Qiwâmah dalam Islam: Antara Tafsir Klasik dan Kontemporer

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ وَاللاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka perempuan yang salehah adalah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara [mereka]. Dan perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan nusyûznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Mahabesar,” [Q.S. al-Nisa`: 34].

________________________________________

 

Q.S. AL-NISA`: 34 telah memicu timbulnya berbagai problem di dalam pemikiran Islam secara historis, yang menyita perhatian para pemikir secara luas dalam konteks pembahasan mengenai kedudukan perempuan, posisi alamiahnya di dalam Islam, dan bagaimana Islam memandangnya serta peranannya di masyarakat. Secara khusus perhatian mereka terfokus pada masalah “qiwâmah” (potensi/kualitas kepemimpinan) yang merupakan akar paling dasar dalam bangunan relasi antara laki-laki dan perempuan dalam pemikiran Islam.

Orientasi dalam upaya memahami masalah “qiwâmah” dari para pemikir, baik Muslim maupun non-Muslim, cukup beragam. Di satu sisi, masalah “qiwâmah” dijadikan dasar untuk menuduh Islam sebagai agama yang menindas perempuan, merampas kebebasannya, dan menjadikannya elemen sekunder yang selalu tunduk pada otoritas laki-laki. Di sisi lain, perdebatan terjadi di dalam pemikiran Islam sendiri, terutama mengenai “qiwâmah” dalam memahami realitas hubungan laki-laki dan perempuan serta bagaimana Islam memandang perempuan secara komprehensif.

 

Tafsir Klasik

Muhammad ibn Jarir al-Thabari (224 – 310 H) adalah ulama terkemuka dan memiliki posisi tinggi dalam sejarah kebudayaan Islam, dan kitab tafsirnya adalah karyanya yang paling terkenal.[1] Dalam menafsirkan, seperti diakuinya sendiri, ia mengikuti metode dan pendapat al-salaf al-shâlih (para pendahulu yang saleh) untuk menghindari pendapat para ahli bid’ah, para ahli kalam (mutakallimin, teolog), dan kaum Muktazilah.[2] Hal ini menunjukkan bahwa interaksi al-Thabari dengan teks sangat terbatas, sebab ia tidak memberikan ruang yang lebih luas untuk mengkaji banyak teks dengan pendekatan yang ia klaim dari para pendahulunya.

Al-Thabari memandang Q.S. al-Nisa`: 34 secara khusus berbicara tentang hubungan antara suami dan istri di dalam rumah tangga, yang menegaskan otoritas laki-laki atas perempuan, di antaranya adalah hak suami mendisiplinkan istrinya untuk memastikan kepatuhan perempuan kepada Tuhan. Ia percaya bahwa ini adalah pola relasi yang adil, karena menentukan komitmen bersama atau timbal-balik: laki-laki membayar mahar untuk perempuan, menafkahinya, dan menjamin kehidupannya. Sedangkan perempuan memikul tanggungjawab yang meliputi pengabdian yang tulus dalam pernikahan, menjaga kesucian dirinya, melayani dan patuh kepada suami.[3].

Berkenaan dengan nusyûz (pembangkangan), al-Thabari melihatnya mencakup pemberontakan istri terhadap supremasi suami, kebebasan bergerak yang tidak perlu, menolak hubungan seksual saat suami menginginkannya, dan praktik-praktik lain yang menentang otoritas laki-laki. Sebagaimana ia juga menunjukkan di dalam tafsirnya tentang frasa “بما فضل الله بعضهم على بعض” (oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka [laki-laki] atas sebagian yang lain [perempuan]) bahwa laki-laki mempunyai keistimewaan berupa kemampuan ekonomi atas perempuan, kemampuan untuk menghidupi istri, dan kewajiban-kewajiban lain yang menjadi tugasnya.[4].

Metode al-Thabari dalam menafsirkan Q.S. al-Nisa`: 34 jelas mengandalkan literalisme teks, dan ia berusaha mengumpulkan berbagai argumen yang menguatkan keutamaan laki-laki atas perempuan sebagai standar kausal untuk membuktikan legitimasi “qiwâmah” dan justifikasinya. Standar kausal ini terkonsentrasi pada dua sisi: pertama, kewajiban timbal-balik antara laki-laki dan perempuan. Kedua, kemampuan laki-laki di bidang ekonomi untuk menghidupi perempuan. Penjelasan seperti ini sudah tentu didasarkan, paling tidak, pada asumsi bahwa perempuan adalah makhluk lemah yang tidak mampu menghidupi dirinya sendiri dan memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.

Sementara itu, Nashiruddin al-Baidhawi (w. 1286), yang karya tafsirnya disebut sebagai ringkasan dari karya-karya tafsir sebelumnya, terutama tafsir al-Zamakhsyari dan al-Razi, melihat bahwa “qiwâmah” terkait dominasi laki-laki karena kemampuan-kemampuan dan kualitas-kualitas potensial yang dimilikinya. Ia mengatakan bahwa frasa “بما فضل الله بعضهم على بعض” di dalam Q.S. al-Nisa`: 34 menunjukkan keutamaan laki-laki daripada perempuan dengan akal atau pikiran yang sempurna dan keterampilan yang baik dalam menangani berbagai urusan dan pekerjaan. Karena alasan ini laki-laki diberi keutamaan untuk mengemban misi kenabian, imamah, mengambil keputusan, melaksanakan ritual-ritual keagamaan, kesaksian dalam semua kasus hukum, kewajiban jihad, kewajiban menghadiri shalat Jum’at, mengenakan surban sebagai simbol kemuliaan, mendapatkan bagian warisan terbesar, dan hak memutuskan talak.[5]

Tampak ada kesamaan antara fondasi yang menjadi landasan penafsiran al-Thabari dan al-Baidhawi, yaitu dalam masalah preferensi laki-laki—baik secara materi maupun non-materi—atas perempuan. Namun, al-Baidhawi melangkah lebih jauh, ia mengaitkan “qiwâmah” dengan preferensi absolut laki-laki atas perempuan dalam berbagai aspek, dan tidak seperti al-Thabari yang membatasinya hanya pada keistimewaan secara ekonomi dan komitmen penunaian hak atas pasangan, melainkan melihat kelebihan mutlak laki-laki sebagai laki-laki atas perempuan berdasarkan pemilihan nabi-nabi dan ketetapan syariat sejak Nabi Adam as. sampai Nabi Muhammad Saw.

 

Tafsir Kontemporer

Pemikir dan pembaharu Mesir, Muhammad Abduh (w. 1905), dianggap sebagai representasi gerakan modernisasi Islam pertama di dunia Arab. Ia berpandangan bahwa Islam sejalan dengan modernitas, dan berusaha memperbarui moralitas Islam dan mereformasi sistem sosial tradisional dengan mengajak umat Muslim kembali kepada keimanan dan moralitas baru sebagaimana generasi Muslim awal.[6] Manifestasi paling menonjol dari metodenya adalah pemisahan antara ibadah dan mu’amalah, dengan anggapan bahwa ibadah berada di luar lingkup tafsir, sedangkan mu’amalah, sesuai dengan sifatnya, selalu memerlukan penafsiran dan adaptasi dari setiap generasi Muslim sesuai dengan tuntutan-tuntutan zamannya masing-masing. Dalam artian, tafsir teks zaman kuno tidak relevan digunakan untuk zaman-zaman yang secara mendasar berbeda dari segi pemahaman, cara hidup, dan tuntutan-tuntutannya.[7]

Dalam menafsirkan Q.S. al-Nisa`: 34, Abduh melihat bahwa yang dimaksud dengan “qiwâmah” adalah “riyâsah” (kepemimpinan) di mana “mar`ûs” (orang yang dipimpin) bisa melakukan tindakan berdasarkan kehendak dan pilihannya, tidak bermakna bahwa “mar`ûs” harus selalu tunduk tanpa punya kehendak apapun dan tidak melakukan perbuatan apapun kecuali atas keinginan “ra`îs” (orang yang memimpin). Seseorang yang menjadi pemimpin atas yang lain berarti memberikan arahan, bimbingan, dan pengawasan terhadapnya dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Di sini Abduh seolah-olah memaknai “qiwâmah” sebagai pemberian arahan dan bimbingan dalam pengelolaan urusan keluarga.[8]

Mengenai frasa “بما فضل الله بعضهم على بعض”, Abduh mengatakan bahwa Allah tidak berfirman, “بما فضلهم عليهن” (oleh karena Allah telah melebihkan laki-laki atas perempuan), yang menunjukkan bahwa perempuan adalah bagian dari laki-laki dan laki-laki adalah bagian dari perempuan. Seperti anggota tubuh, laki-laki adalah kepala dan perempuan adalah jasad, sehingga tidak bisa dikatakan bahwa kepala lebih utama dari tangan atau mata, karena semua anggota tubuh bekerja untuk kepentingan tubuh itu sendiri.[9]

Abduh tidak menafikan pandangan para mufassir klasik mengenai preferensi (tafdhîl) yang cenderung mengutamakan laki-laki daripada perempuan dengan karakter-karakter yang memungkinkannya untuk memimpin berupa kekuatan dan kemampuan untuk bekerja dan melindungi. Ia memandang, yang dimaksud preferensi di dalam Q.S. al-Nisa`: 34 sejatinya untuk satu individu atas individu yang lain, bukan untuk seluruh individu laki-laki atas seluruh individu perempuan. Sebab banyak perempuan yang lebih baik dari laki-laki dalam pengetahuan dan pekerjaan, bahkan lebih kuat secara fisik dan lebih besar penghasilannya.[10]

Tetapi laki-laki, menurut Abduh, yang umumnya punya kekuatan, terutama dari segi fisik, lebih bertanggung jawab mencari nafkah, mencukupi dan melindungi perempuan, serta memegang kepemimpinan di kelompoknya, juga dalam hal pengesahan akad nikah dan penentuan talak. Dan Abduh menolak preferensi seperti yang digambarkan para ahli fikih dalam masalah kenabian, imamah, pelaksanaan ritual keagamaan, dan lain sebagainya.[11] Ia justru menegaskan bahwa di dalam masalah perceraian dan akad nikah peran perempuan diakui oleh syariat, sebab pernikahan tidak terjadi kecuali dengan persetujuan dari perempuan, dan perempuan punya hak meminta cerai melalui pengadilan jika ia menginginkannya saat ia menemukan cacat dalam sistem hubungan pernikahan yang sakral itu.[12]

Perlu dicatat bahwa pandangan mengenai preferensi sebagaimana disebutkan di dalam tafsir klasik, meskipun dengan corak yang berbeda, masih ada di dalam tafsir kontemporer, termasuk di dalam tafsir Abduh, tetapi preferensi yang dimaksud bukan preferensi mutlak seperti di dalam tafsir al-Baidhawi. Artinya, ada upaya penggalian lebih dalam oleh Abduh untuk memahami konteks teks dengan mempertimbangkan berbagai kondisi dan tujuan-tujuan syariat (maqâshid al-syarî’ah).

Sayyid Qutb (w. 1966) adalah seorang pemikir dan pembaharu Islam terkemuka kelahiran Mesir di abad ke-20. Di dalam kitab tafsirnya, “Fî Zhilâl al-Qur`ân”, ia mengatakan bahwa Q.S. al-Nisa`: 34 berbicara mengenai institusi keluarga di mana perempuan memiliki peranan sangat penting di sisi laki-laki. Ia menegaskan bahwa “qiwâmah” di dalam institusi keluarga berada di tangan laki-laki, karena beberapa hal, di antaranya: Allah memberikan keutamaan-keutamaan kepada laki-laki yang memungkinkannya menjadi pemimpin, dan kewajiban laki-laki mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan setiap orang di dalam institusi keluarga.

Keutamaan yang diberikan Allah kepada laki-laki, menurut Qutb, maknanya bukan sebatas perbedaan jenis antara laki-laki dan perempuan, dengan anggapan bahwa salah satu dari keduanya lebih baik dari yang lain, tetapi maknanya adalah mempersiapkan masing-masing dari kedua jenis itu secara fisik dan mental dengan kelebihan-kelebihan yang membedakan satu sama lain demi terjalinnya hubungan yang saling melengkapi antara keduanya di dalam satu keluarga. Perempuan memiliki kelebihan-kelebihan tersendiri yang tidak dimiliki laki-laki, yang memungkinkannya mampu melakukan tugas mengandung, melahirkan, menyusui, mengasuh dan membesarkan anak-anaknya dengan cinta dan kasih-sayang.[13]

Sementara laki-laki memiliki kelebihan-kelebihan yang berbeda dari perempuan, yang memungkinkannya mencari nafkah, dan melindungi institusi keluarga dari bahaya-bahaya yang mengancam, mencukupi kebutuhan-kebutuhan pokok keluarga dan memberikan perlindungan kepada istri agar dapat mencurahkan tenaga dan pikirannya kepada tugas-tugasnya. Dari itu, menurut Qutb, sangat adil jika laki-laki diberi keistimewaan dalam bentuk dan susunan fisik, saraf, pikiran, dan jiwa sedemikian rupa yang dapat membantunya melaksanakan tugas-tugas yang sesuai dengan kodratnya sebagai laki-laki. Demikian juga perempuan diberi bentuk dan susunan tubuh, saraf, pikiran, dan jiwa yang dapat membantunya melaksanakan tugas-tugas yang sesuai dengan kodratnya sebagai perempuan.[14]

 

Upaya Tafsir Baru

Kita menyaksikan bahwa sebagian besar kajian Islam kontemporer justru semakin memperkuat bangunan konsep “qiwâmah” yang melahirkan asimetrisme relasi antara laki-laki dan perempuan, di mana mampir seluruh argumen fikih yang terkait fungsi perlindungan berpusat kepada laki-laki dalam perannya sebagai suami. Sangat sulit menemukan upaya yang memperlihatkan kesinambungan tradisi masa lalu dengan pengetahuan masa kini, serta menunjukkan bahwa perubahan cara pandang terhadap hukum Islam ke arah yang lebih adil adalah mungkin dan sangat diperlukan.

Dalam memaknai Q.S. al-Nisa`: 34, asumsi yang perlu dibangun adalah bahwa laki-laki dan perempuan adalah subyek yang setara, di mana yang satu tidak berhak melakukan kekerasan dan diskriminasi kepada yang lain. Kata “رجال” dan “نساء” di dalam ayat tersebut tidak melulu merujuk pada laki-laki saja atau perempuan saja, tetapi bisa selang-seling, dan seringkali menyasar laki-laki sekaligus perempuan. Artinya, kata “رجال” bukanlah jenis kelamin, tetapi gambaran orang yang menyandang sifat maskulinitas, kejantanan, dan keperkasaan. Demikian juga kata “نساء” yang tidak bermakna jenis kelamin, melainkan gambaran orang yang menyandang sifat feminitas dan kelemah-lembutan.

Frasa “بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ” mencakup laki-laki dan perempuan sekaligus. Sebab kalau “بَعْضَهُمْ” bermakna laki-laki saja, maka berarti hanya sebagian laki-laki dan bukan seluruhnya, dan kalimat berikutnya akan berbunyi “عَلَى بَعْضِهِنَّ” yang berarti sebagian perempuan dan bukan seluruhnya, sehingga menghasilkan pemahaman bahwa Allah memberikan kelebihan kepada sebagian laki-laki atas sebagian perempuan. Dan bisa dikatakan bahwa “بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ” mencakup laki-laki dan perempuan sekaligus, sehingga frasa tersebut bermakna: “Karena Allah memberikan kelebihan bagi sebagian laki-laki dan perempuan atas sebagian lain dari laki-laki dan perempuan”. Hal ini menunjukkan bahwa kelebihan dalam diri manusia tergantung pada kemampuan dalam mengatur/memimpin, kebijaksanaan serta tingkat keilmuan dan kesadaran yang memang berbeda antara satu dengan lainnya: ada laki-laki yang punya kelebihan dibandingkan perempuan, demikian juga sebaliknya ada perempuan yang punya kelebihan dibandingkan laki-laki.

Kemudian, frasa “وبما أنفقوا من أموالهم” (Dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta mereka), menyiratkan makna bahwa orang berharta—tanpa memandang kemampuan serta tingkat keilmuan dan kesadarannya—mempunyai qiwâmah. Pemilik pabrik lulusan SD, misalnya, bisa menentukan seorang manager tamatan perguruan tinggi untuk mengurus pabriknya. Betapapun tingginya jenjang pendidikan seorang manager pabrik, ia akan tunduk kepada perintah sang pemilik pabrik yang mempunyai qiwâmah untuk memberikan nafkah/gaji.

Kesimpulannya, qiwâmah dalam konteks Q.S. al-Nisa`: 34 tidak terbatas pada hubungan antara suami dan istri di dalam keluarga sebagaimana anggapan sebagian mufassir klasik seperti al-Thabari dan al-Baidhawi, atau bahkan mufassir kontemporer seperti Muhammad Abduh dan Sayyid Qutb, tetapi sangat luas mencakup pekerjaan, perniagaan, industri, pertanian, dan managemen, juga mencakup bidang pendidikan, kedokteran, dan olahraga, bahkan juga mencakup bidang pemerintahan dan jabatan-jabatan tinggi negara. Banyak sekali contoh di dalam sejarah lama yang darinya bisa diambil pelajaran.[]

_________________________

[1]. Abbas Taufiq, Muhammad ibn Jarîr al-Thabarîy wa Manhajuhu fî Tafsîr al-Qur`ân al-Karîm wa Kitâbuhu al-Târîkh, Dar al-Nasyr, tt., hal. 10
[2]. Ibid., hal. 7
[3]. Yvonne Yazbeck Haddad dan John L. Esposito, al-Islâm wa al-Janûsîyyah wa al-Taghayyur al-Ijtimâ’îy (Terj. Amal al-Syarqi), Amman: Al-Ahliyah li al-Nasyr wa al-Tawzi’, 2003, hal. 92
[4]. Ibid.
[5]. Ibid., hal. 97
[6]. Ibid., hal. 98
[7]. Ibid., hal. 98 – 99
[8]. Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha, Tafsîr al-Manâr (Juz 5), Mesir: Mathba’ah al-Manar, 1328 H, hal. 69
[9]. Ibid.
[10]. Ibid.
[11]. Ibid., hal. 70
[12]. Ibid.
[13]. Sayyid Qutb, Fî Zhilâl al-Qur`ân, Kairo: Dar al-Syuruq, 2003, hal. 651
[14]. Ibid.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.