Belajar dari Spider-Man: Brand New Day
“Karena kita kehilangan seseorang, bukan berarti kita layak menjalani kehidupan ini sendirian” (Peter Parker)
~~~
Dunia imajinasi kita hidup bersama para pahlawan super dalam film sci-fiction. Entah itu yang dibuat oleh Marvel maupun DC. Kehadiran super hero itu membuat kita menantikan sosok hebat yang dapat mengubah dunia, negara, atau daerah tempat kita tinggal.
Sayangnya, kekuatan super itu hanya ada dalam film fiksi saja. Di dunia nyata, sering kali mereka yang jahat justru menguasai dunia. Orang baik tertindas dan tidak ada tempat untuk melawan. Namun, kesan itu berubah ketika saya menonton film terbaru Spider-Man: Brand New Day.
Ada tiga poin penting yang saya dapatkan dari film berdurasi lebih dari dua jam itu. Pertama, soal proses menerima diri. Dalam hidup ini, kita sering kali bergumul pada hal-hal yang tidak bisa diubah. Kita menyesal lahir dengan keterbatasan fisik atau ras tertentu.
Alhasil, kita justru berusaha mencari alat untuk mengubah hidup ini. Persoalan genetik dan hormon yang merupakan given, justru mau diubah dengan dalih agar bisa hidup lebih baik lagi. Penemuan teknologi mutakhir pun tak akan dapat membantu. Sebab teknologi secanggih apa pun hanyalah alat, bukan tujuan.
Sebagai seorang pribadi, yang perlu dilakukan pertama kali adalah penerimaan. Penerimaan ini lahir dari pengenalan diri. Era modern memang makin menyamarkan kita untuk mengenali siapa diri ini sebenarnya. Kita terpukau dengan kemajuan teknologi yang diciptakan oleh manusia, spesies kita. Sehingga menganggap bahwa dengan menggunakan teknologi, kita menjadi manusia super, manusia kuat, manusia hebat.
Padahal justru di situlah celah kita melupakan jati diri sebenarnya. Ketika teknologi sudah memperdaya kita, nilai kemanusiaan kian luntur, berganti dengan keserakahan.
Pengenalan dan penerimaan diri ini berkaitan pula dengan poin kedua, soal berdamai dengan masa lalu. Salah satu musabab kita kesulitan menerima diri adalah karena kita tidak menyelesaikan persoalan masa lalu. Setiap manusia punya luka dan trauma. Luka yang tidak dipulihkan akan menjadi racun di kemudian hari. Trauma itu menjadi bom waktu yang dapat meledak saat ada pemantiknya.
Ketika ada anak yang dibesarkan dalam keluarga yang rusak. Ia hanya akan mewariskan kerusakan itu. Kehilangan sosok orang tua membuatnya tak bisa merasakan cinta. Luka itu akan tumbuh dan berpotensi menyebarkan luka yang lebih dalam kepada orang lain.
Dalam skala berbangsa dan bernegara, memori kelam kekerasan yang diwariskan akan menjadi luka. Luka itu kian dalam menggerogoti negara, hingga pada akhirnya mengantarkan negara itu dalam keterpurukan akut. Ibarat penyakit tumor yang tidak diobati akan menjalar merusak seluruh organ tubuh.
The last but not least, film ini juga mengajarkan tentang arti kepahlawanan sebenarnya. Film ini lebih banyak menghadirkan sosok Peter sebagai manusia biasa dibandingkan pahlawan super penjaga ketertiban dunia.
Namun ini yang justru sering terlupa, untuk bisa menolong orang lain, kita perlu membantu diri sendiri terlebih dahulu. Mereka yang belum selesai dengan diri dan masa lalunya, mustahil bisa menolong apalagi menjadi pemimpin bagi orang lain.
Sayangnya, sosok semacam ini banyak kita temukan mulai dari pucuk pimpinan hingga tingkat yang paling bawah. Banyak orang yang dielukan sebagai pahlawan masyarakat justru berujung menjadi pembunuh harapan rakyat. Sebab para pemimpin ini belum beres dengan kehidupan pribadinya.
Ia hanya tampak tegar dan dengan jumawa memperkenalkan diri sebagai pahlawan yang siap berjuang untuk orang banyak. Padahal sejatinya, ia bukan pahlawan. Ia hanya orang yang gagal memimpin diri dan mencoba mengobati lukanya dengan membanggakan diri.
Iya, itulah sosok Spider-Man yang diangkat dalam film ini. Manusia laba-laba yang berjuang menjadi manusia. Sementara banyak manusia abal-abal yang sok menjadi pahlawan meski hanya bualan.



Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!