Catatan Perjalanan dan Ingatan untuk #merawattoleransi

Oleh Dwinda Nur Oceani

Membuka kembali catatan perjalanan dan pengalaman pada tahun 2017 lalu. Pulau Lembata, Kabupaten kecil di timur Indonesia, yang belum dijejaki banyak langkah. Saya mendapatkan penugasan untuk membuat profil beberapa perempuan muda di sana, salah satunya adalah Fita. Seorang perempuan muda berdaya dari dataran tinggi di Lembata, yaitu di desa Balurebong.  Saat itu ia berumur 23 tahun dan baru saja menyelesaikan strata 1 pendidikan Matematika di universitas swasta di Yogyakarta. Dari pusat kota Lewoleba ke desa Balurebong kurang lebih menempuh tiga jam perjalanan dengan medan yang berbatu dan berkelok. Desa tersebut berada di dataran tinggi sehingga jalurnya pun terjal dan hanya cukup untuk satu mobil. Dengan jarak kurang lebih 41 kilometer sebenarnya jika dengan jalur yang normal dapat ditempuh dengan waktu 1,5 jam saja.

Saya lanjutkan ya, setiba di desa ketika siang menjelang sore hari, Fita dan Mama (Ibu dari Fita) menyambut saya dengan begitu hangat. “sa panggil kamu Ina saja. Ina sudah makan kah?” ujar Mama (Ina adalah panggilan untuk anak perempuan) itu merupakan kata-kata pertama yang disampaikan Mama ke saya. Jadi, di desa Balurebong 100% penduduknya beragama Katolik. Ketika datang ke sana saya satu-satunya seorang muslim dan berjilbab pulak. Sehingga jelas “terlihat” berbeda, ya minoritas.

Untuk membangun kedekatan dengan Fita dan mempertimbangkan medan perjalanan yang tidak memungkinkan untuk pulang pergi, saya memutuskan untuk menginap satu malam. Kebetulan di desa tersebut belum ada aliran listrik dan saluran air yang mengalir di tiap-tiap rumah. Maka untuk mendapatkan air, warga desa harus turun bukit terlebih dahulu. Turun menuju sumber air dengan ember kosong dan pulang dengan menjunjung ember berisi air melalui  jalur yang menanjak. Hal tersebut pun banyak dibebankan kepada perempuan dari anak sampai dewasa. Sore hari para mama, anak-anak muda perempuan dan laki-laki namun terhitung sedikit untuk laki-laki, mereka hilir mudik mengambil air. Saya mengikuti trayek mereka naik dan turun, sekali jalan saja kurang lebih memakan waktu 20 menit.

Matahari pun mulai terbenam, berarti sudah memasuki waktu salat magrib. Saya pun juga sudah kembali ke rumah Fita setelah ikut mengambil air, lalu berkeliling desa untuk berjumpa kepala desa dan berteguran dengan warga di desa tersebut. “Ina salat magrib kah? Mandi sudah.” Teriak mama dari dapur, saya menyautinya dari dalam kamar “iya Mama.” Lalu Mama dengan suara yang tidak begitu keras memanggil adik Fita “tolong masak air biar hangat untuk ko pu kakak mandi dan wudu, sudah mau magrib.” Saya tersentak sejenak mendengarnya, mama yang mengingatkan saya untuk salat. Namun saya ada rasa tidak enak dan berat, sebab saya tahu bagaimana mereka berjuang untuk mendapatkan air. Setelah air masak, saya dipanggil untuk mandi, Fita pun bergegas ke kamar mandi membawakan pelita. Ketika malam hari, lampu yang menyala hanya di ruang tamu, dengan lampu tenaga surya. saya pun memilih untuk tidak mandi, hanya mengelap sebagian badan dan mengambil air wudu. Kenapa air dimasak terlebih dahulu? Karena ketika memasuki malam hari desa tersebut sangat dingin, tetapi ketika siang hari panasnya luar biasa.

Malam itu, tepat tiga bulan kepergian Bapak dari Fita yang meninggal karena sakit. Setiap malam pukul tujuh mama, Fita, dan kedua adiknya beribadah dan berdoa untuk Bapak. Mama pun mengajak saya untuk mendoakan bapak, kami duduk bersama di ruang tamu. Sebelum mulai, mama menyampaikan kepada saya jika berkenan untuk berdoa dengan cara yang saya yakini. Fita dan adik perempuannya memimpin doa di malam itu, rasanya tenang, sunyinya malam di desa Balurebong hanya terdengar suara jangkrik dan serangga lain yang saling bersautan diisi dengan suara doa dari Fita dan adik perempuannya yang membacakan beberapa penggal ayat dari Alkitab. Kami pun mengakhiri malam dengan makan malam dan berbagi cerita, menjelang pukul sembilan semua sudah bergegas untuk tidur.