Siapa yang pernah mendengar narasi bahwa masyarakat di Indonesia memiliki tingkat literasi yang rendah? Literasi tidak hanya mencakup soal seberapa banyak buku yang sudah dibaca, tetapi juga kemampuan untuk sekadar memahami tanda peringatan di tempat umum atau memahami konteks diskusi.
Rendahnya kemampuan literasi tidak serta-merta merupakan kesalahan individu yang kurang membaca buku, tetapi lebih jauh dari itu. Masyarakat Indonesia kesulitan membeli buku karena harganya yang melambung tinggi hingga melebihi uang makan untuk sehari-hari. Satu-satunya akses adalah melalui e-book atau buku digital, perpustakaan offline, maupun perpustakaan daring seperti iPusnas.
Kecewa sekali ketika anggaran pendidikan dan literasi di negara kita dipotong sangat besar. iPusnas sebagai perpustakaan daring yang menjadi platform untuk membaca gratis sering terkendala galat. Masyarakat Indonesia harus “mengakali” cara lain untuk tetap bisa membaca buku dengan berhadapan jam buka-tutup perpustakaan yang tidak sesuai kultur jam kerja masyarakat.
Sungguh disayangkan penghasilan warga dari bekerja dari pagi hingga malam, tidak digunakan untuk meningkatkan ekosistem literasi di negara kita. Padahal, kecerdasan literasi dan kebiasaan membaca sangat penting untuk kemampuan berpikir. Akan lebih baik lagi, jika kebiasaan ini diterapkan pada anak-anak.
Kebiasaan membaca akan tumbuh jika negara menyediakan ruang bagi anak-anak untuk mengeksplorasi berbagai bacaan. Sayangnya, perpustakaan kita hanya buka di jam kerja, kurang lebih sekitar pukul 4 sore. Mungkin berbeda daerah, ada yang beda pula jam tutup perpustakaannya. Orang tua jadi tidak punya pilihan selain membelikan buku anak demi mencerdaskan anak mereka sejak dini. Lagi-lagi, pembelian buku juga mengalami kendala ketika dihadapkan dengan label harga di tiap bukunya.
Ruang Baca Anak sebagai Solusi Sementara
Langkah yang bisa dilakukan di tengah carut-marut permasalahan saat ini adalah menyediakan ruang baca yang ramah anak. Salah satu temanku membuka perpustakaan ramah anak di Yogyakarta dan aku melihat anak-anak begitu antusias mengunjungi perpustakaan tersebut. Setidaknya, meski anak tidak ada hubungan kepemilikan langsung dengan buku, mereka tetap memiliki aktivitas membaca.
Selain perpustakaan, toko buku tempatku bekerja sebagai book advisor kini sudah menyediakan ruang baca untuk anak. Setiap akhir pekan, ruang baca anak menjadi tempat yang sangat ramai dikunjungi oleh anak dan orang tuanya. Mereka senang sekali membuka berbagai buku sampel dan belajar mengenali hewan, tumbuhan, luar angkasa, transportasi, dan lainnya. Bahkan, ketika aku sempat menjadi book advisor di area anak, aku melihat banyak orang tua mengajarkan anaknya yang berusia di bawah 1 tahun untuk membaca dengan buku-buku sampel tersebut.
Aku juga kagum dengan orang tua hingga kakek-nenek yang menaruh perhatian pada tingkat literasi anak. Ketika menjaga area anak, aku pernah menjumpai dan berbincang sebentar dengan nenek yang sangat mengusahakan membeli buku untuk cucunya. Waktu itu, nenek tersebut ingin buku bacaan yang tidak terlalu banyak gambar agar cucunya bisa fokus membaca huruf-hurufnya. Meski aku agak kesulitan mencari buku serupa, tetapi aku mengapresiasi upaya seorang nenek demi kemaslahatan membaca generasi selanjutnya.
Sebenarnya, Anak Tertarik Membaca Buku
Mengapa aku bisa menulis sub-judul tersebut? Tidak lain kembali pada pengalaman pribadiku sebagai book advisor. Sehari-hari aku menjaga area buku sosial-politik dan tercakup di dalamnya buku-buku mengenai sejarah perang dunia. Hingga saat ini, kurang lebih sudah ada 4 hingga 5 anak yang tertarik membaca buku sejarah perang dunia.
Mereka adalah anak-anak usia SD dan aku pernah bertanya kepada salah satu dari mereka. “Tahu perang dunia dari mana?” tanyaku kala itu sambil membuka plastik buku. Lalu aku melanjutkan, “dari TikTok, ya?” dan anak tersebut mengangguk dengan sedikit malu-malu.
Mendengar respons tersebut, aku senang karena anak-anak setidaknya membaca referensi resmi dari buku. Bukan hanya mendengarkan penjelasan sejarah melalui media sosial. Dengan membaca referensi sejarah dari buku, anak-anak akan bisa menyelami lebih jauh mengenai sejarah dan bisa membuat mereka beropini terkait buku yang dibaca. Kemampuan beropini dan menyampaikan pendapat akan melatih cara berpikir dan akan berguna bagi anak dalam kehidupan sehari-harinya.
Sebenarnya, masih ada anak yang memiliki minat tinggi dalam membaca dan eksplorasi buku bacaan. Apalagi jika mereka tertarik dengan topik tertentu dan ingin mengetahui lebih jauh dengan membaca buku. Akan tetapi, minat membaca anak yang tinggi tidak diikuti dengan kemampuan negara untuk memperbaiki ekosistem literasi. Pajak untuk buku yang dikenakan berdampak pada kenaikan harga buku, yang lagi-lagi tidak diiringi dengan kondisi ekonomi yang baik.
Kabar buruknya lagi, dana pendidikan dan literasi yang seharusnya menjadi prioritas justru dipangkas besar-besaran. Dengan terpaksa, kita hanya bisa mengandalkan sesama warga Indonesia untuk mencerdaskan generasi selanjutnya dengan menyediakan ruang baca anak maupun mendampingi mereka membaca.

