Pos

Titik Temu Tradisi Nyepi dan Idulfitri

Dalam perjalanan dari Sorowako ke Palopo, diriku tersentak melihat di pinggir jalan banyak orang yang menggunakan pakaian putih lengkap dengan udeng penutup kepalanya. Sekilas aku berpikir, apakah aku sedang di Bali? Ini tanah Sulawesi yang sebagian besar masyarakatnya beragama Islam dan Kristiani. Barulah dengan bantuan google, aku tahu bahwa ada komunitas Hindu di sini. Terutama Luwu Utara dan Timur, termasuk daerah yang ku lewati beberapa hari lalu.

Inilah potret Indonesia yang beragam. Dalam satu daerah, kita bisa menemukan aneka etnis dan budaya yang hidup dalam satu rumpun. Dan itu sudah diwariskan sejak zaman nenek moyang.

Melihat umat Hindu di tanah Luwu mengantarkanku pada memori perjumpaan yang sebentar lagi akan diperingati. Dalam waktu yang hampir berdekatan, dua tradisi keagamaan besar dirayakan oleh masyarakat yang berbeda, yaitu Nyepi bagi umat Hindu dan Idulfitri bagi umat Islam. Sekilas keduanya tampak sangat berbeda. Nyepi identik dengan keheningan, pengekangan diri, dan penghentian berbagai aktivitas duniawi. Sementara Idulfitri biasanya diwarnai suasana kebersamaan, silaturahmi, dan kegembiraan.

Karena tampak kontras, belum lama ini publik sempat dihebohkan oleh sebuah video yang beredar luas di media sosial. Dalam video tersebut, seorang tokoh bernama Hercules berbicara dengan nada tegas bahkan terlihat melotot ketika menyampaikan pendapatnya tentang pelaksanaan takbiran di jalan. Ia menilai takbiran berpotensi mengganggu kekhusyukan umat Hindu yang sedang menjalankan rangkaian ibadah Nyepi. Di akhir pernyataannya, ia melontarkan pertanyaan yang memancing perdebatan, “Nyepi apa takbiran, kau berpihak ke mana?”

Pertanyaan seperti ini sebenarnya lahir dari cara pandang yang memosisikan dua tradisi tersebut seolah-olah saling berhadapan. Padahal jika direnungkan lebih dalam, keduanya justru bertemu pada satu titik yang sama, yaitu upaya manusia untuk kembali kepada keseimbangan hidup.

Nyepi mengajarkan manusia untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan. Selama satu hari penuh berbagai aktivitas dihentikan. Tidak bepergian, tidak menyalakan api, tidak bekerja, bahkan tidak membuat kebisingan. Dunia seakan diajak untuk diam sejenak. Dalam keheningan itu manusia diberi ruang untuk merenung tentang hidup, tentang kesalahan yang pernah dilakukan, dan tentang bagaimana memperbaiki diri.

Dalam psikologi, keadaan semacam ini sering disebut sebagai silent moment, yaitu momen ketika seseorang memberi ruang bagi dirinya untuk berhenti dari kebisingan luar dan kembali mendengarkan suara batinnya. Psikolog melihat bahwa keheningan semacam ini penting bagi kesehatan mental, karena manusia modern terlalu sering hidup dalam kebisingan, tekanan, dan arus informasi yang tidak pernah berhenti. Tanpa momen sunyi, seseorang mudah kehilangan arah, bahkan kehilangan dirinya sendiri.

Di sisi lain, Ramadan yang berujung pada Idulfitri juga merupakan proses panjang pengendalian diri. Selama sebulan penuh umat Islam dilatih menahan lapar, menahan amarah, serta menahan berbagai dorongan hawa nafsu. Puasa bukan sekadar menahan makan dan minum, tetapi latihan spiritual agar manusia tidak selalu dikendalikan oleh keinginannya sendiri.

Jika Nyepi memberi ruang sunyi selama satu hari, maka Ramadan memberi ruang refleksi selama satu bulan penuh. Keduanya mengajarkan bahwa manusia perlu berhenti sejenak untuk menemukan kembali dirinya.

Dalam kehidupan modern yang serba cepat, manusia sering terjebak dalam ritme kerja, konsumsi, dan ambisi yang seolah tidak pernah selesai. Kita terus bergerak, terus mengejar sesuatu, tetapi jarang berhenti untuk bertanya ke mana sebenarnya arah perjalanan hidup ini. Di sinilah pentingnya momen hening. Ia menjadi ruang bagi manusia untuk menata ulang pikirannya, menenangkan batinnya, dan memulihkan keseimbangan hidup.

Menariknya, kedua tradisi ini juga membawa pesan tentang hubungan manusia dengan alam. Saat Nyepi berlangsung, Bali seakan diberi kesempatan untuk bernapas. Lampu-lampu padam, kendaraan berhenti, dan aktivitas manusia berkurang drastis. Alam menikmati jeda dari tekanan kehidupan modern.

Pesan yang hampir serupa juga terdapat dalam ajaran Islam. Puasa melatih manusia untuk tidak hidup berlebihan, tidak rakus, dan tidak konsumtif. Al-Qur’an mengingatkan bahwa manusia boleh makan dan minum, tetapi tidak boleh berlebihan. Dalam arti tertentu, pengendalian diri manusia juga berarti memberi ruang bagi alam untuk tetap terjaga.

Karena itu, baik Nyepi maupun Idulfitri sebenarnya menyimpan pesan yang sangat universal. Keduanya mengajak manusia untuk kembali kepada kesadaran yang lebih dalam bahwa hidup bukan hanya soal memenuhi kepentingan diri sendiri, tetapi juga menjaga harmoni dengan Tuhan, dengan sesama manusia, dan dengan alam.

Di balik keheningan Nyepi dan kegembiraan Idulfitri, terdapat pesan yang sama. Manusia membutuhkan jeda, membutuhkan momen sunyi, agar dapat kembali menjadi dirinya yang lebih utuh. Dalam dunia yang semakin bising, mungkin justru keheninganlah yang paling kita butuhkan. Sayangnya, itu juga mode yang paling sering kita abaikan.

Selamat Hari Raya Nyepi, Rahajeng Rahina Nyepi.
Selamat Idulfitri, Taqabbalallahu minna wa minkum, minal ‘a`idin wal fa`izin.

Kurban Anak Perempuan

Dan apabila bayi-bayi perempuan

yang dikubur hidup-hidup ditanya,

karena dosa apa dia dibunuh?

(QS. at-Takwir, 81: 8-9)

 

Seandainya Nabi Ibrahim as. hanya punya anak perempuan untuk dikurbankan, seandainya Ismail (atau Ishak menurut Alkitab) adalah seorang anak perempuan, apakah peristiwa pengurbanan itu akan sebegitu menggetarkan umat manusia? Untuk menjawab pertanyaan menggugat ini, kita perlu menengok kembali salah satu ayat Al-Quran dengan perspektif antropolog modern.

Pada zaman Nabi Muhammad (571-634 M), yang tentu saja sangat jauh terpaut dengan masa Ibrahim (hidup sekitar 2166 SM), nilai seorang anak lelaki sangat-sangat lebih tinggi daripada anak perempuan. Contoh terbaik adalah usaha pengorbanan Abdullah (ayah Nabi Muhammad sendiri). Abdul Muththalib, ayah Abdullah dan sekaligus kakek tercinta dan pelindung Nabi Muhammad berusaha untuk mengurbankan anak lelaki pertamanya itu. Usaha pengurbanan ini tergagalkan karena ditebus dengan 100 unta—saat ini, harga satu unta untuk diperah susunya berkisar 60 juta ke atas.

Bandingkan nilai 100 unta itu dengan nilai anak perempuan. Sebuah riwayat historis menyebutkan bahwa Sha‘sha‘ah Ibn Nâjiah, kakek penyair terkenal al-Farazdaq, pernah memberikan tebusan dua ekor unta hamil sepuluh bulan pada setiap orang tua yang bermaksud menanam hidup-hidup anak perempuannya. Yang perlu dicatat: Sha‘sha‘ah Ibn Nâjiah konon sempat menebus sekitar 300 atau dalam riwayat lain 400 anak perempuan yang hendak dikubur hidup-hidup oleh orang tuanya (Quraish Shihab, 2010: 684).

Angkanya sungguh fantastis! Kita tak tahu pasti berapa jumlah anak perempuan yang telah dikubur-kurbankan, tapi sudah hampir pasti bahwa jumlahnya jauh lebih banyak daripada anak lelaki. Hampir pasti tidak banyak orang maha kaya raya yang begitu maha dermawan! Apalagi, peristiwa pengorbanan anak perempuan biasanya jadi ‘rahasia umum’ yang terlarang dikisahkan.

Dengan kata lain, nilai anak lelaki sangat jauh lebih tinggi. Bahkan, karena dilandasi oleh perintah Tuhan, pengorbanan anak lelaki jadi sangat sakral ilahiah. Sedangkan pengorbanan anak perempuan bisa dikatakan tidak cukup bernilai, bahkan sekadar bernilai ‘melegakan’, hanya melepaskan beban. Kita ingat apa yang dicatat Al-Quran: “Apabila salah seorang di antara mereka [kafir Arabia] diberi kabar tentang kelahiran anak perempuan, hitam (merah padamlah) mukanya dan dia sangat marah” (QS. an-Nahl [16]: 58). Anak perempuan adalah beban sosial yang sangat tidak dikehendaki, setidaknya itulah yang terjadi pada masa Nabi Muhammad saw.

Apa jadi seandainya Ibrahim hanya punya anak perempuan untuk dikurbankan, seandainya Ismail (atau Ishak) adalah anak perempuan. Justru, pertanyaannya bukan lagi kenapa lelaki, tapi kenapa jauh lebih banyak anak perempuan yang dikurbankan dalam suatu masyarakat.

Harus diakui, sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran, bahwa orang-orang Semenanjung Arabia yang mengorbankan anak perempuannya merasa mengikuti agama Ibrahim. Kata Quraish Shihab (2010: 684) dalam Tafsîr Al-Mishbâh: “Mengaburkan agama mereka, yakni mengaburkan pemahaman agama yang mereka akui sebagai agama mereka, yaitu agama Nabi Ibrâhîm as. Kita ketahui bahwa Nabi Ibrâhîm as. diperintahkan Allah untuk menyembelih anak beliau. Mereka bermaksud mengikuti hal tersebut, tetapi mereka tidak sadar bahwa apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrâhîm as. adalah atas perintah Allah Swt. dan justru untuk membatalkan tradisi yang menyebar dalam masyarakat umat manusia.”

Al-Quran juga mengecam dalih ekonomi atas pembunuhan anak perempuan. Dengan tegas Allah berkata: “Kami yang akan memberi rezeki untuk kamu (hai para orangtua) dan memberi juga mereka (anak-anakmu) rezeki” (QS. al-An‘âm [6]: 151). Pada QS. Al-Isra’, Allah mengingatkan juga: “Kami yang akan memberi mereka (anak-anak itu) rezeki, dan memberikan pula untukmu” (QS. al-Isrâ’ [17]: 31).

Dua alasan itu sangat mungkin hanya akal-akalan saja. Alasan mengikuti Ibrahim jelas terlalu kebablasan. Ismail tidak sampai mati disembelih. Begitu juga alasan ekonomi atau pangan. Karena, seperti yang banyak sekali dijabarkan dalam kajian antropolog modern, perempuan adalah penghasil atau pekerja utama kebutuhan pangan sejak dari proses penanaman sampai proses memasak dalam masyarakat tradisional bahkan sampai sekarang.

Namun, alasan yang berbeda diajukan oleh antropolog modern: perang. Dalam sejarah umat manusia sampai detik ini, tak pernah ada imajinasi utopis muluk surgawi bahwa tentara bisa diwakilkan sepenuhnya pada kaum perempuan. Tak pernah ada tuturan sejarah yang membuktikan itu. Perang adalah wilayah khusus lelaki. Inilah yang menjadi perendahan dan pengorbanan anak-anak perempuan.

“Secara teoretis, perempuan mampu melawan bahkan menundukkan laki-laki yang mereka asuh dan besarkan sendiri, tetapi laki-laki yang diasuh di desa atau suku lain menghadirkan tantangan yang berbeda. Segera setelah laki-laki entah atas alasan apa mulai menanggung beban konflik antarkelompok, perempuan tidak punya pilihan selain mengasuh sejumlah besar laki-laki kuat di antara kaum mereka sendiri… [] Semakin garang kaum lelaki, semakin banyak jumlah perang, semakin banyak pula laki-laki seperti itu dibutuhkan,” demikian kata antropolog Marvin Harris (2019: 78-79).

Akibat dan ujung teori umpan balik (atau teori amplifikasi deviasi) ini sangat menyedihkan: perempuan berada dalam tekanan seksual kaum lelaki agresif, yang menghasilkan sistem keluarga poligini: satu lelaki memiliki atau menikahi banyak perempuan, yang mengakibatkan kelangkaan dan perebutan perempuan, lalu perempuan diagungkan untuk membesarkan lebih banyak (bahkan sangat lebih banyak) kaum lelaki agresif seraya mengabaikan dan bahkan mengurbankan anak-anak perempuan.

Kita ingat bahwa pada masa Nabi Muhammad saw, poligini adalah kasus umum semua lelaki penguasa. Kita juga ingat bahwa Nabi Muhammad saw diejek dengan sengit karena semua anak-anak lelakinya meninggal saat masih belia. Dengan kata lain, pengurbanan anak lelaki adalah sesuatu yang sakral nan mahal, sedangkan pengorbanan anak perempuan adalah kebiasaan profan duniawi.

Teori amplifikasi deviasi itu cukup aplikatif pada masyarakat suku-suku Arab saat Nabi Muhammad diutus jadi rasul. Nabi Muhammad hidup saat perang antarsuku adalah sesuatu yang hampir terjadi tiap tahun. Sejarawan mencatat bahwa selama 10 tahun memimpin Kota Madinah, Nabi Muhammad mendapati sebanyak 64 kali peperangan baik yang berupa perang besar, kecil, atau ekspedisi militer ke wilayah musuh potensial. Sejumlah 26 peperangan dipimpin langsung Nabi Muhammad, meski ulama sejarawan berbeda-beda pendapat perihal pasti jumlahnya.

Dari sejarah kita memahami apa yang kemudian diperbaharui atau bahkan direvolusi oleh Islam. Yang pertama adalah menghancurkan sistem politeisme yang dianut para pemimpin suku-suku Arab dan menggantikannya dengan tauhid dan takwa sebagai puncak kemuliaan. Kedua, pada tataran praktis-sosial, larangan poligini bagi lelaki dengan maksimal hanya empat istri. Ketiga, yang tak kalah penting, perempuan punya kuasa hak milik atas harta benda dan istri bisa mewarisi harta suami. Perempuan punya kuasa ekonomi (Marshall Hodgson, 2002: 261).

Efek tiga pembaharuan itu mengubah struktur akut sistem suku di Arabia bahkan di dunia yang sekaligus pelan-pelan menghancurkan sistem penguburan atau pembunuhan anak-anak perempuan. Perubahan akbar ini mengangkat perempuan pada martabat tertinggi secara sosial dan religius yang tak pernah ada dalam sejarah umat manusia. Bahkan, Nabi Ibrahim yang sangat radikal ilahiah tak pernah berhasil melakukannya.

Namun, bahkan sampai detik ini, anak perempuan masih terus dikurbankan baik secara harfiah (dibunuh), atau dikebiri secara simbolik (sosial budaya), atau dihambat secara ekonomi-politik. Buktinya tersebar di seluruh masyarakat dunia. Tentu harus diakui bahwa pada zaman kita nasib anak perempuan sangat jauh lebih baik daripada zaman Nabi Muhammad saw.