kehilangan posisi demi mempertahankan integritas.

Namun, jika pada akhirnya lingkungan kerja atau ruang politik tempat kita berada sudah sedemikian bobrok, membusuk dari dalam, dan tidak lagi bisa diubah meski berbagai upaya telah dilakukan, maka keberanian tertinggi seorang idealis bukanlah bertahan sambil berkompromi, melainkan berani melangkah keluar. Angkat kaki dari ruang yang kotor dan konsisten bersuara lantang sebagai oposisi di luar adalah cara elegan untuk menjaga kewarasan akal publik tidak rusak dimakan rayap.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses