Pos

Menjadi Pembelajar seperti Ibn Abbas

Ketika membahas seputar tafsir di era sahabat, salah satu nama yang tidak bisa dilepaskan adalah Abdullah ibn Abbas. Dalam sejarah, beliau dikenal dengan sebutan Tarjuman al-Quran. Pertanyaannya adalah, mengapa Ibn Abbas bisa mendapatkan predikat tersebut?

Imam Husain az-Zahabi dalam kitabnya, at-Tafsir wa al-Mufassirun, menerangkan alasan Ibn Abbas menjadi orang yang spesial dalam memahami Al-Quran.

Spiritualitas, Keberkahan Ilmu, dan Pentingnya Peran Keluarga

Pertama, Ibn Abbas adalah salah satu sahabat yang sudah dipersiapkan oleh Nabi sebagaimana tersirat dalam doa beliau kepada Ibn Abbas:

Ya Allah, fahamkanlah ia (Ibn Abbas) dalam urusan agama, dan ajarkan ia dalam perkara ta’wil.

Dalam konteks ini, pengetahuan dibangun bukan hanya berdasarkan pembelajaran secara terus-menerus, melainkan ada aspek spiritual. Seseorang bisa paham tentang satu ilmu, bukan hanya karena usahanya, tetapi yang terpenting, semua ilmu adalah karunia dari Tuhan.

Mengedepankan horizon ini, selayaknya seorang pembelajar tidak sombong dan jumawa dengan kepakarannya. Di fenomena terkini, kita kerap menyaksikan maraknya ijazah palsu, komersialisasi gelar akademik, hingga kasus plagiarisme demi mengejar status sosial semata. Padahal, ilmu yang benar bukan sebatas gelar formal, melainkan ilmu yang makin mendekatkan diri kita kepada Sang Pencipta dan membentuk kerendahan hati.

Kedua, Ibn Abbas tumbuh dan berkembang di rumah Nabi, menghabiskan waktu bersama Nabi hingga masa remajanya. Pendidikan yang paling utama adalah di rumah, terlebih di masa keemasan seorang anak (golden age). Ibn Abbas adalah contoh bagaimana generasi emas lahir dari pendidikan rumah.

Fenomena hari ini, kita sering kali memandang pendidikan selesai begitu saja ketika menyerahkan anak ke sekolah. Orang tua merasa tugasnya selesai setelah membayar uang sekolah. Padahal, pendidikan sekolah hanyalah salah satu sarana, bukan yang utama. Secanggih apa pun metode pendidikan di sekolah, jika sang anak tidak mendapatkan kasih sayang, perhatian, dan teladan karakter di rumah, akan sulit melahirkan generasi emas di masa mendatang.

Tantangan Era Digital: Kehilangan Figur Guru dan Keterasingan Sastra

Ketiga, Ibn Abbas juga banyak belajar dari sahabat-sahabat senior setelah Nabi wafat. Di sinilah keberlanjutan pendidikan seutuhnya. Setelah mendapatkan pendidikan yang memadai di rumah, seorang anak berlanjut mendapatkan pelajaran kehidupan di lingkungan sekitar.

Teladan Ibn Abbas belajar dari sahabat senior ini menekankan pentingnya menjaga ketersambungan sanad (silsilah) pengetahuan melalui guru. Saat ini, di tengah maraknya kecanggihan teknologi, platform media sosial, dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), peran sanad dan figur guru sering kali bergeser.

Kita tidak perlu keluar rumah untuk belajar, cukup menggulirkan layar di gawai pribadi atau bertanya pada mesin pencari. Ketiadaan instruksi guru secara langsung ini berisiko membuat mata rantai keilmuan terputus dan pemahaman menjadi dangkal.

Di samping itu, dalam Islam, seorang murid belajar tidak hanya mencari ilmu, tetapi juga berkah melalui adab dan etika berinteraksi dengan guru. Pendidikan akhlak inilah yang tidak didapatkan dari berguru pada media digital, sebab tidak ada pengalaman perjumpaan apalagi keteladanan kehidupan. Meski pada saat yang sama, PR pendidikan fisik kita juga masih bertumpuk, terutama fenomena kekerasan, perundungan (bullying), dan krisis keteladanan moral di lingkungan sekolah.

Keempat, Ibn Abbas adalah salah satu sahabat yang punya perhatian mendasar terhadap bahasa Arab, terutama sastra dan syair Arab. Selain persoalan lingkungan, pembelajaran bahasa juga hal yang penting. Bahasa adalah cerminan kehidupan manusia. Seorang yang beradab akan tercermin dari caranya berbahasa.

Ibn Abbas memberikan keteladanan untuk memperhatikan bahasa, terutama sastra dan syair Arab. Dalam sebuah riwayat, Ibn Abbas menuturkan:

Jika salah seorang dari kalian membaca sesuatu dari Al-Quran lalu tidak mengetahui tafsirnya, hendaknya ia mencarinya dalam syair, karena syair adalah perbendaharaan orang Arab.

Fenomena hari ini menunjukkan semakin merosotnya literasi dan daya imajinasi anak bangsa akibat konsumsi konten serba instan, seperti video pendek. Penting mengenalkan anak dengan sastra sejak dini. Sastra membentuk manusia menjadi pribadi yang peka, empati, serta mampu dan berani berimajinasi melalui diksi. Manusia yang miskin imajinasi tak akan mampu bermimpi.

Inilah yang bisa dilihat dari potret anak-anak SD Muhammadiyah Gantong di film Laskar Pelangi. Awalnya, mereka hidup sebagai generasi pesimis dan sulit bermimpi. Bagaimana bisa bermimpi tinggi kalau mereka tumbuh dalam lingkungan masyarakat miskin, di mana cita-cita mereka hanyalah lulus SD dan melanjutkan pekerjaan orang tuanya menjadi buruh pabrik atau nelayan.

Namun, pengajar di sekolah yang nyaris tutup itu mengajarkan mereka bagaimana cara untuk bermimpi—bahwa meski terlahir miskin, bukan berarti harus menyerah pada kemiskinan tersebut. Mereka bisa mengubah taraf hidupnya melalui pendidikan.

Kemerdekaan Berpikir dan Esensi Ijtihad

Puncaknya, pendidikan akan melahirkan manusia independen yang merdeka dalam berpikir. Inilah alasan kelima yang membuat posisi Ibn Abbas menjadi unggul dalam penafsiran Al-Quran. Dengan modal doa, lingkungan yang kondusif, dan penguasaan bahasa, Ibn Abbas mengoptimalkan akalnya untuk berijtihad. Inilah esensi tafsir bir ra’yi atau bil ijtihad yang selama ini banyak dicerca.

Di era informasi saat ini, kerap muncul fenomena klaim kebenaran sepihak dan penghakiman cepat terhadap perbedaan pendapat. Padahal yang dilarang adalah menafsirkan Al-Quran secara asal-asalan tanpa basis keilmuan yang matang dan hanya berlandaskan hawa nafsu. Sementara penafsiran yang berbasis keilmuan, logika yang sehat, serta metodologi yang sahih adalah tafsir bir ra’yi yang terpuji dan sangat dibutuhkan untuk menjawab tantangan zaman.

Salah satu bukti kecerdasan Ibn Abbas adalah ketika menafsirkan surat an-Nashr. Ketika banyak sahabat memahami ayat itu dengan suka cita janji kemenangan, Ibn Abbas justru bersedih. Sebab turunnya ayat itu menjadi bukti bahwa dakwah Nabi sebentar lagi usai, dan ketika itu terjadi, maka saatnya Nabi dipanggil ke hadapan Ilahi.

Apa yang dilakukan oleh Ibn Abbas adalah contoh memahami Al-Quran dengan akal dan hati tanpa menabrak makna tekstual. Suatu upaya yang tidak semua orang mampu melakukannya tanpa upaya yang panjang untuk menjadi pribadi pembelajar. Sayangnya, saat ini semakin jarang ditemukan sosok seperti Ibn Abbas, yang cinta pada ilmu dan sepanjang hayatnya mengabdikan diri pada pengetahuan.

Dalil Gus Ulil: Kisah kecil tentang Ibrahim ibn Thahman

Oleh Ulil Abshar Abdalla
.
Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh sahabat besar, Ibn ‘Abbas (w. 68 H), mengisahkan tentang Kanjeng Nabi yang memiliki kebiasaan meng-qashar salat saat dalam perjalanan. Hadis ini termuat dalam Sahih Bukhari, nomor 1056. Cara Imam Bukhari (w. 256 H) meriwayatkan hadis ini unik, tidak seperti biasanya. Ia menulis: “Dan Ibrahim ibn Thahman berkata…” (Wa qala; bukan “haddatsana” atau “akhbarana” seperti biasanya).
.
Ini adalah salah satu contoh dari “mu’allaqat al-Bukhari”, yakni hadis-hadis yang diriwayatkan secara “mu’allaq” oleh Imam Bukhari; yaitu, ada satu, dua atau lebih nama rawi yang tidak disebutkan di awal sanad secara berturut-turut.
.
Keterangan selingan: pada umumnya, hadis mu’allaq dianggap lemah dan karena itu harus ditolak (mardud). Ia tak memenuhi syarat penting dalam hadis yang sahih atau valid, yaitu “ittishal al-sanad”, yakni, sanad yang bersambung, tanpa putus, dari awal sampai akhir sanad, yaitu Kanjeng Nabi.
.
Tentu saja, status “ditolak” ini tidak berlaku untuk semua hadis mu’allaq. Jika hadis seperti ini dijumpai dalam Sahih Bukhari atau Sahih Muslim, statusnya tetap sahih atau valid. Jika sebuah hadis di-ta’liq oleh al-Bukhari, artinya ada sejumlah nama rawi yang tidak ia sebut di awal sanad, pastilah rawi-rawi itu adalah orang-orang yang bisa dipercaya, walau namanya tidak disebutkan secara eksplisit. Ini tentu saja karena nama besar Imam Bukhari sebagai “garansi” kesahihan hadis.
.
Saking banyaknya jumlah hadis mu’allaq dalam Sahih Bukhari (ada sekitar 1300an), seorang ulama hadis besar dari Kairo, Ibn Hajar al-‘Asqallani (w. 1449 M), menulis kitab penting: “Taghliq al-Ta’liq” (تغليق التعليق). Kitab ini bertujuan untuk membela kedudukan Sahih Bukhari sebagai kitab koleksi hadis yang tak diragukan otoritasnya. Melalui kitabnya itu, Ibn Hajar mencoba memastikan kesahihan hadis-hadis mu’allaq yang terdapat dalam Sahih Bukhari. Oleh Ibn Hajar, semua hadis mu’allaq dalam koleksi itu di-washal-kan, yakni, sanad-sanad yang “bolong” disambungkan lagi.
.
Kembali kepada hadis riwayat Ibn ‘Abbas tadi. Sebagaimana sudah saya tulis di atas, dalam rangkaian sanad hadis ini terdapat seorang rawi bernama Ibrahim ibn Thahman (w. 163 H), seorang rawi hadis asal Khurasan, provinsi tempat kelahiran Imam al-Ghazali. Provinsi ini berada di bagian timur Iran.
.
Sosok Ibrahim ibn Thahman ini, jika kita telaah dalam literatur thabaqat (biographical dictionaries), amatlah interesan. Ia adalah salah seorang ulama yang paling awal (abad ke-2 Hijriyah) menolak dengan keras pandangan sebuah sekte bernama Jahmiyyah. Inilah sekte yang menjadi pendahulu sekte terkenal bernama Mu’tazilah.
Salah satu ciri aqidah kelompok Jahmiyyah adalah: mereka cenderung menolak sifat-sifat Tuhan yang bernada antropomorfis (serupa manusia; misalnya, penggambaran di Qur’an tentang Tuhan yang memiliki tangan). Kelompok ini berpandangan, tidak mungkin Tuhan memiliki sifat-sifat yang serupa manusia. Jika ada sifat-sifat yang menyarankan “tasybih” atau serupa manusia di Qur’an, ia harus di-ta’wil, ditafsir begitu rupa sehingga kesan antropomorfistik-nya bisa dihindarkan.
.
Ibrahim ibn Thahman juga dianggap cenderung mengikuti pandangan sekte Murji’ah yang memiliki akidah penting: bahwa seorang beriman yang melakukan dosa besar, tidak otomatis menjadi kafir. Sekte Murji’ah paling anti pada tindakan “takfir”, mengkafir-kafir kan kelompok yang berbeda. Ini berbeda secara kontras dengan kelompok Khawarij yang salah satu hobinya adalah mengkafirkan golongan yang berbeda.
.
Informasi lain mengenai Ibrahim ibn Thahman kita jumpai dalam “Siyar A’lam al-Nubala'”, sebuah kitab penting dalam genre thabaqat karya Imam al-Dzahabi (w. 1348 M). Di sana disebutkan kisah kecil berikut ini. Suatu hari, Imam Ahmad ibn Hanbal (w. 241 H), imam besar pendiri mazhab Hanbali itu, sedang sakit dan rebahan di kursi (muttaki’an). Tiba-tiba salah seorang muridnya menyebut nama Ibrahim ibn Thahman.
.
Demi mendengar nama itu, Imam Ahmad mendadak “njenggirat”, bangkit dari rebahannya, dan duduk secara formal, seraya berkata: “Tak selayaknya jika nama seorang yang saleh disebut, engkau rebahan.”
Inilah cara umat Islam di masa lampau menghormati orang-orang yang memiliki ilmu. Mendengar nama seorang ulama disebut, mereka akan menaruh hormat setinggi-tingginya, antara lain dengan menampakkan bahasa tubuh yang menandakan penghormatan; bukan “celelekan”.
.
Sekian.

Lailatul Qadar

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur`an) pada malam kemuliaan (qadr). Dan tahukah kamu apa malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu para malaikat dan Ruh (Jibril) turun dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar,” [QS. al-Qadr: 1 – 5].

_______________

 

BULAN Ramadhan adalah bulan penuh berkah karena banyak pahala yang dibagi-bagikan secara mudah. Banyak momen penting yang terjadi di bulan ini. Di antaranya adalah malam Lailatul Qadar yang diyakini oleh seluruh umat Muslim kualitasnya lebih baik dari seribu bulan.

Sejak malam pertama Ramadhan, ribuan umat Muslim memadati masjid-masjid untuk melaksanakan ibadah qiyâm. Seperti biasa, jumlah mereka yang melaksanakan qiyâm al-layl meningkat hingga lima kali lipat. Di bulan-bulan lain, jumlah mereka tidak sebanyak itu. Hal ini lebih dimotivasi karena malam Ramadhan mempunyai banyak keistimewaan, terutama sekali Lailatul Qadar. Tak ayal, hati mereka tergerak untuk lebih tekun beribadah di malam hari selama bulan Ramadhan. Alangkah ruginya orang selama bulan suci ini tidak memaksimalkan dirinya untuk berpuasa dan beribadah. Di akhirat kelak ia akan menyesal melihat umat yang wajahnya bersinar cerah karena mendapatkan curahan berkah Lailatul Qadar. Ia akan meratapi dirinya sendiri seraya bertanya-tanya, kenapa ketika masih di dunia tidak tekun beribadah sebagaimana umat Muslim pada umumnya selama bulan Ramadhan? Ia ingin sekali mendapatkan berkah Lailatul Qadar, tetapi sayang waktu telah membawanya ke akhirat, tanda bahwa segalanya sudah terlambat. Berkah Lailatul Qadar hanya akan diberikan kepada mereka yang selama bulan Ramadhan rajin berdzikir melaksanakan shalat malam guna mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Sebagaimana dijelaskan dalam kitab “Murâh Labîd li Kasyf Ma’nâ Qur`ân Majîd” karya Imam Nawawi al-Jawi, bahwa Lailatul Qadar adalah malam yang di dalamnya Allah Swt. menurunkan al-Qur`an dari lawh al-mahfûzh berdasar tulisan para malaikat langit dunia ke bayt al-‘izzah. Makna “al-qadr” sendiri sebetulnya adalah “al-taqdîr” (penentuan). Artinya, ia dinamakan Lailatul Qadar karena di dalamnya Allah menentukan segala urusan hingga tahun mendatang, seperti kematian, ajal, rizki, dll. untuk kemudian memasrahkannya kepada empat malaikat pengatur (mudabbirât al-umur), yaitu Israfil, Mika`il, Izra`il, dan Jibril as.

Kendatipun para ulama sepakat bahwa Lailatul Qadar hanya ada di bulan Ramadhan, hanya saja mereka berbeda pendapat mengenai penentuan kapan malam mulia itu berlangsung. Mayoritas dari mereka mengatakan bahwa malam Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-27 Ramadhan. Hal ini didasarkan pada pernyataan Ibn Abbas, “Bilangan yang paling disukai Allah adalah bilangan ganjil (al-witr), dan bilangan ganjil yang paling disukai-Nya adalah angka tujuh.” Kemudian Ibn Abbas menyebutkan tujuh lapisan langit, tujuh lapisan bumi, tujuh hari dalam seminggu, tujuh tingkatan neraka, jumlah tawaf, jumlah sa’i, dan tujuh anggota badan. Semua bilangan ini, menurutnya, menunjukkan bahwa Lailatul Qadar berlangsung pada malam ke-27 Ramadhan.

Tidak hanya itu, lagi-lagi menurut Ibn Abbas, bahwa Lailatul Qadar—dalam bahasa Arabnya—terdiri dari sembilan huruf, dan disebutkan dalam surat al-Qadr sebanyak tiga kali. Sehingga kalau dijumlah menjadi 27.

Riwayat lain menyebutkan, bahwa Utsman ibn Abi al-Ash mempunyai seorang budak. Budak itu berkata kepadanya, “Tuan, air laut akan menjadi tawar pada suatu malam dari bulan ini (Ramadhan).” Utsman ibn Abi al-Ash berkata kepadanya, “Kalau malam yang kau maksud itu tiba, segera beri tahu aku.” Dan ternyata itu adalah malam ke-27.

Tentu saja, sebagai malam yang amat sangat diistimewakan, Lailatul Qadar mempunyai banyak keutamaan. Secara garis besar, seperti disebutkan dalam surat al-Qadr yang penulis kutip di atas, ada tiga keutamaan Lailatul Qadar, yaitu: pertama, Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan, yaitu 83 tahun 4 bulan. Artinya, ibadah yang dilakukan di malam itu lebih baik daripada ibadah yang dilakukan selama seribu tahun yang di dalamnya tidak ada Lailatul Qadar. Diceritakan oleh Imam Mujahid bahwa seorang laki-laki dari Bani Israel rajin bangun malam melakukan shalat hingga pagi. Setelah itu ia bekerja hingga sore hari. Hal itu ia lakukan selama seribu bulan sampai ia meninggal. Rasulullah Saw. sendiri merasa takjub mendengar ceritanya. Hingga kemudian Allah menggariskan untuk umat Nabi Muhammad Saw. satu malam di bulan Ramadhan yang nilainya lebih baik dari seribu bulan orang Israel itu. Dalam artian, siapapun dari umat beliau yang berhasil meraih malam mulia tersebut, maka keberkahan dan pahala yang didapatnya lebih baik dari keberkahan dan pahala yang didapat oleh orang Israel tersebut.

Kita tahu bahwa ketaatan yang dilakukan selama seribu bulan lebih berat ketimbang ketaatan yang dikerjakan satu malam. Akan tetapi, satu pekerjaan terkadang berbeda kondisinya terkait kebaikan dan keburukannya dikarenakan perbedaan tujuan. Misalnya shalat berjama’ah yang dalam agama dianggap le.bih utama daripada shalat yang dikerjakan sendirian. Padahal shalat berjama’ah terkadang terlihat ‘kurang sempurna’ ketika seseorang datang terlambat dan menjadi masbûq sehingga ia ketinggalan satu rakaat.

Contoh lain, misalnya, kalau kita mengatakan kepada seseorang yang dirajam karena perbuatan zina, “orang ini adalah pezina,” maka ini tidak menjadi persoalan alias tidak apa-apa. Tetapi kalau itu kita katakan kepada orang Nasrani, maka itu adalah fitnah yang wajib dikenakan ta’zîr (hukuman). Demikian juga, kalau kita mengatakannya kepada orang yang sudah beristri, jelas itu merupakan fitnah keji sehingga wajib dikenakan hadd (hukuman). Dan kalau itu kita katakan bagi A’isyah—yang dalam sejarah Islam awal disebutkan pernah diantar pulang oleh Abu Sufyan—, maka itu merupakan sebentuk kekafiran, mengingat A’isyah adalah salah satu dari ummahât al-mu`minîn yang harus dihormati. Dengan demikian, dalam hal ini, kata-kata “orang ini adalah pezina” yang oleh sebagian orang dianggap ‘ringan’ pada hakikatnya lebih berat daripada gunung. Di sini menjadi jelas, bahwa setiap pekerjaan mempunyai pengaruh yang berbeda-beda terkait pahala dan hukumannya tersebab perbedaan tujuan masing-masing. Sehingga tidak mustahil ketaatan yang sedikit menjadi sama pahalanya dengan ketaatan yang banyak.

Kedua, keutamaan lain Lailatul Qadar adalah bahwa pada malam itu para malaikat—mereka adalah para penghuni Sidratul Muntaha—turun ke bumi bersama Jibril as. yang membawa empat panji. Panji pertama ia letakkan di atas kuburan Nabi Saw., panji kedua di atas Baitul Muqaddas, panji ketiga di atas Masjidil Haram, dan panji terakhir di atas bukit Sinai. Dan di malam itu juga, tidak ada satu rumah pun yang di dalamnya terdapat laki-laki atau perempuan beriman kecuali Jibril as. akan memasukinya sembari mengucapkan salam, “Wahai laki-laki atau perempuan yang beriman, Yang Mahadamai menyampaikan salam kepadamu, kecuali kepada para pencandu khamr, pemutus tali silaturrahmi, dan pemakan daging babi.”

Turunnya mereka ke bumi terkait dengan urusan yang telah ditetapkan oleh Allah Swt. untuk tahun itu dan tahun mendatang. Masing-masing turun untuk urusan yang berbeda. Nabi saw. mensinyalir bahwa Allah memutuskan ketetapan-ketetapan di malam al-Bara`ah, yaitu malam nisfu Sya’ban. Kemudian pada malam Lailatul Qadar Dia memasrahkannya kepada para malaikat pengatur (mudabbirât al-umur) untuk disematkan kepada setiap manusia. Para malaikat itu melihat bermacam-macam ketaatan di bumi yang tidak pernah mereka lihat di alam langit.

Ketiga, termasuk keutamaan Lailatul Qadar adalah bahwa malam itu terbebas dari hembusan angin (riyâh), menyebarnya penyakit (adzâ), hentakan petir (shawâ’iq), dan ancaman setiap marabahaya (ãfah) seperti dikatakan oleh Abu Muslim dan Ibn Abbas. Satu riwayat mengatakan bahwa malam itu terbebas sama sekali dari segala sesuatu yang menakutkan (amr mukhawwif) dan segala kejahatan (syurûr). Sebagaimana riwayat lain juga mengatakan bahwa malam itu terbebas dari perbedaan/ketidaksamaan (tafâwut) dan kekurangan/cacat (nuqshân). Kedamaian, ketenangan, dan keseimbangan benar-benar menjadi penghias bagi malam mulia nan agung itu. Para malaikat turun dengan berbondong-bondong ke muka bumi dari permulaan malam sampai terbitnya fajar. Mereka mengucapkan salam kepada para ahli puasa dan ahli shalat dari umat Nabi Muhammad Saw. Pendek kata, mereka mengucapkan salam kepada setiap hamba yang benar-benar taat terhadap Allah Swt.

Atas dasar itu, jelaslah bahwa Lailatul Qadar tidak sama dengan malam-malam yang lain. Makanya, di malam itu, setiap muslim dianjurkan untuk mengerjakan ibadah fardhu di sepertiga pertama, ibadah sunnah di pertengahan, dan doa di waktu menjelang terbitnya fajar. Orang yang terjaga di malam itu dengan melakukan shalat wajib dan sunnah serta bermunajat secara khusyuk kepada Allah Swt. berdasar keimanannya yang teguh dan semata-mata hanya mengharapkan ridha dari-Nya, maka dosa-dosanya akan diampuni, kesalahan-kesalahannya dihapus, kekeliruan-kekeliruannya dimaafkan, dan doa-doanya dikabulkan. Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa yang terjaga [melakukan shalat] pada malam al-Qadar dengan keimanan dan hanya mengharap balasan dari Allah semata, maka diampuni segala dosanya,” [HR. al-Bukhari].

Sebenarnya, ada keutamaan lain dari Lailatul Qadar, dan ini adalah keutamaannya yang keempat, atau bahkan bisa jadi yang pertama. Keutamaan yang penulis maksud adalah bahwa pada malam itu—seperti telah disinggung di atas—Allah Swt. menurunkan al-Qur`an dari lawh al-mahfûzh berdasar tulisan para malaikat langit dunia ke bayt al-‘izzah. Dan kita tahu bahwa al-Qur`an merupakan petunjuk bagi manusia sekaligus pembeda antara yang hak dan yang batil. Di samping itu, kita juga tahu, selaras dengan namanya, Lailatul Qadar adalah malam penentuan atau “al-taqdîr”. Hal ini menyiratkan makna, bahwa pada malam itu, selain menentukan urusan kematian, ajal, rizki, dll., Allah Swt. juga menentukan siapa saja dari hamba-hamba-Nya yang termasuk golongan al-‘Â`idîn wa al-Fâ`izîn (orang-orang yang kembali suci karena keberhasilan mereka meraih kemenangan setelah berjuang melawan gempuran hawa nafsu selama bulan Ramadhan), yaitu mereka yang senantiasa berjuang menegakkan kebenaran dan memerangi segala bentuk kebatilan dengan berpedoman kepada al-Qur`an sebagai petunjuk. Merekalah yang berhak mendapatkan limpahan kasih-sayang (rahmah) dari Allah. Merekalah yang berhak mendapat curahan ampunan (maghfirah) dari-Nya. Dan karena itu, merekalah yang dipastikan terbebas dari siksaan api neraka (‘itq min al-nâr). Maka, tiada balasan yang paling layak bagi mereka kecuali surga Firdaus kelak di kemudian hari.

Sebagai bentuk penghormatan kepada hamba-hamba pilihan-Nya itu, Allah memerintahkan para malaikat untuk turun ke bumi guna menyampaikan salam dari-Nya kepada mereka. Damailah mereka dengan kasih-sayang-Nya. Tenanglah mereka dengan ampunan dari-Nya. Gembiralah mereka dengan keterbebasan dari ancaman siksa neraka sebagai jaminan dari-Nya. Dan tersenyumlah mereka dengan kedudukan mereka yang tinggi dan mulia di sisi-Nya; surga dan segala kenikmatannya telah disediakan untuk mereka.[]