Asma Afsaruddin dan Pudarnya Perempuan dalam Lintasan sejarah

Asma Afsaruddin dan Pudarnya Perempuan dalam Lintasan Sejarah

Oleh: Nurhayati Aida

Jika selama ini isu perempuan dikaji dan didekati melalui disiplin ilmu, seperti fikih, tafsir, atau hadis. Asma Afsaruddin—seorang Profesor di Departemen Bahasa dan Budaya Timur di Indiana University—melihat isu perempuan melalui disiplin ilmu sejarah. Sesuatu yang tidak banyak dijamah oleh aktivis atau intelektual yang feminis untuk melihat kedudupan perempuan dalam islam.

Melalui kajian thabaqat—kitab yang berisi tentang biografi para tokoh dan ulama—, Asma menelusuri hilangnya peran perempuan dalam lintasan sejarah.

Dalam kajiannya ini, Asma menggunakan tiga thabaqat dari dua zaman yang berbeda. Pertama, adalah Thabaqat Kubra karya Abū ‘Abd Allāh Muḥammad ibn Sa’d ibn Manī’ al-Baṣrī al-Hāshimī atau yang biasa dikenal dengan Ibn Saʿ’d Ibn Sa’ad. Ulama yang hidup pada masa imperium Abbasiyah.

Kedua, Thabaqat yang ditulis oleh Ibn ‘Abd al-Barr berjudul al-Isti‘ab fi ma‘rifat al-ashabi. Sama dengan Ibn Saʿ’d, Ibn ‘Abd al-Barr juga hidup pada masa imperium Abbasiyah. Ibn ‘Abd al-Barr hidup di Andalusia—sebuah kota yang sekarang menjadi bagian dari Spanyol.

Thabaqat ketiga yang digunakan oleh Asma adalah Al-Iṣābah fī Tamyīz al-Ṣahābah yang ditulis oleh Ibn Hajar Al Asqalani. Berbeda dengan Ibn Saʿ’d dan Ibn ‘Abd al-Barr, Ibn Hajar Al Asqalani hidup pada Era Mamluk. Beberapa ulama di Era Mamluk ini di antaranya adalah Ibn Qayyim Al-Jauziyyah dan Ibn Jauzi—keduanya merupakan teolog yang condong ke mazhab Hanbali.

Melalui tiga thabaqat tersebut, Asma melihat adanya pergeseran paradigma mengenai aktivitas dan peran perempuan di ruang publik. Meskipun ketiga thabaqat itu menulis entri nama sahabat perempuan yang sama, seperti Umm Aiman, Umm Kulsum Bint Uqba, Umayya Bint Qais, Umm Sinan al-Aslamiyya, Ku‘ayba Bint . Sa‘d al-Aslamiyya, Umm Kabsha, Umm Habiba bt. Nabati al-Asadi, Nusayba Bint Ka‘b, Umm Waraqa Bint ‘Abd Allah Bin al-Harith. Akan tetapi, penulisan muatan entri cenderung memiliki muatan yang berbeda.

Dalam dua thabaqat yang ditulis oleh Ibn Sa’d dan Ibn ‘Abd al-Barr, menulis entri sahabat perempuan dengan jelas dan detail mengenai keterlibatan mereka dalam awal mula Islam, beriman dan berbaiat kepada Nabi Muhammad, ikut dalam prosesi hijrah, terlibat dalam beberapa jihad qital, dan memainkan peran yang penting dalam kehidupan keagamaan, seperti menjadi Imam, seperti Umm waraqah. Pun di dalam thabaqat keduanya, meski isi entrinya singkat dan padat tentang sahabat perempuan, tetapi muatannya terlihat adanya eksistensi dan kemandirian.

Sementara thabaqat yang ditulis oleh Ibn Hajar Al Asqalani cenderung melipat peran-peran perempuan di wilayah publik yang disebut dalam thabaqat Ibn Sa’d dan Ibn ‘Abd al-Barr. Kecenderungan Ibn Hajar Al-Asqalani tersebut, menurut Asma, terjadi karena di Era Mamluk dan Era Saljuk, para teolog mulai Menyusun semacam panduan tentang perilaku feminin yang benar. Pada era itu juga, mucul kitab seperti Ahkam al-Nisa’ yang ditulis oleh Ibn al-Jawzi. Pada dua bab awal di buku tersebut bahkan meminta perempuan untuk tinggal di rumah dan meminta perempuan untuk tidak keluar rumah. Kedua pembahasan itu berada di bab tahdhir al-nisa’ min al-khuruj dan fi dzikir fadl al-bayt li-‘lmar’a. Selain itu, Ibn Qayyim al-Jauziyya juga menulis buku Akhbar al-Nisa’.

Dengan melihat fakta ini, Asma menyebut bahwa perbedaan masa penulisan thabaqat dan paradigma moral memiliki andil dalam pudarnya peran aktif perempuan di ruang-ruang publik. Bahkan, Ibn Hanbal—yang menjadi rujukan Ibn al-Jawzi dan Ibn Qayyim al-Jauziyya, lebih longgar pandangannya dari kedua ulama tersebut.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.