Fasisme Baru: RASIALISME dan POPULISME

Oleh Manuel Kaisiepo

Ketika PBB menetapkan hari ini 52 tahun lalu (21 Maret 1966) sebagai Hari Penghapusan Diskriminasi Rasial Sedunia, pasti tak terbayang dalam benak mereka bakal muncul tokoh-tokoh macam Trump, Le Pen, Wilder, Salvani, atau yang terbaru, Seehofer.

Hari Penghapusan Diskriminasi Rasial Internasional 21 Maret mengacu pada peristiwa kerusuhan rasial di Sharpeville, Afrika Selatan, 21 Maret 1960, yang mengakibatkan 69 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka.

Sudah lebih setengah abad momentum itu berlalu. Tapi praktik diskriminasi rasial masih terus berlanjut di berbagai pelosok dunia, dari yang terselubung hingga terang-terangan; dari skala kecil hingga skala “terstruktur, sistematis, dan massif”, seperti istilah Mahkamah Konstitusi (MK).

Berlangsung bukan saja di negara-negara “Dunia Ketiga” (ini sebenarnya istilah usang pasca Perang Dunia 2), tapi juga di Eropa, jantung peradaban modern yang “civilized”; juga berlangsung di Amerika, negara kampiun demokrasi dan pembela HAM.

Sebenarnya tanda-tanda kebangkitan kembali rasialisme, khususnya di Amerika, sudah bisa dilacak sejak terbitnya buku Samuel Huntington, WHO ARE WE ?: The Challenges to America”s National Identity (2004). Buku Huntington itu seakan menjadi pembenar bagi tindakan dan ucapan-ucapan Trump sejak berkuasa.

Praktik rasialisme kini malah semakin subur ketika dia menyatu ke dalam fenomena populisme kanan yang tengah menguat di Amerika era Trump, dan terutama di beberapa negara Eropa saat ini.
Ada Le Pen (Prancis), Geert Wilder (Belanda), Matteo Salvini (Italia), atau yang terbaru, Host Seehofer (Jerman).
Sebagian besar pemimpin penganut populisme kanan Eropa inilah yang berkumpul di Koblenz, Jerman pada Januari 2017. Di sana mereka mengukuhkan populisme yang rasialis itu. Maka Pertemuan Koblenz dinilai sebagai upaya mewujudkan “Fasisme Baru” !

Makna populisme yang dipahami sejak lama, kini sudah berubah dengan pengertian yang lain. Dia tidak lagi didambakan, malah berbalik menjadi monster yang menakutkan.
Lebih-lebih ketika populisme berlabel “kanan” itu kemudian menghadirkan fenomena lainnya: “politik identitas”, yang muncul juga di Indonesia beberapa waktu terakhir.
(Namun dengan catatan fenomena politik identitas di sini tidak semata antara Islam-nonIslam, tapi lebih pada hasil pertarungan oligarki ekonomi-politik).

3-G
Memang faktor banjir imigran besar-besaran ke Eropa dan Amerika menjadi salah satu pemicu. Tapi bukankah ini fenomena sejarah yang berulang?
Dulu semboyan “three G” atau “3 G” (God, Gold, and Glory) memicu bangsa2 kulit putih Eropa menjarah benua Amerika, Afrika, dan Asia, melahirkan imperialisme dan kolonialisme.

Sejarah berulang, tapi kebalikannya!

Kini giliran gelombang migran warga bekas koloni kulit putih dari Afrika dan Asia, terutama Timur Tengah berbondong-bondongmenyerbu Amerika dan daratan Eropa. Dan kini orang mulai bicara tentang fenomena “Afrikanisasi” atau “Asianisasi Eropa”, seperti halnya “Hispaniksasi Amerika “.

Maka untuk membendung fenomena sejarah yang berulang ini, di Eropa muncul orang macam Le Pen atau Wilder yang antimigran, anti Islam, anti kulit berwarna.
Populisme kanan berbalut rasialisme itu tengah memunculkan fasisme baru !

Lalu di Amerika, Trump yang paranoid, membayangkan diri macam para Kaisar China, ingin membangun tembok besar, The Trump Wall, untuk membendung arus masuk migran dari Selatan.

Trump tentu tidak lupa, dia juga adalah anak keturunan migran Jerman-Irlandia, yang para leluhurnya di masa lalu menyerbu dan menguasai benua Amerika sambil memusnahkan penduduk aslinya.
Jadi siapa sesungguhnya yang migran?!

Maka setelah membaca buku Samuel Huntington, #WHO_ARE_WE ?, perlu (dan harus) dibaca juga buku Gregory Feldman, #WE_ARE_ALL_MIGRANTS !

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.