Ironi di Balik Kemewahan Tas Branded dan Hak Hidup Hewan
Menenteng sebuah tas berharga miliaran rupiah dengan merampas hak hidup hewan sebagai penyedia kulit tas tersebut merupakan bentuk arogansi manusia terhadap binatang yang paling memuakkan. Memang betul bahwa hewan tercipta untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia, seperti daging dan susunya untuk kita konsumsi sehari-hari. Dari situ pun sebenarnya industri makanan dan minuman sekarang sudah semakin mengeksploitasi hewan.
Tetapi, menyiksa hewan untuk mendapatkan kulitnya lalu dijual hanya kepada segelintir orang sungguh di luar nalar. Yang semakin membuat miris adalah kesan eksklusif hingga label status sosial tertentu bagi mereka yang sanggup membeli tas tersebut. Beberapa produsen tas branded tersebut bahkan sukses mempertahankan reputasinya selama puluhan tahun sehingga mempunyai pangsa pasar yang tidak pernah padam.
Tanpa bermaksud mengindahkan aspek estetik dan kreativitas di balik setiap produk tas tersebut, marilah sejenak melirik dari sisi kepekaan kita melalui bahan dasar di balik tas itu. Salah satu aspek yang membuat tas seperti ini berharga fantastis adalah kualitas kulit yang dipilih.
People for the Ethical Treatment of Animals (PETA), organisasi global yang berfokus pada hewan, pernah menurunkan artikel terkait dugaan dan fakta eksploitasi beberapa jenis binatang. Brand pertama adalah Christian Louboutin. PETA menyebut brand ini menyembelih anak sapi untuk memperoleh bahan baku hak sepatu yang dijual untuk publik.
Ada pula Gucci Marmont, jenis tas kulit yang juga mayoritasnya terbuat dari kulit anak sapi. Brand Gucci sendiri tidak pernah menyebut penderitaan yang harus dialami hewan saat pengrajin mengambil kulit dari daging anak sapi tersebut.
Ada pula jenis produk lain dari Gucci yang terbuat dari kulit eksotis. Investigasi PETA Asia menduga ada rumah penyembelihan hewan di Indonesia yang memasok kadal untuk Gucci. Masalahnya adalah ada dugaan kaki kadal ini diikat, dilempar ke sana kemari, dan dipenggal dalam kondisi masih sadar. Lalu, kulit mereka dipakai untuk membuat dompet, ikat pinggang, dan tas kecil Gucci.
Tidak jarang pula brand mewah memilih kulit hewan langka, seperti ular dan burung onta, agar memperoleh kulit eksotis dengan harga lebih tinggi. Sepertinya semakin jarang kulit hewan ditemukan, semakin tinggi nilai jual produknya.
Brand mewah tersebut lazimnya menampik berita seperti dari PETA di atas dengan menyebut proses yang etis. Mereka mengatakan telah memperlakukan hewan dengan cara manusiawi. Tetapi, pernyataan tersebut rasanya tidak sebanding dengan pelanggaran hak asasi hewan yang telah mereka lakukan, terlebih menawarkannya ke konsumen dengan embel-embel “prestise.”
Derita Hewan yang Tiada Habisnya untuk Gengsi Manusia
Terdapat fakta menarik mengenai penjualan produk fashion dan kulit mewah hingga semester pertama 2024. Secara global, produk tersebut turun sekitar 1% dibandingkan penjualan selama periode yang sama untuk 2023. Faktor penyebabnya adalah kondisi ekonomi yang kurang baik. Kurangnya bonus akhir tahun dan pemutusan hubungan kerja turut menyebabkan turunnya penjualan barang mewah. Di sisi lain, produsen barang mewah meningkatkan harga produk akibat imbas inflasi.
Tetapi, uniknya, produsen yang sudah besar, seperti Louis Vuitton dan Hermès, tetap menikmati penjualan yang bagus. Tas klasik legendaris, seperti Louis Vuitton Speedy dan Neverfull serta Hermès Kelly dan Birkin, tetap diburu pembeli. Bahkan di media sosial nasional, terdapat akun yang menyewakan atau menjual produk tersebut dalam kondisi sudah pernah dipakai sebelumnya.
Kondisi tersebut mempertegas opini yang berkembang di kalangan konsumen produk mewah bahwa mereka membelinya sebagai instrumen investasi. Dengan kata lain, nilai jual produk itu tetap mahal meski sebagai produk bekas pakai hingga sebagai produk sewaan. Pasar barang mewah tetap hidup sebagai efek dari magnet kata “gengsi”.
Rata-rata konsumen produk ini adalah kaum menengah ke atas atau sosialita dengan persentase kecil di masyarakat Indonesia. Mulai dari membawa tas mewah untuk sekadar arisan hingga mengesankan calon klien, produk mewah memang tidak hanya pemanis melainkan alat penglaris. Seolah mendengar merk LV, Prada, atau Hermès, si empunya merupakan warga “di atas rata-rata”.
Mereka adalah orang berada, mempunyai nilai seni tinggi atau istilah sekarang, berdarah old money. Pada akhirnya, mereka membentuk lingkaran sosial sendiri yang sulit ditembus oleh mereka yang tidak mempunyai tas atau sepatu mewah sebagai “syarat masuk ke lingkaran tersebut”.
Dunia mereka seperti alam tidak kasat mata yang berpengaruh secara senyap. Keberadaan mereka membentuk kasta sosial super atas yang eksis di atas tangisan sapi, ular, atau burung onta. Selama bertahun-tahun, sisi kesombongan manusia tetaplah menang. Ekonomi tetap menjadi penggerak sendi kehidupan yang utama. Hal ini memang benar dengan melihat sumbangsih produk mewah ke ekonomi nasional melalui pajak pertambahan nilai barang mewah dan penciptaan lapangan kerja.
Tulisan ini pun hadir tanpa menyanggah sisi positif tersebut. Tetapi jangan pernah lupakan efek samping menahun atas ini semua. Kesenjangan sosial yang semakin timpang dengan strata sosial berjenjang. Belum lagi, hak asasi hewan yang terus kita renggut tanpa merasa berdosa. Bahkan kita melakukannya ke hewan yang entah tinggal berapa sisa jumlahnya di muka bumi ini. Semoga peringatan 100 Tahun Hari Satwa Sedunia ini mengingatkan kita sudah separah apa nikmat hidup hewan yang kita ambil secara paksa demi memuaskan ego kita.




Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!