Pemimpin Orang Miskin

Nabi Muhammad saw adalah nabinya orang-orang miskin. Beliau berada di tengah-tengah orang miskin dan orang-orang tertindas; hidup dan berjuang bersama mereka. Allah swt, melalui Jibril, pernah menyodorkan pilihan pada Nabi Muhammad saw: menjadi miskin atau kaya.

“Jika kamu mau”, kata Jibril, “Saya bisa saja memberimu gunung emas”.

“Jelaskan padaku apa itu (kenikmatan) dunia?” tanya Nabi Muhammad saw pada Jibril.

“Yang halal saja masih terkena hisab (pemeriksaan harta kekayaan di akhirat), apalagi yang haram,” jawab Jibril.

“Jika begitu, saya pilih miskin; saya memilih akhirat daripada dunia,” ujar Nabi.

“Jika suatu saat saya lapar, saya akan bersabar. Dan, jika saya kenyang saya bersyukur. Bagiku itu semua sudah cukup.”

Selanjutnya Nabi Muhammad saw berdoa, “Tuhan, hidupkan aku dalam kemiskinan dan matikan aku dalam kemiskinan. Juga sertakan aku dalam golongan orang-orang miskin” (Abi al-Hasan al-Mawardi, al-Hawi al-Kabir, hal. 11, vol. 9).

***

Saya menduga, tak banyak orang Islam yang memilih dan meniru “sunnah” Nabi Muhammad saw yang satu ini: hidup miskin dan berjuang bersama orang-orang miskin. Bahkan, saya sedikit yakin, doa paling “ditakuti” kebanyakan umat Islam adalah doa ini: doa agar dimiskinkan Tuhan.

Ketika kita tanyakan doa tersebut pada “pejuang muslim” (ulama, intelektual, aktivis, atau apalah namanya) yang hidup mewah dan mengaku berjuang bersama orang-orang miskin yang tertindas dan terpinggirkan, mereka akan berusaha menakwil doa ini. Takwil sebagai bentuk ketakutan mereka sendiri, ketakutan terhadap kemiskinan dan hidup miskin.

Saya pikir inilah alasan utama keberadaan Muhammad saw sebagai Nabi dan Rasul di dunia ini. Pertanyaannya, sebagai umat dan pengikut nabi, beranikah kita mengikuti sunnah beliau yang satu ini?

Menjadi Zuhud

Zuhud bukanlah menolak dunia dan anti terhadap dunia. Al-Quran menggambarkan dunia sebagai “mazra’atul akhirah”, tanaman yang buahnya akan nikmati di akhirat. Jadi, sebagai manusia yang hidup di dunia ini, manusia tak mungkin menolak dunia dan mengingkari keberadaan dirinya di dunia ini. Dunia adalah pintu akhirat.

Dengan demikian, zuhud artinya menyadari bahwa dunia bukanlah segalanya. Dunia bukanlah tujuan hidupnya. Karena itu, seorang zahid tak menganggap penting dunia ini. Mereka tak mau menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat.

Al-Syadzili (1197-1258), pendiri tarekat (ordo sufi) Sadziliyah, adalah sufi yang kaya raya. Namun, apa pendapatnya tentang dunia? “al-dunya fi aydina la fi qulubina, dunia ada di genggamanku, tapi tidak di hatiku,” katanya.  Ini selaras dengan pendapat Fudayl bin Iyad (w. 803) yang mengatakan sufi adalah pakaiannya dunia, tetapi tubuhnya akhirat, a-sufiyyah abdanuhum dunyawiyyah, ajsamuhum ukhrawiyyah. Jadi, seorang sufi tak bisa dinilai dari sisi zahirnya saja (penampakan luar) tapi juga sisi batinnya.

Namun, tak banyak juga sufi seperti al-Syadzili yang hidup bergelimang kekayaan tapi hatinya tetap bersih dan terjaga dari segala kotoran dunia. Ia ibarat orang yang bekerja di tempat kotor tapi tetap menjaga kebersihan. Sungguh pilihan yang berat dan sulit. Karena itu, kebanyakan sufi lebih memilih hidup sederhana dan miskin. Miskin sebagai pilihan hidup bukan sebagai nasib, keterpaksaan atau ketidakberdayaan menghadapi dunia.

Jadi, ketika seseorang sudah bisa mengontrol dan memiliki kekuasaan penuh atas hatinya, pikiran, serta kesadaranya, kaya atau miskin bukan lagi sebagai persoalan hidup, melainkan sebuah pilihan dan sikap hidup. Baginya, musuh paling nyata dan berbahaya adalah sikap tamak dan rakus. Dan itu terjadi baik pada orang kaya maupun miskin.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses