Workshop Penelitian Kawin Anak Berbasis Kajian Teks Keagamaan

Tahun 2014 Rumah KitaB mendapatkan perpanjangan program dari Ford Foundation untuk melakukan studi mengenai upaya penghapusan atau pengurangan Kawin Anak dengan pendekatan yang sedikit berbeda. Program ini pada dasarnya—secara umum—masih terkait dengan penelitian Rumah KitaB yang lama, yaitu mengenai pemenuhan hak-hak reproduksi perempuan. Sebagaimana diketahui, menurut laporan beberapa lembaga internasional, salah satu penyebab kematian ibu adalah karena proses kehamilan atau kelahiran yang tidak sehat, dan itu umumnya terjadi pada perempuan yang dinikahkan pada usia yang belum cukup dewasa dan tidak mendapatkan akses layanan yang baik.

Studi Kawin Anak yang selama ini dilakukan oleh sejumlah lembaga yang lain, misalnya Rahima, WRI, Kemenag, UIN, dan lain-lain, umumnya hanya bicara soal dampak seperti perceraian atau dampak buruk pada kesehatan reproduksi perempuan. Dan Rumah KitaB, sebagai lembaga penelitian sekaligus advokasi, melihat beberapa isu yang luput dari perhatian lembaga-lembaga tersebut, di antaranya adalah bahwa orang tua dalam melakukan Kawin Anak banyak menggunakan argumentasi keagamaan. Rumah KitaB berencana menguji isu ini di dua area studi: pertama, studi teks, yaitu bagaimana teks bicara soal Kawin Anak. Ketika menelusuri isu tersebut dengan melakukan diskusi dan kajian bulanan mengenai teks-teks keagamaan, Rumah KitaB mendapati bahwa anjuran atau dorongan Kawin Anak itu terdapat pada referensi-referensi dari kelompok trans-nasional-fundamentalis. Kedua, studi lapangan.

<!––nextpage––>

Untuk soal pertama, yaitu studi teks, Rumah KitaB telah mengadakan “Workshop Penelitian Kawin Anak Berbasis Kajian Teks Keagamaan” dengan menghadirkan sejumlah tokoh pesantren yang dianggap kapabel dalam hal kajian teks-teks keagamaan. Tujuan dari pertemuan ini adalah untuk mendapatkan berbagai masukan yang akan dijadikan acuan bagi para peneliti Rumah KitaB terkait dua hal: Pertama, kitab-kitab yang perlu untuk dikaji mengenai praktik Kawin Anak. Kedua, metodologi yang sebaiknya digunakan untuk mengkaji kitab-kitab tersebut. ***

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.