Beberapa waktu lalu, saya bersama para mahasiswa membaca kitab yang ditulis satu abad silam oleh Syakib Arslan, Limadza Ta’akkhara al-Muslimun wa Taqaddama Ghayruhum, Mengapa Umat Islam Terbelakang dan Yang Lain Maju? Meski telah berusia ratusan tahun, pesan di dalamnya tetap bergema, menghantam kenyataan hari ini.
Menarik mengulas latar belakang penulisan kitab tersebut sebelum mengulik isinya. Kitab tersebut ditulis atas pertanyaan yang disampaikan oleh seorang ulama Nusantara bernama Muhammad Basuni Imran dari Sambas, Kalimantan Barat. Siapa kira, daerah yang kini berjuang melawan kebakaran hutan dan lahan, dulu mempunyai ulama yang kegelisahannya mengguncang intelektualisme Islam.
Syaikh Basuni gelisah, mengapa kami yang ada di Tanah Melayu dan umat Islam di berbagai belahan dunia, memasuki abad ke-20, justru terbelakang. Beliau punya dua pertanyaan: apa sebab kemunduran umat Islam dan apa kunci kemajuan Barat? Pertanyaan tersebut mengundang Syaikh Arslan—yang memang sering menulis artikel di Majalah Al-Manar di Mesir—menulis kitab dengan judul pertanyaan epistemik tersebut.
Arslan menjawab bahwa alasan utama yang membuat umat menjadi mundur adalah kebodohan. Penyakit ini membuat umat Islam mudah dijajah dan diadu domba. Eropa dengan semangat pencerahannya berhasil menggapai ilmu pengetahuan. Sayangnya, ilmu itu justru digunakan untuk menjajah bangsa lain. Namun, Arslan mencatat bahaya yang jauh lebih mematikan dari sekadar kebodohan biasa adalah pengetahuan yang setengah-setengah. Seorang bodoh yang sadar akan ketidaktahuannya masih dapat dibimbing.
Sebaliknya, mereka yang memiliki ilmu setengah-setengah merasa paling tahu padahal tidak tahu. Terhadap kelompok yang demikian, sulit berdiskusi apalagi membimbing mereka. Kondisi ini kian sering terjadi di tengah disrupsi informasi dunia maya. Banyak orang yang belum tahu persoalan, ikut berbicara hanya bermodal satu potongan judul berita.
Kerusakan Akhlak dan Jebakan Penguasa Nir-Empati
Kemunduran peradaban tak pernah berhenti pada perkara minimnya wawasan, melainkan berakar kuat pada kerusakan akhlak. Padahal, akhlak dalam membangun peradaban menduduki posisi di atas sekadar akumulasi pengetahuan. Sebagaimana bait indah penyair ternama, Ahmad Syawqi: “Sesungguhnya kejayaan bangsa-bangsa itu ada selama akhlak mereka tetap ada; jika akhlak mereka telah lenyap, maka lenyap pulalah bangsa tersebut.”
Krisis moral ini mewujud paling destruktif pada diri para pemimpin. Ada ilusi yang mengakar kuat bahwa rakyat diciptakan hanya untuk diperlakukan sekehendak hati. Ketika ada sosok tulus yang berusaha meluruskan jalannya kekuasaan, penindasan kejam dijatuhkan sebagai ancaman bagi yang lain.
Celakanya, sebagaimana diungkap oleh Arslan, kondisi ini diperparah dengan hadirnya para intelektual dan ulama penjilat (mutazallifun). Menikmati fasilitas dan bergelimang kenikmatan penguasa, mereka tanpa ragu menerbitkan legitimasi bahkan fatwa untuk menyingkirkan para orang yang jujur dengan tuduhan merusak ketaatan.
Panggilan Kitab Suci: Menjadi Umat Berpikir dan Berdaya
Dalam situasi demikian, tak salah jika kita menyebut zaman ini adalah era dekadensi intelektual. Tom Nichols menyebut dengan istilah the death of expertise. Ronggowarsito menyebutnya dengan ungkapan zaman edan. Apa pun istilahnya, semua merujuk pada nilai yang sama, minimnya semangat belajar dan cinta ilmu pengetahuan.
Padahal, Al-Quran secara konsisten mendorong aktivitas penalaran dan daya kritis manusia melalui pengulangan kata kunci yang masif pada akhir ayat-ayatnya. Ada ajakan untuk berpikir (yatafakkarun) sebanyak 12 kali, seruan menggunakan akal (ya’qilun) sebanyak 44 kali, kemauan mengambil pelajaran tadzakkur) sebanyak 33 kali, pemahaman mendalam (yafqahun) sebanyak 9 kali, pondasi keilmuan yang kokoh (‘alima) sebanyak 120 kali, sedangkan ajakan untuk beraksi dan berkarya (ya’malun dan yaf’alun) sebanyak 93 dan 18 kali. Demikian hitungan kuantitatif yang dilakukan oleh Dr. Muhammad Hasan Abu Naja dalam kitab at-Tajdid fi at-Tafsir. Beliau pun melanjutkan ulasannya dengan menegaskan:
وَهٰذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْقُرْءَانَ لَا يُرِيْدُ مِنَ الْأُمَّةِ أَنْ تَكُوْنَ أُمَّةً عَامِلَةً فَحَسْبُ، بَلْ يُرِيْدُهَا – فَوْقَ هٰذَا – أَنْ تَكُوْنَ أُمَّةً مُتَمَيِّزَةً بِمَيِّزَاتٍ لَيْسَ لَهَا نَظِيْرٌ،
“Dan hal ini menunjukkan bahwa Al-Quran tidak hanya menginginkan umat ini menjadi umat yang beramal saja, melainkan—di atas semua itu—menginginkannya menjadi umat yang unggul dengan keistimewaan-keistimewaan yang tidak ada tandingannya.”
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa amal harus didahului dengan ilmu. Di saat yang sama, ilmu tidak bisa dipisahkan dari pengamalan. Nyatanya, banyak orang yang beramal tanpa dasar pengetahuan. Dalam konteks yang sempit, jika amal dipahami sebagai ibadah mahdhah, berapa banyak orang yang beribadah sembari memperdalam wawasan keagamaannya. Dalam konteks yang lebih luas, mereka yang sudah sibuk bekerja dengan segudang tuntutan, biasanya amat sulit untuk belajar dan meningkatkan kapasitas keilmuannya, sehingga terjebak pada zona nyamannya sendiri.
Membangkitkan Ghirah Ilmu di Tengah Dekadensi Modern
Mencintai ilmu pengetahuan hari ini bukan lagi sekadar pilihan akademis, apalagi sebatas mendapat selembar ijazah; melainkan syarat bertahan hidup di tengah dekadensi pengetahuan yang kian memprihatinkan. Kita hidup dalam budaya yang tidak menghargai pengetahuan secara layak. Betapa banyak kita mendengar anggaran perpustakaan yang dipotong besar-besaran, berbanding terbalik dengan anggaran makan yang digelontorkan habis-habisan.
Ironinya, makanan yang tidak termakan berujung menjadi sampah ekologis yang kian menumpuk. Sementara buku yang tak terbaca, itu hanya soal waktu. Pada saatnya, buku akan menemukan pembacanya. Tak ada istilah mubadzir pada investasi pengetahuan.
Di tengah maraknya gaya hidup yang serba instan dan mengejar kesenangan belaka, tidak sedikit orang tua yang justru mengarahkan anaknya untuk menjauhi ilmu yang mendalam demi keuntungan praktis jangka pendek.
Saat ini, ukuran keberhasilan kuliah sering kali hanya dinilai dari “setelah lulus kerja di mana?” dan “gajinya berapa digit?”, bukan lagi tentang “ilmu apa yang didapat?” atau “apa manfaat ilmu tersebut bagi masyarakat?”. Tujuan menuntut ilmu pun bergeser sekadar untuk mencari uang. Bekerja demi mendapat gaji besar tentu tidak salah. Namun, hal itu hendaknya tidak merusak nilai dan hakikat utama dari ilmu pengetahuan itu sendiri.
Di sisi lain, lompatan teknologi yang tidak dibarengi dengan kesiapan intelektual dan mental justru menjerumuskan masyarakat ke dalam kebiasaan malas berpikir. Teknologi yang seharusnya membantu manusia untuk melakukan lompatan pengetahuan, pada akhirnya justru membuat kita menjadi stagnan, atau bahkan mundur—sebagaimana kegelisahan Syaikh Basuni.
Jika kita bersungguh-sungguh ingin melahirkan generasi emas yang mampu membongkar ketimpangan dan membangun peradaban bermartabat, tidak ada jalan pintas. Kita harus menyalakan kembali ghirah belajar, memastikan generasi mendatang dapat menuntut ilmu setinggi-tingginya, serta berani menolak buaian hiburan murahan yang melenakan.

