Pos

Metode Andragogi dalam Modul Pelatihan: Upaya Membangun Kesadaran Berkeadilan Gender

 

Judul               : Modul Penguatan Kapasitas Membangun Narasi Pemenuhan Hak Perempuan Bekerja untuk Tokoh Agama

Tim Penyusun : Achmad Hilmi, Fadilla D.Putri, Lies Marcoes, Nur Hayati Aida, Nurasiah Jamil

Penerbit           : Yayasan Rumah KitaB atas dukungan DFAT-Investing in Women–2021

Tebal               : 126 halaman

 

Berdasarkan pantauan Rumah Kita Bersama (Rumah KitaB) sejak tahun 2013, pandangan yang membatasi perempuan bekerja semakin menyebar sebagai wacana dalam berbagai sendi kehidupan masyarakat Indonesia. Pandangan konservatif, mengenai ‘perumahan’ perempuan, ini terutama dipengaruhi oleh dakwah yang dilakukan para tokoh agama atau publik figur. Mereka menyuarakan pembatasan peran perempuan di sektor publik, termasuk pelarangan perempuan bekerja. Padahal, fenomena perempuan bekerja bukanlah hal tabu di negeri ini. Namun, ketika para agamawan berbicara dengan dalil agama, maka mayoritas masyarakat akan menerimanya, tanpa menelaahnya lebih mendalam.

Atas dasar itulah, Rumah KitaB berpandangan perlu adanya narasi tanding atas pembatasan perempuan bekerja. Lembaga ini bekerja sama dengan pemerintah Australia dalam program Inventing in Women menginisiasi pelatihan bagi tokoh agama atau penceramah. Adapun upaya awal untuk perubahan norma gender dalam masyarakat Indonesia ialah dengan membuat modul yang efektif dalam rangka penguatan kapasitas mereka sebagai peserta pelatihan. Modul tersebut didesain guna mencapai tujuan pelatihan, yaitu untuk membangun narasi pemenuhan hak-hak bekerja bagi perempuan dalam sudut pandang Islam.

Rumah KitaB sebagai lembaga riset berbasis kebijakan, untuk memperjuangkan hak-hak kaum termarjinalkan, menyadari bahwa tokoh agama atau penceramah merupakan subjek utama dalam konteks ini. Mereka berperan dalam memproduksi narasi berbasis teks keagamaan mengenai ‘perumahan’ perempuan. Pandangan ini berdampak pada diskriminasi terhadap perempuan yang memilih untuk bekerja atau terdesak memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Sedangkan, masyarakat akan memberikan stereotipe negatif terhadap mereka yang tidak mengindahkan seruan para penceramah; berarti tidak beragama secara kaffah.

Ditambah lagi peliknya problematika lainnya yang harus dihadapi perempuan bekerja. Mereka harus menghadapi beban ganda, serta minimnya ketersediaan infrastruktur penunjang seperti day care, ruang laktasi, cuti hamil, dan akses kesehatan reproduksi. Perempuan pun harus berjuang keras dalam konstestasi kerja yang acap kali memandang sebelah mata perempuan yang memiliki karir cemerlang. Faktanya, perkembangan global di era kontemporer ini membuka peluang bagi perempuan untuk berpartisipasi dalam berbagai sektor. Tantangan inilah yang disoroti Rumah KitaB untuk diselesaikan akar persoalannya. Dengan adanya pelatihan bagi penceramah di empat wilayah urban, yaitu Jakarta, Depok, Bekasi, dan Bandung diharapkan bisa mempengaruhi atmosfer narasi sosial-keagamaan yang tidak bias gender terkait “perempuan bekerja”.

Modul Sistematis, Modal Keberhasilan Pelatihan  

Modul ini disusun oleh Tim Rumah KitaB sebagai rujukan bagi fasilitator yang akan mendampingi peserta pelatihan yang notabene tokoh agama, penceramah, atau pemilik otoritas keagamaan. Sebagai panduan pembelajaran berkelanjutan, modul ini didesain untuk mengembangkan pandangan keagamaan yang progresif, serta terbuka pada gagasan Islam tentang hak perempuan bekerja. Adapun fasilitator ialah tim internal Rumah KitaB yang telah berpengalaman, serta memiliki pemahaman komprehensif terhadap modul.

Adapun dua tujuan utama yang hendak dicapai melalui modul ini: Pertama, memberi kemampuan kepada peserta pelatihan untuk memahami problem perempuan bekerja akibat pandangan keagamaan yang membatasi atau melarang perempuan bekerja. Kedua, peserta terampil menggunakan argumentasi keagamaan dalam mendukung atau melakukan pendampingan komunitas atau masyarakat di mana mereka beraktivitas berlandaskan pada narasi keagamaan tentang perempuan bekerja.

Setiap modul disusun dengan struktur yang sistematis untuk mendapatkan gambaran yang utuh tentang bagaimana pengertian, tujuan, dan cara-cara yang diterapkan dalam pelatihan. Adapun struktur materi sebagai berikut: Judul Materi; Deskripsi Materi; Tujuan; Pokok Bahasan; Waktu; Metode; Alat dan Bahan; Langkah-Langkah Kegiatan. Selain itu, modul ini dilengkapi dengan lembar-lembar petunjuk bagi fasilitator, seperti Pedoman Fasilitator (PF), Alat Bantu Belajar (ABB), Lembar Kerja (LK), Bahan Bacaan (BB), dan Bahan Tayang (BT).

Modul ini terbagi menjadi enam materi pembelajaran: 1) Perkenalan dan Pengantar; 2) Pandangan Masyarakat terhadap Perempuan Bekerja; 3) Gender dan Konstruksi Pemahaman tentang Perempuan Bekerja; 4) Metodologi Reinterpretasi Teks Keagamaan; 5) Strategi Mendukung Perempuan Bekerja dan Mengaktualisasikan Diri; 6) Rencana Tindak Lanjut dan Evaluasi. Merujuk pada urutan materinya, maka tampak alur berpikir yang logis. Selain itu, tim Rumah KitaB menyusun petunjuk praktis bagi fasilitator, sehingga modul dapat digunakan dalam pelatihan tatap muka (offline) maupun virtual (online).

Dalam pelatihan ini, gender dipakai sebagai perspektif dan alat analisis atas kesenjangan perempuan dalam mendapatkan haknya untuk bekerja dan menyusun advokasi untuk mengatasi problem tersebut. Adapun cakupan materi terfokus pada isu perempuan bekerja dengan tujuan memberikan narasi dan logika; bagaimana Islam memiliki argumentasi yang kokoh bahwa bekerja adalah hak setiap manusia. Diharapkan setelah pelatihan ini para tokoh agama dalam perannya memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran dengan memaksimalkan kemampuan berargumentasi tentang hak perempuan bekerja dalam pandangan Islam. Dengan demikian, peserta tidak akan diajari bagaimana cara berceramah melainkan konten apa yang harus disampaikan ke umat atau masyarakat.

Andragogi, Memanusiakan Orang Dewasa

Dalam mengoperasikan modul ini, Tim Rumah KitaB mendesain alur pembelajaran dengan kerangka Pendidikan Orang Dewasa; dikenal dengan metode pendidikan andragogy. Secara etimologis, andragogi berasal dari Bahasa Latin, yaitu andros yang berarti ‘orang dewasa’ dan agogos yang berarti memimpin atau melayani. Istilah “andragogi” sebagai suatu teori dalam filsafat pendidikan pertama kali dugunakan oleh Alexander Kapp asal Jerman pada tahun 1833. Kemudian, pada tahun 1921 istilah tersebut dimunculkan kembali oleh Eugene Rosentock, seorang sejarawan dan filsuf asal Jerman. Sejak era 1970-an metode andragogi menyebar masif di berbagai belahan dunia.

Melalui pendekatan ini, fasilitator berupaya mendorong peserta pelatihan untuk aktif dalam proses belajar. Fasilitator memastikan setiap peserta pelatihan terlibat dalam proses belajar secara sistematis dan terstruktur dengan melakukan/mengalami, mengungkapkan, mengolah/menganalisis, menyimpulkan, menerapkan, melakukan kembali, dan kemudian merefleksikan pengalamannya. Proses pembelajaran ini berangkat dari kesadaran tentang filsafat pendidikan untuk pemberdayaan.

Selain dilengkapi dengan bahan bacaan yang terkait dengan tema, modul ini memang dirancang untuk mewujudkan peningkatan kapasitas dan kepekaan, serta membangun komitmen dan kolektivitas peserta pelatihan. Modul ini berlandaskan pada sejumlah pendekatan yang akan mengawali pelatihan di setiap sesi, yaitu: Tutur perempuan; Partisipatif; Penumbuhan komitmen; Kolektifitas; dan Keberlanjutan.

Proses pembelajaran dalam pelatihan ini nantinya dikelola dalam alur yang terstruktur; mengikuti alur pendidikan orang dewasa berdasarkan prinsip partisipasi. Oleh karena itu, metode ini kerap disebut sebagai daur proses pelatihan partisipatif dengan basis pengalamanan yang terstruktur. Modul ini tampak detail menyampaikan langkah-langkah yang harus dilakukan fasilitator melalui pendekatan andragogi, sehingga pelatihan dapat berlangsung  komunikatif dan efektif.

Terlebih lagi, peserta pelatihan ini merupakan para agamawan yang notabene memiliki pengetahuan dasar mengenai agama dan pengalaman berhadapan dengan umat. Melalui pendekatan pedagogi dalam modul ini, diharapkan peserta pelatihan dapat membangun kesadaran berkeadilan. Dalam membangun narasi pemenuhan hak perempuan bekerja, maka sangat diperlukan adanya “perspektif berkeadilan” yang tidak bias gender. Semoga upaya yang dilakukan Rumah KitaB ini bisa mewujudkan penguatan kapasitas tokoh agama dalam memproduksi narasi keagamaan yang mendukung kiprah perempuan bekerja. []

Ummu Kultsum binti Ali: Cucu Rasul SAW yang Menjadi Bidan

Oleh Fera Rahmatun Nazilah (Islami.co)

 

Profesi bidan memang baru ada di masa kini, namun sejatinya, pekerjaan membantu persalinan telah ada sejak lama, termasuk di masa Nabi Saw dan generasi setelahnya. Salah satu sahabat perempuan yang bekerja sebagai “bidan” adalah Ummu Kultsum binti Ali.

Ummu Kultsum merupakan putri Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az-Zahra. Cucu Rasulullah Saw ini lahir pada tahun 6 H dan sempat bertemu kakeknya, sang utusan Allah Swt. Maka dari itu Ummu Kultsum tergolong sahabat, meskipun saat kakeknya wafat ia masih amat belia.

Istri Amirul Mukminin, Umar bin Khattab

Ummu Kultsum adalah perempuan cerdas dan mulia. Di samping itu, ia memiliki nasab yang begitu mulia, kakeknya adalah Nabi Muhammad Saw, sang khātimul anbiyaā, ayahnya adalah Ali bin Abi Thalib, sang bābul ilm, ibundanya adalah Fatimah az-Zahra, pemimpin perempuan ahli surga, dan dua kakaknya, al-Hasan dan al-Husein adalah pemimpin pemuda ahli surga.

Kemuliaan yang dimiliki Ummu Kultsum ini membuat Umar bin Khattab tertarik padanya. Khalifah kedua ini pun akhirnya meminangnya dan menikahinya pada bulan Dzul Qa’dah 17 H. Kala itu, Umar bin Khattab tengah menjabat sebagai amīrul mukminin.

Piawai dalam mengurus proses persalinan

Ummu Kultsum dikenal piawai dalam mengurus proses persalinan. Ia kerap kali membantu perempuan yang hendak melahirkan.

Ada suatu kisah menarik antara Ummu Kultsum dan Umar. Suatu malam, seperti biasa, sang suami, Umar bin Khattab keluar untuk mengontrol keadaan rakyatnya. Tatkala Umar melewati tanah lapang Madinah, ia mendengar suara rintihan perempuan dari dalam tenda. Di depan tenda itu ada seorang laki-laki yang sedang duduk kebingungan. Umar lalu menyapa laki-laki itu dan menanyakan apa yang sedang terjadi.

“Siapakah Anda? Ada apa gerangan?” tanya Umar.

“Aku adalah penduduk Badui (kampung) yang datang untuk meminta kemurahan hati dari Amirul Mukminin,” jawab lelaki itu. Ia tak menyadari bahwa sosok di hadapannya adalah Amirul Mukminin yang hendak ia temui.

“Lalu siapakah perempuan yang sedang merintih di sana?” Umar bertanya lagi

“Pergilah, urus saja urusanmu dan jangan menanyakan sesuatu yang bukan urusanmu,” jawab lelaki itu.

Akan tetapi, Umar tak mau pergi dan terus saja menawarkan bantuan. Ia berjanji akan membantu selama ia mampu. Akhirnya lelaki itu pun menjawab:

“Sesungguhnya ia adalah istriku, ia sedang mengalami kontraksi dan akan segera melahirkan, namun tak ada siapa pun di sini yang bisa membantu kami (mengurus persalinan),” jawab si lelaki itu dengan wajah murung dan kebingungan.

Mendengar hal itu, Umar langsung teringat pada istrinya, Ummu Kultsum yang menjadi bidan dan memiliki kemampuan membantu persalinan. Umar pun segera bergegas kembali ke rumahnya dan meninggalkan lelaki itu, ia berjanji akan kembali dengan seseorang yang bisa membantu mereka. Sesampainya di rumah, Umar langsung menceritakan peristiwa tadi kepada istri tercintanya, Ummu Kultsum.

Tanpa pikir panjang, Ummu Kultsum langsung menyanggupi tawaran Umar untuk membantu perempuan itu. Ia pun segera bersiap-siap, tak lupa ia juga membawa segala keperluan persalinan. Sedangkan Umar mengumpulkan makanan yang ada di rumahnya, mulai dari mentega hingga biji-bijian. Keduanya kemudian pergi ke tempat suami istri itu berada.

Sesampainya di sana, Ummu Kultsum segera masuk ke tenda dan dengan cekatan membantu persalinan sang ibu hamil. Sedangkan Umar bin Khattab menunggu di depan tenda bersama lelaki itu, sambil memasak makanan yang dibawa tadi.

Tatkala sang bayi lahir, Ummu Kultsum refleks berkata dengan suara keras “Kabar baik wahai Amirul mukminin, kawanmu dikaruniai seorang anak laki-laki”

Laki-laki itu terkejut mendengar ucapan Ummu Kultsum, ia baru tahu, rupanya lelaki yang sedang memasak dan meniup tungku di depannya adalah sang Amirul Mukminin. Demikian pula istrinya, ia pun kaget begitu mengetahui bahwa perempuan yang membatu persalinannya adalah istri dari Amirul Mukminin.

Pasangan suami istri ini pun berterima kasih pada Umar dan Ummu Kultsum. Mereka sungguh tak menyangka dapat menemui pemimpinnya di tengah malam gelap gulita. Bahkan tak tanggung-tanggung, sang Amirul Mukminin dan istrinya nya lah yang langsung membantu mereka.

Demikianlah kepiawaian Ummu Kultsum dalam bidang persalinan. Usianya memang masih muda, namun kemampuannya tak diragukan lagi. Posisi menjadi istri seorang Amirul Mukminin tidak menjadikan Ummu Kultsum berpangku tangan. Walaupun ia seorang perempuan, ia masih bisa keluar rumah dan bekerja sebagai bidan, membantu para perempuan lain untuk melahirkan.

Begitupun sikap Umar. Ia tidak melarang Ummu Kultsum duduk diam di rumah saja. Ia mengerti bahwa istrinya juga memiliki kemampuan. Bahkan ia sendiri yang meminta Ummu Kultsum memanfaatkan bakat yang ia miliki.

Nasib Ummu Kultsum ini mungkin berbeda dengan sebagian perempuan masa sekarang yang dilarang bekerja oleh suaminya, padahal ia memiliki kemampuan yang bisa jadi tidak dimiliki oleh orang lain. Semoga kisah ini bisa jadi ibrah bagi kita semua untuk terus belajar dan memanfaatkan kemampuan yang diberikan Allah SWT kepada kita. (AN)

 

Referensi: al-Ishabah fit Tamyiz as-Shahabah (h.463) Nisa Haular Rasul karya Khalid Muhammad Khalid.

Fenomena Perempuan Bekerja: Antara Wacana dan Realita

Resensi Buku Fikih Perempuan Bekerja 

Judul Buku      : Fikih Perempuan Bekerja

Penulis            : Tim Kajian Rumah Kita Bersama (Rumah KitaB)

Editor              : Lies Marcoes M.A., Nurhadi Sirimorok, M.A.

Penerbit           : Yayasan Rumah Kita Bersama atas dukungan Investing in Women–

                          DFAT 2021

Cetakan           : Cetakan Pertama, 2021

Tebal               : 289 halaman

 

Apakah streotype negatif akan selalu melekat pada diri perempuan bekerja? Atas nama agama, apakah hak perempuan untuk bekerja dinafikkan?

Fenomena ‘perempuan bekerja’ sesungguhnya bukanlah hal yang baru di Indonesia. Beragam faktor yang melatarbelakangi mereka bekerja; misalnya menopang perekonomian keluarga, membantu pekerjaan suami, bahkan mengaktualisasikan diri. Sangat disayangkan, mayoritas masyarakat masih memandang negatif perempuan bekerja. Terlebih lagi, semakin banyak pendakwah atau publik figur yang menyuarakan pembatasan peran perempuan di sektor publik, termasuk pelarangan perempuan bekerja.

Ajaran-ajaran ‘perumahan’ perempuan tersebut ditopang oleh norma gender dan nilai nilai dominan yang terinternalisasi melalui berbagai lembaga; politik, regulasi, pendidikan, media, dan lainnya. Hal ini bersifat diskriminatif yang secara tersirat mengafirmasi adanya subordinasi terhadap perempuan. Adapun dampak signifikan dari pelarangan perempuan bekerja, yaitu perempuan tidak memiliki hak penuh atas dirinya secara independen.

Sedangkan, apabila perempuan bekerja, maka mereka harus menghadapi ‘beban ganda’ karena tugas domestik dianggap tugas perempuan semata. Di ruang publik pun perempuan harus ekstra berjuang untuk membuktikan bahwa dirinya layak mengemban amanah dan tangguh menghadapi berbagai problematika dalam pekerjaan. Tekanan terberat dihadapi perempuan menikah dan memiliki anak. Mereka akan mendapatkan stigma “bukan perempuan baik-baik” atau “perempuan yang mengabaikan tugas rumah tangganya.”

Perempuan sebenarnya bisa melakukan negosiasi, tetapi hasilnya bergantung pada posisi perempuan bekerja di dalam keluarga. Meskipun, pada akhirnya, perempuan akan dihantui rasa bersalah karena bekerja di luar rumah, yang mana tidak sejalan dengan konsep keluarga ideal di dalam ajaran agama, tradisi, dan budaya. Berdasarkan berbagai problem tersebut, Rumah KitaB memandang urgensi menyediakan bacaan tentang bagaimana Islam berbicara tentang hak perempuan bekerja yang termaktub dalam khazanah pemikiran dan tradisi intelektual Islam; baik merujuk pada kitab-kitab klasik, maupun pandangan kontemporer.

Meneropong Perempuan Bekerja

Buku yang berjudul “Fikih Perempuan Bekerja merupakan ikhtiar untuk menjawab stereotype negatif terhadap perempuan bekerja, terutama yang berlandaskan pada narasi agama. Rumah KitaB selama beberapa bulan melakukan penelitian mengenai situasi perempuan bekerja secara  kualitatif dan kuantitatif. Adapun tema yang diusung pada studi analisis tersebut yaitu, “Seberapa Jauh Penerimaan Masyarakat atas Perempuan Bekerja.”

Tepatnya pada Agustus-September 2020, Rumah KitaB melakukan studi kuantitatif yang dilakukan di empat lokasi, yaitu Bandung, Bekasi, Depok, dan Jakarta. Studi kuantitatif ini melibatkan total 600 responden, dengan pembagian masing-masing kota 150 responden. Sementara studi kualitatif dilakukan dengan mewawancarai secara mendalam terhadap 18 subyek perempuan dan 1 subyek laki-laki dengan menggunakan pendekatan etnografi feminis.

Kemudian, Rumah KitaB menggelar Focus Group Discussion yang menghadirkan narasumber ahli, para Nyai dan Kiai pengasuh pondok pesantren, serta para pengkaji keislaman klasik dan kontemporer. Peserta kajian lainnya ialah praktisi bidang usaha atau kaum professional yang terhubung dengan para perempuan bekerja, serta beberapa aktivis dan peneliti kajian gender dan feminisme. Tak syak lagi, buku ini begitu komprehensif dalam meneropong fenomena perempuan bekerja dengan berbagai jalan dan pendekatan.

Pada Bab Pertama, membahas peta masalah yang dihadapi perempuan bekerja dalam kaitannya dengan pandangan agama. Bab Kedua, menyajikan upaya rekonstruksi hukum Islam terkait perempuan bekerja yang digali dari realitas kehidupan sehari-hari. Bab Ketiga, menyajikan beberapa metodologi untuk merekonstruksi pandangan keagamaan yang mendukung perempuan bekerja melalui prinsip Maqashid Syariah. Sementara pada Epilog, terdapat berbagai prediksi apabila ajaran perumahan perempuan terus berkembang. Di bagian penutup disajikan tawaran langkah-langkah strategis yang mendukung perempuan bekerja.

Rumah KitaB menawarkan metode Maqasidh Syariah dengan memasukkan analisis gender dan feminisme. Penelitian ini berupaya untuk menyintesakan narasi teks dengan gagasan tentang pemberdayaan perempuan dalam perspektif feminis, yaitu cara pandang kritis berkenaan relasi laki-laki dan perempuan. Alur kerja metodologi Maqasidh Syariah; alur pertama ialah analisis teks, sedangkan  alur kedua ialah analisis konteks.

Pada kondisi ini, Maqasidh Syariah diposisikan sebagai jalan keluar mengatasi ketiadaan hukum yang mampu menjadi solusi kemanusiaan melalui proses. Proses pertama, identifikasi persoalan; proses kedua, mengidentifikasi hambatan-hambatan teologis; proses ketiga, mencari pandangan alternatif dari para ulama melalui metode eklektik; proses keempat, dekonstruksi hukum Islam terkait fikih perempuan bekerja melalui pendekatan syariah dan feminisme. 

Ikhtiar Jalan Tengah

Buku Fikih Perempuan ini merupakan langkah awal membangun kesadaran masyarakat bahwa perempuan memiliki relasi yang setara dengan laki-laki. Ini merupakan kerja jangka panjang untuk mewujudkan atmosfer yang mendukung perempuan bekerja. Hak perempuan untuk mengaktualisasikan diri dan memiliki akses ekonomi sesungguhnya tak hanya berdampak positif bagi kehidupan perempuan sendiri, tetapi juga bagi keluarga dan masyarakat. Langkah strategis ini seyogyanya disebarkan ke khalayak agar bisa dirasakan manfaatnya, baik melalui kegiatan ilmiah maupun non-ilmiah.

Buku ini diharapkan menjadi acuan bagi scholars dan para pemuka agama untuk membuka akses lebih luas terhadap pandangan keagamaan yang mendukung perempuan bekerja. Sebagaimana misi utama kehadiran buku ini yang mengupayakan pembacaan kembali teks-teks al-Qur’an dan Hadits yang mengafirmasi perempuan bekerja.  

Selain itu, buku mengenai fikih perempuan bekerja yang pertama di negeri ini layak dijadikan rujukan pemerintah atau pemangku kebijakan. Tampak adanya ikhtiar Rumah KitaB dengan studi komprehensif dalam meneropong perempuan bekerja melalui berbagai cara dan pendekatan. Pemerintah diharapkan memproduksi regulasi yang mendukung perempuan bekerja, serta mengharuskan penyediaan sarana yang memudahkan perempuan menjalankan peran reproduksinya selama bekerja.

Di lain sisi, perlu kampanye masif yang dilakukan tokoh agama dan tokoh publik untuk mendukung perempuan bekerja. Kemudian, dibutuhkan narasi-narasi positif terhadap perempuan bekerja yang ditayangkan dalam berbagai media atau platform yang menggambarkan perjuangan perempuan bekerja secara positif dan inspiratif. Dalam konteks ini, perempuan bekerja membutuhkan dukungan sosial, politik, dan keagamaan yang bukan hanya menjelaskan bahwa bekerja itu hak bagi perempuan, namun juga menunjangnya adalah kewajiban yang mengikat bagi keluarga, komunitas, lingkungan kerja, dan negara.

Kekuatan buku ini adalah pada koherensi antar bab yang berupaya memotret dan menjawab problematika seputar perempuan bekerja. Selain itu, kehadiran buku ini sangat relevan dengan konteks masyarakat Indonesia, terlepas dari suku, ras, gender, umur dan kondisi fisik. Sehingga, diharapkan melalui buku ini dapat terbangun atmosfer yang mendukung perempuan bekerja agar bisa berperan dalam membangun kesejahteraan keluarga dan bangsa. Selain itu, stereotype negatif terhadap perempuan bekerja perlahan-lahan akan sirna; beralih pada cara pandang yang berkeadilan sebagaimana tercermin pada nilai-nilai agama. []

 

Sumber foto: freepik

BERKAH: Bedah Karya Kiai Husein Muhammad Buku Fikih Perempuan Refleksi Kiai atas Tafsir Wacana Agama dan Gender

Pada 18 Juni 2021, Mubadalah.id melakukan bedah  buku “Bekerja dan Relasi Seksual” Karya Kiai Husein Muhammad. Mengingat pentingnya dua tema itu, dalam laporan ini keduanya dipisahkan  menjadi “Laporan 1” dan “Laporan 2”

Laporan 1:

Bekerja bagi Perempuan

lihatlah Rasulullah, beliau tidak pernah mengurangi hak-hak perempuan beriman

ilmu pengetahuan menjadi jalan bagi hidup istri-istri Rasulullah

mereka berdagang, melakukan aktivitas publik, politik

Mengambil kebijakan publik dan urusan-urusan lain.

 

Puisi tersebut menjadi pembuka diskusi. Diskusi ini dilakukan via daring  zoom dan live Facebook Mubadalah.id. Sebagai pengantar, Mbak Alifatul Arifiati selaku moderator mengajukan beberapa pertanyaan pemantik diskusi. Buya Husein, begitu beliau biasa disapa, memulai dengan pernyataan asumsi bahwa bekerja akan selalu terkait dengan nafkah, lalu apakah mencari nafkah itu hak atau kewajiban? Benarkah pencari nafkah utama itu adalah laki-laki? Apa hukumnya jika perempuan bekerja?.

Setelah membacakan puisi, Buya Husein membuka diskusi dengan mengutip buku terjemahan “Perempuan Ulama di atas Panggung Sejarah.” Menurutnya buku tersebut memuat banyak kisah tentang perempuan-perempuan yang berkarya dan melakukan berbagai aktivitas di luar rumah di sepanjang sejarah Kenabian Muhammad SAW.

Di dalam perjalanan sejarah peradaban Islam, perempuan memiliki peran, sumbangan, dan pengaruh yang sangat besar dalam semua bidang kehidupan. Ada yang berdagang seperti Siti Khadijah, kesuksesan Nabi justru karena dukungan besar darinya; Saidah Rafiah Al Aslamiyah perempuan yang aktif bertani, berkebun, dan beternak; Asma binti Abu Bakar seorang penggembala: Syifa binti Abdullah bin Abu Syams seorang bendahara/pengelola pasar;  dan Asma binti Umais yang bekerja menyamak kulit hewan seperti kambing, unta, dllnya.  Contoh-contoh itu menurut Buya, merupakan sebuah bukti historis bahwa perempuan boleh bekerja dan beraktivitas di ruang publik.  Karenanya, menurut Buya, sangat keliru jika perempuan diposisikan sebagai semata-mata makhluk domestik yang bekerja di rumah saja.

Lebih lanjut Buya mengutup Hadis:  “Ada seorang perempuan bernama Umi Basyi Al Anshariyah yang sedang menanam kurma, kemudian Nabi mengatakan seorang muslim beriman yang menanam tanaman dan hasilnya untuk dibagikan pada banyak orang, binatang, dan menyedekahkan itu, maka usahanya akan mendapatkan pahala sedekah”. Pernyataan Nabi tersebut menerangkan bahwa Nabi menerima dan mendorong perempuan untuk bekerja.

Kemudian Buya bergurau dengan melontarkan pertanyaan “Hari gini masih bicara perempuan bekerja boleh atau tidak? Sejarah-sejarah kehidupan perempuan itu sudah bekerja. Apa yang sebenarnya menjadi masalah bagi kita?”

Namun begitu, Buya Husein menangkap duduk persoalan mengapa bahkan hingga saat ini isu perempuan bekerja masih dipersoalkan. Menurutnya, problem besar yang akan selalu menjadi “senjata” bagi para kelompok/orang yang tidak setuju perempuan beraktivitas di luar rumah adalah karena kegiatan itu bisa membahayakan perempuan. Sementara dalam kaitannya dengan fungsi perlindungan sebagaimana diatur hukum fikih, lelaki berkewajiban melindungi perempuan. Namun, alih-alih mengupayakan perlindungan dari gangguan laki-laki, yang dilakukan justru pelarangan ke luar rumah.  Hal itu jelas telah membatasi hak-hak bekerja sebagaimana dicontohkan Nabi. Padahal logikanya dengan pembatasan perempuan untuk tinggal di rumah demi terbebas dari pelecehan itu menunjukkan bahwa pelecehan yang dilakukan laki-laki di ruang publik sebagai hal yang dianggap wajar dan diperbolehkan. Asumsi kedua seolah-olah perempuan sepenuhnya terlindungi di dalam rumah, padahal pelecehan terhadap perempuan juga bisa terjadi di dalam rumah. Demikian Buya Husein yang selama bertahun-tahun menjadi Komisioner Komnas Perempuan.

Lebih lanjut Buya menegaskan “…kita memang perlu melindungi perempuan, tapi apakah melindungi perempuan harus dengan cara merumahkan, mendomestikasi perempuan yang seolah-olah di rumah mereka lebih aman?”

Karenanya, menurut Buya, hal yang harus diupayakan adalah bagaimana perlindungan terhadap perempuan dilakukan dengan tidak mengurangi hak-haknya. Hak berpartisipasi penuh, beraktivitas, dan berprestasi di ruang domestik maupun publik. Perempuan memiliki haknya untuk memperoleh semua akses, juga kesejahteraan dalam keadaan aman dan nyaman. Karenanya makna “proteksi” harus diartikan  dalam kerangka “kebebasan” bukan “pembatasan” atau “memarjinalkan”. Baginya dengan memberikan ruang kebebasan,  perempuan dapat mengekspresikan potensi yang mereka miliki  dan untuk itu dibutuhkan perlindungan bukan pembatasan.

Lalu, bagaimana cara untuk memberikan perlindungan?  Menurutnya,  diperlukan mekanisme perlindungan yang komprehensif, sistematis dan berorientasi kepada hak kebebasannya. Dengan begitu ketika mereka bekerja dan melakukan aktivitas di luar rumah perempuan merasa aman. Melindungi itu bukan membatasi, bukan dengan “mengunci” perempuan melalui cara berpakaiannya atau ruang geraknya. Untuk membangun mekanisme perlindungan seperti dalam bentuk regulasi, Undang-Undang, masyarakat, termasuk perempuan harus memberikan pendapat berdasarkan pengalamannya, mereka harus memiliki peran/andil dalam mendorong kebijakan perlindungan yang komprehensif itu.

Melalui narasi yang beliau sumbangkan dalam Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) itu ditegaskan bahwa titik berangkat untuk merumuskan perlindungan itu harus dari prinsip dan keyakinan bahwa “perempuan memiliki potensi yang sama dengan laki-laki. Mereka memiliki potensi intelektual, potensi kemanusiaan  berupa mental, spiritual, hasrat seksual juga tenaga serta peran-perannya dalam bereproduksi. Persamaan sekaligus perbedaan terkait peran dan fungsinya itu haruslah dikelola untuk kehidupan bersama dan berkesalingan (mubadalah). (DNO) []

Benarkah Perempuan Pesantren adalah Perempuan yang Mandiri?

Oleh Dr. (HC) Sinta Nuriyah Wahid

K.H. Abdurrahman Wahid memperkenalkan istilah “Islam Pribumi”. Saya melihat gagasan itu semakin relevan bagi Indonesia saat ini. Terdapat banyak kearifan dari Islam pribumi  yang lahir dari kehidupan Umat Islam di masa lampau yang sejalan dan relevan dengan ajaran Islam saat ini.  Gagasan Pribumisasi Islam  tidak lain dari  “Islam Wasathiyah”, atau Islam yang moderat, Islam yang mengakar pada tradisi pendudukan Nusantara yang majemuk, terbuka, saling berinteraksi membangun konfigurasi bangsa Indonesia.

Di antara ciri dari konsep pribumisasi Islam dan menjadi gagasan yang dikembangkan dalam Islam Wasathiyah adalah pengakuan atas peran perempuan di ruang publik. Para ulama telah menimbang sumbangan perempuan yang mereka lihat dalam kehidupan sehari-hari. Mereka menyaksikan bagaimana suami-istri dalam keluaga-keluarga Muslim bergotong royong membangun keluarga.  Para Kiai dan Ulama juga melihat bagaimana keluarga muslim di Nusantara bekerja di ruang dimestik dan di ruang publik secara timbal balik hampir tanpa sekat pemisah.

Dalam amatan saya, ini jelas berbeda dengan tradisi  di tempat-tempat lain. Kalau menyaksikan aktivitas pasar-pasar di Timur Tengah, kita akan melihat   pasar-pasar itu dianggap sebagai ruangnya kaum lelaki.  Sementara di Indonesia kehidupan di pasar, di dunia perdagangan diisi oleh perempuan baik penjual atau pembeli. Di masa lalu, hal yang di negara mayoritas Islam  lain masih dilarang seperti  perempuan sebagai hakim agama,  di Indonesia sudah ada hakim perempuan berkat kebijakan Mentri Agama K. H. Wahid Hasyim sejak tahun 50-an. (Meuleman, 1992). Atas dasar itulah saya dulu memilih kuliah di Fakultas Syariah IAIN Yogyakarta. Saya ingin bekerja sebagai Hakim Agama.

Berkat pemikiran para ulama lokal,  lahir  fiqh khas Indonesia yang menempatkan konsep  suami-istri secara setara, sederajat dan seimbang. Memang upaya itu belum optimal tapi rintisannya telah dilakukan oleh para Ulama Nusantara sejak masa lampau. Hal itu tidak hanya berhenti sebagai wacana tetapi diturunkan ke dalam konsep “Hukum Keluarga Islam” Indonesia.  Misalnya dalam mengatur pembagian harta gono gini, nafkah istri, hak istri untuk bekerja, bahkan hak gugat cerai dari istri, dan seterusnya. Itu semua pada dasarnya berangkat dari konsep yang mengakui peran dan sumbangan perempuan di dalam keluarga -keluarga Islam di Nusantara.

Dalam umumnya kajian tentang keluarga Jawa oleh para peneliti Barat, sering digambarkan istri sebagai konco wingking, teman suami di bagian belakang. Tapi di pengalaman saya, gambaran itu tidak sepenuhnya tepat. Ibu saya, adalah ibu yang bekerja. Mertua saya, Nyai Solehah Wahid adalah aktivis  partai yang sangat disegani. Dalam kata lain, kajian itu bias struktur keluarga priyayi Jawa Abangan.  Analisis semacam itu  harus dikoreksi sebab secara de facto  tak semua perempuan Jawa atau perempuan di lingkungan  Islam tradisional diperlakukan sebagai konco wingking. Meskipun tidak banyak, saat ini ada ibu Nyai  yang berperan sebagai “ kepala Keluarga” pencari nafkah, berjualan batik atau mengelola warung-warung untuk santrinya.

Ketika di Jombang saya aktif mengajar, menjadi dosen  sambil mengurus keluarga. Setelah pindah ke Jakarta, saya  tidak berpangku tangan bahkan ketika Gus Dur menjadi ketua PBNU. Saya bekerja  menjadi wartawan,   bahkan saya tetap  melanjutkan kuliah di Pusat Kajian Wanita dan Gender di UI setelah mengalami musibah.

Saya kemudian mendirikan LSM Puan Amal Hayati yang memberi perhatian kepada isu kekerasan terhadap perempuan. Saya pimpin sendiri kajian kitab kuning karena saya merasa perlu untuk membaca ulang  khazanah intelektual yang ada dalam tradisi pesantren dengan referensi yang diperoleh dari  bangku kuliah dan bacaan-bacaan saya. Kegiatan itu bahkan tidak  berhenti  ketika saya mendapingi Bapak sebagai Kepala  Negara. Saya tetap bekerja menyelesaikan naskah kajian kitab kuning menjadi buku “Kembang Setaman Perkawinan, analisis kritis atas Kitab Uqudul al- Lujain” (Penerbit Kompas, 2005).

Setelah kerusuhan Mei 98,  dan Komnas Perempuan berdiri, saya juga aktif di dalamnya terutama untuk memberi perhatian pada kekerasan terhadap perempuan dengan basis prasangka gender yang dikontruksikan oleh pandangan keagamaan yang sempit.   Tahun 2019  saya menerima gelar doktor  kehormatan dari UIN Yogyakarta atas perhatian yang saya curahkan kepada isu pluralisme, sesuatu yang saya dalami terutama yang terkait dengan peran dan posisi perempuan yang saya wujudkan dalam berbagai kegiatan, antara lain Saur Keliling sebagai praktik kerukunan antar umat beragama.

“Change to Challange” sebagai tema perayaan Hari Perempuan Internasional 8 Maret tahun ini, dalam pengalaman saya adalah sebuah tema penting. Perempuan harus “berani menerima tantangan” dua arah; melawan keterbatasan-keterbatasan dirinya sendiri  dengan terus belajar, membaca, bergaul secara luas,  juga melawan berbagai hambatan dari luar seperti  praktik diskriminasi yang menghalangi hak-hak perempuan, termasuk hak untuk bekerja.

Tantangan itu juga berlaku untuk para ibu Nyai di pesantren. Mereka harus mandiri. Sebab tak sedikit ibu Nyai yang semasa gadisnya menempuh pendidikan tinggi bahkan sampai ke luar negeri, sangat mandiri, namun begitu menikah dengan seorang kyai, mereka menempatkan diri di belakang kyai dan menyerahkan otoritasnya kepada suaminya. Mereka menjadi tergantung kepada suami dan lingkungan yang memanjakannya sehingga tak lagi ada kemauan untuk belajar.

Mereka menikmati peran “konco wingkingnya” meskipun telah kehilangan kesempatannya sebagai seorang perempuan yang telah mendapatkan peluang besar untuk menjadi pemimpin yang punya otoritas keilmuan, bukan hanya sekedar pendamping atau konco wingking kiai. Karenanya Change to Chalenge juga harus terjadi bagi ibu-ibu nyai di lingkungan pesantren.

Kita harus berani melawan tradisi yang tidak ramah kepada perempuan agar  terus maju sebab Islam Nusantara adalah Islam yang sejatinya menerima keragaman aktivitas perempuan di dalam dan di luar rumah di luar dan di dalam pesantren.[]

Reportase Kegiatan: PENGUATAN KAPASITAS TOKOH AGAMA DAN PENCERAMAH UNTUK MEMBANGUN NARASI HAK PEREMPUAN BEKERJA DI PROVINSI DKI JAKARTA

Rumah Kita Bersama atas dukungan Investing in Women telah mengadakan kegiatan pelatihan bagi para tokoh agama di Provinsi DKI Jakarta. Kegiatan pelatihan ini merupakan upaya penguatan kapasitas para tokoh agama dan para penceramah agama untuk membangun dan memperkuat narasi perempuan bekerja dalam pandangan keagamaan inklusif, terbuka, dan memiliki keberpihakan.

Kegiatan ini dilaksanakan secara offline dan online selama tiga hari, yaitu pada tanggal 8-10 Juni 2021. penyelenggaraan kegiatan secara offline di Hotel Morrissey, Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, sementara penyelenggaraan kegiatan online difasilitasi melalui aplikasi ”zoom meeting”. Keterlibatan narasumber dan peserta sebagian besar dilakukan  offline, hanya dua peserta dan tiga nara sumber yang mengunakan fasilitas online. Mereka yang hadir pun mengikuti protokol kesehatan secara ketat.

Sebanyak 20 peserta, terdiri dari 9 perempuan dan 11 lelaki ini,  merupakan tokoh agama yang berasal dari Provinsi DKI Jakarta seperti Jakarta Utara, Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Pusat dan bahkan ulama dari Kepulauan Seribu. Sebagaian besar dari mereka adalah anggota organisasi keagamaan sepertu NU, Muhammadiyah dan Majelis Ulama Indonesia. Terdapat peserta yang merangkap sebagai guru dan dosen agama di Jakarta. Usia mereka berkisar antara 26 tahun hingga usia 55 tahun.

Seluruh fasilitator menghadiri kegiatan secara offline di hotel Morrisey Jakarta, yaitu Lies Marcoes, Fadilla Dwianti Putri, Dwianti Nur Oceani, Nurasiah Jamil, Achmat Hilmi, dan Jamaluddin Mohammad. Sementara tiga narasumber yang hadir langsung adalah Nani Zulminarni (Pendiri Serikat Pekka), kiai Ulil Abshar Abdalla, dan Pandu Padmanegara (Communicaption), dan tiga orang narasumber yang menghadiri kegiatan secara online yaitu Buya Dr. (Hc.) KH. Husein Mohammad (Pengasuh Pesantren Dar Al-Fikr Cirebon), Dr. Abdul Moqsith Ghozali (MUI Pusat), dan Nurhady Sirimorok (peneliti ahli-Makassar).

Training dikelola dengan partisipatif dimulai dari identifikasi pemahaman peserta tentang bekerja, pekerjaan lelaki perempuan dalam persepsi peserta, hambatan kultural dan stuktural yang dihadapi perempuan bekerja. Dari pemahaman peserta fasilitator menyimpulkan tentang tiga jenis pekerjaan perempuan berdasarkan gendernya yaitu kerja-kerja produktif, reproduktif dan kerja sosial. Khusus pada kerja sosial kemasyarakatan peserta dapat mengidentifikasi pekerjaan-pekerjaan yang berat yang dilakukan oleh perempuan terutama dalam merawat komunitas di lingkungan masing-masing. Pandangan dan pengalaman peserta itu kemudian dikonformasi oleh hasil studi Rumah Kitab tentang situasi analisis perempuan bekerja dan fakta -fakta lapangan sebagaimana ditemukan selama puluhan tahun oleh organisasi Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA).

Berangkat dari situasi lapangan itu peserta diajak untuk melihat bagaimana peran gender dikonstruksikan oleh pandangan agama sebagaimana diuraikan dengan sangat menarik oleh kiai Ulil Abshar Abdalla yang memperlihatkan kontradiksi-kontradiksi antara teks ajaran dan realitas. Ia menjelaskan bagaimana keluarga-keluarga pesantren tetap membaca teks yang melarang atau membatasi perempuan keluar rumah, namun pada kenyataan sehari-hari mereka mengizinkan anak perempuan dan keluarganya beraktivitas bahkan sekolah ke luar kota bahkan sampai keluar negeri. Dari sana para peserta kemudian diajak untuk memahami metodologi cara pembacaan teks yang dapat digunakan untuk mendukung perempuan bekerja.

Di antara yang menonjol dari pelatihan ini adalah pendalaman metodologi pandangan keagamaan yang sensitif gender dan HAM yang mampu memperkuat narasi perempuan bekerja. Metodologi ini bernama Maqasid Syariah.

Metode maqasid syariah yang didalami peserta dalam pelatihan ini untuk memampukan mereka merekonstruksi norma-norma gender yang berkembang dalam tradisi keagamaan di masyarakat yang menghambat perempuan bekerja seperti fitrah/kodrat perempuan di rumah. Metode ini mengajak peserta untuk membaca kembali beberapa ayat yang sering digunakan untuk membenarkan larangan perempuan bekerja seperti surah Al-Azhab ayat 33 diposisikan sebagai dalil larangan perempuan keluar rumah; dan surah AN-Nisa ayat 34 yang menjadi dalil kepemimpinan mutlak laki-laki. Metode maqasid syariah membantu peserta dalam memahami Al-Quran tidak lagi secara eklektis dan diskriminatif, melainkan menafsir Al-Quran secara metodologis yang memiliki keberpihakan terhadap perempuan bekerja.

Untuk pendalaman peserta kemudian bekerja kelompok dengan membaca buku Fikih Perempuan Bekerja khusus membahas lima hak-hak dasar manusia yang dibaca dengan perspektif gender.  Kelima tema itu adalah hak mempertahankan hidup (hifzu al-nafs), hak atas nafkah dan hak aksesabilitas terhadap sumber-sumber ekonomi (hifzdu al-mâl), hak mengakses pengetahuan dan pendidikan (hifdzu al-‘aql), hak memelihara Kesehatan reproduksi dan hak memiliki keturunan berkualitas (hifdzu al-nasl), dan hak memiliki pandangan keagamaan yang terbuka, toleran, dan berprinsip pada keadilan (hifdzu al-din). Nara sumber mengajak peserta untuk mencoba menggunakan metode maqashid syariah dengan membedah ayat-ayat yang semula dianggap mensubordinasikan perempuan untuk dibaca sebagai ayat yang memberdayakan. Dengan cara itu peserta dapat melihat cara baca teks secara konsisten dan berdaya.

Dalam rencana tindak lanjutnya (RTL) paska pelatihan, fasilitator meminta mereka membuat rencana kegiatan yang realistis untuk kegiatan mandiri selama tiga dan enam bulan. Sebagian para peserta berencana menyebarluaskan dakwah Islam yang ramah perempuan bekerja di dalam berbagai forum keagamaan baik offline maupun online, terutama dalam majelis-majelis taklim yang mereka asuh. Sebagian lain merencanakan  untuk mendakwahkannya di media sosial, ruang kuliah, ruang guru, dan dalam organisasi-organisasi keagamaan yang mereka terlibat di dalamnya seperti NU, Muhammadiyah, dan Majelis Ulama Indonesia di Provinsi DKI Jakarta.

Dalam evaluasi para peserta umumnya sangat puas dan sebagian menyatakan bahwa training serupa ini baru pertama kali mereka ikuti dan berharap mendapatkan modul teknik memfasilitasi serta tersedia buku materi ajar yang dapat mereka gunakan untuk bahan ajar atau ceramah mereka.

[Achmat HIlmi]

 

Seri 9 Webinar Muslimah Bekerja: Tantangan dan Peluang Perempuan Pengusaha di Indonesia

 

Closing Statement: Rinawati Prihatiningsih (Entrepeneur IWAPI dan Komite Anggota Kadin)

Ketika kita berbicara tentang hak, maka kita juga berbicara tentang kewajiban. Hak dan kewajiban adalah dua sisi yang saling berkaitan. Ketika kita berbicara tentang Muslimah Bekerja, maka kita kembali pada pertanyaan yang hakiki: Apakah hakikat manusia itu sendiri? Tantangan kita adalah, apakah pasrah dengan kodrat. Ternyata, kodrat tidak harus tinggal di rumah, tetapi kodrat yang berkaitan dengan hakiki kita sebagai manusia. Dalam Al-Qur’an, manusia adalah basyar (biologis), khalifah, dan bisa bermanfaat bagi sesama.

Tantangan-tantangan kita adalah persoalan sosial, struktural, keterbatasan akses, dan pandemi. Kita harus mengalahkan diri sendiri. Apakah kita memiliki kemauan dan komitmen. Saya bersyukur Rumah KitaB meluncurkan kampanye Muslimah Bekerja. Ini mengingatkan kita tentang keresahan, perdebatan konstruktif, ketertinggalan, dan pencapaian perempuan, serta seruan untuk aksi bersama untuk kesetaraan gender. Masalah gender juga datang dari laki-laki, karena itu laki-laki juga harus dilibatkan untuk menjawab persoalan ini.

Apa yang disampaikan Allaster tentang pentingnya dukungan lingkungan, baik infrastruktur maupun wacana, maka kita perlu mendukung adanya wacana dan aksi Muslimah Bekerja. Ketika dukungan tersedia perempuan bekerja, maka apa yang disampaikan Bu Sinta tentang memilih peluang memanfaatkan kesempatan bisa tercapai. Sebagaimana disampaikan Bu Menteri, perempuan bekerja bisa memberikan kontribusi bagi bangsa dan negara.

Aksi-aksi saya selalu berangkat dari masalah personal. Saya melihat relasi ibu dan ayah saya di rumah. Ibu saya memiliki akses penuh terhadap keuangan dan memilih bekerja di rumah—karena memiliki anak enam. Dia menerima katering dan jahitan. Ketika perempuan memiliki akses ekonomi, maka perempuan memiliki rasa untuk bisa maju dan setara, serta mampu melihat kodrat hakiki sebagai manusia. Kodrat adalah hak yang diberikan kepada kita sebagai manusia untuk menjalankan hak dan kewajiban, serta bermanfaat bagi sesama.

Peluang-peluang ada di dalam rumah, tempat kerja, komunitas, dan pasar. Ketika kita mengetahui memiliki hak untuk bermanfaat untuk diri sendiri, keluarga, dan masyarakat, maka kita bisa melihat peluang-peluang yang ada. Kita tidak bisa keluar menembus pasar kalau kita tidak didukung di dalam rumah kita. Jadi, perlu ada kerja sama antar setiap anggota keluarga di rumah—karena semua berasal dari rumah.  Dengan adanya e-commerce, kita juga bisa mendapatkan peluang untuk berusaha dari dalam rumah.

Sebelum berusaha, kita harus melihat peta kekuatan dan kelemahan usaha kita: siapa mitra-mitra kita—apakah suami dan keluarga mendukung; apa kegiatan yang akan dilakukan; bagaimana dengan sumber daya; proposisi nilai konsumen; hubungan customer; segmentasi pasar; channel (komunikasi distribusi, dan penjualan); biaya yang muncul; dan pendapatan.

Untuk sukses, kita harus sehat dan memulai; usaha, komitmen; semangat; efektif dan efisien; serta sabar dan syukur. Modal yang paling besar adalah diri kita sendiri. Selain itu, jaringan juga menjadi sangat penting. Kami memiliki program herventure, sebuah aplikasi pembelajaran  mobile untuk pengusaha perempuan.

Sebagai perwakilan delegasi pemerintah Indonesia, mewakili Empower G20, saya mendorong kepemimpinan perempuan di sektor swasta. Kekuatan kita adalah bekerja sama. Usaha yang saya bangun bukan semata-mata untuk mencari keuntungan perusahaan, namun bagaimana kita bisa menyejahterakan masyarakat dan lingkungan untuk keberlanjutan hidup dan kehidupan.

Khadijah binti Khuwailid telah membuat terobosan dan mendobrak konstruksi sosial yang ada. Itu terjadi 1400 tahun yang lalu, dan kenapa saat ini kita masih saja membicarakan perempuan tidak boleh keluar rumah dan tidak boleh bekerja. Khadijah mengikuti tiga hakikat manusia, yaitu makhluk biologis (basyar), makhluk pemikul amanah (insan), dan makhluk sosial (nas). Ketika kita memiliki independensi ekonomi, maka kita memiliki penghargaan atas diri kita dan tidak bergantung pada orang lain sehingga kekerasan terhadap perempuan bisa dieliminasi.

Kesimpulan: Lies Marcoes

Saya mencatat enam kesimpulan dari hasil seminar hari ini. Pertama, masyarakat Muslim Indonesia, sebagaimana warga Indonesia pada umumnya, merupakan masyarakat yang terbuka pada gagasan dan praktik perempuan bekerja. Pemerintah Indonesia terus mengupayakan tersedianya regulasi yang dapat menjamin aksesabilitas dan akseptabilitas perempuan bekerja dalam bidang-bidang yang beragam atas nama pemenuhan hak asasi manusia dan hak asasi perempuan.

Kedua, dalam praktik sehari-hari terdapat upaya yang lebih terbuka bagi perempuan untuk mengembangkan diri, mengembangkan kepemimpinan serta adaptasi terhadap perubahan-perubahan zaman. Terdapat peluang juga tantangan yang salah satunya adalah pandangan keagamaan. Dibutuhkan cara pandang dan metodologi yang mengakomodasi perubahan-perubahan peran perempuan tanpa mengubah hal-hal yang prinsip dalam membangun keluarga, terkait hak dan kewajiban lelaki dan perempuan.

Ketiga, perubahan sosial ekonomi secara global dan cepat memunculkan ekses guncangan, baik menyangkut ajaran maupun praktik relasi gender sehari-hari. Perubahan-perubahan itu memunculkan respons arus balik yang berusaha menarik kembali perempuan ke ruang domestik mereka dengan asumsi sebagai ruang yang paling aman. Namun proses arus balik itu telah memunculkan praktik diskriminasi baik terbuka maupun tersamar yang disebabkan oleh ketidakmampuan dalam merespons dan mengantisipasi perubahan yang dapat menjamin perempuan untuk bekerja di ruang publik secara aman, nyaman, maslahah, dan sesuai dengan status dan peran-peran mereka.

Keempat, karenanya dibutuhkan inovasi dan kreativitas dalam bidang media sosial untuk membuka peluang yang lebih beragam dan inklusif dengan memperlihatkan dukungan infrastruktur dan layanan yang responsif kepada keragaman latar sosial, ekonomi, umur, minat perempuan, khususnya kelompok milenial. Dengan begitu, mereka siap menghadapi perubahan sosial yang berefek besar seperti pada pandemi Covid-19 dan kebutuhan akan teknologi yang menuntut perubahan dan pembaharuan.

Kelima, perempuan sendiri membutuhkan kemampuan untuk membaca tantangan internal dan kemampuan untuk melawan hal-hal negatif berbasis mitos dan stereotip serta norma-norma gender yang membatasi hak-haknya sebagai manusia.

Keenam, dibutuhkan kreativitas dan inovasi dari tokoh-tokoh agama untuk menyediakan metodologi yang terbuka pada perubahan-perubahan sosial ekonomi dan keragaman kiprah perempuan sehingga perubahan-perubahan itu tidak menimbulkan efek negatif, melainkan melahirkan kebaikan dan maslahat, baik bagi kaum perempuan sendiri maupun bagi perkembangan sosial ekonomi Indonesia.

 

Seri 8 Webinar Muslimah Bekerja: Merayakan Keragaman Perempuan Bekerja

Seri 8 Webinar Muslimah Bekerja

 

Mutiara Anissa (Ilmuwan Biomedikal, Inisiator Pandemic Talks):

Pada awal 2020, dunia mengalami pandemi Covid-19. Saya dan dua teman saya menginisiasi Pandemic Talks—sebuah akun Instagram yang mengkompilasi dan menyajikan data-data resmi soal pandemi virus corona, memberikan informasi saintifik dan sosial secara terang dan blak-blakan. Kami merupakan relawan yang mengisi gap informasi terkait pandemi di Indonesia. Kita berharap bisa meringankan beban teman-teman di saat pandemi ini.

Saya adalah satu-satunya perempuan di Pandemic Talks. Pada Desember kemarin, Pandemic Talks berbicara dengan Menteri Budi Gunadi Sadikin dan Wamen Dante. Saya sedang hamil tujuh bulan saat itu. Selain melakukan edukasi saintifik di Pandemic Talks, saya juga seorang saintis biomedikal. Saintis adalah peneliti biologi molekuler. Mayoritas teman-teman saya di biomedikal adalah perempuan, terlebih atasan saya juga seorang perempuan. Menurut saya, penting juga representasi perempuan di dunia sains sehingga banyak perempuan lainnya yang ingin bergabung dan belajar. Tidak ada lagi stigma sains itu maskulin dan susah.

Selain peneliti, saya juga seorang dosen di Indonesia International Institute for Life Science. Kenapa saya menjadi saintis yang dianggap susah dan ribet? Ketika SMA, saya ingin berkarir di bidang yang sangat berguna bagi masyarakat. Karena suka biologi, saya merasa sains biomedikal unik sekali, jarang dipelajari, dan jarang dipahami. Kesempatan memilih bidang biomedikal ini tidak akan terjadi, tanpa support system saya. Setelah lulus SMA, orang tua percaya dan mendukung pilihan saya ini meski mereka bekerja di bidang sosial—papa kerja di bank, mama konsultan independen dan spesialis gender.

Berada di dunia sains bukanlah sesuatu yang mudah. Selain didukung keluarga, saya juga didukung suami dan keluarganya ketika sudah menikah. Saya bersyukur, kami di rumah bisa bekerja sebagai sebuah tim. Saya dan suami adalah generasi milenial dan sangat mengenal teknologi. Dengan itu, kami menjadi lebih terbuka dengan isu kesetaraan. Saya dan suami sadar dengan isu tersebut. Dengan itu, kami bisa berbagi tanggung jawab dan saya bisa terus berkarir dan berkarya. Setelah menikah, saya mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi S2 di Inggris. Saat itu, suami saya menemani saya tinggal di London.

Memang, dunia sains, teknologi, engineering, dan matematika didominasi laki-laki. Namun kantor saya tidak demikian, karena 50 persen lebih adalah perempuan dan atasannya juga perempuan. Tidak semua lab memiliki hal itu. Perempuan membutuhkan usaha dan kerja keras di atas laki-laki untuk mencapai posisi decision making. Tantangan perempuan di dunia sains—pengalaman pribadi dan orang lain- adalah, memiliki work-life balance ketika perempuan saintis menjadi ibu.

Banyak perempuan memang tidak sadar dengan potensinya. Hal penting yang harus dimiliki perempuan adalah kepercayaan diri yang tinggi. Kita juga harus memiliki dedikasi dan kerja keras. Lebih dari itu, lingkungan kerja  dan rumah yang mendukung juga sangat penting. Kita harus terus berjuang untuk mendapatkan hak-hak tersebut. Di antara solusinya—dari tempat kerja- adalah jam kerja yang fleksibel, kebijakan manajemen yang ramah perempuan, penilaian yang adil, dan bimbingan (mentorship).

Saya sadar, tidak banyak orang yang seberuntung saya. Bagaimana orang lain melihat bahwa perempuan bisa bekerja, berkarya, dan memberikan hal baik bagi masyarakat. Saya ingin menekankan bahwa representasi perempuan itu penting sekali. Representasi pemimpin perempuan di pandemi sangat penting. Di Hari Internasional Perempuan, Pandemic Talks mengunggah tema women leaders dan pandemi. Soal komunikasi publik saat pandemi, pemimpin perempuan jauh lebih baik.

Menurut penelitian profesor ekonomi Inggris 2020, negara yang memiliki pemimpin perempuan lebih sukses menangani pandemi—tingkat kematian dan utangnya lebih rendah- dari pada negara dengan pemimpin laki-laki. Ini berdasarkan tindakan proaktif yang diambil pemimpin perempuan, bukan karena keberuntungan atau kebetulan. Misalnya, Presiden Taiwan Tsai Ing-Wen. Dia sangat baik memimpin negaranya melewati pandemi karena dia belajar dari epidemi SARS—pada 2006 lalu. Taiwan merupakan salah satu negara yang menutup perbatasannya setelah China pada saat awal pandemi. Dia juga melakukan screening dengan cepat dan menaikkan produksi masker. Karena kebijakan-kebijakannya itu, total kasus positif Covid-19 di Taiwan hingga hari ini hanya seribu kasus.

Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, juga banyak dikagumi banyak orang ketika pandemi. Pada awal pandemi, dia melakukan lockdown ketat dan melarang warga asing masuk ke negaranya di saat baru ada enam kasus. Dengan kebijakan lockdown, dia bisa menekan kasus Covid-19 dan kehidupan di sana sudah berlangsung normal. Pada awal pandemi, Ardern berkomunikasi dengan rakyatnya dengan Facebook Live setiap harinya dan menjawab pertanyaan dari warganya. Hal ini membuat tingkat kepercayaan rakyat kepada pemimpinnya meningkat.

Perdana Menteri Norwegia, Erna Solberg, juga menggunakan strategi komunikasi yang unik. Dia melakukan jumpa pers dengan mengundang anak-anak. Dia menjawab pertanyaan dari anak-anak dan menjelaskannya dengan sangat simpel dan jelas. Kemudian Kanselir Jerman, Angela Merkel, sejak awal menyampaikan bahwa virus corona adalah virus yang berbahaya. Karena itu, ini harus dihadapi dengan serius. Jerman tidak memiliki fase denial seperti banyak negara lainnya. Uniknya, Merkel bisa menjelaskan konsep-konsep saintifik yang sangat rumit dengan jelas dan sederhana. Sebelum menjadi Kanselir, Merkel adalah seorang saintis. Ini menunjukkan bahwa perempuan bisa terus berkarir sesuai dengan kemauannya. Tidak berhenti di satu karir misalnya.

Saya tidak ingin menyampaikan bahwa, semua pemimpin perempuan adalah pemimpin yang baik di saat krisis dan laki-laki adalah pemimpin yang buruk. Namun, penelitian itu menunjukkan bahwa perempuan memiliki kesamaan ciri khas yang sangat baik.

Beberapa soft skill yang dimiliki perempuan adalah cara komunikasi yang empati dan peduli, mendengarkan banyak orang, berkolaborasi dengan cara yang unik, dan keterlibatan yang tinggi dengan orang lain. Dulu, ini dianggap sebagai sebuah kelemahan bagi perempuan pemimpin. Namun pandemi menunjukkan bahwa soft skill itu menjadi sangat penting yang harus dimiliki seorang pemimpin untuk menghadapi krisis.

Sebagai perempuan, kita harus berani menjadi diri sendiri, serta mengikuti naluri dan insting. Jangan menutupi sifat-sifat yang dirasa terlalu feminin atau menjadi sosok pemimpin. Perempuan telah membuktikan berkali-kali bahwa perempuan bisa unggul jika diberikan kesempatan, sebagaimana para pemimpin perempuan tersebut. Kita membutuhkan lebih banyak pemimpin perempuan dan pekerja perempuan. Meski contohnya peran perempuan di masa pandemi, namun konteksnya bisa dilihat dalam hal-hal lebih kecil. Kita juga menghadapi krisis setiap harinya, dalam pekerjaan, keluarga, dan lingkungan.

 

Seri 7 Webinar Muslimah Bekerja: Peluang Kampanye “Muslimah Bekerja”

Diar Zukhrufah DA (Penulis di Commcap): Peluang Kampanye ‘Muslimah Bekerja’

Terkait peluang kampanye ‘Muslimah Bekerja’, kita bisa melihat seberapa besar penggunaan media sosial oleh perempuan. Saya akan membicarakan tentang Facebook dan Instagram karena kedua platform ini yang paling banyak digunakan masyarakat Indonesia. Pertama, Facebook. Pengguna Facebook di Indonesia adalah 173 juta (45,1 persennya perempuan). Meski jumlahnya lebih sedikit dari laki-laki, namun Facebook menyoroti perempuan sebagai segmen utamanya. Ada empat segmen yang disoroti Facebook, yaitu profesional muda, pengantin baru, ibu muda, dan ibu berpengalaman.

Menurut saya, kita bisa memanfaatkan segmen profesional muda untuk menyebarkan narasi atau kampanye Muslimah Bekerja. Terlebih, 34 persennya mereka membagikan informasi terkait karier dan kesempatan kerja. Artinya, Muslimah Bekerja sudah ‘memegang’ 34 persen profesional muda di Facebook untuk mempromosikan perempuan bekerja. Rata-rata pengantin baru mencari informasi terkait pernikahan atau rumah tangga. Muslimah Bekerja juga memiliki peluang untuk masuk ke segmen ini—apakah perempuan yang sudah menikah boleh bekerja atau tidak. Itu bisa menjadi bagian dari segmentasi Muslimah Bekerja untuk mempromosikan hak-hak perempuan dalam bekerja.

Ibu muda dan ibu berpengalaman juga bisa menjadi peluang Muslimah Bekerja. Masih banyak perempuan Indonesia yang menempatkan dirinya untuk bekerja di rumah dan itu dianggap sebagai sebuah kewajiban. Muslimah Bekerja bisa menawarkan hak-hak perempuan dalam bekerja di segmen ini. Perempuan bisa mengurus rumah tangga dan sekaligus juga bisa bekerja. Dan itu adalah pilihan, bukan keterpaksaan. Muslimah Bekerja mempromosikan bagaimana perempuan memilih untuk bekerja, bekerja di rumah, atau lainnya.

Kedua, Instagram. Pengguna Instagram adalah 82 juta dan mayoritas penggunanya adalah perempuan (52,6 persen). Terlebih, 63 persen perempuan cenderung aktif di Instagram. Penggunaan media sosial yang aktif ini bisa menjadi pintu masuk Muslimah Bekerja untuk menyuarakan hak-hak perempuan dalam bekerja.

Berdasarkan survei Commcap dan Rumah KitaB, 76 persen aktif mengikuti media sosial keagamaan, 84 persen aktif mencari informasi terkait perempuan di Instagram, 78 persen mendapatkan dua informasi tersebut dari Instagram.

Profil perempuan di ruang publik. Media sosial adalah bagian dari ruang publik. Pertama, Indonesia menduduki rangking kedua sebagai negara paling berbahaya bagi perempuan di Asia Pasifik, setelah India. Kaum patriarki menjadikan ini sebagai alasan untuk mengatakan bahwa perempuan tidak boleh bekerja. Situasi dan kondisi di ruang publik tidak aman bagi perempuan untuk bekerja atau keluar rumah. Yang salah tidak perempuan, namun perempuan selalu disalahkan. Ini menjadi tantangan yang harus dijawab. Untuk menjawab itu, Muslimah Bekerja bisa menyuarakan bahwa ada hal-hal yang harus diselesaikan secara sosial-kultural, dan bahkan berhubungan dengan kebijakan. Ketika negara sudah berpihak pada perempuan, maka perempuan tidak akan merasa tidak aman lagi berada di ruang publik.

Kedua, 53,13 persen tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) perempuan di Indonesia. Jumlah ini lebih rendah dari TPAK laki-laki. Kalau TPAK perempuan naik, maka itu bisa meningkatkan PDB nasional. Partisipasi perempuan tidak hanya berimbas pada aktualisasi perempuan, tetapi juga pada negara. Ketiga, 10,6 persen partisipasi aktif perempuan dalam dunia politik (pilkada). Jumlah ini masih sangat rendah. Keempat, 299.911 kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia sepanjang 2000 ke atas. Patriarki dianggap sebagai salah satu penyebab perempuan merasa tidak aman berada di ruang publik.

Ada beberapa cuplikan pembicaraan di media sosial terkait perempuan, karir, dan rumah tangga. Rata-rata mengatakan, perempuan bekerja tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan finansial tetapi lebih pada aktualisasi diri. Artinya, sudah cukup banyak perempuan yang sadar akan kemampuannya bahwa dia bisa atau harus bekerja. Kata Nawal El-Sadawi, perempuan bekerja bersama tidak hanya menguntungkan perempuan saja, tetapi juga menguntungkan laki-laki-laki. Ini bisa mengubah konsep suatu negara atau peradaban.

Profil Muslimah Bekerja di Indonesia. 93 persen masyarakat Indonesia masih percaya pada agama dan melihat agama sebagai aspek penting dalam kehidupan. Di satu sisi, ini menjadi salah satu tantangan Muslimah Bekerja untuk menyampaikan narasi agama. Namun di sisi lain harus bisa mengakomodasi kebutuhan perempuan untuk bekerja. Kita tidak menggunakan agama sebagai ‘tunggangan’, tetapi menyelaraskannya sebagai media yang informatif yang memberikan pandangan bagi perempuan—bahkan menurut agama perempuan boleh bekerja. Perempuan membutuhkan penguatan itu. Banyak perempuan Indonesia sadar dengan kemampuannya dan hak untuk bekerja, namun mereka memiliki rasa takut ketika berkelindan dengan tafsir-tafsir agama yang menyebutkan perempuan tidak boleh bekerja.

Tingkat pencarian Muslimah Bekerja atau perempuan bekerja di Google cukup tinggi (14,3 juta). Budaya patriarki dan konservatisme agama menghalangi perempuan untuk memenuhi hak mereka, termasuk dalam bekerja.

Ada tiga kampanye gerakan perempuan di dunia yang booming dalam beberapa tahun terakhir. Pertama, #ChallengeAccepted dan #WomenSupportingWomen. Dia mampu menjangkau 4 juta posting di Instagram. Saya melihat, kekuatan #WomenSupportingWomen adalah solidaritas persaudaraan antar sesama perempuan. Perempuan akan bergerak bersama jika mendengar perempuan lainnya mengalami kekerasan. Mereka tidak saling mengenal, tetapi bisa bergerak bersama. Ketika Muslimah Bekerja mampu menyuarakan isu Muslimah atau perempuan yang ingin bekerja dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat, maka kita akan bisa menjangkau lebih banyak masyarakat—tidak hanya Muslimah saja tetapi seluruh perempuan. Kalau unggahan Muslimah Bekerja mewakili perempuan non-Muslim, maka mereka juga bisa menerima dan membagikannya.

Kedua, #HeForShe. Ada 1,2 miliar orang yang terlibat dalam kampanye ini. Yang menarik dari kampanye ini adalah, keterlibatan laki-laki dalam kampanye gerakan perempuan (kesetaraan gender bagi perempuan). Mereka memperlihatkan, tidak ada salahnya laki-laki menjadi feminis dan memperjuangkan hak-hak perempuan. Saat Muslimah Bekerja mempromosikan hak bekerja bagi perempuan, maka kita tidak hanya mengajak kaum perempuan tetapi juga bapaknya, kakak, adik, atau pemimpin perusahaan tertentu.

Ketiga, #AutoCompleteTruth dan WomenShould. Ada 755 juta tampilan di majalah dan situs populer. Yang menarik dari gerakan ini adalah, dia melihat perempuan dari hal-hal terkecil perempuan. Misalnya, seberapa patriarki—kalimat atau artikelnya- kalau kita melakukan pencarian di Google. Kita bis mengadopsi ini. Di Indonesia, patriarki masih ada dalam KBBI. Kalau kita mengetik kata ‘perempuan’ di KBBI, maka contoh-contohnya adalah perempuan binal, perempuan nakal, dan lainnya.

Peluang kampanye Muslimah bekerja. Pertama, tingginya tingkat penggunaan media sosial dan pencarian terkait perempuan bekerja. Ini bisa menjadi potensi yang besar bagi Muslimah Bekerja untuk menjadi ruang yang secara ekspresif dan informatif memberikan kesadaran terhadap kaum perempuan dan laki-laki, bahwa perempuan dan laki-laki memiliki hak yang sama untuk mengakses pekerjaan.

Kedua, tren gerakan perempuan dan feminisme di media sosial cukup tinggi saat ini. Kekuatan solidaritas perempuan ini bisa saling mendukung. Namun demikian, ketika ada beberapa akun feminisme yang terkesan eksklusif maka itu menjadi tantangan bagi Muslimah Bekerja. Kita harus bisa mengantisipasi akun-akun yang anti terlebih dahulu ketika mendengar feminisme, padahal mereka belum mengetahui nilai-nilai feminisme. Kita harus mengangkat nilai-nilai feminisme dengan cara yang moderat yang bisa diterima masyarakat.

Ketiga, kampanye tentang perempuan bekerja sudah cukup banyak namun belum ada yang menggunakan pendekatan intertekstual Islam modern. Ini menjadi peluang yang besar bagi Muslimah Bekerja untuk menjelaskan bagaimana Islam menilai perempuan bekerja dan kemudian mengorelasikannya dengan kehidupan sehari-hari.

Keempat, kampanye Muslimah Bekerja sejalan dengan pembangunan berkelanjutan. Ketika perekonomiannya inklusif, maka itu akan meningkatkan produk domestik bruto (PDB). Saat ini, kesenjangan gender merugikan sebesar 15 persen PDB. Kita bisa meningkatkan PDB kalau kita bisa menghapuskan kesenjangan itu. Muslimah Bekerja tidak hanya berkontribusi pada pergerakan perempuan, tetapi juga perekonomian negara.

Perempuan bekerja di Commcap. 50 persen pegawai Commcap adalah perempuan. Itu merupakan komitmen Commcap dalam mendukung kesetaraan gender. Commcap mendukung cuti haid dan melahirkan bagi pegawai perempuan, dan juga mendukung hak cuti ayah—selama 30 hari. Commcap mendukung work-life balance sehingga seluruh pegawai dapat tetap dapat melakukan aktivitas bapak-ibu-anak rumah tangga atau aktivitas lain sambil bekerja. Penggunaan teknologi dalam bekerja turut membantu pegawai Commcap untuk bekerja jarak jauh secara optimal. Ini bisa menjadi kontribusi bagi Muslimah Bekerja, di mana teknologi bisa diangkat sebagai isu yang bisa membantu perempuan bekerja.

 

Seri 6 Webinar Muslimah Bekerja: Situasi media ke-Islam-an saat ini dan bagaimana Islami hadir menyajikan konter-narasi yang memperjuangkan hak perempuan dan adil gender

Savic Ali (Direktur NU Online dan Founder Islami.co):

Kami menemukan korban pertama dan paling sering dari pandangan ekstremisme adalah perempuan. Ada kelompok ultra-konservatif yang tidak pro-kekerasan dan tidak judgmental seperti Salafi-Wahabisme. Hampir semua ulama Salafi berpendapat bahwa perempuan seharusnya di dalam rumah saja, dan jika keluar rumah harus ditemani mahromnya karena ada banyak fitnah di luar rumah. Kehormatan perempuan terjaga kalau di rumah saja.

Kalau kita mencari di Google ‘hukum perempuan bekerja’, maka yang muncul adalah beberapa website Salafi, dan media mainstream seperti Republika—namun isinya tidak jauh berbeda dengan Salafi dan di tulisan lain berbeda, tergantung penulisnya. Perempuan sebaiknya tidak bekerja. Perempuan boleh bekerja kalau syaratnya dipenuhi. Kalau Muslimah hanya membaca dari apa yang ada di halaman pertama Google terkait hukum perempuan bekerja, mungkin dia akan menjadi ragu untuk bekerja. Karena tulisan-tulisan di halaman awal Google itu memiliki narasi perempuan sebaiknya tidak bekerja.

Pandangan seperti ini mengemuka sejak reformasi. Ada pergeseran sejak reformasi karena masyarakat Indonesia lebih beragam, namun juga lebih terpecah belah. Keragaman itu terlihat dari pandangan terkait perempuan. Dulu diskursus perempuan dikuasai oleh negara, namun setelah reformasi narasi perempuan selalu berkelindan dengan isu-isu agama. Karena banyak narasi perempuan dikuatkan dengan argumen keagamaan. Keterbukaan informasi membuat kelompok-kelompok konservatif menguat. Sehingga ada banyak komentar di media sosial yang bernada ultra-konservatif, misalnya ‘mbaknya Muslim tapi sayang tidak berjilbab’, ‘jilbabnya tidak syar’i’, dan lainnya.

Menurut risetnya Martin Van Bruinessen dan LIPI (2004-2005), ada tren menguatnya ultra-konservatisme di beberapa tempat. Hal itu sangat terasa sekali di dunia online. Ada beberapa website ultra-konservatif yang selama bertahun-tahun mendominasi Indonesia seperti almanhaj, rumaysho, muslim.or.id, dan lainnya. Jika orang sering membaca website ultra-konservatif, maka lama-kelamaan pikirannya akan berubah menjadi berpandangan ultra-konservatif. Banyak perempuan yang menjadi korban akan hal itu.

Persoalan lain, sebagian besar pembaca website keislaman itu tidak membaca media-media mainstream seperti detikcom, kompas, kumparan, tirto, dan lainnya. Mereka merasa cukup dengan menjadikan media-media keislaman sebagai rujukan. Kalau mereka hanya membaca website ultra-konservatif, maka mereka akan semakin terpengaruh karena mereka tidak memiliki perbandingan dari media lain. Hal yang sama juga terjadi di media sosial. Platform media sosial memiliki kecenderungan dan kita bisa jatuh pada echo chambers. Misalnya di Facebook, kita akan sering melihat unggahan teman-teman yang sering kita sukai, komentari, atau bagikan. Namun kalau kita tidak pernah menyukai, mengomentari, dan membagikan unggahannya teman, maka lama-lama unggahannya tidak akan muncul di feed kita. Facebook hanya menampilkan konten-konten yang cenderung kita respons. Algoritma seperti itu membuat masyarakat digital memiliki pemikiran tunggal (single minded).

Banyak portal yang menganut paham ultra-konservatif dan ustadz di YouTube menjadi tantangan besar bagi kita untuk menunjukkan perempuan bekerja adalah hak. Patriarki bukan hanya masalah agama saja. Dalam bukunya ‘Brotopia’, Emily Chang mengungkap bahwa Silicon Valley didominasi oleh laki-laki padahal programmer pertama adalah perempuan, yaitu Ada Lovelace atau Ada King. Hingga 1960-an, programmer didominasi oleh perempuan. Setelah tahun 1960-an, peran perempuan di dunia programmer mulai melemah dan berkurang. Menurut Emily Chang, hingga hari ini Silicon Valley adalah dunia utopinya laki-laki (Brotopia).

Masyarakat Indonesia sangat religius sehingga isu-isu perempuan sangat kental dipengaruhi oleh pandangan keagamaan, selain faktor kultural atau peradaban. Orang Indonesia menganggap agama sangat penting sehingga semua urusan dirujukkan pada agama. Survei Pew Research Center pada 2017 menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang dianggap sangat religius (93%), sementara survei 2018 meningkat menjadi 94%–Indonesia setara dengan Pakistan, Mesir, Nigeria, dan Kenya. Sehingga ketika kita berbicara tentang hak-hak perempuan, maka kita juga harus meng-address persoalan-persoalan terkait agama karena banyak hambatan perempuan bekerja berasal dari tafsir agama.

Di Indonesia, ada banyak ulama perempuan namun penampilannya di dunia online masih sangat lemah. Ini merupakan tantangan ke depan kita. Mayoritas guru adalah perempuan (1,7 juta dari 2,7 juta guru). Kita tidak bisa membayangkan kalau perempuan tidak boleh bekerja bagaimana masa depan pendidikan Indonesia.

Saya pikir, Indonesia merupakan salah satu negara mayoritas Muslim yang merepresentasikan di mana perempuan masih banyak beraktivitas di luar rumah. Ibu saya bekerja sebagai guru, tetangga-tetangga perempuan saya juga bekerja di beragam sektor. Hal ini bisa menguat, menurun, atau stagnan itu tergantung dialektika yang terjadi di dunia sosial, di mana realitas online menjadi salah satu dunia sosial.