Cerita Lain dari Desa

Desa sering kali dibayangkan sebagai ruang yang tenang: hamparan hijau yang membentang, udara pagi yang segar, dan warga yang hidup rukun saling membantu. Namun, jika mau melihat lebih dekat, gambaran itu sebenarnya sudah lama berubah. Ada cerita lain dari desa hari ini. Kriminalitas, pembunuhan, perampokan, dan kejahatan lainnya tak lagi menjadi potret khas orang kota.

Pergeseran ini sebenarnya bukan cerita baru. Ahmad Tohari, melalui novelnya Di Kaki Bukit Cibalak, sudah merekam gejalanya sejak puluhan tahun lalu. Berlatar di Desa Tanggir, Tohari memperlihatkan bagaimana sebuah desa perlahan kehilangan karakternya.

Ketika Bising dan Tambang Menggusur Desa

Perubahan pertama terlihat jelas pada lingkungannya. Di Tanggir, kicau burung dan riak sungai yang dulu menjadi latar bunyi sehari-hari perlahan tergantikan oleh raung sepeda motor, deru mobil, suara kaset atau radio, hingga dentum mesin diesel penggerak gilingan padi.

Alam yang tadinya menjadi ruang hidup yang tenang kini dipaksa beradaptasi dengan kebisingan mesin. Warga desa yang dulunya bergerak mengikuti ritme alam mulai terbiasa dengan ritme baru yang serba cepat dan mekanis.

Apa yang terjadi di Tanggir itu, saya rasakan, bahkan lebih memilukan. Kalau di Tanggir kicauan burung berganti raungan motor, banyak desa di Kalimantan yang berubah menjadi lubang galian tambang. Asri pepohonan nan hijau disulap menjadi hamparan industri pertambangan dan perkebunan.

Sebagian orang mendukung industri tersebut, sebab mendatangkan roda perputaran ekonomi untuk warga sekitar. Memang, tidak dimungkiri, perekonomian bertumbuh. Namun, pertumbuhan itu tidak sebanding dengan kerusakan yang dihasilkan dari industri ekstraktif.

Individualisme, Korupsi, dan Leburnya Tradisi

Ketika banyak orang desa yang tiba-tiba menjadi miliarder dadakan setelah menjual lahannya, kultur kehidupan desa pun menjadi berubah. Orang desa yang biasa hidup sederhana berubah penampilannya menjadi mewah. Potret ini turut mengubah cara berpikir masyarakatnya. Ini menjadi poin kedua yang disorot Tohari: tumbuhnya sikap individualis. Tradisi gotong royong dan rasa kebersamaan mulai tergerus oleh kepentingan masing-masing.

Hal ini terlihat dari nasib koperasi desa. Dalam novel Tohari, diceritakan betapa koperasi yang punya tujuan untuk kepentingan bersama, justru sulit berkembang. Sebab mereka yang mengelola koperasi itu adalah orang-orang yang bobrok. Sebagus apapun tujuan koperasi, selama dikelola oleh mental korup, tak akan membawa kemaslahatan bagi anggotanya.

Ironinya, kehidupan desa yang selama ini digambarkan dengan kebersamaannya mulai bubrah dengan praktik korupsi dan nepotisme. Orang-orang yang kerja di kantor desa atau koperasi desa, adalah orang terdekat kepala desa. Meski mereka tidak kompeten sama sekali. Nepotisme membuat meritokrasi hanyalah impian indah di siang bolong.

Pilihan Pambudi: Menolak Tunduk pada Kepalsuan

Di tengah situasi tersebut, karakter Pambudi hadir menawarkan ketegangan moral yang sederhana nan tegas. Pambudi sadar ia tidak punya kekuatan besar untuk mengubah sistem. Namun, ia memilih untuk tidak ikut-ikutan culas.

“Memang aku tidak mampu memaksakan agar kebenaran selalu menang. Namun dengan sengaja tunduk kepada kepalsuan sungguh memalukan,” tegas Pambudi.

Bagi Pambudi, kejujuran bukanlah standar yang muluk-muluk, melainkan hal wajar yang sudah sepatutnya dihormati oleh siapa saja. Sikap Pambudi ini perlu menjadi refleksi kita di tengah kondisi kebangsaan hari ini. Kita sering kali dihadapkan dengan logika: daripada dibodohi, lebih baik membodohi. Intinya, jangan jadi korban, tapi jadilah pelaku, bersama gerombolan mayoritas. Kalaupun itu salah, banyak yang melakukannya pula. Mentalitas ini amat merisaukan.

Sekiranya sistemnya sudah bobrok, tidak perlu masuk dengan angan-angan mengubah dari dalam. Salah langkah, justru kita yang berubah mengikuti arus pragmatisme. Pambudi bukan hanya menolak tunduk pada lingkungan kerja yang korup, bahkan ia hijrah dari desa yang bobrok itu. Ia keluar, bukan melarikan diri, tetapi mencari lingkungan yang menerimanya untuk bertumbuh.

Membaca novel-novel Ahmad Tohari, mengantarkan kita pada satu gambaran bahwa batas antara kota dan desa makin tidak jelas. Ada fenomena menarik: saat desa berlomba-lomba membangun fisik agar terlihat modern seperti kota, masyarakat kota justru sibuk menciptakan ruang-ruang hijau buatan untuk menghadirkan kembali nuansa desa yang sudah mereka hilangkan.

Kondisi ini makin dipercepat oleh kehadiran teknologi informasi. Lewat layar ponsel, budaya desa dan kota kini makin seragam. Banyak desa wisata yang disulap memiliki penginapan mewah untuk memanjakan orang kota. Alhasil, cara pandang, gaya hidup, hingga definisi soal kesuksesan yang dianut warga desa kini relatif sama dengan warga kota. Arus informasi yang begitu cepat membuat nilai-nilai baru masuk tanpa sempat disaring oleh kearifan lokal yang ada.

Akhirnya, perubahan memang sulit dihindari. Namun, kita perlu merenungkan kembali apakah menjadi modern harus selalu berarti meninggalkan akar dan kejujuran. Seperti yang diyakini Pambudi, menolak tunduk pada kepalsuan adalah langkah sederhana untuk menjaga kewarasan diri.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses