Pos

Intolerasi dalam Narasi Keharaman Terkait Ikhbar Lebaran

Lebaran di Indonesia kembali berbeda. Jauh-jauh hari PP Muhammadiyah telah mengumumkan lebaran Idulfitri 1447 H jatuh pada hari Jumat, 20 Maret 2026. Sementara Kementerian Agama baru mengumumkan lebaran pada Kamis sore, 19 Maret 2026.

Setelah pengumuman pemerintah Kamis sore, sebagian besar masyarakat Jakarta dan Bekasi kembali kembali melaksanakan shalat tarawih pada malam harinya melanjutkan rutinitas hari terakhir Ramadan. Sebagian jamaah lain yang berasal dari akademisi di Jakarta dan Bekasi mengikuti lebaranya Muhammadiyah.

Mereka mulai menggelar takbir di pagi harinya dan melaksanakan ibadah Shalat Ied. Aktivitas pelaksanaan shalat Ied pada hari Jumat ini dapat terpantau di masjid-masjid di sekitaran UNJ (Universitas Negeri Jakarta), UIC (Universitas Ibnu Chaldun) Rawamangun, dan Universitas Islam Djakarta.

Tampak perbedaan rutinitas itu dihadapi secara biasa-biasa saja oleh masyarakat. Para pedagang di Jakarta dan Bekasi terpantau tetap berjualan, mulai dari makanan, pakaian, obat-obatan, dan alat kesehatan masih terpantau aktif. Sebagian pedagang di Rawamangun dan Cakung mengaku baru akan libur pada hari Sabtu, 21 Maret 2026, pada hari Pemerintah mengumumkan Idulfitri.

Lebaran versi masyarakat pun berlangsung selama dua hari. Bagi para pedagang buah-buahan, kue-kue kering, dan cake, perbedaan hari lebaran membawa keberkahan sendiri, mereka bisa berjualan sehari lebih panjang dari seharusnya. Perputaran ekonomi juga makin baik.

Hanya saja kegalauan atas perbedaan hari lebaran dirasakan oleh para pengurus masjid di Cakung dan Cilincing, karena terdapat konsekuensi keagamaan dan pelaksanaan peribadatan rutin Ramadan. Misalnya, sebelum pengumuman 1 Syawal oleh Pemerintah yang terhitung mepet, membuat ketar ketir sebagian pengurus masjid, apakah mereka akan melaksanakan ibadah tarawih atau langsung ke persiapan pelaksanaan ibadah Shalat Ied keesokan harinya bila pengumuman Pemerintah itu sama dengan jadwal lebarannya Muhammadiyah. Bagi masyarakat yang menggelar Shalat Ied di lapangan terbuka seperti di Lampung, maka pengumuman pemerintah yang mepet itu akan merepotkan mereka, andai pelaksanaan lebaran 12 Jam kemudian usai pengumuman.

Di media sosial, suasana perbedaan hari lebaran kembali ditanggapi dengan perang narasi, dalam aksi saling bully. Mereka yang berlebaran pada hari Sabtu mengejek mereka yang berlebaran hari Jumat, dengan narasi “anti ulil amri”, atau mereka yang membangkang terhadap keputusan Pemerintah tentang penentuan 1 Syawal. Apalagi paska pernyataan Cholil Nafis, Wakil Ketua MUI Pusat yang menyatakan “haram mendahului pengumuman pemerintah (soal penentuan 1 Syawal)”.

Narasi Keharaman Ikhbar awal Ramadhan dan Syawwal

Cholil Nafis mengaku pandangannya itu bukan tanpa dasar, rupanya ia merujuk Fatwa MUI Nomor 2 Tahun 2004, dan Muktamar NU ke-20 di Surabaya pada 8-13 September 1954 M/1347 H, yang melarang mendahului pengumuman pemerintah terkait penentuan awal Ramadan dan Syawal.

Frasa “haram” dalam pernyataan Cholil Nafis tersebut seketika memunculkan perdebatan hangat di media sosial, dan menguatkan narasi kubu yang memojokkan pengikut lebaran hari Jumat. Mari kita cek terlebih dahulu, apakah benar narasi hasil putusan kedua ormas tersebut terdapat frasa “mengharamkan”?

Fatwa MUI Nomor 2 Tahun 2004 tertulis dalam beberapa poin.

“Pertama, Penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah dilakukan berdasarkan metode ru’yah dan hisab oleh Pemerintah RI cs, Menteri Agama, berlaku secara nasional. Kedua, seluruh umat Islam di Indonesia wajib menaati ketetapan Pemerintah RI tentang penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah. Ketiga, Dalam menetapkan awal Ramadhan, Syawwal, dan Dzulhijjah, Menteri Agama wajib berkonsultasi dengan Majelis Ulama Indonesia, ormas-ormas Islam, dan Instansi terkait. Keempat, hasil rukyat dari daerah yang memungkinkan hilal dirukyat walaupun di luar wilayah Indonesia yang mathla’nya sama dengan Indonesia dapat dijadikan pedoman oleh Menteri Agama RI.”

Dalam fatwa tersebut tidak ada frasa “mengharamkan” aktivitas organisasi di luar pemerintah yang mendahului pengumuman pemerintah terkait awal Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah. Narasi keharaman justru muncul secara mandiri oleh Cholil Nafis. Dan dalam konteks ini beliau telah menyampaikan permohonan maafnya kepada publik melalui akun facebook-nya pada 20 Maret 2026.

Sampai detik ini, tidak ada fatwa MUI yang mengharamkan aktivitas organisasi non-pemerintah yang mendahului pengumuman Pemerintah terkait penentuan awal bulan hijriyah.

Di sinilah poin kritiknya, pengharaman terhadap aktivitas hasil ijtihad organisasi keagamaan tertentu merupakan tindakan yang berlawanan terhadap kebebasan berijtihad yang dianut dalam Islam. Keputusan penentuan 1 Syawal versi PP Muhammadiyah yang berbeda itu murni sebagai hasil ijtihad jama’i (kolektif), menggunakan metode berbeda dari metodenya Pemerintah, MUI, dan NU.

Muhammadiyah menggunakan Kalender Hijriyah Global Tuggal (KGHT) dalam menetapkan awal bulan Kamariyah. KGHT berbasis hisab hakiki kontemporer, di mana awal bulan ditetapkan berdasarkan perhitungan astronomi seragam di seluruh dunia, satu hari sama, tanpa harus menunggu rukyatul hilal (pengamatan hilal lokal), sehingga sebulan atau setahun sebelumnya sudah bisa ditetapkan kapan 1 Syawal itu. Berbeda dengan pengamatan hilal lokal yang dianut oleh MUI, berdasarkan fatwa di atas, dan menjadi landasan pengambilan keputusan Pemerintah harus menunggu hingga H-1.

Pandangan yang mengharamkan hasil ijtihad Muhammadiyah berlawanan dengan prinsip kebebasan berijtihad dalam Islam.  Semua hasil ijtihad yang telah memiliki kekuatan argumentasi hukum Islam tidak dapat dibatalkan oleh hasil ijtihad yang lain, sebagaimana bunyi kaidah hukum Islam yang populer:

الاجتهاد لا ينقض بالاجتهاد

“Sebuah hasil Ijtihad tidak bisa membatalkan hasil ijtihad yang lain”

Kaidah hukum ini tertulis dalam kitab Al-Asybah wa Al-Nazhair dan kitab-kitab Ushul Fikih lainnya. Kaidah tersebut menjamin terimplementasinya prinsip kesetaraan (al-musawah) dalam tradisi hukum Islam. Tidak ada hasil ijtihad yang memiliki karakter dominatif-hegemonik, semua memiliki kedudukan yang setara dalam tradisi hukum Islam.

Imam Suyuti dalam Al-Asybah wa Al-Nazhair menyatakan:

وَمِنْهَا حُكْمُ الْحَاكِم فِي الْمَسَائِل الْمُجْتَهَدِ فِيهَا لَا يُنْقَضُ

“Termasuk keputusan hukum Ulil Amri mengenai masalah ijtihad itu tidak dapat dibatalkan (dengan ijtihad yang lain)”

Begitu juga Keputusan Ulil Amri mengenail masalah ijtihad tidak membatalkan hasil ijtihad yang lain. Imam Suyuti menambahkan bahkan bila terjadi perbedaan pandangan antara Abu Hanifah dan Imam Syafi’i, maka hasil ijtihad keduanya tidak dapat saling membatalkan.

Begitu juga Nabi tidak pernah memandang rendah ijtihad meskipun terindikasi mengalami kekeliruan. Ijtihad tetap dihargai sebagai upaya sungguh-sungguh dan buah kerja keras atas kepakaran menggunakan metode yang dapat dipertanggungjawabkan dalam ilmu pengetahuan.

 إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ

“Bila seorang ahli hukum berijtihad, lalu hasil ijtihadnya itu ternyata benar, maka dia mendapatkan dua pahala, namun bila mengalami kekeliruan maka dia mendapatkan satu pahala” (HR. Bukhari, hadis No.6805).

Lain halnya proses tarjih, merupakan proses keilmuan yang diakui dalam diskrsus tafsir, fikih, dan filsafat Islam. Tarjih merupakan upaya memilah dan memilih pendapat hukum yang relevan berdasarkan kekuatan argumentasi teksnya, argumentasi metodologinya, atau argumentasi maslahatnya. Pun proses tarjih tidak bisa dioperasikan untuk membatalkan hasil ijtihad, kecuali pandangan hukum tersebut dianggap tidak relevan lagi karena berlawanan dengan argumen maslahat. Terhentinya relevansi hasil ijtihad bukan berarti batalnya hasil ijtihad, dia berlaku untuk konteks kemaslahatannya dalam periode tertentu.

Setiap pandangan keagamaan yang berupaya menghardik pandangan keagamaan pihak lain merupakan tindakan intoleran yang tidak memiliki dasar hukumnya dalam Islam dan berlawanan dengan kebebasan berpendapat dan menjalankan ajaran agama yang diakui oleh Undang-Undang dan berlawanan dengan program Moderasi Beragama yang telah dijalankan Kementerian Agama RI sejak 2019 untuk memperkuat kerukunan umat beragama di tanah air.

Menciptakan Lingkungan Lebaran yang Ramah Perempuan

Lebih sepekan umat Islam merayakan Idulfitri. Bagi masyarakat muslim di Indonesia, Idulfitri atau lebaran biasanya menjadi kegiatan untuk bermaaf-maafan, saling mengasihi, saling bersilaturahmi, dan menjadi momen berkumpul bersama keluarga. Tak heran, jika momen lebaran biasanya selalu menyuguhkan hidangan-hidangan khas lebaran lezat dengan porsi yang banyak hingga kue-kue atau jajanan tradisional khas yang hanya dijumpai saat lebaran saja.

Persiapan lebaran juga tidak hanya fokus pada hidangan-hidangan lebaran, biasanya masyarakat juga turut membersihkan seluruh bagian rumah bahkan juga menyiapkan baju lebaran yang satu ragam warna atau jenisnya. Lebaran di Indonesia terkenal dengan sebutan Halalbihalal. Halalbihalal ialah tradisi khas masyarakat Indonesia sebagai bentuk mempererat silaturahmi dan saling memaafkan. Sehingga, tidak heran jika masyarakat memiliki kesibukan dalam mempersiapkan kebutuhan lebaran pra-hari raya Idulfitri.

Yang Sering Kita Tidak Sadari dalam Persiapan Lebaran

Saya banyak mengamati, keluhan-keluhan anak muda perempuan di media sosial twitter (19/03) yang diminta untuk membantu persiapan lebaran. Padahal yang bersangkutan baru saja selesai bekerja dan sedang istirahat. Komentar-komentar pada postingan tersebut juga banyak yang menceritakan bagaimana perempuan-perempuan yang diminta (kadang secara paksa) untuk menyiapkan kebutuhan lebaran yang tiada habisnya. Bahkan, ada anggota keluarga yang marah terhadap anak-anak perempuan yang tidak banyak berkontribusi persiapan lebaran karena tuntutuan pekerjaan.

Saya jadi menyadari, bahwa teman-teman perempuan yang sedang menceritakan pengalamannya sedang mengalami beban ganda. Dalam satu keluarga, ia diminta untuk membuat kue lebaran dan membersihkan rumah padahal keempat saudara laki-lakinya tidak diminta hal serupa. Saya juga menyadari, ada ibu-ibu yang harus bangun dini hari di malam lebaran untuk memasak opor ayam dalam jumlah banyak sehingga tidak memiliki kesempatan untuk salat Idulfitri atau menghabiskan seluruh waktunya di dapur untuk menyiapkan hidangan lebaran.

Sama halnya ketika Ramadan, ibu-ibu yang kerap kali lebih dulu bangun untuk memasak dan menyiapkan menu sahur bagi keluarga secara sendirian. Saya mencatat pengalaman perempuan yang pada Ramadan dan Idulfitri lebih banyak menghabiskan waktu dan perannya untuk urusan domestik. Para perempuan seringkali tak punya pilihan dalam perannya, sehingga jika ia tidak melakukan kerja-kerja domestik yang dimaksud, ia dapat menanggung beban lain seperti mendapatkan amarah dari keluarga.

Narasi dan Pemahaman Keliru tentang “Allah Memuliakan Perempuan melalui Kerja-Kerja Domestik”

Seringkali, realita dalam merespon pengalaman-pengalaman kerja-kerja domestik perempuan selalu membawa kisah Fatimah ketika sedang kelelahan dalam mengerjakan tugas domestik. Kisah tersebut terdapat pada kitab Uqudullujain Karya Imam Nawawi Al-Bantani. Dikisahkan bahwa beliau sedang menangis sambil menggiling gandum dengan menggunakan raha (alat penggilingan gandum tradisional yang terbuat dari batu).

Melihat putrinya menangis, Nabi mendekatinya dengan lembut dan bertanya, “Wahai Fatimah, mengapa kamu menangis? Allah tidak menjadikan matamu untuk menangis seperti ini.” Fatimah pun menjawab, “Wahai Ayah, aku menangis karena merasa lelah. Setiap hari aku sibuk mengerjakan pekerjaan rumah, dan tidak ada seorang pun yang membantu.” Nabi kemudian duduk di sampingnya, mendengarkan dengan penuh perhatian. Lalu Fatimah melanjutkan, “Wahai Ayah, dengan kedudukan yang engkau miliki, tolong sampaikan kepada ‘Ali agar membelikan seorang pembantu untukku, supaya bisa membantu menggiling gandum dan mengerjakan pekerjaan rumah.”

Setelah mendengar cerita itu, Nabi mengambil gandum dengan tangannya, lalu meletakkannya di alat penggiling sambil mengucapkan bismillah. Atas izin Allah, alat itu bergerak sendiri menggiling gandum hingga menjadi tepung. Kemudian Nabi berkata, “Berhentilah.” Atas izin Allah, alat itu pun berhenti. Rasulullah juga berkata, “Wahai Fatimah, jika Allah menghendaki, alat itu bisa saja terus bekerja sendiri untukmu. Tapi Allah ingin memberimu pahala, menghapus dosa-dosamu, dan mengangkat derajatmu.”

Seringkali narasi tersebut dilontarkan beberapa netizen untuk menyuruh perempuan bersyukur dengan tugas kerja-kerja domestik yang mungkin bisa memberatkan bagi mereka. Bagi saya, respon seperti ini kurang tepat jika dilontarkan dari netizen kepada perempuan-perempuan yang sedang menanggung beban ganda.

Rasulullah Hadir untuk membantu Fatimah

Yang menarik untuk diperhatikan, ketika Fatimah berada dalam kondisi lelah secara fisik dan batin, Rasulullah merespons dengan sikap penuh empati. Rasulullah justru mendekat, mendengarkan keluhan Fatimah, lalu turut membantu meringankan pekerjaannya. Dalam kisah itu, Rasulullah bahkan berdoa agar alat penggiling gandum dapat bekerja sendiri, sehingga beban Fatimah berkurang.

Jika kita memahami baik-baik, nilai lain dari kisah tersebut ialah, ketika Fatimah kesulitan Rasulullah mendengarkan keluh kesahnya dan membantu Fatimah. Seharusnya hal yang sama juga kita lakukan, bukan malah menyuruh perempuan untuk bersyukur atas kelelahan dalam mengerjakan tugas domestik tanpa menawarkan bantuan apa-apa. Respons seperti itu sering kali mengabaikan kondisi pelik yang dialami perempuan, terutama mereka yang menjalani beban ganda antara pekerjaan publik dan domestik.

Kisah tersebut memang mengandung nilai makruf. Bagi mereka yang mengerjakan tugas domestik dengan ikhlas, terdapat pahala, penghapusan dosa, dan derajat yang diangkat oleh Allah. Nilai tersebut memberi penguatan spiritual bagi individu yang menjalani peran tersebut dengan kesadaran dan kerelaan hati. Akan tetapi, nilai tersebut tidak dapat digunakan untuk menekan perempuan lain agar menerima kelelahan yang sebenarnya dapat diringankan bersama dengan anggota keluarga yang lain.

Persiapan Lebaran sebagai bentuk Fastabiqul Khairat

Dalam kehidupan keluarga, pekerjaan domestik dapat dibagi sebagai bentuk kerja sama dalam kebaikan atau fastabiqul khairat. Persiapan hari raya, yang sering kali menyita tenaga dan waktu, seharusnya menjadi kerjasama seluruh anggota keluarga. Ada banyak hal yang bisa dikerjakan bersama, mulai dari memasak, membersihkan rumah, hingga menyiapkan kebutuhan lainnya.

Menggunakan narasi agama untuk menyuruh perempuan tetap bersyukur tanpa melihat kondisi yang mereka alami dapat melukai perasaan dan menghilangkan empati. Padahal, dari kisah Fatimah tersebut, justru terdapat pesan bahwa ketika seseorang mengalami kelelahan, keluarga di sekitarnya dapat hadir untuk membantu dan meringankan beban.

Berempati dalam Merespons Pengalaman Perempuan

Dalam bermedia sosial, penting bagi kita mengedepankan empati terhadap seseorang. terutama untuk seseorang yang sedang menuliskan pengalamannya sebagai perempuan. pengalamannya valid dan tak perlu dipertanyakan terutama jika menyangkut beban-beban domestik. Sering terjadi, bukannya mendengarkan, kadang malah membandingkan atau meremehkan.

Misalnya dengan berkata “yang lain juga begitu”, “sudah jadi kodrat atau fitrah perempuan”, atau “terlalu berlebihan”. Kalimat seperti ini bisa membuat orang yang bercerita merasa tidak dihargai. Padahal, setiap orang punya kondisi dan pengalaman yang berbeda.

Empati berarti mencoba memahami. Kita tidak harus selalu memberi solusi atau nasihat. Kadang cukup dengan mendengarkan dan merespons dengan kalimat yang menguatkan. Kita juga perlu sadar bahwa beban yang dialami perempuan, terutama dalam pekerjaan rumah, bukan hanya masalah pribadi. Ada kebiasaan di masyarakat yang membuat perempuan sering memikul tanggung jawab lebih besar.

Menciptakan Lebaran yang Ramah Perempuan

Idulfitri ini, mari kita ciptakan lingkungan yang ramah perempuan. Misalnya dalam persiapan lebaran, tidak membiarkan perempuan menyiapkan seluruhnya sendirian. Jika ada anggota keluarga yang lain, dapat didiskusikan baik-baik mengenai persiapan lebaran. Berbagi tugas dalam membersihkan rumah, saling membantu di dapur ketika perempuan sedang memasak, menanyakan apakah ada yang perlu dibantu? dan berinisiatif membantu. Serta tidak membiarkan perempuan memiliki pekerjaan ganda yang sebenarnya dapat dilakukan secara bersama.

Lebaran yang ramah perempuan juga berarti memberi ruang bagi perempuan untuk beribadah dengan tenang, seperti mengikuti salat Idulfitri, tanpa harus terus berada di dapur atau mengurus pekerjaan rumah. Selain itu, perempuan juga berhak memiliki waktu untuk menjaga kesehatan dan memperhatikan dirinya sendiri. Mari menciptakan lebaran yang ramah bagi anak perempuan, perempuan, ibu, dan nenek-nenek kita.

Selamat Idulfitri 1447 H, Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum.

Refleksi Idulfitri: Manusia Bukan Penguasa Alam Raya

Setiap perayaan Idulfitri, kita sering mendengar ungkapan: “taqabbalallaahu minnaa wa minkum, ja’alanallaahu wa iyyakum, minal ‘aa`idiin wal faa`iziin”. Namun, apa makna sebenarnya dari ungkapan tersebut? Apakah maknanya itu ‘mohon maaf lahir dan batin’ sebagaimana sering diucapkan bersama dengan lafaz tersebut?

Secara umum, kalimat tersebut berisi harapan dan doa yang kita panjatkan, semoga Allah Swt menerima seluruh amal ibadah kita, ibadah puasa, qiyamul lail, tadarus Al-Quran, zakat infaq dan sedekah, serta amal ibadah lainnya yang kita lakukan selama bulan Ramadan. Seraya memanjatkan harapan, semoga kita termasuk kelompok orang-orang yang kembali (al-‘aa`idiin) dan orang-orang yang menang (al-faa`iziin).

Kata al-‘aa`idiin bermakna kembali kepada fitrah, yakni asal kejadian, atau kesucian atau agama yang benar. Setelah umat Islam di-tarbiyah, dididik langsung oleh Allah selama satu bulan, diharapkan mereka dapat kembali suci sebagaimana ketika baru dilahirkan serta kembali mengamalkan ajaran agama yang benar.

Sedangkan kata al-faa`iziin berarti kemenangan atau keberuntungan. Dalam salah satu hadis, Nabi Muhammad Saw memberikan penjelasan, siapakah sosok yang menang tersebut sebagai berikut.

قَالَ لَهُ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْفَائِزِينَ قَالَ:” ذَرِ الدُّنْيَا وَخُذْ مِنْهَا كَالْمَاءِ الرَّاكِدِ فَإِنَّ الْقَلِيلَ مِنْهَا يَكْفِي وَالْكَثِيرَ مِنْهَا يُطْغِي

Seseorang berkata kepada Nabi Muhammad Saw: Ya Rasulallah, sesungguhnya aku ingin menjadi orang yang beruntung, Nabi menjawab: hindarilah dunia dan ambillah darinya seperti air yang tergenang, karena sesungguhnya sedikit air yang kita ambil sudah cukup, dan terlalu banyak mengambilnya akan membinasakan.

Hadis ini menarik untuk dicermati. Sebab Nabi menyematkan insan pemenang adalah mereka yang bisa berkata cukup, bukan mereka yang rakus dan tamak menumpuk kekayaan. Tak hanya itu, Nabi juga memberikan ilustrasi ekologis yang jarang diresapi: serakah mengambil kekayaan alam akan membinasakan dan itu bukan karakter pemenang.

Karenanya, mereka yang masuk dalam golongan al-fa`izin adalah mereka yang tidak hanya mampu memulihkan hubungan dengan Allah (habl min Allah), manusia (habl min an-nas), tetapi juga dengan alam (habl min al-‘alam). Syaikh Yusuf al-Qaradhawi bahkan memasukkan poin “menjaga alam” ini sebagai bagian dari maqasid al-syari’ah.

Tanpa kita sadari, sebenarnya sebagai manusia kita punya keterikatan dan keterhubungan dengan alam. Kalau kita mau memaknai al-‘aa`idiin dalam makna asal penciptaan, tubuh manusia diciptakan dari unsur yang ada di alam raya, yaitu tanah untuk Nabi Adam a.s. sedangkan anak cucunya diciptakan dari saripati tanah, berupa zat-zat makanan yang kemudian menjadi darah. Maka kehadiran alam raya sangat penting bagi kelangsungan manusia.

Tanah yang selalu diinjak tapi dari tanah pula tumbuh dan lahir kehidupan. Karenanya kembali ke fitrah dapat dimaknai pula dengan memahami falsafah tanah yang menjadi bahan dasar penciptaan manusia. Sebagai manusia tak perlu sombong karena kita berasal dari sesuatu yang rendah bahkan hina. Tetapi yang penting adalah bagaimana manusia yang biasa ini menjadi manusia yang luar biasa, layaknya tanah yang menumbuhkan kehidupan, manusia dapat menebar manfaat dan maslahat sebanyak-banyaknya, khairun naas, anfa’uhum lin naas. Spirit menebar kemanfaatan inilah yang tersirat dari sabda Nabi Saw berikut:

إن قَامَتِ السَّاعَةُ وَفِي يَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا تَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَغْرِسْهَا

“Jika terjadi hari kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah tunas, maka jika ia mampu sebelum terjadi hari kiamat untuk menanamnya maka tanamlah.” (HR. Bukhari & Ahmad)

Dari hadis tersebut, kita diajarkan untuk senantiasa menabur manfaat di bumi Allah bahkan sampai hari kiamat kurang sehari. Hal ini menegaskan dua hal, yaitu pentingnya menjaga dan merawat alam dan konsistensi untuk terus mengelola alam untuk kebermanfaatan hingga hari kiamat kelak.

Relasi dengan alam ini perlu untuk kita renungkan kembali di momentum Idulfitri ini. Sebab manusia sebagai khalifah fil ardh, ditugaskan untuk mengelola alam raya, bukan justru merusaknya. Bencana ekologis yang terjadi di Sumatera akhir tahun lalu seharusnya telah menjadi alarm keras bagi negara ini, bahwa ada yang salah dalam tata kelola alam. Dan penyebab utamanya adalah keserakahan manusia. Sebagaimana firman Allah dalam Surat al-Rum ayat 40:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Selain menjaga alam raya dari kerusakan, langkah nyata memulihkan hubungan dengan alam yang dapat kita lakukan menyambut Idulfitri ini adalah berhari raya dengan penuh kesederhanaan. Sederhana di sini bukan berarti kita dilarang bersuka cita, bergembira dan menikmati makanan yang lezat. Ajaran Islam jelas, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Allah Swt berfirman dalam Surat Al-A’raf ayat 31:

يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ ࣖ

Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid dan makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.

Dalam konteks ber-idulfitri, biasanya umat Islam hanya mengamalkan perintah pada awal ayatnya saja: yaitu menggunakan pakaian terbaik, sering kali yang digunakan adalah pakaian baru. Namun, perintah setelahnya, “makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan”, sering kali luput. Mungkin karena merasa bahwa lebaran adalah ajang ‘balas dendam’ setelah satu bulan berpuasa.

Padahal ajaran agama jelas mengajarkan kita untuk tidak berlebihan, menekankan semangat kesederhanaan, makan dan minum secukupnya, tidak mubazir, membuang makanan, dan menumpuk sampah sembarangan.

Dengan demikian, pahamlah kita makna sejati ber-idulfitri. Bahwa Idulfitri adalah semangat memulihkan dan merawat fitrah kemanusiaan. Manusia bukan penguasa alam raya, melainkan pengelola sekaligus perawat alam. Semangat inilah yang perlu ditumbuhkan senapas dengan suka cita berhari raya.

Selamat Idulfitri.

Titik Temu Tradisi Nyepi dan Idulfitri

Dalam perjalanan dari Sorowako ke Palopo, diriku tersentak melihat di pinggir jalan banyak orang yang menggunakan pakaian putih lengkap dengan udeng penutup kepalanya. Sekilas aku berpikir, apakah aku sedang di Bali? Ini tanah Sulawesi yang sebagian besar masyarakatnya beragama Islam dan Kristiani. Barulah dengan bantuan google, aku tahu bahwa ada komunitas Hindu di sini. Terutama Luwu Utara dan Timur, termasuk daerah yang ku lewati beberapa hari lalu.

Inilah potret Indonesia yang beragam. Dalam satu daerah, kita bisa menemukan aneka etnis dan budaya yang hidup dalam satu rumpun. Dan itu sudah diwariskan sejak zaman nenek moyang.

Melihat umat Hindu di tanah Luwu mengantarkanku pada memori perjumpaan yang sebentar lagi akan diperingati. Dalam waktu yang hampir berdekatan, dua tradisi keagamaan besar dirayakan oleh masyarakat yang berbeda, yaitu Nyepi bagi umat Hindu dan Idulfitri bagi umat Islam. Sekilas keduanya tampak sangat berbeda. Nyepi identik dengan keheningan, pengekangan diri, dan penghentian berbagai aktivitas duniawi. Sementara Idulfitri biasanya diwarnai suasana kebersamaan, silaturahmi, dan kegembiraan.

Karena tampak kontras, belum lama ini publik sempat dihebohkan oleh sebuah video yang beredar luas di media sosial. Dalam video tersebut, seorang tokoh bernama Hercules berbicara dengan nada tegas bahkan terlihat melotot ketika menyampaikan pendapatnya tentang pelaksanaan takbiran di jalan. Ia menilai takbiran berpotensi mengganggu kekhusyukan umat Hindu yang sedang menjalankan rangkaian ibadah Nyepi. Di akhir pernyataannya, ia melontarkan pertanyaan yang memancing perdebatan, “Nyepi apa takbiran, kau berpihak ke mana?”

Pertanyaan seperti ini sebenarnya lahir dari cara pandang yang memosisikan dua tradisi tersebut seolah-olah saling berhadapan. Padahal jika direnungkan lebih dalam, keduanya justru bertemu pada satu titik yang sama, yaitu upaya manusia untuk kembali kepada keseimbangan hidup.

Nyepi mengajarkan manusia untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan. Selama satu hari penuh berbagai aktivitas dihentikan. Tidak bepergian, tidak menyalakan api, tidak bekerja, bahkan tidak membuat kebisingan. Dunia seakan diajak untuk diam sejenak. Dalam keheningan itu manusia diberi ruang untuk merenung tentang hidup, tentang kesalahan yang pernah dilakukan, dan tentang bagaimana memperbaiki diri.

Dalam psikologi, keadaan semacam ini sering disebut sebagai silent moment, yaitu momen ketika seseorang memberi ruang bagi dirinya untuk berhenti dari kebisingan luar dan kembali mendengarkan suara batinnya. Psikolog melihat bahwa keheningan semacam ini penting bagi kesehatan mental, karena manusia modern terlalu sering hidup dalam kebisingan, tekanan, dan arus informasi yang tidak pernah berhenti. Tanpa momen sunyi, seseorang mudah kehilangan arah, bahkan kehilangan dirinya sendiri.

Di sisi lain, Ramadan yang berujung pada Idulfitri juga merupakan proses panjang pengendalian diri. Selama sebulan penuh umat Islam dilatih menahan lapar, menahan amarah, serta menahan berbagai dorongan hawa nafsu. Puasa bukan sekadar menahan makan dan minum, tetapi latihan spiritual agar manusia tidak selalu dikendalikan oleh keinginannya sendiri.

Jika Nyepi memberi ruang sunyi selama satu hari, maka Ramadan memberi ruang refleksi selama satu bulan penuh. Keduanya mengajarkan bahwa manusia perlu berhenti sejenak untuk menemukan kembali dirinya.

Dalam kehidupan modern yang serba cepat, manusia sering terjebak dalam ritme kerja, konsumsi, dan ambisi yang seolah tidak pernah selesai. Kita terus bergerak, terus mengejar sesuatu, tetapi jarang berhenti untuk bertanya ke mana sebenarnya arah perjalanan hidup ini. Di sinilah pentingnya momen hening. Ia menjadi ruang bagi manusia untuk menata ulang pikirannya, menenangkan batinnya, dan memulihkan keseimbangan hidup.

Menariknya, kedua tradisi ini juga membawa pesan tentang hubungan manusia dengan alam. Saat Nyepi berlangsung, Bali seakan diberi kesempatan untuk bernapas. Lampu-lampu padam, kendaraan berhenti, dan aktivitas manusia berkurang drastis. Alam menikmati jeda dari tekanan kehidupan modern.

Pesan yang hampir serupa juga terdapat dalam ajaran Islam. Puasa melatih manusia untuk tidak hidup berlebihan, tidak rakus, dan tidak konsumtif. Al-Qur’an mengingatkan bahwa manusia boleh makan dan minum, tetapi tidak boleh berlebihan. Dalam arti tertentu, pengendalian diri manusia juga berarti memberi ruang bagi alam untuk tetap terjaga.

Karena itu, baik Nyepi maupun Idulfitri sebenarnya menyimpan pesan yang sangat universal. Keduanya mengajak manusia untuk kembali kepada kesadaran yang lebih dalam bahwa hidup bukan hanya soal memenuhi kepentingan diri sendiri, tetapi juga menjaga harmoni dengan Tuhan, dengan sesama manusia, dan dengan alam.

Di balik keheningan Nyepi dan kegembiraan Idulfitri, terdapat pesan yang sama. Manusia membutuhkan jeda, membutuhkan momen sunyi, agar dapat kembali menjadi dirinya yang lebih utuh. Dalam dunia yang semakin bising, mungkin justru keheninganlah yang paling kita butuhkan. Sayangnya, itu juga mode yang paling sering kita abaikan.

Selamat Hari Raya Nyepi, Rahajeng Rahina Nyepi.
Selamat Idulfitri, Taqabbalallahu minna wa minkum, minal ‘a`idin wal fa`izin.

Fenomena Mudik di Nusantara

Di penghujung Ramadan, ada satu fenomena yang hampir selalu menjadi perbincangan di Indonesia: mudik. Jalanan dipadati kendaraan, terminal dan bandara penuh sesak oleh orang-orang yang ingin pulang ke kampung halaman. Media sosial ramai oleh cerita perjalanan, foto keluarga, dan berbagai kisah tentang rindu yang akhirnya terobati dengan backsound “Taragak Pulang” dari tanah Minang.

Tradisi mudik adalah potret khas masyarakat Muslim di Nusantara. Setiap menjelang Idulfitri, jutaan orang berbondong-bondong meninggalkan kota tempat mereka bekerja untuk kembali ke kampung halaman. Data dari Kementerian Perhubungan memprediksi ada 150 juta pergerakan pemudik lebaran tahun ini.

Artinya, ada lebih dari setengah populasi masyarakat Indonesia yang akan kembali ke kampung halaman. Mereka ingin bertemu orang tua, saudara, dan kerabat yang lama tak dijumpai. Ada kerinduan yang ingin dipeluk kembali, ada hubungan yang ingin diperbarui, dan ada luka yang ingin disembuhkan melalui perjumpaan.

Saya bersama keluarga juga memutuskan mudik lebih awal ke Sulawesi sebelum puncak arus mudik. Meskipun demikian, tetap saja kepadatan manusia di bandara sudah terlihat sejak pertengahan Ramadan. Orang berlomba-lomba mencari tiket murah sebelum kehabisan tiket.

Fenomena mudik ini juga memperlihatkan jati diri manusia yang pada hakikatnya berkelana. Ia bergerak, melangkah ke mana saja demi bisa menyambung kehidupan. Bahkan sejak kecil kita didoktrin melalui lirik lagu, “Nenek moyangku seorang pelaut.” Dengan kontur sebagai negara maritim, masyarakat Indonesia terbiasa berjalan jauh untuk mencari rezeki.

Sebagai anak dari orang tua yang merantau, saya lahir dengan budaya mudik yang melekat kuat. Meski demikian, terakhir kali saya merasakan euforia mudik ketika masih SD. Belasan tahun silam. Pesawat masih menjadi transportasi langka. Bayangan anak SD awal tahun 2000-an, mudik berarti mengarungi lautan luas dengan kapal seadanya, terombang-ambing ketika badai menyambut perjalanan.

Hari ini, mudik terasa lebih gampang dengan kemajuan zaman. Sayangnya, proses kembali ke kampung halaman sering dipahami dengan makna dangkal: saling pamer kekayaan dan saling urus kehidupan, seperti kapan lulus kuliah; kapan menikah; kalau sudah menikah, kapan punya anak; dst. Saya memaknai mudik adalah cara untuk menelusuri kembali jejak perjalanan orang tua. Memang tidak ada mesin waktu yang bisa membawa kita ke masa lalu, tetapi bangunan yang masih terjaga dan saksi sejarah yang masih hidup, adalah memori berharga yang tidak dapat tergantikan dengan teknologi secanggih apa pun.

Sebenarnya, mudik adalah tradisi yang baik. Ia menjadi ruang untuk menyambung kembali tali silaturahmi yang mungkin sempat renggang oleh jarak dan kesibukan. Namun di balik kehangatan perjumpaan itu, ada juga sisi lain yang sering luput dari perhatian. Mudik tidak selalu menghadirkan kegembiraan semata.

Bagi sebagian orang, mudik juga membawa tekanan batin yang tidak kecil. Ada yang merasa terbebani oleh biaya perjalanan yang mahal. Ada yang merasa harus “tampil berhasil” di hadapan keluarga di kampung halaman. Ada pula yang pulang dengan kecemasan karena belum mampu memenuhi ekspektasi sosial yang dibangun oleh lingkungan.

Belum lagi momen berkumpul bersama keluarga, bagi sebagian orang serasa laksana ajang penghakiman pencapaian dengan segudang pertanyaan: “kapan menikah?”, “kapan lulus kuliah”, “mengapa belum punya anak?”, “suami kerja di mana?”, “anak kuliah di mana?”, dan seterusnya. Sebenarnya tak ada yang salah dengan pertanyaan informatif itu.

Menjadi kurang elok, karena pertanyaan itu ditujukan kepada mereka yang sedang berjuang. Berjuang mencari jodoh, berikhtiar mendapatkan anak, atau berusaha mencari pekerjaan yang lebih layak. Intinya, tidak semua pertanyaan layak diucapkan tanpa mempertimbangkan kondisi psikologis seseorang. Bagi sebagian orang pertanyaan itu mungkin biasa saja, tetapi ada yang merasa itu sebagai cercaan terhadap proses yang sedang dijalaninya.

Dalam posisi inilah, mudik bukan lagi menjadi daya tarik, justru menjadi sesuatu yang mengusik. Tidak sedikit orang yang akhirnya menunda untuk mudik dengan berbagai alasan. Intinya satu: mereka mau terhindar dari pertanyaan dan relasi yang toxic.

Tidak jarang pula, persiapan mudik justru menguras energi dan perhatian kita sehingga melupakan satu hal penting: sepuluh malam terakhir Ramadan yang seharusnya menjadi puncak ibadah. Padahal di waktu inilah Allah membuka pintu ampunan dan keberkahan seluas-luasnya. Di waktu inilah umat Islam diajak untuk lebih mendekat kepada-Nya melalui salat malam, zikir, tilawah, dan berbagai amal kebajikan lainnya.

Karenanya penting untuk menjaga keseimbangan. Mudik boleh saja dipersiapkan dengan baik, tetapi jangan sampai ia menggeser fokus kita dari tujuan utama Ramadan: memperbaiki hubungan dengan Allah dan memperhalus hubungan dengan sesama manusia.

Sebab jika dipikirkan lebih dalam, perjalanan pulang ke kampung halaman di dunia hanyalah gambaran kecil dari perjalanan pulang yang jauh lebih besar. Suatu hari nanti, kita semua akan melakukan “mudik” yang sesungguhnya: pulang ke kampung akhirat melalui pintu kematian.

Setiap manusia pada akhirnya akan kembali kepada Allah. Tidak ada yang bisa menunda atau menghindarinya. Hanya waktu yang menjadi rahasia. Bahkan tidak sedikit kasus kecelakaan yang menghantui para pemudik dalam perjalanan. Alih-alih mudik ke desa, perjalanan mudik justru mengantarkan seseorang menghadap Sang Pencipta.

Karena itu, selain mempersiapkan mudik ke kampung halaman, kita juga perlu mempersiapkan bekal untuk perjalanan pulang kepada-Nya. Perjalanan ini bukan sekadar beberapa jam di jalan raya, tetapi perjalanan panjang yang menentukan nasib kita di kehidupan abadi.

Nabi Muhammad saw. pernah memberikan nasihat yang sangat mendalam kepada Abu Dzar. Beliau mengibaratkan kehidupan manusia seperti perjalanan mengarungi samudera yang luas.

يَا أَبَا ذَرٍّ، جَدِّدِ السَّفِيْنَةَ فَإِنَّ الْبَحْرَ عَمِيْقٌ، وَخُذِ الزَّادَ كَامِلاً فَإِنَّ السَّفَرَ بَعِيدٌ، وَخَفِّفِ الْحِمْلَ فَإِنَّ الْعَقَبَةَ كَؤُودٌ

“Wahai Abu Dzar, perbaharuilah kapalmu karena laut itu dalam; ambillah bekal yang cukup karena perjalanannya jauh; dan ringankanlah beban bawaanmu karena jalan yang akan dilalui itu berat.”

Nasihat ini seakan mengingatkan kita bahwa hidup di dunia hanyalah perjalanan. Kapal yang kita gunakan adalah iman dan amal saleh. Bekal yang kita bawa adalah kebaikan yang kita lakukan selama hidup. Sedangkan beban yang harus kita ringankan adalah dosa, kesombongan, dan berbagai keterikatan dunia yang membuat langkah menjadi berat.

Mudik pada akhirnya bukan sekadar perjalanan fisik dari kota ke desa. Ia juga bisa menjadi momentum refleksi batin. Perjalanan panjang di jalan raya, antrean kendaraan yang melelahkan, hingga waktu yang dihabiskan di kendaraan dapat menjadi ruang untuk merenungkan arah hidup kita.

Sudah sejauh mana perjalanan spiritual kita? Sudah seberapa banyak bekal yang kita siapkan untuk pulang kepada Allah? Jangan sampai kita terlalu sibuk mempersiapkan mudik ke kampung halaman, tetapi lupa mempersiapkan mudik menuju kampung akhirat.

Jika mudik di dunia kita persiapkan dengan kendaraan terbaik, tiket yang aman, dan bekal yang cukup, maka mudik menuju kehidupan di akhirat pun semestinya dipersiapkan dengan lebih serius: dengan iman yang kuat, amal yang tulus, dan hati yang bersih.

Pada akhirnya, yang paling penting dari mudik bukanlah seberapa jauh perjalanan yang ditempuh, tetapi seberapa dalam makna yang kita temukan di dalamnya. Sebab bisa saja seseorang sampai di kampung halaman, tetapi tidak menemukan kedamaian. Sebaliknya, ada pula orang yang justru menemukan ketenangan karena mampu memaknai perjalanan itu sebagai pengingat akan perjalanan pulang yang sesungguhnya.

Ramadan, dengan segala keberkahannya, seakan memberi pesan kepada kita: pulanglah, bukan hanya kepada keluarga, tetapi juga kepada keabadian.

Kurban Berkelanjutan: Upaya Bijak Merawat Alam

Selamat Iduladha! Hari raya Iduladha identik dengan ibadah kurban. Ibadah kurban menjadi peringatan perjalanan spiritual Nabi Ibrahim As yang bermimpi mengorbankan anaknya, Ismail atas perintah Allah. Saat akan dikorbankan, Allah menggantinya dengan seekor kambing. Hikmah  perjalanan spiritual Nabi Ibrahim As tersebut kemudian menjadi ibadah yang dilakukan oleh umat Muslim di seluruh dunia.

Dalam khutbah “Iduladha dan Eko-teologi: Pengorbanan untuk Keberlanjutan Alam” oleh Menteri Agama Prof. Nasaruddin Umar, beliau menjelaskan bahwa hikmah dalam berkurban yaitu upaya untuk melestarikan alam. Beliau menjelaskan bahwa berkurban adalah upaya menjaga jumlah hewan ternak agar tidak berlebihan. Jika hewan ternak terlalu banyak, bisa terjadi masalah lingkungan seperti rusaknya tanah, berkurangnya tanaman, dan tercemarnya air. Melalui ibadah kurban, jumlah hewan ternak bisa tetap seimbang.

Kurban di Indonesia

Di Indonesia, hewan yang dikurbankan biasanya berupa kambing, domba, kerbau atau sapi. Berbeda dengan kebiasaan di Timur Tengah yang kerap menjadikan unta sebagai pilihan lainnya saat berkurban. Hal tersebut disebabkan oleh perbedaan kondisi geografis Di wilayah Timur Tengah. Unta merupakan hewan yang lebih umum dijumpai dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Selain itu, unta juga mampu bertahan hidup di daerah gurun yang kering, sehingga lebih mudah dipelihara di sana. Sementara itu, di Indonesia, kondisi lingkungan yang lebih tropis membuat kambing, domba, dan sapi lebih mudah dipelihara dan tersedia dalam jumlah yang cukup.

Berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan 2023, estimasi jumlah konsumsi hewan kurban sebesar 1.743.051 ekor yang terdiri dari kambing, sapi, domba dan kerbau. Berdasarkan data tersebut, masih banyak orang menggunakan kantong plastik sekali pakai untuk membagikan daging kurban. Diperkirakan terdapat sekitar 119.033.720 lembar kantong plastik yang menjadi sampah.

Sangat disayangkan jika momen beribadah justru malah menimbulkan madharat yang juga berdampak besar kepada lingkungan. Terlebih, plastik sekali pakai membutuhkan berjuta-juta tahun untuk dapat terurai. Oleh karenanya, penting bagi seluruh umat Muslim untuk memperhatikan aspek ekologis dalam berkurban. Sehingga, proses ibadah dapat membawa kebermanfaatan yang lebih banyak baik bagi sesama manusia dan keberlanjutan alam.

Kurban dalam Perspektif Ekologis

Al-Qur’an dalam Surah Al-An’am ayat 38 yang memiliki arti: “Tidak ada seekor hewan pun (yang berada) di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan umat (juga) seperti kamu. Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam kitab, kemudian kepada Tuhannya mereka dikumpulkan.” Ayat tersebut menjelaskan bahwa semua makhluk hidup saling berhubungan dan saling membutuhkan. Allah menciptakan berbagai macam ekosistem yang membentuk alam semesta. Sebagai manusia, kita diberi tugas untuk menjaga dan menghormati semua bentuk kehidupan, terutama lingkungan dan alam.

Dengan demikian, setiap kehidupan yang ada di bumi merupakan bentuk penciptaan yang sempurna. Oleh karenanya, bukan perilaku yang bijaksana jika umat Islam merusak atau menghilangkan kehidupan yang ada. Apalagi melakukan ibadah, tetapi di sisi lain dapat menimbulkan kerusakan.

Penyelenggaraan kurban, tidak hanya berfokus pada pembagian daging kepada masyarakat. Di sisi lain, proses pemotongan hewan kurban juga perlu diperhatikan. Apalagi proses penyembelihan hewan kurban juga menghasilkan limbah. Oleh karenanya, penting bagi umat Islam untuk memperhatikan proses penyembelihan agar tidak berdampak pada pencemaran lingkungan.

Misalnya, saat proses pemotongan hewan kurban berlangsung, limbah seperti darah hewan tidak boleh langsung dibuang begitu saja ke saluran air atau tanah terbuka. Darah hewan yang dibuang sembarangan dapat mencemari lingkungan, terutama sumber air di sekitarnya seperti sungai, selokan, atau sumur warga. Jika limbah tersebut bercampur dengan air bersih, maka dapat menyebabkan pencemaran dan membahayakan kesehatan masyarakat.

Oleh karena itu, darah dan limbah lainnya perlu diolah atau ditampung terlebih dahulu, misalnya dengan membuat lubang khusus sebagai tempat pembuangan, lalu ditimbun dengan tanah setelah selesai. Selain lebih bersih, cara ini juga membantu menjaga lingkungan tetap sehat dan tidak menimbulkan bau yang mengganggu.

Selain itu, dalam pembagian daging, dianjurkan untuk menggunakan wadah yang ramah lingkungan. Penggunaan wadah yang ramah lingkungan dapat menyesuaikan dengan alternatif wadah lokal. Contohnya, di Jawa bisa pakai besek atau daun pisang. Di Aceh pakai daun nipah. Di Maluku ada anyaman daun gamutu. Di Kalimantan bisa pakai bronsong, kreneng, atau purun. Alternatif lainnya ialah masyarakat membawa wadah sendiri dari rumah untuk menghindari penggunaan plastik sekali pakai.

Hikmah Kurban Berkelanjutan untuk Penyelamatan Alam

Jika kita telaah lebih lanjut, kurban dengan memperhatikan aspek-aspek ekologis akan membawa banyak manfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Hubungan manusia dengan Tuhan (hablumminallah), manusia dengan manusia (hablumminannas), dan manusia dengan alam (hablumminal alam) dapat terjalin dengan baik.

Adapun kurban yang dilakukan dengan memperhatikan lingkungan membawa banyak manfaat. Hewan yang dirawat di lingkungan sehat akan menghasilkan daging berkualitas, sehingga ibadah kurban menjadi maksimal sebagai bentuk hubungan yang baik dengan Allah (hablumminallah). Daging yang berkualitas kemudian dibagikan kepada sesama. Sehingga dapat mempererat hubungan sosial dan rasa kepedulian antar manusia (hablumminannas). Selain itu, dengan mengelola limbah kurban dengan benar dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dapat meningkatkan hubungan manusia dengan alam (hablumminal alam) untuk menjaga kelestarian alam dari pencemaran dan kerusakan.

Oleh karenanya, tradisi kurban dengan memperhatikan sisi ekologis harus kita rawat setiap tahunnya. Hal tersebut berguna agar kurban yang dilakukan dapat berkelanjutan dan tidak membawa kerusakan bagi lingkungan. Kurban berkelanjutan mendorong kita untuk lebih bijak dalam memilih hewan, mengelola proses penyembelihan, serta mengurangi dampak negatif terhadap alam melalui pengelolaan limbah dan penggunaan bahan ramah lingkungan. Jika dilakukan secara konsisten, kurban yang ramah lingkungan dapat menjadi upaya penyelamatan alam, sekaligus memperkuat nilai-nilai keberlanjutan dalam praktik baik keagamaan.

Menjadi Manusia Otentik di Hari Raya

Ramadan telah pergi meninggalkan kita. Idulfitri tiba disambut dengan suka cita. Salah satu hikmah dari pendidikan Allah selama bulan puasa kemarin adalah agar melahirkan insan-insan yang kembali pada fitrah. Dalam Al-Quran Surat Ar-Rum ayat 30, Allah Swt menggunakan kata fitrah sebagai berikut:

Maka, hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam sesuai) fitrah (dari) Allah yang telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah (tersebut). Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Seorang mufasir modern, Imam Thahir Ibn ‘Asyur dalam kitabnya “At-Tahrir wat Tanwir” memaknai kata fitrah pada ayat tersebut bermakna unsur-unsur dan sistem yang Allah anugerahkan kepada setiap makhluk berupa jasad dan akal. Dengan potensi itu, manusia mampu membedakan ciptaan Allah dan mengenal syariat-Nya.

Berdasarkan uraian tersebut, fitrah dapat dipahami sebagai upaya kembali mengenali jati diri yang otentik. Terlebih di era modern saat ini, sering kali kita menampilkan diri yang palsu, penuh kosmetik. Kita berbohong terhadap diri ini hanya agar dipandang baik oleh orang lain di stori whatsapp, instagram, tiktok, dan sebagainya.

Dengan kembali menyelami fitrah kemanusiaan, kita akan terkoneksi dengan kehidupan Sang Pencipta yang mengatur semesta. Terlebih momentum Idulfitri tahun ini bertepatan dengan hari raya Nyepi bagi umat Hindu dan menyongsong Paskah untuk umat Kristiani. Semua ibadah tersebut mengajak umat beragama untuk mengambil jeda waktu sejenak untuk menghayati fitrah kehidupan ini.

Fitrah itu ibarat jaringan seluler atau wifi dan jasad manusia itu ibarat telepon seluler. Jika telepon seluler terkoneksi dengan jaringan, maka gawai dapat berfungsi dengan baik. Sebaliknya jika tidak terhubung, maka ponsel sebatas fisik yang tak berarti lagi. Begitulah perumpamaan kita sebagai manusia yang menghidupkan fitrah kemanusiaan.

Melalui momentum komunal umat beragama ini, setidaknya ada tiga koneksi jaringan yang perlu kita pulihkan. Pertama, habl min Allah, relasi dengan Sang Pencipta. Selama bulan puasa kemarin, kita dididik oleh Allah untuk memperbaiki hubungan dengan-Nya.

Sayangnya, pasca-Ramadan kita justru menjauh dari Sang Pencipta. Selama bulan puasa kemarin, kita digembleng oleh Allah untuk mendekat kepada-Nya. Dengan senantiasa berupaya mendekatkan diri dan merasa diawasi oleh Allah, akan lahir semangat untuk menjauhi sifat-sifat tercela seperti mencuri, korupsi, mengadu domba, menebar berita hoax, dan sebagainya.

Selain relasi dengan Tuhan yang perlu diperbaiki, relasi kedua adalah hubungan dengan sesama manusia (habl min al-nas). Hal ini juga sama pentingnya dengan membangun hubungan dengan Allah Swt. Sebab mereka yang mendekat dan menjalankan tuntunan Ilahi, akan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan pula.

Karenanya ibadah-ibadah yang dilakukan selama Ramadan kemarin, selain meningkatkan keimanan personal, seharusnya juga mengasah kepekaan sosial. Bukankah dengan beribadah puasa, kita dapat merasakan betapa susahnya orang-orang miskin dan tak berdaya hidup di tengah kelaparan dan ketimpangan ekonomi. Bukankah dengan mengeluarkan zakat, infak dan sedekah, kita dilatih untuk tidak pelit dan sadar bahwa harta yang dimiliki adalah titipan dan harus dikeluarkan sesuai dengan tuntunan agama.

Setelah memperbaiki relasi kita dengan Pencipta dan sesama manusia, maka hubungan yang ketiga adalah konektivitas kita dengan alam raya (habl min al-‘alam). Tanpa kita sadari, sebenarnya sebagai manusia kita punya keterikatan dan keterhubungan dengan alam. Sejarah nenek moyang kita memperlihatkan bagaimana mereka dapat hidup selaras dengan alam sebagai petani, nelayan, dan pemburu. Mereka hidup dari alam karena mereka menjaga alam.

Selain itu, jika kita bedah, tubuh kita juga diciptakan dari unsur yang ada di alam raya, yaitu tanah untuk Nabi Adam a.s. sedangkan anak cucunya diciptakan dari saripati tanah, berupa zat-zat makanan yang kemudian menjadi darah. Maka kehadiran alam raya sangat penting bagi kelangsungan manusia.

Tanah yang selalu diinjak tapi dari tanah pula tumbuh dan lahir kehidupan. Karenanya kembali ke fitrah dapat dimaknai pula dengan memahami falsafah tanah yang menjadi bahan dasar penciptaan manusia. Sebagai manusia tak perlu sombong karena kita berasal dari sesuatu yang rendah bahkan hina. Tetapi yang penting adalah bagaimana manusia yang biasa ini menjadi manusia yang luar biasa, layaknya tanah yang menumbuhkan kehidupan, manusia dapat menebar manfaat dan maslahat sebanyak-banyaknya, khairun naas, anfa’uhum lin naas. Spirit menebar kemanfaatan inilah yang tersirat dari sabda Nabi Saw berikut:

“Jika terjadi hari kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah tunas, maka jika ia mampu sebelum terjadi hari kiamat untuk menanamnya maka tanamlah.” (HR. Bukhari & Ahmad)

Relasi dengan alam ini perlu untuk kita renungkan kembali di momentum Idulfitri ini. Sebab manusia sebagai khalifah fil ardh, ditugaskan untuk mengelola alam raya, bukan justru merusaknya.

Selain menjaga alam raya dari kerusakan, langkah nyata memulihkan hubungan dengan alam yang dapat kita lakukan menyambut Idulfitri ini adalah berhari raya dengan penuh kesederhanaan. Sederhana di sini bukan berarti kita dilarang bersuka cita, bergembira dan menikmati makanan yang lezat. Ajaran agama jelas, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.

Dengan demikian, pahamlah kita makna sejati ber-idulfitri. Bahwa Idulfitri adalah semangat memulihkan dan merawat fitrah kemanusiaan yang sudah ditempa selama satu bulan, dan diteruskan pada bulan-bulan berikutnya. Fitrah kemanusiaan yang dimaksud adalah dengan merekatkan habl min Allah, habl min al-nas dan habl min al-‘alam. Wallahu a’lam.

Merebut Tafsir: Mudik di Era Normal Baru

Oleh: Lies Marcoes-Natsir, M.A.

 

TAK disangka, mudik untuk berlebaran di kampung sebagai ciri masyarakat Indonesia bisa terhenti serempak gara-gara pandemi Covid-19.

Syukurlah Lebaran tahun ini, virus mulai jinak. Sebagian warga kota, atas izin pemerintah, diperkirakan akan mudik Lebaran.

Penting untuk mengamati fenomena mudik pada masa normal baru (new normal) ini, baik bagi pemudik maupun situasi di udik, di kampung halaman. Apa yang masih tetap sama dan berubah setelah dua kali Lebaran desa tak dibanjiri para pemudik?

Meskipun orang yang tinggal di kota punya udik (kampung), sebetulnya tak setiap waktu mereka bisa pulang kampung. Karena itu, meski Covid-19 sudah berkurang, desa seperti memiliki pintu imajinatif yang tak begitu saja bisa buka tutup setiap waktu.

Pintu itu seperti punya jadwal kapan dibuka dan mempersilakan orang kota memasuki desa dengan sambutan bak tamu agung dan kapan tertutup sehingga orang hanya bisa masuk secara menyelinap. Mereka yang pulang di luar jadwal mungkin akan dianggap pulang tak diundang.

Untuk pulang kampung, orang butuh alasan: menengok orangtua jika dikabarkan sakit, membawa anak liburan, ada hajatan atau kumpul keluarga (belakangan disebut reuni), atau untuk mudik Lebaran.

Pintu rumah orangtua di kampung tentu selalu terbuka bagi anak cucu yang tinggal di kota untuk pulang di luar waktu-waktu yang telah dimaklumi. Namun, orangtua butuh alasan untuk tetangga dan kerabat jika ada anak-cucunya datang tiba-tiba di luar waktu yang biasanya atau tanpa faktor ”pemanggil”, seperti ada kerabat sakit atau meninggal.

 

Tetirah

Pulang tanpa alasan hanya akan membuat tetangga bertanya-tanya. Gerangan kabar baik apa yang dibawa dari kota? Naik pangkat? Mau mantu? Beli tanah? Mau naik haji? Atau adakah kabar penting lain? Untunglah dalam kosakata Indonesia, terutama Jawa/Sunda, ada satu istilah yang semua orang di kampung akan memaklumi, ”tetirah”.

Tetirah adalah istilah psikologis untuk istirahat pikiran. Kata itu tampaknya begitu sakti. Orangtua di kampung dan orang yang pulang tanpa alasan segera mendapatkan alasan mengapa seseorang pulang kampung di luar agenda.

Tanpa istilah itu, tatkala orang dari kota pulang bukan pada jadwalnya akan memunculkan tanda tanya atau bisik- bisik. Mengapa pulang? Ketidakjelasan alasan pulang itu membuat kedua pihak, orangtua dan anak yang pulang, merasa tak nyaman. Orang mungkin menerka-nerka apakah telah menjadi petarung yang kalah berjuang di kota?

Tetirah adalah sebuah istilah medis tradisional untuk menunjuk kepada situasi di mana orang membutuhkan waktu untuk istirahat lahir batin dengan cara mengungsi atau mengasingkan diri dari tempat biasanya seseorang itu tinggal. Dalam bahasa agama itu disebut uzlah atau hijrah. Tetirah biasanya disandangkan kepada orang yang sedang dalam proses penyembuhan, baik akibat sakit pisik, mental, maupun sakit pikiran/batin.

Mudik juga sering dijadikan alasan bagi orang kota untuk tetirah secara periodik. Orang menarasikan Idul Fitri sebagai momentum ”kembali ke titik nol”. Secara sosiologis, mudik juga kerap diartikan sebagai momentum memperlihatkan hasil kerja keras di rantau. Karena itu, ini momentum bagi dua pihak untuk ”pamer” tentang sukses di rantau.

Apa pun keadaan kehidupan di kota, orangtua di kampung harus siap menyambut mereka. Sebuah sikap yang harus menerima anak-anaknya pulang dari pertempuran di kota dengan menyediakan perbekalan lahir batin. Sebagian perantau di kota tentu ada yang tercatat sebagai orang sukses dan karena itu akan berperan sebagai kasir keluarga yang juga menjadi kebanggaan keluarga.

Sebagian anggota keluarga yang lain akan sekadar menikmati kemewahan bernostalgia di kampung, disuguhi makan minum tidur gratis, dan hal-hal yang bisa men-charge kembali baterai mental untuk dibawa kembali ke kota setelah festival Lebaran usai.

 

Kesiapan Desa

Wacana larangan mudik guna memutus penularan virus Covid-19 telah semakin longgar. Masalahnya, sudahkah kita menimbang seberapa sanggup desa menyangga kedatangan orang dari kota, sementara desa sendiri tidak imun dari Covid-19. Bahkan lebih berat lagi karena di desa upaya pencegahan penyebaran virus pada kenyataannya lebih sulit jika warga umumnya menolak ”fakta” adanya Covid-19.

Selama dua tahun masa pandemi, saya pernah satu kali mengadakan kegiatan pelatihan pemberdayaan guru PAUD dengan mengambil tempat di wilayah perdesaan. Kala itu, setahun yang lalu virus Delta justru baru meningkat. Namun, para peserta menolak swab dan hanya mau menggunakan masker. Sementara itu, banyak mata menatap kami yang senantiasa menggunakan masker sebagai perilaku orang kota yang berlebihan.

Hal lain adalah soal pemulihan ekonomi keluarga. Tampaknya kita juga mesti menimbang keadaan ekonomi di kota yang belum sepenuhnya pulih akibat terdampak Covid-19. Sangat masuk akal jika orang kota butuh pulang ke desa untuk tetirah, sebab mereka hanya punya desa sebagai sanatorium sosial tempat mereka pulang dan tetirah setelah dihantam badai Covid-19.

Mungkin pemerintah pusat dan daerah perlu berunding bagaimana agar desa sanggup menyangga dirinya sendiri ketika banyak orang dari kota pulang dengan alasan mudik Lebaran dengan situasi mental dan batin kurang sehat. Mereka mungkin akan tinggal lebih lama sambil menunggu ekonomi di kota kembali pulih.

Mudik di era normal baru semoga mampu membangun kembali daya juang untuk hidup setelah babak belur dihantam makhluk mikroskopis Covid-19. Namun, tetirah atau pemulihan melalui Lebaran bukan hanya bagi mereka yang kelak akan balik lagi ke kota, melainkan juga bagi desa sendiri yang akan ditinggali sampah persoalan yang dibawa dari kota akibat Covid-19.

Selamat menikmati mudik!

 

Wabah Corona Geser Tradisi Pesakh dan Ramadan

Ketika umat Yahudi bersiap merayakan Pesakh berjarak, kaum muslim menantikan bulan Ramadan yang lain dari biasanya. Dewan fatwa Al-Azhar di Mesir mengaku menunggu arahan WHO sebelum menerbitkan fatwa soal ibadah Ramadan.

Suasana pasca ibadah salat Jumat di Masjid Istiqlal di tengah bulan Ramadan, 2019.

Suasana pasca ibadah salat Jumat di Masjid Istiqlal di tengah bulan Ramadan, 2019.

 

Pandemi corona menempatkan umat beragama di dunia dalam situasi limbung. Tiga perayaan penting Islam, Kristen dan Yahudi di awal tahun ini diyakini akan berlangsung senyap, tanpa interaksi sosial.

Ketika umat Kristen dan Yahudi bersiap merayakan Paskah secara berjarak, umat Islam menantikan datangnya bulan Ramadan dengan sikap was-was. Pasalnya wabah COVID-19 bisa berarti tertundanya ibadah puasa.

“Kami menunggu apa yang diputuskan Kementerian Kesehatan dan para dokter. Artinya kami juga menunggu keputusan WHO,“ kata Sekretaris Jendral Majelis Fatwa al-Azhar (Dar- al-Ifta), Syeikh Khaled Omran dalam sebuah laporan eksklusif stasiun berita Jerman, ARD.

Dar al-Ifta sudah menyiapkan ragam fatwa untuk menyesuaikan praktik ibadah di bulan Ramadan dengan arahan badan kesehatan dunia tersebut. Jika WHO menganjurkan orang tidak berpuasa lantaran bisa memperlemah sistem kekebalan tubuh, “maka umat harus membayar puasa yang tertinggal setelah krisis berlalu,” imbuh Syeikh Omran.

Meski berdampak baik untuk daya tahan tubuh dalam jangka panjang, puasa dikhawatirkan akan memperbesar peluang penularan dalam situasi wabah.

Di Indonesia, Abdul Moqsith Ghazali, Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU, menilai puasa tetap wajib, “kecuali uzur,” kata dia kepada DW. Pengecualian diberikan bagi pasien COVID-19, di luar pengecualian berpuasa pada umumnya.

Sejauh ini lembaga fatwa Nahdlatul Ulama itu belum memberikan arahan baru terkait kewajiban berpuasa. Lain halnya soal tradisi mudik yang kini dianjurkan untuk dibatalkan untuk meredam penyebaran wabah.

Arus mudik jelang lebaran tahun ini berpotensi menjadi pemandangan langka, menyusul himbauan agar tidak pulang ke kampung oleh pemerintah daerah.

Arus mudik jelang lebaran tahun ini berpotensi menjadi pemandangan langka, menyusul himbauan agar tidak pulang ke kampung oleh pemerintah daerah.

 

Sementara itu Kementerian Awqaf di Mesir yang bertanggungjawab atas semua institut keagamaan telah melarang praktik berbuka puasa bersama dan pembagian sedekah di area masjid.

“Kami mengimbau semua pihak yang biasa mengadakan acara berbuka puasa bersama agar memberikan makanan dan uang langsung kepada kaum miskin tahun ini,“ tulis kementerian dalam sebuah pernyataan.

Al-Azhar sendiri telah menerbitkan sederet panduan kebersihan untuk umat muslim selama bulan Ramadan, “kami meyakini tidak ada pemisahan antara agama dan ilmu pengetahuan. Penemuan sains kami anggap sebagai pesan Allah kepada umat manusia,” kata Omran.

“Kami melihat krisis ini sebagai ujian Ilahi. Kami yakin, Allah ingin mendorong seluruh umat manusia agar bekerjasama dan saling membantu,” pungkasnya.

Debat soal Pesakh Berjarak

Kelonggaran serupa diberikan oleh petinggi Yahudi di Israel untuk perayaan Pesakh yang jatuh antara 8 hingga 16 April mendatang. Wabah corona memaksa para Rabi mengabaikan aturan ketat pelaksanaan ritual dalam agama Yahudi dan mendorong agar umat merayakan Pesakh secara berjarak, lewat internet.

Israel saat ini mencatat sekitar 6.500 kasus COVID-19 dan melarang penduduk keluar dari rumah kecuali untuk keperluan mendesak.

Perayaan Serder, atau ritual makan malam Pesakh di Israel.

Perayaan Serder, atau ritual makan malam Pesakh di Israel.

Seorang pengusaha lokal bahkan menyumbangkan 10.000 komputer kepada kaum manula agar mereka bisa merayakan Seder bersama keluarga lewat sambungan video. Seder adalah ritual makan malam bersama pada hari-hari Pesakh.

Namun tidak semua bahagia atas kelonggaran baru di tengah wabah corona. Pemimpin dua komunitas Yahudi Ortodoks terbesar, Ashkenazin dan Sephardim, menolak perayaan Pesakh lewat sambungan video.

“Rasa kesepian itu menyakitkan dan kita harus bereaksi terhadapnya, mungkin dengan melakukan percakapan video pada malam sebelumnya, tapi bukan pada hari rayanya sendiri,“ tulis pemimpin kedua komunitas, David Lau dan Yitzhak Yosef dalam sebuah keterangan pers yang dilansir AFP.

Seorang pakar gerakan ortodoks Yahudi di Bar Ilan University, Kimmy Caplan, mengatakan sikap keras para rabi yang enggan menerima perubahan terkait wabah Corona tidak mengejutkan.

“Secara umum, sikap kaum Ortodoks dalam banyak isu adalah bahwa kita tidak beradaptasi pada perubahan sosial, jika bertentangan dengan perintah agama,“ kata dia. Para rabi, lanjutnya, “tidak mengubah hukum lantaran situasi sosial.“

Contoh terbaik adalah penggunaan kendaraan bermotor dalam perayaan Sabat yang diizinkan oleh banyak rabi Yahudi, kecuali mereka yang beraliran ortodoks, kata Caplan lagi.

rzn/vlz (ARD, AFP, RTR, AP)

 

Sumber: https://www.dw.com/id/wabah-corona-geser-tradisi-pesakhdan-ramadan/a-53027003?fbclid=IwAR24EJstEgiuepoXSJWb9Bb9MxZ7nAxRO6W-bWKqHO_Rywy2mAaOUaThOXA

 

 

WINNETOU DAN OLD SHATTERHAND DI KAMPUNG KAUMAN

Oleh Prof. Dr. Zubairi Djoerban, MA.

[Profesor Ahli Penyakit Dalam]

 

“Puasa bagi saya adalah masa untuk “pulang” kepada kehangatan keluarga dan kemeriahan masjid, dengan kedua orangtua, terutama ibu, sebagai subyek utama. Puasa tak akan mungkin sama tanpa kehadiran sosok beliau berdua. Dan saya kira mereka yang pernah berpredikat anak pasti akan menyetujuinya. Ibulah yang pertama kali mengenalkan saya pada puasa dan rutinitasnya yang berbeda dengan hari-hari biasa: sahur, buka puasa, tarawih, dan shalat berjamaah. Ketika kami harus bangun sahur padahal mata tengah rapat-rapatnya terpejam, ibulah yang menguatkan. Juga pada waktu-waktu krusial di siang hari ibulah yang menjadi penenteram bagi anak-anaknya melalui jam-jam sulit tersebut.”

 

 

Lahir di sebuah keluarga Kauman, Yogyakarta, yang terkenal sebagai lingkungan santri, tidak dengan sendirinya membuat puasa saya berbeda—dalam pengertian lebih bagus dan khusyuk—daripada puasa anak-anak yang lahir di keluarga abangan. Seingat saya, memang selama puasa saya tidak pernah berbohong seperti berlama-lama di kamar mandi supaya bisa mereguk sedikit air ketika berwudhu di siang yang terik, atau sembunyi-sembunyi jajan dan berpura-pura puasa penuh sesudahnya. Berbohong dan berkelahi adalah hal yang dilarang keras oleh kedua orangtua saya, pasangan Bapak Djoerban Wachid dan Ibu Buchaeroh.  Meski demikian puasa bagi kami tetap saja menyediakan “petualangan” seru yang tidak akan terlupakan sampai kami dewasa.

Puasa bagi saya adalah masa untuk “pulang” kepada kehangatan keluarga dan kemeriahan masjid, dengan kedua orangtua, terutama ibu, sebagai subyek utama. Puasa tak akan mungkin sama tanpa kehadiran sosok beliau berdua. Dan saya kira mereka yang pernah berpredikat anak pasti akan menyetujuinya. Ibulah yang pertama kali mengenalkan saya pada puasa dan rutinitasnya yang berbeda dengan hari-hari biasa: sahur, buka puasa, tarawih, dan shalat berjamaah. Ketika kami harus bangun sahur padahal mata tengah rapat-rapatnya terpejam, ibulah yang menguatkan. Juga pada waktu-waktu krusial di siang hari ibulah yang menjadi penenteram bagi anak-anaknya melalui jam-jam sulit tersebut. Biasanya ibu akan menjanjikan makanan pembuka puasa yang unik, lezat, dan tentu saja memulihkan kembali kesegaran dan menghapus kepenatan akibat menahan makan dan (terutama) minum seharian.

Di keluarga kami yang bisa dibilang sederhana, makan berlauk ayam adalah sesuatu yang mewah ketika itu. Tidak saban hari kami bisa menemukan ayam di atas meja makan. Tetapi pada saat puasa, ayam goreng cukup sering menghiasi saat-saat berbuka dan sahur. Saya tidak tahu bagaimana persisnya, namun saya yakin ada budget khusus yang disiapkan bapak dan ibu untuk bisa menghadirkan masakan-masakan istimewa bagi kelima putra-putrinya di bulan yang juga istimewa tersebut. Diam-diam saya kerap terharu mengenang upaya mereka membuat anak-anaknya mencintai puasa dan segala ibadah di bulan Ramadhan.

Untuk saya, kuliner masa kecil yang tak tergantikan adalah ayam brambang–salam buatan ibu. sungguh itu adalah hidangan paling istimewa. Masakan itu sangat sederhana: ayam direbus dengan banyak bawang merah dan daun salam, tentu saja ditambah garam dan sedikit macam bumbu lainnya. Mungkin cinta ibu yang terbawa dalam masakan itulah yang membuat masakan sederhana itu sungguh terasa istimewa. Bahkan bukan cuma itu. Kelak, ketika saya dewasa pun, masakan ayam brambang-salam ini juga tetap menemani dan punya daya sembuh yang ajaib pada saat kondisi tubuh sedang turun. Meskipun profesi saya saat ini adalah dokter, namun ketika sakit masakan ibu yang satu inilah obat saya yang sesungguhnya.

Masakan lainnya yang tak kalah “memorable”-nya adalah tempe goreng dan sambal bawang. Memang di hari-hari biasapun masakan ini cukup sering hadir di meja makan—karena harganya yang terjangkau untuk ukuran keluarga seorang guru beranak lima. Namun entah kenapa juga setiap kali mengingat puasa di masa kecil, saya selalu menyebut tempe dan sambal bawang buatan ibu sebagai salah satu pernik indah dari masa lalu.

Begitu sederhananya kehidupan kami, sehingga sebagai anak-anak kami tak banyak mendapatkan uang jajan. Padahal di Kauman, sejak dulu sampai sekarang, aneka penganan dijual orang setiap sore di bulan puasa. Sayangnya uang pemberian Bapak dan Ibu hanya cukup untuk membeli tempe gembus dan kangkung rebus. Selebihnya saya hanya mampu merasakannya dalam angan-angan.

Salah satu keinginan saya ketika kecil dulu adalah jajan lele goreng. Tampak garing dan gurih sekali. Namun, ya itu tadi, tak pernah cukup uang jajan saya untuk membelinya. Baru setelah dewasa, setelah kuliah di Fakultas Kedokteran UI dan mulai bisa menyisihkan uang, saya bisa membeli lele sendiri. Rasanya, ya begitulah. Tapi cukuplah untuk menuntaskan rasa penasaran yang menggunung sejak masa kanak-kanak.

 

Tarawih di Kauman

Saya adalah sulung dari lima bersaudara—dua laki-laki dan tiga perempuan—yang lahir pada tahun 1947 di Kauman, Yogyakarta. Wilayah ini yang sangat erat terkait dengan perkembangan organisasi Islam, Muhammadiyah. Entah karena posisi sulung itu, atau karena dulu Ibunda saya mengalami kesulitan yang luar biasa pada saat hendak melahirkan saya karena posisi janin yang sungsang, ada hak-hak istimewa tertentu yang saya nikmati sebagai anak sulung. Mulai dari yang sederhana, sampai kesempatan untuk bersekolah di fakultas yang membutuhkan biaya lumayan untuk kondisi ekonomi yang berat waktu itu. Sebenarnya, sekedar cerita tambahan, biaya kuliah di FKUI mulai tahun 1965 sampai saya lulus sebagai dokter umum tahun 1971 cukup murah. Tapi tetap saja memerlukan uang transport untuk naik bus atau “tavip”—kendaraan umum yang tempat duduknya adalah bangku panjang dari kayu—dari Tebet ke Pasar Rumput. Untuk menghemat, tidak jarang saya berjalan kaki dari Pasar Rumput ke kampus di Salemba sambil menenteng rantang berisi bekal makan siang yang disiapkan ibunda.

Juga, ketika nilai di sekolah tidak terlalu cemerlang pada tahun-tahun tertentu, saya tidak ingat pernah mendapat peringatan dari Bapak ataupun Ibu. Saya, misalnya, pernah tidak naik kelas sewaktu SR kelas tiga…untung alasannya selalu ada: karena saya masuk SD pada usia 5 tahun. Barangkali juga karena itu saya cenderung santai dan tidak tegang menghadapi nilai anak-anak saya di sekolah. Ada banyak hal di luar nilai pelajaran yang lebih penting untuk menjalani hidup dengan baik: empati, simpati, kepekaan terhadap penderitaan orang lain, kemurahhatian, keberanian menghadapi risiko, keyakinan kepada Tuhan, dan sebagainya. Kebanyakan orang yang berhasil dalam hidupnya, menurut saya, lebih mengandalkan pada hal-hal tersebut dibanding nilai di sekolah.

Dan puasa, sungguh merupakan “madrasah ruhani” yang istimewa. Selain makanan yang istimewa, satu hal yang tak pernah akan saya lupakan dari puasa di masa kanak-kanak adalah shalat Tarawih yang biasanya diadakan di Sekolah Rakyat (SR) Muhammadiyah Ngupasan, Yogyakarta, atau di pelataran Masjid Gede, Kauman. Shalatnya mungkin biasa-biasa saja—artinya ada juga kenakalan-kenakalan khas anak-anak seperti mengganggu teman-temannya yang berusaha shalat khusyuk dan tentu saja membuat kesal guru-guru atau marbot masjid. Tapi yang sungguh istimewa adalah kisah-kisah “Winnetou dan Old Shatterhand” yang dibawakan dengan sangat hidup oleh seorang kakak senior di lingkungan kami setelah shalat Tarawih usai. Ya, dibawakan. Bukan dibacakan. Kakak senior itu “hafal mati” seluruh kisah sosok rekaan Karl May (1842-1912), pengarang Jerman yang lahir hampir seratus tahun sebelum saya lahir. Dan cara ia menceritakan kisah-kisah petulangan Winnetou itu sungguh hebat, membuat kami yang masih kecil-kecil “tersihir” karenanya. Ada saatnya kami tertawa mendengar bagian-bagian yang lucu, tercekam mendengar pertempuran-pertempuran dahsyat yang melibatkan kedua sahabat tersebut, atau menitikkan air mata—yang dengan sembunyi-sembunyi kami seka dengan kain sarung—pada bagian ketika Winnetou akhirnya gugur dalam pertempuran penghabisannya.

Belakangan kita semua mendengar bahwa Karl May—yang sebelumnya diyakini mengalami sendiri kisah heroik ini dan menjelmakan diri sebagai tokoh Old Shatterhand, sahabat setia Winnetou—ternyata tidak pernah benar-benar hadir di padang savanna Amerika Utara. Alih-alih, ia menuliskan kisah epik tersebut dari balik penjara. Banyak orang lalu menuduhnya berbohong. Namun itu semua tidak mengurangi kekaguman saya kepada sosok Winnetou dan sahabat “kulit pucat”nya itu. Serial Winnetou—lebih dari serial petualangan Kara Ben Nemsi yang ditulis Karl May belakangan—menyimpan banyak hikmah mengenai persahabatan, kesetiaan, keberanian dan pembelaan terhadap kelompok pribumi yang tersingkirkan oleh kekuatan kolonial. Juga kehidupan sederhana yang dekat dengan alam. Indah, inspiratif, dan menggugah.

Ritual puasa seperti shalat Tarawih, mendaras al-Qur`an bersama ibu setiap usai shalat Shubuh dan Maghrib, untuk saya sama pentingnya dengan kisah-kisah Winnetou yang didongengkan kepada kami—kanak-kanak di Kauman pada tahun 1950-an. Tak ada orangtua yang keberatan anak-anaknya mendengar kisah yang ditulis oleh seorang “kafir” pada bulan yang begitu disakralkan oleh umat Muslim di seluruh dunia dari zaman ke zaman, sejak masa Rasulullah saw.

Kembali tentang puasa, khususnya mengaji, saya tak akan lupa pada almarhum Bapak Achyat, kepala sekolah di SR Ngupasan. Beliau ini sungguh piawai memotivasi murid-muridnya, sehingga rata-rata kami sudah hafal seluruh surat dalam Juz ‘Amma sebelum tamat SR. Pak Achyat memang guru yang istimewa. Tak hanya pandai mengaji, ia juga mengambil hati kami dengan keahliannya melakukan senam akrobatik. Barangkali karena beliaulah, antara lain, saya juga jadi menyukai olahraga. Silat, karate, badminton, renang, sampai yoga Asanas dan Pranayama yang tuntas saya kuasai secara otodidak. Buku-buku mengenai yoga saya dapatkan dari Gunung Agung, setelah menyisihkan uang saku yang terbatas.

 

Masjid: Pusaran Kegiatan

Puasa pada masa kanak-kanak adalah juga kesempatan untuk kembali membangun kedekatan dengan masjid. Rutinitas sebagai dokter dan dosen di Fakultas Kedokteran UI, terus terang, tidak banyak menyisakan waktu untuk dekat dengan masjid kecuali sesekali saja. Termasuk pada hari Jum’at. Namun puasa, masjid tetap menjadi magnet yang menarik saya untuk datang terutama pada 10 hari terakhir.

I’tikaf sudah saya jalani sejak kecil. Dalam ingatan awal saya, Masjid Gede Kauman sejak dulu selalu penuh dengan orang yang datang untuk beri’tikaf terutama pada hari-hari terakhir Ramadhan. Untuk saya, kebiasaan untuk beri’tikaf terbangun karena ajakan seorang bulik—adik Ibu—yang waktu itu punya hajat penting: segera lulus dari sebagai sarjana hukum. Awalnya sih, sebagai anak-anak, saya hanya ikut-ikutan saja, tetapi lalu berkembang menjadi ritual yang hampir tak bisa saya tinggalkan sampai sekarang. Akan ada yang terasa kurang jika 10 hari terakhir Ramadhan tidak diisi dengan tinggal di masjid pada malam hari, meski hanya untuk beberapa jam saja dan kadang tidak bisa sepuluh hari penuh menjalaninya.

Karena itu sebenarnya saya sempat agak kaget ketika keluarga kami pindah ke Jakarta tahun 1965 hanya sedikit orang yang melakukan i’tikaf. Sepanjang yang saya tahu, tidak ada masjid yang mengadakan acara i’tikaf pada tahun-tahun itu. Beberapa masjid bahkan ditutup setelah shalat Tarawih dan baru dibuka menjelang adzan Shubuh. Tetapi 10 tahun terakhir—atau mungkin sejak dekade 1990-an—kondisinya sudah berbeda. Banyak masjid menyelenggarakan i’tikaf secara berjamaah. Di masjid Sunda Kelapa bahkan presentasi muballigh dilakukan dengan memanfaatkan teknologi komputer dan program powerpoint. Masjid di Tebet, di sekitar tempat tinggal saya sekarang, menggelar acara Khatmil Qur`an. Bersama anak lelaki dan tetangga dekat saya sering mencoba masjid-masjid lain untuk beri’tikaf, termasuk masjid di RSCM tempat saya bekerja hingga saat ini.

Ramadhan seperti memasuki babak baru seiring dengan pertumbuhan gairah orang dalam beragama. Sungguh menyenangkan, meskipun kadang-kadang saya merasa kangen dengan i’tikaf yang senyap dan tenang, ketika setiap orang tenggelam dalam doa dan perenungannya masing-masing. Tetapi zaman akan terus berubah, dan setiap generasi akan menghayati dan menjalankan ajaran Islam dengan cara yang berbeda pula, meskipun universalitas inti ajarannya akan tetap, melintasi ruang dan waktu.  Itu pelajaran yang harus saya ingat.

Masih mengenai masjid dan puasa, kenangan yang tak akang lekang dalam ingatan saya adalah belajar mengaji di masjid Syuhada, salah satu masjid terbesar dan tertua di Yogyakarta. Di tempat ini saya sempat belajar tilawah. Yang saya ingat ayat yang dibaca untuk tilawah adalah beberapa ayat terakhir dari surat al-Hasyr yang berisi al-asmâ` al-husnâ.

Saya sangat bersyukur bahwa orangtua saya mengajak dan mendekatkan masa kanak-kanak saya dengan masjid. Buat saya itu sangat penting. Kemampuan membaca al-Qur`an dan menghafal beberapa bagiannya, tak bisa dilepaskan dari keterlibatan saya di masjid. Harus diakui bahwa waktu mengaji saya sekarang tak sebanyak di waktu kecil dulu. Namun untunglah sekarang ada banyak bantuan teknologi yang memudahkan saya menyimak ayat-ayat suci al-Qur`an di manapun saya berada.

 

Libur Berkelahi

Saya kira untuk anak-anak angkatan saya, puasa identik dengan liburan. Selain memang sekolah diliburkan sebulan penuh, kami juga melakukan berbagai kegiatan yang berbeda dengan rutinitas di 11 bulan lainnya. Hingga usia tertentu, sakralitas Ramadhan hanya hadir sebatas ritual shalat Tarawih dan tadarus. Lainnya, anak-anak tetap “mengamalkan” kenakalan-kenakalan belianya.

Tapi bagaimanapun bandelnya saya, ketika puasa saya benar-benar libur berkelahi. Ya, orangtua saya memang agak keras dalam hal ini. Dilarangnya kami berkelahi, apapun alasannya. Padahal sebagai anak lelaki, saya kira wajar jika sekali atau dua kali saya ingin menunjukkan aspek jagoan dalam diri saya dengan mengajak duel anak lain yang menjadi musuh ketika itu. Duel, bukan berkelahi keroyokan yang menurut saya agak memalukan.

Saya cerita sedikit tentang pengalaman saya mengajak duel salah seorang teman masa kecil, meskipun ini tidak terjadi di bulan Ramadhan. Suatu hari, karena urusan yang saya sudah lupa pasalnya sekarang, saya ditantang duel oleh seorang teman. Kami berjanji untuk bertemu di tempat tertentu, di waktu tertentu. Tentunya yang orangtua kami tidak tahu.

Sebelum waktu yang ditentukan tiba saya sudah sampai di lokasi. Semakin dekat waktu yang ditentukan, jantung saya semakin berdebur kencang membayangkan jurus-jurus yang akan saya keluarkan. Waktu itu usia saya sekitar 10 tahun, dan belum tahu apa-apa mengenai silat, apalagi karate. Akhirnya, lawan saya datang. Dari kejauhan saya sudah melihat bayangannya, tetapi dia datang berdua! Celaka tiga belas. Bagaimana melawannya? Tetapi baiklah, saya akan hadapi, bisik hati saya. Akan sangat memalukan jika saya mengambil langkah seribu sebelum bertarung.

Tapi, ketika sampai di lokasi dan melihat saya, lawan saya dan kawannya yang bertubuh tinggi besar itu hanya menatap kepada saya. Sejenak saling memelototi, dan setelah itu mereka berlalu dari tempat itu. Sudah, begitu saja. Tidak ada kata-kata yang diucapkan. Tidak ada jurus yang dikeluarkan. Semuanya berakhir anti klimaks. Agak kecewa juga karena saya tak sempat unjuk kebolehan. Tapi selebihnya sebenarnya saya lega juga.

Kali lain, saya juga punya seorang musuh lain. Seorang anak lelaki tetangga dan teman sekolah. Suatu kali menjelang maghrib, dari jauh saya lihat anak itu berlari ke arah saya. Perasaan bermusuhan membuat saya memutuskan untuk menuntaskan kekesalan terhadapnya. Buru-buru saya bersembunyi. Begitu ia dekat, saya julurkan salah satu kaki untuk menjegalnya. Bleekk … jatuh tersungkur dia dengan telaknya. Anak laki-laki itu kontan menangis menggerung-gerung. Waah, ternyata dia bukan anak yang saya incar!! Gawat. Saya ketakutan dan segera memutuskan untuk mengambil langkah seribu menghindari konsekuensi diomeli orangtua anak itu. Sampai sekarang saya masih sering teringat rincian peristiwa tersebut dan merasa bersalah berkepanjangan karenanya.

Menengok kembali masa lalu, saya tahu orangtua saya sudah melakukan yang terbaik untuk mendidik anak-anaknya. Semasa SMP, sepulang sekolah atau tepatnya setelah magrib sampai jam 21.00 saya disekolahkan di sekolah agama di tingkat Wustha atau setara dengan Tsanawiyah, selama 3 tahun penuh. Saya sangat bersyukur karenanya. Juga bersyukur karena dulu saya mematuhi larangan mereka berkelahi di bulan puasa.

Ramadhan dan lebaran untuk anak-anak adalah juga permainan. Dan permainan yang paling saya kuasai selain berbagai jenis olah raga adalah layangan. Sampai sekarang pun rasanya saya berani bertanding membuat layang-layang. Meraut buluh bambu, memilih kertas yang tipis (biasanya kertas tipis bekas, seperti kertas karbon yang digunakan untuk menggandakan tulisan dengan mesin ketik), hingga membuat benang gelasan dari plentong (bohlam) yang digerus halus, semuanya saya kuasai dengan baik. Ngundo (mengejar) layangan, apalagi. Dan tempat favorit saya untuk mengadu layangan adalah loteng, baik loteng di rumah Mbah Wachid, kakek dari Bapak di Ngindungan, Kauman Timur, maupun loteng rumah Mbah Djufri, kakek dari Ibu di Kauman Utara. Pilihan ngundo layangan kedua adalah Alun-Alun Lor (utara) sebuah lapangan yang amat luas di sebelah timur Kauman.

Namun gara-gara kegilaan pada layangan ini pula pembuluh darah vena di kaki kanan saya pernah teriris benang gelasan. Darah mengalir kencang dari nadi yang terpotong. Ngerinya, dan juga bekasnya, tertinggal hingga sekarang. Bekas luka di kaki dan di kening akibat terkena peluru plintheng (ketapel)—tentu saja saya tak pernah mengaku kena plintheng, hanya bilang “ketotol gagak” (dipatuk burung gagak) kepada bapak dan ibu—adalah “piagam” yang akan terus mengukirkan kenangan indah masa kecil di benak saya.

 

Lebaran di Kauman

Lebaran tentu saja adalah puncak dari “madrasah ruhani” yang sudah ditapaki oleh setiap Muslim yang bersungguh-sungguh. Kegembiraan pada hari lebaran adalah kegembiraan mereka yang mengalami pembaruan pribadi setelah menunaikan pelatihan keras selama sebulan.

Bagi anak-anak, lebaran tentu bermakna kesenangan yang berbeda lagi dari kesenangan selama puasa. Bukan hanya banyak makanan enak-enak dan baju baru, tapi juga uang saku yang bebas kami belanjakan apa saja. Bapak dan ibu akan mengajak kami keliling kampung Kauman. Senang sekali menyadari bahwa masih ada pertalian darah di antara orang sekampung. Lebih senang lagi karena hampir dari setiap rumah kami mendapatkan uang beberapa talen yang bisa kami pakai membeli kembang gula.

Sekarang saya jadi kepikiran, jangan-jangan memberi uang kepada saya dan adik-adik mungkin juga menyenangkan si pemberi karena posisi kakek dan nenek kami yang lumayan terpandang di Kauman. Iya, Mbah Wachid kakung memang terpandang karena ilmunya, sementara Mbah Wachid putri terpandang karena beliau adalah keturunan pedagang yang lumayan sukses. Beliau berdua juga berbahasa Belanda sehari-hari. Kendati demikian beliau berdua hidup sederhana saja. Tetapi apapun alasannya, sekarang saya tahu bahwa tindakan memberi itu menyenangkan si pemberi jauh melebihi kegembiraan yang dialami si penerima.

Tahun 1965 keluarga kami pindah ke Jakarta. Kepindahan ke Jakarta itu pun terjadi pada bulan puasa, menambah daftar kenangan saya terhadap bulan puasa. Penghasilan Bapak sebagai guru dan dosen saat itu tidak mencukupi untuk bekal menghidupi kelima anak yang sudah beranjak besar. Sebagai pendidik, sekolah anak-anak adalah hal paling utama yang harus dikejar, diusahakan dan diperjuangkan, kalau perlu sampai titik darah penghabisan. Karena itulah tawaran untuk mengajar dan bekerja di Jakarta sebagai staf ahli Menteri Perindustrian waktu itu menjadi pilihan yang “wajib” diambil. Ketika itu kebetulan saya sudah lulus SMA dan diterima di Fakultas Kedokteran UI di Salemba.

Hari-hari menjelang kepindahan ke Jakarta, sedikit kilas balik, adalah hari-hari paling memprihatinkan buat keluarga kami dari segi ekonomi. Ayah sedang mengurus kepindahan kerja, sehingga beberapa kali harus ke Jakarta, sementara kami berlima kakak beradik bersama ibunda tinggal di rumah di Sendowo, Sekip (sekarang sudah menjadi salah satu lokasi di RS Sardjito), yang kami tinggali selama kurang lebih 3 tahun setelah pindah dari Kauman.

Saya dan adik-adik kerap membantu ekonomi keluarga dengan “bersih-bersih”. Bersama salah seorang adik beberapa kali boncengan naik sepeda menjual koran bekas ke pasar Beringhardjo. Kami amat bersyukur selama ini Bapak berlangganan lebih dari satu koran, jadi kami mempunyai banyak sekali stok koran bekas untuk dilego. Namun bagaimanapun puasa tetap saja sangat menyenangkan karena kebersamaan di antara kami: mulai dari sahur, buka puasa, tarawih, tadarus dan tentu saja membaca berbagai jenis buku—mulai dari wayang hingga kisah silat—dan tentu saja … bermain. Puasa tak berkurang istimewanya walaupun waktu itu saya sudah berusia 18 tahun dan duduk kelas tiga SMA, sementara adik-adik ada yang juga SMA, SMP dan SD.

Di Jakarta, puasa dan lebaran memasuki fase baru dengan dinamika dan kenangan yang berbeda. Namun puasa masa kecil—dan segenap pembelajaran yang mengendap dalam diri saya hingga saat ini—tak akan pernah pupus dari ingatan. Seperti kenangan saya terhadap almarhum dan almarhumah bapak dan ibu.

 

* Artikel ini termuat dalam buku Rumah KitaB yang diterbitkan oleh Mizan tahun 2013 berjudul “MOZAIK RAMADHAN DAN LEBARAN DI KAMPUNG HALAMAN [Menelusuri Jejak-jejak Tradisi Ramadhan dan Lebaran di Nusantara]”