Pos

Menciptakan Lingkungan Lebaran yang Ramah Perempuan

Lebih sepekan umat Islam merayakan Idulfitri. Bagi masyarakat muslim di Indonesia, Idulfitri atau lebaran biasanya menjadi kegiatan untuk bermaaf-maafan, saling mengasihi, saling bersilaturahmi, dan menjadi momen berkumpul bersama keluarga. Tak heran, jika momen lebaran biasanya selalu menyuguhkan hidangan-hidangan khas lebaran lezat dengan porsi yang banyak hingga kue-kue atau jajanan tradisional khas yang hanya dijumpai saat lebaran saja.

Persiapan lebaran juga tidak hanya fokus pada hidangan-hidangan lebaran, biasanya masyarakat juga turut membersihkan seluruh bagian rumah bahkan juga menyiapkan baju lebaran yang satu ragam warna atau jenisnya. Lebaran di Indonesia terkenal dengan sebutan Halalbihalal. Halalbihalal ialah tradisi khas masyarakat Indonesia sebagai bentuk mempererat silaturahmi dan saling memaafkan. Sehingga, tidak heran jika masyarakat memiliki kesibukan dalam mempersiapkan kebutuhan lebaran pra-hari raya Idulfitri.

Yang Sering Kita Tidak Sadari dalam Persiapan Lebaran

Saya banyak mengamati, keluhan-keluhan anak muda perempuan di media sosial twitter (19/03) yang diminta untuk membantu persiapan lebaran. Padahal yang bersangkutan baru saja selesai bekerja dan sedang istirahat. Komentar-komentar pada postingan tersebut juga banyak yang menceritakan bagaimana perempuan-perempuan yang diminta (kadang secara paksa) untuk menyiapkan kebutuhan lebaran yang tiada habisnya. Bahkan, ada anggota keluarga yang marah terhadap anak-anak perempuan yang tidak banyak berkontribusi persiapan lebaran karena tuntutuan pekerjaan.

Saya jadi menyadari, bahwa teman-teman perempuan yang sedang menceritakan pengalamannya sedang mengalami beban ganda. Dalam satu keluarga, ia diminta untuk membuat kue lebaran dan membersihkan rumah padahal keempat saudara laki-lakinya tidak diminta hal serupa. Saya juga menyadari, ada ibu-ibu yang harus bangun dini hari di malam lebaran untuk memasak opor ayam dalam jumlah banyak sehingga tidak memiliki kesempatan untuk salat Idulfitri atau menghabiskan seluruh waktunya di dapur untuk menyiapkan hidangan lebaran.

Sama halnya ketika Ramadan, ibu-ibu yang kerap kali lebih dulu bangun untuk memasak dan menyiapkan menu sahur bagi keluarga secara sendirian. Saya mencatat pengalaman perempuan yang pada Ramadan dan Idulfitri lebih banyak menghabiskan waktu dan perannya untuk urusan domestik. Para perempuan seringkali tak punya pilihan dalam perannya, sehingga jika ia tidak melakukan kerja-kerja domestik yang dimaksud, ia dapat menanggung beban lain seperti mendapatkan amarah dari keluarga.

Narasi dan Pemahaman Keliru tentang “Allah Memuliakan Perempuan melalui Kerja-Kerja Domestik”

Seringkali, realita dalam merespon pengalaman-pengalaman kerja-kerja domestik perempuan selalu membawa kisah Fatimah ketika sedang kelelahan dalam mengerjakan tugas domestik. Kisah tersebut terdapat pada kitab Uqudullujain Karya Imam Nawawi Al-Bantani. Dikisahkan bahwa beliau sedang menangis sambil menggiling gandum dengan menggunakan raha (alat penggilingan gandum tradisional yang terbuat dari batu).

Melihat putrinya menangis, Nabi mendekatinya dengan lembut dan bertanya, “Wahai Fatimah, mengapa kamu menangis? Allah tidak menjadikan matamu untuk menangis seperti ini.” Fatimah pun menjawab, “Wahai Ayah, aku menangis karena merasa lelah. Setiap hari aku sibuk mengerjakan pekerjaan rumah, dan tidak ada seorang pun yang membantu.” Nabi kemudian duduk di sampingnya, mendengarkan dengan penuh perhatian. Lalu Fatimah melanjutkan, “Wahai Ayah, dengan kedudukan yang engkau miliki, tolong sampaikan kepada ‘Ali agar membelikan seorang pembantu untukku, supaya bisa membantu menggiling gandum dan mengerjakan pekerjaan rumah.”

Setelah mendengar cerita itu, Nabi mengambil gandum dengan tangannya, lalu meletakkannya di alat penggiling sambil mengucapkan bismillah. Atas izin Allah, alat itu bergerak sendiri menggiling gandum hingga menjadi tepung. Kemudian Nabi berkata, “Berhentilah.” Atas izin Allah, alat itu pun berhenti. Rasulullah juga berkata, “Wahai Fatimah, jika Allah menghendaki, alat itu bisa saja terus bekerja sendiri untukmu. Tapi Allah ingin memberimu pahala, menghapus dosa-dosamu, dan mengangkat derajatmu.”

Seringkali narasi tersebut dilontarkan beberapa netizen untuk menyuruh perempuan bersyukur dengan tugas kerja-kerja domestik yang mungkin bisa memberatkan bagi mereka. Bagi saya, respon seperti ini kurang tepat jika dilontarkan dari netizen kepada perempuan-perempuan yang sedang menanggung beban ganda.

Rasulullah Hadir untuk membantu Fatimah

Yang menarik untuk diperhatikan, ketika Fatimah berada dalam kondisi lelah secara fisik dan batin, Rasulullah merespons dengan sikap penuh empati. Rasulullah justru mendekat, mendengarkan keluhan Fatimah, lalu turut membantu meringankan pekerjaannya. Dalam kisah itu, Rasulullah bahkan berdoa agar alat penggiling gandum dapat bekerja sendiri, sehingga beban Fatimah berkurang.

Jika kita memahami baik-baik, nilai lain dari kisah tersebut ialah, ketika Fatimah kesulitan Rasulullah mendengarkan keluh kesahnya dan membantu Fatimah. Seharusnya hal yang sama juga kita lakukan, bukan malah menyuruh perempuan untuk bersyukur atas kelelahan dalam mengerjakan tugas domestik tanpa menawarkan bantuan apa-apa. Respons seperti itu sering kali mengabaikan kondisi pelik yang dialami perempuan, terutama mereka yang menjalani beban ganda antara pekerjaan publik dan domestik.

Kisah tersebut memang mengandung nilai makruf. Bagi mereka yang mengerjakan tugas domestik dengan ikhlas, terdapat pahala, penghapusan dosa, dan derajat yang diangkat oleh Allah. Nilai tersebut memberi penguatan spiritual bagi individu yang menjalani peran tersebut dengan kesadaran dan kerelaan hati. Akan tetapi, nilai tersebut tidak dapat digunakan untuk menekan perempuan lain agar menerima kelelahan yang sebenarnya dapat diringankan bersama dengan anggota keluarga yang lain.

Persiapan Lebaran sebagai bentuk Fastabiqul Khairat

Dalam kehidupan keluarga, pekerjaan domestik dapat dibagi sebagai bentuk kerja sama dalam kebaikan atau fastabiqul khairat. Persiapan hari raya, yang sering kali menyita tenaga dan waktu, seharusnya menjadi kerjasama seluruh anggota keluarga. Ada banyak hal yang bisa dikerjakan bersama, mulai dari memasak, membersihkan rumah, hingga menyiapkan kebutuhan lainnya.

Menggunakan narasi agama untuk menyuruh perempuan tetap bersyukur tanpa melihat kondisi yang mereka alami dapat melukai perasaan dan menghilangkan empati. Padahal, dari kisah Fatimah tersebut, justru terdapat pesan bahwa ketika seseorang mengalami kelelahan, keluarga di sekitarnya dapat hadir untuk membantu dan meringankan beban.

Berempati dalam Merespons Pengalaman Perempuan

Dalam bermedia sosial, penting bagi kita mengedepankan empati terhadap seseorang. terutama untuk seseorang yang sedang menuliskan pengalamannya sebagai perempuan. pengalamannya valid dan tak perlu dipertanyakan terutama jika menyangkut beban-beban domestik. Sering terjadi, bukannya mendengarkan, kadang malah membandingkan atau meremehkan.

Misalnya dengan berkata “yang lain juga begitu”, “sudah jadi kodrat atau fitrah perempuan”, atau “terlalu berlebihan”. Kalimat seperti ini bisa membuat orang yang bercerita merasa tidak dihargai. Padahal, setiap orang punya kondisi dan pengalaman yang berbeda.

Empati berarti mencoba memahami. Kita tidak harus selalu memberi solusi atau nasihat. Kadang cukup dengan mendengarkan dan merespons dengan kalimat yang menguatkan. Kita juga perlu sadar bahwa beban yang dialami perempuan, terutama dalam pekerjaan rumah, bukan hanya masalah pribadi. Ada kebiasaan di masyarakat yang membuat perempuan sering memikul tanggung jawab lebih besar.

Menciptakan Lebaran yang Ramah Perempuan

Idulfitri ini, mari kita ciptakan lingkungan yang ramah perempuan. Misalnya dalam persiapan lebaran, tidak membiarkan perempuan menyiapkan seluruhnya sendirian. Jika ada anggota keluarga yang lain, dapat didiskusikan baik-baik mengenai persiapan lebaran. Berbagi tugas dalam membersihkan rumah, saling membantu di dapur ketika perempuan sedang memasak, menanyakan apakah ada yang perlu dibantu? dan berinisiatif membantu. Serta tidak membiarkan perempuan memiliki pekerjaan ganda yang sebenarnya dapat dilakukan secara bersama.

Lebaran yang ramah perempuan juga berarti memberi ruang bagi perempuan untuk beribadah dengan tenang, seperti mengikuti salat Idulfitri, tanpa harus terus berada di dapur atau mengurus pekerjaan rumah. Selain itu, perempuan juga berhak memiliki waktu untuk menjaga kesehatan dan memperhatikan dirinya sendiri. Mari menciptakan lebaran yang ramah bagi anak perempuan, perempuan, ibu, dan nenek-nenek kita.

Selamat Idulfitri 1447 H, Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum.

Merebut Tafsir: Dua Buku Menjemput Mimpi

Merebut Tafsir: Dua Buku Menjemput Mimpi

Akhir Februari 2021, ada dua buku yang terbit yang ditulis dua perempan berdasarkan pengalamannya menulis catatan perjalanan. Pertama buku Mbak Ienas Tsuroiya atau dalam konteks Ngaji Ihya dikenal sebagai “Mbak Admin”, kedua buku saya “Merebut Tafsir” sebuah catatan terserak di laman Facebook.

Buku Mbak Ienas “ Catatan Mbak Admin: Berkeliling Nusantara Bersama Imam Ghozali” telah diluncurkan dengan seru dan menyenangkan akhir minggu lalu. Sementara buku saya baru diiklankan kemarin petang (1 Mei 2021).

Dalam acara peluncuran buku Mbak Ienas, saya termasuk yang didapuk ikut menyambut kegembiraan ini. Kebetulan saya juga diperkenankan memberi Epiolog sehingga sambutan saya pada dasarnya hanyalah meringkas Epilog itu. Demikinlah semua peserta hadir secara virtual dengan sumringah. Terlebih setelah ada hadiah bagi penanya terpilih dan semua mendapatkan hadiah istimewa berupa ijazah doa sholawat dari Gus Mus. Semua kebagian semua mengaminkan.

Saya tidak ingat apakah sejak awal Mbak Ienas berniat hendak menerbitkan catatan perjalannya keliling Nusantara mendampingi kyai Ulil ini. Tapi bagi kami, saya, Nurul Agustina dan Nur Rofiah yang ikut memberikan testimoni, catatan Mbak Admin ini sungguh penting sebagai catatan lapangan/ catatan etnografi di seputar kegiatan Ngaji Ihya. Tanpa catatan ini orang akan banyak lupa detail kejadian di balik layar dan di depan layar bagaimana Ngaji Ihya ini terselenggara.

Kita sering mendengar kisah orang yang begitu ajaibnya bisa “menjemput mimpi”, sesuatu yang sepertinya mustahil digapai. Siapa nyana, dari obrolan ringan Mas Ulil dengan Mbak Ineas yang menyatakan kangen ngaji model di pondok “ utawi iki iku”, kini bisa menjadi acara Ngaji Ihya yang mendunia. Bukankah itu seperti impian masa kecil yang dijemput kembali di kemudian hari?

Ngaji Ihya telah berlangsung selama tiga tahun, dan santrinya bertambah banyak. Padahal banyak kegiatan yang berulang serupa itu biasanya hanya ramai di awal kemudian sepi. Namun tidak demikian dengan Ngaji Ihya. Terlebih acara yang disiarkan melalui medsos dan live streaming ini kemudian diwujudkan menjadi acara temu kangen “Kopdar” jamaah dengan Mas Ulil dan Mbak Ienas. Bahkan untuk jamaah di Korea yang dihadiri ribuan warga NU khususnya Nahdliyin mereka mendapat bonus Ngaji Ihya bersama Gus Mus dan duet Mas Ulil dan Mbak Ienas. Komplit !

Siapa nyana juga “Ngaji Ihya” via sosmed ini laksana kegiatan yang “weruh sadurunge winarah” mengetahui sebelum kejadian. Nyatanya Ngaji Ihya yang semula ditujukan untuk menjangkau jamaah sebanyak mungkin dengan ongkos seirit-iritnya telah menjadi pionir dari beragam pertemuan virtual terutama melalui zoom setelah kita dipaksa berpisah jarak secara sosial gara-gara Covid- 19.

Beriringan dengan terbitnya buku “Catatan Mbak Admin”, buku saya “Merebut Tafsir” juga terbit. Ini adalah buku kumpulan catatan saya di Facebook yang kemudian dikumpulkan seorang aktivis perempuan asal Aceh, seorang sahabat terpaut umur lumayan jauh dengan saya, Mirisa Hafsaria. Mirisa meminta izin untuk menyuntingnya. Dia mengumpulkan dengan sangat teliti dan menggabungkannya dengan beberapa tulisan tersiar lainnya seperti yang dimuat di Kompas atau di publikasi lainnya.

Kalau tak diingatkan buku ini, saya hampir lupa kapan persisnya saya memulai dan bagaimana kolom itu saya beri nama “Merebut Tafsir”. Tapi saya banyak ingat bagaimana tulisan-tulisan itu lahir sebagai sesuatu yang spontan. Dalam bahasa yang mungkin agak jumawa, tulisan-tulisan dalam Merebut Tafsir itu kadang meluncur seperti ilham yang tak dapat dibendung. Tak jarang saya menulisnya sampai terisak-isak. Kadang, saya terbangun tengah malam karena tak dapat menunda bahkan untuk menanti pagi tulisan itu meluncur. Dan saya bisa rasakan tulisan mana yang punya kekentalan rasa batin dan mana yang encer saja.

“Merebut Tafsir” sebetulnya bukan buku pertama saya yang dipublikasikan baik sebagai karya sendiri atau karya bersama dengan penulis lain. Tulisan ilmiah pertama saya malah terbit di Leiden 1992 sebagai salah satu kontributor untuk buku “Women and Medation”. Tulisan saya merupakan hasil penelitian tentang peran muballighat sebagai mediator dalam komunitasnya. Tentu hati saya melonjak girang ketika artikel pajang itu terbit dan menjadi bagian dari buku setelah diedit seorang antropolog Sita van Bemmelen. Terlebih ketika Nelly van Dorn mengatakan bahwa artikel itu semacam referensi dasar pagi mereka yang hendak mengkaji tentang gerakan perempuan Islam di Indonesia. Namun menulis Merebut Tafsir dan menerbitkannya bagi saya seperti menjemput mimpi yang lain.

Waktu SMA saya sering berkhayal membuat novel, minimal cerbung. Kala itu majalah Gadis sedang jaya-jayanya. Tapi saya lebih tertarik menulis realitas kehidupan. Jadi, kalaupun membuat novel saya ingin menulis tentang dinamika kehidupan di era tertentu. Impian itu terbawa terus sampai kuliah. Kala itu ingin sekali menulis tentang perlawanan rakyat kepada rezim Orde Baru. Saya sangat terkesan pada novel Bread and Wine, sebuah cerita perlawanan para santri Romo Benedictus dari sebuah ordo Katolik di Italia pada zaman diktator Mussolini. Karya Ignazio Silone itu saya koleksi dalam bahasa Indonesia Inggris dan Belanda, saking sukanya saya pada novel itu !

Saya adalah peneliti. Saya sangat menikmati perjalanan di lapangan. Hal yang paling menantang namun saya nikmati menjadi kebiasaan sebagai peneliti adalah mencatat hasil penelitian; sebuah disiplin yang ditanamkan guru-guru saya,Martin van Bruinessen dan Mies Grijns. Inilah ritusnya: turun ke lapangan, ngobrol, amati, langsung catat ditempat dan menyalin ulang di komputer. Cerita -cerita dari lapangan sering saya bayangkan bisa menjadi novel. ( Nurhady Sirimorok, dari Makassar telah melakukannya dalam novel “Yang Tersisa dari yang Tersisa”). Tapi saya tak punya keterampilan membuat plot cerita. Seburuk apapun tulisan saya, saya hanyalah pelukis cerita dengan detil realitas yang saya baca melalui udut pandang sebagai feminis. Saya juga selalu punya misi dalam tiap tulisan itu,sebagaimana Ismed, suami saya dalam menafsirkan cerita roman karya Abdoel Moeis ketika menulis “Salah Asuhan”. Menurutnya itu adalah kritik atas feodalisme dan politik rasis pemerintah Kolonial.

Tapi saya tak sanggup mengubah catatan lapangan saya menjadi sebuah novel. Hal yang bisa dilakukan adalah merangkainya menjadi cerita dari lapangan seperti dalam buku “Menolak Tumbang” (INSIST 2014) sebuah narasi panjang dalam siklus hidup perempuan dalam melawan pemiskinan. Jadi, Merebut Tafsir bagi saya adalah cara saya menjemput mimpi atas cita-cita saya menulis novel yang tak kunjung kesampaian.

Saya belum sempat bertanya ke Mbak Ienas apakah “Catatan Ngaji Ihya” juga merupakan semacam cara Mbak Ienas menjemput mimpi. Namun saya benar-benar mengaminkannya ketika Gus Mus mengangkat doa agar ini bukalah karya pertama “Ienas, anak saya ini” (demikian Gus Mus menegaskan dengan sangat bangga) Dan saya percaya, Mbak Ienas juga sedang merangkai mimpinya yang lain; buku ke dua, ketiga, dan seterusnya. “Jadikanlah menulis sebagai maisyah – mata pencaharian-”demikian Gus Mus dengan menukil nasihat Mbah Bisri Mustafa, Ayahanda Gus Mus/ Mbah Kakung Mbak Ienas. Gus Mus kembali menegaskan “Pekerjaan paling mulia adalah menulis”. Saya tertegun, “Apa bukan mimpi mencari makan dari menulis”? pikir saya. Tapi saya jadi ingat ucapan Mas Ismed suatu hari, “ Kamu menulis maka kamu ada”. Jadi pastilah menulis dapat menjadi maisyah juga untuk makanan jiwa agar kita tetap hidup, bahkan di saat kita telah tiada. # Lies Marcoes, 2 Maret 2021.