Pos

Rumah KitaB Bahas tentang Perempuan Bekerja dalam Pandangan Islam (2)

Manusia yang Selalu Ingin Eksis
Selain itu, di dalam diri manusia juga terdapat unsur kedua yakni selalu ingin eksis. Setelah mempunyai potensi, manusia juga selalu ingin menunjukkan eksistensinya dengan menonjolkan potensi yang dimilikinya. Gus Ulil juga menjelaskan hadits qudsi yang terkenal di kalangan para sufi, jika diungkapkan dalam bahasa yang mudah ‘Allah itu ingin pamer’ atau ingin menunjukkan dirinya.

“Aku ini dulunya tidak terlihat”.

“Aku ini (Tuhan) Maha Indah”.

“Dan aku ingin diketahui atas keindahanku”.

“Karena kalau kita analogikan tidak mungkin kecantikan atau kegantengan itu tidak ingin diketahui, tidak mungkin kecantikan dan kegantengan ditutupin sendirian saja, bahkan hal ini tidak ada gunanya,” ujar Gus Ulil.

Menurut Gus Ulil, Tuhan dulu seperti itu menggambarkan dirinya bagaikan kecantikan dan kegantengan yang ingin diketahui karena keindahan ini harus ditampakkan keluar. Maka, Allah menciptakan manusia.

فأرءت عن معرف

“Supaya manusia tahu Aku,”

Inilah watak manusia, karena telah ditiupkan pada dirinya unsur ketuhanan maka manusia mewarisi sifat-sifat ketuhanan. Ingin melihatkan apa yang dia punya bahkan kemampuannya kepada orang lain. Makannya, ketika bisa berbagi skill-nya dan diapresiasi terdapat rasa bahagia, karena ia bisa memenuhi sifat ketuhanannya dalam tanda kutip.

“Manusia itu ingin selalu menampakkan sesuatu keluar”.

Gus Ulil juga memaparkan bagaimana bekerja itu tidak hanya dimaknai sekedar cari gaji/upah. Karena tidak semua orang mencari hal ini, tentunya bicara gaji adalah hal yang penting tapi yang lebih penting dari bekerja adalah mengeluarkan atau bentuk aktualisasi dirinya.

“Hal ini memang sedikit sufi, namun pada momen bekerja itu walau dibayar gaji kecil atau besar ada proses aktualisasi diri di dalamnya. Dan bekerja adalah esensi mengeluarkan potensi menjadi aktual, ini semua sunnahtullah,” tuturnya.

Di kalangan Muslim ada persepsi yang menggambarkan bahwa seolah olah keadaan umat Islam terutama kaum perempuan di ukur kesalehannya dengan presentase berada di rumahnya, jadi semakin sering di rumah, tidak keluar, dan tidak terlibat dalam kegiatan di masyarakat maka semakin salehah.

“Bahkan ada persepsi makin di rumah makin baik dan terus terang sewaktu di pondok saya juga masih punya persepsi demikian,” ungkap Gus Ulil dalam memantik diskusi.

Menurutnya, gambaran seperti ini tidaklah faktual, bukan begitulah cita-cita Islam membangun masyarakat. Dalam Islam masyarakat yang dibangun dengan kebersamaan, artinya bersamaan oleh pekerja Laki-laki dan Perempuan.

Karena para Perempuan pada masa Nabi tepat pada periode Makkah, Madinah, para sahabat atau para tabi’in (mungkin pada periode tabi’in sedikit berbeda namun esensinya sama), di mana perempuan terlibat dalam kehidupan di masyarakat.

Pewarta: Reesti MPPS
Editor: Agung Gumelar

Sumber: Jabar.nu.or.id

Ilustrasi: Jabar.nu.or.id

Gus Ulil: Islam Memandang Perempuan Bekerja

Dalam rangka penguatan kapasitas tokoh dan peneceramah agama untuk membangun narasi hak perempun bekerja, Rumah Kitab melaksanakan pelatihan selama 5 hari secara daring di tiga daerah: Depok, Jakarta, dan Bekasi.

Pada sesi ke-2 yang diadakan di daerah Bekasi, peserta diajak untuk merefleksikan bagaimana islam memandang perempuan bekerja bersama dengan Ulil Abshar Abdalla.

Dengan jumlah peserta 45 orang dari berbagai profesi seperti para tokoh agama, penyuluh agama, pengasuh majlis taklim, hingga aktivis perempuan. Ia membeberkan bagaimana Hak Perempuan selalu menjadi perhatian khusus, dan adapun lebih spesifik pada isu ini adalah Hak Perempuan bekerja.

“Isu ini menjadi penting dikarenakan adanya perkembangan di masyarakat dan kebetulan perkembangan itu berkembang di lingkungan agama islam.” Ungkap Gus Ulil dalam diskusi secara Virtual di Bekasi pada ( 26/7).

Dalam hal ini, Masyarakat mendapatkan pemahaman berdasarkan dalil-dalil dan fatwa keagamaan bahwa perempuan bekerja adalah aktivitas yang kurang tepat.

Gus Ulil juga menjelaskan hal mendasar dalam agama islam yang kita yakini, bahwa manusia adalah makhluk yang baik, dan ciptaan terbaik dalam Al Qur’an disebutkan احسن تقويم

“Maka saya sering katakan, manusia ini tubuhnya kecil tapi potensi di dalam tubuhnya besar sekali.”

Manusia secara fisik memang tidak lebih kuat dari binatang-binatang lain, dalam hal berlari ia kalah dengan singa ataupun kuda, dan dalam hal memikul beban ia kalah dengan gajah.

“Kelemahan fisik ini tidak menandakan atau membuat dirinya lemah secara mental/spiritual.”

Manusia memiliki kemampuan besar, yang mana hal ini dapat membuat manusia melakukan hal yang lebih besar dari makhluk ciptaan yang lain.

“Jadi jangan mengukur manusia secara kelemahan fisik tapi karena potensi yang Allah berikan di dalamnya.”

Para filsuf muslim, mereka punya istilah bagus yang digambarkan dengan istilah (bil quwah) atau potensi yang belum terlihat. Potensi ini baru tampak setelah diolah dengan adanya training, belajar, diskusi, atau lain hal. Maka, akan tampaklah sebuah potensinya yang baru disebut dengan istilah (bil fi’li) atau sudah keliatan secara aktual.

“Kemampuan ini lebih besar dan tidak ada batasan. Namun hakikatnya, tentu manusia memiliki batasan tapi kita tidak tau batasan sampai mana, dan tentulah batasan ini hanya Allah Swt yang tahu itu.”

Karena Allah telah menciptakan manusia yang mana di dalam dirinya telah ditiupkan unsur ketuhanan atau ruh Tuhan. Dalam al quran digambarkan:
(فَإِذَا سَوَّیۡتُهُۥ وَنَفَخۡتُ فِیهِ مِن رُّوحِی)
Allah meniup ruhnya dalam diri manusia, “Ini ajaib sekali, karena ruh ketuhanan itu besar sekali, maka ruh yang sebagian ditiupkan ini tentu punya potensi yang besar juga.”tandas Gus Ulil.

Maka dengan hal ini, Manusia dalam setiap zaman mampu menciptakan segala hal yang tidak terduga sebelumnya. Kalau kita meminjam kata dari Dewa 19, manusia itu ibarat setengah dewa.

Ia juga menjelaskan, potensi ini berlaku untuk semua manusia, yaitu perempuan dan laki-laki. Selain itu, manusia terdapat unsur kedua setelah diberikan potensi, yaitu manusia ingin menunjukan potensinya.

Gus Ulil juga menjelaskan hadits qudsi yang terkenal terutama dalam kalangan sufi. “kira- kira diungkapkan dalam bahasa yang mudah “Allah itu ingin pamer” atau ingin menunjukan dirinya.”

Aku ini dulunya tidak terlihat, Aku ini (Tuhan) Maha Indah, Dan aku ingin diketahui atas keindahanku.

“Karena kalau kita analogikan tidak mungkin kecantikan atau kegantengan itu tidak ingin diketahui, tidak mungkin kecantikan dan kegantengan itu ditutupi sendirian saja, bahkan hal ini tidak ada gunanya.”

“Kecantikan dan kegantengan itu berguna ketika ada orang yang melihat kecantikan atau kegantengan ini, dan Tuhan dulu seperti itu menggambarkan dirinya bagikan kecantikan dan kegantengan yang ingin diketahui.”

Karena keindahan ini harus ditampakkan keluar, maka itu Allah menciptakan Manusia.
فأرءت عن معرف
supaya manusia tahu aku. 

“Jadi sebuah kecantikan atau kegantengan harus diketahui agar bernilai. Tentunya Allah tidak butuh hal ini, karena غانى عن العالمين namun Allah selalu memberikan hikmah di setiap penciptaanya, dan tentu salah satunya agar dimensi kecantikan dan keagungan ini diketahui.”

Inilah watak manusia, karena telah ditiupkan pada dirinya unsur ketuhanan maka manusia mewarisi sifat sifat ketuhanan. Ingin melihatkan apa yang dia punya bahkan kemampuannya kepada orang lain. Makanya, ketika bisa berbagi skillnya dan diapresiasi terdapat rasa bahagia, karena ia bisa memenuhi sifat ketuhanannya dalam tanda kutip, “Manusia itu ingin slalu menampakan sesuatu keluar”, kalau kita bahagia ingin sekali berbagi berita ini ke orang lain dan begitu juga potensi manusia. kalau ia tidak bisa mengaktualisasi diri maka akan stres. Jadi potensi itu harus keluar, entah harus dibayar atau tidak, minimal harus keluar.”

Dalam hal ini, Gus Ulil juga memaparkan bagaimana bekerja itu tidak hanya dimaknai sekadar cari gaji/upah. Karena tidak semua orang mencari hal ini, tentunya bicara gaji adalah hal yang penting tapi yang lebih penting dari bekerja adalah mengeluarkan atau bentuk aktualisasi dirinya.

“Hal ini memang sedikit sufi, namun pada momen bekerja itu walau dibayar gaji kecil atau besar ada proses aktualisasi diri didalamnya. Dan bekerja adalah esensi mengeluarkan potensi menjadi aktual, ini semua sunnatullah.”

Di kalangan muslim ada persepsi yang menggambarkan bahwa seolah-olah keadaan umat islam terutama kaum perempuan diukur kesolehannya dengan presentase berada di rumahnya, jadi semakin sering di rumah, tidak keluar, dan tidak terlibat dalam kegiatan di masyarakat maka semakin sholihah.

“Bahkan ada persepsi makin di rumah makin baik dan terus terang sewaktu di pondok saya juga masih punya persepsi demikian.” ungkap Gus Ulil dalam memantik diskusi.

Gambaran seperti ini tidaklah faktual, bukan begitulah cita-cita islam membangun masyarakat. Dalam islam masyarakat yang dibangun dengan kebersamaan, artinya bersamaan oleh pekerja laki-laki dan Perempuan.

Karena para perempuan pada masa Nabi tepat pada priode Makkah, Madinah, para sahabat atau para tabi’in (mungkin pada priode tabi’in sedikit berbeda namun esensinya sama), dimana perempuan terlibat dalam kehidupan di masyarakat.

Bukan hanya itu, dalam hal mempersiapkan pasukan perang bahkan perempuan juga ikut terlibat didalam sebuah perperangan, seperti istri nabi yang terkenal Sayyidah Aisyah.Selain Aisyah, banyak istri nabi yang terlibat dalam kehidupan di masyarakat, seperti Siti Khadijah yang punya peran aktif pada masa masa dakwah pertama di Makkah.

Ia wafat dalam periode Makkah, hal ini yang membuat ia tidak punya peran yang terekam dalam hadits-hadits para rawi setelah itu. Walaupun hadits tentang Khadijah tidak ada ia terekam dalam periwayatan hadits darinya.

Dikarenakan periwayatan hadits itu penting, sehingga dapat memproduksi banyak pengetahuan, halnya Siti Aisyah yang menjadi sumber periwayatan hadits yang besar.

“Jika diibaratkan pada konteks hari ini, Aisyah bagaikan sosok ibu nyai yang aktif dan alim, banyak diminta rujukan seperti bagaimana cara Nabi tidur hingga sholat malam.” Ungkap Gus Ulil.

Seperti kisah sahabat perempuan nabi yang juga terlibat peperangan penting pada masa nabi di Madinah bagian utara, yaitu perang melawan Romawi ialah Asma’ binti yazid.

Seorang orator perempuan Arab ini, suatu hari datang kepada Nabi dan mengeluh atau mewakili aspirasi Perempuan pada saat itu.

“Engkau bagaikan ibu dan sekaligus ayahku, wahai Rasulullah. Keberadaanku di sini adalah untuk mewakili para wanita. Bahwasannya Allah telah mengutusmu untuk segenap laki-laki dan perempuan. Kami mengimanimu dan juga TuhanMu. Aku akan memberitahukan kepadamu, bahwa kita kaum wanita tak mempunyai gerak yang leluasa tak sebagaimana laki-laki. Amal perbuatan kami hanya sebatas perbuatan yang bersifat rumah tangga saja, tempat pelampiasan nafsu kalian dan sekaligus untuk mengandung dan melahirkan anak-anak kalian pula.

Ini berbeda dengan kalian semua, wahai kaum laki-laki. Kalian melebihi kami dalam hal berjamaah, menjenguk orang sakit, mengantarkan mayat ke kuburan, haji, dan yang lebih utama lagi adalah kemampuan kalian untuk melakukan jihad di jalan Allah. Amal perbuatan kami di saat kalian pergi haji atau melakukan jihad hanya sebatas menjaga harta, mencuci pakaian, dan mendidik anak-anak kalian pula. Oleh karena itu, kami ingin bertanya kepada kalian, apakah amal perbuatan kami itu pahalanya bisa disetarakan dengan amal perbuatan kalian?”

Keberanian dan kecerdasan Asma’ binti Yazid ini merupakan hal yang jarang ditemui pada masa Nabi. Terlebih, ia adalah seorang perempuan yang berbicara langsung di hadapan Rasulullah saw beserta para sahabatnya. Keberanian serta tutur kata yang terstruktur itu merupakan bukti kecerdasan serta ketulusan hati Asma’ dalam membela agama Allah Swt.

Diakhir sesi ini pun, Gus Ulil memaparkan bahwa opini penggiringan perempuan pada masa nabi di rumah saja itu tidaklah benar, kalau pun masalah perbedaan hanya melalui pandangan fiqih.

Rumah KitaB Bahas tentang Perempuan Bekerja dalam Pandangan Islam (1)

Dalam sebuah pelatihan penguatan kapasitas para tokoh dan penceramah agama untuk membangun narasi hak perempuan bekerja yang diselenggarakan oleh Rumah KitaB (rumah kita bersama), Ulil Abshar Abdala (Gus Ulil) yang menjadi narasumber pada acara tersebut mengajak para peserta untuk merefleksikan bagaimana Islam memandang perempuan yang bekerja.

“Isu ini menjadi penting dikarenakan adanya perkembangan di masyarakat dan kebetulan perkembangan itu berkembang di lingkungan agama Islam,” ujar Gus Ulil dalam diskusi virtual pada Senin (26/7).

Di hadapan 45 peserta yang tergabung dari berbagai profesi seperti tokoh agama, penyuluh agama, pengasuh majelis taklim hingga aktivis perempuan. Gus Ulil membeberkan bagaimana hak perempuan selalu menjadi perhatian khusus terlebih soal hak perempuan bekerja.

Dalam hal ini, menurutnya, masyarakat mendapatkan pemahaman berdasarkan pada dalil-dalil dan fatwa keagamaan bahwa perempuan bekerja adalah aktivitas yang kurang tepat. Ia menjelaskan, hal mendasar dalam agama Islam bahwa manusia adalah makhluk yang baik dan ciptaan terbaik yang dalam Al-Qur’an disebutkan  احسن تقويم

Menurutnya, manusia memiliki kemampuan yang besar untuk dapat melalukan hal yang lebih besar dari makhluk ciptaan yang lain, “Maka saya sering katakan, manusia ini tubuhnya kecil tapi potensi di dalam tubuhnya besar sekali. Jadi jangan mengukur manusia secara kelemahan fisik tapi karena potensi yang Allah berikan di dalamnya,” ungkapnya.

Para filsuf Muslim biasa menyebutnya bil quwah atau potensi yang belum terlihat. Potensi ini, akan tampak setelah melakukan upaya seperti berlatih, belajar, diskusi, atau lain hal. Maka, setelah itu akan tampaklah potensinya, yang kemudian dikenal dengan istilah bil fi’li atau sudah keliatan secara aktual.

Allah telah menciptakan manusia yang di dalam dirinya telah ditiupkan unsur ketuhanan atau ruh Tuhan. Dalam Al-Qur’an digambarkan:

فَإِذَا سَوَّيْتُهُۥ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِى فَقَعُوا۟ لَهُۥ سَٰجِدِينَ

Artinya: “Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud” (QS. Al-Hijr: 29).

Menurut Gus Ulil, ini adalah sesuatu yang sangat ajaib, karena ruh ketuhanan itu besar sekali. Ruh yang ditiupkan kepada manusia tentunya mempunyai potensi yang besar pula. Maka dengan hal ini, manusia di setiap zaman mampu menciptakan segala hal yang tidak terduga sebelumnya. Potensi besar ini berlaku untuk semua manusia baik perempuan dan laki-laki. (Bersambung)

Pewarta: Reesti MPPS
Editor: Agung Gumelar

Sumber: Jabar.nu.or.id

Ilustrasi: Jabar.nu.or.id

Metode Andragogi dalam Modul Pelatihan: Upaya Membangun Kesadaran Berkeadilan Gender

 

Judul               : Modul Penguatan Kapasitas Membangun Narasi Pemenuhan Hak Perempuan Bekerja untuk Tokoh Agama

Tim Penyusun : Achmad Hilmi, Fadilla D.Putri, Lies Marcoes, Nur Hayati Aida, Nurasiah Jamil

Penerbit           : Yayasan Rumah KitaB atas dukungan DFAT-Investing in Women–2021

Tebal               : 126 halaman

 

Berdasarkan pantauan Rumah Kita Bersama (Rumah KitaB) sejak tahun 2013, pandangan yang membatasi perempuan bekerja semakin menyebar sebagai wacana dalam berbagai sendi kehidupan masyarakat Indonesia. Pandangan konservatif, mengenai ‘perumahan’ perempuan, ini terutama dipengaruhi oleh dakwah yang dilakukan para tokoh agama atau publik figur. Mereka menyuarakan pembatasan peran perempuan di sektor publik, termasuk pelarangan perempuan bekerja. Padahal, fenomena perempuan bekerja bukanlah hal tabu di negeri ini. Namun, ketika para agamawan berbicara dengan dalil agama, maka mayoritas masyarakat akan menerimanya, tanpa menelaahnya lebih mendalam.

Atas dasar itulah, Rumah KitaB berpandangan perlu adanya narasi tanding atas pembatasan perempuan bekerja. Lembaga ini bekerja sama dengan pemerintah Australia dalam program Inventing in Women menginisiasi pelatihan bagi tokoh agama atau penceramah. Adapun upaya awal untuk perubahan norma gender dalam masyarakat Indonesia ialah dengan membuat modul yang efektif dalam rangka penguatan kapasitas mereka sebagai peserta pelatihan. Modul tersebut didesain guna mencapai tujuan pelatihan, yaitu untuk membangun narasi pemenuhan hak-hak bekerja bagi perempuan dalam sudut pandang Islam.

Rumah KitaB sebagai lembaga riset berbasis kebijakan, untuk memperjuangkan hak-hak kaum termarjinalkan, menyadari bahwa tokoh agama atau penceramah merupakan subjek utama dalam konteks ini. Mereka berperan dalam memproduksi narasi berbasis teks keagamaan mengenai ‘perumahan’ perempuan. Pandangan ini berdampak pada diskriminasi terhadap perempuan yang memilih untuk bekerja atau terdesak memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Sedangkan, masyarakat akan memberikan stereotipe negatif terhadap mereka yang tidak mengindahkan seruan para penceramah; berarti tidak beragama secara kaffah.

Ditambah lagi peliknya problematika lainnya yang harus dihadapi perempuan bekerja. Mereka harus menghadapi beban ganda, serta minimnya ketersediaan infrastruktur penunjang seperti day care, ruang laktasi, cuti hamil, dan akses kesehatan reproduksi. Perempuan pun harus berjuang keras dalam konstestasi kerja yang acap kali memandang sebelah mata perempuan yang memiliki karir cemerlang. Faktanya, perkembangan global di era kontemporer ini membuka peluang bagi perempuan untuk berpartisipasi dalam berbagai sektor. Tantangan inilah yang disoroti Rumah KitaB untuk diselesaikan akar persoalannya. Dengan adanya pelatihan bagi penceramah di empat wilayah urban, yaitu Jakarta, Depok, Bekasi, dan Bandung diharapkan bisa mempengaruhi atmosfer narasi sosial-keagamaan yang tidak bias gender terkait “perempuan bekerja”.

Modul Sistematis, Modal Keberhasilan Pelatihan  

Modul ini disusun oleh Tim Rumah KitaB sebagai rujukan bagi fasilitator yang akan mendampingi peserta pelatihan yang notabene tokoh agama, penceramah, atau pemilik otoritas keagamaan. Sebagai panduan pembelajaran berkelanjutan, modul ini didesain untuk mengembangkan pandangan keagamaan yang progresif, serta terbuka pada gagasan Islam tentang hak perempuan bekerja. Adapun fasilitator ialah tim internal Rumah KitaB yang telah berpengalaman, serta memiliki pemahaman komprehensif terhadap modul.

Adapun dua tujuan utama yang hendak dicapai melalui modul ini: Pertama, memberi kemampuan kepada peserta pelatihan untuk memahami problem perempuan bekerja akibat pandangan keagamaan yang membatasi atau melarang perempuan bekerja. Kedua, peserta terampil menggunakan argumentasi keagamaan dalam mendukung atau melakukan pendampingan komunitas atau masyarakat di mana mereka beraktivitas berlandaskan pada narasi keagamaan tentang perempuan bekerja.

Setiap modul disusun dengan struktur yang sistematis untuk mendapatkan gambaran yang utuh tentang bagaimana pengertian, tujuan, dan cara-cara yang diterapkan dalam pelatihan. Adapun struktur materi sebagai berikut: Judul Materi; Deskripsi Materi; Tujuan; Pokok Bahasan; Waktu; Metode; Alat dan Bahan; Langkah-Langkah Kegiatan. Selain itu, modul ini dilengkapi dengan lembar-lembar petunjuk bagi fasilitator, seperti Pedoman Fasilitator (PF), Alat Bantu Belajar (ABB), Lembar Kerja (LK), Bahan Bacaan (BB), dan Bahan Tayang (BT).

Modul ini terbagi menjadi enam materi pembelajaran: 1) Perkenalan dan Pengantar; 2) Pandangan Masyarakat terhadap Perempuan Bekerja; 3) Gender dan Konstruksi Pemahaman tentang Perempuan Bekerja; 4) Metodologi Reinterpretasi Teks Keagamaan; 5) Strategi Mendukung Perempuan Bekerja dan Mengaktualisasikan Diri; 6) Rencana Tindak Lanjut dan Evaluasi. Merujuk pada urutan materinya, maka tampak alur berpikir yang logis. Selain itu, tim Rumah KitaB menyusun petunjuk praktis bagi fasilitator, sehingga modul dapat digunakan dalam pelatihan tatap muka (offline) maupun virtual (online).

Dalam pelatihan ini, gender dipakai sebagai perspektif dan alat analisis atas kesenjangan perempuan dalam mendapatkan haknya untuk bekerja dan menyusun advokasi untuk mengatasi problem tersebut. Adapun cakupan materi terfokus pada isu perempuan bekerja dengan tujuan memberikan narasi dan logika; bagaimana Islam memiliki argumentasi yang kokoh bahwa bekerja adalah hak setiap manusia. Diharapkan setelah pelatihan ini para tokoh agama dalam perannya memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran dengan memaksimalkan kemampuan berargumentasi tentang hak perempuan bekerja dalam pandangan Islam. Dengan demikian, peserta tidak akan diajari bagaimana cara berceramah melainkan konten apa yang harus disampaikan ke umat atau masyarakat.

Andragogi, Memanusiakan Orang Dewasa

Dalam mengoperasikan modul ini, Tim Rumah KitaB mendesain alur pembelajaran dengan kerangka Pendidikan Orang Dewasa; dikenal dengan metode pendidikan andragogy. Secara etimologis, andragogi berasal dari Bahasa Latin, yaitu andros yang berarti ‘orang dewasa’ dan agogos yang berarti memimpin atau melayani. Istilah “andragogi” sebagai suatu teori dalam filsafat pendidikan pertama kali dugunakan oleh Alexander Kapp asal Jerman pada tahun 1833. Kemudian, pada tahun 1921 istilah tersebut dimunculkan kembali oleh Eugene Rosentock, seorang sejarawan dan filsuf asal Jerman. Sejak era 1970-an metode andragogi menyebar masif di berbagai belahan dunia.

Melalui pendekatan ini, fasilitator berupaya mendorong peserta pelatihan untuk aktif dalam proses belajar. Fasilitator memastikan setiap peserta pelatihan terlibat dalam proses belajar secara sistematis dan terstruktur dengan melakukan/mengalami, mengungkapkan, mengolah/menganalisis, menyimpulkan, menerapkan, melakukan kembali, dan kemudian merefleksikan pengalamannya. Proses pembelajaran ini berangkat dari kesadaran tentang filsafat pendidikan untuk pemberdayaan.

Selain dilengkapi dengan bahan bacaan yang terkait dengan tema, modul ini memang dirancang untuk mewujudkan peningkatan kapasitas dan kepekaan, serta membangun komitmen dan kolektivitas peserta pelatihan. Modul ini berlandaskan pada sejumlah pendekatan yang akan mengawali pelatihan di setiap sesi, yaitu: Tutur perempuan; Partisipatif; Penumbuhan komitmen; Kolektifitas; dan Keberlanjutan.

Proses pembelajaran dalam pelatihan ini nantinya dikelola dalam alur yang terstruktur; mengikuti alur pendidikan orang dewasa berdasarkan prinsip partisipasi. Oleh karena itu, metode ini kerap disebut sebagai daur proses pelatihan partisipatif dengan basis pengalamanan yang terstruktur. Modul ini tampak detail menyampaikan langkah-langkah yang harus dilakukan fasilitator melalui pendekatan andragogi, sehingga pelatihan dapat berlangsung  komunikatif dan efektif.

Terlebih lagi, peserta pelatihan ini merupakan para agamawan yang notabene memiliki pengetahuan dasar mengenai agama dan pengalaman berhadapan dengan umat. Melalui pendekatan pedagogi dalam modul ini, diharapkan peserta pelatihan dapat membangun kesadaran berkeadilan. Dalam membangun narasi pemenuhan hak perempuan bekerja, maka sangat diperlukan adanya “perspektif berkeadilan” yang tidak bias gender. Semoga upaya yang dilakukan Rumah KitaB ini bisa mewujudkan penguatan kapasitas tokoh agama dalam memproduksi narasi keagamaan yang mendukung kiprah perempuan bekerja. []

Para Perempuan Masa Nabi yang Menjadi Dokter dan Perawat (Bag. 1)

Oleh Nurul Iffatiz Zahroh (Islami.co)

Profesi dokter dan perawat pada masa Nabi berada di tangan perempuan. Jika dalam sejarah Eropa perawat pertama adalah Florance Nighthingale (1820-1910), maka dalam sejarah Islam perawat telah ada sejak tahun 620 M dan juga dipelopori oleh seorang perempuan.

Tercatat lebih dari sepuluh orang sahabat perempuan yang menggeluti bidang kesehatan, di antaranya adalah:

  • Rufaidah al-Aslamiyah

Rufaidah terkenal sebagai dokter dan perawat pertama dalam Islam. Nama lengkapnya adalah Rufaidah binti Sa’ad al-Aslamiyah. Ia adalah keturunan dari bani Aslam. Rufaidah lahir di Madinah dan termasuk kaum Anshar yang membaiat dan memeluk Islam setelah Rasulullah SAW hijrah ke Madinah.

Rufaidah adalah seorang perempuan terkemuka, ia terkenal karena kepiawaiannya dalam dunia kedokteran maupun keperawatan. Ayah Rufaidah merupakan seorang dokter pada masa jahiliyah dan Rufaidah menekuni bidang ini sejak sebelum masuk Islam.

Berkat keahliannya dalam bidang Kesehatan, Rasulullah SAW mengizinkan Rufaidah untuk mendirikan tenda (klinik) di masjid Madinah. Klinik ini merupakan klinik pertama dalam Islam dan pada saat perang badar klinik ini menjadi rujukan pertama yang menangani kaum muslim yang terluka.

Keluarga Rufaidah juga termasuk keluarga yang terpandang, Rufaidah menggunakan harta dan kekayaannya untuk mengobati kaum muslim di Madinah dan kaum muslim yang terluka dalam medan perang secara gratis.

Klinik Rufaidah juga terkenal dengan sebutan klinik keliling. Pasalnya Rufaidah membawa peralatan medis dengan menggunakan unta dan mendirikan klinik (tenda) di beberapa tempat peperangan.

Selain ahli, kaya raya dan dermawan, Rufaidah juga mengajarkan para perempuan lain yang ikut sebagai relawan perang. Salah satu yang diajari oleh Rufaidah tentang dunia medis adalah istri Rasulullah SAW, Aisyah binti Abu Bakar dan beberapa perempuan lain.

Pada saat perang Khandaq, Sa’ad bin Muadz terkena panah, Rasulullah SAW merekomendasikan dan mempercayai klinik Rufaidah untuk menangani pengobatan Sa’ad, dan di klinik itulah Sa’ad bin Muadz meninggal dunia.

Pada saat perang Khaibar, Rufaidah bersama beberapa perempuan bekerjasama  menjadi relawan yang menangani pengobatan kaum muslimin yang terluka akibat perang. Dan para perempuan itu juga mendapat bagian sebagaimana bagian laki-laki yang berjihad di Medan perang.

  • Ku’aibah binti Sa’ad

Nama lengkapnya adalah Ku’aibah binti Sa’ad al-Aslamiyah. Ku’aibah merupakan seorang perawat yang membantu Rufaidah menangani para tantara muslim yang terluka karena perang. Ku’aibah juga tercatat sebagai orang yang juga menangani Sa’ad bin Muadz. Tugasnya adalah sebagai perawat, sedangkan yang memandu jalannya pengobatan adalah Rufaidah.

  • Ummu Athiyah

Sahabat yang satu ini pasti tidak asing namanya. Seorang sahabat terkenal yang juga banyak meriwayatkan hadis dari Nabi. Nama aslinya adalah Nusaibah binti Harits dan terkenal dengan nama laqobnya, yaitu Ummu Athiyah.

Dalam salah satu riwayat yang diceritakan olehnya, Ummu Athiyah menyampaikan “Aku ikut berperang bersama Rasulullah SAW sebanyak tujuh kali perang dan aku selalu berada di belakang rombongan Nabi, akulah yang menyiapkan makanan untuk mereka, mengobati kaum muslim yang terluka dan merawat mereka bila ada yang sakit”.

  • Ummu Sulaim

Seperti Ummu Athiyah, Ummu Sulaim juga merupakan sahabat yang sering disebut namanya, karena kedekatannya dengan Rasulullah SAW. Ibu dari si kecil yang menjadi khadim Nabi -Anas bin Malik- juga banyak meriwayatkan hadis.

Dalam beberapa riwayat baik yang diriwayatkan oleh putranya Anas maupun diceritakan sendiri olehnya sering bercerita bahwa Ummu Sulaim ikut perang bersama Nabi. Di sana ia bergabung dengan perempuan lain, merawat para tantara yang terluka maupun memberi minum untuk mereka.

  • Rubayyi’ binti Muawwidz

Nama lengkapnya adalah Rubayyi’ binti Mu’awwidz bin ‘Afra’ bin Hazm bin Jundab al-Anshariyah al-Najjariyah. Rubayyi’ merupakan keturunan dari bani ‘Addi bin Najjar. Ia adalah seorang perempuan Madinah yang membaiat Nabi pada baiat Ridwan.

Rubayyi’ merupakan seorang perawi hadis, di samping itu ia juga aktif mengikuti peprang sebagai seorang perawat. Dalam sebuah hadis sahih Rubayyi’ bercerita “Kami ikut perang bersama Nabi, tugas kami adalah memberi minum dan melayani pasukan, serta mengirim kaum muslim yang gugur dan terluka ke Madinah”. Hadis ini diriwayatkan oleh imam Muslim, sedangkan dalam riwayat imam Bukhari berbunyi “Tugas kami adalah memberi minum dan merawat tentara yang terluka”.

Demikianlah sahabat perempuan pada masa Nabi, mereka aktif dan tidak hanya berdiam diri di rumah. Mereka memaksimalkan bakatnya, menjadi seorang dokter maupun perawat.

Artikel ini kerjasama Islamidotco dan Rumah KitaB

Aisyah, Mufti Perempuan Era Sahabat Nabi

Oleh Fera Rahmatun Nazilah (Islami.co)

Sepeninggalan Nabi Saw, Aisyah menjadi salah satu rujukan kaum muslimin tatkala mereka menghadapi permasalahan keagamaan. Dalam al-Ijābah li Īrādi Mastadrakathu Āisyah ‘alas Shahābah  dituliskan, Abu Musa al-Asy’ari Ra pernah berkata, “Setiap kali kami, para sahabat menghadapi kesulitan dalam memahami suatu hadis, kami sering bertanya kepada Aisyah. Ia pun selalu mampu menjawabnya.”

Aisyah sudah mulai berfatwa sejak masa khilafah Abu Bakr RA, Umar RA, Utsman RA dan seterusnya hingga ia menutup usia. Maka tak heran bila putri Ummu Rumman ini dinobatkan sebagai salah satu sahabat yang paling banyak berfatwa.

Perlu diketahui, di masa Umar, tak sembarang orang boleh berfatwa, hanya orang-orang terpilihlah yang diperbolehkan berfatwa, salah satunya adalah Ummul Mukminin Aisyah RA. Ini menunjukkan bahwa Umar RA pun mengakui kedalaman ilmu istri Rasulullah Saw ini.

Di masa itu, ada 130 orang lebih sahabat yang berfatwa, namun di antara mereka hanya tujuh yang fatwanya paling banyak, yaitu Umar bin Khattab Ra, Ali bin Abi Thalib Ra, Abdullah bin Umar Ra, Aisyah Ummul Mukminin Ra, Zaid bin Tsabit Ra, Abdullah bin Umar Ra, dan Abdullah bin Abbas Ra.

Tak hanya banyak berfatwa, Aisyah juga merupakan sahabat perempuan yang paling banyak meriwayatkan hadis. Bahkan putri as-Shiddiq ini menempati posisi keempat di antara para sahabat lain yang paling banyak meriwayatkan hadis. Terhitung sebanyak 2.210 pernah diriwayatkan Aisyah -Perawi hadis terbanyak pertama adalah Abu Hurairah, kedua Abdullah bin Umar, ketiga Anas bin Malik dan keempat Aisyah binti Abu Bakr.

Murid-murid Aisyah

Ada puluhan sahabat yang meriwayatkan hadis dari Aisyah, beberapa di antaranya, Ayahandanya, Abu Bakr, Umar bin Khattab, Abdullah bin Umar, Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Abu Musa al-Asy’ari, Saib bin Yazid, dan Shafiyyah binti Syaibah.  Sedangkan murid Aisyah dari kalangan tabiin ada sekitar 150 orang. Beberapa di antaranya Said bin al-Musayyab, Amr bin Maimun, Alqamah bin Qais, Masruq, dan al-Aswad bin Yazid.

Bayangkan, usia Aisyah masih begitu muda, bahkan kala itu bangsa Arab masih begitu kental terhadap budaya patriarkhi, mereka sering kali tidak memperhitungkan pendapat dan pengetahuan yang dimiliki perempuan. Namun Aisyah mampu membuktikan bahwa keilmuan perempuan bisa menjadi rujukan, perempuan boleh berfatwa dan boleh pula mengajar. (AN)

Wallahu a’lam bisshawab

*Artikel ini kerjasama Islamidotco dengan Rumah KitaB

Shiddiqah binti Shiddiq, Istri Rasulullah Saw yang Aktif Mengajar

Oleh Fera Rahmatun Nazilah (Islami.co)

Istri-istri Rasulullah Saw merupakan orang yang sangat berjasa dalam penyebaran ilmu-ilmu Islam. Dari lisan mereka, hadis-hadis Nabi Saw dapat menyebar kepada umat muslim di berbagai penjuru dunia. Hal ini, selain karena mereka belajar langsung dari Nabi Saw yang sekaligus berperan sebagai suami, para ummahātul mukminīn juga aktif berdakwah dan mengajar.

Salah satu istri Nabi Saw yang paling rutin mengajar adalah Aisyah binti Abu Bakr. Perempuan berjuluk shiddīqah ini memang dikenal cerdas dan kritis. Pada usianya yang terbilang belia, Aisyah mampu menyerap berbagai ilmu yang diajarkan Rasulullah SAW maupun orang-orang di sekitarnya. Ilmu yang dikuasainya pun beragam, mulai dari al-Qur’an, Hadis, Fikih, Faraidh, Tauhid, Syair hingga Kedokteran.

Urwah bin Zubair Ra pernah berkata, “Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih mengetahui fikih, kedokteran dan syair dari pada Aisyah.” Hisyam bin Urwah juga mengakui, “Aisyah adalah orang yang paling faqīh, paling alim dan paling cemerlang idenya di antara orang-orang lain.”

Madrasah Aisyah

Madinah adalah ladang ilmu, tempat para sahabat berkumpul dan menetap. Setelah Rasulullah Saw wafat, di sana muncul banyak madrasah keilmuan, beberapa di antaranya diasuh oleh Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Zaid bin Tsabit dan masih banyak lagi. Namun siapa sangka, madrasah yang terbesar kala itu justru terletak di sudut masjid Nabawi, dekat makam Rasulullah Saw, lokasinya menempel dengan kediaman istri Nabi, itulah madrasah Aisyah, sang Shiddīqah binti Shiddīq. (Lihat Sīrah as-Sayyidah ‘Aisyah Ummul Mukminin Radhiyallahu ‘anha karya Sayyid Sulaiman an-Nadawi h.316-317)

Di Madrasah Aisyah, kaum muslimin baik laki-laki maupun perempuan berkumpul untuk menimba ilmu dan meminta fatwa, mulai dari sahabat senior dan junior, hingga para tabiin, baik laki-laki maupun perempuan. Tak hanya mengajarkan ilmu kepada murid-murid yang datang dari berbagai penjuru saja, Aisyah juga mengasuh serta mendidik anak-anak yatim dan orang-orang miskin.

Para perempuan atau kerabat laki-laki Aisyah diperkenankan belajar langsung di kediaman putri Abu Bakr ini. Sedangkan pelajar laki-laki selain dari kerabatnya belajar dengan beliau dari balik hijab, mereka duduk di masjid Nabawi.

Di kemudian hari, Madrasah Aisyah berhasil memberikan pengaruh kuat bagi perkembangan pemikiran Islam sepanjang masa. Dari madrasah ini, lahirlah para intelektual muslim, yang ahli fikih, ahli tafsir dan ahli hadis.

Mendidik dengan kasih sayang, mendidik layaknya seorang ibu kandung

Keilmuan Aisyah memang begitu diperhitungkan, sampai-sampai sahabat senior pun tak segan bertanya padanya. Murid Aisyah, Masruq pernah berkata, “Aku melihat sahabat-sahabat senior bertanya kepada Aisyah mengenai farāidh.”

Salah satu kebiasaan Aisyah adalah pergi haji setiap tahun, di sana kaum muslimin dari berbagai penjuru dunia akan berkumpul dalam satu waktu. Saat berada di tanah suci itulah, Aisyah sengaja membangun tenda di antara bukit Harrā dan Tsabir, ia menggelar majelis untuk kaum muslimin yang haus akan ilmu.

Maka, Jemaah haji itu pun berbondong-bondong mendatangi majelis Aisyah, mereka menanyakan banyak hal kepada istri Rasulullah SAW ini. Aisyah dengan semangat dan tanpa lelah menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepadanya. Ia juga tak malu menjawab pertanyaan yang terkesan sensitif sekali pun.

Pernah suatu waktu Abu Musa al-Asyari RA berkata, “Sesungguhnya aku ingin bertanya kepadamu tentang sesuatu, namun aku malu menanyakannya.”

“Tanyalah dan jangan malu, sesungguhnya aku ini adalah ibumu,” jawab sang ummul mukminīn ini.

Demikianlah, Aisyah selalu mengajarkan murid-muridnya seperti seorang ibu mengajarkan anaknya. Bahkan Aisyah juga mengasuh dan membiayai hidup beberapa muridnya seperti Urwah, Qasim, Abi Salamah, Masruq, Amrah, dan Shafiyah. (AN)

Artikel ini kerjasama Islamidotco dengan Rumah KitaB

Ummu Ma’bad: Perempuan Periwayat Hadis dan Bekerja sebagai Pengajar

Oleh Qurrota A’yuni (Islami.co)

Jika melihat kilas balik dari sejarah Islam terdahulu, akan kita temukan bahwa perempuan di awal masa Islam termasuk di antara pengajar-pengajar yang di muliakan dan juga berbudi luhur. Keilmuan mereka sangat bermanfaat dan berharga bagi seluruh umat, sehingga keilmuan mereka tidak diragukan lagi terutama dalam meriwayatkan hadis. Oleh karena itu, banyak juga perempuan periwayat hadis.

Sebagaimana diungkap Ibnu Sa’ad dalam al-Thabaqath al-Kubra, ada tujuh ratus perempuan yang meriwayatkan hadits-hadits dari Rasulullah dan dari sebagian para sahabat. Diceritakan juga dari sumber-sumber lain, betapa Rasulullah menghargai keilmuan para sahabat perempuan tidak hanya dari laki-laki.

Selain Ummahatul Mukminin (para istri Rasul) ada juga para sahabat perempuan lainnya, salah satunya adalah perempuan yang meriwayatkan hadits dari Rasululllah serta memberikan sumbangan pendidikan dengan mengajarkan pengetahuan agama pada anak-anak didiknya, yaitu Ummu Ma’bad al-Khuza’iyyah.

Di masa jahiliyah dulu, nama Ummu Ma’bad tidak begitu dikenal. Ia hanya dikenal oleh orang-orang di lingkungannya dan keluarga kabilah di sekitarnya. Namun, Ummu Ma’bad menjadi salah satu perempuan ternama dalam Islam. Kefasihan dan sastranya yang begitu tinggi dalam menjelaskan sifat dan ciri-ciri dari Rasulullah, membuat Rasul kagum dan singgah di tempatnya. Dialah salah satu perempuan periwayat hadis tentang ciri-ciri nabi.

Kisah ini bermula dari perjalanan Rasulullah yang hendak hijrah ke Madinah al-Munawwarah. Rasulullah beserta rombongannya singgah di tenda milik Ummu Ma’bad. Ketika Rasulullah hendak membeli daging dan kurmanya untuk makan dan bekal perjalanan, Ummu Ma’bad menjawab dengan lirih, “Tidak ada yang bisa kami berikan meski sebiji kurma, bahkan kambing-kambing kami tak ada yang bisa diandalkan.  Demi Allah, seandainya kami punya sesuatu, maka kami tidak akan segan-segan menjamu kalian.”. Rasulullah melihat ada seekor kambing betina kurus di samping tenda, dan beliau bertanya, “Ada apa dengan kambing itu?” Ummu Ma’bad menjawab, “Sungguh, dia tertinggal dari kambing-kambing yang lain karena lemah, bahkan dia tak sanggup lagi berjalan”. 

“Apakah dia masih mengeluarkan susu?” tanya Rasulullah.

“Bahkan dia lebih parah dari pada itu,” ujar Ummu Ma’bad.

“Apakah engkau izinkan apabila kuperah susunya?” tanya Rasulullah lagi.

“Boleh, demi ayah dan ibuku. Apabila engkau lihat dia masih bisa diperah susunya, maka perahlah!” Jawab Ummu Ma’bad.

Rasulullah pun memerah susu kambing tersebut dengan mengusap kantong susunya seraya mengucapkan nama Allah dan berdo’a. Seketika kantong susu kambing tersebut mengembung seperti siap ingin diperah.

Rasulullah pun meminta bejana yang besar kepada Ummu Ma’bad. Ummu Ma’bad memberikannya kepada Rasulullah dan bejana besar itu pun seketika penuh dengan susu dari kambing yang telah diperah. Melihat keajaiban ini, membuat Ummu Ma’bad terheran-heran. Ia tidak menyangka apa yang sedang terjadi saat itu.

Rasulullah memberikan bejana itu kepada Ummu Ma’bad dan menyuruhnya meminum susu tersebut, bergantian dengan anggota rombongan yang lain hingga semuanya kebagian minum. Setelah semua kenyang, Rasulullah memerah lagi susu kambing itu dan memberikannya kepada Ummu Ma’bad sebagai hadiah. Setelah itu rombongan Rasulullah berpamitan dan pergi melanjutkan perjalanan hijrah ke Madinah.

Ummu Ma’bad masih tidak mempercayai akan hal ini. Ia bertanya-tanya, bagaimana mungkin susu yang diperah itu berasal dari kambing yang kurus dan sudah lemah? Ketika suaminya, Abu Ma’bad kembali, Ummu Ma’bad pun menceritakan kejadian luar biasa yang baru saja ia alami. Mendengar cerita dari istrinya, Abu Ma’bad pun berkata, “Wahai Ummu Ma’bad, ceritakanlah kepadaku bagaimana ciri-ciri dari orang tersebut!. 

Ummu Ma’bad menjelaskan kepada suaminya (tentang Rasulullah), “Ia adalah seorang pria yang mukanya bersinar ramah. Akhlaqnya mulia. Tubuhnya sedang dan wajahnya tenang. Ia cerdik sekali dalam membagi jatah. Kedua matanya hitam. Rambut alis dan bulu matanya lebat. Suaranya berat (lagi indah). Matanya bagus, bulu matanya lentik, warnanya sangat hitam seperti dicelak. Rambutnya hitam pekat. Lehernya panjang. Janggutnya lebat. Jika diam, ia tenang. Jika berbicara, tangan dan kepalanya ikut bergerak. Aura wibawanya pun keluar. Seolah-olah perkataannya bagaikan manik-manik yang disusun rapi untuk digulirkan. Ia berkata dengan singkat dan padat, tanpa ada sedikit pun yang tersia-sia. Dari kejauhan, ia tampak sangat tampan dan paling menonjol di antara orang banyak. Sedangkan dari dekat ia tampak lebih manis dan sempurna. Perawakannya sedang. Tidak terlalu tinggi dan tidak pula terlalu pendek. Ia memang paling berwibawa di antara yang lainnya. Beberapa orang ikut bersamanya. Mereka selalu menjaganya. Jika ia berkata, mereka menyimaknya dengan seksama. Jika ia menyuruh, mereka dengan seksama melaksanakannya. Ia cekatan dan lihai mengatur kekuatan. Raut mukanya tidak masam dan tidak ketuaan”.

Kisah yang masyhur ini adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Ma’bad sendiri, dan akhirnya diriwayatkan oleh banyak periwayat yang saling menguatkan satu sama lain. Penuturan serta penjelasan darinya mengenai sifat dan ciri-ciri Rasulullah sangat fasih. Terlebih lagi, Ummu Ma’bad saat itu adalah seorang perempuan Badui yang tidak bisa membaca dan menulis, yang hidup di pedalaman, dan jauh dari lingkungan masyarakat. Akan tetapi ia mampu menceritakan serta menjelaskan apa yang ia lihat dengan lengkap dan detail.

Bahkan Ali bin Thalib pun mengakui akan kefasihan dari Ummu Ma’bad, dikatakan kepada Ali bin Thalib, “Bagaimana orang tidak bisa menyifatkan Rasulullah sebagaimana Ummu Ma’bad menyifatkan Beliau?”. Ali bin Thalib menjawab, “Dikarenakan para perempuan itu menyifatkan dengan naluri mereka, maka mereka baik dalam memberikan sifat-sifat”. 

Selain kisah ini, Ummu  Ma’bad juga meriwayatkan beberapa hadis lainnya. Ia menjadi salah satu perempuan periwayat hadis. Ia juga memberikan sumbangan pendidikan dengan mengajarkan pengetahuan agama pada anak-anak didik yang dikenal dengan sebutan Mu’allim Kuttab atau Mu’allim Sibyan. Demikianlah profesi serta peran Ummu Ma’bad dalam Islam. Ia yang sebelumnya tidak begitu dikenal, hingga menjadi salah satu wanita Islam yang ternama dengan kefasihan dan kemampuan sastranya serta keilmuannya dalam pengetahuan agama yang ia ajarkan. (AN)

 

Referensi:

-Muhammad Ibrahim Salim, Nisa’ Haula ar-Rasul (al-Qudwah al-Hasanah wa al-Uswah at-Tayyibah Li Nisa’ al-Usrah al-Muslimah)

-Ibn Sa’ad, al-Thabaqat al-Kubra.

 

*Artikel ini kerjasama Islamidotco dan Rumah KitaB

Kisah Halimah as-Sa’diyah: Muslimah yang Bekerja sebagai Ibu Susuan

Oleh Nelly Ayu Apriliani (Islami.co)

Salah satu tradisi masyarakat Arab yang tidak dimiliki oleh bangsa lain masa itu adalah para ibu yang baru melahirkan mencari jasa ibu susuan (radha’ah) yang berasal dari pedesaan. Pekerjaan ini sudah menjadi profesi bagi para perempuan desa.

Dalam al-Rahiq al-Makhtum karya Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, tradisi tersebut terjadi dalam sekali setiap musim. Para ibu dari perkampungan Arab Badui pergi ke kota untuk mencari para ibu yang bersedia untuk menggunakan jasa ibu susuan bagi bayi mereka. Menurut KH Munawar Cholil dalam Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad, tujuan dari tradisi tersebut adalah sang bayi dapat hidup dalam udara padang pasir yang bersih, sehingga kelak bayi tersebut akan tumbuh menjadi anak sehat, cerdas dan mandiri.

Profesi ibu susuan ini banyak digeluti oleh masyarakat perkampungan Arab Badui. Ibnu Ishaq menyebutkan dalam al-Sirah al-Nabawiyahnya di antara Arab Badui yang sebagian besar masyarakatnya menggeluti profesi sebagai ibu susuan adalah para ibu dari Bani al-Adram, Bani Maharib, Bani ‘Amir Ibn Luay dan Bani Sa’d Ibn Bakar. Ibnu Ishaq juga menambahkan bahwa profesi ibu susuan bagi sebagian masyarakat Arab bukanlah profesi yang baik atau terpandang hingga muncul sebuah pepatah Arab:

تَجُوعُ الْمَرْأَةُ وَلَا تَأْكُلُ بِثَدْيَيْهَا

Seorang wanita yang kelaparan tidak akan menggunakan kantung susunya

Namun sebagian yang lainnya menganggap bahwa profesi ibu susuan bukanlah suatu yang buruk, karena masyarakat Arab Mekkah kala itu meyakini bahwa lingkungan persusuan bagi anak juga memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan fisik masyarakat Arab layaknya vaksinasi pada era modern saat ini.

Dalam al-Hayah al-Ijtima’iyyah fi Makkah karya Ilham Babthin, pekerjaan ibu susuan sudah ada pada zaman Raja Fir’aun, ketika pada saat itu Nabi Musa (bayi) dipersusukan kepada ibu susuan yang sebenarnya ibu kandungnya sendiri. Pada masa jahiliyah, masyarakat Arab perkotaan yang notabennya berasal dari keluarga menegah ke atas selalu mengirimkan bayi mereka kepada ibu susuan di daerah perkampungan Arab Badui. Tradisi ini berlangsung hingga abad ke 13 H, ketika ulama-ulama fikih pada abad itu melihat banyaknya mafsadah yang ditimbulkan dari tradisi tersebut yaitu merebaknya percampuran nasab.

Begitu lah kondisi perempuan saat itu. Dengan keterbatasannya, mereka masih bekerja dan ikut menghidupi keluarganya. Islam tidak melarang hal itu. Bahkan dalam beberapa kitab fikih, hal itu diatur. Rasul SAW sendiri tidak pernah melarang hal itu. Kita juga tidak pernah, bukan, mendengar sebuah hadis yang marah kepada ibu susuannya karena bekerja sebagai ummur radha’ah?

Nabi Muhammad kecil juga disusui oleh ibu radha’ah pasca disusui oleh ibu kandungnya sendiriselama tujuh hari. Siti Aminah, ibu kandung Nabi berniat untuk menitipkan Nabi untuk disusui kepada perempuan Bani Sa’ad. Namun, sambil menunggu kedatangan seorang perempuan dari Bani Sa’ad yang akan menyusui Nabi, Siti Aminah menitipkan Nabi kepada Tsuaibah al-Aslamiyah, budak Abu Lahab untuk disusuinya. Dalam Tarikh ath-Thabari, Imam al-Thabari mengatakan:

أَوَّلُ مَنْ أَرْضَعَ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم ثُوَيْبَةُ

Orang pertama yang menyusui Nabi Muhammad adalah Tsuaibah

Sebagian besar perempuan dari Bani Sa’ad bin Bakar bekerja sebagai ibu radha’ah, karena lingkungan Bani Sa’ad merupakan lingkungan yang terletak di pedesaan dan bahasa Arab mereka sangat fasih.

Dalam al-Sirah al-Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, ketika rombongan perempuan Bani Sa’ad menuju kota Mekah untuk bekerja mencari bayi yang akan dititipkan kepada mereka agar disusui, tidak ada satupun dari mereka yang bersedia menerima Nabi Muhammad. Mereka menolak menyusui Nabi lantaran saat itu beliau seorang bayi yatim, karena mereka beranggapan tidak ada yang bisa diharapkan dari ibu atau kakek seorang anak yatim. Semua perempuan Bani Sa’ad sudah mendapatkan bayi yang akan disusuinya kecuali Halimah binti Abu Dzuaib atau yang lebih dikenal dengan Halimah as-Sa’diyah.

Halimah as-Sa’diyah saat itu bersama suami dan anak laki-lakinya yang masih balita dengan mengendarai keledai putih dan seekor unta betina yang sudah lama tidak bisa diperah susunya. Ketika dia tidak mendapatkan bayi yang akan ia susui, Halimah meminta izin kepada suaminya untuk menerima anak yatim tersebut. Kemudian suamniya mengizinkan dan berharap Allah akan memberkati keluarganya melalui anak yatim tersebut. Halimah kemudian menghampiri dan membawa bayi itu bersama rombongannya pulang.

Halimah as-Sa’diyah termasuk orang terdekat Nabi yang melihat tanda-tanda kebesarannya. Ketika rombongan Bani Sa’ad bersinggah di suatu tempat untuk beristirahat sejenak, Halimah melihat suaminya menuju ke arah unta mereka yang sudah siap diperah susunya. Mereka kemudian memerah dan meminum susunya. Pada pagi harinya, Halimah membawa bayi yatim dengan mengendarai keledai putihnya. Anehnya, keledai putih yang ditumpangi Halimah berlari sangat cepat dan membuat para rombongan yang lain terheran-heran melihatnya.

Sampailah Halimah dan rombongan di desa asal. Pada tahun itu desa tersebut mengalami masa paceklik. Namun kambing-kambing peliharannya datang menghampirinya dalam keadaan kenyang dan siap diperah susunya. Kehidupan Halimah dan keluarganya selalu dimudahkan semenjak kehadiran Nabi Muhammad. Hal ini mengundang kecemburuan warga sekitar.

Setelah dua tahun, Halimah membawa Nabi ke Mekah untuk mengembalikannya kepada ibunya. Namun, karena sangat menyangi Nabi dan berat untuk berpisah dengannya, Halimah membujuk Siti Aminah agar mengizikannya untuk mengurus Nabi Muhammad beberapa tahun lagi. Halimah wafat pada tahun 10 Hijriah dan dimakamkan di Baqi’. (AN)

*Artikel ini hasil kerjasama islami.co dengan RumahKitaB

Ummu Kultsum binti Ali: Cucu Rasul SAW yang Menjadi Bidan

Oleh Fera Rahmatun Nazilah (Islami.co)

 

Profesi bidan memang baru ada di masa kini, namun sejatinya, pekerjaan membantu persalinan telah ada sejak lama, termasuk di masa Nabi Saw dan generasi setelahnya. Salah satu sahabat perempuan yang bekerja sebagai “bidan” adalah Ummu Kultsum binti Ali.

Ummu Kultsum merupakan putri Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az-Zahra. Cucu Rasulullah Saw ini lahir pada tahun 6 H dan sempat bertemu kakeknya, sang utusan Allah Swt. Maka dari itu Ummu Kultsum tergolong sahabat, meskipun saat kakeknya wafat ia masih amat belia.

Istri Amirul Mukminin, Umar bin Khattab

Ummu Kultsum adalah perempuan cerdas dan mulia. Di samping itu, ia memiliki nasab yang begitu mulia, kakeknya adalah Nabi Muhammad Saw, sang khātimul anbiyaā, ayahnya adalah Ali bin Abi Thalib, sang bābul ilm, ibundanya adalah Fatimah az-Zahra, pemimpin perempuan ahli surga, dan dua kakaknya, al-Hasan dan al-Husein adalah pemimpin pemuda ahli surga.

Kemuliaan yang dimiliki Ummu Kultsum ini membuat Umar bin Khattab tertarik padanya. Khalifah kedua ini pun akhirnya meminangnya dan menikahinya pada bulan Dzul Qa’dah 17 H. Kala itu, Umar bin Khattab tengah menjabat sebagai amīrul mukminin.

Piawai dalam mengurus proses persalinan

Ummu Kultsum dikenal piawai dalam mengurus proses persalinan. Ia kerap kali membantu perempuan yang hendak melahirkan.

Ada suatu kisah menarik antara Ummu Kultsum dan Umar. Suatu malam, seperti biasa, sang suami, Umar bin Khattab keluar untuk mengontrol keadaan rakyatnya. Tatkala Umar melewati tanah lapang Madinah, ia mendengar suara rintihan perempuan dari dalam tenda. Di depan tenda itu ada seorang laki-laki yang sedang duduk kebingungan. Umar lalu menyapa laki-laki itu dan menanyakan apa yang sedang terjadi.

“Siapakah Anda? Ada apa gerangan?” tanya Umar.

“Aku adalah penduduk Badui (kampung) yang datang untuk meminta kemurahan hati dari Amirul Mukminin,” jawab lelaki itu. Ia tak menyadari bahwa sosok di hadapannya adalah Amirul Mukminin yang hendak ia temui.

“Lalu siapakah perempuan yang sedang merintih di sana?” Umar bertanya lagi

“Pergilah, urus saja urusanmu dan jangan menanyakan sesuatu yang bukan urusanmu,” jawab lelaki itu.

Akan tetapi, Umar tak mau pergi dan terus saja menawarkan bantuan. Ia berjanji akan membantu selama ia mampu. Akhirnya lelaki itu pun menjawab:

“Sesungguhnya ia adalah istriku, ia sedang mengalami kontraksi dan akan segera melahirkan, namun tak ada siapa pun di sini yang bisa membantu kami (mengurus persalinan),” jawab si lelaki itu dengan wajah murung dan kebingungan.

Mendengar hal itu, Umar langsung teringat pada istrinya, Ummu Kultsum yang menjadi bidan dan memiliki kemampuan membantu persalinan. Umar pun segera bergegas kembali ke rumahnya dan meninggalkan lelaki itu, ia berjanji akan kembali dengan seseorang yang bisa membantu mereka. Sesampainya di rumah, Umar langsung menceritakan peristiwa tadi kepada istri tercintanya, Ummu Kultsum.

Tanpa pikir panjang, Ummu Kultsum langsung menyanggupi tawaran Umar untuk membantu perempuan itu. Ia pun segera bersiap-siap, tak lupa ia juga membawa segala keperluan persalinan. Sedangkan Umar mengumpulkan makanan yang ada di rumahnya, mulai dari mentega hingga biji-bijian. Keduanya kemudian pergi ke tempat suami istri itu berada.

Sesampainya di sana, Ummu Kultsum segera masuk ke tenda dan dengan cekatan membantu persalinan sang ibu hamil. Sedangkan Umar bin Khattab menunggu di depan tenda bersama lelaki itu, sambil memasak makanan yang dibawa tadi.

Tatkala sang bayi lahir, Ummu Kultsum refleks berkata dengan suara keras “Kabar baik wahai Amirul mukminin, kawanmu dikaruniai seorang anak laki-laki”

Laki-laki itu terkejut mendengar ucapan Ummu Kultsum, ia baru tahu, rupanya lelaki yang sedang memasak dan meniup tungku di depannya adalah sang Amirul Mukminin. Demikian pula istrinya, ia pun kaget begitu mengetahui bahwa perempuan yang membatu persalinannya adalah istri dari Amirul Mukminin.

Pasangan suami istri ini pun berterima kasih pada Umar dan Ummu Kultsum. Mereka sungguh tak menyangka dapat menemui pemimpinnya di tengah malam gelap gulita. Bahkan tak tanggung-tanggung, sang Amirul Mukminin dan istrinya nya lah yang langsung membantu mereka.

Demikianlah kepiawaian Ummu Kultsum dalam bidang persalinan. Usianya memang masih muda, namun kemampuannya tak diragukan lagi. Posisi menjadi istri seorang Amirul Mukminin tidak menjadikan Ummu Kultsum berpangku tangan. Walaupun ia seorang perempuan, ia masih bisa keluar rumah dan bekerja sebagai bidan, membantu para perempuan lain untuk melahirkan.

Begitupun sikap Umar. Ia tidak melarang Ummu Kultsum duduk diam di rumah saja. Ia mengerti bahwa istrinya juga memiliki kemampuan. Bahkan ia sendiri yang meminta Ummu Kultsum memanfaatkan bakat yang ia miliki.

Nasib Ummu Kultsum ini mungkin berbeda dengan sebagian perempuan masa sekarang yang dilarang bekerja oleh suaminya, padahal ia memiliki kemampuan yang bisa jadi tidak dimiliki oleh orang lain. Semoga kisah ini bisa jadi ibrah bagi kita semua untuk terus belajar dan memanfaatkan kemampuan yang diberikan Allah SWT kepada kita. (AN)

 

Referensi: al-Ishabah fit Tamyiz as-Shahabah (h.463) Nisa Haular Rasul karya Khalid Muhammad Khalid.