Diskusi Kitab Jihadi Seri I

KAMIS, 4 Februari 2016, Rumah KitaB menyelenggarakan diskusi jihadi perdana dengan tema “Menelusuri Genealogi Ideologi Jihadis”, bertempat di Aula Yayasan Indonesia untuk Kemanusiaan, Cikini, Jakarta. Dalam acara ini dihadirkan dua pembicara, yaitu Ulil Abshar Abdalla dan Jamaluddin Muhammad. Ibu Lies Marcoes, Direktur Rumah KitaB, dalam pengantarnya menjelaskan bahwa diskusi yang diselenggarakan Rumah KitaB ini adalah studi kitab-kitab yang menjadi rujukan kelompok jihadi dalam melancarkan aksi-aksi mereka. Hal ini perlu dilakukan guna mengetahui lebih jauh apa yang sesungguhnya tertanam di otak mereka dan bagaimana cara kerja teks (pemahaman tentang Jihad) menguasai kesadaran kelompok jihadis.

Staf Humas Rumah KitaB, Fadilla Dwianti Putri, diminta untuk menyampaikan presentasi mengenai tingginya minat masyarakat untuk mengikuti perkembangan soal isu radikalis jihadi sejak tragedi bom Sarinah. Ia mengungkapkan, Website Rumah KitaB, sejak dilaunching pada tahun 2015 lalu hingga kini, telah dibaca sebanyak 17.000 kali. Pada tahun 2016 terjadi peningkatan, tertinggi di bulan Januari 2016, kurang lebih 300 views per hari. Tulisan-tulisan yang terkait dengan isu radikal jihadi kerap dibaca, misalnya tulisan bertajuk “Bunuh Diri Absurd” yang telah dibaca sebanyak 320 kali hanya dalam waktu sehari.

Jamaluddin Muhammad—disapa akrab Gus Jamal—, pembicara dalam diskusi ini, berbicara mengenai Ahmad Muhazan (25), salah satu bombers Sarinah yang meledakkan diri di Starbucks (14/01). Setelah melakukan penelitian beberapa hari di desa Kedungwungu, tempat tinggal Ahmad Muhazan, Gus Jamal menceritakan bahwa Ahmad Muhazan lahir pada 5 Juli 1990 di Kedungwungu, Inderamayu. Ia adalah anak ke 4 dari 5 bersaudara. Ibunya adalah seorang aktivis pengajian ibu-ibu. Untuk menghidupi keluarganya ia membuka warung kecil di rumahnya, setelah dua tahun suaminya terbaring tak berdaya melawan stroke dan penyakit komplikasi.

Azan, begitu ia biasa dipanggil, menyelesaikan sekolah dasar (MI) di desanya, Kedungwungu, kemudian melanjutkan di MTs selama tiga tahun. Pada 2006 Azan melanjutkan pendidikannya di sebuah pesantren di Kampung Bungur, Sukahaji, Ciasem, Subang. Di pesantren ini ia menikah dengan seorang santriwati yang berasal dari Jawa Tengah. Tiga tahun belajar di pesantren ini, Azan sempat berjualan Kebab Turki di Cikampek, kemudian merantau ke Jakarta berjualan ban bekas (vulkanisir) di Klender Jakarta Timur.

Menurut salah seorang tetangga dan teman dekatnya, pasca nyantri di Subang prilaku Azan mulai banyak berubah. Ia tak mau berjamaah di musholla kampungnya karena dianggap paham keagamaannya berbeda. Ia mulai sering mendengarkan pidato-pidato Jihad melalui audio box dan suka sekali memakai topi pejuang Afganistan dan rompi JAT (Jamaah Ansoru Tauhid). Ia sering membawa istrinya yang bercadar itu pulang kampung. Di desanya Azan dikenal pendiam dan pribadi yang tertutup.

Beberapa pihak menyebut bahwa Azan pernah nyantri di pondok pesantren tersebut sebelum teroris asal Malaysia, Nurdin M Top tewas dalam sebuah penyergapan di Kampung Kepuhsari, Kelurahan Mojosongo, Jebres, Surakarta oleh Densus 88 pada 17 September 2009 silam.

Disebutkan juga bahwa sejak terjadinya tragedi Bom Bali pada 2002 silam, aktivitas di pondok pesantren tersebut memang sudah tidak terlihat lagi. Hanya sedikit orang yang masih nyantri di sana. Keberadaannya kerap meresahkan masyarakat karena dinilai menjadi pengikut jaringan teroris yang sudah beberapa kali melakukan aksi pengeboman, termasuk Bom Bali yang dilakukan oleh Nurdin M Top itu.

Karena diduga mengajarkan paham radikal, pesantren tersebut pernah akan dibakar oleh warga sekitar, sebagaimana diungkapkan oleh salah seorang warga sekitar. Di samping itu paham keagamaan pesantren tersebut berbeda dengan masyarakat sekitar. Misalnya, para warga dilarang melakukan tahlilan dan amalan-amalan lain yang sudah biasa dilakukan masyarakat.

Di pesantren inilah titik awal Azan berkenalan dengan ideologi radikal dan berjejaring dengan kelompok radikal lainnya. Belakangan dikatehui bahwa empat pelaku teror Sarinah, Dian Juni Kurniadi, Muhammad Ali, Afif alias Sunakim, juga Azan adalah murid Aman Abdurahman, salah satu pemimpin spiritual ISIS di Indonesia yang sekarang mendekam di Nusakambangan. Afif diketahui sebagai tukang pijatnya Aman Abdurahman.

Aman Abdurahman alias Ustadz Oman adalah tokoh kharismatik ISIS di Indonesia. Ia disebut-sebut yang memengaruhi Abu Bakar Baasyir untuk berbai’at dan mendukung ISIS. Bersama Abu Bakar Baasyir, Aman Abdurahman mendirikan JAD (Jamaah Anshoru Daulah) atau JAK (Jamaah Anshoru Khilafah). Aman Abdurrahman divonis hukuman penjara sembilan tahun pada tahun 2010, dalam kasus pelatihan militer di Jantho, Aceh. Sedangkan Abu Bakar Ba’asyir divonis 15 tahun penjara untuk kasus yang sama.

Bahrun Naim, orang yang disebut Polri bertanggung jawab dan merupakan otak terror Thamrin, pernah mengikuti pengajian yang diselenggarakan Aman Abdurrahman. Karena itu, bertolak belakang dengan tuduhan Polri, Ayub Abdurahman (mantan JI) dan Sidney Jones menduga otak teror Thamrin adalah Aman Abdurrahman bukan Bahrun Naim.

Sementara itu, Ulil Abshar Abdalla, pembicara utama dalam diskusi ini, menjelaskan secara detail mengenai kitab “Ma’âlim fî al-Tharîq”, karya Sayyid Qutb, yang oleh sebagian pengamat dinilai sebagai bapak spiritual bagi gerakan jihadi.

Menurut Ulil, kitab “Ma’âlim fî al-Tharîq”, menunjukkan bahwa Sayyid Qutb bukan sekeder idelog yang dangkal. Ia adalah ideolog radikal modern yang tulisannya sangat menarik. Orang yang membaca kitab “Ma’âlim fî al-Tharîq” akan merasa seperti “tersengat listrik” karena menemukan cara pandang yang sangat mendalam, kualitas bahasanya luar biasa, hidup, elegan, dan mutu sastranya begitu tinggi.

Kitab “Ma’âlim fî al-Tharîq” dibuka dengan sebuah pernyataan tegas, “Dunia saat ini sedang berada di ambang kehahancuran. Ini bukan kehancuran karena ancaman dinosaurus atau yang lain, melainkan ancaman yang datang dari sebuah sebab yang jauh lebih serius: yaitu krisis nilai. Krisis ini terjadi di dunia Barat.”

Barat yang demokratis mendapat kritikan yang tajam dari Sayyid Qutb. Ia, misalnya, mengatakan, “Barat yang demokratis akhirnya tidak bisa menghindarkan diri dari ‘jampi-jampi’ komunisme Timur yang menyelundup ke Barat lewat sosialisme.” Dalam pandangan Sayyid Qutb, sosialisme di Barat adalah pertanda kebangkrutan demokrasi di Barat. Sementara itu, krisis serupa, menurutnya juga terjadi di Blok Timur (Uni Soviet dan negeri-negeri satelitnya).

Krisis nilai yang disebut oleh Sayyid Qutb itu terjadi ketika janji-janji keadilan yang diproklamirkan oleh komunisme ternyata mengalami kebangkrutan. Alih-alih menciptakan keadilan, komunisme justru melahirkan kelas sosial baru, kelas para aparat partai, yang menjadi penindas baru. Bagi Sayyid Qutb, baik kapitalisme di Barat maupun sosialsme di Timur, dua-duanya telah mengalami jalan buntu.

Untuk terbebas dari krisis tersebut, Sayyid Qutb menawarkan jalan keluar: kepemimpinan dunia baru. Di dalam pembukaan kitab “Ma’âlim fî al-Tharîq” ia mengatakan dengan tegas, “Harus ada kepemimpinan baru bagi manusia! Ini bukanlah pertama-tama kepemimpinan politik, melainkan kepemimpinan dalam hal nilai-nilai, kepemimpinan moral. Kepemimpinan semacam ini hanya bisa diberikan oleh Islam. Sebab kepemimpinan di tangan ideologi-ideologi sekuler yang lain telah menunjukkan kegagalan.”

Kerangka berpikir Sayyid Qutb tersebut menurut Ulil telah menjadi ilham bagi gerakan-gerakan kebangkitan Islam di dekade 80-an yang mengangkat semboyan: al-Islâm huwa al-hall (Islam adalah sebuah solusi). Sayyid Qutb merupakan tokoh yang membangun sebuah paradigma yang belakangan populer di kalangan aktivis Muslim yang biasa disebut kaum haraki, yaitu paradigma kegagalan Barat dan Timur serta keharusan Islam sebagai alternatif atas keduanya.

Ulil mengatakan bahwa kitab “Ma’âlim fî al-Tharîq” telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Professor Fakhruddin dan diterbitkan oleh penerbit Tinta Mas. Buku ini diterjemahkan kembali oleh media dakwah. Pengaruhnya sangat luar biasa! Edisi terakhir di Kairo telah disebarkan oleh Saudi Arabia melalui organisasi-organisasi pelajar Islam internasional.[]

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.