Site icon Rumah KitaB

Laga Bola Kehidupan

Setiap empat tahun sekali, warga dunia punya demam yang sama: demam piala dunia. Bedanya dengan demam fisik, demam ini diminati hampir oleh seluruh orang. Mereka yang tidak suka bola pun seketika gandrung dengan bola.

Saya termasuk kelompok yang tidak menaruh atensi pada olahraga sepak bola. Saya lebih tertarik bermain bulu tangkis daripada sepak bola. Mungkin karena bulu tangkis adalah olahraga individual. Tidak perlu bekerja sama dengan orang lain yang bisa menimbulkan konflik.

Meski demikian, olahraga sepak bola menjadi bagian dari kenangan saya di masa kecil. Sama seperti banyak generasi milenial yang melalui masa kanak-kanak dengan bermain bola di tengah jalan hingga pinggir sungai. Bermain di sore hari hingga menjelang magrib dan baru bubar ketika orang tua telah memanggil anaknya pulang. Sepak bola menjadi memori kolektif, bahkan hingga kini terus eksis dengan berbagai perkembangannya.

Dengan fenomena itu pula, bola menjadi alat perekat bangsa. Gus Dur sebagai penikmat sepak bola, punya catatan amat banyak seputar olahraga satu ini. Setiap laga piala dunia berlangsung, sejak tahun 1982, ketika Spanyol menjadi tuan rumah piala dunia, hingga tahun 2000 kala beliau menjabat sebagai presiden, ia tak pernah absen menulis kolom tentang sepak bola di berbagai media.

Selain Gus Dur, sahabatnya, Romo Sindhunata, menulis trilogi “Bola-bola Nasib: Catatan Sepak Bola Sindhunata.” Catatan dari dua tokoh ini bukan hanya menyoroti pertandingan sepak bolanya semata, tetapi juga meminjam sepak bola sebagai pisau analisis menyoroti berbagai persoalan bangsa.

Tulisan singkat ini bukan bermaksud menyamai catatan reflektif dua tokoh bangsa. Namun, tulisan ini mencoba mengikuti tradisi baik para tokoh untuk turut serta memeriahkan perhelatan akbar dunia ini.

Tahun 1999, Kheyentse Norbu menyutradarai film berjudul The Cup. Film ini berkisah tentang dua calon biksu yang mengungsi dari Tibet di sebuah biara Himalaya di India yang berusaha untuk mendapatkan sebuah televisi untuk biaranya agar bisa menonton final Piala Dunia 1998.

Dalam film tersebut, ada dialog antara Biksu Kepala dengan salah seorang pengurus asrama. Biksu Kepala bertanya tentang arti piala dunia dan dijawab secara spontan, Piala Dunia adalah “dua bangsa beradab yang berjuang memperebutkan sebutir bola”.

Film The Cup yang sudah rilis puluhan tahun silam mengandung canda sekaligus makna. Bagaimana para biarawan yang hidup dalam ‘penjara suci’, mencoba terhubung dengan dunia luar melalui pentas sepak bola dunia. Di Indonesia, dunia pesantren sejak dulu telah akrab dengan olahraga ini. Bahkan dalam proses piala dunia, banyak pesantren yang mengadakan nonton bareng.

Sepak bola memang olahraga yang merangkul semua: lintas gender, suku, budaya, bahkan agama. Dua orang yang berbeda ideologi, satu bertuhan dan lainnya tidak bertuhan, bisa bersatu dipertemukan oleh klub bola yang sama. Ketika orang bisa berperang satu sama lain, bola membuat semuanya menjadi satu meja perundingan.

Di satu sisi, sepak bola dianggap sudah seperti institusi agama sendiri: memancing fanatisme. Di Indonesia, kecintaan pada klub bola daerah bisa berujung kericuhan. Fanatisme memang bisa terjadi di mana dan kepada siapa saja. Dan ini adalah musuh kemanusiaan yang menimbulkan perpecahan.

Lantas, bagaimana melawan fanatisme? Dari laga bola kita juga belajar dasar moral. Albert Camus, sastrawan Prancis ketika ditanya dari mana Anda belajar moral, ia menjawab, “dari olahraga.” Camus belajar bahwa dalam olahraga yang diolah bukan hanya tubuh, tetapi juga sikap. Ungkapan “He is a good sport” bagi orang Inggris bukan hanya kelincahannya berolahraga, melainkan juga kesediaan menerima kekalahan dengan hati bersih dan berniat menang tanpa menjegal.

Persis seperti gambaran biksu muda dari Tibet dalam film The Cup di atas. Ia menggambarkan pentas piala dunia sebagai perlombaan bangsa yang beradab. Apa ukuran keadaban? Dalam konteks sepak bola, adab itu tercermin dalam prinsip sportivitas. Kejujuran dijunjung tinggi, aturan dihormati. Kalah dan menang adalah hal yang pasti.

Karenanya pertandingan ini menjadi simbol ‘peradaban’. Namun, realitasnya, banyak kecurangan terjadi. Pemain yang menggunakan obat untuk bisa maksimal berlomba, wasit yang sudah memihak, hingga aturan yang dibuat untuk melemahkan pihak tertentu.

Laga bola juga sering menunjukkan hal-hal yang mengejutkan. Tidak sedikit klub yang tidak diperhitungkan justru menjadi kuda hitam mengalahkan klub besar. Persis seperti kisah David yang kecil melawan Goliath sang raksasa yang direkam dalam Alkitab.

Namun, kalau mau ditilik, tidak ada yang kebetulan. Mereka yang menggapai kemenangan adalah yang berjuang paling gigih. Karenanya pula, kemenangan sepak bola tidak bisa diklaim oleh pihak tertentu. Ia adalah kemenangan bersama. Ada banyak pihak yang saling berkorban demi kesuksesan.

Pertama, tentu mereka para pemain sepak bola. Di balik kesuksesan nama-nama besar seperti Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, Kylian Mbappe, Erling Haaland, dan lain-lain, ada perjuangan yang gigih bertahun-tahun. Di mana pun, kita bisa belajar bahwa orang sukses tidak diciptakan dalam waktu cepat. Mereka melatih otot dan mental di bawah tekanan jutaan pasang mata, membuktikan bahwa bakat tanpa determinasi hanyalah potensi yang layu sebelum berkembang.

Kedua, penjaga gawang. Seorang penjaga gawang adalah seorang yang soliter sekaligus solider. Ia terbiasa bekerja sendiri tetapi hadir dalam sebuah tim yang solid. Ia teramat jauh di garis belakang. Namun, di pundak kesendiriannya itulah pertahanan terakhir sebuah kehormatan diletakkan. Ketika semua orang maju menyerang, ia tetap setia menjaga ‘rumah’ agar tidak runtuh.

Dalam konteks dunia sosial, penjaga gawang bisa berupa guru bangsa, tokoh agama atau pemuka adat yang menjaga nilai-nilai moral tetap utuh. Bayangkan jika penjaga gawang ikut maju menjadi striker, tak ada lagi benteng pertahanan. Apatah lagi sebuah negara. Ketika semua masuk dalam pusaran politik, siapa lagi yang bersuara lantang menjaga nilai etik?

Ketiga, wasit yang memegang kendali. Sebagai pengadil di lapangan hijau, wasit melambangkan hukum dan keadilan yang mutlak. Di tengah tensi pertandingan yang meninggi dan ego para pemain yang meletup-letup, peluit wasit adalah jangkar waras yang menjaga laga agar tidak berubah menjadi arena jagal. Darinya kita belajar, sebuah tatanan hidup bersama hanya akan tetap beradab selama hukum ditegakkan tanpa pandang bulu, tidak condong pada kekuasaan maupun uang.

Keempat, penonton yang bersorak sorai. Jika ada pelajaran yang bisa ditarik dari pertandingan besar sepak bola, maka poinnya adalah tanpa orang banyak, tanpa penikmat, yang gandrung dan tergila-gila, permainan di lapangan akan segera kehilangan makna.

Penonton memberikan ruh, mengubah benturan fisik antarpemain menjadi sebuah drama kemanusiaan yang menguras air mata sekaligus mengobarkan harapan. Penonton adalah potret masyarakat umum secara luas. penonton yang cerdas akan menghasilkan laga yang berkualitas pula.

Kelima, politisi yang mengambil kebijakan. Di luar garis lapangan, sepak bola tidak pernah benar-benar steril dari kuasa politik. Dari urusan diplomasi antarnegara, regulasi kompetisi, hingga urusan hajat hidup suporter di akar rumput, kebijakan politik memegang peranan krusial.

Ketika para pembuat kebijakan mampu menempatkan olahraga ini sebagai alat pemersatu dan ruang rekreasi yang aman bagi rakyat, bukan sekadar panggung pencitraan atau komoditas industri, maka sepak bola benar-benar menjelma menjadi perayaan peradaban yang paripurna.

Sayangnya, kita menyaksikan bagaimana olahraga ini pun dipolitisasi. Hingga saat ini, timnas kita tidak bisa bertandang dalam pentas dunia. Sebab para pengelolanya lebih sibuk membagi kekuasaan daripada fokus pembinaan dan pengembangan para atlet.

Pada akhirnya, sembilan puluh menit di lapangan hijau hanyalah mikrokosmos dari sebuah laga yang lebih besar: laga kehidupan. Kita semua sedang bertanding, entah sebagai striker yang mengejar mimpi, penjaga gawang yang merawat kesetiaan, atau penonton yang merayakan keberadaan orang lain.

Dan seperti sebuah akhir pertandingan yang baik, yang terpenting bukanlah seberapa banyak gol yang kita hasilkan, melainkan apakah kita telah bermain dengan adab dan sportivitas sampai peluit panjang dibunyikan. Ketika itu, kita hanya bisa bertepuk tangan atau tertunduk menerima kekalahan.

Exit mobile version