Pos

Belajar dari Romo Mangun Memaknai Agama yang Nyaman

Saya tidak perlu membahas panjang lebar kondisi negeri ini. Cukup dirasakan saja: program yang terburu-buru, pernyataan yang kerap tak terkendali, dan kewarasan publik yang kian terkikis. Ada masanya kita masih bisa berdiri di luar arus. Kini kemampuan itu seolah semakin hilang. Yang dulu paling lantang telah diredam, massa yang sempat solid terpecah, sementara yang lain ditundukkan melalui konsesi dan fasilitasi.

Kehilangan ini bukan tanpa preseden. Jauh sebelumnya, pada periode yang lebih gelap, muncul seorang tokoh yang memilih jalan berbeda. Ia menunjukkan bahwa iman bisa menjadi kekuatan untuk berdiri di luar arus politik praktis, dari mana pun asalnya. Beliau adalah Romo Mangun. Perkembangan peradaban dengan fondasi sekular dari kapitalisme mengakibatkan golongan beragama seolah terpisah dari golongan nasionalis. Atau, kalau kata Soeharto “Rohaniwan …ya rohaniwan tugasnya, tak perlu berpolitik…”.

Kutipan tersebut disampaikan oleh Pak Harto kepada Romo karena implementasinya dalam topo ngrame, bertapa dalam keramaian yang menyinggung pembangunan Orde Baru. Topo ngrame adalah wujud keimanan tertinggi, ketika seluruh kehidupan di tengah keramaian justru mengingatkan seseorang kepada Tuhan dan ibadah tidak berhenti di altar atau sajadah, melainkan dilanjutkan di samping mereka yang digusur dan dilupakan oleh manusia-manusia lainnya.

Bagi seorang Romo Mangun, ibadah utama selain doa adalah berada di samping para warga ketika negara hendak menggusur warga Kedung Ombo atas nama pembangunan. Ketika negara menutup mata pada pemukiman kumuh di pinggiran Kali Code, beliau membina dan memperbaiki atap mereka hingga menjadikannya pemukiman yang menjadi contoh bagi yang lainnya.

Pikirannya pun tak kalah cemerlang dalam melihat kondisi dalam negeri. Latar belakang teknik dan arsitekturnya tercermin dalam kepresisiannya melihat solusi untuk pemerintahan transisi Habibie yang tertuang dalam Surat Terbuka 1998 yang diterbitkan oleh Kompas pada 11 Agustus 1998.

Melalui surat tersebut, Romo Mangun menolak pemilu baru yang diselenggarakan oleh kabinet yang sedang berkuasa. Penyelenggaranya harus lembaga independen yang belum pernah berkolaborasi dengan Soeharto, usulan yang mendahului wacana KPU independen bertahun-tahun sebelum itu benar terwujud. Tapi soal siapa yang menyelenggarakan baru separuh jalan.

Ia juga mengusulkan pemilu berikutnya tidak bersasaran memilih presiden, melainkan memilih Majelis Konstituante untuk menyusun UUD final. “Anda seorang Muslimin yang baik, dan pastilah tidak ikut-ikutan mengkeramatkan UUD ’45 seolah-olah itu wahyu Tuhan yang abadi,” tulisnya kepada Habibie.

Sikap yang sama konsistennya muncul saat ia mendukung langkah pemerintah membuka referendum atas Timor Timur, sebuah keputusan yang ia pandang salah secara politik namun benar secara kemanusiaan. Tulisan-tulisan ini tampak seperti masukan dari pakar politik, tetapi tidak, dia datang dari pengabdi ilahi.

Kualitas dan pandangan seorang Romo Mangun tercermin dalam perbuatan dan perkataannya. Tidak terkekang oleh harta apalagi kubu politik yang sementara. Beliau penganut politik hati-nurani dan bergerak atas dasar kecintaannya terhadap Tanah Air. Sebuah semangat yang hilang dalam organisasi Islam di masa kini.

Sayangnya membicarakan politik dalam mimbar agama kini terasa seperti pelanggaran. Menyampaikan persoalan sosial-politik dalam bingkai keimanan saat khutbah menjadi sesuatu yang dihindari. Tanpa banyak yang sadar, kita telah menerima paradigma yang justru menghentikan gerak kita sendiri.

Rasulullah pernah menegaskan bahwa diam di hadapan kemungkaran adalah selemah-lemahnya iman. Maka patut dipertanyakan: di mana posisi keimanan kita ketika ketidaksetaraan struktural terus berlangsung, sementara banyak yang lebih memilih tenang tak berjuang?

Ketika ilmu tinggi tidak berbuah keberanian untuk mempertanyakan akar ketidakadilan, yang tersisa hanyalah kealiman yang nyaman. Dan kenyamanan itu sering kali dibeli dengan diam. Padahal diam semacam itu terasa terlalu murah jika ditimbang dengan apa yang dijanjikan bagi mereka yang berani bergerak. Menjalankan topo ngrame hari ini berarti menolak menjadi penonton yang nyaman. Jihad modernnya terletak pada keberanian untuk tetap bertanya, termasuk kepada program-program raksasa negara.

Ketika MBG dan KDMP digadang sebagai jawaban, topo ngrame justru menuntut kita untuk tidak berhenti pada sedekah semata: apakah keduanya menyentuh akar kemiskinan struktural, atau hanya menambal gejala sambil membiarkan beban rakyat terus bertambah? Pertanyaan yang sama pernah dijawab bukan dengan kata-kata, melainkan dengan kehadiran.

Seperti yang dulu dilakukan Romo Mangun.

 

Bacaan lebih lanjut:

Murtianto, T. B. (Ed.). (2014). Kata-kata terakhir Romo Mangun: Sebuah perjumpaan hangat di ujung perjalanan. Kompas.

Wiwoho, B. (2015, 20 Maret). Filosofi topo ngrame & mati sakjroning urip: Kandungan makna Suluk Kidung Kawedar (4). Diakses pada 13 Agustus 2026, dari https://bwiwoho.blogspot.com/2015/03/filosofi-topo-ngrame-mati-sakjroning.html?m=1

Redaksi. (2019, 19 Mei). Topo ngrame, dan rahmatan lil’alamin tidak secengeng itu. CakNun.com. Diakses pada 13 Agustus 2026, dari https://www.caknun.com/2019/topo-ngrame-dan-rahmatan-lilalamin-tidak-secengeng-itu

 

Membumikan Kemerdekaan: Iman Katolik yang Berbuah Aksi

Euforia perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia selalu bergema sepanjang Agustus. Di berbagai daerah, ada berbagai macam kegiatan dan perlombaan untuk merayakan hari kemerdekaan ini. Namun, satu hal yang kadang terlupakan, yakni makna sesungguhnya dari merdeka. Seringkali perayaan kemerdekaan hanya berhenti pada sebuah euforia dan juga pesta tanpa makna yang mendalam. Euforia itu tampak ketika pengibaran bendera, festival, dan juga pidato dari para pemimpin di atas mimbar.

Kita seringkali terjebak dengan meneriakkan kata “merdeka”. Namun ketika upacara selesai, kita masih terus menyaksikan “penjajahan” di negara yang baru saja merayakan kemerdekaan ini. Penjajahan yang kita saksikan itu berupa kemiskinan yang masih merajalela, korupsi yang tidak ada hentinya, dan yang paling parah adalah intimidasi kepada mereka yang lemah dan tersingkirkan.

Kondisi demikian seringkali menimbulkan pertanyaan apa makna kemerdekaan yang sesungguhnya? Apakah rakyat Indonesia sungguh sudah menjadi manusia merdeka atau justru sebaliknya?

Dalam hal ini, Gereja Katolik menegaskan dan mengajak untuk merefleksikan bahwa kemerdekaan sejati meminta sebuah pergerakan nilai yang nyata. Kemerdekaan seharusnya diwujudnyatakan dalam tindakan, bukan hanya dalam kata-kata saja.

Mengakar pada Batin yang Bebas

Gereja Katolik memberikan pondasi yang bisa digunakan untuk memaknai kemerdekaan sejati. Kemerdekaan manusia dimulai dari kebebasan batiniah. Artinya, sebelum orang meneriakkan slogan merdeka di depan umum, orang harus terbebas dari dirinya sendiri.

Gereja atas dasar Kitab Suci menegaskan bahwa Allah menciptakan manusia dengan keadaan yang sempurna. Manusia diciptakan dengan akal budi dan kehendak yang bebas supaya mampu untuk memilih kebaikan bagi dirinya dan bagi yang lain. Santo Paulus melalui surat kepada jemaat di Galatia 5:15 mengingatkan bahwa:

Kamu telah menyambut panggilan untuk merdeka. Namun, jangan memperalat kemerdekaan itu sebagai celah untuk memuaskan kehendak egois, melainkan layanilah seorang akan yang lain melalui kasih.”

Perikop tersebut ingin mengatakan bahwa manusia merupakan makhluk yang merdeka. Manusia yang merdeka merupakan pribadi-pribadi yang bisa membebaskan pikirannya terhadap hal-hal yang bersifat kejahatan. Sementara dalam dokumen Konsili Vatikan II, Gaudium et Spes (Art. 16), Gereja juga menyebutkan bahwa suara hati merupakan tempat paling rahasia di mana manusia bersatu dengan Allah. Manusia yang merdeka selalu mendengarkan suara hatinya untuk menolak segala bentuk kebohongan publik, manipulasi kekuasaan, dan ketidakadilan.

Dari Mimbar Menuju ke Lapangan

Semua orang beriman apapun agamanya memiliki tantangan yang tidak mudah dalam kehidupan mereka. Tantangan tersebut ada pada jurang pemisah antara kesalehan ritual dan juga kepekaan sosial. Kedua hal ini seringkali menjadi tantangan yang cukup sulit untuk dilalui. Banyak orang ingin selalu dekat dengan yang Maha Pencipta, tetapi di satu sisi mereka juga ingin mengerjakan karya sosial.

Rasul Yakobus dengan keras menegur orang-orang yang memisahkan tindakan dengan iman. Dalam hal ini dia menegaskan bahwa iman tanpa perbuatan pada hakikatnya adalah mati (Yak. 2:17). Dengan demikian ia ingin menegaskan bahwa kedua hal, yaitu iman dan perbuatan nyata harus selalu berjalan seiringan. Dengan iman orang semakin dikuatkan, dan pada akhirnya berbuah pada tindakan nyata.

Mewujudnyatakan Kemerdekaan dalam Keseharian

Makna kemerdekaan di hari ini masih perlu untuk diwujudnyatakan. Jika kemerdekaan hanya sebatas perayaan saja, maka kemerdekaan belum menemukan makna yang sesungguhnya. Kemerdekaan tidak boleh berhenti hanya pada perlombaan, upacara, pawai, dan pesta saja, tetapi harus sungguh-sungguh diwujudnyatakan dalam kehidupan sehari-hari.

kemerdekaan Indonesia hari ini mengajak kita untuk berani melangkah keluar dari zona nyaman diri sendiri. Menjadi agen yang memerdekakan berarti mewujudkan dalam langkah konkret. Ada banyak figur-figur yang bisa dijadikan contoh dalam mewujudkan kemerdekaan dalam kehidupan sehari hari, salah satunya adalah Rm. Mangunwijaya. Beliau merupakan seorang Pastor dalam Gereja Katolik.

Namun, Rm. Mangun tidak hanya melayani mereka yang beragama Katolik saja, tetapi juga semua orang yang membutuhkan. Salah satu yang dilakukan oleh Rm. Mangun adalah dengan membela warga di kawasan Kalicode ketika hendak digusur. Dengan keberanian beliau memasang badan untuk membela masyarakat yang saat itu tertindas. Keteladanan inilah yang menjadikan dia dijuluki sebagai pahlawan kemanusiaan yang tak bergelar “pahlawan”.

Pada akhirnya kemerdekaan bukan hanya seberapa keras kita bisa teriak “merdeka”, namun kemerdekaan menantang kita untuk berani keluar dari zona nyaman kita. Panggilan untuk menjadi manusia yang merdeka harus selalu menggema dalam setiap pribadi. Yang perlu dicatat adalah bahwa kemerdekaan akan menemukan makna ketika itu sungguh-sungguh terwujudnyata dalam kehidupan sehari-hari. Bukan dengan hal yang besar, tetapi dengan hal yang sederhana sekalipun. Merangkul mereka yang terasingkan, yang mengalami ketidakadilan, dan juga mereka yang hidup dalam situasi yang tidak mudah.