Pos

Cerita Lain dari Desa

Desa sering kali dibayangkan sebagai ruang yang tenang: hamparan hijau yang membentang, udara pagi yang segar, dan warga yang hidup rukun saling membantu. Namun, jika mau melihat lebih dekat, gambaran itu sebenarnya sudah lama berubah. Ada cerita lain dari desa hari ini. Kriminalitas, pembunuhan, perampokan, dan kejahatan lainnya tak lagi menjadi potret khas orang kota.

Pergeseran ini sebenarnya bukan cerita baru. Ahmad Tohari, melalui novelnya Di Kaki Bukit Cibalak, sudah merekam gejalanya sejak puluhan tahun lalu. Berlatar di Desa Tanggir, Tohari memperlihatkan bagaimana sebuah desa perlahan kehilangan karakternya.

Ketika Bising dan Tambang Menggusur Desa

Perubahan pertama terlihat jelas pada lingkungannya. Di Tanggir, kicau burung dan riak sungai yang dulu menjadi latar bunyi sehari-hari perlahan tergantikan oleh raung sepeda motor, deru mobil, suara kaset atau radio, hingga dentum mesin diesel penggerak gilingan padi.

Alam yang tadinya menjadi ruang hidup yang tenang kini dipaksa beradaptasi dengan kebisingan mesin. Warga desa yang dulunya bergerak mengikuti ritme alam mulai terbiasa dengan ritme baru yang serba cepat dan mekanis.

Apa yang terjadi di Tanggir itu, saya rasakan, bahkan lebih memilukan. Kalau di Tanggir kicauan burung berganti raungan motor, banyak desa di Kalimantan yang berubah menjadi lubang galian tambang. Asri pepohonan nan hijau disulap menjadi hamparan industri pertambangan dan perkebunan.

Sebagian orang mendukung industri tersebut, sebab mendatangkan roda perputaran ekonomi untuk warga sekitar. Memang, tidak dimungkiri, perekonomian bertumbuh. Namun, pertumbuhan itu tidak sebanding dengan kerusakan yang dihasilkan dari industri ekstraktif.

Individualisme, Korupsi, dan Leburnya Tradisi

Ketika banyak orang desa yang tiba-tiba menjadi miliarder dadakan setelah menjual lahannya, kultur kehidupan desa pun menjadi berubah. Orang desa yang biasa hidup sederhana berubah penampilannya menjadi mewah. Potret ini turut mengubah cara berpikir masyarakatnya. Ini menjadi poin kedua yang disorot Tohari: tumbuhnya sikap individualis. Tradisi gotong royong dan rasa kebersamaan mulai tergerus oleh kepentingan masing-masing.

Hal ini terlihat dari nasib koperasi desa. Dalam novel Tohari, diceritakan betapa koperasi yang punya tujuan untuk kepentingan bersama, justru sulit berkembang. Sebab mereka yang mengelola koperasi itu adalah orang-orang yang bobrok. Sebagus apapun tujuan koperasi, selama dikelola oleh mental korup, tak akan membawa kemaslahatan bagi anggotanya.

Ironinya, kehidupan desa yang selama ini digambarkan dengan kebersamaannya mulai bubrah dengan praktik korupsi dan nepotisme. Orang-orang yang kerja di kantor desa atau koperasi desa, adalah orang terdekat kepala desa. Meski mereka tidak kompeten sama sekali. Nepotisme membuat meritokrasi hanyalah impian indah di siang bolong.

Pilihan Pambudi: Menolak Tunduk pada Kepalsuan

Di tengah situasi tersebut, karakter Pambudi hadir menawarkan ketegangan moral yang sederhana nan tegas. Pambudi sadar ia tidak punya kekuatan besar untuk mengubah sistem. Namun, ia memilih untuk tidak ikut-ikutan culas.

“Memang aku tidak mampu memaksakan agar kebenaran selalu menang. Namun dengan sengaja tunduk kepada kepalsuan sungguh memalukan,” tegas Pambudi.

Bagi Pambudi, kejujuran bukanlah standar yang muluk-muluk, melainkan hal wajar yang sudah sepatutnya dihormati oleh siapa saja. Sikap Pambudi ini perlu menjadi refleksi kita di tengah kondisi kebangsaan hari ini. Kita sering kali dihadapkan dengan logika: daripada dibodohi, lebih baik membodohi. Intinya, jangan jadi korban, tapi jadilah pelaku, bersama gerombolan mayoritas. Kalaupun itu salah, banyak yang melakukannya pula. Mentalitas ini amat merisaukan.

Sekiranya sistemnya sudah bobrok, tidak perlu masuk dengan angan-angan mengubah dari dalam. Salah langkah, justru kita yang berubah mengikuti arus pragmatisme. Pambudi bukan hanya menolak tunduk pada lingkungan kerja yang korup, bahkan ia hijrah dari desa yang bobrok itu. Ia keluar, bukan melarikan diri, tetapi mencari lingkungan yang menerimanya untuk bertumbuh.

Membaca novel-novel Ahmad Tohari, mengantarkan kita pada satu gambaran bahwa batas antara kota dan desa makin tidak jelas. Ada fenomena menarik: saat desa berlomba-lomba membangun fisik agar terlihat modern seperti kota, masyarakat kota justru sibuk menciptakan ruang-ruang hijau buatan untuk menghadirkan kembali nuansa desa yang sudah mereka hilangkan.

Kondisi ini makin dipercepat oleh kehadiran teknologi informasi. Lewat layar ponsel, budaya desa dan kota kini makin seragam. Banyak desa wisata yang disulap memiliki penginapan mewah untuk memanjakan orang kota. Alhasil, cara pandang, gaya hidup, hingga definisi soal kesuksesan yang dianut warga desa kini relatif sama dengan warga kota. Arus informasi yang begitu cepat membuat nilai-nilai baru masuk tanpa sempat disaring oleh kearifan lokal yang ada.

Akhirnya, perubahan memang sulit dihindari. Namun, kita perlu merenungkan kembali apakah menjadi modern harus selalu berarti meninggalkan akar dan kejujuran. Seperti yang diyakini Pambudi, menolak tunduk pada kepalsuan adalah langkah sederhana untuk menjaga kewarasan diri.

Membaca “Orang-orang Proyek” Ahmad Tohari

Belakangan ini, ruang-ruang diskusi dan obrolan saya kerap diisi oleh kecemasan kawan-kawan sebaya yang gagap beradaptasi di lingkungan kerja. Di satu sisi, mereka datang membawa gairah dan idealisme yang menyala. Namun di sisi lain, tatanan realitas pekerjaan menyambut mereka dengan kebiasaan potong kompas, patronase “orang dalam”, dan tekanan struktur yang menuntut kompromi etis secara masif.

Gelisah tersebut menyeret ingatan saya pada sosok Kabul dalam novel Orang-orang Proyek karya Ahmad Tohari. Bagi Tohari, “orang-orang proyek” bukan sekadar mereka yang bergelut dengan semen dan besi, melainkan sebuah metafora atas wujud manusia yang terperangkap dalam watak primitif: keserakahan.

Namun perlu ditekankan, kritik Tohari ditujukan spesifik kepada para pemegang proyek, bos, dan mandor yang memimpin. Bagi para buruh kasar, tak ada ruang untuk keserakahan sebab upah yang diterima pun sekadar pas-pasan. Di sinilah ketimpangan sosial terpampang nyata; mereka yang memeras tenaga fisik paling besar justru mendapat imbalan paling sedikit dibanding mereka yang duduk manis di balik meja.

Menyoal Proyek Kegiatan

Novel ini membawa kita melihat kenyataan bahwa di negara ini, kita sering kali berlindung di balik kata “program” kerja yang sebenarnya tak lebih dari proyek bancakan. Kata “proyek” membawa konotasi yang khas: sebuah kegiatan resmi yang sengaja direkayasa agar menciptakan celah bagi jalan pintas menuju kekayaan akumulatif pribadi.

Jika dalam novel itu yang disoroti adalah proyek membangun jembatan, maka saat ini kita pun dihadapkan dengan proyek Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Baik proyek jembatan maupun MBG dan KDMP, semua hakikatnya hanya untuk memperkaya kelompok tertentu saja. Itu baru proyek yang besar.

Dari pusat hingga daerah, tak terhitung proyek-proyek yang dilakukan untuk memperkaya diri sendiri. Semua berkedok demi kemaslahatan umat. Memperbaiki jalan, membangun rumah ibadah, membuka sekolah, dan sebagainya, sering kali diselewengkan menjadi proyek keuntungan semata.

Idealisme vs Pragmatisme

Di tengah lingkungan kerja yang berorientasi proyek semacam ini, orang-orang idealis kerap dipandang sebagai makhluk aneh, lucu, bahkan bloon. Pragmatisme telah mengakar, hingga siapa pun yang mencoba bersuara jujur dianggap asing.

Logika ini terwakili lewat celotehan Dalkijo dalam novel tersebut: “Jadi, Dik Kabul, bagi saya hanya sikap pragmatis yang bisa menghentikan sejarah panjang kemiskinan saya.” Pernyataan ini menjadi tameng pembenaran mayoritas orang untuk melegitimasi ketakutan akan kemelaratan. Seolah-olah, satu-satunya cara keluar dari penderitaan finansial adalah dengan melebur ke dalam arus keserakahan kolektif.

Namun, keserakahan yang dibungkus nama pragmatisme tersebut sejatinya tidak pernah memiliki titik henti alami. Tohari menggambarkan kerakusan manusia melalui perumpamaan rayap: rayap baru akan berhenti menggerogoti kayu bila kayunya sudah habis, atau bila mereka disiram racun antiserangga. Memilih ikut edan demi mengusir kemelaratan hanya akan menjebak kita pada lingkaran setan yang tak berakhir.

Menghadapi arus utama itu, falsafah hidup Kabul menjadi sangat relevan. Baginya, kemiskinan memang musuh yang harus dihancurkan, tetapi tidak boleh didasari oleh dendam pribadi yang berujung pada kompromi egoistis. Kemiskinan berkaitan erat dengan problem struktural dan kultural. Mengentasnya membutuhkan solidaritas, semangat setia kawan yang tinggi, serta rasa tanggung jawab sosial, bukan sikap melompati etika demi menyelamatkan diri sendiri.

Lantas, apakah kejujuran yang sering dituntut untuk dibuktikan melalui kesahajaan sama dengan mempertahankan kemelaratan? Mengasumsikan bahwa orang jujur pasti hancur dan bahwa untuk sukses seseorang harus pintar menjilat, bermuka dua, serta berbohong, adalah kerangka berpikir yang keliru.

Kesederhanaan adalah kekayaan luar biasa yang sering kali bersanding dengan kejujuran. Mereka yang memilih jalan bersahaja amat kaya akan “rasa kaya”. Sebuah kondisi batin yang bebas dari cemas, kemelekatan benda, dan kebangkrutan moral.

Narasi Tohari kemudian menyodorkan benteng pertahanan terakhir yang bersumber dari akar nilai paling mendasar: kesederhanaan yang profetik. Ada petuah menyentuh tentang bagaimana sosok ibu (biyung) membesarkan anaknya:

“Kamu harus bangga punya biyung perempuan sejati dan perkasa. Biyungmu memasukkan ke perutmu makanan surgawi, meskipun ujudnya gembus dan oyek. Surgawi, karena makanan itu adalah hasil keringat biyung sendiri. Dengan makanan yang sebaik itu jiwa dan hatimu bisa tetap cablaka: jujur, sederhana, apa adanya.”

Integritas di tempat kerja tidak dibentuk oleh besarnya insentif atau posisi dalam struktur, melainkan dari keberanian menjaga kemurnian prinsip. Makanan dan rezeki yang didapat dari kejujuran, meski sederhana, itulah yang menjaga jiwa tetap cablaka: jujur, independen, dan tidak mudah tunduk pada hegemoni kompromi.

Menjaga Nilai di Pusaran Kekuasaan

Fenomena hari ini justru memperlihatkan ironi yang lebih merisaukan: betapa banyaknya mantan aktivis—yang dulu berteriak lantang membela rakyat—kini justru dengan mudah menggadaikan idealismenya ketika masuk ke dalam pusaran kekuasaan dan birokrasi.

Alih-alih mewarnai sistem, mereka malah diwarnai dan meluruh ke dalam cara kerja lama yang bobrok. Syahwat kekuasaan dan kenyamanan fasilitas perlahan mengikis keberanian moral yang pernah mereka banggakan dalam teriakan orasi yang dikumandangkan.

Padahal, seorang idealis tidak harus mengisolasi diri dari realitas. Kita tetap perlu bekerja, mengisi jabatan profesional, dan mengambil ruang-ruang politik strategis. Kekuasaan dan instrumen pekerjaan adalah alat yang sah untuk melakukan perubahan berdampak luas. Namun, kuncinya terletak pada komitmen untuk tetap menjaga semangat dan nilai yang dijunjung tinggi.

Caranya adalah dengan melatih diri untuk tetap hidup sederhana. Kesederhanaan hidup adalah jangkar utama agar seseorang tidak mudah disogok, tidak gampang diancam, dan tidak bergantung pada kemewahan jabatan. Ketika standar hidup kita tidak digantungkan pada fasilitas kekuasaan, kita tidak akan takut kehilangan posisi demi mempertahankan integritas.

Namun, jika pada akhirnya lingkungan kerja atau ruang politik tempat kita berada sudah sedemikian bobrok, membusuk dari dalam, dan tidak lagi bisa diubah meski berbagai upaya telah dilakukan, maka keberanian tertinggi seorang idealis bukanlah bertahan sambil berkompromi, melainkan berani melangkah keluar. Angkat kaki dari ruang yang kotor dan konsisten bersuara lantang sebagai oposisi di luar adalah cara elegan untuk menjaga kewarasan akal publik tidak rusak dimakan rayap.

Dari Firdaus ke Pabrik: Representasi Women’s Agency dan Realitas Buruh Perempuan Masa Kini

Membaca Firdaus, Membaca Diri Kita

Novel Women at Point Zero karya Nawal El Saadawi adalah salah satu karya sastra feminis paling kuat yang pernah ditulis. Bukan hanya karena Nawal El Saadawi menulisnya dengan keberanian yang jarang dimiliki penulis perempuan pada masanya, tetapi juga karena novel ini adalah representasi kenyataan pahit bagi perempuan–dulu maupun sekarang, di era mana pun, sering dipaksa berjuang untuk hak paling mendasar–mengatur hidupnya sendiri.

Mengambil latar di Mesir, dan ditulis pada tahun 1973. Novel ini menceritakan kisah perempuan Mesir bernama Firdaus yang mengalami eksploitasi, kekerasan, dan pengkhianatan oleh sistem patriarki.[1] Namun, di balik semua itu, Firdaus menghadirkan sesuatu yang jarang kita temukan dalam narasi perempuan korban: agency–kesadaran diri untuk memilih, meskipun pilihan itu datang dengan konsekuensi yang tragis. Firdaus menolak menjadi objek pasif, bahkan ketika dunia menuntutnya begitu. Ia memilih untuk tidak patuh terhadap norma yang mengekangnya, dan melalui itu ia memperlihatkan betapa pentingnya ruang bagi perempuan untuk mendefinisikan hidupnya sendiri.

Agency dalam Ruang yang Terbatas: Membaca dengan Simone de Beauvoir

Simone de Beauvoir dalam The Second Sex (1949) menyebut perempuan sering ditempatkan sebagai “the Other”–posisi yang selalu bergantung pada laki-laki. Firdaus jelas adalah representasi dari “yang lain” ini: tubuh dan kebebasannya dianggap milik orang lain.

Dalam perspektif feminisme, agency ini bisa dibaca melalui lensa feminisme eksistensialis, ketika perempuan bukan sekadar memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan, tetapi juga melakukan sebuah perlawanan terhadap struktur yang menindas.[2] Firdaus, misalnya, memilih jalan prostitusi bukan karena ia menyerah, melainkan karena itu memberinya kuasa atas tubuhnya sendiri.

Ironisnya, titik kala ia merasa memiliki kendali justru muncul ketika ia menjalani profesi yang di mata masyarakat dianggap “hina” tetapi justru memberinya otonomi finansial, ruang memilih, bahkan menentukan harga. Bagi Firdaus, ini lebih membebaskan dibanding pernikahan yang mengurungnya.

Inilah yang sering disalahpahami orang: agency tidak selalu berarti bebas sepenuhnya dari sistem penindasan. Kadang ia hadir dalam bentuk pilihan yang terbatas, memilih jalan yang mungkin buruk, tetapi tetap yang paling memungkinkan untuk bertahan hidup. Dalam feminisme, ini disebut situated agency: kemampuan bertindak di dalam batas-batas yang ada.[3]

Puncak perlawanan Firdaus terjadi ketika ia menolak kembali diperas dan dikontrol oleh laki-laki yang mengaku “melindunginya”. Keputusannya membunuh seorang germo bukan sekadar kemarahan, tetapi deklarasi bahwa tubuh dan hidupnya bukan milik siapa pun.

Relevansi dengan Kondisi Perempuan Masa Kini

Membaca Firdaus berarti membaca kondisi perempuan hari ini. Meski terdapat perbedaan konteks sosial, struktur penindasan yang dialami perempuan masa kini tidak jauh berbeda: diskriminasi, upah rendah, kekerasan berbasis gender, hingga keterbatasan akses untuk menentukan jalan hidup.

Banyak perempuan di Indonesia yang terjebak dalam pekerjaan rentan dari buruh migran sampai pekerja informal karena kurangnya akses pendidikan dan kesempatan kerja layak. Jika Firdaus menemukan ruang kebebasannya dalam prostitusi, yang meskipun penuh paradoks–maka banyak perempuan masa kini menemukan agency mereka di ruang kerja yang juga penuh keterbatasan, misalnya pabrik.

Buruh pabrik, perempuan terutama, menghadapi tekanan struktural: upah rendah, jam kerja panjang, aturan perusahaan yang ketat, bahkan ancaman PHK ketika bersuara.[4] Pada permukaan, mereka tampak sebagai korban eksploitasi kapitalisme dan patriarki sekaligus.

Melalui Survei Kelayakan Kerja 2023 oleh Program Makin Terang bersama beberapa Serikat Buruh di 100 pabrik Tekstil, Garmen, Sepatu, dan Alas Kaki (TGSL) di 5 wilayah: DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta yang melibatkan 3.065 responden. Hasilnya, 27 dari 2.951 responden menyatakan bahwa pabrik tidak memberlakukan upah yang setara antara pekerja perempuan dan laki-laki pada jenis pekerjaan yang sama.[5]

Jika dilihat lebih dekat, para buruh perempuan tidak benar-benar pasif. Sama seperti Firdaus, mereka menggunakan celah-celah kecil untuk bertahan dan mengontrol hidup mereka. Ada yang mengatur strategi menabung dari gaji minim untuk menyekolahkan anak, ada yang bergabung dalam serikat pekerja meski tahu risikonya, ada pula yang diam-diam melakukan perlawanan simbolik, misalnya memperlambat ritme kerja ketika beban terlalu berat.

Inilah yang disebut Saba Mahmood sebagai situated agency, yaitu daya bertindak yang lahir di tengah keterbatasan, bukan kebebasan penuh. Buruh perempuan itu mungkin tidak bisa mengubah sistem upah, tapi mereka bisa memilih bagaimana mengelola penghasilan kecilnya. Mereka mungkin tidak bisa melawan manajemen secara frontal, tapi mereka bisa membangun solidaritas dengan rekan-rekan kerja.

Di sinilah feminisme menjadi relevan karena mengingatkan kita bahwa agency perempuan tidak bisa dilepaskan dari struktur yang mengitarinya. Buruh harian lepas mungkin berdaya di ruang tertentu, tetapi tetap terikat pada sistem ekonomi-politik yang tidak adil. Sama seperti Firdaus yang bisa mengklaim tubuhnya, tetapi tetap hidup dalam kerangka patriarki yang lebih besar. Keduanya menunjukkan bahwa agency perempuan bukan hanya soal melawan sistem secara total, tapi juga soal kemampuan “mengakali” struktur yang menindas, agar mereka tetap bisa hidup dengan martabat.

Lebih jauh, pengalaman buruh pabrik juga memperlihatkan bagaimana patriarki dan kapitalisme sering bergandengan tangan dalam mengeksploitasi perempuan. Dalam hal ini, feminisme Marxis bisa membantu membaca bagaimana perempuan dijadikan tenaga kerja murah karena posisinya yang dianggap “tambahan” dalam ekonomi keluarga.[6] Padahal, dari beberapa penelitian, kita tahu justru upah buruh perempuan sering menjadi penopang utama ekonomi keluarga.

Feminisme memberi kita lensa untuk memahami bahwa perubahan tidak cukup datang dari keberanian individu saja, tetapi harus ada transformasi struktural: kebijakan ketenagakerjaan yang lebih adil, pengakuan kerja domestik, perlindungan sosial yang memadai, dan perubahan budaya yang menghargai perempuan sebagai subjek penuh, bukan sekadar pelengkap.

Dari Firdaus ke Buruh Harian Lepas

Novel Women at Point Zero menutup kisahnya dengan kematian Firdaus. Namun, pesan yang ditinggalkan tidak pernah mati: agency perempuan adalah hak, bukan pengecualian. Kisah Firdaus adalah peringatan bahwa ketika sistem menutup semua ruang bagi perempuan, maka perempuan akan mencari cara sendiri.

Novel ini relevan karena ia tidak menawarkan akhir bahagia, dan itulah realitas banyak perempuan. inilah yang seharusnya menjadi tugas kita bersama: memastikan bahwa agency perempuan tidak lagi hadir sebagai perlawanan tragis, tetapi sebagai bagian dari kehidupan yang adil, setara, dan manusiawi.

 

[1] Wilany, E. (2017). Feminism analysis in the novel “Woman at Point Zero”. ANGLO-SAXON: Jurnal Ilmiah Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, 8(1), 115-121.

[2] Butler, J. (1986). Sex and gender in Simone de Beauvoir’s Second Sex. Yale French Studies, (72), 35-49.

[3] Peter, F. (2003). Gender and the foundations of social choice: The role of situated agency. Feminist economics, 9(2-3), 13-32.

[4] Hasil wawancara dengan BHL

[5] Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan [Komnas Perempuan]. (2023, 18 September). Siaran pers: Komnas Perempuan tentang peringatan Hari Kesetaraan Upah Internasional: “Negara harus menjamin penghapusan eksploitasi gender terkait upah di dunia kerja” [Siaran pers]. Diakses dari https://komnasperempuan.go.id/siaran-pers-detail/siaran-pers-komnas-perempuan-tentang-peringatan-hari-kesetaraan-upah-internasional

[6] Sulastri, A., & Rochmansyah, B. N. (2024). Eksploitasi Perempuan pada Puisi Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta Karya WS Rendra dengan Pendekatan Feminisme Marxis. Literature Research Journal, 2(1), 96-109.

Feminisme Arab dan Fiksi

Di dunia Arab, fiksi (baca: karya sastra) menjadi salah satu alat paling penting dalam menyuarakan perjuangan pada kesetaraan gender. Banyak penulis perempuan yang meluapkan ide-ide kesetaraan pada karya fiksi, seperti novel, cerita pendek dan puisi. Karya sastra telah membentuk semacam gerakan intelektual secara masif bagi perjuangan perempuan sejak mencuatnya modernisasi Arab pada abad ke-19. Melalui fiksi, para pejuang feminis dapat secara leluasa meluapkan emosi dengan menyematkan ide kesetaraan pada cerita-cerita yang mereka tulis.

Dalam sejarahnya, meningkatnya penulisan fiksi di dunia Arab dibantu oleh meningkatnya penerbitan surat kabar dan terbitan berkala seperti majalah. Terbitan berkala seperti Silsilah al-Fukahat (Beirut, 1884, Diwan al-Fukaha (Beirut, 1885), Ar-Rawi (Alexandria, 1888), Hadiqat al-Adab (Cairo, 1888), dan terbitan berkala yang lebih lama seperti Al-Hilal (Cairo, 1892), Al-Mashiq (Beirut, 1898), Ad-Diya (Cairo, 1898), dan Fatat el-Sharq (Cairo, 1906) adalah contoh pers yang mempopulerkan penerbitan cerita pendek dan panjang.

Meningkatnya popularitas pers berkala juga tercermin dalam peningkatan dan penerimaan penulisan dan pembaca fiksi. Meskipun, area dunia sastra masih didominasi oleh kaum elit terpelajar. Mengenai relevansi sastra dan gerakan feminis awal di dunia Arab, Asma Char (2019) mengatakan bahwa dalam sastra, lebih dari hal lainnya, perempuan Arab memiliki identitas dan suara yang dapat dikenali dengan karakter yang kuat. Sastra, baik puisi maupun prosa, adalah area utama yang menjadi fokus perjuangan feminis Arab awal.

Sebuah novel berjudul Zainab (1913) karya Muhammad Husein Haikal umunya dianggap sebagai novel modern pertama yang ditulis dalam bahasa Arab. Namun, anggapan ini bertentangan dengan fakta bahwa sebelum tahun 1913, perempuan Arab telah banyak menulis novel; seperti Sa’iba (1891) karya Alice Butrus al-Bustani, Husn al-Awaqib aw Ghadat al-Zahira (1899) dan Al-Malik Qurush (1906) karya Zaynab Fawwaz, Hasna Salunik karya Labiba (1904) Mikha’il Suya, Qalb Arshayn (1912) karya Farida Atiyya.

Husn al-Awaqib (1899) karya Zaynab Fawwaz, misalnya, menampilkan laki-laki dan perempuan sebagai sederajat. Dalam narasi ceritanya, novel ini menggambarkan bahwa para penjahat, laki-laki dan perempuan, menggunakan tindakan-tindakan ekstrem yang serupa, para protagonis juga digambarkan setara dalam hal kesetiaan, penderitaan, kebijaksanaan, dan kecerdasan.

Penggunaan sisi psikologis oleh penulis dalam menggambarkan penderitaan kedua jenis kelamin menggunakan visi kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, ini menunjukkan perbedaan bagaimana tulisan-tulisan tradisional (fiksi dan non fiksi) menggambarkan perempuan sebagai makhluk lemah dan laki-laki yang kuat.

Dalam novel ini diceritakan, tokoh protagonis bernama Fari’a menolak untuk dinikahkan secara paksa oleh Tamir, lalu ia pun kabur. Ketika dia akhirnya ditangkap oleh anak buah Tamir, Fari’a melakukan pemberontakan dan bertindak sangat menantang. Salah satu pria mengancam akan membungkamnya dengan pedang, tetapi Fari’a tetap tidak terpengaruh dan bertanya kepadanya, “Apakah kamu pikir aku takut mati, kamu bajingan?”. Bisa dikatakan, tingkah penolakan dan pemberontakan dalam bertindak atas kemauannya sendiri ini mencerminkan usaha Fari’a untuk mencapai kemandirian dan semangat baru keperempuanan (Char, 2019).

Dengan menggunakan kemampuan menulis fiksi untuk meningkatkan kesadaran tentang hak-hak perempuan dan menyerukan reformasi, terlihat bahwa feminis Arab awal pada akhir abad ke-19 telah menginspirasi feminis selanjutnya dan membuka jalan bagi perjuangan mereka.

Meskipun, era awal feminis Arab juga dihantui oleh kekuatan kolonialisme, terutama di Mesir, yang pejabat-pejabatnya menggambarkan perempuan Arab-Muslim sebagai kaum lemah dan terbelakang.

Ahmed (1992) mencatat bahwa contoh mencolok dari sikap ini dianut oleh Lord Cromer, yang menggunakan wacana feminis sebagai senjata kolonialisme saat menjabat sebagai konsulat jenderal Inggris di Mesir, pada saat yang sama ia menjadi anggota Pendiri Liga Laki-laki untuk Menentang Hak Pilih Perempuan di Inggris (founding member of the Men’s League for Opposing Women’s Suffrage back in England). Kendati di Inggris ketika itu sedang gencar-gencarnya terjadi gerakan emansipasi perempuan, banyak laki-laki yang berkuasa di Victoria merancang teori untuk menentang feminisme dan mengejek serta menolak ide-ide feminisme.

Secara keseluruhan, fiksi menjadi area intim bagaimana banyak perempuan Arab berlindung sekaligus menyuarakan secara lantang berbagai praktik ketidakadilan. Mereka semua telah membuktikan bahwa imajinasi memperlebar jalan bagi perjuangan kesetaraan gender. Hingga nantinya, terutama pasca tahun 1950, banyak sekali penulis Arab menjadikan karya sastra sebagai senjata yang sangat ampuh untuk melakukan perlawanan.

Karya sastra feminis Arab pada masa awal telah mendorong berbagai gerakan intelektual dan sosial bagi perjuangan perempuan. Lahirnya tokoh-tokoh penting yang telah menyuarakan perjuangan mereka di bidang sastra, seperti; Nizar Qabbani, Nawal al-Sa’dawi, Fatima Mernissi, Radwa ‘Ashour, Assea Djebar, dan lainnya bisa dilihat dalam spektrum ini. Mereka adalah para feminis Arab yang berkarya pada era 1950-an dan telah secara estafet membawa ide-ide perjuangan para pendahulunya melalui fiksi.

Meskipun fenomena sastra feminis lebih banyak dikaitkan dengan kelas menengah dan elit yang mencerminkan kesadaran perempuan elit pada kondisi-kondisi mereka, tetapi faktanya suara-suara dan perjuangan mereka di ranah fiksi telah membangkitkan kesadaran dan motivasi yang sangat luas bagi perempuan Arab secara keseluruhan.

Pada dekade-dekade selanjutnya, terutama pada era dekolonisasi (1950-an), hingga masa kontemporer, sastra feminis telah menjadi area perlawanan yang sangat signifikan bagi perjuangan perempuan, yang tidak hanya terjadi di dunia Arab, tetapi juga terjadi di seluruh dunia.