Site icon Rumah KitaB

Bagaimana Aku Bisa Berkurban, Tuhan?

الله اكبر الله اكبر الله اكبر، لا اله الا الله و الله اكبر، الله اكبر و لله الحمد

Ketika Nabi Ibrahim As berhasil melewati ujian terberat sebagai seorang ayah dan sebagai seorang hamba, pada saat itu pula putranya juga diberikan kekuatan yang luar biasa untuk melewati ujian sebagai seorang anak dan seorang hamba. Ibrahim as tidak semena-mena, sepihak, tetapi dengan penuh ketabahan ikut menanyakan pendapat putranya. Hal ini sungguh menjadi pelajaran terindah dan Allah Swt. mengabadikan dalam firmannya QS. As-Shaffat (37): 102.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ

Dalam tafsir Kemenag dijelaskan bahwasannya ayat ini menerangkan ujian yang berat bagi Ibrahim. Allah memerintahkan kepadanya agar menyembelih anak satu-satunya sebagai korban di sisi Allah. Menurut al-Farra’, usia Ismail pada saat itu 13 tahun. Ibrahim dengan hati yang sedih memberitahukan kepada Ismail tentang perintah Tuhan yang disampaikan kepadanya melalui mimpi.

Dia meminta pendapat anaknya mengenai perintah itu, yang merupakan cobaan yang besar bagi orang tua dan anak. Tak disangka, anak yang baru menginjak usia remaja itu memeberikan jawaban yang menggetarkan hati, tidak akan ragu menerima qada dan qadar Tuhan. Dia dengan tabah dan sabar akan menahan derita penyembelihan itu. Ayat ini menggambarkan keharmonisan hubungan ayah dan anak atas dasar cinta pada Allah Swt.

Berkurban bukan hanya sebatas mengalirkan darah hewan sembelihan, namun lebih dari itu. Sebagaimana makna lafadh-nya, berkurban adalah tekad atau pembuktian untuk ber-taqarrub, mendekatkan diri pada Tuhan, Pencipta seluruh alam. Seperti yang terkandung dalam QS. Al-Hajj (22): 37.

 لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ

Quraish Shihab dalam tafsirnya menjelaskan ayat ini menentang tradisi manusia pada waktu itu yang mempersembahkan darah dan daging kepada tuhan-tuhan mereka. Misalnya masyarakat Makkah pada waktu itu yang menempelkan darah-darah sembelihan itu pada dinding-dinding Ka’bah. Masyarakat Yunani kuno yang membakar daging-daging persembahan itu dan meyakini bahwa aroma daging bakar menyenangkan Tuhan. Pemotongan kepala kerbau dan pemancaran darahnya di atas pembangunan jembatan, atau dan masih banyak lagi tradisi-tradisi yang serupa yang bisa kita eksplore lebih jauh.

Dari lafaz takbir pada pembukaan tulisan ini dan dua ayat di atas, kita dapat merefleksikan bahwasannya pengagungan pada Allah, pengakuan bahwasannya Allahlah Yang Maha Besar, yang akan mampu menuntun jalan seorang hamba untuk mendekatkan diri pada Penciptanya. Selagi ego, hadhu nafsi, keberuntungan diri sendiri yang masih memenuhi jiwa maka jalan menuju pendekatan diri akan berliku dan cara kita melaluinya akan terseok-seok. Dapatkah aku berkurban?

Sebagai seorang mahasiswa yang belum memiliki anak, tentu bukan anak yang diminta Tuhan untuk aku kurbankan atas namanya. Aku yang hidup di era serba canggih seperti saat ini mungkin diminta Tuhan untuk menyerahkan Hp atas dasar cinta pada-Nya. Hp yang hampir tidak pernah terlepas di mana pun kita berada. Bahkan pada saat sholat, ibadah yang hanya untuk Allah, Hp bisa berdering menerobos dan mengusik sholat kita. Sholat yang seharusnya hanya untuk Allah pun bisa menjadi hanya untuk pencitraan diri, bila ‘bagian diri’ terus kita kedepankan.

Bukan hanya salat, ibadah kurban pada bulan Zulhijjah juga bisa dipersembahkan hanya pada Hp, bukan lagi lillahi ta’ala. Hp bisa menuntut kita banyak hal, menyita banyak waktu kita, bahkan bisa merenggut kebersamaan bersama keluarga. Keberadaan kita di tengah-tengah suatu acara bukan lagi kehadiran yang sesungguhnya. Diri kita bisa tidak sungguh-sungguh hadir dan hanya berada di sana saja. Tanpa pemaknaan, hanya pencitraan.

Aku sebagai mahasiswa yang seharusnya menekuni apa yang sudah kupilih, bisa terlena dan tidak lagi banyak membaca layaknya seorang pelajar. Tidak sibuk meneliti dan mencermati. Hanya sekedar potret diri untuk diakui. Hp bisa menjelma sebagai perampok yang kita kawani, atau seperti koruptor negeri ini. Tak terasa banyak sekali yang telah ia curi.

Menurut survei We Are Social, yang dikutip dalam buku “Pendidikan Etika, Teknologi, & Literasi Digital” penggunaan internet di Indonesia melalui mobile phone menduduki peringkat satu dunia. Pada rentan usia 13-17 dan 18-24 memiliki risiko kecanduan internet atau internet addiction sebesar 73% dan 71%. Hal ini tentu memiliki dampak buruk pada kesehatan fisik, mental dan sosial.

Beberapa aktivitas digital memiliki potensi menciptakan ketergantungan atau biasa disebut dengan digital drug. Mekanisme like, coment, dan notifikasi yang terdapat di Instagram, X, FB atau WA seringkali mendorong untuk terus berinteraksi. Dopamin yang didapatkan melalui aktivitas tersebut kerapkali memaksa kita untuk terus memeriksa, berbagi, dan mendapatkan banyak pengakuan. Begitu juga dengan game online yang menawarkan rasa puas saat mencapai suatu tingkatan atau memenangkan suatu pertandingan. Dorongan untuk mencapai level yang lebih tinggi, atau hadiah-hadiah di dalamnya membuat kita terjebak dan terus ingin bermain di dalamnya.

Tuhan, bagaimana aku bisa berkurban? Sedang Hp-ku masih begitu lengket dan susah untuk kujauhi. Ketika kutanya padanya apakah kamu mau aku kurbankan, tentu dia memberontak dan merengek karena dia ingin menjadi tuhan-tuhan kecil yang menguasaiku.

 

Bacaan lebih lanjut:

Al-Qur’an Kemenag add in word

Faisal Budiman, et all., Pendidikan Etika, Teknologi, & Literasi Digital, Yogyaarta: Diandra, 2024

Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah versi apk mobile phone

Exit mobile version