Pos

Kurban Berkelanjutan: Upaya Bijak Merawat Alam

Selamat Iduladha! Hari raya Iduladha identik dengan ibadah kurban. Ibadah kurban menjadi peringatan perjalanan spiritual Nabi Ibrahim As yang bermimpi mengorbankan anaknya, Ismail atas perintah Allah. Saat akan dikorbankan, Allah menggantinya dengan seekor kambing. Hikmah  perjalanan spiritual Nabi Ibrahim As tersebut kemudian menjadi ibadah yang dilakukan oleh umat Muslim di seluruh dunia.

Dalam khutbah “Iduladha dan Eko-teologi: Pengorbanan untuk Keberlanjutan Alam” oleh Menteri Agama Prof. Nasaruddin Umar, beliau menjelaskan bahwa hikmah dalam berkurban yaitu upaya untuk melestarikan alam. Beliau menjelaskan bahwa berkurban adalah upaya menjaga jumlah hewan ternak agar tidak berlebihan. Jika hewan ternak terlalu banyak, bisa terjadi masalah lingkungan seperti rusaknya tanah, berkurangnya tanaman, dan tercemarnya air. Melalui ibadah kurban, jumlah hewan ternak bisa tetap seimbang.

Kurban di Indonesia

Di Indonesia, hewan yang dikurbankan biasanya berupa kambing, domba, kerbau atau sapi. Berbeda dengan kebiasaan di Timur Tengah yang kerap menjadikan unta sebagai pilihan lainnya saat berkurban. Hal tersebut disebabkan oleh perbedaan kondisi geografis Di wilayah Timur Tengah. Unta merupakan hewan yang lebih umum dijumpai dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Selain itu, unta juga mampu bertahan hidup di daerah gurun yang kering, sehingga lebih mudah dipelihara di sana. Sementara itu, di Indonesia, kondisi lingkungan yang lebih tropis membuat kambing, domba, dan sapi lebih mudah dipelihara dan tersedia dalam jumlah yang cukup.

Berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan 2023, estimasi jumlah konsumsi hewan kurban sebesar 1.743.051 ekor yang terdiri dari kambing, sapi, domba dan kerbau. Berdasarkan data tersebut, masih banyak orang menggunakan kantong plastik sekali pakai untuk membagikan daging kurban. Diperkirakan terdapat sekitar 119.033.720 lembar kantong plastik yang menjadi sampah.

Sangat disayangkan jika momen beribadah justru malah menimbulkan madharat yang juga berdampak besar kepada lingkungan. Terlebih, plastik sekali pakai membutuhkan berjuta-juta tahun untuk dapat terurai. Oleh karenanya, penting bagi seluruh umat Muslim untuk memperhatikan aspek ekologis dalam berkurban. Sehingga, proses ibadah dapat membawa kebermanfaatan yang lebih banyak baik bagi sesama manusia dan keberlanjutan alam.

Kurban dalam Perspektif Ekologis

Al-Qur’an dalam Surah Al-An’am ayat 38 yang memiliki arti: “Tidak ada seekor hewan pun (yang berada) di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan umat (juga) seperti kamu. Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam kitab, kemudian kepada Tuhannya mereka dikumpulkan.” Ayat tersebut menjelaskan bahwa semua makhluk hidup saling berhubungan dan saling membutuhkan. Allah menciptakan berbagai macam ekosistem yang membentuk alam semesta. Sebagai manusia, kita diberi tugas untuk menjaga dan menghormati semua bentuk kehidupan, terutama lingkungan dan alam.

Dengan demikian, setiap kehidupan yang ada di bumi merupakan bentuk penciptaan yang sempurna. Oleh karenanya, bukan perilaku yang bijaksana jika umat Islam merusak atau menghilangkan kehidupan yang ada. Apalagi melakukan ibadah, tetapi di sisi lain dapat menimbulkan kerusakan.

Penyelenggaraan kurban, tidak hanya berfokus pada pembagian daging kepada masyarakat. Di sisi lain, proses pemotongan hewan kurban juga perlu diperhatikan. Apalagi proses penyembelihan hewan kurban juga menghasilkan limbah. Oleh karenanya, penting bagi umat Islam untuk memperhatikan proses penyembelihan agar tidak berdampak pada pencemaran lingkungan.

Misalnya, saat proses pemotongan hewan kurban berlangsung, limbah seperti darah hewan tidak boleh langsung dibuang begitu saja ke saluran air atau tanah terbuka. Darah hewan yang dibuang sembarangan dapat mencemari lingkungan, terutama sumber air di sekitarnya seperti sungai, selokan, atau sumur warga. Jika limbah tersebut bercampur dengan air bersih, maka dapat menyebabkan pencemaran dan membahayakan kesehatan masyarakat.

Oleh karena itu, darah dan limbah lainnya perlu diolah atau ditampung terlebih dahulu, misalnya dengan membuat lubang khusus sebagai tempat pembuangan, lalu ditimbun dengan tanah setelah selesai. Selain lebih bersih, cara ini juga membantu menjaga lingkungan tetap sehat dan tidak menimbulkan bau yang mengganggu.

Selain itu, dalam pembagian daging, dianjurkan untuk menggunakan wadah yang ramah lingkungan. Penggunaan wadah yang ramah lingkungan dapat menyesuaikan dengan alternatif wadah lokal. Contohnya, di Jawa bisa pakai besek atau daun pisang. Di Aceh pakai daun nipah. Di Maluku ada anyaman daun gamutu. Di Kalimantan bisa pakai bronsong, kreneng, atau purun. Alternatif lainnya ialah masyarakat membawa wadah sendiri dari rumah untuk menghindari penggunaan plastik sekali pakai.

Hikmah Kurban Berkelanjutan untuk Penyelamatan Alam

Jika kita telaah lebih lanjut, kurban dengan memperhatikan aspek-aspek ekologis akan membawa banyak manfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Hubungan manusia dengan Tuhan (hablumminallah), manusia dengan manusia (hablumminannas), dan manusia dengan alam (hablumminal alam) dapat terjalin dengan baik.

Adapun kurban yang dilakukan dengan memperhatikan lingkungan membawa banyak manfaat. Hewan yang dirawat di lingkungan sehat akan menghasilkan daging berkualitas, sehingga ibadah kurban menjadi maksimal sebagai bentuk hubungan yang baik dengan Allah (hablumminallah). Daging yang berkualitas kemudian dibagikan kepada sesama. Sehingga dapat mempererat hubungan sosial dan rasa kepedulian antar manusia (hablumminannas). Selain itu, dengan mengelola limbah kurban dengan benar dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dapat meningkatkan hubungan manusia dengan alam (hablumminal alam) untuk menjaga kelestarian alam dari pencemaran dan kerusakan.

Oleh karenanya, tradisi kurban dengan memperhatikan sisi ekologis harus kita rawat setiap tahunnya. Hal tersebut berguna agar kurban yang dilakukan dapat berkelanjutan dan tidak membawa kerusakan bagi lingkungan. Kurban berkelanjutan mendorong kita untuk lebih bijak dalam memilih hewan, mengelola proses penyembelihan, serta mengurangi dampak negatif terhadap alam melalui pengelolaan limbah dan penggunaan bahan ramah lingkungan. Jika dilakukan secara konsisten, kurban yang ramah lingkungan dapat menjadi upaya penyelamatan alam, sekaligus memperkuat nilai-nilai keberlanjutan dalam praktik baik keagamaan.

Mengambil Ibrah dari Ibrahim

Mengawali Juni ini, bukan hanya “Hujan Bulan Juni” Eyang Sapardi yang disakralkan. Tahun ini, umat Islam pun akan ‘menyakralkan’ dengan melaksanakan ibadah kurban. Satu tradisi keagamaan yang sangat tua dimulai dari kehidupan Nabi Ibrahim dan putranya. Nabi Ibrahim—Abraham dalam bahasa Ibrani, adalah sosok penting dalam tradisi agama semitik: Yahudi, Kristiani, dan Islam. Karenanya ketiga agama ini juga sering disebut Abrahamic Religion. Dalam tradisi Kekristenan, Abraham disebut sebagai Bapak para bangsa. Karena darinya melahirkan keturunan para nabi dari berbagai suku.

Salah satu bagian kehidupan Ibrahim yang dapat diambil pelajaran adalah peristiwa pengurbanan. Memang terdapat perbedaan terkait siapa sosok yang dikurbankan? Ishaq atau Ismail? Tradisi Alkitab mengimani Ishaq, sedangkan tradisi Qur’ani yang dilahirkan oleh para mufasir mayoritas memilih Ismail. Meskipun ada sedikit mufasir yang mengunggulkan Ishaq, seperti Muqatil bin Sulaiman dan at-Thabari dalam beberapa riwayat.

Meski demikian, tak perlu berdebat lebih jauh. Sebab pada akhirnya, keduanya tidak dikurbankan. Hewan ternak menjadi pengganti dari darah manusia yang akan disembelih. Potret ini memberikan pelajaran penting betapa Tuhan ingin menetapkan satu aturan baru: tidak boleh ada lagi pertumpahan darah manusia yang mengatasnamakan Tuhan. Kalau belajar sejarah dunia, kita akan mengetahui bahwa saat itu telah menjadi kelaziman bagi masyarakat mengurbankan manusia yang dipersembahkan untuk dewa. Praktik itu berlangsung terus-menerus hingga kedatangan Nabi Ibrahim. Pengurbanan ini memberikan makna baru bahwa manusia mempunyai harga diri yang tinggi.

Nilai kemanusiaan ini yang perlu dipahami lebih dalam ketika melaksanakan ibadah kurban. Alih-alih berhenti pada sosok hewan yang disembelih. Ada yang menggunakan kambing, domba, sapi, unta dan kerbau. Mana yang lebih mulia? Kata Allah, yang mulia adalah yang bertakwa. Esensi pengurbanan adalah ketakwaan yang utama. Sebagaimana yang termaktub dalam Surat Al-Hajj ayat 37:

لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ ٣٧

Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang muhsin.

Maka bagi mereka yang berkurban, seharusnya yang dikurbankan bukan hanya daging hewan, tetapi juga sifat kebinatangan yang melekat pada diri ini. Agar sepenuhnya menjadi manusia, kita perlu menyisihkan dimensi hewani yang juga melekat pada diri ini. Inilah ibrah pertama dari pengurbanan.

Pelajaran berikutnya yang juga tidak kalah penting adalah kehadiran ayah dalam keluarga. Nabi Ibrahim adalah figur ayah yang hadir bagi anak dan istrinya. Sikap yang juga hari ini makin jarang ditemukan dalam potret keluarga Indonesia. Menurut UNICEF, pada tahun 2021, ada sekitar 20,8% anak Indonesia yang tumbuh tanpa kehadiran sosok ayah (fatherless). Hal ini berarti dari 30 juta lebih anak usia dini, ada 3 juta anak yang kehilangan figur bapak. Dalam Al-Quran Surat As-Shaffat ayat 101-110, Allah Swt merekam dialog apik antara Ibrahim dan putranya.

فَبَشَّرْنٰهُ بِغُلٰمٍ حَلِيْمٍ ١٠١ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ ١٠٢ فَلَمَّآ اَسْلَمَا وَتَلَّهٗ لِلْجَبِيْنِۚ ١٠٣ وَنَادَيْنٰهُ اَنْ يّٰٓاِبْرٰهِيْمُ ۙ ١٠٤ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّءْيَا ۚاِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ ١٠٥ اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْبَلٰۤؤُا الْمُبِيْنُ ١٠٦ وَفَدَيْنٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ ١٠٧ وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِى الْاٰخِرِيْنَ ۖ ١٠٨ سَلٰمٌ عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ ١٠٩ كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ ١١٠

Maka, Kami memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak (Ismail) yang sangat santun. 102. Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.” 103. Ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) meletakkan pelipis anaknya di atas gundukan (untuk melaksanakan perintah Allah), 104. Kami memanggil dia, “Wahai Ibrahim, 105. sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.” Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan. 106. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. 107. Kami menebusnya dengan seekor (hewan) sembelihan yang besar. 108. Kami mengabadikan untuknya (pujian) pada orang-orang yang datang kemudian, 109. “Salam sejahtera atas Ibrahim.” 110. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.

Pada ayat 102, terekam panggilan mesra Nabi Ibrahim kepada sang anak dengan ungkapan, yaa bunayya. Secara gramatikal, bentuk tersebut menyiratkan kasih sayang yang teramat dari sang nabi. Hal ini menegaskan kehadiran beliau sebagai ayah, bukan hanya sebatas fisik, tetapi juga psikis. Ia hadir aktif menemani anaknya bertumbuh. Dari pendidikan Ibrahim dan Hajar, melahirkan anak yang saleh dan taat.

Ini juga menjadi pola parenting yang penting untuk dipahami. Bahwa untuk melahirkan generasi hebat, orang tuanya terlebih dahulu harus taat. Anak adalah cerminan dari perilaku orang tuanya. Karenanya, peningkatan kasus kenakalan remaja saat ini dapat dikaitkan dengan ketiadaan orang tua dalam pendidikan di rumah. Ketika semua sibuk dengan pekerjaan, anak jadi kehilangan panutan. Maka iduladha perlu dipahami tidak sebatas menyembelih hewan, tetapi juga mengurbankan waktu dan fisik kita untuk orang-orang tercinta. Boleh jadi yang diharapkan oleh anak itu bukan harta melimpah, tetapi adanya orang tua yang memberikan warna masa kecilnya.

Selain soal kehadiran orang tua, dari Nabi Ibrahim pula kita belajar semangat dialogis dalam menyikapi berbagai persoalan. Konteks pendidikan, kita pun melihat betapa Ibrahim mau mendengarkan suara anaknya. Ia tidak menjadi orang tua yang otoriter. Bahwa generasi dulu pasti selalu benar. Terlebih, apa yang disampaikan oleh Ibrahim sebenarnya adalah perintah Tuhan. Itu syariat yang harus dilaksanakan. Dari sini kita belajar, bahwa syariat yang pasti benar pun tidak bisa dilakukan dengan semena-mena. Perlu konsen, persetujuan dari orang lain. Harus ada dialog, tidak main asal golok.

Spirit dialog ini juga dapat kita lihat dalam kisah Ibrahim dengan Tuhannya sebagaimana terekam dalam surat Al-Baqarah ayat 260:

وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهٖمُ رَبِّ اَرِنِيْ كَيْفَ تُحْيِ الْمَوْتٰىۗ قَالَ اَوَلَمْ تُؤْمِنْ ۗقَالَ بَلٰى وَلٰكِنْ لِّيَطْمَىِٕنَّ قَلْبِيْ ۗقَالَ فَخُذْ اَرْبَعَةً مِّنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ اِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلٰى كُلِّ جَبَلٍ مِّنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِيْنَكَ سَعْيًا ۗوَاعْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ ࣖ ٢٦٠

(Ingatlah) ketika Ibrahim berkata, “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati.” Dia (Allah) berfirman, “Belum percayakah engkau?” Dia (Ibrahim) menjawab, “Aku percaya, tetapi agar hatiku tenang.” Dia (Allah) berfirman, “Kalau begitu, ambillah empat ekor burung, lalu dekatkanlah kepadamu (potong-potonglah). Kemudian, letakkanlah di atas setiap bukit satu bagian dari tiap-tiap burung. Selanjutnya, panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” Ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Mari perhatikan dengan seksama ayat tersebut. Ada hal menarik sebagaimana dialog Ibrahim dan putranya dalam ibadah kurban. Ayat tersebut juga menyiratkan dialog sang khalilullah dengan Allah terkait ketauhidan, sosok ketuhanan. Alih-alih Allah melarang atau menegasikan pertanyaan Ibrahim, Dia justru memberikan jawaban yang menguatkan hati Ibrahim. Dalam hal ini, Nabi Ibrahim telah memberikan contoh bagaimana beriman dengan pengetahuan, bukan percaya tanpa argumen nyata.

‘Ala kulli hal, ada tiga ibrah dari Ibrahim. Pertama, spirit pengurbanan adalah untuk menghidupkan nilai-nilai ketakwaan, menempatkan Tuhan di atas segala hal yang dicintai. Kedua, kehadiran orang tua terutama ayah menjadi penting untuk melahirkan generasi berkualitas. Ketiga, dialog atau musyawarah perlu dilakukan dalam segala aspek: ibadah maupun muamalah. Akhirnya, mampukah kita menjadi Ibrahim baru di era modern? Wallahu  a’lam.

Qurban di dalam Agama-agama Ibrahim

AL-QUR`AN, di satu sisi, menyatakan, “Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan [pula] seorang Nasrani, tetapi ia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri [kepada Allah] dan sekali-kali bukanlah ia termasuk golongan orang-orang musyrik,” [Q.S. al-Imran: 67]. Di sisi lain, banyak agamawan menjadikan Yahudi dan Kristen sebagai agama Ibrahim. Antara keduanya tidak ada kontradiksi. Q.S. al-Imran: 67 mengacu pada dua ciri Ibrahim: al-hanafîyyah (lurus) dan al-istislâm (berserah diri). Ada keterkaitan antara keduanya, karena tauhid mengarah pada keberserahan, dan para agamawan melihatnya melalui kesamaan “garis nasab ajaran” lebih dari sekedar “garis nasab ras”. Artinya, semua agama bernisbat kepada Ibrahim dan mengagungkannya. Dan pada saat yang sama, agama-agama ini saling berhubungan satu sama lain, baik dalam arti pengaruh alamiah ide dan gagasan, atau dalam arti perkembangan profetik menurut ruang dan waktu.

Sebagian dari mereka menyebut agama-agama ini sebagai monoteisme, yang berarti umat manusia mengalami transformasi dari banyak tuhan menjadi satu Tuhan. Namun hal ini perlu dikaji; karena kenabian dan agama-agama sebelum Ibrahim percaya pada monoteisme, hanya saja Ibrahim hidup di lingkungan yang memercayai ragam wujud tuhan, mulai dari matahari, bintang, dan planet-planet, dan perwujudan Tuhan berupa patung dan berhala. Karena itulah, dakwahnya diabadikan di dalam Taurat melalui Sepuluh Perintah yang diwahyukan kepada Musa, dan ketentuan-ketentuan utamanya diakui oleh seluruh agama Ibrahim, “Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu,” [Kitab Keluaran 20: 4-5].

Agama-agama ini juga disebut agama-agama samawi yang mengacu pada al-sumuw (keagungan) dan al-irtifâ’ (ketinggian), atau karena ajaran-ajarannya bersifat transenden dan tidak bersifat duniawi, atau karena Tuhan adalah sumber agama-agama ini dan Dia adalah Tuhan samawi, yaitu yang transenden, terlepas dari dialektika ruang dan Waktu.

Dari segi jumlah, para agamawan umumnya melihat ada tiga agama Ibrahim: Yahudi, Kristen, dan Islam. Hal ini terlihat dari segi pengaruh dan penyebarannya. Meskipun Yahudi tidak tersebar luas seperti Kristen dan Islam, karena Yahudi bukan agama misionaris, tetapi pengaruhnya kuat terhadap kedua agama tersebut (Kristen dan Islam), dan seluruh agama setelahnya memiliki kesamaan dalam teologi, penafsiran, biografi para nabi, dan syariat (hukum).

Namun, kalau diperhatikan lebih jauh, di dalam agama-agama Ibrahim sebenarnya ada empat agama utama, dan ada tiga agama cabang yang dipengaruhi olehnya. Empat agama Utama yang dimaksud adalah: Samaria, Yahudi, Kristen, dan Islam. Sedangkah tiga agama cabangnya adalah: Sabian-Mandaean, Sikhisme, dan Baha’isme, hal ini jika kita menganggap Mormon sebagai sekte Kristen, dan bukan agama yang berasal dari Kristen; karena mereka mempunyai kitab suci, yaitu Kitab Mormon (The Book of Mormon), Kesaksian Kedua tentang Yesus Kristus, dan gereja mereka disebut Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Zaman Akhir, yang didirikan oleh Joseph Smith (w. 1844 M). Diceritakan, Joseph Smith menerima wahyu yang mengarahkannya ke loh-loh Kitab Mormon, yaitu loh-loh kuno yang kemudian ia terjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

Tidak sedikit orang yang melihat Samaria dan Yahudi sebagai satu agama. Abbas al-Aqqad (w. 1964 M) di dalam bukunya, “Hayâh al-Masîh”, menyebut Samaria sebagai sebuah sekte Yahudi. Tetapi pandangan ini disangkal oleh umat Samaria dan Yahudi. Persamaan umat Samaria dengan Yahudi ada empat hal: ras bani Israel, finalitas kenabian Musa, keimanan pada lima Kitab Taurat, dan perhatian pada Hukum Pertama Musa. Umat Samaria menganggap diri mereka sebagai ahli waris sejati bani Israel, dan umat Yahudi adalah campuran berbagai ras setelah pengasingan dan pembuangan orang-orang Israel dari Kerajaan Yehuda kuno ke Babilonia oleh Nebukadnezar II pada tahun 586 SM. Istilah Samaria mengacu pada Samirah, dan demikian pula Yahudi mengacu pada Kerajaan Yehuda, yaitu setelah kerajaan Israel pecah menjadi utara dan selatan. Kemudian setelah dua ratus tahun, orang-orang Yahudi memperkenalkan teks dan hukum baru (Talmud), yang menjadikan mereka sebagai agama independen.

Sementara itu, agama Kristen—orang Yahudi dan Muslim menyebutnya Nasrani—, mengacu pada kota Nazaret, di mana malaikat memberitahukan kepada Maria tentang kehamilan dan kelahiran Yesus Kristus. Namun, umat Kristiani umumnya menolak hal ini. Mereka percaya bahwa kelompok Nasrani ada setelah Kristus, dan bahwa untuk masuk agama Kristen, seseorang harus terlebih dahulu masuk agama Yahudi sebelum dibaptis, baru kemudian masuk agama Kristen. Namun Paulus dan Barnabas memperdebatkannya di Dewan Yerusalem pada tahun 50 dan 51 M.

Adapun kaum Sabian-Mandaean, mereka dekat dengan agama Kristen dalam hal pembaptisan, sebagaimana mereka juga dekat dengan hukum Yahudi. Mereka bernisbat kepada Yahya ibn Zakariya. Hanya saja mereka melihat bahwa suhuf (kitab) mereka kuno, yang bersumber dari Adam, Seth dan sebagainya, dan mereka adalah penganut monoteisme. Terjadi kebingungan antara mereka dengan kaum Sabian Harran yang menyembah planet. Bisa jadi Sabian Harran adalah orang-orang Samaria, tetapi orang-orang Samaria tidak menyembah planet, mereka hanya tertarik pada astrologi dan astronomi sejak zaman yang sangat kuno.

Sedangkan Sikhisme (Sikhiyah), bukanlah agama Ibrahim, asalnya adalah agama Hindu dan lahir dari rahimnya. Namun, Guru Nanak (w. 1539 M) yang merupakan guru pertama dipengaruhi oleh para sufi Muslim India, terutama warisan Baba Fariduddin Mas’ud (w. 1265 M), yang merupakan salah satu sufi besar Muslim India pada tarekat Habasyiah.

Selanjutnya, Baha’isme (Baha’iyah), lahir di Persia (sekarang Iran) pada tahun 1863. Pendirinya adalah Husain Ali al-Nuri yang berjuluk Baha’ullah (w. 1892 M), yang percaya pada ajaran Bab Ali Muhammad al-Syirazi (w. 1850 M). Dikatakan, Husain Ali al-Nuri mendapatkan kabar dari Bab Ali Muhammad al-Syirazi bahwa ia yang akan “ditampakkan” (dipilih) oleh Allah dengan membawa Kitab al-Aqdas yang di dalamnya terkandung banyak hal yang membatalkan hukum-hukum al-Qur`an, seperti shalat, puasa, dan waris. Kitab ini adalah suci bagi umat Baha’i. Mereka mempunyai kitab lain yang sangat penting di dalam agama mereka, yaitu Kitab al-Iqan dan al-Wadiyan al-Sab’ah. Setelah Husain Ali al-Nuri meninggal, ajarannya diteruskan oleh putra sulungnya, Abdul Baha’ Abbas Effendi (w. 1921 M). Sebagian orang menganggap Baha’isme sebagai sekte mistik Islam, seperti Druze yang lahir dari Syiah Ismailiyah, tetapi Baha’isme menganggap diri mereka sebagai agama yang independen.

Secara umum, ketika membahas hari raya qurban, kita menemukannya dengan jelas melekat pada empat agama utama Ibrahim: Samaria, Yahudi, Kristen, dan Islam.

Qurban, sebagaimana tercantum di dalam al-Mu’jam al-Wasîth, adalah: “Segala sesuatu yang [digunakan untuk] mendekatkan seseorang kepada Allah ‘Azza wa Jalla, baik berupa sembelihan maupun lainnya.” Di dalam agama Samaria, itu terkait dengan hari Raya Paskah, yaitu hari peringatan keselamatan Musa dari Fir’aun. Di dalam Taurat Samaria, Kitab Keluaran 12: 1-6, dikatakan: “Berfirmanlah TUHAN kepada Musa dan Harun di tanah Mesir: ‘Bulan inilah akan menjadi permulaan  segala bulan bagimu; itu akan menjadi bulan pertama bagimu tiap-tiap tahun. Katakanlah kepada segenap jemaah Israel: Pada tanggal sepuluh bulan ini diambillah oleh masing-masing seekor anak domba, menurut kaum keluarga, seekor anak domba untuk tiap-tiap rumah tangga. Tetapi jika rumah tangga itu terlalu kecil jumlahnya untuk mengambil seekor anak domba, maka ia bersama-sama dengan tetangganya yang terdekat ke rumahnya haruslah mengambil seekor, menurut jumlah jiwa; tentang anak domba itu, kamu buatlah perkiraan menurut keperluan tiap-tiap orang. Anak dombamu itu harus jantan, tidak bercela, berumur setahun; kamu boleh ambil domba atau kambing. Kamu harus mengurungnya sampai hari yang keempat belas bulan ini.” Seekor domba berumur satu tahun yang bebas dari cacat harus disembelih, disertai ziarah ke Gunung Gerizim di Sikhem, yaitu kota Nablus di Palestina saat ini.

Bagi umat Yahudi, seperti halnya umat Samaria, qurban adalah seekor anak domba berumur satu tahun yang bebas cacat, disertai ziarah ke Gunung Sion, tempat Bait Suci berada, atau setidaknya Tembok Ratapan yang dibangun pada masa pemerintahan Herodes Romawi (w. 4 SM), yang tetap ada sampai sekarang setelah penghancuran Bait Suci, seperti yang mereka ceritakan.

Ibnu Abbas meriwayatkan, “Rasulullah Saw. mendatangi Kota Madinah, lalu didapatinya orang-orang Yahudi berpuasa di Hari Asyura. Maka beliau pun bertanya kepada mereka: ‘Hari apakah ini, hingga kalian berpuasa?’ Mereka menjawab, ‘Hari ini adalah hari yang agung, hari ketika Allah memenangkan Musa dan kaumnya, dan menenggelamkan Fir’aun serta kaumnya. Karena itu, Musa puasa setiap hari itu untuk menyatakan syukur, maka kami pun melakukannya.’ Maka Rasulullah Saw. bersabda: ‘Kami lebih berhak dan lebih pantas untuk memuliakan Musa daripada kalian.’ Kemudian beliau pun berpuasa dan memerintahkan kaumnya puasa di hari itu,” [H.R. al-Bukhari dan Muslim]. Ini bertepatan dengan hari Paskah, dan hari Paskah adalah hari raya di mana baik orang Samaria maupun Yahudi tidak berpuasa.

Bagi umat Kristiani, penangkapan Kristus menurut Injil bertepatan dengan hari Paskah. Gubernur Pilatus biasa membebaskan seorang tahanan pada hari raya Paskah, sebagaimana dinyatakan dalam Injil Matius 27, 15-23: “Gubernur biasa membebaskan bagi orang banyak, seorang tahanan yang dikehendaki oleh mereka. Pada waktu itu, mereka mempunyai seorang tahanan yang terkenal, yang disebut Barabas. Jadi, ketika orang banyak berkumpul, Pilatus bertanya kepada mereka, ‘Siapa yang kamu inginkan untuk kubebaskan, Barabas atau Yesus, yang disebut Kristus?’ Sebab, Pilatus tahu bahwa karena iri, mereka telah menyerahkan Yesus kepadanya. Ketika Pilatus sedang duduk di kursi pengadilan, istrinya mengirim pesan kepadanya, ‘Jangan lakukan apa pun terhadap Orang benar itu. Sebab, aku telah menderita banyak hal hari ini dalam mimpi karena Dia.’ Akan tetapi, imam-imam kepala dan para tua-tua meyakinkan orang banyak untuk meminta Barabas dan membunuh Yesus. Gubernur bertanya kepada mereka, ‘Yang mana dari kedua orang itu yang kamu kehendaki untuk aku bebaskan bagimu?’ Dan, mereka berkata, ‘Barabas!’ Pilatus berkata kepada mereka, ‘Kalau begitu, apa yang harus kulakukan dengan Yesus, yang disebut Kristus?’ Mereka semua berkata, ‘Salibkan Dia!’ Dan, Pilatus bertanya, ‘Mengapa? Dia telah melakukan kejahatan apa?’ Akan tetapi, mereka berteriak lebih keras lagi, ‘Salibkan Dia!

Jadi, Kristus adalah qurban yang mengorbankan dirinya pada hari Paskah. Umat Kristiani percaya bahwa dengan pengorbanan diri Kristus maka datang keselamatan. Dari sini, qurban diubah dari bentuk hakiki menjadi bentuk simbolis, yaitu diwujudkan dalam Perjamuan Kudus dengan memakan roti dan meminum anggur sebagai simbolisasi tubuh dan darah Yesus.

Umat Kristiani merayakan Paskah dengan Hari Kebangkitan, yaitu setelah kebangkitan Kristus tiga hari kemudian, dan itu adalah perwujudan qurban Kristus dan keselamatan umat manusia, yang didahului, seperti di kalangan Ortodoks, dengan Masa Prapaskah Besar.

Bagi umat Muslim, meskipun hukum Islam memiliki kesamaan dengan hukum Samaria dan Yahudi, mereka mengaitkan qurban dengan kisah Ibrahim as. ketika ia hendak menyembelih putranya, Ismail. Ibnu Taimiyah (w. 728 H/1328 M) di dalam Majmû’ al-Fatâwâ (Juz 4, hal. 204) mengatakan, “Terdapat dua mazhab terkenal di kalangan ulama, dan masing-masing disebut dari sekelompok pendahulu (salaf). Dalam hal ini Abu Ya’la menyebut dua riwayat dari Ahmad, dan ia menyatakan bahwa itu adalah Ishaq, mengikuti Abu Bakr Abdul Aziz, dan Abu Bakr mengikuti Muhammad ibn Jarir, dan oleh karena itu Abu al-Faraj ibn al-Jauzi menyebutkan bahwa para sahabat Ahmad berpendapat bahwa itu adalah Ishaq. Keduanya mendukung pendapat ini, juga siapa pun yang mengikuti mereka.” Namun, berbeda dengan umat Samaria, Yahudi, dan Kristen, di kalangan umat Muslim yang diyakini adalah Ismail.

Oleh umat Muslim qurban Ibrahim diwujudkan dengan menyembelih hewan, yaitu pada hari kesepuluh Dzulhijjah sampai hari keempat belas, berupa seekor domba berumur satu tahun yang bebas cacat, juga boleh berupa seekor domba yang telah genap enam bulan, atau seekor sapi yang telah genap dua tahun untuk tujuh orang, atau seekor unta yang telah berumur lima tahun. Mereka menyebut hari qurban dengan Idul Adha, yaitu Hari Penyembelihan, atau Hari Raya setelah Idul Fitri, atau Hari Raya Haji karena bertepatan dengan pelaksanaan ibadah haji.

Kesimpulannya, bahwa tiga hari raya: Paskah, Kebangkitan, dan Al-Adha, yang merupakan hari raya qurban dalam empat agama Ibrahim, tetap menjadi ritual fisik yang dipraktikkan oleh umat Samaria, Yahudi, dan Muslim, dan menjadi ritual simbolis yang dipraktikkan oleh umat Kristiani.[]

Makna Simbolis Haji

HAJI adalah niat pergi ke Baitullah, Rumah Allah, dalam rangka mendekatkan diri kepada-Nya dengan melakukan amalan-amalan khusus. Para jamaah berpindah dari suatu tempat ke tempat lain secara berurutan, untuk kembali ke asal melalui adegan-adegan simbolis yang menciptakan di arena haji sebuah zona kedamaian spiritual yang secara vertikal menyingkap tabir antara bumi dan langit, dan secara horizontal jiwa setiap individu melebur ke dalam semangat kolektif. Di sini, haji, di ranah spiritual, mewujudkan rasa persatuan dengan seruan bersama: labbaykallâhumma labbayk

Zona aman dan damai ini tidak hanya diperuntukkan bagi bangsa manusia, “Maka tidak boleh berkata jorok, berbuat maksiat dan bertengkar dalam [melaksanan ibadah] haji,” [Q.S. al-Hajj: 197], bahkan pada masa pra-Islam, seseorang bertemu dengan pembunuh ayahnya di tanah suci tetapi ia sama sekali tidak melakukan hal buruk apapun kepadanya. Lebih dari itu, zona aman dan damai ini juga mencakup hewan dan tumbuhan, sehingga tidak ada hewan yang diburu dan dibunuh atau pohon yang ditebang.

Ini adalah zona damai di mana umat Muslim berkumpul dalam jumlah besar sebagai percontohan bagi seluruh umat manusia. Pesannya jelas; pesan keamanan, perdamaian, persatuan, ingat Tuhan, perjuangan melawan diri sendiri dan setan, serta kembali ke asal. Kita dapat mengikutinya melalui adegan-adegan simbolis berikut:

Pertama, “Dan [ingatlah], ketika Ibrahim meninggikan [membina] dasar-dasar Rumah Allah (Baitullah) bersama Ismail [seraya berdoa]: ‘Ya Tuhan kami, terimalah dari kami [amalan kami], sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,” [Q.S. al-Baqarah: 127]. Di sini, atas kehendak dan hikmah dari Allah, Ibrahim mendirikan rumah pertama di muka bumi sebagai penanda tauhid, di sebuah tempat tandus di Jazirah Arab. Allah telah mempercayakan hamba-Nya yang saleh, Ibrahim as., bersama istrinya, Hajar, untuk pindah dari tanah subur Mesopotamia ke “lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman” guna mendirikan sebuah institusi monoteisme (tauhid).

Hendaklah mereka melakukan tawaf [mengelilingi] rumah yang tua itu (Baitullah),” [Q.S. al-Hajj: 29]. Dari segi waktu, rumah itu sudah sangat tua, karena ia merupakan rumah pertama yang didirikan untuk mentauhidkan Allah, jauh dari segala bentuk keburukan politeisme, dan jauh dari segala bentuk kezhaliman—sebagaimana seharusnya sebagai Rumah Allah. Di sinilah landasan pertama berdirinya masyarakat Muslim.

Kedua, “Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka,” [Q.S. al-Hajj: 27 – 28]. Haji adalah pemandangan menakjubkan dan agung. Ibrahim, setelah selesai membangun Baitullah di lembah tandus tak berpenghuni, diperintah oleh Tuhannya untuk menyampaikan seruan kepada umat manusia mengenai kewajiban haji. Ia melaksanakan perintah itu seperti yang selalu ia lakukan kepada Tuhannya dengan ketundukan dan keberserahan diri. Ia melaksanakannya sebisa dan sebaik mungkin, dan membiarkan Tuhannya mengurus sisanya.

Seruan tersebut terus bergema melintasi cakrawala tanpa henti, ujungnya terhubung dengan permulaannya, dan gelombang frekuensinya meluas ke seluruh muka bumi seiring dengan meluasnya cakupan dakwah Islam yang menjangkau seluruh dunia. Saat ini, nyaris tidak ada masjid di kampung manapun di dunia melainkan di dalamnya terdapat jiwa-jiwa yang dipenuhi kerinduan dan nostalgia untuk berkunjung ke rumah tua tersebut.

Begitulah pemandangan megah seorang manusia yang berseru di tengah-tengah padang pasir, dengan keyakinan di dalam hatinya bahwa ia hanya bertugas menyampaikan risalah, namun memberi petunjuk ada di tangan Sang Pencipta. Hal inilah yang memberikan energi yang tidak ada habisnya bagi para juru dakwah untuk terus menyampaikan risalah dalam aspek positifnya sebagai pernyataan kebenaran dan dalam aspek negatifnya sebagai ketidakpercayaan terhadap tiran dan serangan terhadap setan. Tidak peduli betapa tertutupnya jalan, tidak ada yang boleh berputus asa. “Tidak ada yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang yang sesat,” [Q.S. al-Hijr: 56].

Ketiga, tawaf (berkeliling) di sekitar Ka’bah sebagai ekspresi kembali ke asal, pembaruan perjanjian dengan Tuhan, serta keanggotaan dan integrasi ke dalam umat monoteisme. Ini adalah silsilah terbesar umat Muslim.

Adegan tawaf di sekitar Ka’bah merupakan pemandangan kosmis yang melambangkan kesatuan Tuhan, alam semesta, dan umat manusia, yang berjalan berlawanan arah dengan gerakan tawaf sehingga seolah-olah merupakan anomali dari pergerakan alam semesta, yang menempatkan pelakunya dalam situasi yang tidak normal dan sulit.

Selama tawaf, seseorang dapat mendekati Ka’bah, bahkan menyentuh dan menciumnya, sebagai bentuk penghormatan terhadap salah satu syiar Allah—jika tidak, itu hanyalah batu yang tak berbahaya atau tak bermanfaat. Tawaf bisa juga menjauhkan seseorang dan memperluas cakupan lingkarannya, namun ia tidak boleh, dalam keadaan apapun, menyimpang dari jalur, sehingga ia tersesat dan binasa.

Keempat, keagungan peran ibu. Sama seperti Ibrahim as., yang menuruti kehendak Tuhannya untuk melakukan perjalanan ke tempat tersebut, ia tunduk dan patuh saat meninggalkan istrinya, Hajar, dan putranya, Ismail, di tempat sepi itu, sebagai bagian dari pendidikan dan penyiapan panggung untuk peristiwa terbesar.

Ibrahim patuh, dan ia menitipkan Hajar dan Ismail kepada Allah, dan hanya dibekali dengan sekantong kurma dan kantung air. Ia lalu kembali ke tanah kelahirannya di mana seluruh keluarganya berada. Adapun Hajar, yang ditinggalkannya, juga telah pasrah pada kehendak Tuhan setelah mendapat keyakinan dari suaminya: “Apakah Allah memerintahkanmu melakukan hal ini?” Ibrahim menjawab, “Iya.” Hajar berkata, “Kalau begitu, Tuhan tidak akan menyia-nyiakan kita.”

Ibrahim tidak menemukan cara untuk meringankan rasa sakitnya kecuali dengan kembali kepada Tuhannya: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, [yang demikian itu] agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur,” [Q.S. Ibrahim: 37]. Segera, bekal yang sedikit di tangan Hajar habis dan ia menghadapi cobaan terberatnya jauh di padang gurun.

Hatinya terkoyak kesakitan dan panik, dan bayinya menjerit-jerit karena kehausan. Ia berlari antara perbukitan Shafa dan Marwah, berharap melihat kafilah lewat yang akan menyelamatkannya dan bayinya dari kebinasaan.

Keterkejutannya sungguh luar biasa ketika ia menyaksikan dengan penuh kegembiraan air yang meluap dan meletup di sela-sela kaki putranya. Inilah awal mula munculnya kehidupan dengan menetapnya beberapa kafilah nomaden di lembah tandus yang dikelilingi pegunungan yang telah menghitam.

Di dalam sa’i yang dilakukan para jamaah haji di antara dua bukit di mana Hajar berlari-lari—dan itu telah menjadi salah satu rukun haji—terkandung penghormatan Ilahi atas penderitaan Hajar dan menjadikannya sebagai contoh pahlawan perempuan dalam keimanan, juga penghormatan terhadap jenis perempuan dan ibu, sehingga setiap jamaah haji dan umrah mengenang pemandangan indah itu, berlari-lari kecil di situs sejarah yang sama. “Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syi’ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya,” [Q.S. al-Baqarah: 158].

Kelima, pengorbanan dan ketundukan mutlak. Ibrahim kembali dengan tenang mengunjungi keluarganya dan untuk melihat putranya, Ismail. Saat itu Ibrahim adalah seorang laki-laki yang sudah sangat tua, datang menemui seorang pemuda yang tumbuh dewasa, energik, dan cerdas. Hati Ibrahim langsung diliputi rasa cinta dan kasih sayang kepada Ismail. Hanya saja, belum lama ia menikmati kebersamaan dengan Ismail, ujian besar datang menyapanya melalui mimpi yang mengarah pada putranya itu, “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” [Q.S. al-Shaffat: 102]. Ismail bukan seorang pemuda biasa. Ia merupakan keturunan dari sebuah keluarga yang darinya ia mewarisi ketaatan mutlak kepada perintah Tuhan: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar,” [Q.S. al-Shaffat: 102].

Dengan demikian, keagungan keduanya menanjak naik hingga menyentuh langit tertinggi, karena menerima perintah Tuhan dengan kepasrahan dan ketundukan mutlak, yang merupakan tujuan terbesar agama. Hal ini terjadi meskipun adanya serangan-serangan setan dan usaha-usahanya yang gigih untuk menghalangi tekad keduanya. “Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis[nya], [nyatalah kesabaran keduanya], dan Kami memanggilnya: ‘Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik,” [Q.S. al-Shaffat: 103 – 105].

Keduanya berserah diri tanpa syarat, dan tujuan terbesar itu pun tercapai, sehingga Allah menurunkan rahmat kepada keduanya dengan mencegah pisau memotong leher, lalu menurunkan penggantinya berupa seekor domba jantan besar sebagai tebusan, “Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar,” [Q.S. al-Shaffat: 107].

Karena itu, para jamaah haji menghidupkan kembali adegan agung keberserahan kepada Tuhan dan ketundukan pada perintah-Nya melalui proses simbolik, di mana mereka mengarahkan hujan kerikil ke dinding batu sebagai representasi dari setan yang terus menggoda manusia untuk melakukan tindakan maksiat dan berpaling dari perintah Tuhan.

Itu adalah tempat latihan simbolis untuk bergulat dengan musuh dan menolak menyerah kepadanya, menyenangkannya, atau menormalisasi hubungan dengannya. Adegan tersebut semakin lengkap dengan adanya fidyah (tebusan) dari para jamaah haji dan dari setiap muslim yang mampu; menyembelih hewan qurban yang dagingnya dapat disantap bersama keluarga dan fakir-miskin sebagai ungkapan kegembiraan hari raya Idul Adha dan kemenangan atas setan, serta sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas nikmat-Nya.

Faktanya, umat Muslim memiliki dua hari raya yang membuat mereka bergembira, salah satunya adalah Idul Fitri, yang merupakan puncak dari bulan ibadah yang padat, dan Idul Adha, yang merupakan ekspresi kegembiraan atas kemenangan melawan setan dan pemenuhan perintah Tuhan. Tuhan tidak ada sangkut pautnya dengan apa yang kita sembelih atau makan, namun yang penting adalah sejauh mana perasaan takwa, kedekatan dengan Tuhan, dan ketundukan kepada-Nya.

Keenam, wukuf di Arafah pada hari haji akbar, untuk merayakan kemunculan awal mula manusia di muka bumi, asal, dan takdir: ada banyak riwayat tentang peristiwa bersejarah yang diperingati dan dikenang dengan wukuf di Arafah.

Wukuf di Arafah adalah puncak ibadah haji dan merupakan rukun yang tidak boleh ditinggalkan dengan alasan apapun. Ada banyak riwayat mengenainya, di antaranya menyebutkan bahwa Arafah merupakan sebuah panggung yang menampilkan pertemuan pertama di bumi antara pasangan manusia pertama yang membentuk benih pertama keluarga manusia, Adam dan Hawa, setelah keduanya turun ke bumi. Maka haji, sekali lagi, adalah kembali ke asal mula dan bersyukur kepada Tuhan atas nikmat agung ini dan rahmat melimpah yang diberikan-Nya kepada pasangan suami-istri tersebut, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang,” [Q.S. al-Rum: 21]. Karena itu, menghormati perasaan cinta dan rindu di antara pasangan merupakan makna agung haji yang mengingatkan asal mula bertemu dan bersatunya umat manusia.

Wukuf adalah pemandangan megah di tanah yang tandus, jauh dari kemegahan kota, istana-istananya, perhiasannya, dekorasinya, dan pertunjukan kebanggaan para penghuninya; di Arafah, semua orang dilucuti dari semua itu.

Hal itu mengingatkan manusia bahwa mereka awalnya memasuki dunia tanpa segala bentuk perhiasan, dan bahwa mereka juga akan meninggalkannya, hanya membawa kain putih yang mirip dengan pakaian ihram yang mereka kenakan selama haji.

Gambaran kerumunan besar ini juga mengingatkan mereka pada hari ketika mereka berkumpul, tanpa alas kaki, dan tanpa pakaian sehelaipun, dalam kebingungan di padang mahsyar kelak. Tidak ada yang tersisa pada diri jamaah haji di tengah dekorasi simbol-simbol spiritual dan sosial ini selain menghadap Tuhan untuk memohon ampunan, ridha, dan pertolongan dalam pertaubatan yang ikhlas (taubatan nasuha) dan tekad membuka lembaran baru yang penuh dengan amal saleh, menjauhi keburukan dan melawannya.

Di tempat yang sama jamaah haji juga diingatkan kepada haji Rasulullah Saw., Hujjatul Wada’ (haji perpisahan), dan itu adalah hari raya terbesar yang disaksikan oleh Jazirah Arab waktu itu.

Hujjatul Wada’ adalah deklarasi universal hak asasi manusia, persatuan umat manusia, pencegahan ketidakadilan, penekanan pada pentingnya keluarga, anjuran untuk memperlakukan perempuan dengan baik, dan peringatan agar tidak membiarkan keserakahan orang kaya memangsa hajat/kebutuhan orang miskin.

Di samping itu, Hujjatul Wada’ melambangkan pengalihan misi membimbing umat manusia dari para nabi kepada umat Muslim. Rasulullah Saw. selalu mengakhiri setiap paragraph dari khutbahnya dengan: “Bukankah sudah aku sampaikan?” Dan dijawab dengan suara bagaikan guntur, “Iya.” Beliau pun berkata, “Yang hadir hendaknya menyampaikan kepada yang tidak hadir.” Betapa megah dan agungnya pemandangan umat Muslim menerima risalah membimbing umat manusia.

Ketujuh, kesederhanaan dan kesetaraan. Ifâdhah (bertolak) dari Arafah menuju area terdekat yaitu Muzdalifah, Masy’arilharam. Ungkapan “ifâdhah” ini menggambarkan pemandangan segerombolan manusia yang serentak menuju Tuhan untuk bermalam di alam terbuka di sebuah alun-alun kecil di samping sebuah bukit, yaitu Masy’arilharam, tempat orang-orang Quraisy biasa singgah dan tidak bercampur dengan orang-orang di Arafah.

Maka risalah Islam hadir sebagai pesan kesetaraan antarmanusia, “Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah,” [Q.S. al-Baqarah: 199] dari setiap pikiran atau perbuatan kesombongan, keangkuhan, dan kezhaliman yang muncul dari diri sendiri. “Maka apabila kamu bertolak dari Arafah, berdzikirlah kepada Allah di Masy’arilharam,” [Q.S. al-Baqarah: 198].

Di Muzdalifah, para jamaah haji menyaksikan sebuah pengalaman yang mungkin untuk pertama kalinya dalam hidupnya: bermalam di alam terbuka di atas tanah, yang membantu mempertajam ruh dan melepaskan diri dari cengkeraman kebiasaan dunia, sehingga mereka merendahkan diri di hadapan Tuhan, tidak menyombongkan diri, dan menjalani kehidupan orang-orang fakir—meski hanya satu malam dalam hidupnya—, serta merasakan keprihatinan orang-orang lemah dan tertindas.

Kesemuanya itu adalah tujuan haji: kerendahan hati, taubat, mengingat asal usul dan takdir, menumbuhkan semangat kebersamaan, persatuan, kesetaraan dan partisipasi, serta melatih diri untuk terus berjuang mengatasi tantangan hidup menuju Tuhan.

Haji sendiri merupakan salah satu bentuk jihad dan latihan untuk itu. Di Muzdalifah, para jamaah haji mempersenjatai diri dengan amunisi yang akan digunakannya untuk berperang dalam tiga hari ke depan melawan setan di Mina. Aktivitas haji sejauh ini telah mempertajam tekad mereka dan mempersiapkan mereka untuk perang simbolis ini.

Saat mengumpulkan jamarat di Muzdalifah, di hati mereka sudah tertanam tekad besar untuk melemparkannya kepada musuh terbesar mereka, setan, dengan penuh keyakinan dan keikhlasan. Mereka telah membuat setan kelelahan di Hari Arafah, setan belum pernah dipermalukan sedemikian rupa seperti pada hari Arafah, hari di mana jutaan orang menentang kekuasaannya.

Tulisan ini sengaja tidak membahas secara khusus tentang ziarah ke Masjid Nabawi di Madinah, yang di dalamnya terdapat tempat bersemayamnya ciptaan Allah paling mulia, Muhammad Saw., penutup para nabi dan rasul. Alasannya adalah karena perkara ini bukan merupakan bagian wajib dari ibadah haji, melainkan sunnah yang diusahakan oleh setiap jamaah haji agar kaki mereka menyentuh tanah yang pernah dipijak oleh kaki paling mulia dan paling suci, kaki Nabi Muhammad Saw., dan bahwa mereka mencari keteduhan, meskipun hanya sesaat, dengan melewati Raudhah yang diselimuti keagungan Allah yang memenuhi diri setiap orang beriman dengan kekhusyukan dan kerendahan hati. Saat mereka lewat di depan Raudhah, mereka mengucapkan salam kepada Rasulullah Saw. dan kedua sahabatnya yang mulia. Jiwa mereka bergetar, dan lubuk hati mereka diliputi kerinduan dan rasa hormat kepada Rasulullah Saw., serta rasa syukur atas nikmat Allah yang telah menjadikan mereka sebagai umatnya.[]

PERLU BERFILSAFAT UNTUK MENGAFIRMASI TUHAN

Oleh Zainul Maarif

Dosen Filsafat dan Agama Universitas Paramadina, Jakarta.

 

            “Perlu berfilsafat untuk mengafirmasi Tuhan”. Pernyataan itu berdasarkan pada pengalaman Abraham alias Ibrahim, bapak para nabi, titik temu antara tiga agama monoteis: Yahudi, Kristiani dan Islam.

Di Al-Quran disebutkan, “Falammâ janna `alahil lailu, raâ kaukaban qâla hâdâ rabbî” (ketika malam menggelap, Ibrahim melihat sebuah bintang, lalu berkata: “Inilah Tuhanku”). “Falammâ afala, qâla lâ uhibbul âfilîn” (ketika bintang itu terbenam, Ibrahim berkata: “Aku tidak suka mempertuhankan sesuatu yang terbenam”). (QS. Al-An`am/6: 76)

Falammâ raâl qamara bâzighan, qâla hâdzâ rabbî” (ketika Ibrahim melihat bulan terbit, Ibrahim berkata: “Inilah Tuhanku”). “Falammâ afala, qâla lainlam yahdinî rabbî la akûnanna minal qaumidh dhâllîn” (ketima bulan itu terbenam, Ibrahim berkata, “Jika Tuhan tidak memberiku petunjuk, niscaya aku menjadi bagian kelompok yang tersesat”). (QS. Al-An`am/6: 77)

“Falammâ raâsy syamsa bâzighatan, qâla hâzhâ rabbî,hâdzâ akbar” (Ketika Ibrahim melihat matahari terbit, Ibrahim berkata, “Inilah Tuhanku, matahari lebih besar daripada bintang dan bulan”). “Falammâ afalat qâla yâ qaumî innî barîun mimmâ tusyrikûn” (ketika matahari terbenam, Ibrahim berkata, “Hai kaumku! Aku berlepas diri dari segala sesuatu yang kalian sekutukan dengan Tuhan”). (QS. Al-An`am/6: 78)

Innî wajjahtu wajhiya lilladzî fatharas samâwâti wal ardha hanîfan” (sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Dzat Yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderungan kepada kebenaran).  “Wa mâ ana minal musyrikîn” (Sesungguhnya aku bukan bagian dari orang-orang yang menyekutukan Tuhan). (QS. Al-An`am/6: 79)

Kisah Ibrahim tersebut menunjukkan bahwa afirmasi Ibrahim pada Tuhan yang melampaui bumi dan langit bermula dari indera dan pikiran. Matanya memperhatikan bintang, bulan dan matahari. Pikirannya menghadirkan hipotesis sekaligus mengkritiknya. Perhatiannya pada benda-benda langit itu sempat menimbulkan dugaan bahwa mereka adalah Tuhan. Kebetulan sebagian masyarakat menuhankan benda-benda langit tersebut. Kaum Sabean, misalnya, mengagungkan bintang, sedangkan kaum Sinto memuja matahari. Asumsi sementara itu dibantah oleh pikiran yang menopang penglihatan. Mata memandang benda-benda langit itu bisa terbit dan terbenam, bisa ada dan tiada. Penguasa semesta seyogianya senantiasa ada. Oleh sebab itu, benda-benda langit yang bisa tiada itu bukan Tuhan.

Bila dibahasakan secara filosifis, Ibrahim di kisah tersebut merupakan seorang empiris sekaligus rasionalis. Dia seorang empiris ketika menggunakan indera penglihatannya untuk memperhatikan benda-benda langit yang kecil dan besar, yang timbul dan tenggelam. Empirismenya didukung dengan rasionalismenya yang berpikir ontologis tentang ada dan tiada. Sebagai kajian tentang ada, ontologi mengutamakan ada daripada tiada. Sejauh Tuhan dijadikan sebagai objek kajian ontologi, maka Tuhan yang diandaikan sebagai penguasa semesta diidentikan dengan yang diutamakan ontologi, yaitu ada. Segala hal yang bisa meniada pun tidak layak dituhankan. Di kisah itu, Ibrahim sangat tampak mencari Tuhan secara filosofis.

Tuhan bukanlah sesuatu yang tercerap oleh indera. Jika Tuhan terindera, Tuhan berbatas. Yang dipertuhankan seyogianya tidak terbatas. Oleh sebab itu, Tuhan tidak terindera. Ia melampaui fisik kebertubuhan. Tuhan bersifat metafisik.

Refleksi tentang metafisika Tuhan merupakan refleksi filosofis. Seperti yang terungkap di kisah Ibrahim di atas, refleksi metafisik berangkat dari pengamatan hal-hal fisik. Pikiran mengabstraksikan hal-hal yang fisik, hingga menangkap hal-hal abstrak yang metafisik.

Perlu kecerdasan dan ketekunan berpikir untuk melakukan abstraksi apalagi memikirkan hal-hal yang metafisik. Tak semua orang cerdas dan tak semua orang tekun berpikir. Oleh sebab itu, pemikir tentang metafisika, yang notabene filsafat, tidak banyak.

Ketika mayoritas orang tidak mau berpikir lalu menerima segala sesuatu apa adanya, para pemikir filosofis justru menunda penerimaan sesuatu secara percuma, justru sebaliknya, berpikir ketat tentang hal-ihwal yang ada. Masyarakat di masa Ibrahim, misalnya, tenang saja mengimani ketuhanan benda-benda langit. Ibrahim, di pihak lain, malah mempersoalkan keyakinan mereka, hingga mencapai ke Tuhan yang diyakini agama-agama monoteis dari Yahudi hingga Islam.

Apakah Anda ingin menjadi seperti masyarakat Ibrahim itu atau justru ingin menjadi seperti Ibrahim? Bila Anda bukan orang kebanyakan, Anda tentu berada di jalur Ibrahim, yang tak segan memikirkan hal yang dianggap wajar, hingga mencapai ke hakikat yang sesungguhnya. Dengan memikirkan hakikat segala sesuatu, Anda akan menjadi bijak. Bila Anda bijak, Anda akan hidup damai dan bahagia. Apalagi yang dicari di hidup ini selain kedamaian dan kebahagiaan berdasarkan sikap kritis terhadap banalitas yang rapuh menuju Prinsip Yang Kokoh (cq. Tuhan)? []

 

29 Juli 2020

 

Catatan Gus Jamal: Berkurban

Oleh Jamaluddin Mohammad

“Anakku, saya bermimpi menyembelihmu,” kata Ibrahim kepada anak kesayangannya, Ismail.

“Lakukan saja [sesuai petunjuk mimpimu]. Insya Allah, Engkau akan mendapatiku sebagai orang-orang yang sabar,” kata Ismail.

Itulah sekelumit dialog seorang ayah kepada anaknya yang dicatat al-Quran surat as-shoffat 102.

Ibrahim bukanlah Sigmund Freud yang menganggap mimpi hanyalah tampilan (citra visual) yang menyembul akibat dorongan alam bawah sadar dari struktur kesadaran manusia. Juga bukan Ujang Busthomi yang mungkin akan menganggap mimpi tersebut hanyalah gangguan dari setan belek.

Nabi Ibrahim dan Ismail tak perlu menafsiri tanda dalam mimpi tersebut. Ia seperti cahaya yang menerangi mereka.

Seorang Nabi, kata al-Farabi, adalah orang yang memiliki intuisi dan imajinasi yang sangat kuat di luar rata-rata manusia biasa, sehingga mampu berkomunikasi langsung dengan “akal aktif” (aql al-faal) —– Jibril AS.

Inilah kenapa orang seperti Sigmud Freud atau pun Ujang Busthomi takkan mampu membaca mimpi Ibrahim. Daya imajinasi dan kekuatan intuisi mereka masih berada di tingkat awam.

Sama seperti pikiran awam pasti gagal paham memahami keinginan Ibrahim menyembelih anaknya dan juga keputusannya meninggalkan anak dan istrinya di sebuah lembah tak bertuan [sekarang Makkah].

Namun, kisah Ibrahim meninggalkan sebuah pesan penting: cinta butuh pengorbanan. Bertahun-tahun Ibrahim merindukan hadirnya seorang anak. Namun, begitu ia lahir, Ibrahim diuji utk membunuh cintanya. Ia pasrah, sabar, dan ikhlas menerima takdirnya sendiri. Allah SWT mengganti cintannya dengan menjadikannya sebagai kekasihNya (kholiluhu).

Cinta butuh pengorbanan, termasuk mengorbankan cinta itu sendiri. Tragis memang. Namun, begitulah cinta.

Selamat Hari Raya Idul Adha dan jangan lupa bahagia 😀

Salam,
Jamaluddin Mohammad