Oleh: DR. KH. Affandi Mochtar, MA.
SETIAP tahun umat Muslim di berbagai penjuru dunia bertemu dengan hari raya Idul Adha (qurban) atau hari raya haji. Pada momen perayaan tersebut, umat Muslim menunjukkan khidmat dan takzhim melalui kumandang takbir dan tahmid, shalat sunnah berjamaah dan penyembelihan hewan kurban, untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah, Tuhan yang Mahakuasa. Dengan perayaan Idul Adha, umat Muslim juga mengekspresikan rasa syukur atas limpahan nikmat yang Allah berikan berupa kesehatan jasmani dan ruhani, terlebih berupa nikmat iman serta Islam yang telah tertanam kokoh di dalam hati nurani dan dibuktikan dengan amal salih. Karena itu, marilah kita dalam kesempatan idul adha tahun ini merenungkan dan sekaligus menangkap makna terdalam dari perayaan Idul Adha, bahwa pengorbanan harus dilakukan atas dasar cinta kepada Allah sehingga dapat menggerakkan kebersamaan dan kasih sayang antar sesama baik dalam kondisi suka maupun duka. Salah satu pesan Allah kepada umat Muslim adalah meneladani dan memetik pelajaran dari kisah Nabi Ibrahim as. yang sangat berkesan, Allah SWT. berfirman,
“Sesungguhnya terdapat teladan yang baik bagi kamu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan beliau,” [QS. al-Mumtahanah : 4].
Di antara yang perlu kita renungkan adalah peristiwa yang melatarbelakangi disyariatkannya hari raya idul adha atau hari raya kurban. Sebuah peristiwa yang mendebarkan dan menggetarkan sekaligus mengesankan, yaitu perintah Tuhan yang dialamatkan pada seorang ayah, kekasih-Nya, Khalilullah, Nabi Ibrahim as., agar menyembelih anaknya, Ismail, si jantung hati dan belahan jiwa, untuk dipersembahkan sebagai bukti cinta suci kepada Tuhan. Nabi Ibrahim As. bukan hanya mengajarkan, tapi juga membuktikan bagaimana memenuhi panggilan-Nya meski disertai dengan pengorbanan yang teramat besar. Melalui mimpi, beliau diperintahkan oleh Allah menyembelih putra kandungnya sendiri, meski kelahirannya telah dinanti-nanti serta didamba-dambakan selama berpuluh-puluh tahun lamanya. Allah SWT berfirman,
“Maka tatkala anak itu mencapai pada umur sanggup berusaha bersam-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, “O anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpiku akan menyembelihmu, maka pikirlanlah bagaimana pendapatmu?” Ia menjawab, “Duhai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, isyaallah akan kau dapati bahwa aku termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah diri, dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya. Dan kami panggillah ia, “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah kami membalas kepada orang-orang yang berbuat baik. Peristiwa ini adalah ujian yang nyata. Dan kami ganti untuk disembelih seekor binatang (kambing) yang besar. Dan kami abadikan untuk keduanya (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian,” [QS. al-Shafat: 103-107].
Ajaran kurban sejatinya telah disyariatkan semenjak Nabi Adam as., dan dilanjutkan oleh para Nabi sampai dengan Nabi Ibrahim dan kemudian diabadikan dalam Islam sebagai salah satu ritual ibadah mendekatkan diri kepada Allah. Kurban yang distilahkan dalam bahasa Arab udhiyah merupakan nama untuk sebuah binatang yang disembelih di hari raya atau hari tasyriq dengan niat mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah. Ibadah kurban haruslah dengan niat yang lurus, tulus dan ikhlas hanya semata karena Allah. Sebagaimana Allah berfirman,
“Daging-daging dan darahnya sekali-kali tidak dapat mencapai keridhaan Allah, tetapi ketakwaan kamulah yang dapat mencapainya,” [QS. al-Hajj: 37].
Hukum menyembelih kurban adalah sunnah muakkadah bagi seorang Muslim yang berakal, baligh (dewasa), merdeka (bukan seorang budak), dan mampu menunaikan ibadah kurban seperti membeli hewan yang akan disembelihnya. Allah SWT. berfirman,
“Dan telah kami jadikan untan-untan itu sebagian dari syiar Allah,” [QS. al-Hajj; 36].
Dan di ayat lain, Allah SWT. berfirman,
“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah,” [QS. al-Kautsar: 2].
Ada beberapa pelajaran berharga yang patut kita petik dari ibadah kurban yang sesuai dengan ajaran Islam.
Pertama, ibadah kurban adalah amalan yang menghargai kelangsungan hidup manusia. Ini sejalan dengan salah satu tujuan syariat Islam yaitu hifzh al-nafs (menjaga jiwa). Nyawa manusia sangat berharga dan dihargai dalam Islam. Walaupun perintah dalam mimpinya agar menyembelih seorang manusia, tetapi dalam kenyataannya Nabi Ibrahim menyembelih seekor hewan ternak. Peristiwa ini merupakan penghapusan tradisi buruk berupa penyembelihan manusia yang dijadikan sebagai sesaji dan “tumbal” yang dipersembahkan bagi tuhan-tuhan yang mereka sembah. Di Kan’an, bayi-bayi mungil yang tak berdosa dipersembahkan kepada Dewa Bal; di Mesir Kuno, di setiap tahun pada hari kesebelas bulan Kibti, masyarakat Mesir mengadakan ritual dengan menghiasi gadis tercantik jelita dengan hiasa yang paling mewah dan didandani dengan bedak, lipstik dan parfum yang terhebat kemudian ditenggelamkan ke dalam Sunga Nil sampai ke dasar yang bertujuan demi sebagai semebahan Dewa Sungai Nil, dan ritual tersebut dihapus sedikit demi sedikit sampai punah oleh Amr ibn al-Ash atas persetujuan Amirul Mukmini Umar ibn al-Khattjhab; di Meksico, orang-orang Astec mempersembahkan jantung dan darah manusia kepada Dewa Matahari; di Eropa Utara, orang-orang Viking mempersembahkan pemuka agama kepada Dewa Odin, Dewa perang yang mereka sembah; di Persia, menyembelih manusia untuk sesembahan Dewa; bahkan ritual pengurbanan manusia masih terus berlangsung di Eropa sampai pada tahun 657 Masehi ketika undang-undang pelarangan menyembelih manusia sebagai sesaji dirumuskan.
Ritual kurban yang diajarkan oleh agama Islam jauh sama sekali dari praktik pengorbanan nyawa manusia. Ajaran kurban dalam Islam dipraktikkan dengan menyembelih hewan ternak yang sehat, utuh dan kuat, yang dagingnya disedekahkan dan dikonsumsi oleh orang banyak. Alih-alih mengorbankan jiwa manusia, ritual kurban dalam Islam justru bermakna bagi kesehatan, keperkasaan, kebahagiaan, dan kesejahteraan manusia khususnya kaum dhu’afa (lemah) karena dapat menikmati konsumsi daging. Sebagaimana Allah berfirman,
“Makanlah sebagian darinya dan berilah orang yang merasa puas dengan apa yang dimilikinya (meski dia tidak meminta) serta orang-orang yang meminta, agar mereka menjadi orang yang bersyukur,” [QS. al-Hajj: 36].
Kedua, ibadah kurban mengajarkan tentang cinta kepada Allah yang harus senantiasa dijunjung tinggi di atas cinta kita kepada anak. Dalam kehidupan nyata, tidak sedikit orang tua yang menjadikan anak segala-galanya, sehingga merendahkan bahkan melupakan cintanya kepada Allah. Demi mewujudkan rasa cintanya kepada sang anak, banyak orang tua yang buta dan lupa akan syariat agama. Kisah Ibrahim yang mematuhi perintah Allah dalam mimpinya untuk menyembelih putranya membuktikan kesetiaan cintanya yang total kepada Allah. Ajaran Islam menegaskan bahwa orang tua harus mencintai anaknya dengan memenuhi kebutuhan hidupnya melalui pengasuhan, bimbingan, keteladanan, pembinaan, dan pendidikan sesuai dengan perkembangan kejiwaannya. Dalam waktu yang bersamaan, ajaran Islam juga mengingatkan akan timbulnya fitnah yang bersumber dari perlakuan atas nama cinta yang berlebihan kepada sang anak.
Ketiga, kisah dialog antara Ibrahim dan Isma’il dalam memutuskan perintah penyembelihan menggambarkan proses pendidikan cinta kepada Allah. Ibrahim dikenal sebagai khalilullah yang berarti kekasih Allah. Gelar ini sejatinya menegaskan bahwa Ibrahim adalah figur yang pasti tunduk dan patuh pada perintah Allah. Tapi dalam kisah al-Qur’an, Ibrahim memutuskan niat menyembelih putranya setelah melalui kegundahan batin dan dialog dengan putranya dalam bingkai keimanan kepada Allah. Ini menggambarkan bahwa proses cinta kepada Allah harus dibangun melalui proses pendidikan dan pembelajaran. Dengan kata lain, pendidikan yang baik harus mengutamakan perhatiannya pada penanaman dan pembiasaan cinta kepada Sang Khaliq.
Keempat, Isma’il adalah sosok pemuda yang berfikir matang dan bervisi masa depan. Tidak terkecoh oleh kenikmatan sesaat yang sering kali mengecohkan para pemuda. Menyadari bahwa segala sesuatu membutuhkan pengorbanan adalah prinsip Ismail. Melihat prinsipnya itu mencerminkan sikapnya dalam meraih sesuatu tidak instan, membutuhkan kesabaran, ada proses dan mekanisme yang harus dilalui, dan tidak tergesa-gesa. Isma’il, meski berumur muda, akan tetapi bersikap dan bertindak dengan ilmunya selaksa orang yang sudah dewasa dan matang. Sebaik-baik anak muda adalah anak muda yang berprilaku seperti orang tua. Sedangkan seburuk-buruk orang tua adalah orang tua yang berprilaku seperti anak muda. Teladan Isma’il sangat baik dijadikan ikon bagi anak-anak muda dalam membangun peradaban.
Kelima, hewan kurban merupakan simbol nafsu kebinatangan yang bersemayam dalam diri manusia. Nafsu kebinatangan yang secara binal mendorong manusia bertindak semena-mena, buas, rakus, hilangnya rasa malu, a-moral, dan mengabaikan pertimbangan akal sehat. Nabi mengumpamakan orang yang tidak berakhlak bagaikan Lalat, Nabi berkata, “Laysa al-adab ka al-dubab” (orang yang tidak bermoral bagaikan Lalat). Nafsu kebinatangan inilah yang harus kita waspadai dan kita harus mampu menjinakkan karena ia merupakan musuh yang ada di dalam diri kita sendiri. Proses pematangan kesadaran menuju keparipurnaan adalah bermula dari penundukan segenap pasukan nafsu yang bersemayam di dalam diri manusia. Sebab dengan penundukan itu, maka ia akan dapat berbuat kebaikan yang maksimal bagi segenap makhluk dan alam semesta ini.
Makna Idul Adha sebagaimana digambarkan di atas sungguh relevan untuk kita aktualisasikan dalam kehidupan modern ini khususnya bagi kaum muslimin di Indonesia. Sebagai bangsa yang beradab, kita terus berusaha menciptakan tata kehidupan yang damai penuh cinta kasih baik dalam sekala kecil pergaulan antar pribadi maupun dalam sekala luas pergaulan antar sesama komunitas. Di sisi lain, sebagai bangsa yang terus mengupayakan pembangunan dalam segala bidang, kita senantiasa berusaha memperkuat kesatuan, persatuan, dan solidaritas untuk kebahagiaan dan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Dalam waktu yang bersamaan, sebagai bagian dari masyarakat dunia, Indonesia terus mengupayakan sumbangan dan peran dalam membangun peradaban modern, manusiawi dan religius. Untuk semua tujuan itu, maka ajaran pengorbanan yang tulus dan meningkatkan derajat manusia sebagaimana dipraktikkan dalam ritual kurban harus ditransformasikan oleh setiap kita pada semua segi kehidupan.
Pada era modern ini tradisi mengorbankan nyawa manusia sebagaimana terjadi pada masa jahiliyah sepertinya sudah tidak berlaku. Tapi dalam kenyataannya banyak praktik dan prilaku yang sejatinya mengorbankan nyawa dan menistakan derajat manusia. Peperangan, konflik, bahkan teror yang berujung pada penghancuran manusia atas nama perjuangan ideologi dan agama masih kita saksikan. Dalam praktik kehidupan politik kita, prilaku yang mengecilkan derajat manusia pun masih acap kali dipraktikkan dalam bentuk fitnah, pembunuhan karakter, menjajah, diskriminasi, mengeksploitasi dan memperkosa hak-hak manusia. Dengan momentum perayaan Idul Adha tahun ini, marilah kita perkuat dan kita persegar arti dan semangat cinta kepada Allah untuk mewujudkan pengorbanan kita melalui ketundukan dan ibadah kita kepada Allah, kepatuhan dan kesetiaan kita kepada ulil amri di negeri tercinta, solidaritas dan kepedulian kita terhada penderitaan sesama.
Lebih-lebih pada kondisi akhir-akhir ini dimana sebagian dari saudara-saudara kita tengah menghadapi musibah karena bencana alam, sudah sepatutnya hati kita terketuk dan cinta kita terkuak untuk mengorbankan perhatian, pikiran, dan harta kita untuk kebahagiaan dan kesejahteraan sesama. Momen Idul Adha akan semakin meningkatkan cinta kita kepada Allah yang diwujudkan melalui pengabdian, karya, dan dedikasi kita untuk meningkatkan kualitas individu, memperkuat kehidupan keluarga, mewujudkan solidaritas sosial, dan menciptakan kemajuan bangsa serta mendorong perdamaian dunia.[]
Rapat Jaringan AKSI
/0 Comments/in Jadwal Kegiatan /by rumahkitabSelamat Hari Anak Perempuan Internasional
/0 Comments/in Berita /by rumahkitabSelamat Hari Anak Perempuan Internasional! Today’s Girls, Tomorrow’s Leaders. Plan Internasional, Unicef dan Jaringan AKSI remaja perempuan Indonesia merayakannya dengan mengundang 21 peserta dari seluruh Indonesia, 3 diantaranya survivor dari pesantren di Cirebon dan Sumenep dan 1 santri berprestasi dari Cipasung. Tema IDG tahun ini ” Sehari Menjadi Menteri: rekomendasi remaja atasi perkawinan Anak”. Pagi ini ke 21 anak-anak remaja perempuan dan lelaki akan berada di KPPA menyelenggarakan rapat pimpinan untuk melahirkan rekomendasi. Sore nanti mereka akan diterima dan berdialog dengan ibu Sinta Nuriyah di Ciganjur. Rumah Kitab menjadi satu lembaga pelaksana kegiatan IDG. Hormati hak anak penuhi kebutuhannya untuk tumbuh kembang secara sehat dan bermartabat#kawinanakbukansolusi
Kitab Al-Munqidl Min Ad-Dzalal: Catatan Harian Petualangan Intelektual al-Ghazali
/1 Comment/in Kajian Kitab /by rumahkitabOptimalkan Pencegahan dan Penindakan
/2 Comments/in Berita /by rumahkitabMAKASSAR, KOMPAS — Peran negara dalam aspek pencegahan dan penindakan dalam kasus perdagangan orang perlu lebih dioptimalkan. Bentuk kejahatan yang makin meluas dan kompleks sehingga memerlukan strategi pencegahan dan penindakan yang disesuaikan dengan kebutuhan.
Hal itu dikemukakan peneliti senior Yayasan Rumah Kita Bersama, Lies Marcoes, di sela-sela diskusi bertema ”Mencari Solusi Penanganan Human Trafficking Berbasis Hukum di Sulawesi Selatan” yang digelar di Makassar, Senin (11/9). Diskusi digelar Australia Indonesia Partnership for Justice 2 (AIPJ2).
Diskusi merupakan tindak lanjut penelitian berjudul “Peta Masalah dan Ketersediaan Layanan untuk Penanganan Trafficking di Sulsel” yang disusun Lies bersama Ruri Syailendrawati dan Nurhady Sirimorok. Penelitian juga diselenggarakan AIPJ2.
Lies mengatakan, saat ini pola kejahatan perdagangan orang sudah berubah dengan jenis yang tidak hanya bermotifkan ekonomi, seperti untuk kebutuhan pekerja pabrik atau pekerja industri seks, tetapi juga mencakup trafficking yang terkait kebutuhan ideologi fundamentalisme. “Misalnya, perekrutan untuk organisasi NIIS (Negara Islam di Irak dan Suriah),” ujarnya.
Bahkan, dari penelitian yang dilakukannya di Sulsel, ada aspek sistem kebudayaan yang juga telah berubah. ”Dulu dalam tradisi merantau masyarakat Sulsel, kebudayaan memberi kondisi yang kondusif untuk terjadinya orang berpindah dari kampungnya karena ada sistem jaring pengaman, yakni patron yang memberikan perlindungan. Sekarang jaring pengamannya berubah karena patron saat ini ada yang malah jadi pelaku trafficking itu sendiri,” katanya.
Terkait pencegahan, Lies mengatakan, perlu dilakukan kampanye untuk menyosialisasikan praktik dan penanganan trafficking kepada kelompok-kelompok rentan. ”Peran negara harus dioptimalkan. Tidak bisa hanya meminta penyelesaian dari Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak atau Dinas Pemberdayaan Perempuan,” kata Lies.
Konsul Jenderal Australia di Makassar Richard Mathews dalam keterangan tertulisnya berharap, temuan ini mendorong dialog antarpemangku kepentingan, lembaga peradilan, institusi hukum, dan berbagai elemen masyarakat. ”Sulawesi Selatan adalah pusat pembelajaran yang penting dalam penanganan trafficking,” ujarnya.[]
Sumber: https://www.pressreader.com/indonesia/kompas/20170912/282050507225950
Tauhid Aisyiyah
/0 Comments/in Opini /by Lies Marcoes NatsirSENANG dan bangga PP Aisyiyah pimpinan Ibu Noorjannah Djohantini mendapat kesempatan menjelaskan program kesehatan reproduksi atas dukungan program MAMPU, dan mendapat kunjungan Duta Besar Australia. Saya percaya mereka telah menjelaskan perbedaan mereka dengan program serupa yang dikembangkan pusat-pusat layanan kesehatan yang dikelola pemerintah.
Aisyiyah telah lama menengarai soal timpangnya relasi gender yang berpengaruh pada rendahnya daya tawar perempuan untuk memenuhi kesehatan reproduksi mereka. Aisyiyah menguatkan jamaahnya untuk menolak setiap bentuk pemaksaan hubungan seks apalagi yang berpotensi membawa penyakit ke rumah karena praktik gonta ganti pasangan, atau poligami. Jadi pasti bukan karena fisik biologisnya semata yang harus dijaga melainkan penguatan kuasa perempua atas tubuh dan sekualitasnya.
Itu adalah inti peneguhan ajaran Tauhid yang ditegakkan Aisyiyah yaitu tak menjadikan suami sebagai sesembahan yang maha benar dan maha kuasa, yang menyebabkan perempuan kehilangan kiblatnya.
Tanpa penjelasan serupa itu upaya Aisyiyah hanya akan jadi perpanjangan tangan negara dalam bidang kesehatan, suatu sikap yang sejak dulu dihindari Aisyiyah ketika menolak pemaksaan KB dengan menawarkan “Konsep Keluarga Sakinah”. Tanpa melakukan upaya membangun kesadaran ideologis serupa itu Aisyiyah akan menjadi kaki tangan negara dalam menangani kesehatan reproduksi perempuan yang seharusnya menjadi tugas negara.[]
Buku Ini Patut Dibaca Pendukung Jihadis
/1 Comment/in Opini /by rumahkitabOleh: Ibrahim Fawwas
JIHAD sejatinya perintah Allah Swt. yang tertuang dalam kitab suci al-Qur’an. Eksistensi ayat jihad dalam al-Qur’an membuat Rasulullah Saw. dan para sahabat mengangkat senjata, berperang, mempertahankan diri dari serangan musuh-musuh Islam. Namun itu dulu, saat musuh-musuh Islam menyerang dengan peperangan.
Menariknya, sekalipun peperangan mengorbankan banyak hal: harta, ayah, anak, sanak saudara, Rasulullah Saw. malah menyatakan bahwa jihad terbesar bukan perang. Jihad terbesar adalah jihad melawan hawa nafsu. Belakangan muncul pula berbagai penafsiran terkait ayat-ayat jihad, penafsiran-penafsiran berdasar konteks zaman para mufassir yang menafsirkan jihad tidak lagi berarti perang.
Meskipun begitu, banyak pula yang masih mengartikan jihad dengan berperang, mengangkat senjata. Fakta-fakta gerakan jihadis dan radikal yang masih marak menunjukkan pemahaman ayat-ayat jihad dengan senjata tetap tumbuh subur. Suburnya pemahaman tersebut dipupuk juga dengan pernyataan dan berbagai kitab, tulisan para intelektual muslim. Di mana kaum jihadis banyak terinspirasi dan merujuk kitab karangan para intelektual muslim.
Kitab-kitab yang menginspirasi kaum jihadis itulah yang kemudian ditelaah dan dijadikan sebuah buku dengan judul “Inspirasi Jihad Kaum Jihadis: Telaah Atas Kitab-Kitab Jihad”, oleh Rumah KitaB (Rumah Kita Bersama). Buku setebal 456 halaman ini merupakan kumpulan tulisan dari banyak penulis yang melakukan penelitian terhadap kitab-kitab beraroma jihadis. Tidak tanggung-tanggung, penulis sekaliber Ulil Abshar Abdalla dan Mukti Ali pun turut ambil bagian. Ada juga peneliti kajian-kajian keislaman ataupun Timur Tengah, yang memberikan sumbangsih terwujudnya buku ini.
Total ada 10 buku yang ditelaah, delapan buku merupakan karangan para intelektual muslim Timur Tengah, duanya lagi karangan tokoh Indonesia yang dekat dengan gerakan-gerakan jihadis tanah air. Mulai dari “Majmū Fatāwā Li Syaykh Al-Islām Ahmad Ibn Taymīyyah” karangan Ibn Taymīyyah, “Kitāb Al-Tawhīd Alladzīy Huwa Haqq Li Allāh `Alā Al-`Abid” karangan Muhammad ibn Abdil Wahab, “Al-Jihād Fī sabīlillāh” karangan Abu al- A`la al-Maududi, “Majmū`ah Al-Rasā`il Li Al-Imām Al-Syahīd Hasan Al-Bannā” karangan Hasan al-Banna, “Ma`ālim Fī Al-Tharīq” karangan Sayyid Qutb, “Majmū’ Fatāwā Wa Maqālāt Mutanawwi`ah” karangan Abdullah Ibn Baz, “Al-Tarbiyah Al-Jihādīyyah Wa Al- Binā” karangan Abdullah Azzam, “Millah Ibrāhīm” karangan Abu Muhammad Isham al-Maqdisi, hingga “Tadzkiroh” karangan Abu Bakar Ba`asyir dan “Seri Materi tauhid: For The Greatest Happiness” karangan Aman Abdurrahman.
Kitab-kitab milik para intelektual muslim tersebut telah didiskusikan. Sebelum memulai pembahasan kitab, pada lembar pertama bab disuguhkan keterangan diskusi yang disusun secara ringkas, jelas dan padat. Keterangan mencakup waktu, tempat, tema, pembicara dan kitab yang dikaji. Hal ini menguatkan kebenaran telah didiskusikannya kitab-kitab tersebut.
Buku ini tidak melulu berisi kajian terhadap kitab-kitab para intelektual muslim. Di awal-awal bab, dijelaskan bagaimana titik awal kaum jihadis di Indonesia. Cukup komprehensif, karena dijelaskan fase per fase. Realitas aliran jihadis di Indonesia pada era modern tidak luput dari penjelasan. Bahkan publikasi-publikasi kaum jihadis Indonesia dijelaskan pula, baik buku maupun situs-situs yang menerbitkan tulisan-tulisan jihad.
Penjelasan dan susunan bab demi bab tersusun rapi dan mengalir. 10 tokoh yang dibagi ke dalam bab-bab buku ini dikomposisikan saling terkait antar satu dan yang lainnya. Demikian, membaca buku ini memberikan pengetahuan yang sistematis terkait tokoh dan kitab yang menjadi rujukan kaum jihadis. Sehingga cocok menjadi rujukan para akademisi yang ingin mengkaji jihad.
Kemudian, nilai lebih buku ini adalah sorotan utamanya untuk melakukan penjelasan mengenai jihad. Seperti yang disampaikan Prof. Dr. Greg Fealy, bahwa nada (tone) dari buku ini tidak emosional, netral dan kritis. Perhatian utama dari buku ini adalah memberikan penjelasan terkait kaum jihadis, bukan memberi penilaian.
Pada intinya, setelah membaca buku ini, dapat disimpulkan bahwa gerakan-gerakan jihad didasarkan kepada pembacaan literal terhadap teks-teks agama. Sehingga pemahaman yang didapatkan adalah pemahaman yang tidak meluas dengan pandangan yang sempit. Pandangan sempit itulah yang teraktualisasi ke dalam tindakan-tindakan radikal.
Dengan demikian, buku ini adalah buku penting yang layak untuk dibaca dan dikoleksi. Jarang-jarang sebuah buku tentang jihad secara komprehensif tertulis menggunakan bahasa Indonesia. Padahal menjelaskan satu kitab saja lumayan sulit, tetapi buku ini berhasil menyajikan telaah terhadap 10 kitab jihadis dalam satu buku saja.[]
Sumber: https://islami.co/buku-anti-jihadis
Pengorbanan Atas Dasar Cinta Kepada Tuhan Menggerakkan Solidaritas dan Kasih Sayang Antarsesama
/2 Comments/in Belum Terkategori /by rumahkitabOleh: DR. KH. Affandi Mochtar, MA.
SETIAP tahun umat Muslim di berbagai penjuru dunia bertemu dengan hari raya Idul Adha (qurban) atau hari raya haji. Pada momen perayaan tersebut, umat Muslim menunjukkan khidmat dan takzhim melalui kumandang takbir dan tahmid, shalat sunnah berjamaah dan penyembelihan hewan kurban, untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah, Tuhan yang Mahakuasa. Dengan perayaan Idul Adha, umat Muslim juga mengekspresikan rasa syukur atas limpahan nikmat yang Allah berikan berupa kesehatan jasmani dan ruhani, terlebih berupa nikmat iman serta Islam yang telah tertanam kokoh di dalam hati nurani dan dibuktikan dengan amal salih. Karena itu, marilah kita dalam kesempatan idul adha tahun ini merenungkan dan sekaligus menangkap makna terdalam dari perayaan Idul Adha, bahwa pengorbanan harus dilakukan atas dasar cinta kepada Allah sehingga dapat menggerakkan kebersamaan dan kasih sayang antar sesama baik dalam kondisi suka maupun duka. Salah satu pesan Allah kepada umat Muslim adalah meneladani dan memetik pelajaran dari kisah Nabi Ibrahim as. yang sangat berkesan, Allah SWT. berfirman,
“Sesungguhnya terdapat teladan yang baik bagi kamu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan beliau,” [QS. al-Mumtahanah : 4].
Di antara yang perlu kita renungkan adalah peristiwa yang melatarbelakangi disyariatkannya hari raya idul adha atau hari raya kurban. Sebuah peristiwa yang mendebarkan dan menggetarkan sekaligus mengesankan, yaitu perintah Tuhan yang dialamatkan pada seorang ayah, kekasih-Nya, Khalilullah, Nabi Ibrahim as., agar menyembelih anaknya, Ismail, si jantung hati dan belahan jiwa, untuk dipersembahkan sebagai bukti cinta suci kepada Tuhan. Nabi Ibrahim As. bukan hanya mengajarkan, tapi juga membuktikan bagaimana memenuhi panggilan-Nya meski disertai dengan pengorbanan yang teramat besar. Melalui mimpi, beliau diperintahkan oleh Allah menyembelih putra kandungnya sendiri, meski kelahirannya telah dinanti-nanti serta didamba-dambakan selama berpuluh-puluh tahun lamanya. Allah SWT berfirman,
“Maka tatkala anak itu mencapai pada umur sanggup berusaha bersam-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, “O anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpiku akan menyembelihmu, maka pikirlanlah bagaimana pendapatmu?” Ia menjawab, “Duhai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, isyaallah akan kau dapati bahwa aku termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah diri, dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya. Dan kami panggillah ia, “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah kami membalas kepada orang-orang yang berbuat baik. Peristiwa ini adalah ujian yang nyata. Dan kami ganti untuk disembelih seekor binatang (kambing) yang besar. Dan kami abadikan untuk keduanya (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian,” [QS. al-Shafat: 103-107].
Ajaran kurban sejatinya telah disyariatkan semenjak Nabi Adam as., dan dilanjutkan oleh para Nabi sampai dengan Nabi Ibrahim dan kemudian diabadikan dalam Islam sebagai salah satu ritual ibadah mendekatkan diri kepada Allah. Kurban yang distilahkan dalam bahasa Arab udhiyah merupakan nama untuk sebuah binatang yang disembelih di hari raya atau hari tasyriq dengan niat mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah. Ibadah kurban haruslah dengan niat yang lurus, tulus dan ikhlas hanya semata karena Allah. Sebagaimana Allah berfirman,
“Daging-daging dan darahnya sekali-kali tidak dapat mencapai keridhaan Allah, tetapi ketakwaan kamulah yang dapat mencapainya,” [QS. al-Hajj: 37].
Hukum menyembelih kurban adalah sunnah muakkadah bagi seorang Muslim yang berakal, baligh (dewasa), merdeka (bukan seorang budak), dan mampu menunaikan ibadah kurban seperti membeli hewan yang akan disembelihnya. Allah SWT. berfirman,
“Dan telah kami jadikan untan-untan itu sebagian dari syiar Allah,” [QS. al-Hajj; 36].
Dan di ayat lain, Allah SWT. berfirman,
“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah,” [QS. al-Kautsar: 2].
Ada beberapa pelajaran berharga yang patut kita petik dari ibadah kurban yang sesuai dengan ajaran Islam.
Pertama, ibadah kurban adalah amalan yang menghargai kelangsungan hidup manusia. Ini sejalan dengan salah satu tujuan syariat Islam yaitu hifzh al-nafs (menjaga jiwa). Nyawa manusia sangat berharga dan dihargai dalam Islam. Walaupun perintah dalam mimpinya agar menyembelih seorang manusia, tetapi dalam kenyataannya Nabi Ibrahim menyembelih seekor hewan ternak. Peristiwa ini merupakan penghapusan tradisi buruk berupa penyembelihan manusia yang dijadikan sebagai sesaji dan “tumbal” yang dipersembahkan bagi tuhan-tuhan yang mereka sembah. Di Kan’an, bayi-bayi mungil yang tak berdosa dipersembahkan kepada Dewa Bal; di Mesir Kuno, di setiap tahun pada hari kesebelas bulan Kibti, masyarakat Mesir mengadakan ritual dengan menghiasi gadis tercantik jelita dengan hiasa yang paling mewah dan didandani dengan bedak, lipstik dan parfum yang terhebat kemudian ditenggelamkan ke dalam Sunga Nil sampai ke dasar yang bertujuan demi sebagai semebahan Dewa Sungai Nil, dan ritual tersebut dihapus sedikit demi sedikit sampai punah oleh Amr ibn al-Ash atas persetujuan Amirul Mukmini Umar ibn al-Khattjhab; di Meksico, orang-orang Astec mempersembahkan jantung dan darah manusia kepada Dewa Matahari; di Eropa Utara, orang-orang Viking mempersembahkan pemuka agama kepada Dewa Odin, Dewa perang yang mereka sembah; di Persia, menyembelih manusia untuk sesembahan Dewa; bahkan ritual pengurbanan manusia masih terus berlangsung di Eropa sampai pada tahun 657 Masehi ketika undang-undang pelarangan menyembelih manusia sebagai sesaji dirumuskan.
Ritual kurban yang diajarkan oleh agama Islam jauh sama sekali dari praktik pengorbanan nyawa manusia. Ajaran kurban dalam Islam dipraktikkan dengan menyembelih hewan ternak yang sehat, utuh dan kuat, yang dagingnya disedekahkan dan dikonsumsi oleh orang banyak. Alih-alih mengorbankan jiwa manusia, ritual kurban dalam Islam justru bermakna bagi kesehatan, keperkasaan, kebahagiaan, dan kesejahteraan manusia khususnya kaum dhu’afa (lemah) karena dapat menikmati konsumsi daging. Sebagaimana Allah berfirman,
“Makanlah sebagian darinya dan berilah orang yang merasa puas dengan apa yang dimilikinya (meski dia tidak meminta) serta orang-orang yang meminta, agar mereka menjadi orang yang bersyukur,” [QS. al-Hajj: 36].
Kedua, ibadah kurban mengajarkan tentang cinta kepada Allah yang harus senantiasa dijunjung tinggi di atas cinta kita kepada anak. Dalam kehidupan nyata, tidak sedikit orang tua yang menjadikan anak segala-galanya, sehingga merendahkan bahkan melupakan cintanya kepada Allah. Demi mewujudkan rasa cintanya kepada sang anak, banyak orang tua yang buta dan lupa akan syariat agama. Kisah Ibrahim yang mematuhi perintah Allah dalam mimpinya untuk menyembelih putranya membuktikan kesetiaan cintanya yang total kepada Allah. Ajaran Islam menegaskan bahwa orang tua harus mencintai anaknya dengan memenuhi kebutuhan hidupnya melalui pengasuhan, bimbingan, keteladanan, pembinaan, dan pendidikan sesuai dengan perkembangan kejiwaannya. Dalam waktu yang bersamaan, ajaran Islam juga mengingatkan akan timbulnya fitnah yang bersumber dari perlakuan atas nama cinta yang berlebihan kepada sang anak.
Ketiga, kisah dialog antara Ibrahim dan Isma’il dalam memutuskan perintah penyembelihan menggambarkan proses pendidikan cinta kepada Allah. Ibrahim dikenal sebagai khalilullah yang berarti kekasih Allah. Gelar ini sejatinya menegaskan bahwa Ibrahim adalah figur yang pasti tunduk dan patuh pada perintah Allah. Tapi dalam kisah al-Qur’an, Ibrahim memutuskan niat menyembelih putranya setelah melalui kegundahan batin dan dialog dengan putranya dalam bingkai keimanan kepada Allah. Ini menggambarkan bahwa proses cinta kepada Allah harus dibangun melalui proses pendidikan dan pembelajaran. Dengan kata lain, pendidikan yang baik harus mengutamakan perhatiannya pada penanaman dan pembiasaan cinta kepada Sang Khaliq.
Keempat, Isma’il adalah sosok pemuda yang berfikir matang dan bervisi masa depan. Tidak terkecoh oleh kenikmatan sesaat yang sering kali mengecohkan para pemuda. Menyadari bahwa segala sesuatu membutuhkan pengorbanan adalah prinsip Ismail. Melihat prinsipnya itu mencerminkan sikapnya dalam meraih sesuatu tidak instan, membutuhkan kesabaran, ada proses dan mekanisme yang harus dilalui, dan tidak tergesa-gesa. Isma’il, meski berumur muda, akan tetapi bersikap dan bertindak dengan ilmunya selaksa orang yang sudah dewasa dan matang. Sebaik-baik anak muda adalah anak muda yang berprilaku seperti orang tua. Sedangkan seburuk-buruk orang tua adalah orang tua yang berprilaku seperti anak muda. Teladan Isma’il sangat baik dijadikan ikon bagi anak-anak muda dalam membangun peradaban.
Kelima, hewan kurban merupakan simbol nafsu kebinatangan yang bersemayam dalam diri manusia. Nafsu kebinatangan yang secara binal mendorong manusia bertindak semena-mena, buas, rakus, hilangnya rasa malu, a-moral, dan mengabaikan pertimbangan akal sehat. Nabi mengumpamakan orang yang tidak berakhlak bagaikan Lalat, Nabi berkata, “Laysa al-adab ka al-dubab” (orang yang tidak bermoral bagaikan Lalat). Nafsu kebinatangan inilah yang harus kita waspadai dan kita harus mampu menjinakkan karena ia merupakan musuh yang ada di dalam diri kita sendiri. Proses pematangan kesadaran menuju keparipurnaan adalah bermula dari penundukan segenap pasukan nafsu yang bersemayam di dalam diri manusia. Sebab dengan penundukan itu, maka ia akan dapat berbuat kebaikan yang maksimal bagi segenap makhluk dan alam semesta ini.
Makna Idul Adha sebagaimana digambarkan di atas sungguh relevan untuk kita aktualisasikan dalam kehidupan modern ini khususnya bagi kaum muslimin di Indonesia. Sebagai bangsa yang beradab, kita terus berusaha menciptakan tata kehidupan yang damai penuh cinta kasih baik dalam sekala kecil pergaulan antar pribadi maupun dalam sekala luas pergaulan antar sesama komunitas. Di sisi lain, sebagai bangsa yang terus mengupayakan pembangunan dalam segala bidang, kita senantiasa berusaha memperkuat kesatuan, persatuan, dan solidaritas untuk kebahagiaan dan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Dalam waktu yang bersamaan, sebagai bagian dari masyarakat dunia, Indonesia terus mengupayakan sumbangan dan peran dalam membangun peradaban modern, manusiawi dan religius. Untuk semua tujuan itu, maka ajaran pengorbanan yang tulus dan meningkatkan derajat manusia sebagaimana dipraktikkan dalam ritual kurban harus ditransformasikan oleh setiap kita pada semua segi kehidupan.
Pada era modern ini tradisi mengorbankan nyawa manusia sebagaimana terjadi pada masa jahiliyah sepertinya sudah tidak berlaku. Tapi dalam kenyataannya banyak praktik dan prilaku yang sejatinya mengorbankan nyawa dan menistakan derajat manusia. Peperangan, konflik, bahkan teror yang berujung pada penghancuran manusia atas nama perjuangan ideologi dan agama masih kita saksikan. Dalam praktik kehidupan politik kita, prilaku yang mengecilkan derajat manusia pun masih acap kali dipraktikkan dalam bentuk fitnah, pembunuhan karakter, menjajah, diskriminasi, mengeksploitasi dan memperkosa hak-hak manusia. Dengan momentum perayaan Idul Adha tahun ini, marilah kita perkuat dan kita persegar arti dan semangat cinta kepada Allah untuk mewujudkan pengorbanan kita melalui ketundukan dan ibadah kita kepada Allah, kepatuhan dan kesetiaan kita kepada ulil amri di negeri tercinta, solidaritas dan kepedulian kita terhada penderitaan sesama.
Lebih-lebih pada kondisi akhir-akhir ini dimana sebagian dari saudara-saudara kita tengah menghadapi musibah karena bencana alam, sudah sepatutnya hati kita terketuk dan cinta kita terkuak untuk mengorbankan perhatian, pikiran, dan harta kita untuk kebahagiaan dan kesejahteraan sesama. Momen Idul Adha akan semakin meningkatkan cinta kita kepada Allah yang diwujudkan melalui pengabdian, karya, dan dedikasi kita untuk meningkatkan kualitas individu, memperkuat kehidupan keluarga, mewujudkan solidaritas sosial, dan menciptakan kemajuan bangsa serta mendorong perdamaian dunia.[]
Konsolidasi Media Islam Ramah
/0 Comments/in Berita /by rumahkitabAPAKAH masyarakat toleran masih menoleransi intoleransi? Pertanyaan ini muncul dan disampaikan Darmanto, Direktur TIFA, di hadapan 30-an pengelola media dari pelbagai daerah dalam rangka Konsolidasi Pengelola Media Islam Ramah yang diadakan LTN NU (Lembaga Ta’lif wa Nasyr Nahdlatul Ulama) di Bluesky Hotel, Jakarta 21-22/08.
Menurutnya, inilah tantangan bagi pengelola media saat ini. Bagaimana media berperan melawan intoleransi tanpa harus mengorbankan prinsip-prinsip dan nilai-nilai demokrasi, misalnya, meminta bantuan negara dengan menerbitkan Perppu.
“Jika intoleransi itu muncul dari pemahaman keagamaan (intoleransi berbasis agama) kelompok-kelompok tertentu, maka bagaimana agar agama bisa menyelesaikan problemnya sendiri, misalnya dengan memunculkan wacana keagamaan yang toleran dalam konten yang sama,” ujarnya.
Darmawan secara tegas mengatakan bahwa intoleransi harus dilawan karena ia berbahaya bagi demokrasi. Menurutnya, munguatnya intoleransi disebabkan menurunnya konsolidasi demokrasi.
Sementara, menurut Wahyu Muryadi, yang juga salah satu pemateri dalam acara tersebut, bahwa selain menyajikan konten berkualitas, pengelola media, khususnya cetak, harus mengembangkan media digital.
“Sekarang ini, arah kecenderungan media mulai bergeser pada media digital. Digital first!” ujarnya.
Wartawan senior Majalah Tempo ini mendorong agar pengelola media memperbanyak konten-konten dalam format digital.
Selain memberikan pemahaman dan pengetahuan jurnalistik, Wahyu juga mengingatkan pentingnya memperkuat jaringan pengelola media untuk terus menghadirkan wajah Islam yang ramah dan toleran, untuk melawan dan mengimbangi merebaknya konten-konten intoleransi terutama di media sosial.
Kegiatan selama dua hari ini juga menghadirkan perwakilan Facebook Asia Pasific dan Facebook perwakilan Indonesia. Roy Tan, Manajer for Asia Pasific at Facbook, Michael I. Youn, Counter Policy Manager of Facebook Asia Pasific, dan Donny Eryastha, Manager Facebook Indonesia.
Menurut Roy Tan, berdasarkan data yang dimiliki Facebook, hampir separuh penduduk Indonesia menggunakan Facebook. Dalam satu tahun tercatat sekitar 115 juta orang Indonesia yang log in ke Facebook dan setiap bulannya ada sekitar 65 juta orang. Dari angka tersebut, 111 orang log in menggunakan handphone atau gadget.
Karena itu, kata Roy, Facebook sangat strategis untuk kampanye kepentingan-kepentingan sosial maupun politik. “Kami bekerjasama dengan lembaga-lembaga pemerintahan, DPR, maupun organisasi-organisasi sosial,” ujar Roy.
Namun, sebagaimana diakui sendiri oleh Michael Youn, Facebook juga rawan disusupi kelompok-kelompok ekstrimis untuk menyebarkan ideologi dan rekriutmen anggota.
Karena itu, kata Youn, sebagai bentuk komitme Facebook dalam mencegah dan memerangi ekstrimisme di dunia maya, Facebook memiliki 150 anggota tim dan anggota intelijen khusus untuk mengawasi dan menangani persoalan ini.
“Ada miliaran orang di Facebook, sedangkan tim kami terbatas. Kami sedang melakukan uji coba menggunakan AI (Artificial Intelligence) untuk menditeksi akun-akun dan konten-konten ekstrimisme, hoax, atau hate speech,” katanya.
Donny, selaku perwakilan FB Indonesia, menyarankan untuk tidak bosan-bosannya menyebarkan narasi tandingan melawan kelompok-kelompok ekstrimisme dan intoleran yang akhir-akhir ini persebarannya sungguh mengkhawatirkan. (JM)
Inspirasi Jihad Kaum Jihadis
/2 Comments/in Buku, Kajian Kitab, Karya /by rumahkitabKontributor:
Jamaluddin Mohammad
Ulil Abshar Abdalla
Mukti Ali
Roland Gunawan
Jamaluddin Mohammad
Badrus Sholeh
Din Wahid
Jajang Jahroni
Lies Marcoes-Natsir
Sirojuddin Ali
Achmat Hilmi
Penerbit:
Yayasan Rumah Kita Bersama
Tahun:
2017
Jumlah halaman:
440 halaman
Buku ini merupakan kumpulan hasil telaah atas kitab-kitab yang diseleksi oleh para peneliti Yayasan Rumah Kita Bersama (Rumah KitaB) sebagai referensi yang mengandung gagasan soal jihad. Selama satu tahun Rumah KitaB menyelenggarakan serial diskusi di berbagai kampus dan mengolahnya menjadi buku ini. Dengan menghadirkan sejumlah nara sumber, diskusi ini menelaah tentang konsep jihad, tawaran-tawaran untuk berjihad, serta anatomi konsep jihad dalam konteks sosio-historis yang melatarinya.
Lies Marcoes-Natsir, MA. – Direktur Yayasan Rumah Kita Bersama
Buku ini memuat diskusi yang sangat informatif dan mencerahkan di sejumlah bagian. Sulit mengingat karya lain dalam bahasa Indonesia yang melakukan kajian atas ulama penyokong jihad seluas yang ditampilkan buku ini, dan menawarkan analisis ringkas-padat atas karya mereka, berikut dampak mereka atas perkembangan gerakan dan strategi jihadis dari waktu ke waktu. Nada buku ini tidak emosional bahkan cenderung netral namun tetap kritis, dengan perhatian utama untuk menjelaskan ketimbang memberi penilaian.
Prof. Dr. Greg Fealy – Associate Professor politik Indonesia dan Ketua Jurusan Politik dan Perubahan Sosial The Australian National University
Para tokoh dan karyanya yang dibahas dalam buku ini terpilih dengan baik dan tepat. Mereka tentu saja mewakili beberapa sumber paling otoritatif yang dibaca oleh berbagai kelompok jihadis dan Islam radikal Indonesia. Tradisi Salafi quietist terwakili dengan baik begitu juga gaya aktivisme politik Ikhwanul Muslimin. Sangatlah pantas bahwa buku ini diakhiri dengan diskusi tentang karya dua penulis Indonesia, Abu Bakar Ba’asyir, yang telah lama menjadi teman setia Abdullah Sungkar dan melihat dirinya sebagai penggantinya, serta Aman Abdurrahman, yang telah menjadi intelektual paling produktif dari kelompok jihadis. Meliputi para penulis dan karya mereka yang berpengaruh, buku ini memberi kontribusi yang sangat diperlukan untuk memahami dasar-dasar radikalisme Islam dan kekerasan berbasis agama.
Prof. Dr. Martin van Bruinessen – Profesor Studi Perbandingan Masyarakat Muslim Kontemporer
_______________
Harga: Rp. 100.000
Bagi yang berminat, silahkan inbox di FB Rumah KitaB: https://www.facebook.com/rumahkitab/
disertai alamat tujuan.
Kisah Ajaib Imam Al-Ghazali
/2 Comments/in Opini /by rumahkitabDalam sebuah majlis ilmu, Abu Hamid ibn Muhammad al-Ghazali (1058-1111 M) ‘disidang’ para ulama Baghdad. Pasalnya, Al-Ghazali seringkali mengutip sejumlah hadits yang dinilai dha’if (lemah). Bahkan memasukkan hadits-hadits maudhu’ (palsu) dalam beberapa karyanya.
“Kenapa anda berbuat demikian?” tanya seorang ulama menghakimi.
Al-Ghazali yang dijuluki Hujjatul Islam itu menjawab dengan tenang. “Para ulama yang mulia, saya menyeleksi hadits menggunakan cara yang berbeda dengan Anda semua. Cara saya hanya dengan mencium hadits tersebut. Jika tercium semerbak wangi, maka hadits itu shahih. Sebaliknya, jika tidak tercium harum, maka hadits itu dha’if atau maudhu’. Inilah yang disebut dengan thariqah al-mukasyafah (metode penyingkapan metafisika).” Para ulama yang ada di majelis itu pun terkagum.
Kisah tersebut termaktub dalam buku berjudul “Kisah-Kisah Ajaib Imam Al-Ghazali” yang ditulis Mukti Ali. Dalam buku setebal 404 halaman ini, penulis menghimpun 39 kisah ajaib yang dirujuk dari sejumlah kitab-kitab klasik, baik yang ditulis oleh al-Ghazali sendiri ataupun dari literatur klasik lainnya seperti kitab “Nashaih al-‘Ibad” karya Imam Nawawi al-Bantani.
Di antara kisah ajaib lainnya adalah mengenai kesaksian seorang sufi bernama Arif al-Kabir al-Yamani Ahmad al-Shayyad yang melihat Imam al-Ghazali dibawa Nabi Khidhir dan para malaikat menuju langit ketujuh. Ada pula kisah mengenai kemampuan al-Ghazali yang mengundang para sufi melalui mimpi.
Sejumlah ulama percaya, al-Ghazali merupakan seorang sufi yang mencapai derajat wali. Misalnya seperti yang dikisahkan Syaikh Al-Arif Abu Hasan al-Syadzili. Mursyid sekaligus pendiri Thariqat Syadziliyah itu bermimpi melihat Nabi Muhammad Saw. berbincang dengan Nabi Musa as. dan Isa as.
“Apakah ada di antara umat kalian berdua seorang alim seperti Imam al-Ghazali ini?” tanya Rasulullah.
Keduanya menjawab serentak, “Tidak ada dari umat kami seorang alim seperti Imam al-Ghazali.”
Mimpi yang diceritakan al-Syadzili kepada Ibn al-Subuki itu menunjukkan bahwa kewalian al-Ghazali diakui para Nabi.
Sebagai ulama besar, kehidupan Imam al-Ghazali banyak ditulis oleh sejumlah akademisi dari Timur dan Barat. Sejumlah karya tulis itu umumnya membahas mengenai biografi al-Ghazali serta pemikiran-pemikirannya dalam berbagai aspek. Sebagai contoh adalah buku berjudul Konsep Pemikiran al-Ghazali tentang Pendidikan yang ditulis oleh Abu Muhammad Iqbal. Namun baru buku berjudul “Kisah-Kisah Ajaib Imam Al-Ghazali” ini yang memberikan sudut pandang lain dan unik mengenai sosok yang bergelar Hujjatul Islam.
__________________________
Peresensi: Ade Faizal Alami
Info Buku
Judul: Kisah-Kisah Ajaib Imam Al-Ghazali
Penulis: Mukti Ali
Penerbit: Mentari Media
Jumlah halaman: 404 halaman
Cetakan Pertama: Mei 2017