Di Manakah Harga Kemanusiaan?

Oleh: K.H. Jamaluddin Mohammad, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Kamaliyah Babakan, Ciwaringin, Cirebon

 

JIKA ingin melihat peta pertarungan dan kekuatan global saat ini, Perang Rusia-Ukraina dan Israel Palestina bisa menjadi perbandingan. Pada 24 Februari 2022 Rusia menginvasi Ukraina, seluruh blok Barat (Nato) langsung memberikan dukungan dan bantuan persenjataan kepada Ukraina. Hal ini berbanding terbalik ketika Palestina berperang melawan Israel. Negara-negara Barat berlomba-lomba membantu Israel. Bahkan, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pun ikutikut mengecam Hamas dan sepenuhnya membela Israel. Padahal, mereka sama-sama tengah dijajah negara lain.

Padahal, sebagaimana kita tahu, Barat (Amerika Serikat [AS] dan sekutunya) kerap kali mengklaim selalu membawa misi kemanusiaan. Pada 2003 AS menginvasi Irak dengan dalih membebaskan rakyat Irak dari cengkeraman rezim diktator Saddam Husein dan menghancurkan senjata pemusnah masal yang tak bisa dibuktikan hingga hari ini. AS dibantu 20 negara yang tergabung dalam pasukan multinasional memporakporandakan Irak dan menggulingkan pemerintahan Saddam. Invasi AS dan sekutunya ini menyisahkan penderitaan panjang bagi rakyat Irak. Irak porak poranda, masa depan negara ini suram. Kebiadaban AS terhadap Irak juga dialami Afganistan, Suriah, Libia, dll. Siapa yang bertanggung jawab atas tragedi kemanusiaan ini?

Jika negara-negara Barat berbicara kemanusiaan, mereka sebetulnya sedang menceramahi mereka sendiri. Mereka kerap kali menuduh negara lain melakukan pelanggaran HAM dan kemanusiaan, sementara tangan mereka sendiri berlumuran darah, menciptakan penderitaan dan tragedi kemanusiaan. Meskipun kebijakan-kebijakan luar negeri mereka seringkali tidak mewakili aspirasi dan banyak ditentang rakyatnya. Kendati pun  Amerika dan hampir seluruh anggota NATO memberikan dukungan dan bantuan terhadap Israel, tak sedikit rakyat mereka melakukan demonstrasi membela Palestina dan mengutuk keras Israel.

 

Butuh Keseimbangan Baru

Pasca perang dunia kedua, muncul dua negara super power yaitu Amerika dan Uni Soviet. Keduanya saling bersaing, berebut pengaruh, dan berlomba-lomba menguasai dunia. Perang dingin antar dua negara adi daya ini mewakili pertarungan ideologi kapitalisme dan komunisme. Pada 1991 perang dingin berakhir. Uni Soviet jatuh dihantam krisis ekonomi. Amerika menjadi satu-satunya kekuatan tunggal. Negara Paman Sam ini kerap dijuluki “polisi dunia”. Dominasi tunggal Amerika ini tak berlangsung lama. Munculnya kekuatan-keuatan baru seperti China, Rusia, dan india yang mulai menggeser dominasi tunggal AS. Dalam banyak hal kebijakan luar negeri AS pun banyak yang tak sejalan dan ditentang oleh negara-negara tersebut.

Dalam menyikapi konflik Palestina-Israel, AS dan Rusia saling berseberangan. Dua negara ini saling memveto resolusi masing-masing. Kubu AS dan sekutunya membela Israel dengan dalih “membela diri”, sedangkan Rusia mendukung kemerdekaan Palestina. Rusia menganggap serangan mematikan Hamas pada 7 Oktober silam sebagai bagian dari perlawanan terhadap kolonialisme Israel. Rakyat Palestina sedang menuntut hak-hak atas kemerdekaan mereka.

Selama didominasi AS dan sekutunya masih sangat kuat dan mencengkeram banyak negara, Palestina tidak akan memperoleh kemerdekaanya. Resolusi PBB yang dianggap merugikan Israel pasti akan diveto AS. Begitu pun konflik Ukraina-Rusia sekarang ini tidak akan mengalami banyak perubahan selama Rusia memiliki hak veto di PBB. Negara-negara kecil seperti Indonesia hanya bisa menonton pertarungan global negara-negara besar. Karena itu, kita butuh kekuatan baru yang tidak terjebak pada konflik lama seperti AS dan Rusia. Negara-negara dunia ketiga yang tak memiliki beban sejarah harus bersatu menyuarakan kemanusiaan dan keadilan global. Sebagaimana pernah dilakukan Sukarno melalui gerakan non-blok ỵang berhasil menyatukan negara-negara bekas jajahan untuk bersatu dan memberikan suara berbeda. Kelihatannya arus sejarah sedang bergerak menuju tatanan baru. Dunia sedang menata diri menuju keseimbangan baru. Semoga keseimbangan baru ini membawa kemaslahatan menuju kemanusiaan universal.[]

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.