Cinta, Al-Quran dan Negeri Ini

Memang ada-ada saja tingkah manusia. Ada yang memperjuangkan kesejahteraan rakyat dengan merampas tanah rakyat. Ada yang memperjual belikan hukum dalam ruang penegakan keadilan. Ada yang mengabaikan nasib pendidik dalam meningkatkan pendidikan. Ada pula yang mempromosikan alkohol melalui Al-Qur’an. Pantas Gus Mus menyebut negeri ini dengan negeri ‘haha hihi’.

Mencintai negeri dan ekspresi cinta padanya boleh beragam. Mengapa harus dipaksakan sebatas mereka yang mendukung seluruh program prioritas pemerintah, sedang yang mengkritik dan mengontrol harus dilabeli dengan antek asing atau londo ireng.

Memang pengakuan cinta saja tidak cukup, cinta menuntut pembuktian dan perjuangan. Apalagi cinta kepada negeri. Tidak semua klaim mencintai harus langsung dipercayai, jika demikian tidak akan ada namanya cinta tertolak atau cinta bertepuk sebelah tangan. Negeri ini sangat mencintai warganya dengan limpahan hasil bumi yang tidak terkira.

Namun sering kali cinta itu terkhianati oleh keserakahan dan ego pribadi. Ibu pertiwi bertepuk sebelah tangan, atau terkadang terkena skandal perselingkuhan. Semua hasil kekayaan yang ibu berikan tidak terlihat dapat memberikan makanan dan pendidikan pada mereka yang terpinggirkan. Anak-anak ibu masih banyak yang kelaparan dan tidak mendapat pendidikan.

Mencintai Kalam Ilahi pun demikian. Tidak semua yang mengatas namakan Al-Qur’an benar-benar memperjuangkan kandungan pesan Tuhan. Mungkin ada yang sekadar pesanan pihak lain, atau keinginan pribadi. Secara lugas, Al-Qur’an menerangkan dalam QS. Al-Baqarah ayat 8-14 gambaran orang-orang yang perlu diwaspadai. Dalam dunia ini akan selalu ada orang-orang yang mengaku beriman tetapi tidak sungguh beriman.

Ada yang mengaku pejuang kemaslahatan, namun sungguh membawa kerusakan. Ada yang bermuka dua dan ada yang bersiasat, tampak baik namun ingin menjatuhkan. Mempromosikan alkohol dengan Al-Qur’an, mungkin ini sama halnya dengan gambaran yang diberikan Al-Qur’an dalam ayat tersebut, yaitu mereka yang menertawakan orang-orang mukmin ketika mereka sedang berada dalam kelompoknya.

Meskipun semua program pemerintah ditujukan untuk kemajuan negara dan kesejahteraan masyarakat, begitulah setiap narasi program dibangun, hal itu tidak menutup sebuah kritik. Tidak semua yang diniatkan baik pasti baik dalam implementasinya. Ambil contoh MBG. Ini merupakan program prioritas nasional yang tujuannya baik. Program ini dirancang tidak hanya untuk mengatasi satu permasalahan saja, tetapi banyak hal yang diharapkan dapat teratasi dengan adanya program tersebut.

MBG dirancang untuk mengatasi masalah stunting, menciptakan lapangan pekerjaan, perputaran ekonomi masyarakat, dan meningkatkan SDM yang terpelajar. Tentu hal itu semua baik, namun pada kenyataannya, program tersebut telah memakan korban keracunan sejumlah 40.759 orang yang tersebar dalam 36 provinsi. Petani dan peternak kecil juga tidak menikmati manfaat program ini.

Data ini bisa dicek ulang dan silakan mengeksplorasi implementasi program ini sebagai bentuk cinta kita pada ibu pertiwi. Sayangnya bagi pejabat, hal tersebut hanya angka yang 0,0001% dari jumlah total penerima manfaat, katanya. Pernyataan tersebut tentu tidak seharusnya terucap oleh pemerintah.

Pernyataan yang tidak menyiratkan adanya empati sama sekali. Meskipun angka 0,0001% bagi pemerintah itu benar, namun bagi keluarga, satu nyawa atau keselamatan anak mereka adalah 100% yang mereka jaga dan cintai.

Bukankah Al-Qur’an dan kitab-kitab suci lainnya mengajarkan bahwa nilai satu nyawa manusia sama berharganya dengan seluruh nyawa umat manusia. Siapa yang membunuh satu nyawa tanpa hak, maka ibarat telah membunuh seluruh manusia. Siapa yang menolong, merawat satu nyawa, sama dengan mereka menyelamatkan seluruh nyawa manusia.

Jika demikian, patutkah orang-orang yang mengkritik, menyuarakan masukan-masukan pada MBG dilabeli sebagai antek asing, tidak cinta pada masyarakat?

Sebagai orang yang mencintai kekasihnya, terkadang kerap kali menjumpai hal serupa. Niat sang kekasih tentu saja baik, namun pada praktiknya terkadang banyak kesalahan dan harus siap menerima kritikan dari pasangannya.

Misal si bapak telah memesankan tiket wisata keluarga, tentu hal ini ditujukan untuk kebaikan keluarga, namun masalahnya tiket itu dibeli dari hasil hutang. Kondisi keluarga sedang tidak baik-baik saja. Si ibu sedang ikut bekerja banting tulang untuk melunasi tanggungan hutang sebelumnya.

Si anak sedang membutuhkan buku atau guru belajar yang lebih baik untuk mendukungnya dalam menghadapi TKA. Keputusan bapak membeli tiket liburan keluarga untuk menghilangkan penat, untuk membahagiakan istri dan anaknya yang kelelahan, di sini bisa mengakibatkan hal buruk dan pertengkaran keluarga ketika sang ibu dan anak tahu tiket liburan itu hasil dari hutang sang ayah. Apakah si ibu tidak berhak marah? Apakah si anak tidak berhak menyuarakan pendapatnya?

Al-Qur’an dalam surat Ali ‘Imran ayat 159 mengajarkan bagaimana tips orang yang mencintai. Dalam ayat tersebut Allah mengajarkan kelembutan. Bahasa kasih sayang yang familier adalah kelembutan, bukan berarti menegasikan teguran sama sekali. Karena dalam ayat-ayat yang lain juga mengandung teguran sebagai bentuk kasih sayang. Namun atmosfer atau vibes yang dibangun haruslah terasa nuansa lembutnya.

Selain kelembutan, bahasa kasih juga akan tersampaikan dengan cara memaafkan, memintakan maaf dan juga musyawarah. Dalam konteks keluarga di atas yang hilang adalah musyawarah. Tidak ada ruang komunikasi dalam pengambilan keputusan tersebut. Asal menurut bapak baik, pasti itu baik.

Ayat tersebut juga mengajarkan untuk bertawakal. Artinya ketika kita sudah mengupayakan kelembutan, membangun hubungan yang harmonis, memaafkan, membuka ruang diskusi dengan orang-orang yang kita sayangi, tidak otomatis orang-orang tersebut akan memberikan respons yang kita harapkan.

Di sinilah pentingnya konsep tawakal agar kita tidak lelah dalam mencintai, dan bisa terus mengupayakan yang terbaik bagi orang-orang yang kita sayangi. Begitulah pesan yang saya dapatkan dari ayat tersebut. Mungkin ada pemaknaan dan penghayatan lain yang bisa dinikmati, karena Al-Qur’an adalah hidangan Allah yang beraneka ragam.

Sebagai pendaku orang yang mencintai, tentu tidak sepantasnya membalas kritikan orang yang dicintainya dengan makian, apalagi dengan tuduhan pengkhianatan. Pemerintah sebagai figur yang selalu mengaku mencintai rakyat, mengapa menyumpahi kekasihnya hanya karena rakyat mengutarakan pandangan yang berbeda. Jika demikian yang terjadi, benarkah pemerintah mencintai rakyat ini?

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses