Pos

Seksualitas Itu Cair

Jika mendengar kata seksualitas yang cair, apa yang ada di pikiran? Sejujurnya, saya tak pernah benar-benar mengetahui maknanya sampai saya bertemu dengan tulisan Ester Pandiangan. Ada satu artikel di buku terbarunya yang membuat saya memahami apa makna cair dari seksualitas itu.

Dualitas Jenis Kelamin

Setiap manusia dilahirkan di dunia ini hanya dengan dua kemungkinan: menjadi laki-laki atau perempuan. Sebab, hanya ada dua alat vital (vagina dan penis) yang merujuk pada penyebutan jenis kelamin.

Proses Menjadi Perempuan atau Laki-Laki

Proses menjadi perempuan atau laki-laki inilah yang—menurut pemahaman saya—membuat seksualitas itu cair. Dalam perjalanan menjadi perempuan atau laki-laki, ruang (bukan hanya soal bangunan tembok persegi empat, tetapi juga soal budaya) dan waktu (bukan hanya durasi, tetapi juga terkait dengan kesempatan) sangat menentukan bagaimana seseorang menghayati diri dan tubuhnya.

Masyarakat dan Penentuan Seksualitas

Selama ini, kebanyakan dari kita merasa menjadi perempuan atau laki-laki karena masyarakat menduga kita sebagai laki-laki atau perempuan berdasarkan alat vital yang kita miliki. Padahal, alat vital bukanlah jaminan bahwa itu menunjukkan seksualitas manusia yang sesungguhnya.

Seksualitas yang Berubah

Dalam ruang-ruang yang agak gelap dan tersamar, kita sering menemui seksualitas seseorang berubah. Misalnya, seorang waria yang tiba-tiba kembali pada “stelan pabrik”, atau seseorang yang awalnya hetero tiba-tiba mencintai sesama jenis dengan dalam. Kasus pertama bukan karena ia sedang bertobat, dan kasus kedua bukan karena ia dikerubungi setan.

Kedua contoh itu memperlihatkan bahwa ruang dan waktu mempengaruhi proses kita menjadi laki-laki atau perempuan. Pertemuan dengan realitas yang berbeda masuk ke dalam kesadaran manusia dan membentuk identitasnya sendiri. Jika ia berani, bisa jadi ia lantang berkata: “Eh, aku bukan hetero atau homo, aku adalah biseksual.”

Seksualitas Bukan Hanya Orientasi Seksual

Namun, sekali lagi, seksualitas yang cair ini bukan hanya soal orientasi seksual. Ia juga menjangkau hal-hal subtil yang kadang baru bisa dipahami dalam ruang sunyi kontemplasi—dan baru bisa diungkapkan ketika ada nyali. Seperti bagaimana seseorang harus menampilkan ekspresi wajahnya: apakah hendak maskulin atau feminin, hendak tampak seperti laki-laki atau perempuan. Dan sekali lagi, hal itu tak pernah ada hubungannya dengan orientasi seksual seseorang.

Bisakah Agama Menjadi Juru Selamat bagi Bumi yang Sekarat?

Suhu bumi makin tinggi. Lima tahun terakhir adalah suhu terpanas dalam sejarah sejak 1850. Tak tanggung-tanggung, di beberapa negara kenaikan suhunya mencapai 5 derajat. Gletser mulai mencair dan merobohkan gunungan es. Namun, di belahan dunia yang lain, bencana kekeringan menyebabkan gagal panen, kelaparan, hingga kematian. Sementara itu, manusia adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas hal ini. Data ini disampaikan oleh Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC). Laporan ini merupakan studi yang diluncurkan oleh para ilmuwan sebelum pertemuan iklim penting di Glasgow, Skotlandia, the 26th UN Climate Change Conference of the Parties (COP26).

Fenomena semacam ini sebenarnya sudah diperingatkan oleh para cendekia. Pada tahun 1985, Jill Jäger, seorang ilmuwan lingkungan, menghadiri pertemuan di sebuah kota kecil di Pegunungan Alpen Austria. Pertemuan yang dipimpin oleh ahli meteorologi bernama Bert Bolin ini merupakan pertemuan kecil para ilmuwan iklim yang bertujuan membahas hasil salah satu penilaian internasional pertama mengenai potensi perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia.

Manusia harus lebih bijak dalam menghuni bumi. Tapi, bukankah manusia memang selalu bebal? Selalu tak pernah percaya dengan peringatan-peringatan, baik dari sesama manusia maupun dari Langit (Tuhan). Manusia pada abad sebelum Masehi pernah berkata bahwa bumi adalah ibu. Sebuah penggambaran bahwa bumi adalah ibu kosmik manusia. Jagalah bumi, karena sesungguhnya ia adalah ibumu. Sesungguhnya, tidak ada satu pun yang memperlakukannya (bumi) dengan baik atau buruk kecuali dia (bumi) melaporkannya kepada Allah Swt. (al-Mu’jam al-Kabîr li َath-Thabrani, no. 4595).

Pun, dalam pondasi Islam yang terbangun dalam kalimat tauhid, dijelaskan secara terang benderang bahwa tiada tuhan selain Allah—yang artinya bahwa selain Allah adalah ciptaan. Tak peduli apakah itu alam, hewan, atau manusia sekalipun. Itu artinya manusia sama derajatnya dengan gunung, hutan, dan sungai. Demikian pula, manusia setara dengan kambing, gajah, ayam, dan babi sekalipun. Alam, hewan, dan manusia sama di hadapan Khaliq (Pencipta) sebagai makhluk (ciptaan). Ketiganya adalah saudara. Manusia, yang dibekali dengan akal, merasa lebih unggul dari saudaranya yang lain, sehingga memperlakukan alam semesta sebagai sapi perah melebihi dari kebutuhan mereka sendiri, hingga sampai pada tahap keserakahan. Tanpa ampun.

Keserakahan dan ketamakan manusia ini mengantarkannya pada bencana. Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari, menyebutkan bahwa sebanyak 1.862 bencana yang terjadi di Indonesia sepanjang Januari-Juli 2023 disebabkan oleh faktor perbuatan manusia.

Siapa lagi yang paling terdampak kalau bukan kelompok perempuan dan anak-anak? Perempuan, dalam tradisi masyarakat patriarki, dibebankan tanggung jawab untuk mengurus persoalan domestik dan memastikan seluruh kebutuhan rumah tangga terpenuhi. Di Lombok Utara, misalnya, kelangkaan air karena kekeringan menyebabkan perempuan berada dalam kondisi yang putus asa, karena kelangkaan air membuat emosi mereka naik turun. Dalam kondisi ini, laki-laki menuntut agar semua kebutuhan domestik terpenuhi tanpa mau tahu bagaimana prosesnya. Keadaan semacam ini pada akhirnya menyebabkan hubungan keluarga tak lagi harmonis. Selain itu, kelangkaan air menyebabkan anak-anak usia sekolah merasa minder untuk berangkat ke sekolah. Mereka merasa tidak pantas pergi ke sekolah karena kondisi tubuh yang kumal dan bau. Tak heran jika angka putus sekolah menjadi tinggi. Belum lagi masalah kesehatan reproduksi; kelangkaan air membuat perempuan terancam kesehatannya.

Sebegitu besar krisis ekologi yang melanda ruang hidup kita, agama seolah dianggap tak memiliki peran apapun. Padahal, agama memiliki fungsi strategis dalam perawatan lingkungan hidup. Oleh karena itu, agama seharusnya mengambil perannya dan lebih menggerakkan elemen agama untuk menjaga alam. Absennya narasi agama dalam isu krisis dan kerusakan lingkungan di antaranya terjadi karena masih minimnya kajian yang menelusuri khazanah pemikiran Islam dan menawarkan pembaruan dalam interpretasi teks-teks keagamaan terkait perawatan lingkungan.

Di Indonesia, pengajaran agama Islam ditransmisikan melalui berbagai macam cara. Paling umum ditemui di kalangan masyarakat adalah majelis taklim dan pesantren. Ini adalah ruang belajar kolosal yang terpusat pada satu figur tokoh agama atau pengasuh yang membahas persoalan-persoalan keseharian terkait agama. Dengan jumlah penganut agama Islam sebanyak 244,41 juta, tak mengherankan jika data yang dihimpun oleh Dirjen Bimas Islam mencatat jumlah majelis taklim mencapai 994.000 dan 39.167 pesantren. Data ini kemungkinan besar akan terus bertambah karena masih banyak yang belum terdaftar.

Ruang agama, seperti majelis taklim dan pesantren, memiliki peran yang sangat vital, bukan hanya dalam transmisi pemahaman keagamaan tetapi juga membumikan kebijakan strategis pemerintah. Pada saat pandemi, misalnya, tokoh agama dan ulama, khususnya yang memiliki majelis taklim dan pesantren, mempunyai peran signifikan dalam mensosialisasikan pentingnya jaga jarak sosial untuk menghalangi penyebaran virus COVID yang lebih masif, hingga pentingnya vaksin—dan menekankan bahwa vaksin COVID adalah halal bagi masyarakat dan jemaah. Dengan potensi ini, agama dapat berperan—melalui tokoh agamanya—sebagai juru bicara paling efektif dalam perawatan dan pemulihan lingkungan yang telah rusak karena keserakahan manusia.

Melawan Kapitalisme dengan Rasa Cukup

Beberapa bulan terakhir ini, saya tinggal di sebuah desa bersama dengan sepasang suami istri yang usianya lebih dari setengah abad. Pasangan ini menjalankan warung makan dengan memanfaatkan teras rumah mereka. Penganan yang dijual sederhana: nasi dengan tahu yang disiram sambal kacang, serta sayur lodeh. Sebagai pelengkap, mereka menambahkan beberapa gorengan seperti tahu, bakwan, dadar jagung, dan pisang goreng.

Setiap pagi, warung itu ramai dikunjungi orang, bahkan sejak gorengan belum selesai dimasak. Selain makanan berat dan gorengan, mereka juga menjual bubur kacang hijau dan ketan hitam. Para pembeli sangat beragam, mulai dari anak sekolah hingga para lansia. Mereka datang untuk membeli makanan dan kudapan, serta sesekali mengobrol dengan pemilik warung makan.

Hanya berselang satu rumah dari warung tersebut, terdapat dua warung makan lainnya. Satu warung berada di depan rumah—tepat berhadapan dengan warung pasutri ini—dan satu lagi di samping rumah. Karena rumah tersebut menghadap ke selatan, warung makan ketiga ini membelakangi warung pasutri tersebut.

Meski ada dua tempat makan lainnya, warung pasutri ini tetap laris. Begitu pula dengan dua warung lainnya, yang memiliki pelanggan sendiri-sendiri. Tak jarang, warung makan pasutri ini tampak ramai dengan orang-orang yang mengantri, padahal di dua warung lain terlihat longgar. Apa sebabnya? Menurut saya, selain soal rasa, faktor harga juga berpengaruh. Saat warung lain menjual gorengan seharga seribu rupiah per buah, pasutri ini masih menjual gorengan di harga lima ratus perak untuk semua jenis gorengan. Anda mungkin terkejut, karena di beberapa kota besar, seperti Jakarta, harga gorengan lebih dari seribu rupiah. Makanan berat dan kudapan di warung ini pun sangat murah. Bubur kacang hijau hanya dibanderol dua ribu lima ratus rupiah, dan nasi dengan sayur lodeh atau tahu hanya lima ribu rupiah. Hanya dengan sepuluh ribu rupiah, Anda bisa memenuhi perut dengan banyak makanan.

Beberapa kali saya bertanya pada pasutri ini, apakah mereka mendapatkan untung? Tahu apa jawabannya? “Jualan itu tidak melulu soal untung dan rugi.” Jawaban yang, menurut saya, agak sulit dilontarkan oleh seseorang dengan tingkat spiritual yang biasa saja. Sebab, tamak dan keserakahan adalah sesuatu yang cukup sulit ditaklukkan oleh manusia ketika berhadapan dengan kesenangan dan kekayaan.

Rasa ingin tahu saya terusik setiap kali sarapan di warung tersebut. Suatu pagi, saat warung sedang sepi, saya kembali bertanya, “Warung-warung lain tidak ada yang menjual gorengan seharga 500 rupiah, kenapa tidak menaikkan harga jual seperti yang lain?” Sekali lagi, jawaban mereka mengejutkan: “Dengan harga 500 rupiah saja sudah dapat untung. Untuk apa mengambil untung lebih?”

Mendengar jawaban itu, saya merenung agak lama, mengingat kembali bagaimana dunia ini bekerja. Hampir seluruh kehidupan modern saat ini berjalan dalam sistem kapitalisme—modal minimal dengan keuntungan maksimal. Terus berproduksi untuk mendapatkan untung yang berlipat ganda. Namun, pagi itu, dari sebuah gorengan di sebuah warung kecil di sebuah desa di Jawa, saya memahami satu hal: kapitalisme hanya bisa dilawan dengan rasa cukup.

Melihat Kapitalisme Bekerja

Sebagai sistem ekonomi, kapitalisme mempersilakan siapa saja untuk terlibat dan berkompetisi di pasar dengan tujuan utama memperoleh keuntungan. Oleh karena itu, terbentuklah apa yang disebut dengan pasar bebas—di mana harga ditentukan oleh permintaan dan ketersediaan barang. Semakin tinggi permintaan, maka semakin tinggi pula harganya. Sebaliknya, jika permintaan rendah, harga juga akan menurun. Tak heran, beberapa pelaku pasar yang culas menimbun komoditas pokok sehingga terjadi kelangkaan di pasar. Akal-akalan semacam ini digunakan sebagai strategi untuk menaikkan harga jual dan meraup keuntungan besar.

Pada wataknya yang bebas itulah, kapitalisme memakan manusia-manusia kecil yang tak memiliki kapital. Sebab, mereka tak pernah dihargai dengan pantas oleh pemilik modal, meski tenaganya habis diperas untuk terus-menerus berproduksi dan menghasilkan banyak laba. Tenaga mereka tak pernah dihitung sebagai kapital—yang memungkinkan mereka juga memiliki hak yang sama dengan para pemilik modal. Jika para pemilik modal bekerja dengan uang, kaum kelas pekerja bekerja dengan tenaga. Dua alat produksi ini—jika dipandang sebagai sesuatu yang setara—seharusnya menempatkan kelompok pekerja tidak dalam posisi rentan.

Watak lain dari kapitalisme adalah selalu mengakumulasi profit tanpa batas. Oleh karenanya, ia harus selalu mencari cara dan ruang baru yang relevan untuk investasi. Dalam lintasan sejarah, kapitalis terus terdorong untuk mereorganisasi ruang, mencari bahan baku murah, serta mengeksploitasi buruh murah (neo-kolonialisme dan imperialisme).

Melawan Kapitalisme dengan Rasa Cukup

Pada akhirnya, disadari atau tidak, kapitalisme mendorong manusia modern menjadi konsumtif, yang tak mengenal rasa cukup. Sebab, agar akumulasi kapital dapat berjalan terus-menerus dan mengalami pembesaran, kapitalisme memakai strategi untuk menghilangkan hambatan (boundless accumulation) melalui penyesuaian struktural, perjanjian-perjanjian yang bersifat legal-binding, dan lain sebagainya. Maka, jangan heran jika banyak hutan digunduli demi kepentingan industri, tanah dieksploitasi, dan pasir laut dikeruk tanpa ampun atas nama pembangunan kesejahteraan serta pemanfaatan kekayaan alam.

Dalam wajah paling sederhana, kapitalisme terlihat dalam gempuran iklan yang memberikan pesan bahwa hidup Anda belum sempurna jika tidak memiliki sesuatu yang diproduksi oleh kelompok kapitalis. Manusia diberi identitas melalui kemelekatan pada barang dan kepemilikan—yang dalam narasi mereka disebut sebagai prestise dan “harga diri”. Dengan demikian, masyarakat kelas pekerja—korban dari kapitalisme—pada akhirnya terjebak dalam perangkap yang dibuat oleh kapitalisme.

Saat menggigit gorengan di warung itu, saya berpikir: cara sederhana untuk melawan kapitalisme adalah melatih diri untuk memiliki rasa cukup. Sesuatu yang sangat sederhana, tetapi tidak semua orang bisa melakukannya. Perasaan cukup ini akan mengantarkan kita pada keseimbangan dan kehati-hatian.