Pos

Hukum Shalat Jum’at di Tengah Wabah Covid-19 (Bagian 2)

Analisis Maqashid Al-Syariah

 

Allah Swt. berfirman,

ولا تُلقوا بأيديكم إلى التهلكة

Artinya: “… dan janganlah kamu jatuhkan (dirimu sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri” (QS. Al-Baqarah, 2:195)

 

Bila kita memaksakan shalat jumat dalam situasi ini, shalat jum’atnya sah namun saat itu juga kita melakukan perbuatan dosa yaitu menjatuhkan diri kita ke dalam risiko besar tertularnya Covid-19. Bila sepulang jum’at kita tertular, lalu kita pulang ke rumah, di sana terdapat isteri dan anak-anak atau orang tua kita yang semua kita sayangi, lalu mereka semua tertular, dan na’udzubillahnya anggota keluarga yang tertular itu ada yang meninggal disebabkan kita sebagai pembawa Covid-19, maka kita tidak saja menjatuhkan diri kita ke dalam kerusakan tetapi juga mengorbankan orang-orang yang tercinta. Saat itulah perempuan dan anak-anak berisiko besar menjadi korban karena memaksakan suatu ibadah yang di mana Nabi Muhaamad Saw., pernah tidak memaksakan diri melaksanakan shalat Jum’at agar kaum muslimin tidak terancam hidupnya.

 

Allah Swt berfirman,

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُم  …

Artinya : “Maka bertakkwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu…” (Q.S. At-Taghabun, 64:16)

 

…وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

Artinya : “..  Dia (Allah) tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam beragama”.(QS. 22:78)

 

Karena itu pelaksanaan shalat jum’at satu sisi merupakan kewajiban, namun di sisi lain kita juga memiliki kewajiban menjaga hidup kita dan memiliki kewajiban menjamin kehidupan orang-orang yang kita cinta; pasangan (suami-isteri) anak-anak, orang tua (ibu dan Bapak), dan lainnya. Kewajiban memelihara kehidupan, baik terhadap pribadi maupun orang lain adalah perintah syariat, yang dikenal denga ”hifdzu al-nafs”, Imam al-Haraimn Al-Juwani (w.478H) di dalam kitab Al-Burhan fi Ushul Al-Fikhi dan Ghiyatsu al-Umam, Abu Hamid Al-Ghazali (w. 505H) di dalam kitab Al-Mustashfa dan di dalam kitab Syifau Al-Ghalil begitu juga ’Izzuddin ibn Abdussalam (w. 585H) dalam kitab Qawâ’idu al-Ahkâm fȋ Mashâlihi Al-Anâm hingga Imam Al-Syathibi (w.790H) dalam kitab Al-Muwâfaqât sepakat bahwa menjaga/memelihara hidup/jiwa adalah bagian dari maqashid al-syariah (tujuan-tujuan syariat).

عن أبي سعيدٍ سعد بن سنانٍ الخدري رضي الله عنه: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: ((لا ضرر ولا ضرار))؛ حديث حسن، رواه ابن ماجه والدارقطني

“Dari Abi Sa’id Sa’ad ibn Sinan Al-Khudri ra., sesungguhnya Rasulullah Saw. bersabda: tidak ada kebahayaan (dalam Islam) dan tidak boleh membahayakan” (Hadits Hasan diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Imam Daruqutni). Imam Malik juga menyertakan hadits ini di dalam kitab Al-Muwatta.

Hadits ini popular dan belakangan menjadi salah satu kaidah dalam kaidah fikih, dan saat ini menjadi rujukan para ulama dalam menciptakan standar maqasid syariah, yaitu bahwa dalam Islam tidak diperkenankan adanya bahaya/madharat.

Pesan dalam hadits ini sangat jelas bahwa Islam sangat tidak menerima umat manusia tertimpa bahaya, dan diharamkan melakukan hal yang bahaya terhadap orang lain.

Berdiam diri di rumah dalam situasi daerah yang terkena wabah Covid-19 seperti Jakarta maka diperintahkan untuk tetap di rumah, agar terhindar dari risiko tertular, dan tidak membawa penularan itu ke dalam rumah, yang berisiko terhadap perempuan, anak-anak, dan balita.

Terdapat kalam menarik dari seorang ulama karismatik di kalangan pesantren di Indonesia dan dunia yang melandasi konsep “tarjihul maslahah”, Al-Imam Jalaluddin Abdurrahman ibn Abi Bakar As-Suyuthi (1445-1505M), ulama kelahiran Mesir tahun 1445Masehi. Dia mengatakan,

 

فإذا تعارض مفسدة و مصلحة قدم دفع المفسدة غالبا لأن إعتناء الشارع بالمنهيات أشد من إعتنائه بالمأمورات[1]

“Apabila bertentangan mafsadah (keburukan) dan maslahah (kemaslahatan) maka umumnya didahulukan menghindari kemafsadatan, karena perhatian Tuhan lebih besar pada larangan-larangan ketimbang perhatiannya pada kewajiban-kewajiban (perintah)”

 

Ia menyandarkan kalamnya ini pada hadits Nabi Muhammad Saw.,

إذا أمرتكم بأمر فأتوا منه ما استطعتم و إذا نهيتكم عن شيء فاجتنبوه[2]

”Apabila aku perintahkan suatu perkara kepada kalian maka laksanakan semampu kalian, dan apabila aku larang kalian dari sesuatu maka jauhilah sesuatu itu”.

 

Pandangan Ulama Kontemporer Terkait Virus Covid-19

 

Beda zaman beda pula jenis udzur syar’i, namun dari segi standar dan timbangan kemadharatan tentu saja dapat diketahui kemiripan dan kesamaan, dan dampaknya. Dulu belum ada Covid-19, namun usia keluarga coronavirus sendiri usianya lebih lama dari usia Masehi, artinya level kemadharatan dulu dan sekarang adalah sama dan sangat mirip, hanya beda bentuk, dan jenisnya.

Karena itu illat hukum dulu dan sekarang bisa saja sama, dan sangat mudah mengoperasikan standar qiyas di sini sebagaimana saya operasikan dalam tulisan saya ini dan diperkuat dengan gagasan ”tarjihul maslahat” dan ”maqasid syariah”.

Di antara para ulama kontemporer yang dapat dijadikan rujukan, pertama ulama Al-azhar Mesir. Darul Ifta (lembaga fatwa nasional) Mesir telah mengeluarkan fatwa tidak diperbolehkan shalat jumat di tengah wabah Covid-19 sebelum dinyatakan aman bebas dari covid-19.

 

أكدت دار الإفتاء المصرية إن هناك مجموعة من الأسباب التي يُترخَّصُ بها لترك الجماعة في المسجد بل والجمعة، ومنها أسباب عامة؛ كالمطر الشديد والوحل الذي يُتأذى به وكذا الظلمة التي لا يُبصر بها الإنسان طريقه إلى المسجد، ومنها أسباب خاصة؛ كالمرض، والخوف على نفسه أو ماله أو أهله، وكذلك أكل ما له رائحة كريهة، وأيضًا إذا غلبه النوم، وغير ذلك من الأسباب وما يشبهها.

 

 

ولا شك أن خطر الفيروسات والأوبئة الفتاكة المنتشرة وخوف الإصابة بها أشد، خاصة مع عدم توفر دواء طبي ناجع لها، لذا فالقول بجواز الترخُّص بترك صلاة الجماعات في المساجد عند حصول الوباء ووقوعه بل وتوقعُّه أمر مقبول من جهة الشرع والعقل، والدليل على أن الخوف والمرض من الأعذار المبيحة للتخلف عن صلاة الجماعة: قول النبي صلى الله عليه وسلم: «من سمع المنادي فلم يمنعه من اتباعه، عذر»، قالوا: وما العذر؟، قال: «خوف أو مرض، لم تقبل منه الصلاة التي صلى» [رواه أبو داود][3]

 

”Darul Ifta Al-Masriyah (Badan Fatwa Mesir) menegaskan terdapat serangkaian alasan yang dapat merukhshah untuk meninggalkan shalat berjama’ah bahkan shalat jumat, di antaranya ada sebab umum seperti hujan deras, lumpur yang bisa melukai, begitu juga kegelapan (yang pekat) sehingga jalan menuju masjid tidak dapat dilihat oleh manusia, da nada juga sebab khusus seperti sakit, khawatir pada keselamatan nyawanya, hartanya, dna keluarganya, begitu juga makanan yang memiliki bau sangat tidak sedap, ketiduran, dan alasan sejenisnya.

Dan tidak diragukan lagi terkait bahaya virus-virus dan epidemi mematikan yang tersebar luas, dan ketakutan terkena infeksi itu lebih parah, terutama ketiadaan obat medis yang bisa menyembuhkan, maka pendapat diperbolehkannya mendapat rukhshah (keringanan) dengan meninggalkan shalat berjama’ah di masjid-masjid ketika epidemi terjadi, dan bahwa alasan itu dapat diterima oleh syariat dan akal/rasional, dalilnya bahwasannya ketakutan dan sakit termasuk udzur yang diperbolehkan meninggalkan shalat berjama’ah. Nabi Muhammad Saw bersabda: ”Orang yang mendengar panggilan, tidak ada yang bisa mencegahnya kecuali udzur. Seseorang bertanya Udzur itu apa saja? Rasulullah menjawab: ”Rasa takut dan sakit” (HR. Abu Dawud).”

 

Dengan adanya rukhshah ini maka wajib bagi orang yang tinggal di tengah pandemi Covid-19 harus menyepi di rumah dan menghindari keramaian, dan melaksanakan peribadatan di dalam rumah, termasuk shalat lima waktu lazimnya dilaksanakan di rumah, termasuk juga shalat jum’at. Dengan demikian setiap hari jum’at untuk sementara tidak shalat jumat terutama bagi warga Jakarta dan daerah yang terkena pandemi Covid-19, dan menggantinya dengan shalat zuhur.

Perlu diketahui bahwa Badan Fatwa Al-Azhar ini merupakan organisasi perkumpulan ulama Mesir, di dalamnya terdapat para pakar hukum Islam kenamaan, dengan kapasitas istinbat hukum.

 

Kesimpulan

 

Pelaksanaan shalat Jum’at di tengah amukan wabah covid-19 disebuah wilayah seperti Jakarta sangat tidak dianjurkan, bahkan perintah menjauhi semua bentuk kegiatan keagamaan yang menghadirkan perkumpulan orang banyak karena risiko tinggi penyebaran Covid-19 yang mengancam keselamatan hidup orang banyak. Dan hal itu dianggap sebagai udzur syar’I, keterhalangan yang dipandang sah dimata hukum Islam.[]

[1] Al-Imam Jalaluddin Abdurrahman ibn Abi Bakar As-Suyuthi, Al-Asbâh wa an-nazhâir, Daru Ihyai Al-Kutubi Al-’Arabiyyah, Indonesia tt. Hal. 62

[2] Al-Imam Jalaluddin Abdurrahman ibn Abi Bakar As-Suyuthi, Al-Asbâh wa an-nazhâir,…, hal. 62.

[3] https://www.youm7.com/story/2020/3/20/%D8%AF%D8%A7%D8%B1-%D8%A7%D9%84%D8%A5%D9%81%D8%AA%D8%A7%D8%A1-%D9%8A%D8%AC%D9%88%D8%B2-%D8%AA%D8%B1%D9%83-%D8%B5%D9%84%D8%A7%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D8%AC%D9%85%D8%B9%D8%A9-%D9%88%D8%A7%D9%84%D8%AC%D9%85%D8%A7%D8%B9%D8%A9-%D8%A8%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%B3%D8%AC%D8%AF-%D8%A8%D8%B3%D8%A8%D8%A8-%D9%83%D9%88%D8%B1%D9%88%D9%86%D8%A7/4679436, diakses 20 Maret 2020

Merebut Tafsir : Agama dan Krisis

Mungkin di antara kita pernah atau kerap menempatkan agama bukan sebagai hal yang utama. Namun sebaliknya kerap juga agama dijadikan satu-satunya gantungan harapan. Biasanya itu hadir tatkala kita sedang menghadapi krisis. Krisis apa saja. Dan disitulah memang antara lain peran dan fungsi agama.

Berulang kali saya merasa saya membutuhkannya karena saya merasa sangat rapuh. Waktu berpisah dari keluarga untuk menempuh pendidikan lanjutan di Belanda, ketika menjalani operasi rahim, ketika melahirkan tiga anak dengan penyulitnya masing-masing, ketika orang tua sakit keras, ketika harus mencari jalan untuk melunasi cicilan rumah, ketika harus menjalani operasi mata dan akhirnya harus menerima sebelah mata buta, dan ketika suami, panduan hidup tetiba jatuh dan wafat tiga hari kemudian. Di saat-saat seperti itu agama, kehangatannya, ketentraman yang ditawarkannya, harapan yang ditimbulkannya, kepasrahan yang dihasilkannya, membuat saya mempercayai agama sebagai sebuah sistem sosial dan keyakinan yang dapat membantu saya menghadapi krisis.

Namun ada kalanya saya merasa agama tak boleh mencampuri akal saya. Sebagai peneliti saya harus “setia pada fakta “ yang setiap saat bisa gugur oleh temuan- temuan lain. Dalam situasi itu saya memperlakukan agama sebagai fenomena, sebagai gejala sosial yang berpengaruh kepada pilihan-pilihan dan perilaku orang.

Tapi saya juga sangat menikmati spiritualitas yang lahir dari keyakinan/agama. Spiritualitas saya pelajari dan saya dalami serta saya asah dari pengalaman beragama dan dari keyakinan apapun yang dapat memunculkan “rasa” di dalam batin. Karenanya saya sangat menikmati bulan Puasa dengan segenap “rasa” yag memancar darinya. Sejak masih mahasiswa di Perbandingan Agama saya sangat menyukai ragam ritual agama- agama. Jika ke Kelenteng saya akan ikut bakar dupa dan menikmati harum dupa yang menyimpan memori tentang ketentraman serta perasaan indah di dalam batin. Saya senang mengikuti seremoni Natalan dan mendengarkan kidung-kidung persembahan. Saya sangat terpesona oleh keheningan dunia kerahiban baik dalam tradisi Kristen maupun Budha. Dan saya juga sangat menikmati dunia tarikat serta hal-hal gaib yang karap menyertai amalan-amalan yang dijalankan.

Ilmu pengetahuan merupakan sebuah dunia yang wataknya bisa melucuti keyakinan agama. Kisah “dunia datar”vs “dunia bundar” merupakan cerita klasik yang memperlihatkan ketegangan antara “keyakinan” dan fakta. Di mana agama harus berdiri? Dalam situasi ini kita bisa melihat dan bahkan menghadapi ketegangan-ketegangan serta gesekan antara dunia pengetahuan dan agama.

Dalam perkembangannya, ilmu pengetahuan secara adigung kerap meninggalkan agama. Dan ini membuat dunia agama merasa disepelekan. Namun dalam isu tertentu Ilmu pengetahuan akan sulit meninggalkan agama. Itu terutama ilmu pengetahuan yang harus berhadapan dengan isu moral yang sumbernya dari agama. Ilmu pengetahuan yang terkait dengan dunia penyakit yang belum diketemukan obatnya menjadi rentan oleh campur tangan pandangan agama. Penyakit yang membuat manusia kehilangan keberdayaanya, seperti HIV/AIDS kerap digunakan oleh kalangan agama untuk membuktikan betapa dunia pengetahuan tak ada apa-apanya dibandingkan dengan tentara-tentara Tuhan berupa penyakit yang membuat manusia rentan. Agama dengan cepat dan digdaya dipegang sebagai bukti bahwa pengetahuan manusia ada batasnya sementara kekuatan agama tak terhingga.

Ketidak-berdayaan ilmu pengetahuan atas penyakit mematikan yang belum ditemukan obatnya segera disambar oleh agama sebagai bukti bahwa itu merupakan balasan Tuhan atas kesombongan manusia karena meninggalkan agama. Krisis yang ditimbulkan oleh penyakit, menjadi senjata balasan dari agama kepada ilmu pengetahaun yang selama ini telah mengabaikannya. Dalam situasi krisis serupa itu agama seperti mendapakan bala bantuan berupa claim kebenaran bahwa Tuhan sedang mengirimkan azab dan penyakit mematikan itu menjadi bukti kebejatan moral manusia. Secara psikologis, penyakit itu seperti tentara Tuhan untuk membalaskan “sakit hati” yang diderita agama karena kerap ditinggalkan oleh science. Karenanya penyakit mematikan mereka claim sebagai azab agar manusia insyaf dan taubat.

Dalam dua domain yang berbeda, yang satu berbasis empirik yang lain keyakinan yang tak butuh bukti, memang terjadi persaingan. Sebetulnya itu biasa saja, keduanya bisa berjalan beriringan atau bahkan bertolak belakang. Namun ini menjadi masalah manakala negara yang mendapatkan mandat mengurus crisis, apapun krisis itu, termasuk penyakit, membiarkan agama masuk dan melepaskan fungsi utamanya sebagai pemberi ketentraman, ketenangan dan harapan menjadi penentu kebenaran berdasarkan nilai moralnya sendiri. Dan tatkala itu terjadi maka di saat itulah tampaknya agama telah menjadi sumber krisis itu sendiri.

 

Lies Marcoes, 20 Maret 2020

Merebut Tafsir : Mereka yang di Garis Depan

Dari dunia militer kita mengenal istilah garis depan. Garis depan adalah sebuah wilayah yang paling beresiko bagi seseorang yang ada di wilayah itu karena berhadapan langsung dengan musuh. Dalam perang-perang klasik Cina, garis depan diisi oleh para ahli perang yang handal dalam menggunakan pedang, tombak dan sejenisnya dan dipimpin langsung oleh para jendralnya. Para jendral ahli pengguna pedanglah yang akan maju di garis paling depan diikuti para pasukan tempurnya.

Tampaknya ini berbeda dengan perang modern dengan menggunakan mesiu. Dalam perang-perang daratan seperti disaksikan dalam film Western, pasukan tempurnya yang memegang senjata bermesiu mungkin berpangkat rendah. Namun merekalah yang paling langsung berhadapan dengan musuh, merekalah yang berdiri di garis depan sementara jendralnya mengatur strategi di garis belakang.

Baik dalam pertempuran klasik maupun modern, muncul kesadaran akan bahaya kematian bagi mereka yang berdiri di garis depan. Karenanya perlindungan ragawi merupakan ikhtiar yang diupayakan setara dengan ikhtiar penggunaan senjata itu sendiri. Teknologi untuk pertahanan diri dikembangkan bersama teknologi pertempurannya. Kita sering menyaksikan (lagi-lagi di film) pasukan yang ada di garis depan menggunakan tameng, baju besi, helm, penutup dada dan berbagai peralatan guna mengurangi resiko berada di garis depan.

Dalam setiap kehidupan yang mengandaikan ada pertempuran di dalamnya, selalu ada orang-orang yang harus berdiri di garis depan. Merekalah yang paling depan berhadapan dan melawan musuh atau mempertahankan kehidupan.
Namun akibat bias militer, seolah-oleh pertempuran paling penting adalah apa yang didefinisikan sendiri oleh dunia militer. Padahal kehidupan sehari-hari merupakan arena pertempuran dahsyat di mana seseorang harus berada di garis depan untuk mempertahankan dan memenangkan kehiduan. Mereka bisa perempuan kepala keluarga, TKI/W, para guru di wilayah terdepan terluar, dan para petugas medis. Semuanya menghadapi resiko kematian.

Dalam berbagai tradisi, seorang perempuan yang sedang hamil sering dimaknai sedang berada di garis depan. Saat melahirkan itulah battle-nya, pertempuran sengitnya. Dalam budaya Sunda, orang yang sedang melahirkan disebut “ngajuru”. Ngajuru adalah istilah yang sangat khas mengandung makna spiritual yang artinya “menuju”. Kata itu bermakna ganda – menuju kehidupan dengan lahirnya sang anak dengan selamat, atau menuju kematian karena proses melahirkan tak dapat diselamatkan.

Dalam al Qur’an metafora itu menggunakan kata yang luar biasa indah tapi sekaligus tak terpanai, tak terperi beratnya. Kata yang digunakan dalam Al Qur’an adalah “ wahnan ala wahnin” – berat di atas berat-, berat yang hampir tak tertanggungkan, unbearable. Karenanya kelanjutan dari ayat itu adalah keharusan manusia untuk hormat kepada ibunya, mengharuskan manusia senantiasa ingat beban penderitaan perempuan di saat bertarung nyawa melahirkan kehidupan yang baru. Dalam prinsip hak-hak reproduksi perempuan, negara dituntut untuk melindungi “hifd nafs” hak untuk hidup bagi ibu yang berada di garis depan itu.

Saat ini kita menyaksikan pasukan yang ada di garis depan berhadapan dengan virus yang mematikan. Mereka, para perawat dan juru medis merupakan pasukan yang berada di garis paling depan. Sebagai orang yang berada di luar dunia perawatan orang sakit, saya hanya bisa membayangkan mereka adalah orang-orang yang sedang bertempur di garis depan dengan beban yang tak terperikan dan hampir tidak mungkin mundur atau disertir. Mereka sedang menghadapi beban yang ibarat orang melahirkan “ wahnan ‘ala wahnin”.

Jika perangkat pertempuran dalam peperangan untuk mempertahankan diri senantiasa dipersiapkan sebaik-baiknya, maka sejauh manakah perlengkapan tempur telah disiapkan bagi mereka yang kini berada di garis paling depan dalam melawan virus corona? Kita sungguh berharap agar bagi para perawat dan juru medis yang saat ini berada di garis depan mendapatkan seluruh perangkat tempurnya untuk mengurangi resiko sesedikit mungkin. Mereka, para pasukan di garis depan harus mendapatkan hak-hak yang penuh, hidf nafs- hak untuk selamat dan hidup dari resiko berada di garis paling depan melawan virus corona. Empati dan doa mari kita persembahkan bagi keselamatan mereka. Amin.

 

Lies Marcoes, 18 Maret 2020

 

Merebut Tafsir: Eling lan Waspodo

Satu hal yang dipesankan untuk mengindari penyebaran covid-19 (Corona) adalah mengubah kebiasaan sehari-hari. Namanya kebiasaan, sesuatu pekerjaan yang dilakukan tanpa dipikirkan lagi atau di luar kesadaran. Kebiasaan umumnya menyangkut hal-hal yang dianggap sepele. Sering juga terkait dengan hal yang bersifat pribadi. Ada dua jenis kebiasaan; kebiasaan baik dan buruk. Untuk mengubahkan harus ada disiplin yang terus menerus digerakan oleh kesadaran yang “eling lan waspodo”. Eling lan waspodo adalah ungkapan spiritual dalam bahasa Jawa/ Kebatinan yang menurut saya sulit ditemui padanannya dalam bahasa agama samawi. Ini terkait dengan kebiasaan yang harus dilakuka dengan penuh kesadaran.

Virus corona telah memaksa kita untuk memikirkan ulang kebiasaan dengan kesadaran sepenuhnya atau eling lan waspodo itu. Sepertinya gampang. Tapi ketika dilakukan, ini benar-benar membuat kita seperti orang parno parah. Bayangkan, suatu pagi, sejak pagi kita sudah dituntut untuk mengupayakan memutus rantai corona dengan membatasi sentuhan fisik terutama dengan “orang asing” yang tak tahu riwayatnya dalam minggu-minggu terakhir. Pagi- pagi saya beli roti dari tukang roti langganan. Saya serahkan uang saya terima uang kembalian dan roti. Tangan saya tak bersentuan dengan si abang, tapi saya menyentuh roti yang dia pegang, dan uang kembalian. Sadar akan hal itu, segera saya cuci tangan dengan sabun dan dalam air yang mengalir. Beres.

Lalu ART datang minta uang untuk tukar galon air. Saya meminta dia mengambil uang dari laci uang belanja harian. Saya pikir OK saya aman tak menyentuh uang dalam laci yang entah sejak kapan sudah disentuh oleh berapa ribu tangan orang. Namun karena transaksi dgn uang itu dilakukan oleh ART, saya buru-buru meminta dia untuk cuci tangan dengan sabun karena dia akan melakukan pekerjaan lain yang terhubung dengan saya.

Agak siang pak RT datang menyerahkan daftar kegiatan sepanjang ramadan. Sudah lama muncul kebiasaan untuk tak salaman langsung karena bukan muhrim, jadi kami salaman dengan sikap “namaste”. Tapi saya toh menyentuh kertas darinya. Saya pikir sudah berapa tangan yang menyentuhnya: tukang foto copy, asisten RT bagian keamanan, dan tangan Pak RT sendiri. Setelah beliau pamit, saya ke kamar mau melanjutkan kerja, tiba-tiba teringat barusan habis menyentuh benda yang mungkin telah disentuh banyak tangan. Di dekat laptop saya sediakan sanitizer dan terus menerus mengingatkan diri untuk tak menyentuh muka. Wuaah sungguh susah! Menulis itu proses berpikir, saya biasa menyentuh bibir, hidung, ujung mata, jidat dan menopang dagu kala mencari-cari kalimat yang tepat.

Menjelang siang anak perempuan saya datang. Tentu ritualnya harus berubah, tak cipika cipiki apalagi memeluknya. Dia habis antar anaknya ke sekolah dan mengantarkan buku-buku pesanan teman-temannya yang kemarin dia beli dari pameran buku di Bintaro. Setelah dia cuci tangan dan ganti baju bersih kami baru saling mendekat melihat-lihat buku baru koleksinya. Sebelumnya saya pesan nasi Padang lengkap yang dibungkus daun pisang. Kami pun siap makan bersama , eit.. tidak boleh pakai sendok yang sama dan gak boleh “pacorok”, memakan satu bungkus berdua. Jadilah kami pisahkan dulu nasi Padang kepul-kepul itu sebelum kami makan.

Demikianlah seharian, kita berhadapan dengan sebuah tindakan yang semula sama sekali tak lagi perlu dipikirkan sekarang harus dipikirkan ulang , detik ber detik dengan eling lan waspodo. Sangat melelahkan, memang. Tapi itulah yang harus kita lakukan. Mengubah kebiasaan yang semula sama sekali tak terpikiran menjadi mata rantai penularan virus. Kesadaran penuh diperlukan karena kita seperti berhadapan dengan hantu, mereka bisa lihat kita, kita tak dapat melihat mereka. Hanya kesadaran penuh, benar-benar penuh atau eling lan waspodo yang dapat memutus mata rantai itu. Tapi ini memang sebuh pilihan sadar untuk tetap hati-hati dan waspada, tak hanya satu dua jam, tapi satu dua hari dan berhari-hari untuk terus eling lan waspodo.

Ini baru eling lan waspodo untuk menghadapi seekor virus yang kita duga terus mengintip. Sebagai manusia, masing-masing kita niscaya telah diingatkan oleh keyakinan masing-masing untuk setiap detik “eling lan waspodo” bahwa apapun perbuatan kita akan menghasilkan amal perbuatan. Amal itu hanya dua akibatnya baik atau buruk. Virus ini mungkin sebuah dampak dari perbuatan manusia yang kehilangan kesadarannya untuk eling lan waspodo; yaitu ketika mansia merasa paling kuasa untuk mengatur dan mengendalikan alam semesta tanpa tanggung jawab tanpa dilandasi oleh sikap spiriualitas eling lan waspodo.

 

Lies Marcoes, 16 Maret 2020