Yang Muda Yang Terdistraksi dan Dieksploitasi
Tahun-tahun ini, pemuda kita mengenyam beraneka tantangan. Belum pernah terjadi di zaman kapan pun kaum muda mengalami distraksi luar biasa dahsyat seperti sekarang ini. Hujan konten saban hari mengguyuri mata. Telapak tangan tak henti menggenggam dan menggulir, baik itu informasi maupun sampah.
Kontan generasi hari ini memiliki permasalahan yang belum ada presedennya sehingga perlu tilikan serius karena ini juga bertaut erat dengan potret eksploitasi yang mendera mereka. Terlebih lagi, dengan ekonomi sekarang semakin sulit bagi generasi hari ini untuk mencapai kehidupan yang stabil.
Rimba Ketidakpastian
Dalam kajian pemuda, Andy Furlong (2013) telah lama menyodorkan argumen bahwa transisi kaum muda zaman ini dari dunia sekolah menuju dunia kerja mengalami pemanjangan, tidak linear, dan penuh ketidakpastian. Ini selanggam dengan temuan riset Steven Threadgold berjudul Youth, Class, and Everyday Struggle (2018): pendidikan yang digadang-gadang sebagai tangga mobilitas dan peningkatan kesejahteraan justru banyak yang mandul dan ingkar janji.
Furlong juga menggarisbawahi adanya “inflasi kualifikasi” di era kapitalisme modern saat ini. Bahwa lebih banyak gelar, lebih sedikit pekerjaan layak. Walhasil, baik kaum muda yang berpendidikan (well-qualified) maupun yang kurang beruntung (poorly qualified) sama-sama merasakan disorientasi di rimba ketidakpastian hidup.
Dengan kata lain, pemuda saat ini hidup di tengah zones of (in)security, sebuah ruang abu-abu antara bekerja dan menganggur, antara kuncup yang mau mekar dan terancam pupus oleh wabah sebelum rekah. Ini tentu sinkron dengan temuan riset LPEM FEB UI (2025) yang menemukan sekitar 6.000 lulusan pascasarjana (S2/S3) dan 45.000 jebolan S-1 menganggur dan putus asa mencari kerja.
Bila dibandingkan dengan generasi pendahulu, mereka memiliki jalur relatif jelas dalam karier. Kerja tetap dan hak sosial ada. Pemuda kita hari ini mewarisi lanskap yang berbeda. Panoramanya retak. Pekerjaan penuh waktu menyusut dramatis, kontrak jangka pendek, gig work merajalela, dan masa depan dipaksa menjadi proyek dan ring tinju pribadi yang terus menerus dinegosiasikan setiap hari. Seolah-olah mereka difetakompli agar senantiasa berada di mode survival.
Situasi demikian melahirkan kelas baru yang Guy Standing sebut sebagai “prekariat”: mereka yang mengalami perentanan, hidup tanpa kepastian pendapatan, tanpa narasi identitas kerja, dan tanpa jaminan sosial yang layak. Dan banyak di antara kelas baru ini adalah pemuda terdidik. Tentu bukan karena mereka gagal, melainkan karena sistem ekonomi politik yang sengaja memproduksi ketidakamanan (insecurity) sebagai norma (Furlong, 2015).
Eksploitasi Perhatian dan Emosi
Yang lebih memberatkan dari ihwal tersebut adalah bahwa eksploitasi pemuda hari ini tidak berhenti pada sistem upah dan kontrak. Ia juga merembes hingga ke alam perhatian, emosi dan identitas. Perhatian dan waktu mereka yang terbatas itu dieksploitasi sedalam-dalamnya dan dihisap habis lewat kapitalisme platform global.
Kehidupan sehari-hari pemuda kita direduksi sesempit mungkin menjadi dunia yang berisi unggahan, likes, percakapan maya, dan kecemasan yang dibagikan—dan tak sedikit yang malah merayakan. Semua anasir itu ditransformasi menjadi data yang dapat diklasifikasi dan diekstraksi nilainya, yang kemudian oleh Julia Coffey dan Steven Threadgold disebut “data gaze”.
Sejak kemunculannya, media sosial dan platform digital menciptakan distraksi multi-arah yang belum pernah terjadi dalam sejarah homo sapiens. Perhatian dipreteli menjadi fragmen-fragmen, dibuat kemasan instan video kurang dari 15 detik, dan waktu dikunyah oleh algoritma. Sebagai kelanjutannya, ekspresi diri pun ikut dieksploitasi secara tanpa sadar dan direduksi menjadi komoditas; dengan para pemuda kita menjadi tenaga kerja yang tak perlu diupah (unpaid labor).
Dari sini, distraksi bukan sekadar gangguan, ia adalah mekanisme produksi nilai. Kaum muda sebagai pengguna mayoritas jagat maya didorong secara konstan dan kontinyu untuk terus tampil, merespons, dan memproduksi. Sebuah kerja sosio-emosional dan kultural yang tidak digaji, tetapi amat mempergemuk kekayaan kapitalisme platform. Sementara itu ketidakadilan struktural di pasar kerja tersamarkan oleh narasi motivasi, personal branding, serta ilusi fleksibilitas dan kebebasan memilih.
Pada titik itulah kapitalisme berhasil menutupi kebusukannya dengan meretas budaya pemuda via konten. Yang membedakan dengan era terdahulu adalah aspek skala dan intensitasnya: kapitalisme tidak sekadar mengatur apa yang dikerjakan pemuda, tetapi juga bagaimana mereka merasa (emosional), berpikir (kognitif), bermimpi (aspirasi), dan menghibur diri (konsolasi). Konfigurasi kompleks inilah yang ikut menetaskan kecemasan generasional yang merebak lima belas tahun terakhir.
Dan di tengah kerunyaman tersebut, rasanya perlu ada yang menampar: pemuda kita tidak kekurangan bakat dan daya juang. Yang dibutuhkan adalah sistem yang berhenti memeras perhatian, waktu, dan jagat emosional mereka sebagai sumber laba. Solusinya tentu bukan kepanikan moral atas gawai, melainkan kebijakan politik: regulasi platform, jaminan kerja dan sosial, serta kehadiran negara dalam menjaga struktur yang adil di luar kuasa algoritma.
Namun, apabila kehadiran negara justru dengan niatan memperdalam eksploitasi dan ketidakamanan bagi pemuda, maka tak boleh ada yang berhak bermimpi Indonesia Emas 2045. Itu sama saja melawan hukum alam.
Selama ketidakamanan dianggap wajar dan distraksi didiamkan (atau bahkan dipelihara), spiral ketidakadilan ini akan terus berputar. Dan pemuda kita akan terus diternak sebagai prosumer (produsen-konsumer) yang tak diupah: terlihat aktif, tetapi rapuh dan dijauhkan perlahan dari masa depan yang merupakan hak penuh milik mereka.[]




Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!