rumah kitab

Merebut Tafsir: Ketika Boris Lahir

Merebut Tafsir: Ketika Boris Lahir

Bagi seorang ibu, kelahiran setiap anak mencatatkan kenangan tersendiri. Hari ini 5 Oktober 1991, 30 tahun lalu, anak bungsu kami, Boris Adivarrahman Natsir lahir. Selamat Ulang Tahun Boris!

Ini adalah catatan untuk memberi konteks kelahirannya. Waktu itu rumah kami di kompleks PDK Ciparigi – Bogor Utara sedang direnovasi. Karenanya kami pindah ke rumah kakak yang kebetulan kosong mau dijual. Rumah itu tak terlalu jauh dari kompeks kami tinggal tapi ada di tengah perkampungan.

Di sekitar tempat tinggal sementara itu suasananya lebih ramai dan bersahaja.  Di sana ada dua keluarga yang kami anggap seperti kerabat. Keluarga Ceu Mar yang salah satu anak perempuannya menjadi ART dan ikut mengasuh Boris kelak; tetangga yang lain, Ibu Haji, adalah tuan tanah yang perannya seperti god mother tempat orang bertanya dan meminta pertolongan.

Sejak akhir September kami menempati rumah pinjaman itu. Rumahnya asri terdiri dari tiga kamar: satu kamar tamu, dua kamar keluarga, runag tengah, dapur kamar makan dan  ruang terbuka dengan sumur timba  tempat mencuci perabotan dan baju.

Karena lama kosong, kami tentu harus membersihkannya terlebih dahulu. Sebetulnya rumah itu tak terlalu kotor karena bekas ART kakak saya rajin datang untuk nyapu dan membuka jendela. Saat kami bebersih, Bu Haji mampir.  Ia mengusap perut saya dan membacakan doa. Setelah itu ia masuk ke kamar-kamar dari depan sampai ke sumur. Tak lama kemudian ia pulang sambil mengatakan akan kembali lagi. Sesaat kemudian ia kembali sambil membawa prapen/angko kecil dengan arang yang menyala. Selintasan tercium bau asap kemenyan. Dengan prapen di tangan kiri ia kembali memasuki kamar-kamar dengan asap mengekor yang ia kebas-kebas dengan tangan kanannya agar asap menyebar ke segala arah. Ia membacakan doa dengan suara setengah berbisik. Saya  menyimaknya. Doa yang dirapalkan itu campuran bahasa Sunda dan surat-surat  pendek Al-Quran. Saya pun mengikuti sambil mengaminkan doanya. Saya sangat menikmati ritual itu, saya merasa rumah ini sedang diberkati. Sebelum pulang Ibu Haji mengatakan, “aya nu lingas” “ada yang giras/liar” sambil mengangkat -angkat bahunya menandakan usaha kerasnya dalam mengusir makhluk halus di rumah yang lama tak berpenghuni itu.

Sebagai orang yang lahir dan tumbuh di daerah “Pakidulan”- wilayah Selatan, saya tak heran dengan upacara adat mengusir makhluk halus seperti itu. Di wilayah saya cerita-cerita singit tentang dunia gaib tempat manusia harus berkawan dengan makhluk halus adalah hal biasa. Kampung saya cukup dekat dengan “Rawa Lakbok” yang terkenal seram itu. Sejak kecil saya sering menyaksikan keluarga Sunda asli membakar kemenyan untuk rupa-rupa urusan, terutama tentu  di  malam Jum’at.

Keluarga kami keluarga Muhammadiyah. Dalam makna itu, Ayah Ibu saya cukup hati-hati dalam melakoni ibadah agar tak kesandung amalan syirik dan khurafat. Tapi keluarga kami juga keluarga Jawa. Dalam tradisi Jawa tak ada pemisahan tajam antara jagad jasani dan rohani, mahluk kasar dan lelembut/ halus. Waktu kecil saya beberapa kali melihat Ayah saya mengundang “orang pintar” ke rumah. Misalnya ketika saya sakit atau ketika tiba-tiba ada ular hitam melinasi ruangtengah dan masuk ke gorong-gorong air. Saya juga  ingat  ketika keponakan saya hendak disapih, ayah saya memanggil dukun kampung, Aki Mad Halil yang rumahnya di seberang rel kereta dekat halte di depan rumah kami. Menurut cerita teman-teman, Ki Mad Halil itu punya buaya putih yang dipelihara di kolam penampungan air tempat “minum” kereta apilintasan tunggal Banjar-Pangandaran itu. Jadi anak-anak selalu takut dan lari begitu  melintasi rumah pompa air itu. Rumah pompa itu menjadi penada kesaktian Aki Mad Halil, dan Ayah saya tak pernah mematahkan mitos ini. Tak terbayangkan jika mitos itu hilang, anak-anak pasti nyemplung tanpa pengawasan di bak penampungan  yang dalam dan tentunya sangat licin.

Ketika hamil Boris, saya sedang menangani proyek seminar “Wanita Indonesia dalam Kajian Teks dan Konteks” kerjasama Indonesia-Belanda. Proyek itu digagas oleh Prof. Jacob Vredenbreg, perwakilan Universitas Leiden di Indonesia. Waktu itu bersama Dr. Johan H. Meuleman, penanggung jawab INIS Indonesia Netherlands Cooperation in Islamic Studies, saya diminta menjadi koordinator seminar ini.  Itu adalah proyek yang dapat dikatakan cikal bakal kajian akademis  tentang gender dan Islam di Indonesia. Tokoh-tokoh feminis Indonesia saya undang bicara. Di forum inilah untuk pertama kali  dapat dikenali gagasan tafsir tentang konsep penciptaan perempuan yang berbeda dari umumnya pandangan penafsir tradisional. Pak Quraish Shihab menjelaskan bahwa konsep perempuan diciptakan dari tulang rusuk itu dipengaruhi  gagasan dari tradisi Perjanjian Lama.

Maka sambil pindahan rumah, hamil besar,  saya masih wara-wiri ke Jakarta naik bus dan angkot.  Saya berusaha menyelesaikan persiapan  seminar  dengan  mengundang 250 peserta yang akan diselenggarakan di Earasmus Huis. Harap pula diingat, ketegagan antara kalangan feminis  sekuler dengan para aktivis sayap perempuan organisasi keagamaan Islam masih sangat kuat. Kajian-kajian dari Pusat Studi  Wanita IAIN  dan organisasi perempuan Islam  belum ada. Kecurigaan terhadap feminisme masih di atas ubun-ubun.

Untunglah Boris cukup betah di kandungan saya. Telah beberapa hari ia melewari tenggat waktu untuk dilahirkan. Boris masih bertahan di kandungan. Dan saya terus  bekerja.

Dua hari sebelum lahiran, tak sengaja saya bertemu Bu Haji lagi. Dia  menanyakan kabar rumah sambil kembali meraba kandungan saya.Saya sebetulnya sudah agak lupa pada ritual pengusiran mahluk halus itu. Tapi 4 Oktober menjelang dini hari saya mengalami hal yang sungguh menyeramkan. Saya dibangunkan suami karena rupanya saya sedang megap-megap sambil membaca takbir. Setelah terbangun saya cerita mimpi diseret angin puyuh dari arah belang  ke arah depan rumah. Dalam mimpi  itu saya sampai  harus berpegangan kepala ranjang agar tak terseret angin. Angin itu riuh diiringi suara oang yang menejerit-jerit bercampur angin yang menderu. Saya tak merasa sedang tidur tapi saya tak bisa apa-apa kecuali takbir berulang-ulang.

Siang harinya saya bertemu bu Haji dan menceritakan mimpi itu. Dia meyakinkan saya bahwa mahluk halus di rumah kami sudah terusir dan akan segera lahiran. Sore harinya saya mulai terasa mulas, dan kami pun berangkat ke RS Sawo Jajar. Dini hari 5 Oktober Boris lahir dengan sedikit penyulit karena ukurannya besar; berat 4,1 kg, lanjang 52 cm.

Ketika sedang dijahit paska partus ada debat kecil  soal tanggal lahir Boris. Harap diingat itu adalah tahun 90. Saya aktivis civil society yang sangat emoh ada bau-bau tentara. Padahal tanggal 5 Oktober adalah hari kelahiran ABRI/ TNI. Jadi saya merajuk agar tanggal lahirnya diubah 4 Oktober. Tentu saja   tak mungkin . Setelah mendengar alasan saya  dokter berkata sambil menghibur “ Gak apa-apa 5 Oktober bu nanti kan anak ibu jadi jenderal”. Saya menimpali sambil menangis “ Dok, ya kalau jadi jenderal kalau jadi hansip bagaimana?” Saya mendengar dokter, tiga  suster dan  satu bidan yang membantu  paska persalinan tertawa panjang.  #Lies Marcoes, 5 Oktober 2021.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.