Site icon Rumah KitaB

Menjadi Pembelajar seperti Ibn Abbas

Ketika membahas seputar tafsir di era sahabat, salah satu nama yang tidak bisa dilepaskan adalah Abdullah ibn Abbas. Dalam sejarah, beliau dikenal dengan sebutan Tarjuman al-Quran. Pertanyaannya adalah, mengapa Ibn Abbas bisa mendapatkan predikat tersebut?

Imam Husain az-Zahabi dalam kitabnya, at-Tafsir wa al-Mufassirun, menerangkan alasan Ibn Abbas menjadi orang yang spesial dalam memahami Al-Quran.

Spiritualitas, Keberkahan Ilmu, dan Pentingnya Peran Keluarga

Pertama, Ibn Abbas adalah salah satu sahabat yang sudah dipersiapkan oleh Nabi sebagaimana tersirat dalam doa beliau kepada Ibn Abbas:

Ya Allah, fahamkanlah ia (Ibn Abbas) dalam urusan agama, dan ajarkan ia dalam perkara ta’wil.

Dalam konteks ini, pengetahuan dibangun bukan hanya berdasarkan pembelajaran secara terus-menerus, melainkan ada aspek spiritual. Seseorang bisa paham tentang satu ilmu, bukan hanya karena usahanya, tetapi yang terpenting, semua ilmu adalah karunia dari Tuhan.

Mengedepankan horizon ini, selayaknya seorang pembelajar tidak sombong dan jumawa dengan kepakarannya. Di fenomena terkini, kita kerap menyaksikan maraknya ijazah palsu, komersialisasi gelar akademik, hingga kasus plagiarisme demi mengejar status sosial semata. Padahal, ilmu yang benar bukan sebatas gelar formal, melainkan ilmu yang makin mendekatkan diri kita kepada Sang Pencipta dan membentuk kerendahan hati.

Kedua, Ibn Abbas tumbuh dan berkembang di rumah Nabi, menghabiskan waktu bersama Nabi hingga masa remajanya. Pendidikan yang paling utama adalah di rumah, terlebih di masa keemasan seorang anak (golden age). Ibn Abbas adalah contoh bagaimana generasi emas lahir dari pendidikan rumah.

Fenomena hari ini, kita sering kali memandang pendidikan selesai begitu saja ketika menyerahkan anak ke sekolah. Orang tua merasa tugasnya selesai setelah membayar uang sekolah. Padahal, pendidikan sekolah hanyalah salah satu sarana, bukan yang utama. Secanggih apa pun metode pendidikan di sekolah, jika sang anak tidak mendapatkan kasih sayang, perhatian, dan teladan karakter di rumah, akan sulit melahirkan generasi emas di masa mendatang.

Tantangan Era Digital: Kehilangan Figur Guru dan Keterasingan Sastra

Ketiga, Ibn Abbas juga banyak belajar dari sahabat-sahabat senior setelah Nabi wafat. Di sinilah keberlanjutan pendidikan seutuhnya. Setelah mendapatkan pendidikan yang memadai di rumah, seorang anak berlanjut mendapatkan pelajaran kehidupan di lingkungan sekitar.

Teladan Ibn Abbas belajar dari sahabat senior ini menekankan pentingnya menjaga ketersambungan sanad (silsilah) pengetahuan melalui guru. Saat ini, di tengah maraknya kecanggihan teknologi, platform media sosial, dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), peran sanad dan figur guru sering kali bergeser.

Kita tidak perlu keluar rumah untuk belajar, cukup menggulirkan layar di gawai pribadi atau bertanya pada mesin pencari. Ketiadaan instruksi guru secara langsung ini berisiko membuat mata rantai keilmuan terputus dan pemahaman menjadi dangkal.

Di samping itu, dalam Islam, seorang murid belajar tidak hanya mencari ilmu, tetapi juga berkah melalui adab dan etika berinteraksi dengan guru. Pendidikan akhlak inilah yang tidak didapatkan dari berguru pada media digital, sebab tidak ada pengalaman perjumpaan apalagi keteladanan kehidupan. Meski pada saat yang sama, PR pendidikan fisik kita juga masih bertumpuk, terutama fenomena kekerasan, perundungan (bullying), dan krisis keteladanan moral di lingkungan sekolah.

Keempat, Ibn Abbas adalah salah satu sahabat yang punya perhatian mendasar terhadap bahasa Arab, terutama sastra dan syair Arab. Selain persoalan lingkungan, pembelajaran bahasa juga hal yang penting. Bahasa adalah cerminan kehidupan manusia. Seorang yang beradab akan tercermin dari caranya berbahasa.

Ibn Abbas memberikan keteladanan untuk memperhatikan bahasa, terutama sastra dan syair Arab. Dalam sebuah riwayat, Ibn Abbas menuturkan:

Jika salah seorang dari kalian membaca sesuatu dari Al-Quran lalu tidak mengetahui tafsirnya, hendaknya ia mencarinya dalam syair, karena syair adalah perbendaharaan orang Arab.

Fenomena hari ini menunjukkan semakin merosotnya literasi dan daya imajinasi anak bangsa akibat konsumsi konten serba instan, seperti video pendek. Penting mengenalkan anak dengan sastra sejak dini. Sastra membentuk manusia menjadi pribadi yang peka, empati, serta mampu dan berani berimajinasi melalui diksi. Manusia yang miskin imajinasi tak akan mampu bermimpi.

Inilah yang bisa dilihat dari potret anak-anak SD Muhammadiyah Gantong di film Laskar Pelangi. Awalnya, mereka hidup sebagai generasi pesimis dan sulit bermimpi. Bagaimana bisa bermimpi tinggi kalau mereka tumbuh dalam lingkungan masyarakat miskin, di mana cita-cita mereka hanyalah lulus SD dan melanjutkan pekerjaan orang tuanya menjadi buruh pabrik atau nelayan.

Namun, pengajar di sekolah yang nyaris tutup itu mengajarkan mereka bagaimana cara untuk bermimpi—bahwa meski terlahir miskin, bukan berarti harus menyerah pada kemiskinan tersebut. Mereka bisa mengubah taraf hidupnya melalui pendidikan.

Kemerdekaan Berpikir dan Esensi Ijtihad

Puncaknya, pendidikan akan melahirkan manusia independen yang merdeka dalam berpikir. Inilah alasan kelima yang membuat posisi Ibn Abbas menjadi unggul dalam penafsiran Al-Quran. Dengan modal doa, lingkungan yang kondusif, dan penguasaan bahasa, Ibn Abbas mengoptimalkan akalnya untuk berijtihad. Inilah esensi tafsir bir ra’yi atau bil ijtihad yang selama ini banyak dicerca.

Di era informasi saat ini, kerap muncul fenomena klaim kebenaran sepihak dan penghakiman cepat terhadap perbedaan pendapat. Padahal yang dilarang adalah menafsirkan Al-Quran secara asal-asalan tanpa basis keilmuan yang matang dan hanya berlandaskan hawa nafsu. Sementara penafsiran yang berbasis keilmuan, logika yang sehat, serta metodologi yang sahih adalah tafsir bir ra’yi yang terpuji dan sangat dibutuhkan untuk menjawab tantangan zaman.

Salah satu bukti kecerdasan Ibn Abbas adalah ketika menafsirkan surat an-Nashr. Ketika banyak sahabat memahami ayat itu dengan suka cita janji kemenangan, Ibn Abbas justru bersedih. Sebab turunnya ayat itu menjadi bukti bahwa dakwah Nabi sebentar lagi usai, dan ketika itu terjadi, maka saatnya Nabi dipanggil ke hadapan Ilahi.

Apa yang dilakukan oleh Ibn Abbas adalah contoh memahami Al-Quran dengan akal dan hati tanpa menabrak makna tekstual. Suatu upaya yang tidak semua orang mampu melakukannya tanpa upaya yang panjang untuk menjadi pribadi pembelajar. Sayangnya, saat ini semakin jarang ditemukan sosok seperti Ibn Abbas, yang cinta pada ilmu dan sepanjang hayatnya mengabdikan diri pada pengetahuan.

Exit mobile version