Kenapa Kawin Anak Dilarang?

Oleh: Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A., Imam Besar Masjid Istiqlal

 

Di dalam al-Qur`an disebutkan bahwa pernikahan adalah perjanjian suci (al-mîtsâq al-ghalîzh).[1] Yang bisa melaksanakan al-mîtsâq al-ghalîzh adalah seseorang yang sudah sempurna. Siapakah seseorang yang sempurna itu? Ia adalah seseorang yang memiliki kematangan biologis, psikologis, dan spiritual. Sementara anak adalah makhluk yang belum sempurna, baik secara fisik, mental, maupun psikologis.

Sebuah disertasi dari UCLA yang mengembangkan teori psikoanalisis yaitu Sigmund Freud menjelaskan bahwa ada lima tahapan yang harus dilewati anak untuk keluar dari gerbang anak dan masuk gerbang kedewasaan. Pertama, tahap mulut (oral stage) yaitu anak usia 0-1 tahun. Ciri tahap ini adalah anak akan mencapai puncak kesenangannya ketika mulutnya menyentuh puting ibunya. Salah satu puncak kebahagiaan ibu adalah ketika mampu memberikan kepuasan terhadap bayinya dengan memberikan ASI secara langsung.

Kedua, tahap lubang anus (anal stage) yaitu keluarnya sesuatu dari dua lubang bawah. Tahap ini berlangsung ketika ia mengonsumsi asupan tambahan. Tahap ini ketika anak usia 2-3 tahun.  Ketiga, tahap alat kelamin (phallic stage). Tahap ini berlangsung antara usia 3-6 tahun. Pada tahap ini, tercipta pusat keseimbangan antara otak kanan dan otak kiri, rekaman bahasa, dan kenikmatan berfokus pada alat kelamin. Anak laki-laki pada tahap ini harus lebih dekat kepada ibunya sebagai lawan seksnya. Sebaliknya anak perempuan harus lebih dekat dengan bapaknya.

Keempat, tahap laten/tersembunyi (latency stage). Pada tahap ini, anak akan tergila-gila dengan lawan jenisnya karena ada masa kehampaan pada tahap phallic stage. Itu yang kemudian menyebabkan keras kepala dan lainnya. Tahap ini berlangsung antara usia 6 hingga pubertas. Kelima, tahap kemaluan (genital stage). Tahap ini bermula dari masa pubertas hingga seterusnya. Pada tahap ini terjadi masa kebangkitan seksual dan sumber kenikmatan seksual dari seseorang yang berada di luar keluarganya.

Seseorang baru menjadi manusia sejati secara psikologis ketika sudah melewati lima tahap tersebut. Dalam Islam, orang lahir tiga kali. Pertama, kelahiran secara biologis (wilâdah jasadîyyah). Kedua, kelahiran secara psikologis (wilâdah nafsîyyah). Ketiga, kelahiran secara spiritual (wilâdah rûhîyyah). Pada wilâdah jasadîyyah, seseorang akan membiarkan saja mainannya diambil. Namun pada wilâdah nafsîyyah, seseorang akan merasa memiliki dan menjaga mainannya, termasuk ketika orang tuanya diganggu orang lain.

Setelah itu, anak mengalami tamyîz—mampu membedakan mana baik dan mana buruk. Kemudian aqil-baligh yang dalam definisi fikih; menstruasi bagi anak perempuan dan mimpi basah bagi anak laki-laki. Abu Hanifah mengatakan, anak perempuan yang belum menstruasi hingga usianya 15 tahun, maka ia sudah secara otomatis sudah mencapai baligh—belum aqil.

Namun, aqil-baligh bukan berarti simbol kematangan seseorang dan kemudian harus menikah. Secara biologis, organ-organ anak yang mencapai tahap aqil-baligh memang sudah berfungsi namun itu masih sangat lemah. Butuh waktu untuk menebalkan sistem rahim agar mampu menampung janin. Perempuan yang baru mencapai genital stage—masa pubertas—belum bisa diisi. Ia harus menanti hingga rahimnya matang. Kesiapan rahim disebut sehat ketika sudah berusia sekitar 25 tahun.

Akhir-akhir ini, perkawinan usia anak menjadi salah satu masalah, karena ada yang mendasarkan pandangannya secara tekstual. Kenapa kawin anak dilarang? Padahal ada satu hadits, misalnya hadits Aisyah. Aisyah dinikahi pada usia 6 tahun, digauli pada usia 9 tahun, dan ditinggal wafat oleh Nabi Saw. pada usia 17 tahun.

Apa yang dialami oleh Aisyah tentu berbeda dengan anak di masa sekarang, karena yang mengawini Aisyah adalah Rasulullah yang mendapatkan petunjuk langsung dari Allah Swt. Tentu saja tidak bisa diikuti karena itu dispensasi bagi Nabi dan itu tidak bisa menjadi dalil bagi semua orang.

Sebetulnya, ada tujuan dakwah di balik perkawinan Nabi dengan Aisyah. Aisyah meriwayatkan banyak sekali hadits yang berkaitan dengan rumah tangganya dengan Nabi. Istri-istri Nabi yang senior malu menceritakan pengalaman biologisnya dengan Nabi. Kalau Nabi tidak menikah dengan Aisyah, maka pengetahuan penting terkait organ reproduksi, kebutuhan, perilaku, serta fungsi seksual laki-laki dan perempuan tidak akan bermunculan melalui hadits-hadits.

Kita sebaiknya mengambil hikmahnya dan tidak menirunya—kawin di usia 9 tahun. Tidak semua perkataan dan perbuatan Nabi harus diikuti. Kita meniru perbuatan Nabi yang berkaitan dengan syariat.

Banyak orang berkesimpulan bahwa penyebab kematian bayi, kematian ibu, dan perceraian adalah kawin anak. Untuk mencegah hal tersebut, penting untuk melaksanakan kaidah fikih—dar` al-mafâsid muqaddamun alâ jalb al-mashâlih (menolak kemudaratan harus didahulukan atau diutamakan  dari pada mendatangkan manfaat).

Dalam al-Qur`an, orang dewasa yang memungkinkan untuk menikah. Ayat-ayat tentang perkawinan di dalam al-Qur`an menunjukkan kematangan biologis ((wilâdah jasadîyyah), psikologis (wilâdah nafsîyyah), dan spiritual (wilâdah rûhîyyah). Tiga syarat itu harus dipenuhi oleh orang yang hendak menikah, baik laki-laki maupun perempuan.[]

 

*) Disarikan dari penyampaian Prof. Nasaruddin Umar dalam Dialog Nasional Para Ulama Terkait Pentingnya Pendewasaan Usia Kawin dan Pencegahan Perkawinan Anak: Diseminasi Publikasi Rumah KitaB ‘Mengapa Islam Melarang Perkawinan Anak?’, pada 21 Desember 2021.

[1] QS. An-Nisa ayat 21

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.