Catatan Kenangan: Melepas Kang Saef Pulang

Oleh Lies Marcoes

Awal Syawal, Rumah KitaB mendapat kabar duka. Staf kami Saef Rahmat Hidayat pulang selamanya. Ia pamit mendahului kami semua. Sakit di bagian organ dalamnya (liver) menjadi syariat kepulangannya. Kami di Rumah KitaB telah sejak 5 bulan lalu memintanya istirahat. Kami sampai meminta karena Saef bukan orang yang mudah dibujuk jika itu terkait dengan tanggung jawabnya, menjaga kami di Rumah KitaB, dan memikirkan tanggung jawab sebagai ayah dari tiga anaknya yang membutuhkan biaya pendidikan. Ceu Kholifah, istrinya, juga pekerja keras. Ia membuat panganan dan berjualan serta mengajar di kampung. Penghasilan Saef sepenuhnya untuk anak-anaknya. Saat ini dua anaknya mesantren, Eka baru tamat dari SMK Kesehatan di pesantren Cipasung, sementara Ade, adik Eka mesantren di dekat kampung mereka di Banjar, Ciamis, Jawa Barat.

Di antara  staf di Rumah KitaB, saya kira sayalah orang yang paling lama mengenalnya. Saef datang ke Jakarta bekerja di sebuah perusahanan jasa cleaning service. Beruntung bahwa ia bekerja di kantor yang majikannya, bule, mengajarinya apa itu konsep bersih melampaui yang ia dapatkan dari pelatihan yang disediakan perusahannya. Tak terlalu jelas mengapa ia berhenti, ia kemudian ikut orang dari kampungnya yang membuka usaha konveksi skala rumahan. Rumah konvenksi itu berada di lingkungan rumah Gus Dur di Ciganjur dan induk semang Saef adalah salah satu mitra dampingan PUAN Amal Hayati. Ketika PUAN membutuhkan OB, dengan niat mencari barokah,  Saef masuk penjadi staf PUAN. Di sana lah saya kenal Saef dan saya senang sekali dengan standar kebersihannya.

Kebutuhan ekonominya semakin besar ketika istrinya hamil untuk anak ketiga. Saef kemudian minta ikut bekerja di Rumah KitaB. Semula ia menjalankannya sebagai kerja rangkap. Namun karena RK saat itu berkantor di Bekasi, dan Kyai Affandi Mochtar juga sangat terkesan dengan cara Saef mengurus kantor, beliau meminta Saef untuk ikut mengurus pesantren Al Biruni di Cirebon. Saef pun pamit baik-baik dari PUAN dan setiap ada acara besar di Ciganjur ia selalu ada sebagai bentuk khidmatnya kepada keluarga Gus Dur dan pesantren. Anak bungsunya ia namai Abdurrahman Affandi sebaga pengingat kepada Gus Dur dan kyai Affandi Mochtar.

Saef tumbuh besar dalam tradisi NU. Ia sangat mengenal esoteris dunia pesantren. Dengan keterbatasannya membagi waktu, baginya Ciganjur adalah pondasi pentingnya dalam menjejakkan kaki di Jakarta.

Karena Saef masuk ke Rumah KitaB bersama saya, sementara saya adalah sang bos kedua setelah Pak Affandi, terbangun bisik-bisik di antara staf bahwa Saef adalah “orangnya Ibu Lies”. Ia sempat di’emohi” oleh mereka yang merasa diawasinya. Saef sendiri, karena merasa punya tanggung jawab, tak jarang ia melangkah terlalu jauh. Atas nama penghematan, ia mematikan AC atau internet di luar jam kerja. Padahal para staf Rumah KitaB yang biasa lek-lekan malam hari justru mulai produktif di malam hari. Ketegangan laten tanpa saya sadari mulai muncul. Saef sendiri mungkin punya rasa sebagai “orangnya Ibu Lies” ia sering mengatur staf sesuai jalan pikirnya. Itu karena saya sejak semula ingin menekankan semua berhak untuk ikut ambil keputusan dan karenanya Saef saya ikutkan dalam rapat rutin atau program. Jika ada kegiatan ke lapangan semua urusan menjadi urusan Saef.

Ketegangan itu lama-mala bisa saya rasakan, setekah salah satu staf menyampaikan keluhan para penelti. Saya kaget, lalu segera diselenggarakan pertemuan untuk menegaskan posisi masing-masing. Tupoksi Saef sebagai OB dan tanggung jawabnya menjaga  properti Rumah KitaB ditambah dengan tugas tambahan belanja kebutuhan rutin kantor.  Penegasan ini ternyata cukup mencairkan ketegangan. Saef menjai lebih tahu tempat. Di kantor ia diberi kewenangan mengurus petty cash. Dengan cara itu dia belajar pembukuan sederhana.  Saya, dengan sengaja mengurangi intensitas petemuan dengan Saef. Sebab tadinya hampir 2 minggu sekali ia ke rumah untuk  melakukan  “operasi debu” dan bagi anak-anak Saef adalah si Akan yang bisa dimintai tolong untuk banyak urusan di rumah. Ketika suami saya meninggal atau sedang hajatan, Saef adalah orang yang bisa diandalkan sebagai problem solvers yang sangat fleksibel.  Anak-anak saya menghormatinya seperti kepada seorang paman.

Saef adalah seorang suami yang benar-benar teladan. Ia sangat hormat dan memahami sitausi istrinya. Bertahun-tahun ia merantau dan tak sedikitpun ia mengambil kesempatan untuk memalingkan muka dari istrinya.  Hal yang lebih mengesankan, ia adalah seorang Ayah teladan. Ia rajin lembur untuk menambah income agar anak sulungnya bisa  ikut gaul seperti remaja lain . Menurutnya itu penting karena anaknya perempuan.  Untuk pendidikan anak-anaknya Saef punya visi dari pergaulannya bersama kami. Ia ingin anaknya kelak bisa mandiri dengan ilmu dan keterampilan yang dimilikinya. Di antara staf, menurut saya Saef paling rajin menjalankan amalan macam-macam ibadah di luar yang wajib. Di Mesjid dekat kantor Saef termasuk yang selalu diminta bantuannya jika sedang acara-acara keagamaan termasuk menyiapkan penyelenggarakan shalat Jumat dan Taraweh.

Beberapa bulan lalu ia mengeluhkan sering mual-mual dan karenanya dokter mengobati bagian lambungnya. Namun belakangan dokter mengetahui ada gangguan pada livernya. Saef orang yang sabar dan baik hati, semoga sakit yang dialami menjadi syafaat untuk menghapuskan kekhilafannya.

Semalam, kami seluruh staf mengadakan tahlilan via Zoom, melepas kepulangan Saef ke Alam Keabadian dengan perasaan pilu sekaligus “ lega”. Lega karena ia tak lagi mengeluhkan sakitnya yang tak tertahankan dan insha Allah Saef husnul khatimah.
Bogor 3 Syawal 1441 H/ 26 Mei 2020
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.