Pos

Surat untuk Setiap ‘Kita’ yang Kerap Mengeluh Tak Punya Baju

Pernahkah kamu berdiri di depan lemari yang sarat muatan saat hendak pergi menemui teman, jalan-jalan, atau memenuhi undangan, menatap tumpukan kain yang berjejal rapi maupun berantakan, lalu merasa, “Mau pakai baju yang mana, ya? Rasa-rasanya aku tidak punya baju untuk dipakai”?

Kalau jawabannya ya, pernah, percayalah, kamu tak sendirian.

Fenomena ini hampir menjadi narasi universal yang dialami banyak orang, khususnya perempuan. Namun, jika kita bersedia melepaskan kacamata pembelaan diri sejenak, kita akan mendapati sebuah kenyataan yang ambigu, keluhan tersebut hampir tak pernah berkaitan dengan ketiadaan fisik pakaian. Lemari kita sesungguhnya penuh, bahkan sering kali meluap. Lantas, mengapa perasaan kurang itu terus-menerus hadir dan mengusik pikiran setiap kali hendak bepergian?

Konstruksi Sosial dan Konstruksi Kapitalisme Mode

Jawabannya jarang berakar pada kebutuhan fungsional tubuh untuk berlindung dari cuaca. Kegelisahan ini lebih banyak dipicu oleh konstruksi sosial yang mengelilingi keseharian kita. Di era yang didikte oleh kecepatan media sosial dan visualitas digital, pakaian tidak lagi sekadar penutup tubuh atau pemenuh norma kesopanan semata. Pakaian telah digeser fungsinya menjadi alat pembuktian status sosial, ekspresi identitas yang dituntut terus berganti, serta penanda kelas ekonomi.

Ada tekanan tak tertulis yang mengharuskan seseorang, terutama perempuan, untuk selalu tampil beda di setiap momen. Memakai pakaian yang sama secara berulang dalam rentang waktu berdekatan kerap diartikan sebagai bentuk kegagalan dalam menjaga penampilan atau simbol ketidakmampuan ekonomi. Standarisasi yang timpang dan patriarkal ini meletakkan beban psikologis yang berat, memicu rasa percaya diri yang rapuh.

Sayangnya, industri fast fashion membaca kerapuhan psikologis ini dengan sangat cermat. Mereka memproduksi pakaian secara massal dengan biaya murah, membanjiri pasar dengan puluhan tren baru setiap musimnya, dan menciptakan ilusi seolah-olah kita akan selalu tertinggal jika tidak membeli model terbaru. Kita pun terseret ke dalam siklus konsumerisme tak berujung, membeli karena tergiur tren, memakai sekali atau dua kali untuk kebutuhan dokumentasi visual, merasa bosan atau tidak lagi relevan, lalu menumpuknya di sudut lemari hingga terlupakan.

Yang sering Dilupakan: Jejak Raksasa Limbah Tekstil di TPA

Namun, persoalan ini sama sekali tidak berhenti di dalam batas dinding kamar tidur kita. Dampak dari kegelisahan pribadi di depan lemari baju ini menjangkau jauh sampai ke TPA, muara sungai, hingga lautan lepas.

Ketika sebuah busana dianggap habis masa pakainya hanya karena trennya berlalu atau warnanya dianggap tak lagi kekinian, ia akan berakhir menjadi sampah. Data menunjukkan betapa dahsyatnya krisis lingkungan yang kita pupuk bersama. Setiap tahunnya, dunia menghasilkan sekitar 92 juta ton limbah tekstil.[1] Angka fantastis ini setara dengan membuang satu truk penuh pakaian ke TPA setiap detiknya

Di tingkat nasional, Indonesia menyumbang sekitar 2,3 juta ton limbah tekstil per tahun, yang porsinya mencapai lebih dari 2,5 persen dari total akumulasi sampah nasional. Parahnya lagi, dari gunung sampah pakaian tersebut, kurang dari 15 persen yang benar-benar didaur ulang menjadi serat kain baru. Sisanya, sebagian besar, tertentu tertimbun tanpa kejelasan atau dimusnahkan dengan cara dibakar.

Ancaman Mikroplastik dan Gas Metana

Krisis ini semakin parah karena perubahan bahan baku industri tekstil modern. Mayoritas pakaian hari ini diproduksi menggunakan serat sintetis seperti poliester, nilon, dan akrilik demi mengejar harga jual murah dan efisiensi produksi. Serat-serat sintetis ini pada dasarnya adalah bentuk lain dari plastik. Poliester membutuhkan waktu antara 20 hingga 200 tahun untuk terurai di alam, sementara akrilik mampu bertahan lebih dari dua abad. Bahkan kain campuran (blended fabrics), seperti kombinasi katun dan poliester yang amat populer, hampir mustahil dipisahkan secara teknis untuk didaur ulang.

Dampaknya terhadap ekosistem sangat destruktif. Setiap kali kita mencuci pakaian berbahan sintetis, serat-serat halus tak kasat mata terkelupas dan mengalir bersama air limbah rumah tangga.

Diperkirakan 8 hingga 10 persen mikroplastik yang mencemari lautan dunia berasal dari pelepasan benang sintetis ini. Sementara di TPA, pakaian yang tertimbun rapat tanpa akses oksigen akan membusuk secara anaerobik dan melepaskan gas metana, gas rumah kaca yang jauh lebih efektif merusak atmosfer dibanding karbon dioksida. Belum lagi ancaman rembesan zat pewarna kimia beracun yang mengkontaminasi air tanah di sekitarnya.

Di titik ini kita harus menyadari adanya sebuah relasi yang berkelindan, bahwa krisis psikologis rasa kurang di tingkat individu berbanding lurus dengan bencana ekologis di tingkat global.

Kesetaraan Bebas Dikte dan Teladan Kesederhanaan

Perspektif kesederhanaan (minimalism) dan kesetaraan menawarkan pijakan untuk memutus rantai krisis ini. Kesetaraan yang sejati bukan berarti menuntut perempuan untuk terus tunduk pada standar penampilan yang mahal dan melelahkan, melainkan membebaskan semua gender dari dikte kapitalisme busana. Kesetaraan menegaskan kembali bahwa nilai seorang manusia terletak pada kapasitas pemikiran, integritas, dan kontribusi sosialnya, bukan dari seberapa sering ia berganti busana.

Prinsip ini berayun selaras dengan etika kesederhanaan yang diteladankan oleh Rasullah.  Beliau memberikan contoh nyata tentang gaya hidup yang jauh dari kesan berlebih-lebihan (israf). Pakaian Nabi Muhammad selalu bersih, rapi, dan fungsional, namun jumlahnya sangat terbatas. Beliau tidak pernah memikul beban prestise dalam berbusana dan sama sekali tidak canggung mengenakan pakaian yang sama secara berulang-ulang dalam pelbagai kesempatan.

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah menegaskan bahwa al-bazaazah[2], yakni sikap sederhana dalam berpakaian meskipun seseorang memiliki kemampuan finansial untuk membeli lebih, merupakan bagian dari manifestasi iman:

أَلَا تَسْمَعُونَ، أَلَا تَسْمَعُونَ، إِنَّ الْبَذَاذَةَ مِنَ الْإِيمَانِ، إِنَّ الْبَذَاذَةَ مِنَ الْإِيمَانِ “. يَعْنِي التَّقَحُّلَ

“Tidakkah kamu mendengar? Tidakkah kamu mendengar? Sesungguhnya kesederhanaan dalam penampilan itu sebahagian daripada iman. Sesungguhnya kesederhanaan itu sebahagian daripada iman.” Maksudnya (adalah) kesederhanaan (dalam berpakaian/penampilan).

(HR Abu Daud no: 4161, Ibnu Majah no: 4118, Ahmad no: 24009, Sahih)

Beliau juga mengingatkan agar kita berpakaian tanpa disertai sikap sombong dan melampaui batas. Sikap qana’ah atau merasa cukup inilah yang hari ini menjadi fondasi etis yang sangat krusial bagi penyelamatan bumi.

Menemukan Kembali Makna Cukup

Memutus rantai eksploitasi fast fashion harus dimulai dari keberanian mengubah cara kita memandang isi lemari sendiri. Kita perlu berlatih memisahkan antara kebutuhan fungsional yang nyata dan manipulasi keinginan yang diciptakan oleh tren pasar. Memperpanjang usia pakai pakaian yang sudah ada, merawat kain agar tahan lama, memilih serat alami yang lebih ramah lingkungan, hingga mengadopsi konsep capsule wardrobe adalah langkah-langkah konkret yang bisa kita ambil.

Setiap kali kita membuka lemari dan memilih untuk merasa cukup dengan apa yang kita miliki, kita tidak hanya membebaskan pikiran dari beban standar sosial yang semu. Lebih dari itu, kita sedang mengambil tindakan etis yang nyata, menahan laju jutaan ton limbah demi menjaga keberlangsungan bumi tempat kita berpijak.

 

[1] Baca juga: https://www.viva.co.id/gaya-hidup/inspirasi-unik/1479252-dunia-hasilkan-92-juta-ton-limbah-tekstil-tiap-tahun

[2]

البذاذة: رثاثة الهيئة، أراد التواضع في اللباس وغيره وترك الترفه

kesederhanaan dalam penampilan, yaitu meninggalkan kemewahan dan berhias secara berlebihan. Yang dimaksudkan ialah merendah diri dalam berpakaian dan seumpamanya, serta menjauhi kehidupan yang mewah.

Sampai Tak Ada Lagi Ikan untuk Melempar Umpan

Sewaktu kecil, saya sering bersama teman-teman di kampung halaman pergi ke sawah; memungut sisa-sisa panen bawang merah, menangkap kadal rumput di rimbunan semak dan putri malu, lantas sesekali singgah di pinggir kali. Di kali-kali kecil itulah kami sering memancing, terkadang menangkap ikan dengan merogoh lubang ketika kemarau tiba, atau mandi telanjang di aliran segarnya.

Di sungai-sungai desa bahkan saluran irigasi saat itu, masih melimpah ikan-ikan beragam jenis. Ada ikan gabus, wader pari, wader cakul, uceng, hingga lele lokal. Sedihnya, di masa kini, hal semacam itu adalah sebuah kemewahan. Kekeringan kerap melanda, menyisakan sungai-sungai yang kebak sampah dan tak layak untuk mencelupkan demi badan mengusir gerah.

Runtah-nya warna-warni, berserakan mulai dari plastik, kain, hingga pembalut. Tak jarang busa kusam dan warna air yang pekat semakin memberi kesan ngeri ke mata kami. Dan ikan-ikan pun entah ke mana pergi. Lebih parahnya, panorama semacam itu dialami secara hampir merata oleh sungai-sungai kita di penjuru Tanah Air.

Di tiga sungai besar di Jawa, misalnya, semuanya mengalami sakit kronis. Penurunan populasi ikan terjadi secara eksponensial. Dalam kurun 30 tahun terakhir, Sungai Bengawan Solo kehilangan sekitar 20 jenis ikan; sementara Sungai Brantas ditinggalkan 35 jenis ikan untuk selamanya (Ecoton, 2021). Survei lawas pun telah merekam kegetiran yang sama: populasi ikan Sungai Cisadane merosot drastis dari 150 jenis ikan (1910) menjadi kurang dari 50 jenis saja (2010)—dan kini angka tersebut semakin menyusut.

Dalam laporan global terkini pun, ada kenyataan pahit yang mesti kita telan: ikan air tawar yang bermigrasi anjlok sebanyak 81% dalam kurun 1970-2020 (Living Planet Index, 2024). Dan ini belum termasuk ikan-ikan di laut yang kini banyak terpapar limbah logam berat dan paparan aktivitas tambang.

Belum selesai di situ. Dari angka yang menyusut itu pun, ikan-ikan kita terkontaminasi oleh mikroplastik sehingga berbahaya jika dikonsumsi. Ikan-ikan tersebut, akibat mengonsumsi mikroplastik, banyak yang mengalami interseks. Banyak ikan pejantan yang beralih jenis kelamin menjadi betina sehingga mengacaukan keseimbangan ekosistem. Sistem hormon manusia juga dapat terganggu jika mengonsumsi ikan yang terkontaminasi mikroplastik. Ia juga dapat menimbulkan iritasi saluran pencernaan hingga memperbesar risiko kanker.

Di titik inilah, sebagai contoh, mata-rantai bencana ekologis menyentuh langsung ke ujung hidung kita, merasuk ke sistem pencernaan kita. “Sudah mah sungai-sungai kotor, mancing semakin sulit, ikan-ikan raib, begitu dapat dan ingin dimakan, eh malah kena penyakit!” Begitu kira-kira kalau saya boleh mengeluh.

Dulu, di tahun 1960-an Rachel Carson bertanya, “ke mana burung-burung pergi di musim semi?” lewat karyanya The Silent Spring (1962). Satu dekade mendatang, Christopher D. Stone pada tahun 1970-an ikut bertanya seraya menggugat, “bisakah pohon-pohon membela diri mereka sendiri di depan hukum?” dalam esai panjangnya Should Trees Have Standing? (1972). Kini, saya ingin bertanya sedikit nyolot, “ke mana perginya ikan-ikan mahseer, baung, sili, hingga wader pari?!”

Kita mengaku sebagai pemimpin sekaligus pengayom di muka bumi, namun kenyataannya perilaku kita lebih sinkron sebagai pencemar dan perusak. Bahkan ikan sekecil wader pari pun sudah terancam punah, dan masih saja kita setrum, kita racuni, dan rumah-rumah mereka kita tumpahi segunung sampah. Dan mungkin pula karena Jokowi hanya mengajarkan anak-anak untuk menghafal nama-nama ikan, bukan melestarikannya.

Lalu, lingkaran ironi pun bergulung-gulung. Melahirkan efek domino yang tidak dapat dianggap remeh. Para pemancing yang kesulitan mendapat hiburan sebagai obat penat, bisa merembet ke pertengkaran, KDRT, hingga perceraian. Tak aneh bila angka fatherless makin melesat (mengingat para pemancing mayoritas laki-laki). Itu baru dalam satu kategori kecil yang sangat partikular.

Belum jika merambah kehidupan nelayan yang menggantungkan hidupnya dari hasil tangkapan ikan, baik air tawar maupun laut. Mereka melaut melawan angin asin, kaki menapak di perahu yang tergoncang ombak, sementara tangan mereka kebas menariki tali dan kail yang ternyata kosong dan sepi.

Para nelayan pulang dengan wajah legam nan lesu, tak kuasa menatap istri dan anak yang sudah menanak beras sisa dan parutan kelapa. Mereka menanti lauk dari bapaknya. Namun yang diharapkan hanya bisa berbagi napas.

Kini mari kembali ke dunia terdekat kita. Saya paham bahwa pembaca tulisan ini pasti (sebagian besar) bukan nelayan. Juga mungkin bukan pemancing. Dengan begitu, sulit untuk benar-benar merasakan betapa lelah bin frustrasinya ketika dirimu berjam-jam, atau bahkan berhari-hari, diguyur terik mentari dan cipratan ombak yang membuatmu mencari pegangan sembari mual, sementara ikan-ikan yang kalian dambakan sama sekali tiada yang naik ke perahu.

Saya mengerti, bahwa mayoritas kita kini adalah generasi yang chronically digital. Orang-orang yang melakukan ritual yang dulu terbalik: dahulu, dunia digital adalah pelarian dari dunia nyata, sementara kini dunia nyata menjadi pelarian dari dunia digital yang semakin lengket membekap kita. Dan, bagi siapa pun yang masih berakal waras, pelarian ke sungai dan laut yang jorok tanpa ikan mustahil termasuk ke dalam daftar tempat di “dunia nyata” yang ingin mereka datangi.

Dan itulah yang kita alami sebagai generasi hari ini, di negeri ini. Bagaimana dengan generasi mendatang? Jangan-jangan, nanti bukan hanya tidak bisa mencicipi rasa gurih nikmatnya ikan wader kali; mereka boleh jadi tak pernah bisa menyentuh dan mengamatinya secara langsung bagaimana wujud ikan bernama “wader”. Barangkali, mereka cuma bisa menengoknya di buku-buku ensiklopedia bergambar—yang kini tergantikan oleh Google dan ChatGPT.

Maka, para nelayan dan pemancing pun memaki lemas—dengan nada fatalisme penuh frustrasi senyap: Rusaklah, rusak sudah! Rusaklah sungai-sungai dan laut-laut kami, sampai tak ada lagi ikan untuk melempar umpan, apalagi untuk dimakan. Dan saya ikut di barisan mereka.[]