Tersesat dalam Cerita Tunggal Terorisme

Oleh Lies Marcoes (Peneliti Rumah KitaB)

 

Dalam minggu kedua Juni ini, dua peristiwa terorisme muncul di media. Pertama, berita penangkapan KDW alias Abu Aliyah Al Indunisy, salah satu mata rantai jaringan terorisme pemasok bahan baku bom yang kemudian diledakkan pasangan Lukman dan Yogi di Gereja Katedral Makassar pada 28 Maret lalu. Kedua, tertangkapnya tiga anggota teroris jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) wilayah Jawa Barat yang bersembunyi di Pangandaran. Mereka dituduh sebagai mentor idad (persiapan untuk jihad dengan kekerasan) yang antara lain berada di Gunung Galunggung, Tasikmalaya. Menurut Detasemen Khusus 88 Antiteror, kegiatan mereka telah berlangsung sejak 2019, yang didahului dengan baiat anggota baru Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dan dilanjutkan dengan pembentukan wadah Rumah Quran Sabilunnajah di Priangan Timur.

Dua peristiwa itu menarik untuk dibedah dengan analisa yang berbeda untuk melihat kemungkinan hasil analisa yang juga berbeda. Hal itu dibutuhkan karena kajian tentang terorisme tampaknya macet dalam menjelaskan fenomena baru keterlibatan perempuan, seperti dalam kasus bom Makassar dan Markas Kepolisian RI. Setidaknya, analisa yang muncul hanya itu-itu saja ketika terjadi peristiwa kekerasan ekstrem yang melibatkan perempuan. Sementara itu, kajian akademis juga tidak menjadi pandangan arus utama dan hanya beredar di kalangan akademis.

Meskipun tak menyedot perhatian publik, dua penangkapan itu jelas bukan berita kriminal biasa. Dari kacamata awam, peristiwa ini hanya menjadi berita rutin tentang ancaman teror yang terus-menerus dihadapi negara. Bagi saya, berita itu hanya memberi gambaran seragam dan bahkan statis tentang ancaman terhadap “keamanan negara” dengan melihat hubungan ideologi radikal dengan ajaran Islam yang mengancam otoritas negara.

Kedua peristiwa seperti itu senantiasa dapat ditebak ujungnya, yaitu adanya keterkaitan antara terorisme dengan ideologi maskulin yang berwajah agama. Namun, ketika berulang kali terjadi teror dengan pelaku perempuan, kesimpulan serupa itu gagal untuk menjelaskan mengapa perempuan terlibat dan di mana letaknya dalam peta analisis itu. Sejauh ini, kegiatan teror senantiasa digambarkan menyangkut kepentingan dan agenda kaum lelaki dan beroperasi dengan cara-cara lelaki serta demi tujuan dan perjuangan kaum lelaki.

Tapi, justru ini masalahnya. Dengan anggapan serupa itu, kita disuguhi cerita tunggal atau “single story” tentang terorisme. Novelis feminis Nigeria, Chimamanda Adichie, lewat karya-karya sastranya menggugat “cerita tunggal” yang membentuk wajah Afrika. Wajah itu, menurutnya, hanya sesuai dengan citra penjajahan dan dunia Barat sekaligus mengkhianati kenyataan. Dari pengalaman dan pengamatannya tentang Afrika, penggambaran itu bukan sekadar melahirkan sterotipe atau stigma tentang Afrika, melainkan juga menggambarkan Afrika yang sungsang dan tak kunjung lengkap dan genap. Sterotipe itu, menurutnya, telah merampok harga diri dan membentuk satu-satunya kebenaran tapi sesat.

Dalam konteks dan skala yang berbeda, cerita tunggal yang digugat Chimamada Adichie ini tak jauh berbeda dari isu terorisme. Setidaknya ada tiga hal yang dapat dipersoalkan untuk menggugat cerita tunggal terorisme itu.

Pertama, cerita tunggal terorisme itu didominasi oleh prasangka tentang Islam. Narasi ini telah mengabaikan kenyataan tentang sejarah panjang perjuangan umat Islam di dunia dalam menghadapi penindasan, baik di era penjajahan maupun dalam rezim-rezim penguasa dengan menggunakan ideologi Islamisme. Meski dalam kenyataannya perlawanan atas rezim itu juga kerap melahirkan manipulasi baru dengan memanfaatkan sentimen umat, banyak penguasa cukup dibuat gugup oleh kekuatan ideologi Islamisme yang getol menawarkan keadilan dan kesejahteraan.

Di banyak peristiwa, ideologi Islamisme bersama kekuatan rakyat telah berhasil menumbangkan penguasa diktator. Kisah paling fenomenal tentu saja tumbangnya monarki Syah Reza Pahlavi. Melalui penggalangan kekuatan umat yang juga melibatkan perempuan bercadar hitam sebagai simbol perlawanan atas dominasi Barat dan sekularisme, ideologi Islamisme Syiah itu telah berhasil menggerakan kekuatan umat, meskipun dianggap gagal dalam mengeksekusi keadilan yang dicita-citakan.

Namun, cerita bahwa ideologi Islamisme sepenuhnya sebagai ideologi jahat anti-peradaban ala ISIS tak selalu cocok dengan pengalaman mereka yang benar-benar menemukan jalan kebenaran baik secara individual maupun kolektif tentang ajaran Islam yang mereka fahami. Kita sering mendengar kisah-kisah perempuan “hijrah”, yang menemukan Islam sebagai rumah baru, visi baru, dan jalan jihad untuk hidup “sekali berarti kemudian mati”. Studi menarik dilakukan Saba Mahmood dalam Politics of Piety di Mesir yang menggambarkan gerakan “majelis taklim” kaum perempuan dalam membangun kekuatan mereka dalam menolong sesama perempuan.

Kedua, narasi tunggal tentang keterancaman negara (state security), yang seolah-olah hanya negara yang sedang terancam oleh ulah para teroris. Dalam pengalaman perempuan, ceritanya sungguh berbeda. Hal yang membuat mereka terancam ternyata bukan ulah teroris melainkan kehidupan itu sendiri (human security). Setiap hari mereka berhadapan dengan teror kemiskinan, kekerasan berbasis prasangka gender, ancaman atas keselamatan anak dari narkotik, rentenir, dan utang yang membelit, suami penganggur atau bolak-balik selingkuh, dan hidup tanpa kepastian.

Masalahnya, di ruang-ruang tempat masyarakat dan kaum perempuan berkumpul atau dalam sinetron dan tontonan murah lainnya tak ditemukan penjelasan tentang apa yang sesungguhnya sedang mereka hadapi. Alih-alih mendapat jawaban, mereka malah mendengar dari para penganjur agama tentang ancaman nyata yang paling mudah mereka pahami, seperti pelemahan akidah, kelalaian dalam menutup aurat, dan kealpaan dalam ibadah. Karenanya, yang mereka perjuangkan kemudian adalah bagaimana menutup aurat rapat-rapat, mengoreksi akidah yang dianggap menyimpang, serta menjauhi tetangga yang berbeda suku, agama, dan keyakinan atau menuntut negara untuk menegakkan syariat. Mereka tak dibantu untuk melihat ragam akar persoalan yang disebabkan ketimpangan sosial, pelemahan partisipasi perempuan di ruang publik, subordinasi yang menempatkan kelas perempuan di bawah lelaki, dan hal-hal lain yang menyudutkan mereka sebagai perempuan.

Ketiga, cerita tunggal terorisme dengan aktor tunggal lelaki. Pandangan ini bersumber dari ideologi gender esensialis maskulin yang menganggap menjadi teroris itu merupakan watak bawaan lelaki. Dengan anggapan demikian, perempuan, yang memiliki rahim dan kemampuan hamil dan melahirkan, dianggap mustahil akan terlibat dalam terorisme. Pandangan semacam ini menilai bahwa jika pun perempuan terlibat, itu karena mereka telah bermetamorfosa menjadi lelaki.

Kita perlu mengoreksi tiga hal dalam cerita tunggal terorisme di atas. Cara ini mungkin dapat menjelaskan keterlibatan perempuan dalam kekerasan ekstrem. Cerita tunggal itu bukan saja membuat kita gagal dalam membaca ancaman terorisme tetapi juga tersesat dalam memahami terorisme yang dibaca dari kaca mata dan pengalaman perempuan.

 

Artikel ini telah dimuat di koran Tempo, 25 Juni 2021

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.