Pos

Intolerasi dalam Narasi Keharaman Terkait Ikhbar Lebaran

Lebaran di Indonesia kembali berbeda. Jauh-jauh hari PP Muhammadiyah telah mengumumkan lebaran Idulfitri 1447 H jatuh pada hari Jumat, 20 Maret 2026. Sementara Kementerian Agama baru mengumumkan lebaran pada Kamis sore, 19 Maret 2026.

Setelah pengumuman pemerintah Kamis sore, sebagian besar masyarakat Jakarta dan Bekasi kembali kembali melaksanakan shalat tarawih pada malam harinya melanjutkan rutinitas hari terakhir Ramadan. Sebagian jamaah lain yang berasal dari akademisi di Jakarta dan Bekasi mengikuti lebaranya Muhammadiyah.

Mereka mulai menggelar takbir di pagi harinya dan melaksanakan ibadah Shalat Ied. Aktivitas pelaksanaan shalat Ied pada hari Jumat ini dapat terpantau di masjid-masjid di sekitaran UNJ (Universitas Negeri Jakarta), UIC (Universitas Ibnu Chaldun) Rawamangun, dan Universitas Islam Djakarta.

Tampak perbedaan rutinitas itu dihadapi secara biasa-biasa saja oleh masyarakat. Para pedagang di Jakarta dan Bekasi terpantau tetap berjualan, mulai dari makanan, pakaian, obat-obatan, dan alat kesehatan masih terpantau aktif. Sebagian pedagang di Rawamangun dan Cakung mengaku baru akan libur pada hari Sabtu, 21 Maret 2026, pada hari Pemerintah mengumumkan Idulfitri.

Lebaran versi masyarakat pun berlangsung selama dua hari. Bagi para pedagang buah-buahan, kue-kue kering, dan cake, perbedaan hari lebaran membawa keberkahan sendiri, mereka bisa berjualan sehari lebih panjang dari seharusnya. Perputaran ekonomi juga makin baik.

Hanya saja kegalauan atas perbedaan hari lebaran dirasakan oleh para pengurus masjid di Cakung dan Cilincing, karena terdapat konsekuensi keagamaan dan pelaksanaan peribadatan rutin Ramadan. Misalnya, sebelum pengumuman 1 Syawal oleh Pemerintah yang terhitung mepet, membuat ketar ketir sebagian pengurus masjid, apakah mereka akan melaksanakan ibadah tarawih atau langsung ke persiapan pelaksanaan ibadah Shalat Ied keesokan harinya bila pengumuman Pemerintah itu sama dengan jadwal lebarannya Muhammadiyah. Bagi masyarakat yang menggelar Shalat Ied di lapangan terbuka seperti di Lampung, maka pengumuman pemerintah yang mepet itu akan merepotkan mereka, andai pelaksanaan lebaran 12 Jam kemudian usai pengumuman.

Di media sosial, suasana perbedaan hari lebaran kembali ditanggapi dengan perang narasi, dalam aksi saling bully. Mereka yang berlebaran pada hari Sabtu mengejek mereka yang berlebaran hari Jumat, dengan narasi “anti ulil amri”, atau mereka yang membangkang terhadap keputusan Pemerintah tentang penentuan 1 Syawal. Apalagi paska pernyataan Cholil Nafis, Wakil Ketua MUI Pusat yang menyatakan “haram mendahului pengumuman pemerintah (soal penentuan 1 Syawal)”.

Narasi Keharaman Ikhbar awal Ramadhan dan Syawwal

Cholil Nafis mengaku pandangannya itu bukan tanpa dasar, rupanya ia merujuk Fatwa MUI Nomor 2 Tahun 2004, dan Muktamar NU ke-20 di Surabaya pada 8-13 September 1954 M/1347 H, yang melarang mendahului pengumuman pemerintah terkait penentuan awal Ramadan dan Syawal.

Frasa “haram” dalam pernyataan Cholil Nafis tersebut seketika memunculkan perdebatan hangat di media sosial, dan menguatkan narasi kubu yang memojokkan pengikut lebaran hari Jumat. Mari kita cek terlebih dahulu, apakah benar narasi hasil putusan kedua ormas tersebut terdapat frasa “mengharamkan”?

Fatwa MUI Nomor 2 Tahun 2004 tertulis dalam beberapa poin.

“Pertama, Penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah dilakukan berdasarkan metode ru’yah dan hisab oleh Pemerintah RI cs, Menteri Agama, berlaku secara nasional. Kedua, seluruh umat Islam di Indonesia wajib menaati ketetapan Pemerintah RI tentang penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah. Ketiga, Dalam menetapkan awal Ramadhan, Syawwal, dan Dzulhijjah, Menteri Agama wajib berkonsultasi dengan Majelis Ulama Indonesia, ormas-ormas Islam, dan Instansi terkait. Keempat, hasil rukyat dari daerah yang memungkinkan hilal dirukyat walaupun di luar wilayah Indonesia yang mathla’nya sama dengan Indonesia dapat dijadikan pedoman oleh Menteri Agama RI.”

Dalam fatwa tersebut tidak ada frasa “mengharamkan” aktivitas organisasi di luar pemerintah yang mendahului pengumuman pemerintah terkait awal Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah. Narasi keharaman justru muncul secara mandiri oleh Cholil Nafis. Dan dalam konteks ini beliau telah menyampaikan permohonan maafnya kepada publik melalui akun facebook-nya pada 20 Maret 2026.

Sampai detik ini, tidak ada fatwa MUI yang mengharamkan aktivitas organisasi non-pemerintah yang mendahului pengumuman Pemerintah terkait penentuan awal bulan hijriyah.

Di sinilah poin kritiknya, pengharaman terhadap aktivitas hasil ijtihad organisasi keagamaan tertentu merupakan tindakan yang berlawanan terhadap kebebasan berijtihad yang dianut dalam Islam. Keputusan penentuan 1 Syawal versi PP Muhammadiyah yang berbeda itu murni sebagai hasil ijtihad jama’i (kolektif), menggunakan metode berbeda dari metodenya Pemerintah, MUI, dan NU.

Muhammadiyah menggunakan Kalender Hijriyah Global Tuggal (KGHT) dalam menetapkan awal bulan Kamariyah. KGHT berbasis hisab hakiki kontemporer, di mana awal bulan ditetapkan berdasarkan perhitungan astronomi seragam di seluruh dunia, satu hari sama, tanpa harus menunggu rukyatul hilal (pengamatan hilal lokal), sehingga sebulan atau setahun sebelumnya sudah bisa ditetapkan kapan 1 Syawal itu. Berbeda dengan pengamatan hilal lokal yang dianut oleh MUI, berdasarkan fatwa di atas, dan menjadi landasan pengambilan keputusan Pemerintah harus menunggu hingga H-1.

Pandangan yang mengharamkan hasil ijtihad Muhammadiyah berlawanan dengan prinsip kebebasan berijtihad dalam Islam.  Semua hasil ijtihad yang telah memiliki kekuatan argumentasi hukum Islam tidak dapat dibatalkan oleh hasil ijtihad yang lain, sebagaimana bunyi kaidah hukum Islam yang populer:

الاجتهاد لا ينقض بالاجتهاد

“Sebuah hasil Ijtihad tidak bisa membatalkan hasil ijtihad yang lain”

Kaidah hukum ini tertulis dalam kitab Al-Asybah wa Al-Nazhair dan kitab-kitab Ushul Fikih lainnya. Kaidah tersebut menjamin terimplementasinya prinsip kesetaraan (al-musawah) dalam tradisi hukum Islam. Tidak ada hasil ijtihad yang memiliki karakter dominatif-hegemonik, semua memiliki kedudukan yang setara dalam tradisi hukum Islam.

Imam Suyuti dalam Al-Asybah wa Al-Nazhair menyatakan:

وَمِنْهَا حُكْمُ الْحَاكِم فِي الْمَسَائِل الْمُجْتَهَدِ فِيهَا لَا يُنْقَضُ

“Termasuk keputusan hukum Ulil Amri mengenai masalah ijtihad itu tidak dapat dibatalkan (dengan ijtihad yang lain)”

Begitu juga Keputusan Ulil Amri mengenail masalah ijtihad tidak membatalkan hasil ijtihad yang lain. Imam Suyuti menambahkan bahkan bila terjadi perbedaan pandangan antara Abu Hanifah dan Imam Syafi’i, maka hasil ijtihad keduanya tidak dapat saling membatalkan.

Begitu juga Nabi tidak pernah memandang rendah ijtihad meskipun terindikasi mengalami kekeliruan. Ijtihad tetap dihargai sebagai upaya sungguh-sungguh dan buah kerja keras atas kepakaran menggunakan metode yang dapat dipertanggungjawabkan dalam ilmu pengetahuan.

 إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ

“Bila seorang ahli hukum berijtihad, lalu hasil ijtihadnya itu ternyata benar, maka dia mendapatkan dua pahala, namun bila mengalami kekeliruan maka dia mendapatkan satu pahala” (HR. Bukhari, hadis No.6805).

Lain halnya proses tarjih, merupakan proses keilmuan yang diakui dalam diskrsus tafsir, fikih, dan filsafat Islam. Tarjih merupakan upaya memilah dan memilih pendapat hukum yang relevan berdasarkan kekuatan argumentasi teksnya, argumentasi metodologinya, atau argumentasi maslahatnya. Pun proses tarjih tidak bisa dioperasikan untuk membatalkan hasil ijtihad, kecuali pandangan hukum tersebut dianggap tidak relevan lagi karena berlawanan dengan argumen maslahat. Terhentinya relevansi hasil ijtihad bukan berarti batalnya hasil ijtihad, dia berlaku untuk konteks kemaslahatannya dalam periode tertentu.

Setiap pandangan keagamaan yang berupaya menghardik pandangan keagamaan pihak lain merupakan tindakan intoleran yang tidak memiliki dasar hukumnya dalam Islam dan berlawanan dengan kebebasan berpendapat dan menjalankan ajaran agama yang diakui oleh Undang-Undang dan berlawanan dengan program Moderasi Beragama yang telah dijalankan Kementerian Agama RI sejak 2019 untuk memperkuat kerukunan umat beragama di tanah air.

Menciptakan Lingkungan Lebaran yang Ramah Perempuan

Lebih sepekan umat Islam merayakan Idulfitri. Bagi masyarakat muslim di Indonesia, Idulfitri atau lebaran biasanya menjadi kegiatan untuk bermaaf-maafan, saling mengasihi, saling bersilaturahmi, dan menjadi momen berkumpul bersama keluarga. Tak heran, jika momen lebaran biasanya selalu menyuguhkan hidangan-hidangan khas lebaran lezat dengan porsi yang banyak hingga kue-kue atau jajanan tradisional khas yang hanya dijumpai saat lebaran saja.

Persiapan lebaran juga tidak hanya fokus pada hidangan-hidangan lebaran, biasanya masyarakat juga turut membersihkan seluruh bagian rumah bahkan juga menyiapkan baju lebaran yang satu ragam warna atau jenisnya. Lebaran di Indonesia terkenal dengan sebutan Halalbihalal. Halalbihalal ialah tradisi khas masyarakat Indonesia sebagai bentuk mempererat silaturahmi dan saling memaafkan. Sehingga, tidak heran jika masyarakat memiliki kesibukan dalam mempersiapkan kebutuhan lebaran pra-hari raya Idulfitri.

Yang Sering Kita Tidak Sadari dalam Persiapan Lebaran

Saya banyak mengamati, keluhan-keluhan anak muda perempuan di media sosial twitter (19/03) yang diminta untuk membantu persiapan lebaran. Padahal yang bersangkutan baru saja selesai bekerja dan sedang istirahat. Komentar-komentar pada postingan tersebut juga banyak yang menceritakan bagaimana perempuan-perempuan yang diminta (kadang secara paksa) untuk menyiapkan kebutuhan lebaran yang tiada habisnya. Bahkan, ada anggota keluarga yang marah terhadap anak-anak perempuan yang tidak banyak berkontribusi persiapan lebaran karena tuntutuan pekerjaan.

Saya jadi menyadari, bahwa teman-teman perempuan yang sedang menceritakan pengalamannya sedang mengalami beban ganda. Dalam satu keluarga, ia diminta untuk membuat kue lebaran dan membersihkan rumah padahal keempat saudara laki-lakinya tidak diminta hal serupa. Saya juga menyadari, ada ibu-ibu yang harus bangun dini hari di malam lebaran untuk memasak opor ayam dalam jumlah banyak sehingga tidak memiliki kesempatan untuk salat Idulfitri atau menghabiskan seluruh waktunya di dapur untuk menyiapkan hidangan lebaran.

Sama halnya ketika Ramadan, ibu-ibu yang kerap kali lebih dulu bangun untuk memasak dan menyiapkan menu sahur bagi keluarga secara sendirian. Saya mencatat pengalaman perempuan yang pada Ramadan dan Idulfitri lebih banyak menghabiskan waktu dan perannya untuk urusan domestik. Para perempuan seringkali tak punya pilihan dalam perannya, sehingga jika ia tidak melakukan kerja-kerja domestik yang dimaksud, ia dapat menanggung beban lain seperti mendapatkan amarah dari keluarga.

Narasi dan Pemahaman Keliru tentang “Allah Memuliakan Perempuan melalui Kerja-Kerja Domestik”

Seringkali, realita dalam merespon pengalaman-pengalaman kerja-kerja domestik perempuan selalu membawa kisah Fatimah ketika sedang kelelahan dalam mengerjakan tugas domestik. Kisah tersebut terdapat pada kitab Uqudullujain Karya Imam Nawawi Al-Bantani. Dikisahkan bahwa beliau sedang menangis sambil menggiling gandum dengan menggunakan raha (alat penggilingan gandum tradisional yang terbuat dari batu).

Melihat putrinya menangis, Nabi mendekatinya dengan lembut dan bertanya, “Wahai Fatimah, mengapa kamu menangis? Allah tidak menjadikan matamu untuk menangis seperti ini.” Fatimah pun menjawab, “Wahai Ayah, aku menangis karena merasa lelah. Setiap hari aku sibuk mengerjakan pekerjaan rumah, dan tidak ada seorang pun yang membantu.” Nabi kemudian duduk di sampingnya, mendengarkan dengan penuh perhatian. Lalu Fatimah melanjutkan, “Wahai Ayah, dengan kedudukan yang engkau miliki, tolong sampaikan kepada ‘Ali agar membelikan seorang pembantu untukku, supaya bisa membantu menggiling gandum dan mengerjakan pekerjaan rumah.”

Setelah mendengar cerita itu, Nabi mengambil gandum dengan tangannya, lalu meletakkannya di alat penggiling sambil mengucapkan bismillah. Atas izin Allah, alat itu bergerak sendiri menggiling gandum hingga menjadi tepung. Kemudian Nabi berkata, “Berhentilah.” Atas izin Allah, alat itu pun berhenti. Rasulullah juga berkata, “Wahai Fatimah, jika Allah menghendaki, alat itu bisa saja terus bekerja sendiri untukmu. Tapi Allah ingin memberimu pahala, menghapus dosa-dosamu, dan mengangkat derajatmu.”

Seringkali narasi tersebut dilontarkan beberapa netizen untuk menyuruh perempuan bersyukur dengan tugas kerja-kerja domestik yang mungkin bisa memberatkan bagi mereka. Bagi saya, respon seperti ini kurang tepat jika dilontarkan dari netizen kepada perempuan-perempuan yang sedang menanggung beban ganda.

Rasulullah Hadir untuk membantu Fatimah

Yang menarik untuk diperhatikan, ketika Fatimah berada dalam kondisi lelah secara fisik dan batin, Rasulullah merespons dengan sikap penuh empati. Rasulullah justru mendekat, mendengarkan keluhan Fatimah, lalu turut membantu meringankan pekerjaannya. Dalam kisah itu, Rasulullah bahkan berdoa agar alat penggiling gandum dapat bekerja sendiri, sehingga beban Fatimah berkurang.

Jika kita memahami baik-baik, nilai lain dari kisah tersebut ialah, ketika Fatimah kesulitan Rasulullah mendengarkan keluh kesahnya dan membantu Fatimah. Seharusnya hal yang sama juga kita lakukan, bukan malah menyuruh perempuan untuk bersyukur atas kelelahan dalam mengerjakan tugas domestik tanpa menawarkan bantuan apa-apa. Respons seperti itu sering kali mengabaikan kondisi pelik yang dialami perempuan, terutama mereka yang menjalani beban ganda antara pekerjaan publik dan domestik.

Kisah tersebut memang mengandung nilai makruf. Bagi mereka yang mengerjakan tugas domestik dengan ikhlas, terdapat pahala, penghapusan dosa, dan derajat yang diangkat oleh Allah. Nilai tersebut memberi penguatan spiritual bagi individu yang menjalani peran tersebut dengan kesadaran dan kerelaan hati. Akan tetapi, nilai tersebut tidak dapat digunakan untuk menekan perempuan lain agar menerima kelelahan yang sebenarnya dapat diringankan bersama dengan anggota keluarga yang lain.

Persiapan Lebaran sebagai bentuk Fastabiqul Khairat

Dalam kehidupan keluarga, pekerjaan domestik dapat dibagi sebagai bentuk kerja sama dalam kebaikan atau fastabiqul khairat. Persiapan hari raya, yang sering kali menyita tenaga dan waktu, seharusnya menjadi kerjasama seluruh anggota keluarga. Ada banyak hal yang bisa dikerjakan bersama, mulai dari memasak, membersihkan rumah, hingga menyiapkan kebutuhan lainnya.

Menggunakan narasi agama untuk menyuruh perempuan tetap bersyukur tanpa melihat kondisi yang mereka alami dapat melukai perasaan dan menghilangkan empati. Padahal, dari kisah Fatimah tersebut, justru terdapat pesan bahwa ketika seseorang mengalami kelelahan, keluarga di sekitarnya dapat hadir untuk membantu dan meringankan beban.

Berempati dalam Merespons Pengalaman Perempuan

Dalam bermedia sosial, penting bagi kita mengedepankan empati terhadap seseorang. terutama untuk seseorang yang sedang menuliskan pengalamannya sebagai perempuan. pengalamannya valid dan tak perlu dipertanyakan terutama jika menyangkut beban-beban domestik. Sering terjadi, bukannya mendengarkan, kadang malah membandingkan atau meremehkan.

Misalnya dengan berkata “yang lain juga begitu”, “sudah jadi kodrat atau fitrah perempuan”, atau “terlalu berlebihan”. Kalimat seperti ini bisa membuat orang yang bercerita merasa tidak dihargai. Padahal, setiap orang punya kondisi dan pengalaman yang berbeda.

Empati berarti mencoba memahami. Kita tidak harus selalu memberi solusi atau nasihat. Kadang cukup dengan mendengarkan dan merespons dengan kalimat yang menguatkan. Kita juga perlu sadar bahwa beban yang dialami perempuan, terutama dalam pekerjaan rumah, bukan hanya masalah pribadi. Ada kebiasaan di masyarakat yang membuat perempuan sering memikul tanggung jawab lebih besar.

Menciptakan Lebaran yang Ramah Perempuan

Idulfitri ini, mari kita ciptakan lingkungan yang ramah perempuan. Misalnya dalam persiapan lebaran, tidak membiarkan perempuan menyiapkan seluruhnya sendirian. Jika ada anggota keluarga yang lain, dapat didiskusikan baik-baik mengenai persiapan lebaran. Berbagi tugas dalam membersihkan rumah, saling membantu di dapur ketika perempuan sedang memasak, menanyakan apakah ada yang perlu dibantu? dan berinisiatif membantu. Serta tidak membiarkan perempuan memiliki pekerjaan ganda yang sebenarnya dapat dilakukan secara bersama.

Lebaran yang ramah perempuan juga berarti memberi ruang bagi perempuan untuk beribadah dengan tenang, seperti mengikuti salat Idulfitri, tanpa harus terus berada di dapur atau mengurus pekerjaan rumah. Selain itu, perempuan juga berhak memiliki waktu untuk menjaga kesehatan dan memperhatikan dirinya sendiri. Mari menciptakan lebaran yang ramah bagi anak perempuan, perempuan, ibu, dan nenek-nenek kita.

Selamat Idulfitri 1447 H, Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum.

Refleksi Idulfitri: Manusia Bukan Penguasa Alam Raya

Setiap perayaan Idulfitri, kita sering mendengar ungkapan: “taqabbalallaahu minnaa wa minkum, ja’alanallaahu wa iyyakum, minal ‘aa`idiin wal faa`iziin”. Namun, apa makna sebenarnya dari ungkapan tersebut? Apakah maknanya itu ‘mohon maaf lahir dan batin’ sebagaimana sering diucapkan bersama dengan lafaz tersebut?

Secara umum, kalimat tersebut berisi harapan dan doa yang kita panjatkan, semoga Allah Swt menerima seluruh amal ibadah kita, ibadah puasa, qiyamul lail, tadarus Al-Quran, zakat infaq dan sedekah, serta amal ibadah lainnya yang kita lakukan selama bulan Ramadan. Seraya memanjatkan harapan, semoga kita termasuk kelompok orang-orang yang kembali (al-‘aa`idiin) dan orang-orang yang menang (al-faa`iziin).

Kata al-‘aa`idiin bermakna kembali kepada fitrah, yakni asal kejadian, atau kesucian atau agama yang benar. Setelah umat Islam di-tarbiyah, dididik langsung oleh Allah selama satu bulan, diharapkan mereka dapat kembali suci sebagaimana ketika baru dilahirkan serta kembali mengamalkan ajaran agama yang benar.

Sedangkan kata al-faa`iziin berarti kemenangan atau keberuntungan. Dalam salah satu hadis, Nabi Muhammad Saw memberikan penjelasan, siapakah sosok yang menang tersebut sebagai berikut.

قَالَ لَهُ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْفَائِزِينَ قَالَ:” ذَرِ الدُّنْيَا وَخُذْ مِنْهَا كَالْمَاءِ الرَّاكِدِ فَإِنَّ الْقَلِيلَ مِنْهَا يَكْفِي وَالْكَثِيرَ مِنْهَا يُطْغِي

Seseorang berkata kepada Nabi Muhammad Saw: Ya Rasulallah, sesungguhnya aku ingin menjadi orang yang beruntung, Nabi menjawab: hindarilah dunia dan ambillah darinya seperti air yang tergenang, karena sesungguhnya sedikit air yang kita ambil sudah cukup, dan terlalu banyak mengambilnya akan membinasakan.

Hadis ini menarik untuk dicermati. Sebab Nabi menyematkan insan pemenang adalah mereka yang bisa berkata cukup, bukan mereka yang rakus dan tamak menumpuk kekayaan. Tak hanya itu, Nabi juga memberikan ilustrasi ekologis yang jarang diresapi: serakah mengambil kekayaan alam akan membinasakan dan itu bukan karakter pemenang.

Karenanya, mereka yang masuk dalam golongan al-fa`izin adalah mereka yang tidak hanya mampu memulihkan hubungan dengan Allah (habl min Allah), manusia (habl min an-nas), tetapi juga dengan alam (habl min al-‘alam). Syaikh Yusuf al-Qaradhawi bahkan memasukkan poin “menjaga alam” ini sebagai bagian dari maqasid al-syari’ah.

Tanpa kita sadari, sebenarnya sebagai manusia kita punya keterikatan dan keterhubungan dengan alam. Kalau kita mau memaknai al-‘aa`idiin dalam makna asal penciptaan, tubuh manusia diciptakan dari unsur yang ada di alam raya, yaitu tanah untuk Nabi Adam a.s. sedangkan anak cucunya diciptakan dari saripati tanah, berupa zat-zat makanan yang kemudian menjadi darah. Maka kehadiran alam raya sangat penting bagi kelangsungan manusia.

Tanah yang selalu diinjak tapi dari tanah pula tumbuh dan lahir kehidupan. Karenanya kembali ke fitrah dapat dimaknai pula dengan memahami falsafah tanah yang menjadi bahan dasar penciptaan manusia. Sebagai manusia tak perlu sombong karena kita berasal dari sesuatu yang rendah bahkan hina. Tetapi yang penting adalah bagaimana manusia yang biasa ini menjadi manusia yang luar biasa, layaknya tanah yang menumbuhkan kehidupan, manusia dapat menebar manfaat dan maslahat sebanyak-banyaknya, khairun naas, anfa’uhum lin naas. Spirit menebar kemanfaatan inilah yang tersirat dari sabda Nabi Saw berikut:

إن قَامَتِ السَّاعَةُ وَفِي يَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا تَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَغْرِسْهَا

“Jika terjadi hari kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah tunas, maka jika ia mampu sebelum terjadi hari kiamat untuk menanamnya maka tanamlah.” (HR. Bukhari & Ahmad)

Dari hadis tersebut, kita diajarkan untuk senantiasa menabur manfaat di bumi Allah bahkan sampai hari kiamat kurang sehari. Hal ini menegaskan dua hal, yaitu pentingnya menjaga dan merawat alam dan konsistensi untuk terus mengelola alam untuk kebermanfaatan hingga hari kiamat kelak.

Relasi dengan alam ini perlu untuk kita renungkan kembali di momentum Idulfitri ini. Sebab manusia sebagai khalifah fil ardh, ditugaskan untuk mengelola alam raya, bukan justru merusaknya. Bencana ekologis yang terjadi di Sumatera akhir tahun lalu seharusnya telah menjadi alarm keras bagi negara ini, bahwa ada yang salah dalam tata kelola alam. Dan penyebab utamanya adalah keserakahan manusia. Sebagaimana firman Allah dalam Surat al-Rum ayat 40:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Selain menjaga alam raya dari kerusakan, langkah nyata memulihkan hubungan dengan alam yang dapat kita lakukan menyambut Idulfitri ini adalah berhari raya dengan penuh kesederhanaan. Sederhana di sini bukan berarti kita dilarang bersuka cita, bergembira dan menikmati makanan yang lezat. Ajaran Islam jelas, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Allah Swt berfirman dalam Surat Al-A’raf ayat 31:

يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ ࣖ

Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid dan makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.

Dalam konteks ber-idulfitri, biasanya umat Islam hanya mengamalkan perintah pada awal ayatnya saja: yaitu menggunakan pakaian terbaik, sering kali yang digunakan adalah pakaian baru. Namun, perintah setelahnya, “makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan”, sering kali luput. Mungkin karena merasa bahwa lebaran adalah ajang ‘balas dendam’ setelah satu bulan berpuasa.

Padahal ajaran agama jelas mengajarkan kita untuk tidak berlebihan, menekankan semangat kesederhanaan, makan dan minum secukupnya, tidak mubazir, membuang makanan, dan menumpuk sampah sembarangan.

Dengan demikian, pahamlah kita makna sejati ber-idulfitri. Bahwa Idulfitri adalah semangat memulihkan dan merawat fitrah kemanusiaan. Manusia bukan penguasa alam raya, melainkan pengelola sekaligus perawat alam. Semangat inilah yang perlu ditumbuhkan senapas dengan suka cita berhari raya.

Selamat Idulfitri.

Titik Temu Tradisi Nyepi dan Idulfitri

Dalam perjalanan dari Sorowako ke Palopo, diriku tersentak melihat di pinggir jalan banyak orang yang menggunakan pakaian putih lengkap dengan udeng penutup kepalanya. Sekilas aku berpikir, apakah aku sedang di Bali? Ini tanah Sulawesi yang sebagian besar masyarakatnya beragama Islam dan Kristiani. Barulah dengan bantuan google, aku tahu bahwa ada komunitas Hindu di sini. Terutama Luwu Utara dan Timur, termasuk daerah yang ku lewati beberapa hari lalu.

Inilah potret Indonesia yang beragam. Dalam satu daerah, kita bisa menemukan aneka etnis dan budaya yang hidup dalam satu rumpun. Dan itu sudah diwariskan sejak zaman nenek moyang.

Melihat umat Hindu di tanah Luwu mengantarkanku pada memori perjumpaan yang sebentar lagi akan diperingati. Dalam waktu yang hampir berdekatan, dua tradisi keagamaan besar dirayakan oleh masyarakat yang berbeda, yaitu Nyepi bagi umat Hindu dan Idulfitri bagi umat Islam. Sekilas keduanya tampak sangat berbeda. Nyepi identik dengan keheningan, pengekangan diri, dan penghentian berbagai aktivitas duniawi. Sementara Idulfitri biasanya diwarnai suasana kebersamaan, silaturahmi, dan kegembiraan.

Karena tampak kontras, belum lama ini publik sempat dihebohkan oleh sebuah video yang beredar luas di media sosial. Dalam video tersebut, seorang tokoh bernama Hercules berbicara dengan nada tegas bahkan terlihat melotot ketika menyampaikan pendapatnya tentang pelaksanaan takbiran di jalan. Ia menilai takbiran berpotensi mengganggu kekhusyukan umat Hindu yang sedang menjalankan rangkaian ibadah Nyepi. Di akhir pernyataannya, ia melontarkan pertanyaan yang memancing perdebatan, “Nyepi apa takbiran, kau berpihak ke mana?”

Pertanyaan seperti ini sebenarnya lahir dari cara pandang yang memosisikan dua tradisi tersebut seolah-olah saling berhadapan. Padahal jika direnungkan lebih dalam, keduanya justru bertemu pada satu titik yang sama, yaitu upaya manusia untuk kembali kepada keseimbangan hidup.

Nyepi mengajarkan manusia untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan. Selama satu hari penuh berbagai aktivitas dihentikan. Tidak bepergian, tidak menyalakan api, tidak bekerja, bahkan tidak membuat kebisingan. Dunia seakan diajak untuk diam sejenak. Dalam keheningan itu manusia diberi ruang untuk merenung tentang hidup, tentang kesalahan yang pernah dilakukan, dan tentang bagaimana memperbaiki diri.

Dalam psikologi, keadaan semacam ini sering disebut sebagai silent moment, yaitu momen ketika seseorang memberi ruang bagi dirinya untuk berhenti dari kebisingan luar dan kembali mendengarkan suara batinnya. Psikolog melihat bahwa keheningan semacam ini penting bagi kesehatan mental, karena manusia modern terlalu sering hidup dalam kebisingan, tekanan, dan arus informasi yang tidak pernah berhenti. Tanpa momen sunyi, seseorang mudah kehilangan arah, bahkan kehilangan dirinya sendiri.

Di sisi lain, Ramadan yang berujung pada Idulfitri juga merupakan proses panjang pengendalian diri. Selama sebulan penuh umat Islam dilatih menahan lapar, menahan amarah, serta menahan berbagai dorongan hawa nafsu. Puasa bukan sekadar menahan makan dan minum, tetapi latihan spiritual agar manusia tidak selalu dikendalikan oleh keinginannya sendiri.

Jika Nyepi memberi ruang sunyi selama satu hari, maka Ramadan memberi ruang refleksi selama satu bulan penuh. Keduanya mengajarkan bahwa manusia perlu berhenti sejenak untuk menemukan kembali dirinya.

Dalam kehidupan modern yang serba cepat, manusia sering terjebak dalam ritme kerja, konsumsi, dan ambisi yang seolah tidak pernah selesai. Kita terus bergerak, terus mengejar sesuatu, tetapi jarang berhenti untuk bertanya ke mana sebenarnya arah perjalanan hidup ini. Di sinilah pentingnya momen hening. Ia menjadi ruang bagi manusia untuk menata ulang pikirannya, menenangkan batinnya, dan memulihkan keseimbangan hidup.

Menariknya, kedua tradisi ini juga membawa pesan tentang hubungan manusia dengan alam. Saat Nyepi berlangsung, Bali seakan diberi kesempatan untuk bernapas. Lampu-lampu padam, kendaraan berhenti, dan aktivitas manusia berkurang drastis. Alam menikmati jeda dari tekanan kehidupan modern.

Pesan yang hampir serupa juga terdapat dalam ajaran Islam. Puasa melatih manusia untuk tidak hidup berlebihan, tidak rakus, dan tidak konsumtif. Al-Qur’an mengingatkan bahwa manusia boleh makan dan minum, tetapi tidak boleh berlebihan. Dalam arti tertentu, pengendalian diri manusia juga berarti memberi ruang bagi alam untuk tetap terjaga.

Karena itu, baik Nyepi maupun Idulfitri sebenarnya menyimpan pesan yang sangat universal. Keduanya mengajak manusia untuk kembali kepada kesadaran yang lebih dalam bahwa hidup bukan hanya soal memenuhi kepentingan diri sendiri, tetapi juga menjaga harmoni dengan Tuhan, dengan sesama manusia, dan dengan alam.

Di balik keheningan Nyepi dan kegembiraan Idulfitri, terdapat pesan yang sama. Manusia membutuhkan jeda, membutuhkan momen sunyi, agar dapat kembali menjadi dirinya yang lebih utuh. Dalam dunia yang semakin bising, mungkin justru keheninganlah yang paling kita butuhkan. Sayangnya, itu juga mode yang paling sering kita abaikan.

Selamat Hari Raya Nyepi, Rahajeng Rahina Nyepi.
Selamat Idulfitri, Taqabbalallahu minna wa minkum, minal ‘a`idin wal fa`izin.

Fenomena Mudik di Nusantara

Di penghujung Ramadan, ada satu fenomena yang hampir selalu menjadi perbincangan di Indonesia: mudik. Jalanan dipadati kendaraan, terminal dan bandara penuh sesak oleh orang-orang yang ingin pulang ke kampung halaman. Media sosial ramai oleh cerita perjalanan, foto keluarga, dan berbagai kisah tentang rindu yang akhirnya terobati dengan backsound “Taragak Pulang” dari tanah Minang.

Tradisi mudik adalah potret khas masyarakat Muslim di Nusantara. Setiap menjelang Idulfitri, jutaan orang berbondong-bondong meninggalkan kota tempat mereka bekerja untuk kembali ke kampung halaman. Data dari Kementerian Perhubungan memprediksi ada 150 juta pergerakan pemudik lebaran tahun ini.

Artinya, ada lebih dari setengah populasi masyarakat Indonesia yang akan kembali ke kampung halaman. Mereka ingin bertemu orang tua, saudara, dan kerabat yang lama tak dijumpai. Ada kerinduan yang ingin dipeluk kembali, ada hubungan yang ingin diperbarui, dan ada luka yang ingin disembuhkan melalui perjumpaan.

Saya bersama keluarga juga memutuskan mudik lebih awal ke Sulawesi sebelum puncak arus mudik. Meskipun demikian, tetap saja kepadatan manusia di bandara sudah terlihat sejak pertengahan Ramadan. Orang berlomba-lomba mencari tiket murah sebelum kehabisan tiket.

Fenomena mudik ini juga memperlihatkan jati diri manusia yang pada hakikatnya berkelana. Ia bergerak, melangkah ke mana saja demi bisa menyambung kehidupan. Bahkan sejak kecil kita didoktrin melalui lirik lagu, “Nenek moyangku seorang pelaut.” Dengan kontur sebagai negara maritim, masyarakat Indonesia terbiasa berjalan jauh untuk mencari rezeki.

Sebagai anak dari orang tua yang merantau, saya lahir dengan budaya mudik yang melekat kuat. Meski demikian, terakhir kali saya merasakan euforia mudik ketika masih SD. Belasan tahun silam. Pesawat masih menjadi transportasi langka. Bayangan anak SD awal tahun 2000-an, mudik berarti mengarungi lautan luas dengan kapal seadanya, terombang-ambing ketika badai menyambut perjalanan.

Hari ini, mudik terasa lebih gampang dengan kemajuan zaman. Sayangnya, proses kembali ke kampung halaman sering dipahami dengan makna dangkal: saling pamer kekayaan dan saling urus kehidupan, seperti kapan lulus kuliah; kapan menikah; kalau sudah menikah, kapan punya anak; dst. Saya memaknai mudik adalah cara untuk menelusuri kembali jejak perjalanan orang tua. Memang tidak ada mesin waktu yang bisa membawa kita ke masa lalu, tetapi bangunan yang masih terjaga dan saksi sejarah yang masih hidup, adalah memori berharga yang tidak dapat tergantikan dengan teknologi secanggih apa pun.

Sebenarnya, mudik adalah tradisi yang baik. Ia menjadi ruang untuk menyambung kembali tali silaturahmi yang mungkin sempat renggang oleh jarak dan kesibukan. Namun di balik kehangatan perjumpaan itu, ada juga sisi lain yang sering luput dari perhatian. Mudik tidak selalu menghadirkan kegembiraan semata.

Bagi sebagian orang, mudik juga membawa tekanan batin yang tidak kecil. Ada yang merasa terbebani oleh biaya perjalanan yang mahal. Ada yang merasa harus “tampil berhasil” di hadapan keluarga di kampung halaman. Ada pula yang pulang dengan kecemasan karena belum mampu memenuhi ekspektasi sosial yang dibangun oleh lingkungan.

Belum lagi momen berkumpul bersama keluarga, bagi sebagian orang serasa laksana ajang penghakiman pencapaian dengan segudang pertanyaan: “kapan menikah?”, “kapan lulus kuliah”, “mengapa belum punya anak?”, “suami kerja di mana?”, “anak kuliah di mana?”, dan seterusnya. Sebenarnya tak ada yang salah dengan pertanyaan informatif itu.

Menjadi kurang elok, karena pertanyaan itu ditujukan kepada mereka yang sedang berjuang. Berjuang mencari jodoh, berikhtiar mendapatkan anak, atau berusaha mencari pekerjaan yang lebih layak. Intinya, tidak semua pertanyaan layak diucapkan tanpa mempertimbangkan kondisi psikologis seseorang. Bagi sebagian orang pertanyaan itu mungkin biasa saja, tetapi ada yang merasa itu sebagai cercaan terhadap proses yang sedang dijalaninya.

Dalam posisi inilah, mudik bukan lagi menjadi daya tarik, justru menjadi sesuatu yang mengusik. Tidak sedikit orang yang akhirnya menunda untuk mudik dengan berbagai alasan. Intinya satu: mereka mau terhindar dari pertanyaan dan relasi yang toxic.

Tidak jarang pula, persiapan mudik justru menguras energi dan perhatian kita sehingga melupakan satu hal penting: sepuluh malam terakhir Ramadan yang seharusnya menjadi puncak ibadah. Padahal di waktu inilah Allah membuka pintu ampunan dan keberkahan seluas-luasnya. Di waktu inilah umat Islam diajak untuk lebih mendekat kepada-Nya melalui salat malam, zikir, tilawah, dan berbagai amal kebajikan lainnya.

Karenanya penting untuk menjaga keseimbangan. Mudik boleh saja dipersiapkan dengan baik, tetapi jangan sampai ia menggeser fokus kita dari tujuan utama Ramadan: memperbaiki hubungan dengan Allah dan memperhalus hubungan dengan sesama manusia.

Sebab jika dipikirkan lebih dalam, perjalanan pulang ke kampung halaman di dunia hanyalah gambaran kecil dari perjalanan pulang yang jauh lebih besar. Suatu hari nanti, kita semua akan melakukan “mudik” yang sesungguhnya: pulang ke kampung akhirat melalui pintu kematian.

Setiap manusia pada akhirnya akan kembali kepada Allah. Tidak ada yang bisa menunda atau menghindarinya. Hanya waktu yang menjadi rahasia. Bahkan tidak sedikit kasus kecelakaan yang menghantui para pemudik dalam perjalanan. Alih-alih mudik ke desa, perjalanan mudik justru mengantarkan seseorang menghadap Sang Pencipta.

Karena itu, selain mempersiapkan mudik ke kampung halaman, kita juga perlu mempersiapkan bekal untuk perjalanan pulang kepada-Nya. Perjalanan ini bukan sekadar beberapa jam di jalan raya, tetapi perjalanan panjang yang menentukan nasib kita di kehidupan abadi.

Nabi Muhammad saw. pernah memberikan nasihat yang sangat mendalam kepada Abu Dzar. Beliau mengibaratkan kehidupan manusia seperti perjalanan mengarungi samudera yang luas.

يَا أَبَا ذَرٍّ، جَدِّدِ السَّفِيْنَةَ فَإِنَّ الْبَحْرَ عَمِيْقٌ، وَخُذِ الزَّادَ كَامِلاً فَإِنَّ السَّفَرَ بَعِيدٌ، وَخَفِّفِ الْحِمْلَ فَإِنَّ الْعَقَبَةَ كَؤُودٌ

“Wahai Abu Dzar, perbaharuilah kapalmu karena laut itu dalam; ambillah bekal yang cukup karena perjalanannya jauh; dan ringankanlah beban bawaanmu karena jalan yang akan dilalui itu berat.”

Nasihat ini seakan mengingatkan kita bahwa hidup di dunia hanyalah perjalanan. Kapal yang kita gunakan adalah iman dan amal saleh. Bekal yang kita bawa adalah kebaikan yang kita lakukan selama hidup. Sedangkan beban yang harus kita ringankan adalah dosa, kesombongan, dan berbagai keterikatan dunia yang membuat langkah menjadi berat.

Mudik pada akhirnya bukan sekadar perjalanan fisik dari kota ke desa. Ia juga bisa menjadi momentum refleksi batin. Perjalanan panjang di jalan raya, antrean kendaraan yang melelahkan, hingga waktu yang dihabiskan di kendaraan dapat menjadi ruang untuk merenungkan arah hidup kita.

Sudah sejauh mana perjalanan spiritual kita? Sudah seberapa banyak bekal yang kita siapkan untuk pulang kepada Allah? Jangan sampai kita terlalu sibuk mempersiapkan mudik ke kampung halaman, tetapi lupa mempersiapkan mudik menuju kampung akhirat.

Jika mudik di dunia kita persiapkan dengan kendaraan terbaik, tiket yang aman, dan bekal yang cukup, maka mudik menuju kehidupan di akhirat pun semestinya dipersiapkan dengan lebih serius: dengan iman yang kuat, amal yang tulus, dan hati yang bersih.

Pada akhirnya, yang paling penting dari mudik bukanlah seberapa jauh perjalanan yang ditempuh, tetapi seberapa dalam makna yang kita temukan di dalamnya. Sebab bisa saja seseorang sampai di kampung halaman, tetapi tidak menemukan kedamaian. Sebaliknya, ada pula orang yang justru menemukan ketenangan karena mampu memaknai perjalanan itu sebagai pengingat akan perjalanan pulang yang sesungguhnya.

Ramadan, dengan segala keberkahannya, seakan memberi pesan kepada kita: pulanglah, bukan hanya kepada keluarga, tetapi juga kepada keabadian.

Menjadi Manusia Otentik di Hari Raya

Ramadan telah pergi meninggalkan kita. Idulfitri tiba disambut dengan suka cita. Salah satu hikmah dari pendidikan Allah selama bulan puasa kemarin adalah agar melahirkan insan-insan yang kembali pada fitrah. Dalam Al-Quran Surat Ar-Rum ayat 30, Allah Swt menggunakan kata fitrah sebagai berikut:

Maka, hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam sesuai) fitrah (dari) Allah yang telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah (tersebut). Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Seorang mufasir modern, Imam Thahir Ibn ‘Asyur dalam kitabnya “At-Tahrir wat Tanwir” memaknai kata fitrah pada ayat tersebut bermakna unsur-unsur dan sistem yang Allah anugerahkan kepada setiap makhluk berupa jasad dan akal. Dengan potensi itu, manusia mampu membedakan ciptaan Allah dan mengenal syariat-Nya.

Berdasarkan uraian tersebut, fitrah dapat dipahami sebagai upaya kembali mengenali jati diri yang otentik. Terlebih di era modern saat ini, sering kali kita menampilkan diri yang palsu, penuh kosmetik. Kita berbohong terhadap diri ini hanya agar dipandang baik oleh orang lain di stori whatsapp, instagram, tiktok, dan sebagainya.

Dengan kembali menyelami fitrah kemanusiaan, kita akan terkoneksi dengan kehidupan Sang Pencipta yang mengatur semesta. Terlebih momentum Idulfitri tahun ini bertepatan dengan hari raya Nyepi bagi umat Hindu dan menyongsong Paskah untuk umat Kristiani. Semua ibadah tersebut mengajak umat beragama untuk mengambil jeda waktu sejenak untuk menghayati fitrah kehidupan ini.

Fitrah itu ibarat jaringan seluler atau wifi dan jasad manusia itu ibarat telepon seluler. Jika telepon seluler terkoneksi dengan jaringan, maka gawai dapat berfungsi dengan baik. Sebaliknya jika tidak terhubung, maka ponsel sebatas fisik yang tak berarti lagi. Begitulah perumpamaan kita sebagai manusia yang menghidupkan fitrah kemanusiaan.

Melalui momentum komunal umat beragama ini, setidaknya ada tiga koneksi jaringan yang perlu kita pulihkan. Pertama, habl min Allah, relasi dengan Sang Pencipta. Selama bulan puasa kemarin, kita dididik oleh Allah untuk memperbaiki hubungan dengan-Nya.

Sayangnya, pasca-Ramadan kita justru menjauh dari Sang Pencipta. Selama bulan puasa kemarin, kita digembleng oleh Allah untuk mendekat kepada-Nya. Dengan senantiasa berupaya mendekatkan diri dan merasa diawasi oleh Allah, akan lahir semangat untuk menjauhi sifat-sifat tercela seperti mencuri, korupsi, mengadu domba, menebar berita hoax, dan sebagainya.

Selain relasi dengan Tuhan yang perlu diperbaiki, relasi kedua adalah hubungan dengan sesama manusia (habl min al-nas). Hal ini juga sama pentingnya dengan membangun hubungan dengan Allah Swt. Sebab mereka yang mendekat dan menjalankan tuntunan Ilahi, akan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan pula.

Karenanya ibadah-ibadah yang dilakukan selama Ramadan kemarin, selain meningkatkan keimanan personal, seharusnya juga mengasah kepekaan sosial. Bukankah dengan beribadah puasa, kita dapat merasakan betapa susahnya orang-orang miskin dan tak berdaya hidup di tengah kelaparan dan ketimpangan ekonomi. Bukankah dengan mengeluarkan zakat, infak dan sedekah, kita dilatih untuk tidak pelit dan sadar bahwa harta yang dimiliki adalah titipan dan harus dikeluarkan sesuai dengan tuntunan agama.

Setelah memperbaiki relasi kita dengan Pencipta dan sesama manusia, maka hubungan yang ketiga adalah konektivitas kita dengan alam raya (habl min al-‘alam). Tanpa kita sadari, sebenarnya sebagai manusia kita punya keterikatan dan keterhubungan dengan alam. Sejarah nenek moyang kita memperlihatkan bagaimana mereka dapat hidup selaras dengan alam sebagai petani, nelayan, dan pemburu. Mereka hidup dari alam karena mereka menjaga alam.

Selain itu, jika kita bedah, tubuh kita juga diciptakan dari unsur yang ada di alam raya, yaitu tanah untuk Nabi Adam a.s. sedangkan anak cucunya diciptakan dari saripati tanah, berupa zat-zat makanan yang kemudian menjadi darah. Maka kehadiran alam raya sangat penting bagi kelangsungan manusia.

Tanah yang selalu diinjak tapi dari tanah pula tumbuh dan lahir kehidupan. Karenanya kembali ke fitrah dapat dimaknai pula dengan memahami falsafah tanah yang menjadi bahan dasar penciptaan manusia. Sebagai manusia tak perlu sombong karena kita berasal dari sesuatu yang rendah bahkan hina. Tetapi yang penting adalah bagaimana manusia yang biasa ini menjadi manusia yang luar biasa, layaknya tanah yang menumbuhkan kehidupan, manusia dapat menebar manfaat dan maslahat sebanyak-banyaknya, khairun naas, anfa’uhum lin naas. Spirit menebar kemanfaatan inilah yang tersirat dari sabda Nabi Saw berikut:

“Jika terjadi hari kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah tunas, maka jika ia mampu sebelum terjadi hari kiamat untuk menanamnya maka tanamlah.” (HR. Bukhari & Ahmad)

Relasi dengan alam ini perlu untuk kita renungkan kembali di momentum Idulfitri ini. Sebab manusia sebagai khalifah fil ardh, ditugaskan untuk mengelola alam raya, bukan justru merusaknya.

Selain menjaga alam raya dari kerusakan, langkah nyata memulihkan hubungan dengan alam yang dapat kita lakukan menyambut Idulfitri ini adalah berhari raya dengan penuh kesederhanaan. Sederhana di sini bukan berarti kita dilarang bersuka cita, bergembira dan menikmati makanan yang lezat. Ajaran agama jelas, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.

Dengan demikian, pahamlah kita makna sejati ber-idulfitri. Bahwa Idulfitri adalah semangat memulihkan dan merawat fitrah kemanusiaan yang sudah ditempa selama satu bulan, dan diteruskan pada bulan-bulan berikutnya. Fitrah kemanusiaan yang dimaksud adalah dengan merekatkan habl min Allah, habl min al-nas dan habl min al-‘alam. Wallahu a’lam.